Buyaathaillah's Blog

Nasehat Para Ulama II

 

“Sungguh beruntung orang yang mati tapi kebaikannya tak turut mati. Dan sungguh celaka orang yang mati namun keburukannya tidak pula ikut mati”

“Kegigihan usahamu pada [perkara-perkara] yang telah pun dijaminkan untukmu (yakni di dalam urusan-urusan rezeki) disamping kelalaianmu pada [perkara-perkara] yang telah dituntut daripadamu (yakni di dalam mengerjakan ibadat) adalah satu dalil bagi terhapusnya al-bashirah (penglihatan mata hati) daripada dirimu”. (Syaikh Ibnu ‘Athoillah As-Sakandari)
“Cara terbaik menghukum orang yang telah melakukan kesalahan terhadap kita ialah dengan berbuat baik kepadanya”

Tidak diterima ucapan tanpa perbuatan, tidak akan lurus (benar) ucapan dan perbuatan tanpa niat, dan tidak lurus (benar) ucapan, perbuatan dan niat, kecuali dengan mengikuti Sunnah Rasulullah SAW”. (Imam Sufyan Ats-Tsauriy)

“Diamnya seorang ‘alim itu adalah merupakan sebuah aib/cela dan perkataannya itu adalah sebuah perhiasan, sedangkan perkataan seorang yang jahil itu adalah merupakan sebuah ‘aib dan diamnya adalah sebuah perhiasan”

“Kalau ada orang yang meragukan keluasan ilmu Imam al-Syafi’I Rahimahullah, berarti orang tersebut adalah orang yang perlu diragukan” (Habib Novel bin Muhammad Alaydrus)

“Dalam shalatku selama 40 tahun, aku tak pernah lupa mendo’akan guruku yang bernama Imam Syafi’i. Itu kulakukan karena aku memperolah ilmu dari Allah lewat beliau”. (Yahya bin Said al-Qathan)

“Raihlah sesuatu dengan bakat yang kau miliki, dan jangan meraihkan (mengingankan) sesuatu sesuai dengan nafsu atau seleramu”. (Lukman Hakim)

“Sesungguhnya kebaikan itu memancarkan cahaya pada wajah seseorang, dan cahaya pada hati, keluasan dalam rezeki, kekuatan pada badan, kecintaan di tengah makhluk. Dan keburukan akan mengakibatkan kehitaman pada wajah, kegelapan dalam hati, kelemahan badan dan kekurangan rezeki, serta kebencian di dalam hati para makhluk Allah.” (Abdullah bin Abbas Radliyallah ‘anh)ه

“Selamanya kita adalah santri pencari ilmu karena Allah”

“Orang yang tidur tidak akan tahu kalau dirinya sedang bermimpi kecuali setelah bangun, begitu juga orang yang lupa (lalai) akan akhirat tidak akan tahu kalau dirinya sedang menyia-nyiakan amal akhirat, kecuali setelah datangnya kematian. Ya Allah jangan jadikan kami orang-orang pelupa (lalai)”. (Syaikh Sami al-Musaithir)

“Ketahuilah, sesungguhnya pintu terbesar manusia yang dimasuki oleh iblis adalah kebodohan” (al-Hafidz Imam Ibnul Jauzi al-Hanbali)

“Barang siapa sibuk dengan dirinya sendiri maka orang tersebut akan jauh dari mencari kekurangan orang lain”. (Abu Sulaiman Ad-Darani)

“Marahnya orang yang mulia bisa terlihat dari sikapnya, dan marahnya orang yang bodoh terlihat dari ucapan lisannya” (Imam Syafi’i)

“Tenanglah dan sejukkan jiwamu dengan kebersamaan para Imam-Imam kaum Muslimin dan para Sahabat Radhiyallahu’anhum. Sungguh mereka itulah yang bersama Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wa Sallam, kita tak akan bersama Rasulullah Shallalahu ‘alayhi wa Sallam kecuali bila kita mengikuti mereka” [Al Habib Munzir Al Musawa, pengasuh Majelis Rasulullah SAW]

“Waktu laksana pedang, jika engkau tidak memotongnya, maka ia akan memotongmu”

“Nafsumu jika tidak engkau sibukkan dengan kebenaran (haq), niscaya akan menyibukkanmu dengan kebatilan”

“Keselamatan seseorang ialah dengan menjaga lisannya”

“Barangsiapa yang mengucapkan : “Subhanallahil ‘Adhim wa bi-Hamdih”, ditanamkan untuknya sebatang pohon kurma di surge” (HR. Turmudhi)

‘Huruf yg kamu tulis itu akan tetap ada sebagai saksi walaupun kamu sudah mati .. Maka tulislah dengan tanganmu hal-hal yg kamu lihat baik”

“Ilmu yang paling utama adalah ilmu hal (tingkah laku) … dan amal yang paling utama adalah menjaga tingkah laku”. (Syaikh Ahmad Az-Zarnuji berkata didalam Ta’lim Al Muta’allim)
“Belajarlah kalian, karena sungguh ilmu adalah perhiasan bagi pemiliknya … dan menjadi keutamaan serta sebagai penolong pada setiap hal yang terpuji. | Jadilah kalian orang yang selalu mengambil faidah disetiap waktu sebagai tambahan … ilmu, dan selamilah samudera-samudera faidah tersebut”.

“Diantara tanda seseorang mengikuti nawa nafsu adalah bersegera melakukan amaliyah-amaliyah yang sunnah namun malas untuk menegakkan yang bersifat wajib” (Syaikh Ibnu ‘Athaillah As-Sakandariy)

“Persahabatan terkadang menyuguhkan beberapa cobaan, tetapi persahabatan sejati bisa mengatasi cobaan itu bahkan tumbuh dan berkembang bersama”

“Cinta dan benci karena Allah Subhanahu wa ta’alaa termasuk bagian dari Keimanan”

Ketika Al-Laits bin Sa’d menemui para pencari hadits, kemudian melihat sesuatu yang ada pada mereka, maka ia berkata, “Apa ini ?!, Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyaknya ilmu.”  (Syaraf Ashabul Hadits, karya Al Khathib Al Baghdadi )

“Aku telah membuktikan bahwa kenikmatan hidup itu ada pada kesabaran kita dalam berkorban.” (Sayyidina Umar bin Khaththab)

“Hamba yang saling mencintai karena Alloh akan mendapatkan pertolongan istimewa di padang makhsar dan di surga akan di tempatkan di tempat mulia yang bersinar – sinar yang membuat semua penghuni surga merindukan untuk bisa bersama mereka.Dan tanda hamba yang saling mencintai adalah tidak pernah meninggalkanya dalam panjatan doanya.Maka dari itu jangan lupa sertakan kami dalam dalam doa anda dan doakan kami agar tidak lupa mendoakan anda agar kita mendapatkan kemuliaan hamba-hamba yang saling mencintai karena Alloh. ” (Al Ustadz Yahya Zainul Ma’arif)

“Istirahatkan dirimu dari mencemaskan masa depan. Apa yang sudah ditanggung pihak lain (Allah) untukmu, kau tidak perlu ikut menanggungnya”.

“Jika hanya sebatas keluar dari lisan, niscaya hanya akan sampai ke telinga. Namun, jika yang keluar dari hati niscaya akan sampai ke hati”

“Ilmu yg bermanfaat adalah ilmu yg dapat menambah rasa takutmu (taqwa-mu) kepada Allah Taala. ”

“Bukan dengan merendahkan orang lain yang menjadikan kita mulya. Bukan dengan membuka aib orang lain yang menjadikan kitab terpuji. | Bukan pula dengan mengkafirkan orang lain yang menjadikan kita beriman. Bukan pula dengan memperolok orang lain yang menjadikan kitab pandai”

“Keburukan yang ditata dengan baik, bisa mengalahkan kebaikan yang ditata buruk”

“Tidak peduli masa belakangmu, tapi peduli pada masa depanmu, semuanya tergantung pada tindakan kita pada masa kini”

“Jangan jadi bebek, kalaupun mau jadi bebek maka jadilah bebek yang berprinsip”

Maulid Nabi menurut Ibnu Katsir: “Sungguh malam kelahiran Nabi SAW adalah malam yang sangat mulia dan banyak berkah dan kebahagiaan bagi orang mukmin dan malam yang suci, dan malam yang terang cahaya, dan malam yang sangat agung”. [Lihat kitab Maulid iIbnu Katsir 19],

“Kata “Syaikh” semakna dengan kata “asy-syâ’ikh”. Kata syaikh adalah masdar yang memiliki makna isim fa’il. Secara bahasa, syaikh adalah orang yang telah mencapai usia 40 tahun, meskipun ia seorang yang kafir. Adapun menurut tradisi, syaikh adalah seseorang yang telah mencapai derajat utama, meskipun ia seorang bocah. Syaikh adalah seseorang yang memiliki kebijakan, ilmu, dan hikmah yang luas”.
(Syaikh Ihsan Jampes dlm Siraj ath-Thalibin)

“Senjata orang yang hina adalah tutur kata yang buruk”. (al-Imam Ali Zaenal Abidin bin Husein ra)

“Sanjungan orang lain yang ditujukan kepadamu, itu karena indahnya penutup Allah yang ada padamu atas aibmu”.

“Mengajak tanpa do’a itu bentuk kesombongan. Sebab, bukan anda yang dapat memberikan hidayah, melainkan Allah. Oleh karena itu, ajaklah dan do’akanlah”. (Dalam Dakwah)

“wa Ammal Kasrotu fa-Takunu ‘alamatan lil-Khofdli. Arti secara nahwunya adalah “Sedangkan Kasroh itu tanda untuk Khofadl / Jer. | Sedangkan pecah belah (cerai berai / tidak bersatu) itu tanda-tanda rendah (kehinaan, penj)”. (Menyelami Hikmah | Tidak Sekedar Nahwu)

“Dari Abu Hurairah ra. Rasulullah saw bersabda “Jadilah orang wara’ (menjaga diri dari dosa kecil dan perkara hina) maka kamu akan jadi orang yang paling giat beribadah, jadilah orang qana’ah (menerima dan ridla atas rizqi yang berikan Allah kepadanya) maka kamu akan menjadi orang yang paling bersyukur, cintailah orang lain sperti kami mencintari dirimu niscaya kamu akan jadi orang mukmin sejati, berbuat baiklah dengan tetangga niscaya kamu akan menjadi muslim sejati, kurangi tertawa, sesungguhnya banyak tertawa akan mematikan hati” (RISALAH AL-QUSYAIRIYYAH)

Imam Al Junaid Al Baghdadi berkata: “Akhlaq Rasulullah Shalallahu ‘Alayhi wa Sallam dinamakan sebagai akhlaq yang agung karena tiada sesuatu yang menjadi keinginan pun bagi Nabi SAW melainkan hanya Allah Ta’alaa”.

“Sesungguhnya kebenaran dapat menjadi lemah karena perselisihan dan perpecahan dan kebathilan sebaliknya dapat menjadi kuat dengan persatuan dan kekompakan” (Kalam Sayyidina ‘Ali Karramallahu Wajhah, disebutkan didalam kitab Qanun Asasi Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari)

“Santri harus diberi peluang untuk membuat revolusinya sendiri. Sebuah revolusi wacana, revolusi pemikiran. Lahap semua buku, diskusi, dan menulislah. Sekali lagi, bikin revolus”i. (Dwy Sadoellah)

“Islam mengakui eksistensi negara, bahkan seperti Imam Al Ghazali dan Imam Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa urusan hukuman itu adalah otoritas negara” (KH ‘Ali Mustofa Ya’qub)

Yahya bin Mu’adz Ar-Razi menasehatkan : “Hendaknya kamu mempunyai tiga sikap terhadap sesama mukmin: kalau kamu belum mampu memberinya manfaat, maka janganlah kau beri dia kesusahan, kalau kamu mampu membuatnya gembira janganlah kau buat dia sedih, kalau kamu belum bisa memujinya maka janganlah kau mencela”.

Ibnul Mubarak (ulama Salaf) pernah berkata: “Barangsiapa menghina ulama maka hilanglah akhiratnya. Barangsiapa menghina pemerintah, maka hilanglah dunianya. Barangsiapa menhina sahabat-sahabatnya maka hilanglah kemuliaanya”

“Sesungguhnya seorang hamba apabila ia berbuat kesalahan maka dihatinya akan tertera setitik noda. Ketika ia telah beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat maka hati itu akan kembali cemerlang dan jika ia kembali melakukan kesalahan serupa maka hati itulah yang telah tertutup. Seperti halnya firman Allah dalam al-Muthafifin “demikian sebenarnya apa yang mereka lakukan itu telah menutupi hati mereka”

“Janganlah kau mengikuti nafsu dan syaitan serta kemaksiatan yang ditawarkannya. Dan tetap waspadalah sekalipun keduanya membisikkan nasihat yang terkesan baik”

“Ihsan adalah beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat Allah dan bila tidak bisa melihat Allah maka allah melihat kamu”

“Waktu adalah hal yang paling berharga untuk dijaga dan dipelihara, tapi paling mudah untuk hilang dan sirna”. (Yahya bin Hubairah |Qimatuz-Zaman ‘Indal-Ulama)

“Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan, semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur”

“Sudah menjadi tabiat waktu, membahagiakan satu pihak akan menyedihkan pihak lainnya”

“Menghafal sebelum memaham lebih berguna daripada memahami sebelum menghafal”.

“Sesuatu yang menjadi perselisihan pendapat para ulama tidak boleh diingkari | Sebuah Ijtihad tidak bisa dibatalkan dengan ijtihad lainnya”

“Dunia itu ibarat rumah yang nyata bagi yang membenarkannya; ibarat rumah kesuksesan bagi yang mema¬haminya; dan ibarat rumah mewah bagi yang mengiyakannya”

“Belajar agama Islam melalui buku-buku terjemahan berbahasa Indonesia itu hendaknya digunakan untuk menambah pengetahuan pribadi dalam beribadah. Dan apabila ada orang yang belajar agama Islam dari buku-buku terjemahan kok dipakai untuk berdebat atau dipakai ikut-ikutan untuk berfatwa maka itulah ciri-ciri orang yang tidak sabar dalam menuntut ilmu namun dia sudah tidak sabar ingin dianggap WAH oleh orang lain”. (Ustadz Dawam Mu’allim Hafidzahullah | Pengasuh Pondok Pesantren Al Ma’rifah – Bontang Kalimantan Timur)

“Jika kamu duduk bersama para ulama’ maka jagalah lisanmu dan bila kamu duduk dengan para aulia’ maka jagalah hatimu”.

“Betapa banyak orang yang mencela perkataan yang benar dan sebabnya adalah pemahaman yang salah/buruk”.

“Akan kuberikan ilmu yang kumiliki kepada siapapun, asal mereka mau memanfaatkan ilmu yang telah kuberikan itu”. (Imam Syafi’i Rahimahullah)

Syaikh Abdul Wahhab asy-Sya’rani bercerita : “Pernah seseorang yang mengaku ‘arif billah datang kepadaku, lalu ia berbicara tinggi tentang Fana dan Baqo tanpa di dasari ilmu. Banyak orang yang meyakininya. Ia bersamaku beberapa hari, kemudian aku bekata kepadanya “ Beri tahu aku apa saja syarat-syarat whudu dan sholat !” Ia menjawab “ Aku belum belajar bab itu sama sekali “. Maka aku berkata kepadanya “ Wahai saudaraku, sesungguhnya menyesuaikan segala ibadah dengan ketentuan Al-Quran dan As-Sunnah adalah perkara yang wajib menurut kesepakatan para ulama. Barangsiapa yang tidak bisa membedakan antara yang wajib dan sunnah, antara yang makruh dan haram maka ia adalah orang bodoh. Dan orang bodoh tidak patut untuk di ikuti baik dalam thoriqah lahir maupun thoriqah batin “. Lalu ia membisu seribu bahasa dan tidak ada jawaban sama sekali darinya. Sejak itulah ia menjauhiku”.

Sayyidi Syaikh Ali Al-Khowwash Rh berkata: “Sesungguhnya jalan para ulama sufi terhias dengan Al-Quran dan Al-Hadits bagaikan terhias dengan emas dan permata. Demikian itu karena mereka di setiap gerak-gerik dan diam mereka mempunyai niat yang baik sesuai dengan timbangan Syari’at. Dan tidak bisa mengetahuinya kecuali orang yang memperdalami ilmu-ilmu Syari’at “.

“Orang-orang sholih adalah mereka yang memenuhi/menegakkan hak-hak Allah Ta’ala dan hak-hak sesama hamba”. (Minhaj al-Qowim Ibnu Hajar al-Haitami hal 44)

“Tiada sesuatupun didunia ini yang kekal, maka ukirlah cerita, cerita yang indah untuk dikenang, karena dunia itu sendiri adalah sebuah cerita”. (Penyair)

“Biasakan untuk menyimak (mendengarkan) nasehat-nasehat, sebab sesungguhnya hati ketika kosong dari nasehat maka akan buta”. (Syaikh Abdul Qadir Al Jailani)

“Berkawan dengan orang yang baik (akhlaknya ) adalah pilihan yang baik, sedangkan berkawan dengan orang yang buruk (akhlaknya) adalah pilihan yang buruk”.

“Tidak boleh hasad/dengki/cemburu kecuali pada dua golongan yaitu seorang laki-laki yang Allah anugerahkan kepadanya Ilmu pengatehuan, dan seorang yang Allah anugerahkan harta kekayaan yang dengan harta kekayaannya ia manfaatkan dijalan Allah”

“Sabar adalah menjaga diri dan menahannya dari sesuatu”

“Bahwa orang yang dermawan dekat dengan Allah, dekat dengan surge, dekat dengan masyarakatnya dan jauh dari neraka”

“Sebaiknya sebelum bersetubuh hendaknya diajak bersenda-gurau dan menciumnya, sebagaimana Rasulullah SAW melakukannya” (Ibnul Qayyim al Jauziyah)

“Tidak melakukan sesuatu karena manusia adalah riya, dan melakukan sesuatu karena manusia adalah syirik”. (Ibnu al-‘Iyyadl)

“Katakanlah kebenaran waluapun pahit adanya”

“Tidaklah seorang yang membaca bismillahirrahmanirrahim kecuali Allah akan utus kepadanya seorang (malaikat pencatat) menuliskan 400 kebaikan untuknya”

“Apabila kamu melihat seorang alim yg bisa berjalan di atas air, jangan lantas dengan mudahnya engkau mengikutinya, teliti dulu apakah pola tingkahnya sesuai dengan Al Qur’an dan Hadits, apabila demikian maka ikutilah dia, namun bila berseberangan maka tinggalkanlah dia” (Syaikh Abu Yazid Al Busthomi)

DOA – “Bismillahirrahmanirrahiim. Alhamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin. Allahumma Shalli ‘alaa Sayyidina Muhammad. ya Allah …!, Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesempitan dunia dan kesempitan hari kiamat. Ya Allah …!, jadikanlah permulaan hari ini suatu kebaikan dan pertengahannya suatu kemenangan dan penghabisannya suatu kejayaan, wahai Tuhan yang paling Penyayang dari segala penyayang Ya Allah …!, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu ilmu yang berguna, rezki yang baik dan amal yang baik Diterima. wa Shallallahu ‘alaa Sayyidina Muhammad, wal Hamdulillahi Rabbil ‘Aalamiin. Aaamiin yaa Rabbal ‘Aalamiin”

“Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama” (Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam, dikeluarkan oleh Nahdlatul Ulama (NU) tahun 1983)

“Cinta mampu melunakan besi, menghancurkan batu, membangkitkan yang mati dan meniupkan kehidupan. Cinta juga mampu membuat seorang budak menjadi majikan, serta majikan akan menjadi seorang budak. Ketahuilah, bahwa inilah kedahsyatan cinta”. (Sayyidah Rabi’ah al-‘Adawiyah)

“Janganlah bersedih karena urusan dunia dan isinya. Kita hanya bertamu di atas tanahnya.” (Ustadz Muhammad Idrus Romli)

“Sesungguhnya hal yang memalukan dan aib bagi muslimah dan mukminah adalah tidak mempedulikan sirah (sejarah) Sayyidah Fatimah Az-Zahro, akhlak dan kebiasaan beliau” (Habib Umar Bin Hafidz)

“Aksi-aksi yang bersifat intimidatif, merugikan pihak lain secara materi maupun non-materi, mengancam keselamatan atau bahkan menghilangkan jiwa dan/atau menciderai raga siapapun, sekalipun dilakukan atas nama dakwah dan/atau amar ma’ruf nahi munkar, itu adalah dakwah yang salah dan umat Islam harus menolaknya. Bahkan wajib hukumnya bagi pemerintah menangkap para pelaku kejahatan (jarimah). Dakwah apapun yang tidak sejalan dengan pesan luhur agama, adalah dakwah yang salah dan harus di tolak”(Syaikhul Akbar al-Azhar Muhammad Sayyid Thanthawi)

“Dimanapun, untuk mencapai kesucian hati adalah dengan rendah hati” (Maulana Jalaluddin Rumi)

“Dakwah yang baik itu adalah dakwah yang mencerahkan, yang mendidik, yang mencerdaskan dan memberi harapan kepada manusia. | Semua dakwah yang berbeda dengan semua orientasi Ilahiyah adalah dakwah yang salah”

“al-Ilmu Nurun (Ilmu adalah cahaya). Ibarat sebuah bola lampu, jika engkau ingin tercerahkan dengan cahaya maka tempatkan dirimu didekat bola lampu yang terang, bukan pada bola lampu yang redup, apalagi bola lampu yang mati”. [Madinatuliman.com]

Sufyan bin Uyainah berkata: “al-Hadits itu menyesatkan, kecuali bagi fuqaha/ulama'”

Abdullah bin Wahab rahimahullah (seorang ahli hadis yang juga sahabat Imam Malik) pernah berkata: “Seandainya tidak ada Malik bin Anas dan al–Laist bin Sa’ad, maka aku akan celaka, aku sebelumnya mengira bahwa setiap yang datang dari Nabi SAW di amalkan semua”

“Dakwah itu tidak hanya bil-maqal (ucapan), tapi juga bil-hal (perbuatan)” (Prof. Dr. KH. Said Aqil Siradj)

“Selemah-lemahnya manusia ialah yang tidak bisa mendapatkan kawan, dan yang lebih lemah dari itu ialah orang yang eninggalkan kawannya setelah ia dapatkan”

“Kedalaman ilmu membentuk prinsip yang teguh, keteguhan prinsip membentuk sikap yang tangguh, ketangguhan sikap menjadi pijakan hidup yang kokoh”. (Abu al-Husain an-Nuri | Ulama sufi Baghdad (w. 295 H))

“Ilmu, amal, ikhlas, dan khauf (takut kepada Allah) – Barangsiapa yang tidak berilmu dia adalah buta, barangsiapa yang tidak mengamalkan ilmunya dia adalah terhijab (tertutup), barangsiapa yang tidak ikhlas dalam beramal dia adalah terlena, dan barangsiapa yang tidak senantiasa khauf (takut kepada Allah) dia adalah tertipu” (Raudlatuth Thalibin – Taman Para Santri 1 : 3-4)

“Ungkapkanlah apa yang ingin diungkapkan. (Jangan ragu) pemuda memang selalu dicemooh lantaran kecakapannya”

“Bila saat shalat tidak bisa merasakan Allah bersama kita, bagaimana mungkin bisa merasakan kebersamaan Allah di luar shalat”

“Ketahuilah bahwa sesungguhnya Madzhab Ahlul haqq dari kalangan ahli hadits , ahli fiqih , ahli ilmu kalam dari kalangan shahabat , tabi’in dan orang-orang sesudah mereka dari kalangan Ulama’nya umat Islam adalah sesungguhnya semua yang ada (terjadi) , yang baik , yang buruk , yang manfaat , yang madlorrot , semuanya dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dengan Irodah (Kehendak)Nya dan TaqdirNya” (Al-Adzkar | Imam al-Nawawiy al–Syafi’iy al-Asy’ariy)

“Jangan menghina seseorang yang lebih rendah daripada kamu, karena setiap orang mempunyai kelebihan”

“Jangan remehkan sedikitpun dari suatu kebaikan yang diperoleh”

“Sebarkanlah Islam yang damai dan ramah | bukan menyebarkan amarah dan kebencian”

“Andai tidak ada guru pembimbingku niscaya aku tidak akan tahu siapa Tuhanku”

“Dalam berdakwah, para mubaligh harusnya mempunyai parameter keberhasilan untuk mengukur sejauh mana materi dakwah yang disampaikan telah mencapai harapan. Berdakwah tidak cukup hanya memberikan materi dakwah tanpa memperdulikan kemajuan jama’ahnya”. (Prof. Dr.Yunahar Ilyas, LC, M.Ag | Ketua PP Muhammadiyah)

“Mempublikasikan dakwah itu bukan riya’. Kita harus ceritakan kegiatan kita pada media, koran, televisi, majalah, internet. Karena sarana dakwah yang paling efektif saat ini adalah media,“ (DR. KH Marsudi Syuhud, Sekjend Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

“Aku melihat menyibukkan diri dengan fiqah dan dengan mendengar hadis tidak cukup untuk merawat hati melainkan ilmu itu digabungkan dengan perkara-perkara yang melembutkan hati dan membaca cerita sejarah orang soleh. Adapun mengetahui perkara halal dan haram bukanlah satu peranan yang besar di dalam melembutkan hati. Sesungguhnya yang melembutkan hati ialah dengan menyebut cerita-cerita yang menyentuh hati dan cerita-cerita orang soleh kerana mereka ialah golongan memahami maksud daripada hadis-hadis yang dinukil. Mereka keluar daripada zahir cerita kepada aspek rohani dan sentimen cerita-cerita tersebut. Tidaklah aku ceritakan perkara ini melainkan untuk merawat dan mengubat kerana aku melihat pelajar-pelajar yang belajar hadis, minat mereka hanya pada mendapat sanad hadis yang tinggi dan minat fuqaha ialah untuk memperhebatkan pendebatan mereka.” (al-Hafidz Imam Ibnul Jauzi al-Hanbali)

“Setiap perjuangan pasti ada tantangan. Jika tidak berani menghadapi tantangan, jangan berjuang. Tapi hidup sendiri pun adalah perjuangan” (KH. Abdurrahman Navis, Lc. MHI, Direktur ASWAJA NU Center PW NU Jawa Timur)

“Janganlah karena kelambatan pemberian karunia dari Allah sedangkan engkau telah bersungguh sungguh berdoa, membuat kamu berputus asa. Sebab Allah telah menjamin untuk mengabulkan semua doa, menurut apa yang dipilihNya untuk kamu, bukan menurut kehendakmu, pada waktu yang ditentukan oleh Nya bukan waktu yang kamu tentukan. (Al- Hikam | Ibnu ‘Athaillah As-Sakandari)

”Jika engkau dengan ilmu yang kau dapati tidak engkau amalkan. Maka, untuk apa engkau mencari ilmu yang tidak engkau ketahui?.” (Imam Al Ghazali – Ihya Ulumuddin, 1/94)

“Menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, tidak boleh dengan membuat kemungkaran yang baru. Inilah yang jadi pegangan kita. Islam menentang perbuatan yang anarkis” (Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Ya’kub, MA (Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah | Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta)

“Islam tidak pernah mengamanatkan anarkisme, apalagi membunuh pemeluk agama lain hanya karena berbeda agama” (Prof. Dr. KH. Ali Mustofa Ya’kub, MA (Pengasuh Pesantren Luhur Ilmu Hadits Darussunnah | Rais Syuriah PBNU bidang Fatwa)

“Adapun amal salih adalah sifat yang umum pada setiap perbuatan yang memberi faidah kepada sesama hamba dan negara, dan memberi manfa’at kepada masyarakat baik individu, sekarang dan masa datang” (Hadlratusy Syaikh KH Hasyim Asy’ari)

“Dalam Islam ada ajaran bahwa kearifan-kearifan itu tidak hanya di Mekkah dan Madinah. Hikmah juga terdapat di mana-mana.Hikmah adalah sesuatu yang dicari-cari oleh seorang muslim, maka di mana pun hikmah itu didapatkan, maka muslim itulah yang berhak mengambil hikmah itu. Maka kearifan ada di Jawa, Kalimantan, Sumatera, China, Amerika, Eropa, dan tempat lain”. (KH. A. Malik Madany)

“Pengakuan akan kebesaran seorang ulama tidak cukup ditentukan oleh pengetahuan dan ilmu yang dimiliki, tetapi bagaimana peran yang dijalankannya di masyarakat.” (H Miftah Fakih – Sekretaris Rabithah Ma’ahid Islamiyah/Persatuan Pondok Pesantren (RMI))

“Pemuda yang tidak mengalami payahnya mendalami ilmu agama (hanya belajar instan), tidak akan bisa menghargai ilmu dan ahli ilmu (Ulama)”

“Islam berkait dengan kata salam, as-silmu, as-salmu, dan as-salam yang semuanya mengacu pada pengertian keselamatan dan kedamaian. Islam juga masuk ke Nusantara ini, khususnya ke Jawa, dengan cara-cara yang damai, dan itu sesuai dengan karakteristik dan jatidiri agama Islam. Di samping itu Islam juga mengacu pada pengertian kepasrahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, dan pada aturan-aturan yang digariskan oleh Allah SWT”. (KH A. Malik Madani)

“Kalau badan membutuhkan makan, maka ruhani juga demikian. Kalau ruhani jarang diberi makan, maka bisa kering dan tumpul, alias tidak berguna.”(Kiai Sa’dan – Bantul)

Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya perkataan Subhanallah walhamdu Lillaah wa Laa Ilaaha Ilallah wallahu Akbar menggugurkan dosa seperti pohon menggugurkan daunnya. (Al Hadits)

“Menikahlah kalian, sesungguhnya diriku akan berbangga dengan banyaknya umatku dihadapan nabi-nabi pada hari Qiyamat, dan janganlah kalian seperti rahib-rahib Nasrani” (HR. Al Baihaqi)

“Manusia yang paling utama bagiku kelak di hari qiyamat adalah yang paling banyak mengucapkan shalawat kepadaku” (HR. At-Turmidzi)

“Janganlah sekali-kali engkau meremehkan suatu perbuatan baik walaupun hanya menyambut saudaramu dengan muka yang manis” (HR. Muslim)

.
Dari Abu Dzar Radhiyallahu ‘anhu , ia berkata: “Kekasihku (Rasulullah) Shallallahu ‘alaihi wa sallam berwasiat kepadaku dengan tujuh hal: (1) supaya aku mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintahkan aku agar aku melihat kepada orang yang berada di bawahku dan tidak melihat kepada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan agar aku menyambung silaturahmiku meskipun mereka berlaku kasar kepadaku, (4) aku dianjurkan agar memperbanyak ucapan lâ haulâ walâ quwwata illâ billâh (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), (5) aku diperintah untuk mengatakan kebenaran meskipun pahit, (6) beliau berwasiat agar aku tidak takut celaan orang yang mencela dalam berdakwah kepada Allah, dan (7) beliau melarang aku agar tidak meminta-minta sesuatu pun kepada manusia”. (Wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam Kepada Abu Dzar Al-Ghifari)

Rasulullah SAW bersabda : “Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil menuju pertempuran besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah saw. Apakah pertempuran besar wahai Rasulullah? Rasul menjawab “jihad (memerangi) hawa nafsu”.

Rasulullah SAW bersabda : “Bahwasannya kehancuran umatku karena menuruti hawa nafsu, senang dipuji dan cinta dunia”.

“Wahai manusia, ingatlah, sesungguhnya Tuhanmu adalah satu, dan nenek moyangmu juga satu. Tidak ada kelebihan bangsa Arab terhadap bangsa lain. Tidak ada kelebihan bangsa lain terhadap bangsa Arab. Tidak ada kelebihan orang yang berkulit hitam terhadap orang yang berkulit merah, tidak ada kelebihan orang yang berkulit merah terhadap yang berkulit merah, kecuali dengan taqwanya..” (HR. Ahmad, al-Baihaqi, dan al-Haitsami)

“Akan datang kepada manusia di mana perhatianya adalah perutnya, kebanggaan mereka adalah harta (benda) qiblatnya adalah wanita, agama mereka adalah uang dirham dan dinar, mereka itulah makhluk paling jelek dan tidak mendapat bagian di sisi Allah.” (Al Hadits)

“Barang siapa yang memperbanyak baca istighfar maka Allah swt akan mengubah kesusahan orang itu menjadi kebahagiaan dan mengeluarkannya dari keprihatinan, serta memberinya rizqi dari arah yang tidak disangkanya.” (Al hadits)

“Tetapi wajiblah kamu bersama-sama jama’ah karena kekuatan/pertolongan Allah terletak pada jama’ah dan barang siapa menyendiri (pengenyahan diri) maka dia akan sendirian di neraka” (Al Hadits)

“Seseungguhnya Allah tidak mengumpulkan umatkan (Islam) terhadap suatu kesesatan’. (Al hadits)

“Dari Anas bin malik bahwa Umar bin Khattab ketika menghadapi kemarau panjang, mereka meminta hujan melalui Abbas bin Abdul Muttalib, lalu Abbas berkata:”Ya Tuhanku sesungguhkan kami bertawassul (berperantara) kepadamu melalui nabi kami maka turunkanlah hujan dan kami bertawassul dengan paman nabi kami maka turunkanlau hujan kepada, lalu turunlah hujan”. (Imam Al Bukhari)

“Seutama-utamanya iman adalah sabar dan toleransi” (Hadits Shohih dari kitab Faidhul Qadir Syarah al-Jami’ush Shaghir jilid 2 halaman 29)

“Bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Jika salah seorang dari kalian akan mengenakan sandal, hendaknya memulai dengan kaki kanannya. Dan apabila akan melepasnya, hendaknya memulai dengan kaki kirinya”. [Muttafaqun alaihi]

“Bukanlah yang dikatakan kaya itu dengan banyaknya harta, akan tetapi kaya itu adalah kaya hati” (Al Hadits)

“Ruh-ruh manusia adalah pasukan yang besar. Selagi ruh-ruh itu saling mengenal maka mereka akan bersatu padu. Dan selagi ruh-ruh itu saling mengingkari, maka mereka akan berselisih”. (HR. Imam Al Bukhari)

“Sesungguhnya dari umatku terdapat Mukallamin dan Muhaddatsin [diberi karunia oleh Allah untuk mengetahui beberapa rahasia], dan sesungguhnya ‘Umar adalah termasuk dari mereka” (Al Hadits)

“Barang siapa merintis (memulai) dalam agama Islam sunnah (perbuatan) yang baik maka baginya pahala dari perbuatannya tersebut, dan pahala dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya, tanpa berkurang sedikitpun dari pahala mereka. Dan barang siapa merintis dalam Islam sunnah yang buruk maka baginya dosa dari perbuatannya tersebut, dan dosa dari orang yang melakukannya (mengikutinya) setelahnya tanpa berkurang dari dosa-dosa mereka sedikitpun” (HR. Imam Muslim)

“Perbanyaklah kalian mengingat penghancur kelezatan yaitu kematian” (HR. Imam At-Turmidzi)

“Dan sesungguhnya amal yang paling dicintai oleh Allah adalah yang terus menerus dirutinkan meskipun sedikit” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw bersabda: “Tidak halal darah seorang muslim, kecuali karena salah satu dari tiga hal: orang yang berzina padahal ia sudah menikah, membunuh jiwa, dan orang yang meninggalkan agamanya lagi memisahkan diri dari jama’ah (kaum muslimin)” (HR. Al Bukhari – Muslim)

“Seandainya penduduk langit dan bumi bersatu untuk membunuh seorang muslim, maka Allah benamkan mereka semua di neraka” (HR. Ath Thabrani)

Sabda Rasulullah SAW; “Barangsiapa yang mengucapkan sholawat kepadaku satu kali, maka Allah mengucapkan sholawat kepadanya sepuluh kali” (Al Hadits)

“Hancurnya dunia ini lebih ringan di sisi Allah daripada terbunuhnya seorang muslim” (HR. Tirmidzi dan An-Nasaa-i)

“Setiap perjuangan pasti ada tantangan. Jika tidak berani menghadapi tantangan, jangan berjuang. Tapi hidup sendiri pun adalah perjuangan” (KH. Abdurrahman Navis, Lc. MHI, Direktur ASWAJA NU Center PW NU Jawa Timur)

“Dakwah itu tidak hanya bil-maqal (ucapan), tapi juga bil-hal (perbuatan)”.  (Prof. DR. KH. Said Aqil Siradj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

“Mempublikasikan dakwah itu bukan riya’. Kita harus ceritakan kegiatan kita pada media, koran, televisi, majalah, internet. Karena sarana dakwah yang paling efektif saat ini adalah media,“ (DR.KH Marsudi Syuhud, Sekjend Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)

“Remaja sebagai generasi muda calon pemimpin bangsa masa depan sudah terpengaruh dengan budaya-budaya di luar Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Hal ini tentunya memerlukan perhatian serius dari banyak pihak, agar terwujud generasi muda yang tangguh, handal, berkualitas dan berakhlak mulia” (Sekretaris Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo,  M. Mascung Asy’ari)

“Islam berkait dengan kata salam, as-silmu, as-salmu, dan as-salam yang semuanya mengacu pada pengertian keselamatan dan kedamaian. Islam juga masuk ke Nusantara ini, khususnya ke Jawa, dengan cara-cara yang damai, dan itu sesuai dengan karakteristik dan jatidiri agama Islam. Di samping itu Islam juga mengacu pada pengertian kepasrahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, dan pada aturan-aturan yang digariskan oleh Allah SWT”. (KH A. Malik Madani, Katib Aam PBNU)

“Mujahadah merupakan tradisi kaum santri. Dengan mujahadah, maka ruhani mendapatkan menu yang sangat lezat. Kalau badan membutuhkan makan, maka ruhani juga demikian. Kalau ruhani jarang diberi makan, maka bisa kering dan tumpul, alias tidak berguna.” (Kiai Sa’dan – Bantul)

“Pengakuan akan kebesaran seorang ulama tidak cukup ditentukan oleh pengetahuan dan ilmu yang dimiliki, tetapi bagaimana peran yang dijalankannya di masyarakat.” (H Miftah Fakih – Sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah (RMI))

“Dalam Islam ada ajaran bahwa kearifan-kearifan itu tidak hanya di Mekkah dan Madinah. Hikmah juga terdapat di mana-mana.Hikmah adalah sesuatu yang dicari-cari oleh seorang muslim, maka di mana pun hikmah itu didapatkan, maka muslim itulah yang berhak mengambil hikmah itu. Maka kearifan ada di Jawa, Kalimantan, Sumatera, China, Amerika, Eropa, dan tempat lain”. (KH. A. Malik Madany, Katib Aam PBNU)

“Godaan hidup manusia itu banyak sekali. Sejak manusia diciptakan, godaan sudah ada. Manusia jangan sampai lengah dan terlena, karena dengan godaan hidup itulah, kualitas iman manusia semakin meningkat. | Manusia harus bermental baja, karena cobaan yang dihadapi manusia di jaman modern ini sangat beragam. Manusia jangan sampai terlena, karena bisa terbawa arus negatif yang merusak.  (KH Asyhari Abta, Rais Syuriah PWNU DIY)

“Kearifan lokal harus dijaga dan dikembangkan bersama-sama. Pengembangan itu dilakukan dengan menjaga dan melestarikan budaya bangsa, termasuk budaya Jawa” (KH Mustofa Bisri)

“Pesantren itu lembaga paling tua dalam pencetak kader akhlaq anak bangsa mulai merebut kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan” (Katib Syuriyah PBNU KH Muhammad Musthofa Aqil).

Iklan

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: