Buyaathaillah's Blog

Bayan Maulana Tariq Jamil

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ () تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ () يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ () وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ

 

Hadirin yang dimuliakan Allah Swt,

 

Hadirnya seseorang didunia ini tidak ada yang tahu dan tidak pernah direncanakannya, selain Allah yang tahu dan yang merencanakannya. Saat sadar, tahu-tahu kita sudah berada di dunia. Dan ternyata alam itu indah, sehingga hati terpikat, ingin selalu tinggal di sana. Inilah ujian bagi kita, padahal setiap dari kita pasti akan meninggal dunia ini.

 

Seorang anak yang tak berdosa, tiba-tiba ada kabar bahwa kakeknya meningal, neneknya meninggal. Kabar demi kabar seperti itu akan membekas pada anak yang masih polos. Membekas hingga bertahun-tahun. Waktu kami pergi haji, ibu saya meninggal, semuanya menangis. Keponakan yang baru berumur tiga tahun bertanya, “Mengapa menangis?”. Istri saya lalu menjawab, “Nenekmu meninggal.” Apa maksudnya meninggal?” tanyanya. “Mati,” jawab istri saya. “Mati itu apa?” tanyanya lagi. “Kembali kepada Allah,” jawab istri saya. Anak itu berkata lagi, “Pergi kepada Allah bagaimana? Ini kan terbaring di sini?” Satu goresan membekas di hati yang masih bersih ini. Dan semuanya akan dibaringkan di dalam tanah. Lama-kelamaan tanda kubur pun akan hilang. Dan keturunan juga akan melupakan.

 

Syair :

 

“Bila kematian telah menancapkan kukunya, penangkal apa pun tidak akan ada gunanya.”

 

Sahabat Ali RA. menguburkan Sayyidah Fathimah Rha istrinya. Setelah menimbun dengan tanah, beliau memanggil, “Fathimah,…Fathimah,…Fathimah,…” Saat itu orang-orang berdiri di sekitarnya, itu semua beliau lakukan untuk memahamkan mereka. Beliau katakan, “Aku berdiri ucapakan salam ke atas kubur kekasihku, tetapi tidak ada jawaban.” Padahal itu adalah makam seorang yang selalu siap mengerjakan dengan satu isyarat saja. Hari ini, semua kesenangan telah dia tinggalkan. Sehingga panggilan pun tidak dijwabnya. Jelaslah sudah bahwa:

 

لكلّ اجتماعٍ من خليلين … فرقةٌ وكلّ الذي قبل الممات قليل

 

Setiap pertemuan dua orang kekasih mengandung perpisahan. Dan segala yang ada sebelum kematian adalah sedikit. Seperti apa pun dalamnya cinta, pasti akan datang suatu masa, walaupun tidak diketahui, akan ada yang datang membawanya.

 

هَلْ تُحِسُّ مِنْهُمْ مِنْ أَحَدٍ أَوْ تَسْمَعُ لَهُمْ رِكْزًا

 

“Adakah kamu melihat seorang pun dari mereka atau kamu dengar suara mereka yang samar-samar?”

 

Qarun pun tidak bisa lepas, dan orang-orang tertunduk kepalanya. Kubur mereka pun tidak nampak lagi, habis sudah. Dan kehidupan yang sebelum mati pun sedikit, sangat singkat. Dalam kehidupan yang sangat singkat ini, betapa tergila-gilanya manusia padanya. Habis-habisan mengejarnya. Padahal tak ubahnya buih yang tidak ada hakekatnya. Kematian kita anggap tidak ada. Bila sebelumnya kita telah terluput dari panah kematian, mungkin juga hari ini kita belum terkena bidikannya. Namun ketika datang, hingga hari ini tidak pernah ada seorang pendekar yang mengalahkan kematian.

 

Sayyidina Ali RA berkata:

 

الموت ليس منه فوت إن أقمتم له أخذكم وإن فررتم منه أدرككم.

 

“Kematian tidak mungkin terlepas darinya. Bila kalian bertahan, dia ambil kalian. Dan bila kalian lari pasti menyusul kalian.”

 

Saat itulah kita baru paham :

 

وكلّ الذي قبل الممات قليل : segala yang sebelum kematian adalah sedikit.

 

Kita akan berkata, “Yang saya kerjakan ternyata tidak ada sama sekali. Apa yang dulu saya lakukan? Oh, adakah yang bisa mengembalikan hidupku lagi?” Tatkala Raja Iskandar sampai di Babilonia (Iraq), beliau sakit parah. Lalu berkata, “Adakah yang mau mengambil semua kerajaanku? Dan memberikan kesempatan kepadaku untuk sampai ke rumahku ?” Kesempatan untuk pulang pun tidak ada. Orang yang ingin menaklukkan dunia, lihatlah ini. Hanya samapai umur 33 tahun telah dijemput maut.

 

Sayyidina Ali RA. melanjutkan:

 

إن افتقادي فاطمة بعد أحمد… دليلٌ على ألاّ يدوم خليل

 

Dan sesungguhnya kehilanganku pada Fathimah setelah Ahmad (SAW) adalah bukti bahwa tidak ada kekasih yang abadi. Baru kemarin tangan ini mengantarkan Nabi SAW menghadap Allah swt , hari ini tangan ini melepaskan Fathimah. Kemarin kekasihku lepas dari tangan, hari ini istriku yang pergi meninggalkan. Jelas di depan mata bahwa dunia bukanlah tempat kesetiaan. Tidak ada persahabatan abadi di sini.

 

الموت حق والحياة باطل.

 

Kematian adalah kebenaran dan hidup adalah kebatilan.

 

إذا انقطعت يوما من العيش مدتي * فإن غناء الناكبات قليل

 

Dan kalaulah kematian datang padaku pada suatu waktu. Maka bila setelah itu ada yang mengingatku, memujiku atau menangisiku, bagiku sama semuanya. Tidak akan ada yang sampai ke sana.

 

Bila kita hidup menuruti ilmu kita, kita akan tenang menganggap bahwa alam ini adalah hakiki. Merasa bahwa cahaya palsu ini adalah yang asli. Menganggap perahu kertas ini layak dikendarai. Ia akan tenggelam dan kita pun terbawa terbenam. Di sini kita memerlukan satu ilmu yang menyampaikan kita pada hakikat dan menyingkap tabir yang menutupi hakikat. Yang membukakan untuk kita hakikat dunia. Yang membantu kita untuk menjawab pertanyaan “Dari mana saya datang? Untuk apa saya datang? Ke mana saya akan pergi? Mengapa saya pergi?” Di dunia ini tidak ada yang mampu menjawab pertanyaan ini.

 

Segala kejadian di sekitar kita, kematian yang menjemput tanpa mengenal umur. Yang tua masih ada, yang muda lebih dulu meninggal dunia. Mestinya ini semua sudah cukup untuk memberi tahu kita bahwa ada kekuatan tersembunyi yang mengendalikan alam ini. Manusia terdiam tidak mampu memberikan jawaban, para Anbiya datang mencelaskan bahwa makhluk ini ada penciptanya :

 

Kebesaran Allah Swt

 

Dia menciptakan semua dan Dia sendiri tidak diciptakan. Dia menciptakan semua berpasangan sedangkan Dia sendiri tunggal tanpa pasangan. Dia yang memenuhi keperluan semuanya sedang Dia maha Suci dari segala keperluan. Dia yang memberikan bentuk dan warna pada makhlukNya, sedangkan Dia sendiri suci dari segala bentuk. Dia memberikan tempat dan masa pada semuanya, sedangkan Dia suci dari masa dan ruang. Tidak dilingkupi oleh ruang dan tidak ditampung oleh langit. Tidak berada di dalam masa. Tidak memerlukan atap, tidak memerlukan dinding, tidak memerlukan lantai, tidak memerlukan tiang, tidak memerlukan timur, memerlukan perlu barat, tidak memerlukan utara, tidak memerlukan selatan, tidak memerlukan matahari, tidak memerlukan bulan, tidak memerlukan langit bumi, tidak memerlukan jin dan manusia, tidak memerlukan Jibril maupun Mikail, tidak memerlukan api dan air, tidak memerlukan besi dan temabaga, tidak memerlukan langit, ‘arsy, kursi, lauh mahfuzh, air, angin. Allah adalah yang Shamad, yang tidak memerlukan apa pun. Dialah Allah yang Khaliq, yang Malik, yang Raziq, yang berkuasa mutlak. Dia yang menciptakan pegunungan yang begitu besar. Ditegakkan laksana pasak bagi bumi. Pohon Dia ciptakan, dulunya tidak ada sama sekali. Dia ciptakan gunung, dulunya sebutir batu pun tidak ada. Dia ciptakan lautan, dulunya setetes air pun tidak ada. Dia ciptakan tambang emas, tambang besi, dulunya sepotong pun tidak ada. Tanpa ada sesuatu Dia ciptakan semuanya. Tanpa ada sesuatu Dia ciptakan alam semesta. Tanpa bahan dan contoh apa-apa Dia berikan bentuk dan sifat. Ada yang diberi sifat kemuliaan, ada yang diberi sifat kehinaan, ada yang diberi sifat keras, ada yang diberi sifat lembut. Dari air yang sama tatkala dimasukkan ke dalam perut sapi maka keluar sebagai susu. Dimasukkan ke dalam ular maka menjadi bisa. Dimasukkan ke dalam lebah maka menjadi madu. Dimasukkan ke dalam ulat menjadi sutera. Dimasukkan ke dalam pohon menjadi buah-buahan berbagai rasa. Dalam bergeraknya, dalam siramannya, dalam kemanfaatan dan bahayanya, dalam terbentuknya menjadi awan, dalam semuanya air tidak bisa melakukan sendiri. Semuanya adalah dari Allah.

 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآَيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

 

Ini dari mana kita dapatkan? Ini semua dari Nabi Saw yang kita dengar. Dialah segalanya. Dia yang melakukan semuanya. Tanpa Dia, tidak ada yang bisa melakukan apa pun. Tidak memerlukan benda apa pun di langit maupun di bumi. Untuk memberi cahaya tidak memerlukan matahari. Untuk menggelapkan tidak memerlukan malam. Untuk menghilangkan haus tidak memerlukan air. Untuk mematikan tidak memerlukan Izrail. Untuk menghidupkan tidak memerlukan makanan dan minuman. Dia berkuasa melakukan apa pun tanpa apa pun.

 

Selanjutnya para Anbiya memberitahukan agar taat kepadaNya. Ketaatan padaNya akan mendatangkan kebahagiaan. Menentangnya mendatangkan kebinasaan. Dialah pemilik kehidupan. Dia pemilik kemuliaan. Dia pemilik kebahagiaan. Dia pemilik surga.

 

لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَمَا تَحْتَ الثَّرَى

 

MilikNya yang di langit, dan apa yang di bumi, dan apa yang ada di antara keduanya, serta apa yang di bawah bumi. Pemilik timur adalah Allah. Pemilik barat adalah Allah. Pemilik utara adalah Allah. Pemilik selatan adalah Allah.

 

رَبُّ الْمَشْرِقَيْنِ وَرَبُّ الْمَغْرِبَيْنِ

 

Pemilik ‘arsy yang agung adalah Allah.

 

رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ

 

Pemilik angin adalah Allah.

 

وَمَنْ يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ أَإِلَهٌ مَعَ اللَّهِ تَعَالَى اللَّهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

 

Yang berkuasa menurunkan hujan adalah Allah.

 

أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا. ثُمَّ شَقَقْنَا الأرْضَ شَقًّا. فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا. وَعِنَبًا وَقَضْبًا. وَزَيْتُونًا وَنَخْلا. وَحَدَائِقَ غُلْبًا. وَفَاكِهَةً

 

Maka penguasa semuanya adalah Allah. Karena itu, taatilah ia. Dia satu-satunya penguasa di alam ini.

 

Mengikuti aturannya itulah yang dinamakan Islam. Di dalam kekuasaannyalah segalanya. Dengan keputusannya semuanya terjadi. Dan tanpa keputusannya, tidak akan ada apa pun yang terjadi. Mengikuti Islam bahagia dunia akhirat. Meninggalkannya binasa dunia akhirat. Para Anbiya datang memberitahukan bahwa dunia ini akan sirna. Semua permasalahan dalam kekuasaan Allah.

 

Permasalahan tidak selesai dengan harta, kekuasaan, pertanian. Dengan keputusan Allah masalah selesai. Dengan mendapatkan ridha Allah akan bahagia. Adapun pemberian, maka oranbg kafir pun Allah beri. Firaun diberi kekuasaan 450 tahun. Namrud diberi kerajaan. Iskandar diberi kekuasaan. Ini semua bukan persoalan penting. Bagaimana Allah ridha pada kita. Kematian datang pada kita saat Allah meridhai kita, itulah yang paling penting.

 

Kehidupan yang sekarang ini akan berakhir. Akan ada kehidupan baru. Itulah kehidupan yang sebenarnya. Untuk itulah kita diciptakan.

 

.إِنِّي لَمْ أَخْلُقْكُمْ فَأَسْتَكْثِرَكُمْ مِنْ قِلَّةٍ وَلَا أَسْتَاْنِسْكُمْ مِنْ وَحْشَةٍ يَا عِياَدِي

 

Ini pelajaran yang kita dapatkan dari para Anbiya.

 

. وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Inilah maksud hidup kita. Kita taat apa hasilnya, kita tidak taat apa yang akan terjadi dengan kita. Kita berdusta apa akibatnya, apakah mukanya jadi hitam? kita jujur apa hasilnya. Kita shalat apa hasilnya, kita tidak shalat apa akibatnya. Apakah rumah roboh, apakah terbakar? Minum minuman keras apa akibatnya? Berlaku buruk apa akibatnya ? Apakah dengan makan makanan haram perut jadi sakit? Ternyata tidak terjadi apa-apa. Memang, semuanya bukan di sini tempatnya. Tapi dalam kehidupan yang akan datang. Orang-orang yang buruk akan dipisahkan.

 

وَامْتَازُوا الْيَوْمَ أَيُّهَا الْمُجْرِمُونَ

 

Semuanya akan meraskan kematian, bumi akan mati, Langit akan mati.

 

إِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا () وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا () وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا   كَلَّا إِذَا دُكَّتِ الْأَرْضُ دَكًّا دَكًّا يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا  

 

Di hari itu semuanya akan ketakutan. Gunung terbang bagai kapas. Bumi terbelah. Lautan terbakar. Untuk menyelamatkan diri, ibu membuang bayi yang disusuinya. Dua-duanya tidak ada yang selamat.

 

Jibril dan Mikail pun tidak lepas dari cengkeraman kematian. “Jibril, matilah! Mikail, matilah!” Arsy gemetar ketakutan. “Ya Allah, Jibril dan Mikail mati. Biarkanlah dia ya Allah”

 

اسكت ! فقد كتبت الموت على من كان تحت عرشي  

 

Diam! Sesungguhnya Aku telah tetapkan kematian atas siapapun yang berada di bawah ‘arsyKu.

 

Bumi adalah tempat kepunahan, semuanya akan punah. Untuk apa memperbaiki makam bila akhirnya punah juga, buatlah pemakaman yang sederhana. Sebab, bila seseorang diazab, azab akan diangkat saat makamnya punah. Jibril tergeletak, Mikail tergeletak. Israfil yang meniup sangkakala pun tumbang. Bahkan Izrail yang biasa mencabut nyawa akhirnya mati juga.

 

كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ  …كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ إِلا وَجْهَهُ

 

Hanya Allah saja yang kekal.

 

Allah yang dulu kekal, itulah Allah yang sekarang, dan itulah Allah yang kekal selama-lamanya. Tidak perlu makanan, tidak perlu minuman, tidak perlu menteri, tidak perlu pasukan, tidak perlu anak, tidak perlu pendamping, tidak perlu apa pun, tidak perlu penjaga, tidak perlu istirahat. Tidak mengantuk, tidak tidur, tidak capek, tidak makan, tidak tidur, tidak lalai.

 

كُلَّ يَوْمٍ هُوَ فِي شَأْنٍ

 

Dialah yang Maha Ada dan ada selamanya.

 

Dia akan berfirman :

 

مَنْ كَانَ لِي شَرِيْكًا فَلْيَأْتِ  

 

Siapa yang merasa menjadi sekutuKu, datanglah!

 

Allah akan bertanya :

 

أين الملوك؟

 

Di manakah para raja?

 

أين الجبارون؟

 

Di manakah orang-orang yang sewenang-wenang?

 

أين المتكبرون؟

 

Di manakah orang-orang yang sombong?

 

لمن الملك اليوم؟

 

Milik siapakah kerajaan pada hari ini?

 

Lama Allah bertanya, tidak ada jawabannya. Akhirnya Allah sendiri yang menjawab :

 

لله الواحد القهار

 

Hanya milik Allah yang Maha Satu dan Maha Perkasa.

 

Semuanya akan mati. Menjadi tanah. Tapi kematian bukanlah kematian, justru kehidupan yang baru akan mulai.

 

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ أَيَحْسَبُ الإنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى مِنْهَا خَلَقْنَاكُمْ وَفِيهَا نُعِيدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَارَةً أُخْرَى مَا خَلْقُكُمْ وَلا بَعْثُكُمْ إِلا كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ

 

 

Kalian satu, sejuta ataupun miliaran, itu semua sama saja, seperti satu jiwa. Menciptakan kalian semua, mematikan dan membangkitkan kalian semuanya adalah sama mudahnya dengan satu jiwa saja.

 

يَوْمَ يَخْرُجُونَ مِنَ الأجْدَاثِ سِرَاعًا كَأَنَّهُمْ إِلَى نُصُبٍ يُوفِضُونَ

 

Pada hari kalian keluar dari kubur dalam keadaan telanjang. Laki-laki telanjang, perempuan telanjang, yang tertutup tercabut semua, kubur terbongkar.

 

وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الآزِفَةِ , وَأَنْذِرْهُمْ يَوْمَ الْحَسْرَةِ , لِيُنْذِرَ يَوْمَ التَّلاقِ يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ , القَارِعَة , الحَاقَّة أَلوَاقِعَة , التَّغَابُن الخَاشِعَة, الطَّآمَّةُ الكُبْرَى,.

 

Ini semua adalah nama-nama hari kiamat.

 

يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ أَخِيهِ . وَأُمِّهِ وَأَبِيهِ . وَصَاحِبَتِهِ وَبَنِيهِ . لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ يَوْمَئِذٍ شَأْنٌ يُغْنِيهِ

 

Hari yang memisahkan antara suami dengan istrinya, anak dengan ayahnya, anak dengan ibunya. Semuanya tidak ada yang mau saling kenal. Ayah akan berkata kepada anaknya, “Akulah yang dulu mati-matian bekerja untukmu hingga kamu memiliki gelar dan kekayaan.” Anaknya akan menjawab, “Tidak…tidak, aku tidak mengenalmu.” Ibu akan berkata kepada anaknya, “Akulah yang dulu menjadi tempat kencingmu, mencebokimu, mencucikan bajumu” Dia pun akan mengatakan, “Tidak…tidak, aku tidak mengenalmu.” Semuanya mengatakan, “Menjauhlah dariku!”. Azas keselamatan pada hari itu bukanlah wajah, harta kekayaan, martabat keluarga.

 

وَكُلَّ إِنْسَانٍ أَلْزَمْنَاهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ

 

Akan diumumkan oleh malaikat bahwa pada hari ini fulan bin fulan telah celaka. Tatkala ditimbang amalnya, keburukannya begitu berat. Dia akan celaka selamanya, tidak ada kebahagiaan sama sekali. Malaikat pun merasa ketakutan.

 

سَرَابِيلُهُمْ مِنْ قَطِرَانٍ وَتَغْشَى وُجُوهَهُمُ النَّارُ

 

Diberikan juga gelang emas. Di sini emas diharamkan bagi laki-laki. Di dunia emas diharamkan bagi laki-laki. Dan kalau pun dia pakai, kenikmatan apa yang dirasakan? Mengenakan cincin emas, leher memakai kalung emas. nikmat apa yang terasa? Padahal, hakekatnya mereka memakai cincin api. Dan bila di dunia dia selamat dari itu, nanti di akhirat akan dibuatkan perhiasan oleh malaikat di surga. Ada malaikat di surga yang sejak diciptakan pekerjaannya hanya membuat perhiasan. Begitu bercahaya. Jangankan perhiasannya, bila cahayanya disandingkan dengan matahari, tentulah matahari akan lenyap dari pandangan.

 

أَسَاوِرَ مِنْ ذَهَبٍ. مُتَّكِئِينَ فِيهَا عَلَى الأرَائِكِ. مَسَاكِنَ طَيِّبَةً.

 

Diberikan rumah-rumah dari emas, perak, zabarjad, zamrud. Tanah dari misik, rumput dari zafaran. ‘Arsy adalah atap mereka. Di bawah mereka mengalir sungai dari air yang murni tidak bercampur rasanya. Sungai susu yang tidak berubah rasanya. Sungai khamr yang mendatangkan kelezatan dan tidak memabukkan atau memusingkan. Sungai madu yang dimurnikan. Pohon di kanan kiri mereka dengan buah bergelantungan. Burung beterbangan di depan mereka. Sekitar mereka di kerumuni para pelayan. Kanan kiri istri-istri yang cantik mendampingi. Dan yang lebih dari itu semua adalah

 

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا , إِنَّ الْأَبْرَارَ يَشْرَبُونَ مِنْ كَأْسٍ كَانَ مِزَاجُهَا كَافُورًا

 

Dan ada yang di atasnya lagi.

 

وَيُسْقَوْنَ فِيهَا كَأْسًا كَانَ مِزَاجُهَا زَنْجَبِيلًا

 

Mereka ini diberi minum dari salsabiil. Beda dengan sebelumnya yang minum sendiri. Di sini mereka diberi minum. Yang memberi minum adalah para malaikat, para pelayan, bidadari dan istri-istri mereka. Dan yang di atasnya lagi adalah

 

وَسَقَاهُمْ رَبُّهُمْ شَرَابًا طَهُورًا.

 

Yang memberi minum adalah Allah.

 

Di sana tidak dengan musik dan pesta, beda dengan di dunia. Selalu disertai musik dan pesta pora. Sedangkan itu diharamkan. Bila di satu kaum terbiasa dengan musik maka Allah takdirkan hilangnya mereka dari dunia. Merebaknya musik bukanlah tanda kemajuan. Tetapi itu adalah tanda bahwa tidak lama lagi mereka akan lenyap. Maka Islam mengharapkan musik di dunia ini dan menghalalkannya di surga.

 

Nanti di surga akan ada suara pengumuman :

 

“Di manakah orang-orang yang menyucikan telinga mereka dari suara-suara nyanyian setan ? Hari ini mereka akan mendengar suara nyanyian Ar Rahman.

 

Bagi mereka inilah musik khusus di surga. Begitu suara musik surga mengalun, pendengarnya tidak akan sadar sudah berapa puluh tahun dia berada di sana. Tiap kali wanita surga mengalunkan satu lagu, tujuh puluh tahun lamanya mereka menikmati tanpa menyadari sudah sebegitu lamanya mereka di sana. Ke mana hilangnya akal yang rela menukar nikmatnya musik surga dengan suara musik dunia? bagaimana gilanya orang yang rela melepaskan istana surga hanya dengan gubug reot di dunia? Bagaimana mereka mengejar-ngejar kursi kecil di dunia untuk menyenangkan mata mereka dan meninggalkan kerajaan-kerajaan abadi di surga? Belum lagi bidadari-bidadari yang menemani. Ada angin yang bertiup khusus menerpa pepohona surga. Dari setiap gesekan ranting, keluar satu nada yang berbeda. Menerpa daun keluar pula nada yang berbeda. Dan mengalunlah suara musik yang sangat merdu, yang tidak pernah ada di muka bumi ini. Akal mereka seolah-olah hilang hanyut terbawa alinan musik itu.

 

Lalu Allah swt. Bertanya, “pernahkah kalian mendengar suara seindah ini?” Ahli surga menjawab, “tidak pernah ya Allah” Allah swt. Bertanya lagi, “maukah kalian Aku perdengarkan yang lebih merdu daripada ini?” ”Adakah ya Allah?” Allah berfirman, “Wahai Dawud, naiklah ke mimbar, bacakan Zabur pada mereka” Begitu indahnya suara Nabi Dawud AS. Tatkala di dunia beliau membaca Zabur gunungpun ikut menikmati dan bergetar bertasbih bersama beliau. Burung-burung dan binatang buas pun ikut diam mendengarkan. Beliau berkata, “Ya Allah, itu kan suaraku di dunia?” Allah berfirman, “Aku akan mengembalikannya ditambah dengan kemerduan surga.” Begitu Nabi Dawud AS. Membaca Zabur seluruh penghuni surga hanyut dalam kemerduan bacaan beliau. Itulah hadiah bagi telinga yang tidak pernah mendengarkan musik di dunia. Allah bertanya lagi, “Maukah Aku perdengarkan yang lebih merdu lagi?” Ahli surga bertanya, “Adakah itu Ya Allah?” Allah berfirman, “Wahai kekasihku Muhammad naiklah mimbar.” Maka Rasulullah saw membacakan puji-pujian kepada Allah swt. Jangankan penduduk surga yang sudah pasti terkesima, surga dan benda-bendayang ada didalamnya pun hanyut bersama suara pujian Rasulullah saw.

 

Hari ini berapa banyak keturunan kita yang telah menyia-nyiakan kesempatan untuk mendengarkan suara-suara merdu ini. Mereka tukar dengan suara-suara musik murahan. Lalu Allah SWT. Bertanya, “Maukah Aku perdengarkan yang lebih indah daripada ini?” “Adakah itu ya Allah?” “Ya.” Maka Allah SWT. Memerintahkan agar hijab diangkat. Hari itu mereka akan melihat Allah SWT. Sedangkan wanita-wanita yang melihat Nabi Yusuf AS tidak sadar mengiris-iris jari-jari merka tanpa terasa. Itu baru Nabi Yusuf AS, bagaimana dengan penciptanya? Penghuni surga setiap kali melihat keindahan surga terhenyak hampir tidak sadarkan diri ratusan tahun lamanya, bagaimana dengan yang menciptakan surga? Setelah sembuh, Nabi Ayyub AS ditanya, “Apakah sekarang keadaanmu lebih baik daripada saat sakit?” beliau menjawab, ”Waktu aku sakit keadaanku lebih baik. Sebab waktu itu setiap hari Allah SWT. bertanya kepadaku, ‘Wahai Ayyub, bagaimana keadaanmu?’ Mendengar suara Allah, semua rasa sakitku langsung hilang.”

 

Hari itu, Allah berikan puncak kenikmatan mata pada mereka dengan melihat sang Maha Pencipta. Allah SWT berikan puncak kenikmatan telinga kepada mereka dengan memperdengarkan suaraNya kepada mereka.

 

“Wahai hambaKu, bila kau pasrah padaKu dalam apa yang Kukehendaki, Aku cukupi engkau dengan apa yang inginkan”.

 

Maka jalan paling mudah untuk mendapatkan kemuliaan di haribaanNya dan selamat dari api nerakaNya adalah dengan menunaikan perintah-perintahNya. Tinggalkan keinginan pribadi ikuti kehendak Ilahi. Dan untuk itu tidak apa kita korbankan semuanya. Nyawa pun kita serahkan. Saat tukang sisir keluarga Fir’aun beriman kepada Allah SWT, ia memanggilnya dan bertanya, “Apa yang kau inginkan? Bila ingin hidup, berimanlah kepadaku. Aku akan selamatkan kamu dan kedua anakmu. Dan bila kau beriman pada Musa, aku akan rebus anakmu dalam minyak mendidih lebih dahulu baru kamu.” Sebenarnya, dalam keadaan seperti itu diperbolehkan untuk mengucapkan kalimat kufur, demi menyelamatkan diri dan anak-anaknya. Setelah itu bertaubat pada Allah SWT. Allah SWT akan terima taubatnya. Tetapi itulah yang namanya cinta yang sebenarnya. Menyerahkan jiwa demi yang dicintai lebih disuka daripada menyelamatkannya. Mengorbankan harta lebih ringan daripada mengumpulkannya. Mengorbankan kehormatan pun jadi ringan.

 

Seorang ibu biasa berkorban demi anaknya, tetapi apa yang dikatakannya? “Sayang sekali aku hanya memiliki dua anak. Seandainya aku memiliki lebih banyak lagi, tentu aku korbankan semuanya untuk Allah SWT.” Seorang ibu biasanya tidak akan tahan melihat anaknya menderita. Namun seorang ibu di jaman Firaun, demi kecintaannya pada Allah, dia melihat dua anaknya dimasukkan ke dalam minyak yang panas mendidih. Mendengar mudah, berbicara pun mudah. Tapi seandainya kita bisa mundur tiga ribu tahun ke belakang dan melihat sendiri pemandangan itu, barulah kita bisa tahu. Masih adakah alasan bagi wanita untuk mundur dari pengorbanan? Maka dipanaskanlah minyak di atas tungku, hingga bergolak seperti seorang wanita yang akan menggoreng ikan di dapurnya. Maka dibawalah anaknya yang paling besar, dicemplungkan ke dalam minyak seperti seorang ibu yang menggoreng ikan. Ibunya melihat itu semua. Tidak ada satu kata penyesalan pun terucap. Allah singkapkan hijab dan dia lihat ruh anaknya keluar, berkata kepada ibunya, “Wahai ibu, aku menuju surga.” Diseret anaknya yang ke dua, yang lebih kecil, dengan wajah tanpa dosa, diperlakukan seperti sebelumnya. Sang ibu tetap bertahan. Allah perlihatkan juga, bagaimana keluarnya ruh anaknya. Ia berkata, “Wahai ibu, kami akan berkumpul di surga.” Tibalah sekarang gilirannya sebelum dia dimasukkan, ia berkata kepada Fir’aun, “Ada satu keinginanku. Setelah aku mati nanti, kuburkanlah tulang belulang kami semua, kuburkan menjadi satu.” Fir’aun yang dzalim itu berkata, “ya, keinginanmu akan kupenuhi.” Lihatlah sekarang diri kita, bersujud pun sering kita tidak bisa. Larangan sering kita langgar.

 

Hari ini kira-kira 99% ummat Rasulullah saw Masih mendengarkan musik, menikmati dosa. Maka setelah mereka semua dibakar, tulang belulang mereka disatukan. Kurang lebih dua ribu tahun kemudian, saat Rasulullah Saw Mi’raj dari Palestina naik ke angkasa, tercium bau wangi surga. Dan jarak Palestina-Mesir ini dekat, berbatasan. Beliau bertanya kepada Malaikat Jibril AS. “Bau wangi dari mana ini?” Jibril AS. Menjawab, “Ini adalah tukang sisir keluarga Fira’aun beserta kedua anaknya. Karena pengorbanan mereka untuk Allah SWT yang begitu rupa, Allah SWT sebarkan bau surga dari kubur mereka.” Itulah penghargaan Allah SWT pada ahli iman. Dan belajar iman sampai setinggi itu adalah kewajiban setiap muslim.

 

Inilah usaha tabligh, di jalan ini tidak diperlukkan pangkat jabatan, tidak dilihat bangsa dan warna kulit, baik kulit putih, hitam maupun merah, bukan itu yang utama. Tidak ada jalan lain lagi, semua jalan Allah SWT telah putuskan. Allah Swt berfirman kepada Rasulullah Saw :

“Wahai kekasihku, sampaikan bahwa siapa pun yang ingin sampai padaKu, semua jalan tertutup, semua pintu tertutup, semua perantara tidak ada. Demi kemuliaanKu dan keagunganKu, hanya mereka yang mengikutimu saja yang Aku buka jalan untuk mereka. Sedangkan mereka yang tidak berjalan di belakangmu, sama sekali tidak akan Aku buka jalan untuk mereka.”

 

Sebenarnya jalan itu mudah. Kita ikuti Rasulullah Saw, maka Allah Swt akan mencintai kita. Baik yang taat maupun yang durhaka. Allah Swt berfirman kepada Nabi Dawud AS :

 

“Wahai Dawud, seandainya hambaKu tahu bagaimana cintaKu pada mereka, tentu persendian mereka akan tercerai-berai. Bagaimana Aku menunggu mereka bertaubat siang dan malam.”

 

Ini kepada orang yang durhaka. Maka bagaimana kepada yang taat? Allah Swt berrfirman :

 

يا آدم أنا وحقّي لك محبّ، فبحقِّي عليك كُنْ لي مُحِباً

 

Wahai anak Adam, sesungguhnya Aku mencintaimu, maka demi hakKu atasmu, jadilah kau mencintaiKu.

 

Allah Swt membuka pintu taubat untuk kita. Andaikan tidak ada pintu taubat, bagaimana nasib kita? Maka, walaupun dosa kita bisa membakar hutan, bisa mencairkan salju, bisa menghilangkan cahaya matahari, meredupkan bintang-bintang, samapai menyentuh langit, sekali kita mohon kepada Allah Swt : “Ya Allah, ampuni dosaku.” Maka Allah Swt pasti akan ampuni dosanya.

 

من أعظم مني جودا وكرما

 

Siapakah yang lebih pemurah dan mulia daripadaKu ?

 

Maka jangan sampai kita berputus asa. Jangan pernah terucap siapa yang akan mengampuniku? Dosaku tidak akan diampuni. Tetapi jangan pula mengatakan bahwa Tuhanku kan Maha pemaaf lagi Maha penyayang. Lalu kita berlaku sekehendaknya, pemikiran seperti ini dari setan.

 

أَفَنَجْعَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالْمُجْرِمِينَ

 

Maka apakah Kami jadikan orang-orang muslim seperti orang-orang yang jahat?

 

Tentu tidak mungkin. Satu orang semalaman bertahajud, sedangkan yang satunya semalaman mabuk, mana mungkin disamakan. Satu orang mendengarkan Al Quran, satu lagi mendengarkan musik nyanyian, mana mungkin disamakan.

 

 

مَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ () أَمْ لَكُمْ كِتَابٌ فِيهِ تَدْرُسُونَ

 

Dari kitab mana kalian pelajari itu? Di kitab mana, di Quran sebelah manatertulis bahwa peminum semalam dan orang yang tahajud semalam sama-sama masuk surga? Keputusan apa itu? Pengaturan apa itu ?

 

أَمْ نَجْعَلُ الْمُتَّقِينَ كَالْفُجَّار.

 

Tidak mungkin orang yang bertaqwa disamakan dengan orang yang berdosa. Bukan seperti itu. Tidak juga bahwa orang yang berdosa tidak ada harapan sama sekali. Seandainya seseorang melakukan maksiat sampai dosanya mancapai langit, itu pun masih bisa diampuni. Padahal untuk bisa melakukan dosa sebanyak itu diperlukan umur sampai hari kiamat. Itu pun siang malam digunakan untuk maksiat terus-menerus. Baik dia orang India, Iran, Indonesia, Eropa, Amerika, Tajkistan, dari mana pun dia, seandainya mampu melakukan dosa yang ditumpuk mencapai langit lalu dia memohon ampun pada Allah swt maka akan Allah swt ampuni.

 

Sebenarnya ini adalah perkara yang mudah dilakukan. Tinggal kita kembali kepada Allah swt bertaubat sebenar-benarnya. Dan tatkala seseorang bertaubat maka langit menjadi bercahaya sangat terang. Sehingga malaikat bertanya-tanya ada apa ini ? Maka diberitahukan bahwa hamba Allah swt yang bernama fulan telah berdamai dengan Tuannya. Dosa-dosa kita telah membuat bumi menderita. Gunung marah pada kita. Tiap-tiap lembar daun mengadu pada Allah swt. Lembah Murree (nama tempat yang indah di Pakistan) mengeluh kepada Allah swt :

 

“Ya Allah, mereka melihat keindahanku bukannya bersujud padaMu. Justru mereka menodaiku dengan kemaksiatan padaMu. Dengan minuman keras, dengan musik, dengan zina. Ya Allah, izinkan aku untuk meledak menghancurkan mereka.”

 

Demi Allah, seandainya Allah memberika sedikit saja isyarah, tentulah akan meladak dan menghancurkan kita.

 

ما من يوم إلا والبحر يستأذن ربه : أن يغرق ابن آدم

 

Tiap hari laut minta izin untuk menenggelamkan kita. Kita mungkin berpikir kalau laut akan menenggelamkan masih memerlukan waktu. Tapi bagaimana dengan bumi yang di bawah kita ini? Kalau Allah swt izinkan kita langsung ditelannya. Ini bukan perkataan saya, ini hadits shahih. Dan malaikat juga minta izin untuk menghancurkan manusia.

 

والملائكة تستأذنه : أن تعاجله وتهلكه والرب تعالى يقول : دعوا عبدي فأنا أعلم به إذ أنشأته من الأرض

 

Dan Allah berfirman, biarkan-biarkan, Aku lebih tahu tentang hambaKu daripada kalian.

 

إن كان عبدكم فشأنكم به

 

Bila mereka adalah hambamu, maka terserah kalian, bunuh mereka, hancurkan mereka.

 

وإن كان عبدي فمني وإلي عبدى

 

Dan bila itu adalah hambaKu maka biarkan mereka kembali kepadaKu. Aku menunggu taubatnya, dan membuat persiapan untuk menerima taubatnya.

 

وعزتي وجلالي إن أتاني ليلا قبلته وإن أتاني نهارا قبلته

 

Siapa tahu dia bertaubat pada siang hari, Aku akan menerimanya. Dan siapa tahu dia beratubat pada malam hari, Aku pun akan menerimanya juga.

 

Bisa juga diterjemahkan: bila dia bertaubat waktu muda Aku terima. Atau dia bertaubat saat tua Aku terima juga. Maka inilah langkah pertama. Kita benar-benar bertaubat. Dan langkah kedua adalah membawa kehidupan Rasulullah SAW ke dalam diri kita. Maka sebenarnya menjadi kekasih Allah swt sangat mudah caranya. فَلا وَرَبِّكَ لا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمَا    

 

Ayat ini sangat indah melukiskan bagaimana tingginya derajat Rasulullah SAW. Lihatlah, Allah swt bersumpah.

 

فَلا وَرَبِّكَ

 

Allah swt berfirman bersumpah denga diriNya sendiri. Padahal biasanya Dia bersumpah dengan :

 

وعزتي وجلالي : Demi kemuliaanKu dan keaguganKu.

 

بي : Demi Aku.

 

وارتفاعي فوق عرشي : Demi keluhuranKu di atas ‘arsyKu.

 

Itu sumpah-sumpah yang biasa Allah Swt gunakan. Tetapi di sini Allah Swt firmankan

 

فَلا وَرَبِّكَ : Demi Rabbmu.

 

Ini kalimat begitu indah tidak bisa diterjemahkan dengan bahasa yang panjang sekalipun. Allah swt tidak firmankan “Demi Aku” atau “Demi kemuliaanKu” tetapi Dia firmankan ”Demi Rabbmu” padahal Dia adalah Rabbul ‘alamin. Rabb seluruh alam. Tapi di sini Allah swt seolah mengatakan “Aku adalah Rabb untukmu saja.” Bukan untuk yang lainnya. Bila Dia adalah Rabb untuk Rasulullah SAW maka bagaimana kita tidak punya Rabb. Lalu lanjutannya Allah swt beritahukan caranya.

 

لا يُؤْمِنُونَ : Aku adalah Rabbmu saja.

 

Maka barangsiapa ingin agar Aku juga menjadi Rabbnya, hendaklah ia ikuti kehidupanmu. Rela dengan keputusanmu. Dan menerima dengan senang hati. Bukan dengan keterpaksaan “Bagaimana lagi, ini kan sunnah, ya mau tidak mau mesti dikerjakan.” Mengerjakannya dengan keterpaksaan. Bukan yang begini. Tetapi melakukannya dengan senang hati. “Alhamdulillah, ini sunnah Nabi. Saya senang mengerjakannya.” Bila tidak, maka “Aku hanyalah untukmu dan bukan untuk yang lainnya.” Dan orang yang menginginkan agar Aku menjadi untuknya, baik dia laki-laki maupun wanita, maka :

 

حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

 

rela menerima keputusannya

 

ثُمَّ لا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمَا

 

lalu tidak mendapati dalam diri mereka ganjalan sedikit pun. “Alhamdulillah, aku telah memenuhi perintah Nabi. Aku telah menghidupkan jalan Nabi. Aku telah menghidupkan sunnah Nabi. Sekarang Aku adalah untuk Allah dan Allah juga untukku.” Hanya ada satu hubungan yang diterima. Hubungan dengan Rasulullah SAW. Tentara memiliki seragam tersendiri. Dan seorang tentara selalu merasa bangga dengan seragamnya. Tidak ada yang merasa hina dan terpaksa mengenakannya. “Saya kapten, saya Mayor, saya Jenderal” misalnya. Tapi hari ini ummat merasa malu bila pakaiannya di atas mata kaki. Padahal itu adalah sunnah tersendiri. Ciri khas ummat Rasulullah SAW. Namun kita terbiasa memanjangkan pakaian kita. Entah itu celana ataupun sarung. Ada yang memakainya malah dijadikan ledekan. “Lihatlah itu celana adiknya dipakai, ngatung…. Lihatlah itu baju kakaknya dipakai, keliahatan longgar.” Yang memakai sunnah dijadikan tertawaan. Akhirnya merasa malu. Sehingga tidak mendapatkan Allah swt dan RasulNya.

 

Memang untuk mendapatkan sesuatu yang besar mesti korban besar. Berlawanan dengan keadaan umumnya. Kita adalah orang-orang khusus Allah swt dan RasulNya. Dan kita memiliki ciri khusus, seragam khusus. Dan bila ditinggalkan, hukuman juga akan didapatkan. Seperti seorang tentara Pakistan mengenakan seragam tentara India. Dan saat diprotes dia menjawab, “Kenapa memprotesku? Aku ini prajurit setia. Sudah 15 tahun mengabdi pada pemerintah sehingga aku mendapatkan pangkat mayor. Aku sudah 25 tahun mengabdi pemerintah sehingga diangkat sebagai kolonel.” Maka tentu akan dijawab, “Aku menangkapmu karena kamu mengenakan seragam musuh.” Dan seandainya ia menjawab, “Apalah arti sebuah pakaian? Yang penting kan hatinya. Hatiku bersih untuk pemerintah Pakistan. Makanya aku diangkat sebagai jenderal di sini. Kalaupun kemudian aku memakai seragam jenderal India, apanya yang jadi masalah?” Jawaban seperti ini apakah akan diterima CPM Pakistan? Bila CPM saja tidak bisa menerima jawaban seperti ini, bagaimana jawaban kita tatkala dihadirkan di hadapan Allah swt?

 

Bila penampilan kita seperti musuh-musuh Allah swt dan RasulNya, dengan wajah yang mana kita akan berhadapan dengan beliau? Apakah kita akan menjawab, “Ya Rasulullah, hati saya baik, bersih. Saya ini pencintamu yang sangat fanatik. Adapun penampilan luar, ya biarkanlah bagaimana pun keadaannya. Celana bagaimana pun bentuknya, apa masalahnya?” tidak, tidak begitu. Kita ini adalah budak. Budak mesti punya ciri khas. Kita adalah budak kekasih Allah swt. Kemuliaan apa dan kebanggaan apa yang lebih daripada kedudukan sebagai budak Rasulullah SAW? Nabi Musa AS. Yang begitu mulia dan tinggi kedudukannya meminta kepada Allah swt secara khusus agar dijadikan sebagai ummat Rasulullah SAW kekasih Allah swt. Padahal kedudukan seorang rasul begitu tinggi dan agung. Lalu apalah artinya kita?

 

Waktu di Madinah Munawwarah dua taksi bertemu. Satu yang saya tumpangi, satu lagi taksi kawannya. Dua taksi berhenti berdekatan. Sopir taksi saya bertanya pada kawannya, “Bagaimana musim ini?” bagi orang sana, musim haji adalah musim panen. Kawannya menjawab, “Dingin. Seharian hanya dapat dua puluh real.” Sopir saya menjawab, “Penumpang saya ini pun penumpang pertama saya hari ini.” Karena dia menganggap saya tidak mengerti bahasa Arab, mereka berbicara apa adanya. Kata sopir saya, “Tidak perlu sedih. Cukuplah sebagai kemuliaan kita bahwa kita adalah tetangga Rasulullah SAW. Saya menangis dengan kata-katanya. Benarlah, kemuliaan apa lagi yang melebihi kemuliaan sebagai tetangga Rasulullah SAW? Rasulullah SAW sendiri berdoa, “Ya Allah hancurkanlah orang yang mengganggu penduduk Madinah sebagaimana leburnya garam di dalam air.”

 

Syafaat pertama adalah untuk penduduk Madinah. Sejak diciptakannya dunia hingga kiamat nanti, tidak akan ada yang lebih mulia dan lebih semputna daripada Rasulullah SAW. Beliau dilahirkan dalam keadaan sudah dikhitan dari perut ibunya. Dan biasanya seorang bayi lahir dengan tali pusar yang masih bersambung. Tetapi Rasulullah SAW lahir dengan tali pusar yang sudah dipotong. Dan seolah-olah baru selesai dimandikan. Begitu lahir, ibunya Aminah melihat cahaya yang memenuhi seluruh ufuk dari utara hingga selatan, dari timur hingga ke barat. Saat diangkat dalam gendongan, sepotong awan datang menyelimuti. Tidak lama kemudian, seolah bayi itu tidak ada lagi di ayunan, dan muncul suara :

 

“Bawalah dia berkeliling di belahan bumi timur dan barat agar mereka tahu namanya, sifatnya dan bentuknya. Agar orang tahu bahwa sayyidul kaunain telah datang. Ini hari pertama kelahiran beliau. Berikan akhlak Adam AS padanya, ma’rifat Nabi Syits AS., keberanian Nuh AS. Kasih sayang Ibrahim AS. Kepasrahan Ismail AS. Kefasihan Nabi Shalih AS, hikamah Nabi Luth AS., ridha Nabi Ishaq AS., kabar gembira Nabi Ya’qub AS., ketampanan Nabi Yusuf AS. Jihad Nabi Yusya’ AS., kekuatan Nabi Musa AS., kecintaan Nabi Danial AS., kewibawaan Nabi Ilyas AS., hati Nabi Ayyub AS., merdunya suara Nabi Dawud AS., ketaatan Nabi Yunus AS., kemaksuman Nabi Yahya AS., kezuhudan Nabi ‘Isa AS., dan berikanlah akhlak semua Nabi AS. padanya.”

 

Ini adalah di awal kehidupan beliau. Kemudian terus meningkat dalam masa 63 tahun. Sampai di mana kemuliaan beliau berada. Tapi kita merasa hina dan malu mengikuti cara hidup beliau. Dan memanjangkan celana melebihi mata kaki seperti cara berpakaian orang-orang sombong dianggap sebagai kemuliaan. Rasa cinta model apa seperti ini? Mana bukti ikrar kalimah kita? Setiap satu sunnah yang kita tinggalkan akan nyata kerugiannya pada hari kiamat nanti. Seperti tombol yang dipijat. Dari satu tombol bisa mendatangkan kemenangan. Demikian juga, dari satu tombol bisa datang kekalahan. Lalu berani mengelukarkan fatwa sendiri, “Kan hanya sunnah. Dikerjakan berpahala, ditinggalkan tidak mengapa.”

 

Sebuah mobil berharga ratusan juta, karena keluar udara dari salah satu bannya tidak bisa berjalan, diam di tempatnya. Dan ini, ribuan sunnah keluar dari kehidupan kita, bisakah kendaraan iman berjalan? Allah swt sangat mencintai wujudnya Rasulullah SAW. Lalu bagaimana cinta Allah swt kepada cara hidup beliau yang kita tinggalkan? Allah swt menyebut mata beliau :

 

لا تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَى مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْهُمْ

 

Allah swt sebut lisan beliau :

 

لا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ لِتَعْجَلَ بِهِ,

 

Allah swt sebut wajah beliau:

 

فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ,

 

Allah swt sebut dada beliau :

 

أَلَمْ نَشْرَحْ لَكَ صَدْرَكَ,

 

Allah swt sebut hati beliau :

 

عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنْذِرِينَ,

 

Allah swt sebut punggung beliau :

 

الَّذِي أَنْقَضَ ظَهْرَكَ,

 

Allah swt sebut tangan beliau :

 

وَلا تَجْعَلْ يَدَكَ مَغْلُولَةً إِلَى عُنُقِكَ.

 

Setiap bagian tubuh beliau disebutkan satu per satu. Dan dalam satu penafsiran dikatakan bahwa :

 

وَالضُّحَى: Demi rambut beliau yang hitam dan indah.

 

Allah swt sebut satu demi satu tubuh beliau kemudian Allah swt sebut beliau secara keseluruhan dan berfirman :

 

لَعَمْرُكَ : Allah swt bersumpah dengan umur beliau.

 

Siapakah yang dapat menceritakan sifat orang yang dipuji sendiri oleh Allah swt begitu rupa?

 

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا () وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا

 

Allah swt menjelaskan pujianNya untuk beliau. Nabi Ibrahim AS. Berdoa :

 

وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَنْ نَعْبُدَ الأصْنَامَ

 

Beliau berdoa agar dirinya dan keturunannya dijauhkan dari penyembahan berhala. Beliau juga berdoa :

 

وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ

 

Berikanlah sebutan yang baik untukku di kalangan umat yang akhir. Rasulullah SAW tanpa meminta, Allah Swt telah berikan anugerah itu :

 

وَرَفَعْنَا لَكَ ذِكْرَكَ

 

Nabi Ibrahim AS berdoa untuk pemeliharaan keturunan beliau. Untuk Rasulullah SAW Allah swt berfirman :

 

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

 

Allah swt sucikan keturunan beliau. Putri beliau Fathimah R.Ha adalah pimpinan wanita surga. Hasan dan Husain adalah pimpinan pemuda surga. Khadijah R.Ha masih hidup, Allah swt perintahkan Jibril AS untuk memberikan salam Allah swt untuk beliau dan memberikan kabar gembira tentang istananya di surga. Beliau bersabda pada ‘Ali RA. “Wahai Ali, rumahmu di surga berada di depan rumahku.” Begitu Allah swt jaga kesuciannya. Cara hidup beliau adalah sarana untuk tersambung dengan Allah swt. Dan meninggalkan cara hidup beliau adalah sarana hancurnya kehidupan. Itulah yang kita belajar dalam usaha tabligh. Tabligh bukanlah satu kelompok. Tabligh adalah usaha untuk membawa cara Nabi SAW dalam kehidupan.

 

Seorang jenderal yang berjalan akan nampak bahwa dia adalah seorang jenderal. Kenapa kita tidak seperti itu? Bagaimana tatkala kita berjalan orang langsung paham bahwa yang lewat ini adalah pengikut Rasulullah SAW. Bagaimana wanita berjalan langsung nampak bahwa ini adalah wanita dari ummat Nabi SAW. Putri Nabi Syu’aib AS tatkala keluar untuk memanggil Nabi Musa AS, terpaksa berjalan keluar rumah maka Allah swt ceritakan dalam Al Quran bagaimana cara berjalannya.

 

فَجَاءَتْهُ إِحْدَاهُمَا تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

 

kalau hanya untuk menceritakan kedatangan putri itu, tidak diperlukan kata-kata.

 

تَمْشِي عَلَى اسْتِحْيَاءٍ

 

dan yang dimaksud bukan sekedar “dengan rasa malu”. Allah swt begitu suka dengan cara berjalan putri Nabi Syu’aib ini sehingga di abadikan dalam Al Quran yang abadi sepanjang masa. Hari ini, apakah cara berjalan saudari dan istri kita sudah seperti ini? Untuk menyebutnya pun kita rasanya malu sendiri. Allah swt anggap bahwa rasa malu adalah kendaraan dan putri Nabi Syua’aib adalah penumpangnya. Putri itu tidak datang, tapi dia adalah penumpang keandaraan yang datang. Siapa yang ingin mengetahui apa itu rasa malu, lihatlah putri Nabi Syua’aib AS. Rasa malu telah Allah swt tundukkan pada putri itu menyerupai sebuah kendaraan. Rasa malu telah Allah swt tundukkan padanya seperti sebuah kendaraan yang dia tumpangi. Sehingga Allah swt firmankan dengan “diatas rasa malu”. Tetapi sulit untuk menjabarkan maksudnya secara sempurna. Inilah cara berjalan yang ingin Allah swt lihat pada wanita-wanita muslimah. Inilah rasa malu yang Allah swt inginkan dari laki-laki maupun wanita muslim. Rasa malu adalah akhlak Rasulullah SAW. Di dalam Al Quran sejak Alif Laam Miiim sampai akhir tidak ada satu pun nama wanita disebut. Hanya nama Maryam AS yang ada. Itu pun disebut hanya untuk menetapkan bahwa ‘Isa AS. adalah putra Maryam AS. bukan putra Allah swt seperti perkataan orang-orang Nasrani.

 

ذَلِكَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ

 

Di dalam Al Quran, baik wanita yang baik maupun yang buruk tidak ada yang disebut namanya terang-terangan.

 

امْرَأَةُ الْعَزِيزِ

 

Padahal, tidak susah bagi Allah swt menyebut nama wanita yang menggoda Nabi Yusuf AS, Zulaikha, untuk langsung disebut namanya seperti itu misalnya. Begitu pula saat menyebut istri Fir’aun yang shalihah, tidak disebut dengan panggilan Asiyah. Padahal kalaupun disebut nama Asiyah mudah bagi Allah swt. Demikian pula menyebut istri Nuh AS., istri Luth AS., istri Musa AS. Semuanya disebut dengan menyebut nama suaminya. Ulama mengatakan bahwa hikmah disembunyikannya nama wanita adalah bahwa syariat mengajarkan aturan kehidupan yang begitu suci, sehingga nama wanita pun tidak disebut tanpa kebutuhan yang mendesak. Bila namanya pun tidak dinampakkan, mana mungkin syariat suci ini membiarkan wanita membuka tutup kepalanya berjalan di pasar-pasar? Maka hendaklah kita hidupkan mu’asyarah Nabi SAW dan Muamalah Nabi SAW. Bagaimana seluruh kawasan ini terbebas dari orang yang tidak mendirikan shalat. Buat suasana shalat di lingkungan kita. Sehingga setiap orang yang datang pulang menjadi ahli shalat. Tempat ini didatangi berbagai macam orang. Orang mulia datang, orang rendahan datang, orang baik datang, orang jahat juga datang, orang shalih datang, orang fasiq pun datang. Bagaimana orang yang datang dengan niat maksiat pulang dengan taubat. Bagaimana yang datang sebagai orang yang meninggalkan shalat, pulang menjadi ahli shalat. Bagaimana di hotel-hotel ada suasana shalat, dzikir, tilawah Quran dan ibadah. Juga di jalan-jalan, di pasar-pasar. Bagaimana setiap wanita yang datang ke sini merasa malu bila tidak menutup aurat sempurna.

 

Inilah usaha tabligh, membawa kehidupan menjadi kehidupan yang suci. Di masa lalu, tempat ini adalah kampung yang bersih kehidupannya. Tamu dari kota yang datang mereka sediakan fasilitasnya. Masih di atas kendaraan, anak-anak sudah menyambutnya. Tetapi karena usaha kebatilan, suasana yang begitu bagus menjadi rusak. Sekarang, bagaimana keadaan anak-anak kita? Rasa malu sudah hilang. Quran menjadi asing di telinga mereka. Melangkahkan kaki ke masjid menjadi berat, justru ke tempat maksiat. Generasi seperti ini, apa yang akan mereka lakukan? Akan dijadikan apa negara kita ? Yang ada seperti itu, yang belum ada pun tidak jauh dari itu. Tidak ada jalan lain, kita harus kembali ke jalan yang Allah swt ridhai untuk kebahagiaan kita. Buat suasana shalat, dzikir, tilawah Al Quran. Bagaimana setiap wanita yang datang merasa malu bila tidak menutup aurat sempurna?

 

Jangan kita anggap bahwa kedatangan orang-orang yang berlibur ke kampung anda, ditempat anda disini adalah sebagai masa panen. Lalu kita sediakan minuman keras dan sarana kemaksiatan demi uang. Tidak, tidak demikian. Ini sama halnya dengan membakar mereka di depan mata kita. Kita melihat anjing dibakar hidup-hidup pun tidak akan tahan. Dan ini, bergelombang-gelombang manusia datang dalam kelalaian. Hanya lalai saja. Tinggal bagaimana orang-orang di tempat ini merasa sebagai ummat Rasulullah SAW dan meyakini bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir. Bujuk rayu mereka untuk kembali kepada Allah swt. Orang mengendarai mobil dengan suara musik yang begitu keras, orang yang sedang shalat yang dilewati pun rusak shalatnya. Gunung, pepohonan dan dedaunan menjerit menyaksikan kemaksiatan seperti ini, “Ya Allah, apa yang dilakukan oleh hambaMu ini? Hendaklah penduduk disini membentuk susana kerja Nabi SAW di kawasan ini. Jangan sampai ada orang bermaksiat di sini. Dan ini bukan kerja dengan pukulan dan paksaan. Tetapi kerja dengan rayuan dan usaha untuk memahamkan.

 

Pada masa Khalifah Umar RA. Seorang pembesar daerah, minum minuman keras. Bagi beliau sebagai penguasa mudah saja menghukumnya. Tetapi bukan itu cara Islam. Maka beliau menulis surat untuk pembesar itu. Beliau tulis firman Allah swt :

 

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ إِلَيْهِ الْمَصِيرُ

 

Dia Maha Menerima Taubat, Maha Keras siksanya dan maha perkasa. Tidak ada tuhan selain Dia, kepadaNyalah tempat kembali.

 

Lalu beliau kirimkan surat itu dan meminta orang-orang di sekitarnya untuk berdoa untuknya agar Allah swt memberikan taufiq untuk bertaubat padanya. Maka ketika surat sampai. Dia baca, tidak ada salam, tanpa pembukaan, tanpa penutupan, hanya satu ayat ditulis. Lalu olehnya dibaca, dibaca lagi, dibaca lagi. Akhirnya dia sadar. Kalimat pertama memberi harapan bila bertaubat. Berikutnya mengancam bila tidak bertaubat. Berarti khalifah telah mengetahui bila dia minum minuman keras. Maka seketika itu pula ia bertaubat. Inilah cara Islam mengeluarkan orang muslim dari dosa. Bagaimana kita buat suasana yang kuat di sini sehingga tidak ada yang berani bermaksiat. Begitu kuat suasana sehingga tidak ada wanita yang berani berjalan di sini tanpa tutup aurat sempurna.

 

Ada seorang mahasiswa datang ke Raiwind dengan wajah di tutup kain saya bertanya, “Mengapa ditutup?” “Saya malu karena janggut saya cukur.” Padahal di rumahnya tidak malu. Rasa malu timbul karena datang ke dalam suasana. Bagaimana kampung ini dibuat suasana seperti ini. Ini bukan program jamaah tabligh, tetapi inilah konsekuensi kita, yang meyakini Allah swt sebagai Rabb kita. Kita sebagai umat Rasulullah SAW, jangan kita anggap kedatangan orang-orang ke sini sebagai waktu panen raya, ini bahaya. Ada sebagian dosa yang membuat malaikat langsung lari ke langit. Para Malaikat berkata, “Ini sebentar lagi azab akan datang. Tidak ada yang bisa membendungnya.”

 

Maka kita hidupkan suasana akhlak yang mulia, suasana kasih sayang. Kita tunjukkan akhlak Rasulullah SAW. Inilah yang namanya dakwah. Rasulullah SAW datang untuk menyempurnakan akhlak. Bertaubatlah dari kebiasaan balas dendam hanya karena tidak dipilih dalam acara pemilihan. Hari ini yang kalah langsung boikot karena kalah dalam pemilu. Atau karena lamaran ditolak, putus sillaturahmi, putus hubungan dagang, boikot antar keluarga. Akhlaq seperti apa ini? Belajarlah unutuk memaafkan. Tidak dendam. Pemilihan kepala daerah adalah peluang besar untuk rusaknya akhlak kita. Mencabut akhlak-akhlak mulia dari diri kita. Ini bukan rahmat Allah swt, ini adalah satu bentuk siksaan dari Allah swt. Allah swt biarkan orang-orang kafir membuat makar atas kita. Hingga karena pemilihan ini, saudara tidak akur dengan saudara. Tetangga bermusuhan dengan tetangga. Orang tinggal satu kampung tidak ada tegur sapa. Dan yang lebih aneh lagi, orang-orang muslim berlomba-lomba mengikutinya.

 

Padahal, di Negara ini, siapa pun yang mendapatkan kursi selalu dijatuhkan. Hanya masalah-masalah kecil lalu kita tidak mau berbicara. Diundang tidak mau datang. Karena lamaran ditolak tidak mau bertegur sapa. Tidak demikian saudaraku. Belajarlah menyapa pada yang tidak mau menyapa. Ucapkan salam pada yang tidak mau bersalam. Jalin hubunga dengan orang yang memutuskan.

 

Rasulullah Saw bersabda mahfum hadits :

 

“Tiga hal, bila kalian lakukan maka ambillah kunci surga dariku :

 

  1. Sambungkan orang yang memutuskan.
  2. Berilah orang yang tidak pernah memberi. Berikan makan pada orang yang tidak pernah memberi makan. Sapalah orang yang tidak mau menyapa. Berilah minum orang yang tidak mau memberi minum.
  3. Maafkanlah orang yang menganiayamu.

 

Maka Ambillah kunci surga firdaus dariku.”

 

Hari ini, memaafkan begitu susah. Lebih susah daripada bersedekah. Diperlukan iman lebih daripada untuk bersedekah. Merendah, menundukkan diri karena Allah swt. Seperti orang yang mendaki gunung, makin tinggi gunung yang didaki makin perlu merundukkan diri. Yang mendaki sambil menengadahkan tubuhnya akan jatuh ke bawah. Sedangkan yang mendaki sambil merunduk, itulah yang akan sampai ke atas. Kita memaafkan karena ini adalah perintah Rasulullah SAW. Berjalan menyebar dengan membawa akhlak mulia adalah kerja kita. Setalah Rasulullah SAW tidak akan ada lagi Nabi yang datang ke dunia. Menyampaikan ini pada manusia adalah kerja kita. Untuk ini, perlu keluar empat bulan, empat puluh hari.

 

Ini bukan pekerjaan jamaah tabligh. Ini adalah agar amal baik ini menjadi umum dan merata di dunia. Sedangkan kita sudah meyakini bahwa tidak akan ada nabi lagi yang datang ke dunia. Seandainya ada nabi lagi yang datang, tentu tidak masalah bila kita tinggal duduk di rumah. Tetapi beliau adalah nabi terakhir dan umat ini adalah umat terakhir. Maka menyampaikan kalimah thayyibah adalah tanggung jawab umat ini. Dan lihatlah, dalam waktu 80 tahun Islam telah sampai di Kashmir, Turki, Prancis, Portugal, Spanyol, Senegal. Wilayah yang begitu luas ini hanya dalam 80 tahun sudah terlintasi semua. Di Marokko, ada sebuah kota namanya Aasafi. Saat sahabat ‘Uqbah bin Nafi’ sampai di pantai itu, beliau bawa kudanya untuk mencebur ke arah laut. Kuda pun berjalan dan berjalan. Tatkala kuda sudah tertahan di satu tempat, beliau berkata :

 

“Ya Allah, andaikan aku mengetahui bahwa di seberang sana masih ada manusia dan aku memiliki sarana untuk samapai ke sana, tentulah aku akan menyampaika agama ini hingga ke sana. Yaa Asafaa (sayang sekali) aku tidak memiliki sarana yang bisa membawaku ke seberang sana.”

 

Karena ucapan beliau “Yaa asafaa” itulah maka kota itu dinamakan “Asafi”. Inilah cermin perasaan umat Islam. Yang ditangisi adalah tatkala tidak bisa lagi menyampaikan agama sedangkan pekerjaan masih tersisa. Bukan menangisi penghasilan yang berkurang. Yang terpikir adalah bagaimana agama samapai ke seluruh penjuru dunia. Atas asas itulah umat ini keluar dari rumahnya. Mestinya tidak perlu lagi memahamkan untuk apa kita keluar, kenapa kita keluar. Tidak semestinya seorang muslim bertanya, “Di mana tertulis dalilnya bahwa orang muslim harus keluar dari rumahnya, meninggalkan anak istrinya?” Bagaimana akan tahu, ditempat tertulisnya dalil itu, sedangkan dia tidak pernah membaca. Dan yang biasa dia jadikan bahan bacaan adalah yang tidak berisi dalilnya? Maka bagaimana orang-orang yang datang ke tempat ini dialihkan dari maksiat kepada taat. Kumpulan yang ada sekarang inilah yang mesti berusaha atas mereka. Sebagaimana dengan mudah kemaksiatan menyebar dari sini, mudah juga ketaatan menebar dari tempat ini. Kita mungkin tidak saling kenal, siapa nama kita, siapa nama orang tua. Tapi bila kita semua bertaubat dengan benar, maka Allah swt akan umumkan kepada para penduduk langit :

 

“Lihatlah wahai malaikatKu, hari ini hambaKu bertaubat padaKu.”

 

Nama kita dan orang tua kita disebut-sebut di hadapan para malaikat. Maka kita yang di sini bertaubat semua. Kita tidak tahu sampai kapan hidup kita tersisa. Kita yang sebelumnya banyak melakukan perbuatan yang membuat Allah swt murka, hari bertaubat dari itu semua. Yang tua, yang muda, yang pendatang maupun yang penduduk sini, semuanya bertaubat. Dan ini adalah kemuliaan bagi kita, kita berjalan di muka bumi membawa kalimah mulia ini. Maka berbahagialah seorang wanita yang suaminya keluar di jalan Allah swt. Beruntunglah seorang ibu yang anaknya keluar di jalan Allah swt. Berbahagialah seorang saudara yang saudaranya keluar di jalan Allah swt. Ini bukanlah pengorbanan yang ringan. Mereka akan menjadi orang yang dekat kepada Allah swt.

 

Basyir bin Aqrabah RA, Ditinggal ayahnya untuk berjuang di jalan Allah swt. Beliau keluar dari rumah di jalan kota Madinah menunggu ayahnya datang. Seluruh pasukan sudah lewat, tidak nampak wajah ayahnya. Akhirnya, ia mendatangi Rasulullah SAW dan bertanya tentang ayahnya. Rasulullah SAW berpaling tidak menjawab pertanyaan anak berumur tujuh atau delapan tahun itu. Rasulullah SAW berusaha menahan tangis, tetapi tidak juga tertahan. Akhirnya, butiran-butiran mutiara mengalir dari kelopak mata beliau. Dan Basyir pun paham bahwa ayahnya telah syahid. Lalu ia pun berkata, “Sekarang, tinggallah aku seorang diri.” Ibunya sudah lebih dahulu meninggal. Dan sekarang ayahnya pun syahid. Maka Rasulullah SAW bertanya, “Wahai Basyir, tidak relakah engkau bila aku sebagai ayahmu dan ‘Aisyah sebagai ibumu?” “Ridha ya Rasulullah, ridha.” Karena terpisah dengan ayah ibunya demi agama, dia dijadikan sebagai putra Rasulullah SAW, sebagai putra ibunda ‘Aisyah R.ha. Maka hubungan kemuliaan seperti itulah yang kita cari. Kita bukan menyiapkan orang untuk jamaah tabligh. Kita menyiapkan orang untuk membuat usaha agama.

 

Dari pembicaraan saya, adakah yang bertentangan dengan firman Allah swt atau sabda Rasulullah SAW? Atau tidak sesuai dengan perasaan para hadirin semua? Kalau ada kesalahan penyampaian itu adalah kesalahan pribadi saya sebagai manusia. Tapi intinya semua adalah firman Allah swt dan sabda Rasulullah SAW. Maka kita yang hadir di sini bertaubat semuanya. Untuk itu segera daftarkan cash empat bulan.

 

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: