Buyaathaillah's Blog

Bayan Masyeikh : Maulana Tariq Jamil

PERTANYAAN TENTANG IMAN

Maka kita pelajari pertanyaan-pertanyaan ini. Pernahkah ada sesuatu di alam ini yang terjadi dengan sendirinya? Adakah sebuah gedung sekolah yang berdiri dengan sendirinya? Adakah seorang wanita yang pada pagi hari tiba-tiba melihat seoang anak jadi sendiri di sampingnya? Atau tiba-tiba muncul setumpuk perhiasan emas didepannya? Roti masak dengan sendirinya? Daging matang dengan sendirinya? Pernahkah ada yang melihat seperti ini? Tidak pernah ada.

 

Maka berarti saya tidak jadi dengan sendirinya dan pasti bahawa saya tidak menciptakan diri saya sendiri, tidak menciptakan orang tua saya, tidak menciptakan kampung saya. Seandainya saya ciptakan diri saya sendiri, tentulah saya memilih bentuk yang lebih indah dari ini dan mungkin saya akan menentukan agar lahir di tengah keluarga raja. Maka jelaslah bahawa saya tidak jadi sendiri dan tidak pula menciptakan diri saya sendiri. Lalu siapa yang menciptakan?

 

Dan bila sepotong kayu tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin pohon bisa saya buat? Bila sebutir pasir tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin alam semesta saya yang ciptakan? Bila setetes air tidak bisa saya ciptakan mana mungkin lautan bisa saya ciptakan? Bila selembar daun tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin buah bisa saya ciptakan? Bila selembar bulu tidak bisa saya ciptakan, mana mungkin burung merak bisa saya ciptakan? Bumi siapa yang menciptakan? Langit siapa yang menciptakan? Kita tidak jadi sendiri, tidak menciptakan diri sendiri dan tidak bisa menciptakan langit dan bumi.

Lalu siapa yang menciptakan? Bila wanita tidak bisa menjawab pertanyaan ini, binasa. Lelaki tidak bisa menjawab pertanyaan ini, binasa. Siapa pun orangnya, walaupun mendapatkan gelar cumlaud dalam segala bidang, bila pertanyaan ini tidak bisa dia jawab maka binasa, gagal dunia akhirat. Lalu, siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Siapakah yang menciptakan saya? Disambung pertanyaan kedua, untuk apa saya diciptakan? Pertanyaan ini ada dalam Al Quran, kita cari jawabannya, maka kita temukan jawabannya.

 

Allah SWT. firmankan dalam Al Quran:

 

هَلْ أَتَى عَلَى الْإِنْسَانِ حِينٌ مِنَ الدَّهْرِ لَمْ يَكُنْ شَيْئًا مَذْكُورًا

 

“Bukankah telah datang dalam kehidupan manusia suatu masa tatkala manusia tidak ada sama sekali”(Al Insan: 1)

 

Allah SWT. juga berfirman:

 

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا

 

فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ

 

“Dulu semuanya tidak ada, langit tidak ada, bumi tidak ada, maka yang ada hanya Allah. Allah yang dulu, Allah yang sekarang, itulah Allah Dialah Allah yang Qayyum, Dialah Allah yang Mutakabbir, Dialah Allah yang Awal, Dialah Allah yang Akhir, Dialah Allah yang Zhahir, Dialah Allah yang Bathin, Dialah Allah yang Qayyum, Dialah Allah Malikul mulk, Dialah Allah zuljalali wal ikram, Dialah Allah yang maha suci, Dialah Allah yang tiada awalnya, Dialah Allah yang tidak ada akhirnya.”(Al Anbiya: 30)

 

Alam semesta ini ada awalnya dan ada akhirnya. Namun Allah Swt yang Maha ada, ada tanpa awalan dan terus ada tanpa akhiran. Allah SWT. adalah yang Maha ada. Tapi adanya Allah Swt tidak membutuhkan tempat. Allah Swt adalah yang Maha ada, tapi tidak perlu pada masa. Allah SWT. adalah yang Maha ada dan adanya Allah Swt tidak bisa ditentukan dimana arahnya. Allah Swt adalah yang Maha ada, tidak perlu pada bentuk, tidak perlu pada manusia. Allah Swt maha ada, tidak perlu pada isteri, tidak perlu pada anak, tidak perlu pada alam, tidak perlu pada langit, tidak pelu pada bumi, tidak perlu pada Rasul, tidak perlu pada Anbiya, tidak perlu pada surga, tidak perlu pada neraka, tidak perlu pada Mikail, tidak perlu pada Israfil, tidak perlu pada Izrail, tidak perlu pada surga, tidak perlu pada neraka, tidak perlu pada langit, tidak perlu pada bumi, tidak perelu pada Arsy, tidak perlu pada Lauhil mahfudh, tidak perlu pada kursi. Kita namanya manusia ini, di kelas kita duduk sejak kecil duduk di bangku sekolah.

 

Dan manusia ini pasti berada dalam salah satu dari beberapa keadaan. Seorang itu mungkin berdiri, kalau tidak, mungkin duduk, kalau tidak, mungkin berbaring, kalau tidak, mungkin tiduran, mingkin ke arah kiri, mungkin ke arah kanan, pasti salah satu itu. Tapi itulah Allah Swt yang tidak duduk, tidak juga berdiri, tidak berbaring, tidak tengkurap, tidak terlentang, tidak miring kiri, tidak miring kanan, tidak perlu makan, tidak perlu minum, tidak makan, tidak minum, tidak mengantuk, tidak tidur.

 

Dialah Allah yang tidak pernah merasa takut, Dialah Allah yang baginya sama antara langit dan bumi, baginya sama antara terang dan gelap, baginya sama antara siang dan malam, arsy dan kursi sama baginya, cahaya dan api sama baginya, gunung dan tanah lapang sama baginya dialah Allah raja manusia, raja bagi jin, raja bagi lautan, raja dari api, raja dari besi dan perak, raja segala-galanya dialah raja ruang diantara langit dan bumi, Dialah raja burung-burung yang berterbangan di udara Dialah raja tiap-tiap tetesan air hujan. Raja pemilik minyak wangi yang akan diciptakan dialah pemilik semuanya dia pemilik kepakan sayap burung-burung yang berterbangan dialah pemilik ular yang menyemburkan bisanya.

 

Dialah yang menciptakan kerang yang di dalamnya terdapat mutiara Dialah yang menciptakan minyak ambar dari ikan dialah pencipta dan pemilik lebah yang mencelupkan mulutnya di air kemudian darinya diciptakan madu dialah yang menciptakan dan memiliki ulat-ulat yang mengeluarkan sutera-sutera Dialah Allah yang memberikan minum kepada kijang kemudian darinya Allah ciptakan minyak tumbuhkan kasturi dialah Allah yang menciptakan air yang darinya Allah buah-buah mangga yang indah dan ranum dialah Allah raja dan pemilik air, yang kadang-kadang darinya Allah ciptakan mangga, darinya Allah yang menciptakan pohon yang pahit, daun ciptakan delima dialah Allah yang pahit, dahan yang pahit, ranting yang pahit, tapi darinya Allah tumbuhkan buah-buah delima dibungkus kulit yang pahit, semuanya pahit.

 

Dan tatkala dibuka, begitu nampak keindahan ciptaan Allah butiran-butiran ada yang berwarna putih. tatkala nampak butiran delima yang berwarna putih, maka seolah-olah mutiara ada di sana. Bila itu berwarna merah, maka seolah-olah itu adalah buah yang ditaburi yaqut. kumpulkan dalam suatu tempat yang rapi dan rapat dan itu semua Allah kemudian….. supaya manusia berpikir, “Ini semua siapa yang menciptakan?”Inilah Allah dan inilah ciptaan Allah.

 

هَذَا خَلْقُ اللَّهِ فَأَرُونِي مَاذَا خَلَقَ الَّذِينَ مِنْ دُونِهِ بَلِ الظَّالِمُونَ

 

فِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

 

“Inilah ciptaan Allah, inilah buatan Allah, maka tunjukkan apa yang diciptakan oleh selain Allah SWT”. (Luqman: 11)

 

Itulah Allah Swt. yang berfirman kepada kita, bahawa kita pun diciptakan dari air. Yang dengan air itu pula Allah Swt telah ciptakan pohon delima, Yang dengan air itu pula Allah Swt, telah ciptakan buah delima. Yang dengan air itu pula Allah Swt telah ciptakan buah jambu. Yang dengan air itu pula Allah Swt telah ciptakan mutiara Dan dari air itu pula tatkala dimasukkan ke dalam kijang, maka dijadikan kasturi dan dari air itu pulalah tatkala dimasukkan kedalam lebah, maka yamg muncul adalah madu. Kalian sebelumnya adalah air, kalian sebelumnya adalah air.

 

أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَى

 

artinya: Dan sebelum air kalian adalah tanah (Al Qiyamah: 37)

 

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ مِنْ سُلَالَةٍ مِنْ طِينٍ

 

Artinya: “Dari tanah dikeluarkan gizi, dari gizi dikeluarkan sari patri, dari sari pati dikeluarkan air”. (Al Mukminun: 12)

 

Kemudian dari situ Allah Swt teruskan dibuatlah bentuk oleh Allah Swt yang berbeda-beda, kemudian disempurnakan, diberikan warna-warna yang indah,warna-warna yang cantik. Kemudian Allah Swt menjadikan dalam bentuk lelaki, Allah SWT menjadikan dalam bentuk wanita:

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا

 

وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

 

(Al Hujurat: 13)

 

Dan dalam ayat lain Allah SWT. Berfirman:

 

يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ () أَوْ يُزَوِّجُهُمْ

 

ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا

 

(AsySyura: 49-50)

 

Allah Swt berikan anak perempuan, Allah Swt berikan anak lelaki, atau Allah Swt berikan pasangan lelaki dan wanita dan Allah menjadikan orang yang dikehendaki sebagai mandul, Allah SWT. tidak berikan anak padanya, walaupun menjalani hidup dengan meminta-minta supata dikaruniai anak, Allah SWT. tidak berikan anak padanya. Maka telah jelas jawaban bagi kita . Allah yang maha pencipta. Langit, Allah yang menciptakan:

 

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

 

(Al Hujurat: 47)

 

Bumi, Allah yg menciptakan:

 

وَالْأَرْضَ فَرَشْنَاهَا فَنِعْمَ الْمَاهِدُونَ

 

(Al Hujurat: 48)

 

Gunung, Allah yang menciptakan:

 

وَالْجِبَالَ أَرْسَاهَا

 

(An Nazi’at: 32)

 

Air, Allah yang mengeluarkan:

 

أَخْرَجَ مِنْهَا مَاءَهَا وَمَرْعَاهَا

 

(An Nazi’at: 31)

 

Hujan, Allah yang menurunkan:

 

أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا () ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا () فَأَنْبَتْنَا

 

فِيهَا حَبًّا () وَعِنَبًا وَقَضْبًا () وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا () وَحَدَائِقَ

 

غُلْبًا

 

(‘Abasa: 25-30)

 

Dialah Allah yang membentangkan bumi, mengengkat langit, menurunkan hujan. Lalu Allah berfirman kepada kita:

 

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الْكَرِيم

 

(Al Infithar ayat 6)

 

Dalam Al Quran hanya dua kali disebut

 

يَا أَيُّهَا الْإِنْسَانُ

 

Ini adalah firman yang sangat indah. Allah bukan berdialog hanya kepada orang muslim, tetapi kepada semua manusia di seluruh dunia. Kepada muslim, kafir, orang yang taat, orang yang ingkar, Huindu, Buddha, Atheis, Komunis, pemabuk, orang yang ahli maksiat, semuanya, Allah Swt berfirman kepada mereka semuanya. Tergambar oleh saya seolah-olah seperti seorang ibu yang memegang kedua pundak anaknya, dipegang sambil bertanya, “wahai anakku, mengapa engkau berburuk sangka kepadaku?”

Mana mungkin aku berbuat buruk padamu? Sebab memang itulah watak seorang ibu. Seperti apapun dia akan selalu menginginkan kebaikan anaknya. Tergambar oleh saya, seolah-olah AllahSWT memegang pundak setiap manusia. Baik lelaki maupun wanita, Allah Swt bertanya, “wahai hambaku, bagaimana kamu bisa berburuk sangka padaku? Sedangkan Aku adalah yang menciptakanmu:

 

الَّذِي خَلَقَكَ فَسَوَّاكَ فَعَدَلَكَ

 

(Al Infithar: 7)

 

menciptakannya dan membentuk fisikmu betul-betul seimbang, betul-betul serasi:

 

فِي أَيِّ صُورَةٍ مَا شَاءَ رَكَّبَكَ

 

[Al Infithar: ayat 8]

 

Dalam rupa yang Allah Swt kehendaki….. tetapi setelah diberi keindahan wajah manusia lupa bagaimana sebelumnya dia dulunya adalah air yang hina, kemudian menjadi nuthfah, kemudian menjadi ‘alaqah, kemudian menjadi mudhghah, kemudian diberikan tulang-tulang padanya, lalu dibungkus dengan kulit dan dimasukkan ruh padanya. Barulah dikeluarkan ke dunia.

 

Dalam keadaan tidak ada gigi yang bisa menggigit, tidak ada tangan yang bisa memegang, kaki belum bisa berjalan, tidak bisa berbicara, tidak bisa mengeluh, tidak bisa mengadu ingin buang air menetapkan dua orang yang besar, ingin buang air kecil, lalu Allah memberikan kasih sayang yang begitu dalam sangat sayang padanya. Allah pada diri kalian, dalam hati kedua orang tua. Mereka tidak bisa makan sebelum engkau kenyang, mereka tidak bisa tidur sebelum engkau tidur. Bila engkau menangis, maka makanan yang mau disuap pun terjatuh. Engkau ketakutan, rasa kantuk pun hilang. Engkau sedikit bersuara, maka teriakan pun keluar dari mereka.

 

Seandainya Allah Swt tidak membuat aturan demikian, tentulah tidak ada yang memperhatikanmu tatkala engkau kelaparan, membersihkanmu tatkala engkau buang air, yang menidurkanmu di tempat yang hangat. Tidak ada yang bekerja seharian, kecapean untuk nafkahmu, tidak ada seorang wanita yang seharian susah payah memasak makanan, memasak daging untukmu. Mereka semua dibuat seperti ini untuk keperluanmu. Seoang ibu duduk menunggu anaknya, tatkala anaknya datang, dia gembira menyambutnya, “Anakku datang, anakku datang.”

 

Allah Swt yang mengatur ini semua untuk pemeliharaanmu. Andaikan Allah SWT. cabut rasa kasih sayang, tentukah seekor ular akan menelan anaknya, tentulah seorang ibu akan tega melemparkan anaknya ke dalam tempat sampah.

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: