Buyaathaillah's Blog

April 14, 2020

Bayan Syuro Mufti Luthfi Al Banjari : Jemaah Mesjid, Iman, dan Akhlaq dalam dakwah

Filed under: Tidak Dikategorikan — Buya Athaillah @ 12:52 am

Bayan Maghrib

KH. Muhammad Luthfi Yusuf Al Banjari

Mufti Dakwah Jemaah Tabligh

Syuro Indonesia

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:

Sesungguhnya rumah-rumahKu di bumi adalah masjid-masjid, dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.”

(HQR. Abu Na’im dari Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma).

“Inna fil Ardhi buyyuti fi Al Masajid.” Artinya : “Sesungguhnya rumah-rumahku di dunia ini adalah mesjid-mesjid.”

“Wa Dzuwari Ummaruha” Artinya : “dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.”

Jadi siapapun yang datang memakmurkan mesjid ii adalah tamu-tamunya Allah swt. Maka Allah swt katakan selanjutnya :

 

“Fatubu wali abdi” : “Beruntunglah bagi seorang hamba”

 

“Tatoraha fil bayyiti tsumma djarot fil bayyiti” : “Yang dia bersuci dirumah dia lalu dia mengunjungi Aku dirumah Aku”

 

“Fatubul Haqqu lil masyuro ayuqri al maizarohu” : “Merupakan suatu kewajiban bagi yang dikunjungi untuk menghormati / memuliakan yang mengunjungi”

 

Allah swt sudah mewajibkan dirinya yang dikunjungi untuk memuliakan siapa saja yang mengunjungi Nya, mengunjungi Allah swt dirumah Allah swt.

 

Nabi Saw sabdakan :

 

“Al Masjidu Baitul Kulli Taqin” : “Ini mesjid adalah rumah bagi orang yang bertaqwa”

 

Lalu Nabi saw sabdakan :

 

“Allah swt akan terima dengan gembira kepada siapa saja yang datang ke mesjid sebagaimana senangnya keluarga yang kehilangan anggota keluarganya hingga mereka menemukannya kembali anggota keluarga yang hilang tersebut kembali kepada mereka.” (Mahfum Hadits)

 

Jika kita punya anak yang kita cinta hilang, dicari sekian lama tidak kunjung ketemu. Sudah diumumkan di berbagai media tetap tidak ada beritanya. Namun setelah sekian lama akhirnya anak itu ditemukan dan kembali ker rumahnya. Bagaimana bahagianya keluarga dia ketika si anak yang hilang kembali kerumahnya. Bapak ibunya bahagia, adik kakanya bahagia, gembira betul. Sedangkan Allah swt lebih gembira melihat hambanya yang datang ke mesjid melebihi gembiranya satu keluarga atau orang tua yang kehilangan anaknya lalu mereka menemukannya kembali balik kepada mereka.

 

Nabi saw sabdakan bagi mereka yang sudah membiasakan diri ke mesjid :

 

“Man alifa masjida alifahullah” : “Barangsiapa dekat dengan mesjid maka Allah swt akan dekat dengan dia”

 

“Alifa” maksudnya hatinya terpaut atau dekat dengan mesjid. Hari ini hati kita jauh dari mesjid. Datang paling akhir ke mesjid, sedangkan pulang paling cepat dari mesjid. Kenapa hati kita tidak terpaut ke mesjid karena kita jarang itikaf di mesjid.

 

Analogi :

 

Kita beli ayam di pasar, kita lepas dirumah langsung kabur hilang entah kemana. Begitu pula jika kita kandangkan hanya cuman 5 – 10 menit, baru dilepas langsung lari tidak kembali.

 

Namun jika ayam ini jika kita kurung 3 hari 3 malam di kandangnya, dikasih makan dan minum disana. Maka insya allah ayam ini akan jinak. Jika dilepas dari sangkarnya maka dia akan senantiasa kembali ke kandangnya karena sudah jinak, sudah terpaut ke kandangnya.

 

Begitu pula hati kita ini jika sudah kita itikafkan di mesjid 3 hari, 40 hari bahkan 4 bulan maka hati kita ini akan terpaut ke mesjid. Baru keluar sebentar dari mesjid maka dia akan kembali ke mesjid. Walapun diluar hatinya tetap terpaut ingin kembali ke mesjid. Inilah kenapa kita biasakan diri kita itikaf 3 hari, 40 hari, 4 bulan, agar hati ini senantiasa terpaut ke mesjid. Kemanapun kita pergi akan selalu mencari mesjid.

 

Inilah maksud dari hadits nabi saw “Man alifa masjida alifahullah” yang artinya : “Barangsiapa hatinya sudah terpaut ke mesjid maka nanti Allah swt akan terpaut juga dengan kita” (Mahfum Hadits).

 

Nabi saw sabdakan :

 

“Innal masjidal Autada” : Sesungguhnya Masjid-masjid ini punya pasak

 

Orang yang sering ke mesjid ini ini di sebut “autadal masjid” yaitu pasaknya masjid. Dan mesjid ini jantungnya kampung. Sedangkan mesjid ini tiang pancangnya, kekuatannya bukanlah datang dari Betonnya yang menjadi tiang pancang tersebut. Kenapa bukan dari betonnya yang dipasang sebagai pasak atau pancang untuk itu mesjid. Ini karena yang dimaksud nabi sebagai kekuatan dari pasaknya ini mesjid adalah jumlah atau banyaknya jemaah yang datang ke mesjid tersebut. Semakin banyak jemaah mesjid tersebut maka semakin kokoh kekuatan mesjid tersebut seperti pasak atau pancang yang kokoh. Jika bangunan dari mesjid itu pasaknya kuat maka tidak akan bisa di goyang.

 

Dulu ketika kita masih ikut pramukam waktu memasang tenda pakai pasak. Agar pasak ini kuat maka kita ikat, jika kuat pasaknya maka tenda tidak akan goyang.

 

Ketika Bumi ini Allah swt ciptakan kondisinya dalam keadaan labil ini bumi. Maka untuk membuat bumi ini stabil tidak goyang, Allah swt ciptakan gunung sebagai pasaknya.

 

Allah swt berfirman :

 

“Wal Jibal Autada” artinya : “Maka kami ciptakan gunung sebagai pasak untuk bumi”

 

Sehingga Bumipun menjadi stabil setelah ada gunung tidak lagi labil atau goyang. Begitu hebatnya gunung ini menjadi pasak bagi bumi membuat bumi yang tadinya bergoyang adi stabil. Malaikat kagum meliat stabilnya bumi asbab gunung, sehingga mereka bertanya apakah ada mahluk mu yang lebih hebat daripada gunung di dunia ini.

 

Ketika saya masih belajar di mesir, kami belajar dari seorang imam bacaan Al Quran yang beliau ahli geologi dan juga seorang Hafidz. Maka beliau sampaikan gunung ini menjadi pasak bagi bumi. Dia perkata yang namanya pasak gunung itu luarnya itu bisa 2/3 dari dalam nya. Maka jika gunung itu tingginya 7000 km seperti gunung himalaya maka kedalaman pasak tersebut bisa mencapai 14.000 km. Jadi dalamnya pasak itu 2 kali lebih panjang dari ketinggian diluarnya. Sehingga jika gunung itu tingginya 100 km maka dalamnya bisa 200 km. Ini yang menyebabkan bumi ini jadi stabil dengan gunung jadi pasaknya.

 

Jadi mesjid ini pasaknya akan kokoh bergantung dari banyaknya jemaah itu mesjid. Walaupun mesjid itu kecil luasnya, namun mesjidnya makmur penuh jemaahnya, maka mesjid macam ini akan susah di goyang. Mesjid macam ini tidak akan goyang oleh bencana kebakaran, tsunami, ataupun yang lainnya. Selama mesjid itu makmur dengan autadal masjid yaitu orang-orang yang memakmurkan mesjid.

 

Nabi saw sabdakan :

 

“Teman-teman duduk mereka adalah para malaikat”

 

Mereka yang memakmurkan mesjid ini teman duduk mereka adalah para malaikat di mesjid. Sebagaimana kita para pekerja dakwah yang diarahkan agar setiap malam jumat agar itikaf di markaz karena malam markaz ini adalah malam sakral bagi para pekerja tabligh. Hari biasa silahkan sholat di mahalah masing-masing. Namun ketika malam jumat datang, setiap dari kita hendaknya kita itikaf di mesjid jami atau mesjid markaz yang diarahkan oleh masyeikh kita.

 

Sebagaimana para sahabat RA, hari biasa mereka sholat di mahala mereka masing-masing, namun setiap hari jumat para sahabat berkumpul di mesjidnya nabi saw. Abu Bakar RA hari biasa dia sholat di mahalla dia, mesjid dekat rumahnya. Namun setiap masuk hari jumat maka beliau akan berkumpul dengan para sahabat RA lainya di mesjid nabawi yaitu mesjid utama.

 

Begitupula setiap hari kita kerja di mahalah kita masing masing, namun tatkala masuk malam jumat kita berkumpul itikaf di mesjid jami yaitu markaz kita masing-masing. Maka dengan pengorbanan tuan-tuan yang hadir dimalam markaz ini, setiap dari kita ini akan di ikuti oleh 70.000 malaikat minimal. Jika kita mengajak kawan kita sesama penangung jawab untuk hadir dimalam markaz berpa banyak malaikat yang akan menjadi teman duduk kita.

 

Nabi Saw bersabda :

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad).

 

“Alarrujullu deeni kholihi” artinya : “Orang itu bergantung daripada agama temannya”

 

“Fal yandzur man ahdukum kholil” Artinya : “Hendaknya setiap orang memperhatikan siapa yang dia jadikan temannya”

 

Maka jika kita ingin tau kepribadian seseorang maka cari tau dengan siapa dia berteman.

 

Seorang pernyair berkata :

 

“Jika kalian ingin tahu keadaan seseorang itu maka tanyakanlah dia berteman dengan siapa atau siapa kawannya ?”

 

Kenapa ?

 

Ini karena seseorang itu akan terimbas kehidupannya sebagaimana kehidupan kawannya. Maka Nabi saw sampaikan hendaklah setiap dari kita memperhatikan orang yang hendak kamu temani

 

(Logika : kalo kita berteman dengan kriminal maka kemungkinan besar kehidupan kita akan terpengaruh teman kita menjadi orang berkepribadian kriminal pula. Begitu pula jika kita berteman dengan orang sholeh, maka kemungkinan besar kepribadian kita akan terbawa dengan kesholahan teman kita tersebut.)

 

Bahkan zaman dulu belum ada lagi narkoba sedangkan orang yang dipenjara ini kebanyakan maling. Maka polisi buat program untuk mendatangkan ustadz untuk mengajar kepada maling-maling dipenjara. Asbab ini guru agama tersebut dikenal dengan “Guru Maling” padahal dia baik dan yang dia ajarkan ini agama kepada para maling. Namun asbab dia bergaul dengan para maling dipenjara akibatnya dia mendapat panggilan sebagai Guru Maling, inilah imbas pertemanan.

 

Jika kita biasa duduk dengan para malaikat maka kita akan menjadi temannya para malaikat. “Jalisu Malaika” yaitu teman duduknya para malaikat. Malaikat akan menjadi teman bagi orang-orang yang memakmurkan mesjid.

 

Allah swt berfirman :

 

“Innama yakmuru masajidallah man amana billah wal yaumil akhir”

 

Artinya :

 

“Hanya orang-orang yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah swt itulah orang yang beriman kepada Allah swt dan hari kemudian.” (S. At Taubah : 18)

 

Ulama katakan bahwa kalimat “Yakmuru Masajidallah” ini sifatnya Jamak atau Plural, banyak mesjid atau lebih dari 1 mesjid. Minimal 3 mesjid dia makmurkan. Inilah ciri orang beriman minimal dia makmurkan 3 mesjid. Kalo tafsirannya kalau hanya 1 mesjid itu mufrod, kalau 2 mesjid mufanna, kalo 3 mesjid baru jamak atau plural. Jadi dalam kehidupan ini sebagai orang beriman kita harus punya target minimal memakmmurkan 3 mesjid.

 

Bahkan Nabi saw memakmurkan 3 mesjid :

 

  1. Masjidil Haram Sebelum Hijrah
  2. Masjidil Nabawi pasca Hijrah
  3. Masjidil Aqsa ketika Isra dan Mi’raj

 

Dan ketiga mesjid ini fadhilahnya beliau jelaskan :

 

  1. Sholat di masjidil haram fadhilahnya 100.000 kali pahalanya
  2. Sholat di masjidil Nabawi fadhilahnya 50.000 kali pahalanya
  3. Sholat di masjidil Aqsa fadhilahnya 500 kali pahalanya

 

Begitu pula kita jangan ngendap di 1 mesjid saja, jangan begitu. Usahakan kita dalam hidup ini memakmurkan minimal 3 mesjid supaya wawasan kita semakin luas mengenai keadaan-keadaan mesjid. Jika kita datang ke mesjid yang makmur maka akan timbul semangat terpacu ingin membuat mesjid kita menjadi makmur sebagaimana mesjid tersebut. Jika ke mesjid yang sepi maka akan timbul kerisauan dalam diri kita untuk memakmurkan mesjid tersebut.

 

Nanti jika kita sudah biasa memakmurkan mesjid maka 2 sifat malaikat sebagai teman duduk kita akan terbawa oleh kita.

 

Apa itu 2 sifat malaikat yang Allah swt sampaikan dalam Al Quran :

 

“La ya’shunallah maa amarohum wayaf ‘aluuna maa yu’marun”

 

Artinya :

 

“(Para Malaikat) itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

 

Jadi Sifat Malaikat itu ada 2 :

 

  1. Selalu Taat kepada Allah swt
  2. Tidak Bermaksiat kepada Allah swt

 

Jadi jika rajin memakmurkan mesjid maka akan masuk dalam diri kita sifat ketaatan dan hilangnya keinginan bermaksiat kepada Allah swt.

 

Lalu Nabi saw saw sampaikan jika mereka ahli mesjid ini tidak hadir maka akan langsung dicari oleh para malaikat (mahfum hadits). Jadi jemaah mesjid ini akan dikenal oleh para malait, namanya si fulan dan si fulan. Asbab dia memakmurkan mesjid Allah swt dengan sholat 5 kali sehari, maka tatkala dia tidak hadir akan langsung dicari oleh malaikat. Jadi orang yang rajin ke mesjid ini tidak akan mati di tengah hutan membusuk jadi makanan singa atau srigala apalagi membusuk dirumahnya. Jika dia meninggal dirumahnya maka para malaikat akan membisikan kepada para hamba ahlul mesjid untuk mencari si fulan kerumahnya. Sehingga dia tidak akan mati sampai membusuk di rumahnya. Kenapa saya bilang seperti ini karena ini pengalaman kami di mesir waktu belajar. Ada seseorang mati membusuk di kamarnya mengeluarkan bau tidak enak sampai harus di dobrak pintunya. Ternyata dia sudah mati selama seminggu. Kenapa baru ketauan setelah mayatnya membusuk selama seminggu. Ini karena orang ini tidak pernah ke mesjid jadi tidak ada yang nyariin. Jika orang ini sering ke mesjid maka baru sehari dia tidak hadir pasti sudah dicari oleh orang mesjid, mana si fulan dan mana si fulan. Jika dia sering ke mesjid maka malaikatlah yang pertama mencari dia. Jika dia sakit maka malaikatlah yang pertama kali mengunjungi atau membesuknya.

 

Bahkan jika orang tersebut senantiasa memakmurkan mesjid dengan menghidupkan amalan-amalan mesjid maka nanti malaikat akan senantiasa membantu dan mendoakan kemudahan bagi pekerjaannya sehari-hari. Jadi jangan khawatir dengan waktu yang kita berikan untuk mesjid. Jika kita luangkan waktu kita untuk mesjid minimal 2.5 jam setiap hari nanti para malaikat akan membantu kita dalam pekerjaan kita sehari-hari. Namun jika kita tidak luangkan waktu kita untuk memakmurkan mesjid maka nanti yang menjadi teman kita ditakutkan adalah para antek-antek iblis dan syaithon. Jika ini terjadi maka akan masuk dalam diri kita 2 sifat iblis.

 

Apa itu 2 sifat Iblis :

 

  1. Tidak Taat : “ilaa ibliisa aba wastakbara”
  2. Sombong : “ana choiru minhum”

 

Maka kita niatkan untuk hadir kemalam Markaz, Insya Allah.

 

Hadirin yang dimuliakan Allah swt,

 

Penting senantiasa kita mudzakarahkan bahwa kejayaan dan kesuksesan hidup kita ini hanya ada dalam amal-amal agama. Sehingga akan terbentuk dalam diri kita satu keyakinan tidak ada jalan lain untuk bahagia di dunia dan akherat selain dengan mengamalkan agama. Ini berulang kali Allah swt sampaikan dalam Al Quran bahwa kejayaan dan kebahagiaan manusia ini bukan dalam harta dan keduniaan tapi hanya ada dalam amal agama.

 

Namun Misunderstanding, Kesalahpahaman, dalam kehidupan manusia ini sering terjadi. Ini terjadi dari dulu hingga saat ini. Apa kesalahpahaman itu ?

 

Allah swt firmankan :

 

Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhụ fa akramahụ wa na’amahụ fa yaqụlu rabbī akraman. Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

 

Artinya :

“Maka, adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya, dan memberinya kesenangan, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Dan apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata, ‘Tuhanku menghinaku’.” (QS. Al-Fajr: 15-16)


Begitulah kesalahpahaman manusia disebutkan oleh Allah swt dan sering terjadi dalam kehidupan manusia. Apabila mereka di uji :

 

  1. wa na’amahụ fa yaqụlu rabbī akraman

 

Ujian Kedudukan / Keduniaan

 

Dia ikut pilkada atau pilpres lalu menang, menjadi presiden atau gubernur atau bupati. Ataupun dia diangkat menjadi CEO dari perusahaan ataupun menjadi Panglima atau Kapolri dari suatu institusi. Seiring kedudukan yang dia dapat maka akan diberi berbagai fasilitas yang menjadi kenikmatan buat dia. Padahal itu semua dari jabatan dan fasilitas yang dia dapat atas posisi yang dia dapatkan ini menjadi ujian buat dia. Namun dia salah paham tatkala dia mendapatkan posisi tersebut dan berbagai fasilitas dia beranggapan Allah swt telah memuliakan dia. Jadi hari ini manusia beranggapan bahwa kemuliaan itu tatkala dia mendapatkan kedudukan dan keduniaan

 

  1. fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

Ujian Kesempitan / Kemiskinan

 

Dia diberi ujian kebangkrutan, kehilangan, kesempitan ekonomi, maka dia akan berpikir bahwa Allah swt sudah meninggalkan dia, Allah swt telah hinakan dia. Bahwa kesempitan dan kemiskinan itu merupakan musibah bagi dia. Jadi manusia akan merasa hina jika tidak punya jabatan dan harta dalam kehidupan dia.

 

Atas perkara ini maka Allah swt katakan : “Kalla” artinya “Tidak atau Salah” (Al Fajr : 17). Sekali-kali tidak benar seperti itu. “Kalla” Ini adalah ungkapan yang tegas dalam bahasa Arab.

 

Pendapat yang mengatakan bahwa bahwa kemuliaan itu ada dalam jabatan, harta dan keduniaan ataupun kehinaan ada dalam kemiskinan ataupun kesempitan adalah salah.

 

Kisah Qorun

 

Qorun itu memiliki harta yang sangat banyak, bahkan kunci gudang hartanya saja tidak bisa diangkat oleh beberapa orang laki-laki yang kuat-kuat. Suatu ketika dia menyombongkan diri dengan membawa kereta-kereta untuk memamerkan perbendaharaan harta dia. Qorun melakukan Show of Force dari perbendaharaan harta dia, demontrasi keliling kota. Maka manusia yang melihat ketika itu terbagi 2 :

 

Fakharaja ‘ala qaumihi fii ziinatihi qaalal-ladziina yuriiduunal hayaataddunyaa yaa laita lanaa mitsla maa uutiya qaaruunu innahu ladzuu hazh-zhin ‘azhiimin

Artinya :

 

Maka keluarlah dia, Qarun, kepada kaumnya dengan kemegahannya.
Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata :

 

“Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. 28:79)

 

Kelompok pertama mereka berpikir : “Alangkah beruntungnya Qorun, Sungguh hidupnya penuh dengan kemuliaan. Andaikan kita bisa mendapatkan harta kebendaan seperti Qarun hidup kita akan baik sekali.” Begitulah angan-angan setiap orang tatkala kita melihat orang yang bergelimang harta ataupun jabatan, maka kitapun berangan-angan ingin seperti mereka. Kenapa masyarakat berpandangan demikian, Allah swt jawab dalam Al Quran : innahu ladzuu hazh-zhin ‘azhiimin yaitu mereka berpandangan Qarun memiliki nasib yang paling baik asbab hartanya yang berlimpah. Jadi nasib baik itu menurut masyarakat asbab memiliki harta yang berlimpah dan kedudukan sebagai orang kaya.

 

Allah swt berfirman bagi kelompok yang kedua yaitu kelompok yang diberi ilmu, kepahaman yang benar oleh Allah swt :

 

Waqaalal-ladziina uutuul ‘ilma wailakum tsawaabullahi khairun liman aamana wa’amila shaalihan walaa yulaqqaahaa ilaash-shaabiruun

 

Artinya :

 

Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu mereka berkata :
“Celakalah (Salah) kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” ( QS 28:80)

 

Kelompok kedua mereka berpikir : “Salah jika kalian berpikir bahwa kemuliaan itu ada dalam harta Qorun bukan pada Iman dan Amal. Justru Iman dan Amal ini pahala dan ganjaran yang Allah swt berikan jauh lebih baik dan lebih besar dari seluruh harta yang dimiliki Qorun.” Inilah kelompok yang Allah swt berikan ilmu dan kepahaman yang benar dalam melihat harta dan kedudukan. Keyakinan seperti ini tidak akan bisa didapat kecuali dimiliki oleh orang yang sabar.

 

Tafsir Sabar

 

Sabar ketika lapar itu biasa dan sudah seharusnya begitu. Sabar ketika makanan tidak ada itu biasa. Namun Sabar ketika kita mendapatkan yang sedikit dan teman kita mendapatkan yang banyak dan lebih baik ini yang berat. Dalam jamuan makan kita diundang teman-teman kita dapat paha dan dada sementara kita hanya dapat ceker saja atau malah tidak kebagian inilah ujian kesabaran. Bersabar ketika melihat kenikmatan yang datang kepada orang lain sementara kita sendiri dapatnya kesusahan, inilah sabar yang sebenarnya. Sabar ketika tidak ada itu biasa, tapi sabar ketika melihat kenikmatan orang lain dan tetap istiqomah dalam hal keyakinan dan amal inilah kesabaran yang sebenarnya. Sabar melihat kenikmatan dan kekayaan orang lain inilah kesabaran yang luar biasa.

 

Begitu pula Allah swt sampaikan dalam ayat yang lain tentang kesalah pahaman pandangan manusia :

 

wailul likulli humazatil lumazah. allażī jama’a mālaw wa ‘addadah. yaḥsabu anna mālahū akhladah. kallā layumbażanna fil-ḥuṭamah

 

Artinya :

 

Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yaitu yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. (Surat Al Humazah : 1-4)

 

Tafsirnya :

 

Celaka bagi manusia di dunia dan akherat yaitu mereka yang suka mencela dan mencibir para nabi yang datang kepada mereka membawa agama lalu mereka olok-olok dan hinakan. Mereka yang mengolok-olok nabi ini tidak memahami arti kehidupan yang sebenarnya. Mereka akan Allah swt lemparkan ke Neraka. Siapa mereka itu ? yaitu orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Siang hari sibuk mengumpulkan harta dan malam hari sibuk menghitungnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi yang di ingat hanya urusan mencari harta saja. Saya tidak katakan mencari harta atau menghitung harta itu perbuatan yang salah, tidak demikian. Namun yang salah menurut Al Quran mereka yang mencari harta lalu menghitung-hitungnya, meyakini bahwa harta itulah yang membuat dia mulia dan bahagia bukan iman dan amal. Keyakinan yang salah atas harta inilah yang mebuat dia dilempar oleh Allah swt ke dalam Neraka. Dia berpikir dengan harta ini dia akan kekal di dunia ini, dikenang, dipuja, dan dimuliakan. Atas kesalahpahaan ini Allah swt katakan : “Kalla” atau “Salah atau Tidak Benar”. Jadi memiliki harta itu tidak salah, namun yang salah adalah jika ada keyakinan dalam diri kita bahwa Harta lah yang akan membahagiakan kita dalam kehidupan di dunia ini.

 

Akidah Orang Kafir = Time is Money ( Waktu itu adalah Uang )

 

Dalam kehidupan hedonisme di barat sudah terbentuk prinsip mereka dalam menjalankan hidup itu harus senantiasa menghasilkan duit. Sehingga ada dalam keyakinan orang kafir ini bahwa hidup itu tidak boleh di sia-siakan. Bagaimana hidup yang tidak sia-sia menurut mereka ? apabila hidup itu dihabiskan untuk mencari dan menghasilkan duit. Inilah akidah yang mereka yakinin atas perkara waktu dan duit. Jika duit sudah terkumpul maka segala kebutuhan dan keperluan hidup akan kita dapatkan dan semua masalah dapat terselesaikan.

 

Namun buat orang beriman waktu itu bukanlah uang melainkan waktu itu adalah kewajiban dan ladang amal buat kita. Time is Duty as the servent of Allah swt and Opportunity to get Reward from Allah swt. Jangan mengatakan waktu adalah duit tapi waktu adalah tugas dan tanggung jawab. Jadi waktu yang Allah swt berikan kepada kita adalah untuk tugas dan tanggung jawab kita kepada Allah swt. waktu bukan hanya untuk dilalui tetapi untuk di isi dengan Iman dan Amal. Bahkan waktu itu akan melebur seperti Es. Es ini akan meleleh jika dibiarkan diluar tinggal kita mau letakkan dimana ? kalo dijalan meleleh habis tidak ada gunanya. Namun jika es ini meleleh di mangkok maka kita bisa minum air segar. Jadi Waktu itu pasti berlalu tapi harus di isi waktu ini, dimanfaatkan seperti es.

 

Demi Waktu ( Surat Al Asr ) :

 

wal-‘aṣr. innal-insāna lafī khusr. illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr

 

Artinya :

 

Demi Masa. sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. ((QS 103 : 1-3)

 

Setiap detik daripada waktu yang dilewati seluruh manusia ini mengalami kerugian. ada empat golongan orang yang tak merugi yakni :

 

  1. orang yang beriman
  2. orang yang beramal soleh
  3. orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran ( Dakwah )
  4. orang yang menasihati dalam kesabaran

 

Allah swt jelaskan orang yang merugi bukannya orang yang tidak ada harta, jabatan, dan kekayaan, ataupun orang-orang yang kaya tiba-tiba jatuh bangkrut, tidak seperti itu. Ataupun yang dimaksud orang yang tidak merugi adalah orang yang sukses jabatannya ataupun sukses mempunyai kekayaan yang berlimpah, tidak seperti itu. Namun orang yang tidak merugi itu adalah :

 

  1. Orang yang beriman yang di hatinya ada kebesaran La Illaha Illah
  2. Orang yang hidupnya selama 24 jam wujud perintah Allah dan RasulNya
  3. Orang yang berdakwah perkara Haq
  4. Orang yang sabar dalam berdakwah

 

  1. Iman

 

Orang yang di hatinya ada keyakinan kepada Allah swt istiqomah selama 24 jam tidak bergeser sedikitpun keyakinannya. Iman ini selalu di uji makan iman kita ini yazid wal yankus, kadang naik kadang turun. Menjaga iman dari ujian ini yang tidak mudah selama 24 jam untuk istiqomah meyakini hanya Allah yang kuasa dan mahluk tidak kuasa. Para Nabi mengajarkan umatnya untuk meyakini La illaha illallah.

 

Fa’lam annahụ lā ilāha illallāhu
artinya :

 

“Ketahuilah (wahai Nabi) bahwa tidak ada tuhan sembahan yang haq kecuali Allah”

(QS.47:19)

Inilah dakwah para Anbiya AS yaitu mengajak umat beriman hanya kepada Allah swt.

 

Nabi Musa AS di bukit Thursina ketika dilantik menjadi Nabi, Allah swt memberikan pelajaran yang pertama.

 

Wa anakhtartuka fastami’ limā yụḥā

 

Artinya :

 

“Dan Aku telah memilih kamu wahai Musa, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).” (QS 20:13)

 

Apa pelajaran Allah swt yang pertama kepada Musa AS ?

 

 

Innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa’budnī wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī

 

Artinya:

 

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha : 14)

 

Pelajaran Pertama yang Allah swt ajarkan kepada Musa AS adalah pelajaran Keimanan.

 

Innanī anallāhu lā ilāha illā ana : “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada yang berhak di ibadahi kecuali Aku, tiada sekutu bagiKu, maka sembahlah Aku saja.”

 

La illa ha : Kalimat Nafi ( Meniadakan ) –> meniadakan mahluq atau kekuasaan lain

Illlallah : kalimat Itsbat ( Menetapkan ) –> menetapkan Allah saja sebagai satu-satunya yang kuasa

 

Keluarkan dalam hati kita keyakinan yang salah atas mahluk dan hanya memasukkan keyakinan yang shahih kepada Khaliq. Bahwa yang mampu berbuat segala-galanya hanyalah Allah swt, sedangkan mahluk tidak punya kemampuan apa-apa.

 

Allahu ala kulli syaiin qodir : Allah swt mampu dan berkuasa melakukan segala sesuatu bahkan diluar batas logika dan nalar manusia.

 

Kebanggaan Kaum terdahulu :

 

  1. Kaum Ad bangga dengan kekuatan fisik mereka
  2. Kaum Tsamud bangga dengan kekuatan arsitektur mereka
  3. Kaum Saba bangga dengan pertanian mereka
  4. Kaum Madyan bangga dengan ekonomi mereka

 

Kaum-kaum ini menantang para nabi yang datang kepada mereka untuk berdakwah tauhid.

 

Kaum Tsamud menantang Nabi Sholeh, mereka membanggakan kemampuan mereka dan melecehkan Nabi Sholeh AS. Apa yang kamu mampu lakukan terhadap tempat kami yang fenomenal ini mampu menjadikan gunung-gunung sebagai real estate. Mereka menantang Nabi Sholeh AS untuk meminta kepada Allah swt mengeluarkan Onta dari itu gunung. Asbab Nabi Sholeh mempunyai keyakinan yang benar dan hubungan yang baik dengan Allah swt, sekali doa maka keluarlah Onta dari batu gunung tersebut. Mahluk hidup keluar dari benda yang mati, tidak main-main, seekor onta yang hamil pula keluar dari batu. Onta betina dalam keadaan hamil keluar dari batu langsung melahirkan. Siapa yang menghamili Onta, kok bisa keluar dari batu benda mati, Inilah makna Allahu ala kulli syai’in qadir.

 

Musa AS menerima perintah dari Allah swt :

 

“Idzhaba ila fir’auna innahu thagha”

 

artinya :

 

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”

( Thaha : 43 )

 

Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia benar-benar keras kepala telah melampaui batas dalam kekafiran dan kedurhakaan terhadap Allah. Allah swt perintah Nabi Musa AS untuk pergi kepada Firaun berdakwah kepadanya. Namun dalam kepergiannya dia harus meninggalkan istrinya yang lagi sakit di bawah, ada anak-anak yang butuh bapaknya, peliharaan domba yang banyak. Ditaskyl pergi di jalan Allah swt ? tapi bagaimana istri dan anak saya siapa yang akan jaga mereka, bisnis saya siapa yang ngurus. Ini kekhawatiran yang wajar aja sebenarnya. Namun Musa AS karena ada yakin tetap berangkat menuju Firaun. Terbetik di hati Musa AS kekhawatiran yang sama, bukan hanya sekedar meninggalkan, tetapi ini ada perintah Allah swt pasti Allah swt akan jaga. Jika ada berbenturan antara perintah Allah swt dengan keperluan kita, jika kita ikut perintah Allah swt pasti Allah swt akan penuhi keperluan kita tersebut.

 

Allah swt perintahkan kita untuk memelihara anak kita, namun suatu saat juga Allah swt perintahkan untuk meninggalkan anak kita jika ada takaza agama. Sebagaimana Ibrahim AS, baru punya anak ditinggalkan di padang pasir, setelah sekian lama baru bisa ketemu malah disuruh disembelih anak itu, ini lebih gawat lagi. Kenapa ? ini karena Allah swt yang paling tahu tatkala Allah swt perintahkan pasti bersama perintah Allah swt ada kejayaan dan kebaikan.

 

Maka tatkala ada terbesit kerisauan akan anak dan istrinya yang akan ditinggal tanpa berpamitan untuk memenuhi perintah Allah swt. Maka untuk menghancurkan keraguan di hati Musa AS, Allah swt perintahkan Musa AS memukul batu dengan tongkatnya. Maka seketika batu itu pecah, dan dialamnya terdapat batu lagi, maka Allah swt perintahkan untuk memukul batu itu lagi. Didalamnya setelah terbelah ada lagi batu, maka diperintahkan untuk dipukul lagi. Jadi dalam batu ada 2 lapis batu lagi jadi totodal didalam batu ada 2 batu lagi. Maka setelah batu yang ketiga terbelah ada seekor binatang, ulat kecil, dimulutnya ada makanan. Allahu ala kulli Syai’in Qadir, Allah mampu memeihara binatang di dalam 3 lapisan batu tidak ada oksigen masih bisa hidup dan masih bisa mengirim makanan melewati 3 lapisan batu. Jadi siapa yang memelihara ? Allah swt yang memelihara, Allah kuasa melebihi nalar dan logika manusia.

 

Pelajaran Kekuasaan Allah :

 

  1. Tongkat Pukul Batu, Batu yang pecah, beda sama Tongkat kita, pasti patah.
  2. Allah Mampu menghidupkan mahluk hidup di ruang hampa batu 3 lapis
  3. Allah mampu mengirim makanan ke mahluk hidup walaupun dalam batu
  4. Allah mampu membuat mahluk hidup di dalam batu benda mati

 

–> Allahu ala kulli Syai’in Qadir

 

Ketika Allah swt memperdengarkan apa yang di ucapkan ulat tadi, ternyata ulat itu sedang bertasbih memuji Allah swt.

 

Apa Tasbihnya :

 

Subhana man yaraani, wa yasma’u kalaami, wa ya’rifu maqaami, wa yarzuqunii, wa laa yansaanii

 

Artinya :

 

“Maha suci Allah yang melihatku, mendengar perkataan-perkataanku, mengetahui kedudukanku, memberiku rizki dan tidak pernah melupakan aku”

 

Allah swt ingin memberi pelajaran kepada Musa AS, jangan istri yang diluar batu, bahkan ulat didalam batupun Allah swt sanggup pelihara. Allahu ala kulli Syai’in Qadir.

 

Kisah Iblis vs Abid dan Alim

 

Suatu ketika Iblis ingin menyesatkan seorang Ahli ibadah. Dia menjelma sebagai manusia dan bertanya kepada Ahli Ibadah.

 

“Wahai Ahli Ibadah, kamu lihat jarum ini, mampu gak Allah swt memasukan onta kedalam lobang jarum ini.”

 

Onta besar sementara lubang jarum ini kecil. Bingung si ahli ibadah ini bagaimana mungkin bisa memasukkan onta yang besar kedalam lubang jarum yang kecil. Maka kabur ini iblis tertawa dan bilang ke anaknya wahai anakku lihatlah bagaimana aku menyesatkan si ahli ibadah yang sudah beribadah bertahun-tahun, menjadi kafir dalam hitungan menit saja.

 

Maka iblis ini pergi lagi nyari mangsa untuk disesatkan. Maka dia temukan seorang Alim yang sedang beribadah dengan keilmuannya. Maka iblis bertanya pertanyaan yang sama.

 

“Wahai Alim, kamu lihat jarum ini, mampu gak Allah swt memasukan onta kedalam lobang jarum ini. Bagaimana caranya ?”

 

Apa jawaban si Ulama ini ?

 

“Mampu dan Mudah saja bagi Allah swt. Terserah Allah swt mau mengecilkan onta itu sebesar lubang jarum ataupun membesarkan lobang jarum sebesar onta untuk dimasuki. Allahu ala kulli Syai’in Qadir.”

 

Jangan tanya bagaimana caranya Allah swt bisa melakukannya, ini bukanlah hak kita. Allah swt tidak suka ditanya bagaimana caranya macam mengecilkan kemampuan dan kekuasaan Allah swt. Allah swt itu jangan ditanya mengenai kaifiyah karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt.

 

Bahkan menurut Ulama Allah mampu memasukkan unta kedalam lubang jarum tanpa harus membesarkan lubang jarum ataupun mengecilkan unta tersebut. Inilah makna Allahu ala kulli Syai’in Qadir.

 

Kisah Maryam bin Imran ibu Isa AS

 

Maryam seorang wanita yang kuat beribadah dan sehat badannya. Ibadah di dalam mihrabnya. Dari bayi dipelihara oleh pamannya seorang Nabiulllah, Zakaria AS. DI didik dan diberi makan oleh Nabi Zakaria AS. Namun Nabi Zakaria AS setelah Maryam beranjak dewasa, menemukan keanehan. Waktu kecil maryam R.ha dapat makan dari Nabi Zakaria AS, tapi setelah dewasa dia sering menemukan makanan tersaji di mihrab Maryam R.ha. Padahal kunci rumah dipegang oleh Nabi Zakaria AS, tidak dipegang yang lain. Kok bisa kunci dipegang oleh Nabi Zakaria tapi makanan selalu tersaji di mihrab nya maryam R.ha. Siapa yang mengantar dan memberikan makanan itu ? Maka Nabi Zakaria bertanya kepada Maryam R.ha dari mana datangnya makanan ini ?

 

Annā laki hāżā : “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” (QS. 3:37)

 

apa jawaban Maryam R.ha :

 

Huwa min ‘indillahi : “Itu dari Allah swt” (3:37)

 

Allah swt mampu mendatangkan makanan langsung dari langit menembus rumah dan mihrab maryam r.ha.

 

Mengetahui perkara ini dari Maryam r.ha maka Nabi Zakaria tersentak. Beliau Nabi Zakaria terkejut bahwa santrinya, anak asuhnya, mampu membuka khazanah Allah swt. Jika seorang santri atau anak didik bisa melakukan atau mendapatkan perkara seperti itu bagaimana dengan Kyainya atau Bapak Asuhnya. Masa Iman nya Kyai atau Guru bisa kalah sama santrinya ? Mengetahui perkara ini maka Nabi Zakaria pun ikut berdoa dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Rabbnya berharap akan keturunan. Nabi Zakaria ini adalah Nabi yang umurnya sudah tua namun belum memiliki keturunan. Maka Nabi zakaria berdoa dengan penuh pengharapan, belajar dari pertolongan Allah swt kepada santrinya, Maryam R.ha. Nabi Zakaria berfikir jika Allah swt mampu memberikan makanan dari langit untuk Maryam, tentu Allah yang sama juga mampu memberikan aku keturunan.

 

iż nādā rabbahụ nidda`an khafiyyā. qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta’alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu’a`ika rabbi syaqiyyā. wa innī khiftul-mawāliya miw warr`ī wa kānatimra`atī ‘āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā. yariṡunī wa yariṡu min āli ya’qụba waj’al-hu rabbi raḍiyyā

 

artinya :

 

“tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridahi. ” (QS. Maryam: 3-6)

 

Maka Allah swt kabulkan doa Nabi Zakaria AS ini. Inilah kisah ulama belajar dari santrinya.

 

Kisah Jibril Bertemu Maryam r.ha

 

Fattakhażat min dụnihim ḥijābā, fa arsaln& ilaihā rụḥanā fa tamaṡṡala lahā basyaran sawiyyālalu

 

artinya :

 

“dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” (QS. Maryam : 17)

 

Suatu ketika Jibril AS Allah swt perintahkan turun untuk bertemu Maryam r.ha untuk memberi kabar. Jibril datang menjelma sebagai seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ketika itu Maryam r.ha sudah masuk usia gadis, dan cita-cita seorang gadis itu adalah menikah dengan pria idamannya. Walaupun Jibril menjelma sebagai seorang laki-laki tampan dan gagah, dan Maryam r.ha sudah masuk masa gadis, namun Maryam R.ha mempunyai Iman dan Ketaqwaan diatas rata-rata wanita seumurnya, Dia berkata kepada Jibril AS :

 

Qālat innī a’ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā

 

artinya :

 

Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.” (QS. Maryam : 18)

 

Ini ada laki-laki tampan masuk kedalam rumahku tanpa seizinku atau pamanku Nabi Zakaria AS, ini membuat Maryam AS tidak senang kemasukan laki-laki tanpa izin. Maryam menyuruh pemuda tampan dan gagah itu untuk pergi. Namun Jibril berusaha menenangkan Maryam r.ha dengan berkata :

 

“Qāla innama ana rasụlu rabbiki” : “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu” (S.Maryam : 19)

 

Jibril AS berusaha menenangkan Maryam bahwa dia hanyalah utusan Allah swt kepadanya dan bukan laki-laki jahat, untuk membawa berita dari Allah swt. Apa itu ?

 

“li`ahaba laki gulāman zakiyyā” : untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”

 

Maka Maryam AS terkejut dan bingung sehingga bertanya menggunakan akalnya :

 

Qālat annā yakụnu lī gulāmuw wa lam yamsasnī basyaruw wa lam aku bagiyyā

 

artinya :

 

Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (S.Maryam : 20)

 

Jibril menyampaikan bahwa maryam akan melahirkan anak yang suci. Sementara maryam sebagai wanita yang terjaga dari perbuatan mesum bingung, bagaimana mungkin aku tidak pernah dijamah oleh siapapun bisa melahirkan anak. Sedangkan aku bukanlah seorang pezina kata maryam R.ha.

 

Pertanyaan Anna, Bagaimana mungkin, ini tidak disukai Allah swt karena maryam menggunakan akalnya bukan keimanannya. Tadi waktu gurunya datang, Nabi Zakaria AS, maryam r.ha mampu menjawab bahwa makanan itu datangnya dari Allah swt, dia mampu menisbatkan perkara yang tidak mungkin kepada Allah swt. Kenapa sekarang berubah ? inilah iman kadang naik kadang turun, ujian keimanan. Pertanyaan ini menunjukkan keadaaan iman Maryam R.ha sedang turun. Namun Jibril Targib Maryam r.ha untuk menaikkan imannya lagi :

 

Qāla każālik, qāla rabbuki huwa ‘alayya hayyin, wa linaj’alahū āyatal lin-nāsi wa raḥmatam minnā, wa kāna amram maqḍiyyā

 

artinya :

 

Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”

(S. Maryam :21)

 

Kaidah umum biasanya kalau iman ini sudah melemah, goncang bergeser sedikit saja, maka pertolongan Allah swt akan tersendat pula dan rizki akan jadi tidak lancar. Sehingga susah jadinya kehidupan kita. Jadi kemudahan hidup berupa rizki dan lain-lain dari Allah swt ini bergantung dengan kondisi Iman kita. Maka kesusahan demi kesusahanpun datang kepada Maryam r.ha.

 

Setelah ditiupkan Ruh Allah swt kedalam Rahim Maryam, dalam hitungan detik saja Maryam langsung hamil dan langsung mau melahirkan. Maka dia pergi keluar dari Mihrabnya dalam keadaan takut memikirkan fitnah yang akan terjadi.

 

fa ḥamalat-hu fantabażat bihī makānang qaṣiyyā. fa aj&`ahal-makhāḍu ilā jiż’in-nakhlah, qālat yā laitanī mittu qabla hāżā wa kuntu nas-yam mansiyyā

 

Artinya :

 

Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

(S. Maryam : 22-23)

 

Fitnah kehamilan ini membuat maryam ketakutan akan pandangan manusia yang akan menganngap dia sebagai wanita pezina, mekahirkan anak tanpa bapak. Sebagai wanita yang sholehah dan suci dari perbuatan mesum, fitnah ini merupakan ujian yang berat. Saking beratnya perasaan yang di deritanya sehingga maryam r.ha berpikir bahwa mati itu lebih enak daripada harus menerima fitnah manusia. Sehingga dia pergi keluar dari mihrobnya lari mengasingkan diri untuk melahirkan.

 

Maryam kelelahan dan bersandar dibawah pohon korma mengasingkan diri jauh dari manusia menunggu kelahiran. Ini masa terlemahnya wanita yaitu ketika hamil dan mau melahirkan. Dalam keadaaan lemah dan kesakitan menunggu kelahiran, maryam AS merasa lapar. Namun Allah swt perintahkan Maryam :

 

wa huzzī ilaiki bijiż’in-nakhlati tusāqiṭ ‘alaiki ruṭaban janiyyā

 

Artinya :

 

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (S. Maryam : 25)

 

Bayangkan dalam keadaan lemah dan kesakitan Allah swt perintahkan maryam untuk menggoncangkan pohon, bukan disentuh saja padahal Allah swt kuasa dengan sentuhan bisa langsung jatuh. Makanan dari langit aja bisa Allah swt kirim apa susahnya dengan menyentuh pohon kurma untuk makan, kenapa harus mengguncangkan dengan kata-kata “Huzzi”. Sepertinya Allah swt ingin Maryam r.ha berusaha lebih keras asbab turunnya iman tadi. Jadi kalau iman lagi turun segala sesuatu bagi kita ini jadi lebih keras mengusahakannnya, lebih berat dari biasanya.

 

Jadi peritiwa ini ada pelajaran, dulu ketika Maryam AS sehat makanan malah turun dari langit, sekarang dalam keadaan paling lemah dan kesakitan malah disuruh goncangkan “Uzzi”, buat usaha lebih keras. Padahal dalam keadaan sakit bisa saja Allah swt suruh berdoa agar makanan turun dari langit, tapi malah disuruh berusaha dalam keadaan lemah dan kesakitan mengguncangkan pohon kurma untuk dapat makanan.

 

Kenapa ini terjadi ? ini karena iman Maryam goyang ketika di Mihrab mendapat kabar akan punya anak, sehingga dia bertanya, “Bagaimana mungkin?” menggunakan logikanya bukan bashirohnya, keimanannya. Pertanyaan, “Bagaimana ?” ini adalah keadaan dimana Nusrohtullah langsung terhenti menjadi usaha sendiri. Dari biasa terima rizki dari langit, berubah disuruh kerja sendiri untuk mencari rizki. Bagi Allah swt mudah mendatangkan rizki ke mihrab tanpa harus dicari, diusahakan, atau diguncangkan “Uzzi”. Namun asbab iman kita lemah lebih menggunakan akal dari pada menggunakan keimanan dalam mencari rizki sehingga segala sesuatu harus diusahakan dengan susah payah. Allah swt tidak suka kita mempertanyakan kemampuan dan kekuasaan Allah swt bukannya meyakininya tapi malah menggunakan logika, “Bagaimana mungkin ?” inilah penyebab kesusahan kita hari ini, lemah iman, sehingga segala sesuatu menjadi berat kita hadapi.

 

Inilah pelajaran pertama dari surat Al asr yaitu keimanan.

 

  1. Amal Sholeh

 

Berikutnya bagaimana kita beramal sholeh selama 24 jam taat pada perintah Allah swt dan ikut dari pada sunnah Nabi saw. Jadi target kita ini mengisi waktu yang kita habisi dengan Amal Sholeh sesuai tuntunan Nabi saw. Amal akan dikatakan sholeh jika kita ikuti dari pada amal yang dicontohkan Nabi saw, inilah pentingnya Ilmu. Bagaimana kita ikut nabi kita saw dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan badan bergerak mengikuti aktifitas nabi saw selama 24. Sederhana dengan kita menumbuhkan jenggot ini aja sudah amal sholeh yang berjalan setiap saat selama 24 jam. Belum lagi dengan sunnah-sunnah yang lain jika kita ikuti seperti keluar masuk wa, keluar masuk pasar, keluar masuk mesjid, bangun dan tidurnya kita, muamalah kita, muasyarah kita dan seterusnya. Maka setiap waktu ini senantiasa kita isihidup kita dengan amalan-amalan agama.

 

Allah swt berfirman :

 

“Man ‘amila shaalihan min dzakarin aw untsaa wahuwa mu’minun falanuhyiyannahu hayaatan thayyibatan walanajziyannahum ajrahum bi-ahsani maa kaanuu ya’maluuna”

 

Artinya :

 

 

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (!6:97)

 

Dalam ayat ini Allah swt macam memberi jaminan siapa saja yang mau beramal sholeh pasti dan pasti dan pasti Allah swt akan berikan “Hayyatan Thoyyiba”, kebahagiaan sepanjang hayatnya.

 

Jadi inilah maksud orang yang tidak akan rugi yaitu jika dia mau beramal sholeh ikut contoh nabi saw selama 24 jam dia gerakkan tubuh dia ini dalam ketaatan.

 

  1. Dakwah bil Haq : Orang saling menasehati dalam kebenaran.

 

Kita tidak akan datang Nabi lagi, kenabian sudah tertutup dengan datangnya Nabi saw sebagai Nabi terakhir. Maka kerja Nabi ini menjadi tanggung jawab kita. Maka kita sering di ingatkan oleh masyeikh kita bahwa dalam kerja dakwah yang kita lakukan perlu kita sering ulang-ulang perkara 6 sifat :

 

  1. Bicarakan kebesaran Allah minimal di 25 majelis
  2. Minta kepada Allah melalui sholat atas hajat-hajat kita
  3. Dekati Ulama untuk mendapatkan bimbingan dan ilmu yang bermanfaat
  4. Contoh akhlaq nabi saw dan sahabat dalam muamalah dan musyarah
  5. Senantiasa dalam amal kita jaga keikhlasan karena ini syarat diterima amal
  6. Jaga Nishob dan Ambil Takaza

 

Bagi yang sudah lama dalam kerja dakwah tabligh hendaknya kita memantau perkembangan atau progres dari amal kita. Jangan sampai sudah bertahun-tahun ikut dakwah :

 

  1. Bicara Hadist masih mahfum
  2. Hafalan quran cuman 10 surat
  3. Sholat masih tidak tau syarat dan rukunnya dan tata cara bacaan di dalamnya
  4. Tidak tau memandikan mayat atau mandi wajib
  5. Bagaimana cara berwudhu masih belum sempurna rukunnya
  6. Bagaimana cara istinja masih belum bersih
  7. Bagaimana adab-adab sehari-hari dan doa-doanya hafalannya

 

Maka jangan sampai kita menjadi seperti ahbab yang tidak ada progress, stagnan ditempat menjadi karkun. Tidk mungkin hubungan dengan langit terjaga dengan baik tanpa ada ilmu. Kerja dakwah kita ini menghubungkan umat dan diri kita kepada ulama. Kerja ini sangat berhajat kepada ulama sebagai pembimbing kita. Hormati Ulama, Iqrom mereka, sayangi mereka, ambil manfaat sebanyak-banyaknya dari nasehat dan ilmu mereka. Jika ini tidak kita lakukan maka akan muncul ahbab-ahbab yang merasa lebih hebat dari ulama. Akhirnya muncul kata-kata dalam bayan yang bikin rusak kerja dakwah :

 

  1. Jika tidak 4 bulan tidak akan paham agama walaupun dia ulama, sedangkan dia bayan di depan ulama.
  2. Karkun jangan takut sama covid , kirim jemaah sebanyak-banyaknya ke daerah wabah covid. (tambahan penulis)
  3. Dll

 

Kerusakan tanpa Ilmu

 

Seorang ahbab mo pinjam uang ke ahbab lainnya. Maka Ahbab A kasih mobil sebagai jaminan ke ahbab B agar bisa pinjam Uang 5 juta rupiah. Ahbab B kasih pinjaman 5 juta dengan jaminan Mobil. Namun pas malam markaz ahbab B bawa mobil itu ke markaz. Maka ini haram, Memakai mobil jaminan pinjaman di bawa jalan ini haram hukumnya. Jaminan itu tidak boleh digunakan itu RIBA jadinya. Bahkan kita nularin kerusakan dengan membonceng karkun yang lain. Dalam hukum islam barang jaminan itu tidak boleh digunakan walaupun di izinkan. Kecuali akadnya Jual Beli nanti kalo sudah ada uang dibeli lagi 5 juta, silahkan saja.

 

Begitu juga hukum cipika cipiki, istri karkun cipika cipiki dengan adik laki suaminya, walaupun di izinkan suaminya tapi ini perbuatan Haram. Walaupun dapat izin cipika cipiki sama suami, istri haram hukumnya bercipika cipiki dengan yang bukan mahrom. Izin suami tidak menghalalkan produk hukum yang sudah ada ketetapannya.

 

Pentingnya Akhlaq dalam Dakwah

 

Agama akan datang kepada kita, pribadi kita, dengan mujahaddah. Ini janji Allah swt :

 

Walladzina jahadu fiina lanahdiyannahum subulana

 

artinya :

 

Dan orang-orang yang bersusah payah untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan (Hidayah) menuju Kami. (QS. 29:69)

 

  1. Jika kita berpayah-payah untuk tahajjud, nanti Allah swt akan berikan Taufiq
  2. Jika kita berpayah-payah baca Quran, nanti Allah swt berikan petunjuk
  3. Jika kita berpaha-payah nyari ilmu, nanti Allah swt akan berikan kepahaman
  4. Jika kita bersusah-payah ke mesjid, nanti Allah swt berikan hidayah

 

NAMUN jika kita ingin menyebarkan hidayah kepada orang lain ini HARUS dengan Akhlaq. Tidak bisa kita sebarkan agama kepada orang lain dengan mujahaddahnya kita. Dengan bermujahaddah agama akan meningkat untuk diri kita. Namun untuk membawa agama kepada orang lain diperlukan Akhlaq. Orang biasa makan kambing di iqrom lele, salah ini. Taskilan baru doyan makan kambing, kasih kambing, ini baru Iqrom asbab hidayah. Tapi kalo orang suka kambing dikasih lele, macam saya ini kalau liat lele mau mati rasanya, apalagi dia orang baru, bisa kabur dia nanti. Atau taskilan baru ke markaz, kita bilang ke dia pak maaf makan malam nanti jam 11, sekarang kita mujahaddah ikut program biar hidayah turun katanya, kalo kita naskil macam ini bisa lari orang dari kita. Mujahaddah itu untuk diri kita, kepada orng lain kita harus tunjukkan Akhlaq. Jadi untuk menjadi asbab hidayah kita harus Iqrom, kita korbankan kesengan kita untuk menyenangkan taskilan kita. Kalau untuk diri kita kita harus bermujahaddah. Namun dengan Iqrom kita ini bisa menjadi asbab Hidayah bagi diri kita dan orang lain. Kenapa kita dapat hidayah ? karena mujahaddah mengiqrom taskilan kita.

 

Hidayah akan datang :

 

  1. Diri kita dengan Mujahaddah
  2. Orang lain dengan Akhlaq

 

Maka penting kita jaga Akhlaq dalam dakwah. Seorang pelacur saja Iqrom kepada anjing saja Allah maafkan seluruh dosa-dosanya dan Allah swt masukkan kedalam surga. Bagaimana dengan kita Iqrom Ulama. Kita ini bukan pelacur dan ulama itu tidak mungkin sederajat dengan anjing. Betapa besar ganjaran yang Allah swt akan berikan kepada kita jika kita Iqrom ulama walaupun hanya dengan segelas air saja.

 

Akhlaq Nabi saw dalam Dakwah

 

Lihat Iqrom Nabi Saw kepada musuh Islam agar dapat Hidayah kepada :

 

  1. Khalid bin Walid
  2. Amr bin Ash
  3. Ikrimah bin Abu Jahal
  4. Wahsyi

 

Mereka ini pentolan-pentolan Kafir Quraish yang sudah membunuh banyak umat islam. Menghabisi 70 orang sahabat RA termasuk didalamnya paman Nabi saw Hamzah RA dalam peperangan. Namun Rasullullah SAW tetap ingin mereka dapat hidayah, ini risau dan akhlaq nabi saw, tidak pendendam. Ketika Nabi saw hendak pergi Umrohtul Qadha menjelang Hudaibiyah, Nabi saw menanyakan Khalid bin Walid kepada saudaranya. Namun Khalid lari bersembunyi menghindar, tak mau jumpa nabi saw. Lalu Nabi saw katakan kepada saudaranya : “Mana itu kamu punya kaka, kemana dia ? Khalid itu orang baik dan cerdas. Tetapi kenapa dia menggunakan kecerdasannya itu untuk sesuatu yang tidak baik.” Maka mendengar ini dari Nabi saw maka adiknya langsung mengirim surat kepada Khalid, bahwa nabi saw mencari dia dan tidak menaruh dendam atau benci kepada khalid. Beliaupun mengatakan bahwa khalid orang baik dan cerdas. Khalid membaaca surat adiknya ini terkesan, sudah demikian rupa perbuatan khalid, tapi masih Nabi saw masih memperhatikan dia. Asbab ini khalid datang kepada Nabi saw dan disambut Nabi saw dengan gembira.

 

Begitu pula Amr bin Ash ketika datang disambut oleh Nabi saw dimuliakan dan di iqrom oleh nabi saw.

 

Begitu pula Ikrimah bin abu jahal, ketika ayahnya mati di medan perang di marah sekali, sampai memutus tangan anak yang membunuh ayahnya. Namun ketika futuh mekah, beliau lari, dan dikejar oleh istrinya membawa jaminan dari Nabi saw. Istrinya berkata suami saya orang baik saya mau dakwahi dia, berikan jaminan untuknya. Maka nabi saw berikan sorbannya sebagai jaminan keamanan bagi Ikrimah. Nabi pesan kepada para sahabat bahwa nanti Ikrimah akan datang kalian jangan hinakan ayahnya, abu jahal. Sampai seperti itu Nabi saw berakhlaq kepada musuhnya demi Hidayah. Ikrimah datang kepada Nabi saw dimuliakan oleh nabi saw.

 

Begitu pula Wahsyi yang membunuh paman Nabi saw yang sangat Nabi saw cintai. Bahkan hanya sekedar membunuh tapi merobek dada hamzah RA dan mengambil jantungnya. Nabi sedih melihat perlakuan musuh kepada pamannya. Maka Nabi saw terucap akan membalas perbuatan mereka, manusiawi walaupun seorang nabi tapi sisi kemanusiaan tetap ada. Namun Allah swt tegur nabi :

 

Wa in ‘āqabtum fa ‘āqibụ bimiṡli mā ‘ụqibtum bih, wa la`in ṣabartum lahuwa khairul liṣ-ṣābirīn

 

Terjemah Arti:

 

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS An Nahl : 126)

 

Jika di dzolimi kita mau membalas maka balas lah yang setimpal jangan lebih, tetapi kalau sabar ini lebih baik buat kita. Setelah memberi pilihan, namun Allah swt sendiri yang mengarahkan untuk bersabar. Maka atas pilihan in dan mana yang Allah swt mau, maka Nabi saw lebih memilih untuk sabar.

 

Ketika Mekah terbuka, Futuh Mekkah terjadi, Wahsyi kabur takut dibalas oleh Nabi saw atas perbuatannya. Namun Nabi saw tetap ingin wahsyi dapat hidayah, karena nabi saw tidak ingin memasukkan orang kedalam api neraka. Maka Nabi saw kirim surat berkali-kali kepada wahyi merayu dia, pembunuh pamannya, agar mau menerima islam. Akhirnya wahsyi datang kepada Nabi saw untuk memeluk islam dan Nabi mengabarkan kepada Wahsyi bahwa Allah swt telah mangampuni dan memaafkan wahsyi. Setelah masuk islam wahsyi sangat terkesan dengan akhlaq nabi saw, sehingga selalu merindukan Nabi saw. Dia selalu memikirkan cara bagaimana bisa menyenangkan Nabi saw dan bagaimana bisa menebus kesalahan dia membunuh paman Nabi saw. Setelah Nabi saw wafat pikiran untuk menyenangkan nabi saw terus ada di benak wahsyi. Maka tatkala ada takaza perang melawan Nabi palsu, musailamah bin khazzab, Wahsyi berhasil menombak nabi palsu dengan tombak yang ia gunakan untuk membunuh paman Nabi saw. Lalu Wahsyi sujud syukur dan berkata :

 

“Ya Allah sekarang aku telah bayar. Ya Allah Saksikanlah, dulu aku membunuh orang yang paling Nabi saw cintai dengan tombak ini, sekarang saksikan ya Allah semua itu telah aku bayar dengan membunuh orang yang paling Nabi saw benci.”

 

Seorang Nabi saw kalau soal amal selalu paling depan karena harus memberi contoh kepada yang lain. Beda dengan seorang filosuf, beda di ucapan beda juga diperbuatan, pandai bicara tapi tidak ada amalnya.

 

  1. Nabi : dengar yang aku ucapkan dan lihat apa yang aku kerjakan
  2. Filosuf : dengar yang aku ucapkan tapi jangan lihat apa yang aku kerjakan.

 

Inilah bedanya seorang Nabi dan Ahli Filsafat. Sehingga jika kita lihat sejarah tidak ada ahli filsafat ini yang akhir hidupnya happy ending. Ini karena ahli filsafat ini hanya ahli retorika, ahli bicara, tapi tidak ahli dalam amal. Sedangkan seorang Nabi itu dengarkan apa yang aku katakan dan lihatlah apa yang aku kerjakan :

 

Shollu kama roaitumuni usholli : “Sholatlah kamu sebagaimana Aku Sholat” (Hadits)

 

Jadi Nabi saw selain memerintahkan, beliaupun ikut mencontohkan. Anatara Ucapan dan Amal sama. Ketika Nabi saw memerintahkan untuk sholat, maka nabi pun ikut mengamalkan, memberi contoh kepada ummat cara sholat. Jadi nabi saw itu tidak ada sholat yang disembunyikan. Ketika nabi saw kasih perintah, maka beliau pula yang pertama kali mengerjakan. Namun ada 1 amal menurut ulama yang nabi perintahkan tapi tidak nabi kerjakan, yaitu membunuh orang kafir. Jadi dalam peperangan itu jika kita bunuh 1 orang kafir maka kita dijamin masuk surga, jika 10 orang kafir makin tinggi surganya. Semakin berani kita berjuang di medan perang dan membunuh orang kafir semakin tinggi surganya. Tapi Nabi saw malah berusaha untuk membunuh orang. Selama bisa menghindar dari membunuh orang maka nabi tidak akan membunuh. Seumur hidupnya Nabi saw hanya membunuh 1 orang saja itupun bukan membunuh langsung tapi mati ketakutan yaitu ubay bin khalaf. Kejadian ini di mekkah ketika ubay bin khalaf sombong diatas kuda memamerkan kudanya, mengintimidasi Nabi saw dengan mengatakan akan membunuh Nabi saw.

 

Ubay bin Khalaf seorang kafir yang berjanji akan membunuh nabi di medan perang, tapi nabi saw bilang aku dulu yang akan membunuh kamu. Ketika di uhud nabi dalam keadaan terdesak ubay bin khalaf mencari Nabi untuk membunuh Nabi saw. Maka ketika bertemu Nabi saw duluan melempar tombak sehingga menggores sedikit saja dari leher Ubay bin Khalaf. Maka Ubay teriak-teriak ketakutan, padahal kata abu sofyan itu hanya goresan sedikit saja kenapa harus sampai histeris teriak-teriak ketakutan. Tapi apa kata Ubay bin khalaf jangankan goresan, jika nabi meludah saja aku yakin akan mati. Begitulah keyakinan orang kafir pada Nabi Saw. Akhirnya Ubay bin Khalaf mati asbab goresan tombak nabi saw tersebut, itupun di mekah bukan di medan perang.

 

Jadi Nabi saw berusaha untuk tidak membunuh orang, Kenapa ? karena nabi saw ini ingin membawa seluruh manusia ini kedalam surganya Allah swt.

 

Kisah Abu Bakar dan Pembunuh Putranya

 

Suatu ketika dalam peperangan anak abu bakar RA terbunuh asbab pengkhianatan. Namun orang yang membunuh anak abu bakar RA ini masuk islam. Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah pembunuh anaknya abu bakar ini ketakutan. Maka Abu Bakar RA panggil dia si pembunuh ini. “Wahai saudara kemari jangan takut.” Apa yang Abu Bakar RA sampaikan kepada pembunuh anaknya tersebut :

 

“Wahai saudaraku sesungguhnya anak-anak panah kalian lebih mulia dibanding anak-anak panah kami. Itu karena anak-anak panah kami mengirim manusia ke dalam neraka, sedangkan anak-anak panah kalian mengirim kami ke surga.”

 

Jadi ketika orang islam membunuh orang kafir kemana dia pergi ? ke Neraka. Sedangkan ketika orang kafir membunuh seorang islam kemana dia pergi ? ke Surga. Jadi mana yang mendatangkan kemuliaan kepada yang gugur atau yang mati dalam perang apakah panah orang islam atau panah orang kafir ? panah yang membawa seseorang ke surga itulah yang lebih mulia. Maka dalam dakwah ini kita meluruskan niat untuk membawa manusia ke surga, walaupun dalam peperangan jangan ada pikiran untuk mengirim orang ke neraka. Memanah dalam peperangan biasa, tapi niat untuk mencari Ridho Allah, amal mana yang bisa mengantarkan kita ke surga bukan karena ingin mengirim orang ke neraka.

 

Jadi Nabi saw fikirnya selalu bagaimana manusia ini semua bisa masuk kedalam surganya Allah swt. Nabi bukan di utus untuk menghantarkan manusia ke neraka, tetapi Nabi saw diutus untuk membawa manusia ke surganya Allah swt. Bagaimana caranya mengantarkan manusia ke surga ? yaitu dengan akhlaq.

 

Jadi islam akan tersebar dengan Akhlaq. Inilah kekurangan kita hari ini, sedikit sekali dari kita bisa mengikuti daripada Akhlaq Nabi saw dan para sahabat RA.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dari hadits ini :

 

  1. Cabang tertinggi dari Iman ini adalah : “La illaha Illallah”
  2. Cabang terendah dari iman ini adalah : “menyingkirkan duri dari jalan”

 

Jadi Yakin pada Allah itu adalah iman, begitu pula menyingkirkan duri dari jalan juga termasuk iman. Belajar dari hadits ini maka, membersihkan wc, membuang sampah, itupun juga termasuk bagian dari iman. Sholat menangis dalam doa itu adalah iman, senyum kepada istripun juga bagian dari iman.

 

Suatu ketika ada orang awam pergi numpang kencing di mesjid kebun jeruk. Setelah keluar dia bilang bahwa saya sudah sering keluar masuk mesjid untuk kencing. Namun di kebun jeruk ini tempat kencing bersih sekali. Padahal berapa banyak orang bayan di kebun jeruk, tapi yang bikin orang terkesan justru dari perkhidmatan wc, bukan bayan-bayannya ketia orang awam tadi datang ke markaz. Akhirnya orang ini berangkat 40 hari dia setelah dijelaskan mesjid apa ini kebun jeruk kenapa beda dengan yang lain.

 

Jika Akhlaq ini ada dalam diri setiap ahbab dan ulama kita maka orang akan berbondong-bondong ambil ini kerja.

 

Ikhlas

 

Semua amal yang kita kerjakan hendaknya kita bawa dengan keikhlasan. Syarat diterimanya amal ini adalah Ikhlas. Tanpa keikhlasan seseorang tidak akan diterima oleh Allah swt. Dan keikhlasan ini akan nampak menjelang kematian.

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).

Para ulama juga memiliki istilah lain,

“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”

Ada juga perkataan dari Imam Malik :

Para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521).

Amal yang di dasari dengan Ikhlas pasti akan langgeng akan bersambung terus, berkelanjutan. Jika kita membuat sesuatu bukan karena Allah swt pasti akan terputus, berhenti.

 

Nabi saw bersabda mahfum :

 

“inaa ahadakum ya’malu bi amali ahlinnaar hatta yakun bainahu wa bainaha illa dziro, fa yasbit alaihil-kitaab fa ya’mal bi amali ahlil-jannah fa yadkhuluha wa inna ahadakum ya’malu bi ‘amali ahlil-jannah hatta yakun bainahu wa bainaha illa dziro, fa yasbit ‘alaihi kitab fa ya’mal bi ‘amali ahlinaar fa yadkhuluha”

 

Artinya :

 

“Ada diantara kalian kata Rasul, maksudnya diantara manusia yang beramal dengan amalan ahli surga, amal sholeh siang dan malam sampai antara dia dengan surga tinggal satu hasta, lantas didahului oleh takdirnya Allah, lantas dia beramal dengan amal ahli neraka dan dia masuk nereka, ada diantara kalian yang beramal dengan amalan ahli nereka, sampai antara dia dengan neraka satu hasta saja, didahului ia oleh keputusan Allah, maka ia beramal dengan amalan ahli surga dan ia masuk kedalamnya.” (Hadits)

 

Nabi menceritakan ada seseorang yang beramal sebagaimana amalnya penghuni surga sepanjang hidupnya, sehingga jarak antara dia dengan surga tinggal 1 jengkal lagi, satu hasta lagi. Tiba-tiba menjelang akhir hayatnya dia berpaling dengan beramal seperti amalnya ahli neraka. Kenapa ini terjadi ? ulama katakan berdasarkan penelitan menjelang akhir hayatnya Allah swt bongkar semua amal yang dikerjakan sepanjang hidupnya sehingga dia berpaling kepada amal nya penghuni neraka ini disebabkan ketidak ikhlasan dalam amalnya. Jadi orang yang beramal tidak ikhlas pasti sebelum mati akan Allah swt bukakan. Namun jika dia beramal ikhlas karena Allah swt, maka nanti akan Allah swt bukakan kepada dia menjelang dia mati, bahwa dia adalah seorang yang mukhlis.

 

Kisah Ali RA berperang karena Allah swt

 

Ali berperang dalam suatu pertempuran. Ketika itu musuhnya sudah kalah bertarung dengan Ali RA. Menjelang Ali RA hendak menebas lehernya, maka si musuh meludah ke wajah Ali RA. Terkejut Ali RA dengan ludah dari lawannya. Sebelum pedang memenggal leher lawannya, Ali RA mendadak memberhentikan ayunan pedangnya. Ali RA lalu berpindah mencari lawan yang lain. Maka musuh yang sudah pedang hampir menebas lehernya bingung, kenapa Ali RA berhenti dan tidak jadi membunuhnya. Maka dia datangi Ali RA dan bertanya kenapa tadi tidak jadi memenggal lehernya. Maka Ali RA katakan :

 

“Sesungguhnya ketika aku berperang ini aku membunuh karena Allah swt, ketika kamu meludahi aku tadi aku khawatir niatku berubah bukan karena Allah swt tapi karena nafsuku. Maka aku hindari dan tidak jadi memenggal lehermu.”

 

Jadi hendaknya kita mengamalkan agama ini karena ingin mencari Ridho Allah swt saja bukan hanya karena nafsu ataupun semangat saja bukan semata-mata karena Allah swt saja. Hari ini kita sering korbankan arahan atau perintah Allah swt demi nafsu kita saja, semangat tidak karuan.

 

Note Penulis :

 

Seperti ada orang dalam bayan menantang mengirim jemaah ke daerah wabah jangan takut sama corona tapi takut hanya kepada Allah swt, ini nafsu saja tapi tidak ada dalam arahan atau perintah Allah swt dan RasulNya. Semangat ingin berbuat baik tapi dengan meninggalkan perintah Allah swt dan sunnah nabi saw.

 

Lurusnya Ketaatan Utsman RA

 

Nabi saw memimpin para sahabat ra untuk melaksanan Umroh ke mekah. Nabi saw berjalan ke mekah membawa 1500 sahabat untuk umroh. Sesampai di Hudaibiyah rombongan berhenti, dicegah oleh orang kafir Quraish. Padahal mereka tidak punya hak menghalangi rombongan Nabi saw dan para Sahabat RA untuk melaksanakan Umroh. Karena dihalangi dan dilarang masuk mekkah, Nabi saw bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengirim utusan negosiator ke mekkah bertemu dengan petinggi Kafir Quraish. Maka diutuslah Utsman bin Affan RA ke mekkah untuk negosiasi bahwa nabi saw dan rombongan datang hanya untuk berumroh bukan untuk berperang. Utsman RA pergi ke mekkah dalam keadaan memakai Ihrom. Ketika selesai negosiasi para kafir Quraish menawarkan Ustman untuk umroh karena sudah kadung pakai ihrom dan sudah di mekah. Orang kafir Quraish menerima Ustman RA dengan baik asbab mereka banyak berhutang budi dengan utsman RA ketika beliau masih di mekkah. Namun apa kata Ustman RA ? dia bilang, “saya datang kemari bukan untuk menyelesaikan Umroh, tapi saya diutus Nabi saw hanya untuk berbicara dengan kalian.” Inilah ketaatan Utsman RA, padahal bisa saja dia umroh dulu dan ditawarkan lagi oleh kafir quraish tidak dihalang-halangi seperti rombongan Nabi saw yang belum tentu bisa masuk mekkah.

 

Jadi pelajaran dari kisah Utsman RA ini bahwa kesemangatan dalam amal itu tidak boleh mengalahkan arahan atau ketaatan. Utsman RA tidak asal semangat aja tiba-tiba umroh dulu, ini kan perbuatan baik Umroh, lalu meninggalkan arahan yang hanya diutus untuk negosiasi saja bukan untuk yang lain. Dia Utsman RA tidak beragama hanya berdasarkan semangat saja tapi dia ikut arahan Nabi saw. Dia lurus tidak mau membuat amalan sendirian dan meninggalkan Nabi saw. Dia tidak mau mengalahkan kerja yang diberi Nabi saw dengan Keinginan dia untuk Umroh.

 

Karguzari :

 

Seorang Masyeikh Yaman pergi keluar di pakistan. Setelah wabsyi dia ingin membeli syal-syal murah di markaz raiwind untuk di bawa ke yaman karena sangat murah dan kalo dijual dia bisa balik modal keluar. Maka dia menghadap masyeik menanyakan perkara tersebut bahwa dia sudah ikut bayan wabsyi boleh gak dia belanja syal di markaz untuk di jual di yaman mumpun dia masih di markaz raiwind. Maka masyeikh pakistan katakan jangan, kamu pulang dulu ke yaman buat karguzari baru balik lagi kesini markaz raiwind untuk belanja dagangan. Kenapa ? masyeikh tidak ingin bercampur antar tugas dakwah dan keinginan untuk berdagang, nanti rusak keikhlasannya, tidak lurus lagi niatnya.

 

Doa Maulana Ilyas tentang Ikhlas dan Istikhlas

 

  1. Ya Allah kesusahan yang ada di jaman Nabi saw dan para Sahabat RA jangan engkau berikan kepada umat hari ini.

 

  1. Ya Allah Siapapun yang ada di hatinya ingin buat kerja dakwah ini maka mudahkanlah walaupun tanpa asbab yang memadai

 

  1. Ya Allah Siapapun yang punya niat keduniaan mengambil manfaat dari kerja dakwah ini maka singkirkan dia.

 

Inilah 3 doa maulana Ilyas yang di ijabahi oleh Allah swt

 

  1. Hari ini kalau kita keluar bukan dilempar batu tapi berbondong bondong dilempar makanan alias dijamu, sampai kenyang-kenyang kita semua makan

 

  1. Banyak hari ini petani-petani miskin mampu keliling dunia dan berangka 4 bulan ke India Pakistan Banglades

 

  1. Doa ketiga ini berapa banyak karkun lama yang terpental asbab dia mencari manfaat dunia dari kerja ini terpental dari kerja dakwah.

 

 

Capek dia dalam kerja dakwah, habis-habisan dia korban, tapi terpeleset dalam niat ingin mencari kedudukan dalam dakwah akhirnya dia terpental dari dakwah. Penting kita buat kerja ini semata-mata karena Allah swt.

 

Teladan Para Sahabat RA

 

Allah swt puji para sahabat RA di dalam Al Quran bukan karena ibadahnya saja, tetapi juga karena Akhlaq mereka. Allah swt puji para sahabat RA bukan hanya Tahajjud mereka, tetapi mereka juga mampu memberi makan kepada orang kafir.

 

Allah swt puji sahabat dalam Al Quran :

 

wa yuṭ’imụnaṭ-ṭa’āma ‘alā ḥubbihī miskīnaw wa yatīmaw wa asīrā

 

Artinya :

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. “(QS 76 : 8)

 

Orang kafir yang kalah perang ditwan oleh para sahabat RA, dibawa ke mesjid nabawi lalu di ikat di tiang-tiang mesjid Nabawi. Padahal banyak sahabat yang terbunuh oleh tawanan tersebut bahkan anak mereka, paman mereka, adik akak mereka, terbunuh oleh tawanan orang kafir di medan perang. Kini mereka di ikat di tiang mesjid nabawi. Namun tatkala waktu makan tiba, para sahabat menggelar supra di mesjid nabawi, menjamu makan para tawanan perang. Tangan yang sama yang hendak memenggal leher mereka, kini tangan yang sama menyuapkan mereka makanan. Akhlaq sahabat RA inilah yang dipuji oleh Allah swt dalam Al Quran. Asbab ini banyak tawanan perang mengucapkan asyhadualla illaha illlah wa ashadu anna muhammad darusullah. Tidak sampai 3 hari para tawanan masuk islam, karena mereka melihat suasana mesjid bagaimana nabi saw ber muamalah dan bermuasyarah dengan para sahabat RA. Saling Kasih sayang dalam islam diantara mereka membuat para tawanan ingin hidup seperti sahabat RA.

 

Kisah Islamnya Sumamah RA

 

Sumamah ketika itu menjadi tawanan perang Nabi SAW. Banyak sahabat mati di tangan dia, dan para sahabat RA tidak tahu itu sumamah. Nabi terus dakwahi sumamah untuk menerima islam, tapi sumamah menolak. Bahkan mengancam nabi saw kalau mau bunuh saya masih banyak kaumnya sumamah yang siap membalas kematian dia. Namun nabi saw terus berdakwah para sahabat bingung kenapa nabi mau aja mendakwahi dia. Maka Nabi saw bilang tawanan perang ini adalah sumamah, maka para sahabat terkejut, sampai-sampai Umar RA mau memenggal kepala sumamah. Asbab keras hatinya sumamah tidak mau nerima dakwah nabi saw, akhirnya nabi saw memutuskan untuk membebaskan sumamah. Maka para sahabat lebih terkjut lagi, begitu pula sumamah. Ini seperti mengirim singa kembali untuk menerkam lagi nanti waktu perang. Tapi sumamah tetap dibebaskan oleh Nabi saw. Sumamah yang bingung dengan keputusan Nabi saw akhirnya keluar mesjid cari sumur dia mandi lalu kembali lagi ke mesjid dengan mengucapkan kalimat syahadat. Beginilah dakwah nabi saw, inilah Akhlaq.

 

Arahan dalam buat kerja

 

Allah swt berfirman di dalam AL Quran :

 

Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn. Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

 

Artinya :

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(3:133-134)

 

Note penulis :

 

[ Siapa itu mereka yang mengejar itu surga ? yaitu mereka yang bersegera berbuat kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah agar kalian mendapatkan ampunan yang besar dari Allah dan masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. ]

 

[ Siapa itu orang yang bertaqwa ? Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dalam keadaan mudah maupun susah, yang menahan amarahnya meskipun sebenarnya mampu melampiaskannya, dan yang memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik yang memiliki perangai semacam itu. ]

 

Berinfaq itu pada umumnya di dalam Al quran itu merujuk kepada Infaq untuk memperjuangkan agama Allah swt.

 

Waktu Ijtima di Pakistan, datanglah seorang pemain cricket yang terkenal diantara negara2 commonwealth (jajahan ingris), namanya Imron. Pemain kaya karena hasil olah raganya. Imran ini pergi menghadap Maulana Saad, sampai akhirnya ditaskyl oleh Maulana Saad untuk pergi di jalan Allah. Namun si pemain cricket ini mengatakan bahwa dia tidak punya waktu dikarenakan kesibukannya. Sebaliknya dia mengatakan bahwa walaupun dia tidak mempunyai waktu tapi dia sudah banyak menyisihkan hartanya di sedekahkan untuk pembangunan mesjid, madrasah, dan panti asuhan yatim piatu, dsb. Jadi dia merasa harta yang dia dapatkan sudah dia sisihkan untuk kebaikan umat islam. Lalu apa jawabnya Maulana Saad :

“Wahai Imron kamu sudah berbuat membantu umat islam tapi kamu belum membantu agama islam”

Ini beda antara membantu ummat islam dan membantu agama islam , contohnya :

  1. Panti Asuhan Yatim Piatu ini dibangun untuk memelihara ummat islam
  2. Mesjid dibuat bagus2, pasang kipas, kasih karpet ini agar umat islam nyaman ibadahnya. Padahal Mesjid Nabi SAW sendiri cuman terbuat dari pelepah kurma dan pasir tidak ada kipas dan karpet. Sebenarnya tanpa mesjidpun kita bisa sholat. Di Sudan mesjid cuman dipatok dengan batu. Untuk apa ada mesjid ini untuk Ummat islam.
  3. Madrasah dibangun agar bisa memberi kenyamanan bagi ummat islam untuk belajar. Dijaman Nabi SAW mereka belajar dibawah-bahan pohon tidak ada madrasah di jaman Nabi SAW.

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi Maulana saad :

“Kamu memang sudah membantu ummat islam namun apa yang sudah kamu kerjakan untuk agama islam ?”

Mendapatkan pertanyaan seperti ini si Imron ini terkejut, karena baru kali ini ada ulama yang bertanya seperti itu. Sekarang banyak orang yang sudah merasa membantu agama islam padahal belum, ini dikarenakan yang mereka lakukan adalah untuk membantu ummat islam, bukan agama islam. Kita tidak boleh menafikan apa yang orang sudah lakukan untuk ummat islam, karena semuanya juga berpahala dilakukan. Dari membangun mesjid, madrasah, panti asuhan, semuanya ini mendatangkan pahala.

Namun Janji Allah adalah “Barangsiapa membantu agama Allah maka Allah akan bantu dia”

Janji Allah yang pertama ini adalah bagi yang membantu agama Allah baru Allah akan bantu kita. Bagaimana membantu agama Allah ini adalah dengan dakwah yaitu berangkat 3 hari, 40 hari, dan 4 bulan fissabillillah, dengan harta dan diri sendiri.

Kita berkumpul disini dari seluruh propinsi untuk memikirkan kepentingan dakwah atau agama. Kita berkumpul disini tidak untuk bermusyawarah memikirkan bagaimana membangun mesjid, ataupun membangun madrasah, ataupun membangun panti asuhan, ataupun kita angkat senjata untuk membantu temen kita berperang disana, tidak ini bukan tujuan kita bermusyawarah disini. Itu nanti musyawarah lain. Tapi yang kita pikirkan disini adalah membantu agama Allah yaitu bagaimana agama wujud, agama dapat tersebar, dan rombongan-rombongan dakwah dapat diberangkatkan.

Untuk memahami ini jangankan kita diantara para sahabatpun juga terjadi perbedaan yang cukup menyolok untuk memahami perkara ini. Terjadi perbedaan yang keras antara satu orang sahabat melawan argument seluruh sahabat. Apalagi kita-kita ini yang berusaha untuk memahami. Menjelang Nabi SAW meninggal dunia satu hari sebelumnya Nabi SAW memberikan bayan hidayah kepada rombongan Usamah bin Zaid RA untuk menghadapi tentara Romawi yang akan menyerang kota Madinah. Berangkat petang itu juga, sebelumnya berkemah di tempat namanya al jurk. Namun keesokan harinya Nabi SAW wafat. Atas permintaan Ummu Aiman, ibu daripada Usamah, maka rombongan di tarik balik untuk menghadiri pemakaman Nabi SAW. Setelah Khalifah baru diangkat 3 hari setelah Nabi SAW meninggal, terdengar kabar bahwa :

  1. Pasukan Romawi di perbatasan sudah siap untuk menyerang
  2. Nabi Palsu dengan bala tentaranya 40.000 orang juga akan menyerang Madinah.
  3. Orang Munafiq mulai menentang kebijakan2 yang ada
  4. Orang yahudi mulai menghasut di dalam kota Madinah
  5. Munculnya banyak orang murtad sebanyak 100.000 orang (padahal ulama2 besar dan sahabat2 masih ada)
  6. Orang tidak mau membayar zakat

Apa keputusan Abu Bakar RA sebagai khalifah baru yaitu :

  1. Rombongan Usamah RA segera diberangkatkan untuk menghadapi Romawi
  2. Menyiapkan Rombongan Khalid bin walid dan Wahsyi untuk menghadapi Nabi palsu.
  3. Memerintahkan Umar RA membawa rombongan bergerak sekeliling Madinah

Sehingga yang tertinggal hanya Abu Bakar RA sendiri di Madinah tanpa penjagaan. Para sahabat bingung, karena kok aneh betul ini caranya. Pemikiran para sahabat RA, kalau madinah kosong, nanti bisa dibunuh istri2 Nabi SAW, bayi2 juga juga bisa dibunuh, serigala2 yang biasa datang di malam hari bisa memakan bangkai2 mereka nanti. Maka mereka semua tidak paham perintah amirul mukminin, di otak mereka kita harus mempertahankan madinah bukan membahayakannya. Tapi apa kata Abu Bakar RA, “Tidak, saya tidak akan merubah daripada perintah Rasullullah SAW, Usamah tetap harus berangkat.” Inilah perbedaan yang terjadi diantara sahabat RA. Mayoritas sahabat RA ini yakin dengan hidupnya umat islam ini yaitu ummatnya dijaga, istri2 Nabi SAW dijaga, bayi2 penerus generasi dijaga, maka islam akan mudah dikembangkan dan islam pasti akan terpelihara. Tapi Abu Bakar RA justru pemikirannya berbeda. Abu Bakar RA berkeyakinan jika Islam ini di jaga maka ummat islam akan terjaga, tetapi para Sahabat RA berpikir jika umat islam dijaga maka islam akan terpelihara.

Note dari Penulis :

Ketika itu yang orang-orang fikirkan adalah keselamatan orang-orang islamnya, padahal yang harus dirisaukan adalah bagaimana menyelamatkan agamanya terlebih dahulu. Begitupula yang dilakukan Nabi SAW ketika perang Badr, bahkan sampai Nabi SAW berdoa untuk kemenangan karena jika umat islam hancur di peperangan Badr ini maka habislah islam dari muka bumi. Inilah yang difikirkan Abu Bakar RA yaitu mengirimkan seluruh rombongan untuk menyelamatkan islam. Inilah perbedaan fikir yang mencolok antara satu orang sahabat ini melawan fikir sahabat-sahabat yang lain. Disini ada perbedaan pendapat diantara sahabat yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya.

Abu Bakar RA menyelesaikan masalah dengan menggunakan 2 prinsip :

  1. Prinsip Taqwa :

“Saya tidak rela agama berkurang di jaman kekhalifahan saya ini walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat di leher hewan qurban.”

Takwa ini maksudnya adalah Sempurna Amal. Jadi atas dasar prinsip ini, Abu Bakar RA tidak rela dijamannya agama ini berkurang sedikitpun walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher hewan korban. Fikirnya Abu Bakar RA ini adalah bagaimana agama dapat sempurna diamalkan oleh umat islam ketika itu. Inilah prinsip yang digunakan untuk menghadapi orang-orang islam yang tidak mau membayar zakat. Jadi mereka diancam akan diberantas jika mereka tidak mau membayar zakat.

  1. Prinsip Tawakkal :

“Keluarkan semua laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Nanti biar Allah yang menjaga Ummul mukminin, keluarga nabi,bayi-bayi, dan wanita-wanita di madinah.”

Abu Bakar RA lebih rela melihat keluarga Nabi dalam bahaya, dibanding harus melihat agama dalam bahaya. Jadi bagi Abu Bakar RA, derajat Agama ini lebih utama dibanding keluarga Nabi SAW dan ummat islam itu sendiri. Ini sama dengan percakapan Nabi SAW dengan jibril. Ketika itu Jibril AS bertanya kepada Nabi Saw,”wahai Muhammad lebih mulia mana aku atau dirimu ?” Nabi Muhammad Saw menjawab, “Lebih mulia aku karena engkau diutus untuk aku.” Benar kata jibril, lalu jibril bertanya lagi, “Lebih mulia mana engkau atau agama islam ?”, Nabi Saw menjawab, “Lebih mulia islam, karena aku ditus untuk islam.” Agama lebih penting untuk diselamatkan dibandingkan ummat itu sendiri. Abu Bakar RA, mengirimkan semua laki-laki keluar dijalan Allah dan berserah diri kepada Allah atas keadaan di Madinah inilah Tawakkalnya Abu Bakar RA. Prinsip ini yang digunakan untuk menghadapi orang murtad, nabi palsu, dan musuh islam yang mau menyerang madinah dari luar.

Bahkan Umar RA yang terkenal pemberani karena perbedaan pendapat ini, dimarahi oleh Abu Bakar RA. “Wahai Umar RA, kenapa kamu menjadi seorang pemberani ketika masih kafir dan sekarang setelah dalam islam kamu menjadi seperti seorang pengecut.” Maka digebuk umar oleh Abu Bakar RA. Jika Umar RA seorang pemberani berpikir seperti seorang pengecut bagaimana jadinya dengan yang lain, akan makin banyak pengecut2 yang lain.

Note Mubayin :

Percuma jadi karkun, sebelum jadi karkun kelihatan berani, tapi setelah jadi karkun lebih banyak pembenarannya : “Kita harus hikmah” katanya. Ini pengecut namanya.

Marah ketika itu Abu Bakar RA melihat Umar “Apa kamu ini umar pemberani dijaman Jahiliah tetapi pengecut dijaman Islam”. Jika Umar seperti ini bagaimana sahabat2 RA yang lain menyikapinya. Abu Bakar RA tidak ingin Umar RA menjadi seorang pengecut. Digampar ketika itu Umar RA oleh Abu Bakar RA. Namun karena tempelengan Abu Bakar RA ini berdasarkan Taqwa, tiba-tiba terhenyak Umar RA seperti orang baru terjaga dari mimpi. Umar RA dari tempelengan tersebut seakan-akan melihat cahaya, Umar tersentak dan berkata,“benar engkau wahai Abu Bakar”, langsung pergi dia dengan rombongannya.

Ketika Islam dijaga, maka pertolongan Allah akan datang :

  1. Pasukan Romawi mengundurkan diri
  2. Nabi Palsu bisa dibunuh oleh wahsyi ( dengan lembing yg sama membunuh paman Nabi SAW) ketika itu Wahsyi sujud syukur karena bisa membayar dosa dengan lembing yang sama.

Begitulah Wahsyi dengan kebanggaan dapat membayar dengan lembing yang sama membunuh orang yang paling Nabi SAW cintai yaitu Hamzah RA, dia juga membunuh orang yang dibenci Nabi SAW yaitu Nabi Palsu, Usamah Al Kahzab laknatullah alaih. Maka kita juga harus seperti itu, dulu sebelum jadi karkun suka main judi dan mabuk-mabukan, maka setelah jadi karkun kita datang ke tempat yang sama ajak teman-teman yang dulu kepada Allah. Kita harus berani dan dan bangga seperti wahsyi menebus kesalahannya yang dulu. Jangan seperti orang yang dulu berani sebelum ikut dakwah, kelahi dimana-mana buat kebathilan, sekarang setelah jadi karkun malah loyo alasannya “Hikmah”. Ini percuma jadi karkun.

Jadi ketika Pasukan Usamah berangkat untuk menghadang, rombongan Khalid dan Wahsyi juga berangkat, lalu rombongan Umar RA keliling Madinah, apa yang terjadi ? pasukan Romawi ketakutan, mereka berpikir andaikata sedemikian banyak rombongan yang diberangkatkan berarti yang didalam kota madinah lebih banyak lagi. Akhirnya pasukan Romawi tidak berani menyerang Madinah.

Catatan Penulis :

Disinilah terdapat 2 perbedaan pemikiran dan menyangkut kepada masalah keimanan. Dimana Abu Bakar RA yakin jika semua pergi di jalan Allah, maka nanti Allah akan selesaikan semua masalah : orang murtad, nabi palsu, yang tidak mau bayar zakat, dan pasukan romawi yang sudah siap menyerang. Hanya dalam waktu tempo 3 hari saja setelah semua pergi di jalan Allah akhirnya masalah terselesaikan : Madinah tetap aman, 100.000 orang murtad masuk islam lagi, orang membayar zakat lagi, Nabi palsu dapat ditumpas, dan Pasukan Romawi mundur. Jadi risaunya Abu Bakar RA ini adalah Islamnya atau Agamanya dulu, bukan orang-orang Islamnya. Hari ini ada pemikiran seperti yang terjadi ketika sahabat berbeda pendapat dahulu. Sekarang kebanyakan kita ini risaunya adalah orang-orang islamnya, seperti orang islam ada yang dibunuh, diperkosa, diperangi, hak-haknya dirampas, kekurangan makan, miskin keadaannya, pengungsi-pengungsi, ini boleh saja. Tetapi seharusnya yang lebih penting lagi adalah risau atas islamnya. Akibat islamnya tidak dijaga, sehingga Allah tidak menjaga ummat islam. Ini karena islam itu sendiri sudah diacuhkan oleh orang islam. Kita lihat hari ini orang islam kebanyakan tidak sholat, mesjid kosong. Sholat berjamaah di masjid sudah tidak diacuhkan oleh umat saati ini. Lalu sunnah-sunnah Rasullullah SAW sudah ditinggalkan oleh orang islam, bahkan dianggap aneh bagi yang mengamalkannya. Kehidupan orang islam sudah seperti kehidupan orang yahudi dan nasrani, tidak ada bedanya dengan cara-cara atau kehidupan orang kafir, sulit dibedakan mana yang beriman dan mana yang kafir. Semua kehidupan sunnah Nabi SAW sudah ditinggalkan oleh ummat islam itu sendiri. Tetapi begitu terjadi musibah, semua orang berpikir sama, “Apa dosa saya ? Kenapa ini bisa terjadi, musibah seperti ini ? Kenapa Allah tidak tolong kita ?”. Ummat islam diusir, dibunuh, dijajah, diperkosa hak-haknya, tetapi fikirnya hanya diri mereka sendiri saja (“Apa dosa saya ?”). Padahal jemaah-jemaah dakwah sudah datang mengajak kepada sunnah, kembali kepada amal Nabi SAW, amalkan islam, taat pada perintah Allah. Walaupun perkara-perkara ini sudah didengar berkali-kali, tetapi tetap saja sama tidak ada peningkatan amal. Ditaskil, diminta untuk keluar di jalan Allah tidak mau, maka itulah akibatnya, musibah banyak datang. Tetapi fikirnya “Apa dosa saya ?”. Islamnya sudah kita tinggalin, kita acuhkan, tetapi ketika musibah tiba-tiba datang tidak terpikir amal-amal kita yang buruk, bahkan bertanya, “Kenapa Allah tinggalkan kita ? kenapa Allah tidak tolong kita ?”

Inilah perbedaan antara pergerakan kita dengan pergerakan-pergerakan lainnya. Gerak kita ini adalah gerakan untuk membantu agama Allah. Sedangkan organisasi-organisasi dunia ini kita tidak boleh menafikan perjuangan mereka. Mereka juga bergerak memberikan manfaat untuk membantu umat Islam, sedangkan kita bergerak untuk membantu agama Islam. Kita harus yakin ketika islam kita bantu untuk ditegakkan maka umat islam akan dijaga oleh Allah Swt.

Inilah maksud kedatangan kita kemari dari seluruh propinsi yaitu kita bermusyawarah bagaimana membantu agama Allah :

  1. Kita duduk disini untuk berfikir bersama-sama bagaimana mengeluarkan rombongan sebanyak-banyaknya untuk membantu agama Allah. Kita dengar kargozary, kita bentangkan takazanya, lalu kita siapkan diri kita untuk ambil bagian. Pertolongan Allah akan datang kepada saya ketika saya bantu agama Allah, maka saya keluar berangkat.
  2. Kita berfikir dan bermusyawarah bagaimana kita membantu saudara kita. Apa yang kita bantu ? keperluan dan kebutuhannya itu baik, tapi yang penting bagaimana kita bisa bantu dia mendekatkan diri kepada Allah. Syekh Abdul Wahab, Masyeikh Pakistan, katakan :

”Orang yang cinta kepada Allah tapi dia tidak mau membantu saudaranya untuk cinta kepada Allah, dan mengusahakan agar bagaimana Allah cinta pada saudaranya tersebut, maka Allah tidak akan cinta kepada dia. Walaupun orang ini adalah seorang ahli dzikir dan ahli ibadah”

Maka atas perkara ini kita siapkan diri kita untuk keluar di jalan Allah swt.

Insya Allah kita siap !

Bayan Syuro Mufti Luthfi Al Banjari : Jemaah Mesjid, Penjelasan Yakin dan Akhlaq dalam Dakwah

Filed under: Tidak Dikategorikan — Buya Athaillah @ 12:46 am

Bayan Maghrib

KH. Muhammad Luthfi Yusuf Al Banjari

Mufti Dakwah Jemaah Tabligh

Syuro Indonesia

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam hadits Qudsi:

Sesungguhnya rumah-rumahKu di bumi adalah masjid-masjid, dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.”

(HQR. Abu Na’im dari Sa’id al-Khudri radhiyallahu ‘anhuma).

“Inna fil Ardhi buyyuti fi Al Masajid.” Artinya : “Sesungguhnya rumah-rumahku di dunia ini adalah mesjid-mesjid.”

“Wa Dzuwari Ummaruha” Artinya : “dan para pengunjungnya adalah orang-orang yang memakmurkannya.”

Jadi siapapun yang datang memakmurkan mesjid ii adalah tamu-tamunya Allah swt. Maka Allah swt katakan selanjutnya :

 

“Fatubu wali abdi” : “Beruntunglah bagi seorang hamba”

 

“Tatoraha fil bayyiti tsumma djarot fil bayyiti” : “Yang dia bersuci dirumah dia lalu dia mengunjungi Aku dirumah Aku”

 

“Fatubul Haqqu lil masyuro ayuqri al maizarohu” : “Merupakan suatu kewajiban bagi yang dikunjungi untuk menghormati / memuliakan yang mengunjungi”

 

Allah swt sudah mewajibkan dirinya yang dikunjungi untuk memuliakan siapa saja yang mengunjungi Nya, mengunjungi Allah swt dirumah Allah swt.

 

Nabi Saw sabdakan :

 

“Al Masjidu Baitul Kulli Taqin” : “Ini mesjid adalah rumah bagi orang yang bertaqwa”

 

Lalu Nabi saw sabdakan :

 

“Allah swt akan terima dengan gembira kepada siapa saja yang datang ke mesjid sebagaimana senangnya keluarga yang kehilangan anggota keluarganya hingga mereka menemukannya kembali anggota keluarga yang hilang tersebut kembali kepada mereka.” (Mahfum Hadits)

 

Jika kita punya anak yang kita cinta hilang, dicari sekian lama tidak kunjung ketemu. Sudah diumumkan di berbagai media tetap tidak ada beritanya. Namun setelah sekian lama akhirnya anak itu ditemukan dan kembali ker rumahnya. Bagaimana bahagianya keluarga dia ketika si anak yang hilang kembali kerumahnya. Bapak ibunya bahagia, adik kakanya bahagia, gembira betul. Sedangkan Allah swt lebih gembira melihat hambanya yang datang ke mesjid melebihi gembiranya satu keluarga atau orang tua yang kehilangan anaknya lalu mereka menemukannya kembali balik kepada mereka.

 

Nabi saw sabdakan bagi mereka yang sudah membiasakan diri ke mesjid :

 

“Man alifa masjida alifahullah” : “Barangsiapa dekat dengan mesjid maka Allah swt akan dekat dengan dia”

 

“Alifa” maksudnya hatinya terpaut atau dekat dengan mesjid. Hari ini hati kita jauh dari mesjid. Datang paling akhir ke mesjid, sedangkan pulang paling cepat dari mesjid. Kenapa hati kita tidak terpaut ke mesjid karena kita jarang itikaf di mesjid.

 

Analogi :

 

Kita beli ayam di pasar, kita lepas dirumah langsung kabur hilang entah kemana. Begitu pula jika kita kandangkan hanya cuman 5 – 10 menit, baru dilepas langsung lari tidak kembali.

 

Namun jika ayam ini jika kita kurung 3 hari 3 malam di kandangnya, dikasih makan dan minum disana. Maka insya allah ayam ini akan jinak. Jika dilepas dari sangkarnya maka dia akan senantiasa kembali ke kandangnya karena sudah jinak, sudah terpaut ke kandangnya.

 

Begitu pula hati kita ini jika sudah kita itikafkan di mesjid 3 hari, 40 hari bahkan 4 bulan maka hati kita ini akan terpaut ke mesjid. Baru keluar sebentar dari mesjid maka dia akan kembali ke mesjid. Walapun diluar hatinya tetap terpaut ingin kembali ke mesjid. Inilah kenapa kita biasakan diri kita itikaf 3 hari, 40 hari, 4 bulan, agar hati ini senantiasa terpaut ke mesjid. Kemanapun kita pergi akan selalu mencari mesjid.

 

Inilah maksud dari hadits nabi saw “Man alifa masjida alifahullah” yang artinya : “Barangsiapa hatinya sudah terpaut ke mesjid maka nanti Allah swt akan terpaut juga dengan kita” (Mahfum Hadits).

 

Nabi saw sabdakan :

 

“Innal masjidal Autada” : Sesungguhnya Masjid-masjid ini punya pasak

 

Orang yang sering ke mesjid ini ini di sebut “autadal masjid” yaitu pasaknya masjid. Dan mesjid ini jantungnya kampung. Sedangkan mesjid ini tiang pancangnya, kekuatannya bukanlah datang dari Betonnya yang menjadi tiang pancang tersebut. Kenapa bukan dari betonnya yang dipasang sebagai pasak atau pancang untuk itu mesjid. Ini karena yang dimaksud nabi sebagai kekuatan dari pasaknya ini mesjid adalah jumlah atau banyaknya jemaah yang datang ke mesjid tersebut. Semakin banyak jemaah mesjid tersebut maka semakin kokoh kekuatan mesjid tersebut seperti pasak atau pancang yang kokoh. Jika bangunan dari mesjid itu pasaknya kuat maka tidak akan bisa di goyang.

 

Dulu ketika kita masih ikut pramukam waktu memasang tenda pakai pasak. Agar pasak ini kuat maka kita ikat, jika kuat pasaknya maka tenda tidak akan goyang.

 

Ketika Bumi ini Allah swt ciptakan kondisinya dalam keadaan labil ini bumi. Maka untuk membuat bumi ini stabil tidak goyang, Allah swt ciptakan gunung sebagai pasaknya.

 

Allah swt berfirman :

 

“Wal Jibal Autada” artinya : “Maka kami ciptakan gunung sebagai pasak untuk bumi”

 

Sehingga Bumipun menjadi stabil setelah ada gunung tidak lagi labil atau goyang. Begitu hebatnya gunung ini menjadi pasak bagi bumi membuat bumi yang tadinya bergoyang adi stabil. Malaikat kagum meliat stabilnya bumi asbab gunung, sehingga mereka bertanya apakah ada mahluk mu yang lebih hebat daripada gunung di dunia ini.

 

Ketika saya masih belajar di mesir, kami belajar dari seorang imam bacaan Al Quran yang beliau ahli geologi dan juga seorang Hafidz. Maka beliau sampaikan gunung ini menjadi pasak bagi bumi. Dia perkata yang namanya pasak gunung itu luarnya itu bisa 2/3 dari dalam nya. Maka jika gunung itu tingginya 7000 km seperti gunung himalaya maka kedalaman pasak tersebut bisa mencapai 14.000 km. Jadi dalamnya pasak itu 2 kali lebih panjang dari ketinggian diluarnya. Sehingga jika gunung itu tingginya 100 km maka dalamnya bisa 200 km. Ini yang menyebabkan bumi ini jadi stabil dengan gunung jadi pasaknya.

 

Jadi mesjid ini pasaknya akan kokoh bergantung dari banyaknya jemaah itu mesjid. Walaupun mesjid itu kecil luasnya, namun mesjidnya makmur penuh jemaahnya, maka mesjid macam ini akan susah di goyang. Mesjid macam ini tidak akan goyang oleh bencana kebakaran, tsunami, ataupun yang lainnya. Selama mesjid itu makmur dengan autadal masjid yaitu orang-orang yang memakmurkan mesjid.

 

Nabi saw sabdakan :

 

“Teman-teman duduk mereka adalah para malaikat”

 

Mereka yang memakmurkan mesjid ini teman duduk mereka adalah para malaikat di mesjid. Sebagaimana kita para pekerja dakwah yang diarahkan agar setiap malam jumat agar itikaf di markaz karena malam markaz ini adalah malam sakral bagi para pekerja tabligh. Hari biasa silahkan sholat di mahalah masing-masing. Namun ketika malam jumat datang, setiap dari kita hendaknya kita itikaf di mesjid jami atau mesjid markaz yang diarahkan oleh masyeikh kita.

 

Sebagaimana para sahabat RA, hari biasa mereka sholat di mahala mereka masing-masing, namun setiap hari jumat para sahabat berkumpul di mesjidnya nabi saw. Abu Bakar RA hari biasa dia sholat di mahalla dia, mesjid dekat rumahnya. Namun setiap masuk hari jumat maka beliau akan berkumpul dengan para sahabat RA lainya di mesjid nabawi yaitu mesjid utama.

 

Begitupula setiap hari kita kerja di mahalah kita masing masing, namun tatkala masuk malam jumat kita berkumpul itikaf di mesjid jami yaitu markaz kita masing-masing. Maka dengan pengorbanan tuan-tuan yang hadir dimalam markaz ini, setiap dari kita ini akan di ikuti oleh 70.000 malaikat minimal. Jika kita mengajak kawan kita sesama penangung jawab untuk hadir dimalam markaz berpa banyak malaikat yang akan menjadi teman duduk kita.

 

Nabi Saw bersabda :

“Seseorang tergantung agama teman dekatnya, maka hendaknya kalian memerhatikan siapakah teman dekatnya.” (HR. Ahmad).

 

“Alarrujullu deeni kholihi” artinya : “Orang itu bergantung daripada agama temannya”

 

“Fal yandzur man ahdukum kholil” Artinya : “Hendaknya setiap orang memperhatikan siapa yang dia jadikan temannya”

 

Maka jika kita ingin tau kepribadian seseorang maka cari tau dengan siapa dia berteman.

 

Seorang pernyair berkata :

 

“Jika kalian ingin tahu keadaan seseorang itu maka tanyakanlah dia berteman dengan siapa atau siapa kawannya ?”

 

Kenapa ?

 

Ini karena seseorang itu akan terimbas kehidupannya sebagaimana kehidupan kawannya. Maka Nabi saw sampaikan hendaklah setiap dari kita memperhatikan orang yang hendak kamu temani

 

(Logika : kalo kita berteman dengan kriminal maka kemungkinan besar kehidupan kita akan terpengaruh teman kita menjadi orang berkepribadian kriminal pula. Begitu pula jika kita berteman dengan orang sholeh, maka kemungkinan besar kepribadian kita akan terbawa dengan kesholahan teman kita tersebut.)

 

Bahkan zaman dulu belum ada lagi narkoba sedangkan orang yang dipenjara ini kebanyakan maling. Maka polisi buat program untuk mendatangkan ustadz untuk mengajar kepada maling-maling dipenjara. Asbab ini guru agama tersebut dikenal dengan “Guru Maling” padahal dia baik dan yang dia ajarkan ini agama kepada para maling. Namun asbab dia bergaul dengan para maling dipenjara akibatnya dia mendapat panggilan sebagai Guru Maling, inilah imbas pertemanan.

 

Jika kita biasa duduk dengan para malaikat maka kita akan menjadi temannya para malaikat. “Jalisu Malaika” yaitu teman duduknya para malaikat. Malaikat akan menjadi teman bagi orang-orang yang memakmurkan mesjid.

 

Allah swt berfirman :

 

“Innama yakmuru masajidallah man amana billah wal yaumil akhir”

 

Artinya :

 

“Hanya orang-orang yang memakmurkan mesjid-mesjid Allah swt itulah orang yang beriman kepada Allah swt dan hari kemudian.” (S. At Taubah : 18)

 

Ulama katakan bahwa kalimat “Yakmuru Masajidallah” ini sifatnya Jamak atau Plural, banyak mesjid atau lebih dari 1 mesjid. Minimal 3 mesjid dia makmurkan. Inilah ciri orang beriman minimal dia makmurkan 3 mesjid. Kalo tafsirannya kalau hanya 1 mesjid itu mufrod, kalau 2 mesjid mufanna, kalo 3 mesjid baru jamak atau plural. Jadi dalam kehidupan ini sebagai orang beriman kita harus punya target minimal memakmmurkan 3 mesjid.

 

Bahkan Nabi saw memakmurkan 3 mesjid :

 

  1. Masjidil Haram Sebelum Hijrah
  2. Masjidil Nabawi pasca Hijrah
  3. Masjidil Aqsa ketika Isra dan Mi’raj

 

Dan ketiga mesjid ini fadhilahnya beliau jelaskan :

 

  1. Sholat di masjidil haram fadhilahnya 100.000 kali pahalanya
  2. Sholat di masjidil Nabawi fadhilahnya 50.000 kali pahalanya
  3. Sholat di masjidil Aqsa fadhilahnya 500 kali pahalanya

 

Begitu pula kita jangan ngendap di 1 mesjid saja, jangan begitu. Usahakan kita dalam hidup ini memakmurkan minimal 3 mesjid supaya wawasan kita semakin luas mengenai keadaan-keadaan mesjid. Jika kita datang ke mesjid yang makmur maka akan timbul semangat terpacu ingin membuat mesjid kita menjadi makmur sebagaimana mesjid tersebut. Jika ke mesjid yang sepi maka akan timbul kerisauan dalam diri kita untuk memakmurkan mesjid tersebut.

 

Nanti jika kita sudah biasa memakmurkan mesjid maka 2 sifat malaikat sebagai teman duduk kita akan terbawa oleh kita.

 

Apa itu 2 sifat malaikat yang Allah swt sampaikan dalam Al Quran :

 

“La ya’shunallah maa amarohum wayaf ‘aluuna maa yu’marun”

 

Artinya :

 

“(Para Malaikat) itu tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. 66:6)

 

Jadi Sifat Malaikat itu ada 2 :

 

  1. Selalu Taat kepada Allah swt
  2. Tidak Bermaksiat kepada Allah swt

 

Jadi jika rajin memakmurkan mesjid maka akan masuk dalam diri kita sifat ketaatan dan hilangnya keinginan bermaksiat kepada Allah swt.

 

Lalu Nabi saw saw sampaikan jika mereka ahli mesjid ini tidak hadir maka akan langsung dicari oleh para malaikat (mahfum hadits). Jadi jemaah mesjid ini akan dikenal oleh para malait, namanya si fulan dan si fulan. Asbab dia memakmurkan mesjid Allah swt dengan sholat 5 kali sehari, maka tatkala dia tidak hadir akan langsung dicari oleh malaikat. Jadi orang yang rajin ke mesjid ini tidak akan mati di tengah hutan membusuk jadi makanan singa atau srigala apalagi membusuk dirumahnya. Jika dia meninggal dirumahnya maka para malaikat akan membisikan kepada para hamba ahlul mesjid untuk mencari si fulan kerumahnya. Sehingga dia tidak akan mati sampai membusuk di rumahnya. Kenapa saya bilang seperti ini karena ini pengalaman kami di mesir waktu belajar. Ada seseorang mati membusuk di kamarnya mengeluarkan bau tidak enak sampai harus di dobrak pintunya. Ternyata dia sudah mati selama seminggu. Kenapa baru ketauan setelah mayatnya membusuk selama seminggu. Ini karena orang ini tidak pernah ke mesjid jadi tidak ada yang nyariin. Jika orang ini sering ke mesjid maka baru sehari dia tidak hadir pasti sudah dicari oleh orang mesjid, mana si fulan dan mana si fulan. Jika dia sering ke mesjid maka malaikatlah yang pertama mencari dia. Jika dia sakit maka malaikatlah yang pertama kali mengunjungi atau membesuknya.

 

Bahkan jika orang tersebut senantiasa memakmurkan mesjid dengan menghidupkan amalan-amalan mesjid maka nanti malaikat akan senantiasa membantu dan mendoakan kemudahan bagi pekerjaannya sehari-hari. Jadi jangan khawatir dengan waktu yang kita berikan untuk mesjid. Jika kita luangkan waktu kita untuk mesjid minimal 2.5 jam setiap hari nanti para malaikat akan membantu kita dalam pekerjaan kita sehari-hari. Namun jika kita tidak luangkan waktu kita untuk memakmurkan mesjid maka nanti yang menjadi teman kita ditakutkan adalah para antek-antek iblis dan syaithon. Jika ini terjadi maka akan masuk dalam diri kita 2 sifat iblis.

 

Apa itu 2 sifat Iblis :

 

  1. Tidak Taat : “ilaa ibliisa aba wastakbara”
  2. Sombong : “ana choiru minhum”

 

Maka kita niatkan untuk hadir kemalam Markaz, Insya Allah.

 

Hadirin yang dimuliakan Allah swt,

 

Penting senantiasa kita mudzakarahkan bahwa kejayaan dan kesuksesan hidup kita ini hanya ada dalam amal-amal agama. Sehingga akan terbentuk dalam diri kita satu keyakinan tidak ada jalan lain untuk bahagia di dunia dan akherat selain dengan mengamalkan agama. Ini berulang kali Allah swt sampaikan dalam Al Quran bahwa kejayaan dan kebahagiaan manusia ini bukan dalam harta dan keduniaan tapi hanya ada dalam amal agama.

 

Namun Misunderstanding, Kesalahpahaman, dalam kehidupan manusia ini sering terjadi. Ini terjadi dari dulu hingga saat ini. Apa kesalahpahaman itu ?

 

Allah swt firmankan :

 

Fa ammal-insānu iżā mabtalāhu rabbuhụ fa akramahụ wa na’amahụ fa yaqụlu rabbī akraman. Wa ammā iżā mabtalāhu fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

 

Artinya :

“Maka, adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu memuliakannya, dan memberinya kesenangan, maka ia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanku’. Dan apabila Tuhan mengujinya lalu membatasi rezekinya, maka ia berkata, ‘Tuhanku menghinaku’.” (QS. Al-Fajr: 15-16)


Begitulah kesalahpahaman manusia disebutkan oleh Allah swt dan sering terjadi dalam kehidupan manusia. Apabila mereka di uji :

 

  1. wa na’amahụ fa yaqụlu rabbī akraman

 

Ujian Kedudukan / Keduniaan

 

Dia ikut pilkada atau pilpres lalu menang, menjadi presiden atau gubernur atau bupati. Ataupun dia diangkat menjadi CEO dari perusahaan ataupun menjadi Panglima atau Kapolri dari suatu institusi. Seiring kedudukan yang dia dapat maka akan diberi berbagai fasilitas yang menjadi kenikmatan buat dia. Padahal itu semua dari jabatan dan fasilitas yang dia dapat atas posisi yang dia dapatkan ini menjadi ujian buat dia. Namun dia salah paham tatkala dia mendapatkan posisi tersebut dan berbagai fasilitas dia beranggapan Allah swt telah memuliakan dia. Jadi hari ini manusia beranggapan bahwa kemuliaan itu tatkala dia mendapatkan kedudukan dan keduniaan

 

  1. fa qadara ‘alaihi rizqahụ fa yaqụlu rabbī ahānan

Ujian Kesempitan / Kemiskinan

 

Dia diberi ujian kebangkrutan, kehilangan, kesempitan ekonomi, maka dia akan berpikir bahwa Allah swt sudah meninggalkan dia, Allah swt telah hinakan dia. Bahwa kesempitan dan kemiskinan itu merupakan musibah bagi dia. Jadi manusia akan merasa hina jika tidak punya jabatan dan harta dalam kehidupan dia.

 

Atas perkara ini maka Allah swt katakan : “Kalla” artinya “Tidak atau Salah” (Al Fajr : 17). Sekali-kali tidak benar seperti itu. “Kalla” Ini adalah ungkapan yang tegas dalam bahasa Arab.

 

Pendapat yang mengatakan bahwa bahwa kemuliaan itu ada dalam jabatan, harta dan keduniaan ataupun kehinaan ada dalam kemiskinan ataupun kesempitan adalah salah.

 

Kisah Qorun

 

Qorun itu memiliki harta yang sangat banyak, bahkan kunci gudang hartanya saja tidak bisa diangkat oleh beberapa orang laki-laki yang kuat-kuat. Suatu ketika dia menyombongkan diri dengan membawa kereta-kereta untuk memamerkan perbendaharaan harta dia. Qorun melakukan Show of Force dari perbendaharaan harta dia, demontrasi keliling kota. Maka manusia yang melihat ketika itu terbagi 2 :

 

Fakharaja ‘ala qaumihi fii ziinatihi qaalal-ladziina yuriiduunal hayaataddunyaa yaa laita lanaa mitsla maa uutiya qaaruunu innahu ladzuu hazh-zhin ‘azhiimin

Artinya :

 

Maka keluarlah dia, Qarun, kepada kaumnya dengan kemegahannya.
Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata :

 

“Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti apa yang telah diberikan kepada Karun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS. 28:79)

 

Kelompok pertama mereka berpikir : “Alangkah beruntungnya Qorun, Sungguh hidupnya penuh dengan kemuliaan. Andaikan kita bisa mendapatkan harta kebendaan seperti Qarun hidup kita akan baik sekali.” Begitulah angan-angan setiap orang tatkala kita melihat orang yang bergelimang harta ataupun jabatan, maka kitapun berangan-angan ingin seperti mereka. Kenapa masyarakat berpandangan demikian, Allah swt jawab dalam Al Quran : innahu ladzuu hazh-zhin ‘azhiimin yaitu mereka berpandangan Qarun memiliki nasib yang paling baik asbab hartanya yang berlimpah. Jadi nasib baik itu menurut masyarakat asbab memiliki harta yang berlimpah dan kedudukan sebagai orang kaya.

 

Allah swt berfirman bagi kelompok yang kedua yaitu kelompok yang diberi ilmu, kepahaman yang benar oleh Allah swt :

 

Waqaalal-ladziina uutuul ‘ilma wailakum tsawaabullahi khairun liman aamana wa’amila shaalihan walaa yulaqqaahaa ilaash-shaabiruun

 

Artinya :

 

Tetapi orang-orang yang dianugerahi ilmu mereka berkata :
“Celakalah (Salah) kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.” ( QS 28:80)

 

Kelompok kedua mereka berpikir : “Salah jika kalian berpikir bahwa kemuliaan itu ada dalam harta Qorun bukan pada Iman dan Amal. Justru Iman dan Amal ini pahala dan ganjaran yang Allah swt berikan jauh lebih baik dan lebih besar dari seluruh harta yang dimiliki Qorun.” Inilah kelompok yang Allah swt berikan ilmu dan kepahaman yang benar dalam melihat harta dan kedudukan. Keyakinan seperti ini tidak akan bisa didapat kecuali dimiliki oleh orang yang sabar.

 

Tafsir Sabar

 

Sabar ketika lapar itu biasa dan sudah seharusnya begitu. Sabar ketika makanan tidak ada itu biasa. Namun Sabar ketika kita mendapatkan yang sedikit dan teman kita mendapatkan yang banyak dan lebih baik ini yang berat. Dalam jamuan makan kita diundang teman-teman kita dapat paha dan dada sementara kita hanya dapat ceker saja atau malah tidak kebagian inilah ujian kesabaran. Bersabar ketika melihat kenikmatan yang datang kepada orang lain sementara kita sendiri dapatnya kesusahan, inilah sabar yang sebenarnya. Sabar ketika tidak ada itu biasa, tapi sabar ketika melihat kenikmatan orang lain dan tetap istiqomah dalam hal keyakinan dan amal inilah kesabaran yang sebenarnya. Sabar melihat kenikmatan dan kekayaan orang lain inilah kesabaran yang luar biasa.

 

Begitu pula Allah swt sampaikan dalam ayat yang lain tentang kesalah pahaman pandangan manusia :

 

wailul likulli humazatil lumazah. allażī jama’a mālaw wa ‘addadah. yaḥsabu anna mālahū akhladah. kallā layumbażanna fil-ḥuṭamah

 

Artinya :

 

Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela, yaitu yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya, dia (manusia) mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya. Sekali-kali tidak! Pasti dia akan dilemparkan ke dalam (neraka) Hutamah. (Surat Al Humazah : 1-4)

 

Tafsirnya :

 

Celaka bagi manusia di dunia dan akherat yaitu mereka yang suka mencela dan mencibir para nabi yang datang kepada mereka membawa agama lalu mereka olok-olok dan hinakan. Mereka yang mengolok-olok nabi ini tidak memahami arti kehidupan yang sebenarnya. Mereka akan Allah swt lemparkan ke Neraka. Siapa mereka itu ? yaitu orang-orang yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Siang hari sibuk mengumpulkan harta dan malam hari sibuk menghitungnya, dari bangun tidur sampai tidur lagi yang di ingat hanya urusan mencari harta saja. Saya tidak katakan mencari harta atau menghitung harta itu perbuatan yang salah, tidak demikian. Namun yang salah menurut Al Quran mereka yang mencari harta lalu menghitung-hitungnya, meyakini bahwa harta itulah yang membuat dia mulia dan bahagia bukan iman dan amal. Keyakinan yang salah atas harta inilah yang mebuat dia dilempar oleh Allah swt ke dalam Neraka. Dia berpikir dengan harta ini dia akan kekal di dunia ini, dikenang, dipuja, dan dimuliakan. Atas kesalahpahaan ini Allah swt katakan : “Kalla” atau “Salah atau Tidak Benar”. Jadi memiliki harta itu tidak salah, namun yang salah adalah jika ada keyakinan dalam diri kita bahwa Harta lah yang akan membahagiakan kita dalam kehidupan di dunia ini.

 

Akidah Orang Kafir = Time is Money ( Waktu itu adalah Uang )

 

Dalam kehidupan hedonisme di barat sudah terbentuk prinsip mereka dalam menjalankan hidup itu harus senantiasa menghasilkan duit. Sehingga ada dalam keyakinan orang kafir ini bahwa hidup itu tidak boleh di sia-siakan. Bagaimana hidup yang tidak sia-sia menurut mereka ? apabila hidup itu dihabiskan untuk mencari dan menghasilkan duit. Inilah akidah yang mereka yakinin atas perkara waktu dan duit. Jika duit sudah terkumpul maka segala kebutuhan dan keperluan hidup akan kita dapatkan dan semua masalah dapat terselesaikan.

 

Namun buat orang beriman waktu itu bukanlah uang melainkan waktu itu adalah kewajiban dan ladang amal buat kita. Time is Duty as the servent of Allah swt and Opportunity to get Reward from Allah swt. Jangan mengatakan waktu adalah duit tapi waktu adalah tugas dan tanggung jawab. Jadi waktu yang Allah swt berikan kepada kita adalah untuk tugas dan tanggung jawab kita kepada Allah swt. waktu bukan hanya untuk dilalui tetapi untuk di isi dengan Iman dan Amal. Bahkan waktu itu akan melebur seperti Es. Es ini akan meleleh jika dibiarkan diluar tinggal kita mau letakkan dimana ? kalo dijalan meleleh habis tidak ada gunanya. Namun jika es ini meleleh di mangkok maka kita bisa minum air segar. Jadi Waktu itu pasti berlalu tapi harus di isi waktu ini, dimanfaatkan seperti es.

 

Demi Waktu ( Surat Al Asr ) :

 

wal-‘aṣr. innal-insāna lafī khusr. illallażīna āmanụ wa ‘amiluṣ-ṣāliḥāti wa tawāṣau bil-ḥaqqi wa tawāṣau biṣ-ṣabr

 

Artinya :

 

Demi Masa. sungguh, manusia berada dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. ((QS 103 : 1-3)

 

Setiap detik daripada waktu yang dilewati seluruh manusia ini mengalami kerugian. ada empat golongan orang yang tak merugi yakni :

 

  1. orang yang beriman
  2. orang yang beramal soleh
  3. orang-orang yang saling menasihati dalam kebenaran ( Dakwah )
  4. orang yang menasihati dalam kesabaran

 

Allah swt jelaskan orang yang merugi bukannya orang yang tidak ada harta, jabatan, dan kekayaan, ataupun orang-orang yang kaya tiba-tiba jatuh bangkrut, tidak seperti itu. Ataupun yang dimaksud orang yang tidak merugi adalah orang yang sukses jabatannya ataupun sukses mempunyai kekayaan yang berlimpah, tidak seperti itu. Namun orang yang tidak merugi itu adalah :

 

  1. Orang yang beriman yang di hatinya ada kebesaran La Illaha Illah
  2. Orang yang hidupnya selama 24 jam wujud perintah Allah dan RasulNya
  3. Orang yang berdakwah perkara Haq
  4. Orang yang sabar dalam berdakwah

 

  1. Iman

 

Orang yang di hatinya ada keyakinan kepada Allah swt istiqomah selama 24 jam tidak bergeser sedikitpun keyakinannya. Iman ini selalu di uji makan iman kita ini yazid wal yankus, kadang naik kadang turun. Menjaga iman dari ujian ini yang tidak mudah selama 24 jam untuk istiqomah meyakini hanya Allah yang kuasa dan mahluk tidak kuasa. Para Nabi mengajarkan umatnya untuk meyakini La illaha illallah.

 

Fa’lam annahụ lā ilāha illallāhu
artinya :

 

“Ketahuilah (wahai Nabi) bahwa tidak ada tuhan sembahan yang haq kecuali Allah”

(QS.47:19)

Inilah dakwah para Anbiya AS yaitu mengajak umat beriman hanya kepada Allah swt.

 

Nabi Musa AS di bukit Thursina ketika dilantik menjadi Nabi, Allah swt memberikan pelajaran yang pertama.

 

Wa anakhtartuka fastami’ limā yụḥā

 

Artinya :

 

“Dan Aku telah memilih kamu wahai Musa, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).” (QS 20:13)

 

Apa pelajaran Allah swt yang pertama kepada Musa AS ?

 

 

Innanī anallāhu lā ilāha illā ana fa’budnī wa aqimiṣ-ṣalāta liżikrī

 

Artinya:

 

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaha : 14)

 

Pelajaran Pertama yang Allah swt ajarkan kepada Musa AS adalah pelajaran Keimanan.

 

Innanī anallāhu lā ilāha illā ana : “Sesungguhnya Aku adalah Allah, tidak ada yang berhak di ibadahi kecuali Aku, tiada sekutu bagiKu, maka sembahlah Aku saja.”

 

La illa ha : Kalimat Nafi ( Meniadakan ) –> meniadakan mahluq atau kekuasaan lain

Illlallah : kalimat Itsbat ( Menetapkan ) –> menetapkan Allah saja sebagai satu-satunya yang kuasa

 

Keluarkan dalam hati kita keyakinan yang salah atas mahluk dan hanya memasukkan keyakinan yang shahih kepada Khaliq. Bahwa yang mampu berbuat segala-galanya hanyalah Allah swt, sedangkan mahluk tidak punya kemampuan apa-apa.

 

Allahu ala kulli syaiin qodir : Allah swt mampu dan berkuasa melakukan segala sesuatu bahkan diluar batas logika dan nalar manusia.

 

Kebanggaan Kaum terdahulu :

 

  1. Kaum Ad bangga dengan kekuatan fisik mereka
  2. Kaum Tsamud bangga dengan kekuatan arsitektur mereka
  3. Kaum Saba bangga dengan pertanian mereka
  4. Kaum Madyan bangga dengan ekonomi mereka

 

Kaum-kaum ini menantang para nabi yang datang kepada mereka untuk berdakwah tauhid.

 

Kaum Tsamud menantang Nabi Sholeh, mereka membanggakan kemampuan mereka dan melecehkan Nabi Sholeh AS. Apa yang kamu mampu lakukan terhadap tempat kami yang fenomenal ini mampu menjadikan gunung-gunung sebagai real estate. Mereka menantang Nabi Sholeh AS untuk meminta kepada Allah swt mengeluarkan Onta dari itu gunung. Asbab Nabi Sholeh mempunyai keyakinan yang benar dan hubungan yang baik dengan Allah swt, sekali doa maka keluarlah Onta dari batu gunung tersebut. Mahluk hidup keluar dari benda yang mati, tidak main-main, seekor onta yang hamil pula keluar dari batu. Onta betina dalam keadaan hamil keluar dari batu langsung melahirkan. Siapa yang menghamili Onta, kok bisa keluar dari batu benda mati, Inilah makna Allahu ala kulli syai’in qadir.

 

Musa AS menerima perintah dari Allah swt :

 

“Idzhaba ila fir’auna innahu thagha”

 

artinya :

 

Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas”

( Thaha : 43 )

 

Pergilah kalian berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia benar-benar keras kepala telah melampaui batas dalam kekafiran dan kedurhakaan terhadap Allah. Allah swt perintah Nabi Musa AS untuk pergi kepada Firaun berdakwah kepadanya. Namun dalam kepergiannya dia harus meninggalkan istrinya yang lagi sakit di bawah, ada anak-anak yang butuh bapaknya, peliharaan domba yang banyak. Ditaskyl pergi di jalan Allah swt ? tapi bagaimana istri dan anak saya siapa yang akan jaga mereka, bisnis saya siapa yang ngurus. Ini kekhawatiran yang wajar aja sebenarnya. Namun Musa AS karena ada yakin tetap berangkat menuju Firaun. Terbetik di hati Musa AS kekhawatiran yang sama, bukan hanya sekedar meninggalkan, tetapi ini ada perintah Allah swt pasti Allah swt akan jaga. Jika ada berbenturan antara perintah Allah swt dengan keperluan kita, jika kita ikut perintah Allah swt pasti Allah swt akan penuhi keperluan kita tersebut.

 

Allah swt perintahkan kita untuk memelihara anak kita, namun suatu saat juga Allah swt perintahkan untuk meninggalkan anak kita jika ada takaza agama. Sebagaimana Ibrahim AS, baru punya anak ditinggalkan di padang pasir, setelah sekian lama baru bisa ketemu malah disuruh disembelih anak itu, ini lebih gawat lagi. Kenapa ? ini karena Allah swt yang paling tahu tatkala Allah swt perintahkan pasti bersama perintah Allah swt ada kejayaan dan kebaikan.

 

Maka tatkala ada terbesit kerisauan akan anak dan istrinya yang akan ditinggal tanpa berpamitan untuk memenuhi perintah Allah swt. Maka untuk menghancurkan keraguan di hati Musa AS, Allah swt perintahkan Musa AS memukul batu dengan tongkatnya. Maka seketika batu itu pecah, dan dialamnya terdapat batu lagi, maka Allah swt perintahkan untuk memukul batu itu lagi. Didalamnya setelah terbelah ada lagi batu, maka diperintahkan untuk dipukul lagi. Jadi dalam batu ada 2 lapis batu lagi jadi totodal didalam batu ada 2 batu lagi. Maka setelah batu yang ketiga terbelah ada seekor binatang, ulat kecil, dimulutnya ada makanan. Allahu ala kulli Syai’in Qadir, Allah mampu memeihara binatang di dalam 3 lapisan batu tidak ada oksigen masih bisa hidup dan masih bisa mengirim makanan melewati 3 lapisan batu. Jadi siapa yang memelihara ? Allah swt yang memelihara, Allah kuasa melebihi nalar dan logika manusia.

 

Pelajaran Kekuasaan Allah :

 

  1. Tongkat Pukul Batu, Batu yang pecah, beda sama Tongkat kita, pasti patah.
  2. Allah Mampu menghidupkan mahluk hidup di ruang hampa batu 3 lapis
  3. Allah mampu mengirim makanan ke mahluk hidup walaupun dalam batu
  4. Allah mampu membuat mahluk hidup di dalam batu benda mati

 

–> Allahu ala kulli Syai’in Qadir

 

Ketika Allah swt memperdengarkan apa yang di ucapkan ulat tadi, ternyata ulat itu sedang bertasbih memuji Allah swt.

 

Apa Tasbihnya :

 

Subhana man yaraani, wa yasma’u kalaami, wa ya’rifu maqaami, wa yarzuqunii, wa laa yansaanii

 

Artinya :

 

“Maha suci Allah yang melihatku, mendengar perkataan-perkataanku, mengetahui kedudukanku, memberiku rizki dan tidak pernah melupakan aku”

 

Allah swt ingin memberi pelajaran kepada Musa AS, jangan istri yang diluar batu, bahkan ulat didalam batupun Allah swt sanggup pelihara. Allahu ala kulli Syai’in Qadir.

 

Kisah Iblis vs Abid dan Alim

 

Suatu ketika Iblis ingin menyesatkan seorang Ahli ibadah. Dia menjelma sebagai manusia dan bertanya kepada Ahli Ibadah.

 

“Wahai Ahli Ibadah, kamu lihat jarum ini, mampu gak Allah swt memasukan onta kedalam lobang jarum ini.”

 

Onta besar sementara lubang jarum ini kecil. Bingung si ahli ibadah ini bagaimana mungkin bisa memasukkan onta yang besar kedalam lubang jarum yang kecil. Maka kabur ini iblis tertawa dan bilang ke anaknya wahai anakku lihatlah bagaimana aku menyesatkan si ahli ibadah yang sudah beribadah bertahun-tahun, menjadi kafir dalam hitungan menit saja.

 

Maka iblis ini pergi lagi nyari mangsa untuk disesatkan. Maka dia temukan seorang Alim yang sedang beribadah dengan keilmuannya. Maka iblis bertanya pertanyaan yang sama.

 

“Wahai Alim, kamu lihat jarum ini, mampu gak Allah swt memasukan onta kedalam lobang jarum ini. Bagaimana caranya ?”

 

Apa jawaban si Ulama ini ?

 

“Mampu dan Mudah saja bagi Allah swt. Terserah Allah swt mau mengecilkan onta itu sebesar lubang jarum ataupun membesarkan lobang jarum sebesar onta untuk dimasuki. Allahu ala kulli Syai’in Qadir.”

 

Jangan tanya bagaimana caranya Allah swt bisa melakukannya, ini bukanlah hak kita. Allah swt tidak suka ditanya bagaimana caranya macam mengecilkan kemampuan dan kekuasaan Allah swt. Allah swt itu jangan ditanya mengenai kaifiyah karena tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt.

 

Bahkan menurut Ulama Allah mampu memasukkan unta kedalam lubang jarum tanpa harus membesarkan lubang jarum ataupun mengecilkan unta tersebut. Inilah makna Allahu ala kulli Syai’in Qadir.

 

Kisah Maryam bin Imran ibu Isa AS

 

Maryam seorang wanita yang kuat beribadah dan sehat badannya. Ibadah di dalam mihrabnya. Dari bayi dipelihara oleh pamannya seorang Nabiulllah, Zakaria AS. DI didik dan diberi makan oleh Nabi Zakaria AS. Namun Nabi Zakaria AS setelah Maryam beranjak dewasa, menemukan keanehan. Waktu kecil maryam R.ha dapat makan dari Nabi Zakaria AS, tapi setelah dewasa dia sering menemukan makanan tersaji di mihrab Maryam R.ha. Padahal kunci rumah dipegang oleh Nabi Zakaria AS, tidak dipegang yang lain. Kok bisa kunci dipegang oleh Nabi Zakaria tapi makanan selalu tersaji di mihrab nya maryam R.ha. Siapa yang mengantar dan memberikan makanan itu ? Maka Nabi Zakaria bertanya kepada Maryam R.ha dari mana datangnya makanan ini ?

 

Annā laki hāżā : “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” (QS. 3:37)

 

apa jawaban Maryam R.ha :

 

Huwa min ‘indillahi : “Itu dari Allah swt” (3:37)

 

Allah swt mampu mendatangkan makanan langsung dari langit menembus rumah dan mihrab maryam r.ha.

 

Mengetahui perkara ini dari Maryam r.ha maka Nabi Zakaria tersentak. Beliau Nabi Zakaria terkejut bahwa santrinya, anak asuhnya, mampu membuka khazanah Allah swt. Jika seorang santri atau anak didik bisa melakukan atau mendapatkan perkara seperti itu bagaimana dengan Kyainya atau Bapak Asuhnya. Masa Iman nya Kyai atau Guru bisa kalah sama santrinya ? Mengetahui perkara ini maka Nabi Zakaria pun ikut berdoa dengan penuh keimanan dan pengharapan kepada Rabbnya berharap akan keturunan. Nabi Zakaria ini adalah Nabi yang umurnya sudah tua namun belum memiliki keturunan. Maka Nabi zakaria berdoa dengan penuh pengharapan, belajar dari pertolongan Allah swt kepada santrinya, Maryam R.ha. Nabi Zakaria berfikir jika Allah swt mampu memberikan makanan dari langit untuk Maryam, tentu Allah yang sama juga mampu memberikan aku keturunan.

 

iż nādā rabbahụ nidda`an khafiyyā. qāla rabbi innī wahanal-‘aẓmu minnī wasyta’alar-ra`su syaibaw wa lam akum bidu’a`ika rabbi syaqiyyā. wa innī khiftul-mawāliya miw warr`ī wa kānatimra`atī ‘āqiran fa hab lī mil ladungka waliyyā. yariṡunī wa yariṡu min āli ya’qụba waj’al-hu rabbi raḍiyyā

 

artinya :

 

“tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut. Ia berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap kerabatku sepeningalku, sedang istriku adalah seseorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang putra, yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Yakub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridahi. ” (QS. Maryam: 3-6)

 

Maka Allah swt kabulkan doa Nabi Zakaria AS ini. Inilah kisah ulama belajar dari santrinya.

 

Kisah Jibril Bertemu Maryam r.ha

 

Fattakhażat min dụnihim ḥijābā, fa arsaln& ilaihā rụḥanā fa tamaṡṡala lahā basyaran sawiyyālalu

 

artinya :

 

“dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, maka dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” (QS. Maryam : 17)

 

Suatu ketika Jibril AS Allah swt perintahkan turun untuk bertemu Maryam r.ha untuk memberi kabar. Jibril datang menjelma sebagai seorang pemuda yang tampan dan gagah. Ketika itu Maryam r.ha sudah masuk usia gadis, dan cita-cita seorang gadis itu adalah menikah dengan pria idamannya. Walaupun Jibril menjelma sebagai seorang laki-laki tampan dan gagah, dan Maryam r.ha sudah masuk masa gadis, namun Maryam R.ha mempunyai Iman dan Ketaqwaan diatas rata-rata wanita seumurnya, Dia berkata kepada Jibril AS :

 

Qālat innī a’ụżu bir-raḥmāni mingka ing kunta taqiyyā

 

artinya :

 

Dia (Maryam) berkata, “Sungguh, aku berlindung kepada Tuhan Yang Maha Pengasih terhadapmu, jika engkau orang yang bertakwa.” (QS. Maryam : 18)

 

Ini ada laki-laki tampan masuk kedalam rumahku tanpa seizinku atau pamanku Nabi Zakaria AS, ini membuat Maryam AS tidak senang kemasukan laki-laki tanpa izin. Maryam menyuruh pemuda tampan dan gagah itu untuk pergi. Namun Jibril berusaha menenangkan Maryam r.ha dengan berkata :

 

“Qāla innama ana rasụlu rabbiki” : “Sesungguhnya aku hanyalah utusan Tuhanmu” (S.Maryam : 19)

 

Jibril AS berusaha menenangkan Maryam bahwa dia hanyalah utusan Allah swt kepadanya dan bukan laki-laki jahat, untuk membawa berita dari Allah swt. Apa itu ?

 

“li`ahaba laki gulāman zakiyyā” : untuk menyampaikan anugerah kepadamu seorang anak laki-laki yang suci.”

 

Maka Maryam AS terkejut dan bingung sehingga bertanya menggunakan akalnya :

 

Qālat annā yakụnu lī gulāmuw wa lam yamsasnī basyaruw wa lam aku bagiyyā

 

artinya :

 

Dia (Maryam) berkata, “Bagaimana mungkin aku mempunyai anak laki-laki, padahal tidak pernah ada orang (laki-laki) yang menyentuhku dan aku bukan seorang pezina!” (S.Maryam : 20)

 

Jibril menyampaikan bahwa maryam akan melahirkan anak yang suci. Sementara maryam sebagai wanita yang terjaga dari perbuatan mesum bingung, bagaimana mungkin aku tidak pernah dijamah oleh siapapun bisa melahirkan anak. Sedangkan aku bukanlah seorang pezina kata maryam R.ha.

 

Pertanyaan Anna, Bagaimana mungkin, ini tidak disukai Allah swt karena maryam menggunakan akalnya bukan keimanannya. Tadi waktu gurunya datang, Nabi Zakaria AS, maryam r.ha mampu menjawab bahwa makanan itu datangnya dari Allah swt, dia mampu menisbatkan perkara yang tidak mungkin kepada Allah swt. Kenapa sekarang berubah ? inilah iman kadang naik kadang turun, ujian keimanan. Pertanyaan ini menunjukkan keadaaan iman Maryam R.ha sedang turun. Namun Jibril Targib Maryam r.ha untuk menaikkan imannya lagi :

 

Qāla każālik, qāla rabbuki huwa ‘alayya hayyin, wa linaj’alahū āyatal lin-nāsi wa raḥmatam minnā, wa kāna amram maqḍiyyā

 

artinya :

 

Dia (Jibril) berkata, “Demikianlah.” Tuhanmu berfirman, “Hal itu mudah bagi-Ku, dan agar Kami menjadikannya suatu tanda (kebesaran Allah) bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami; dan hal itu adalah suatu urusan yang (sudah) diputuskan.”

(S. Maryam :21)

 

Kaidah umum biasanya kalau iman ini sudah melemah, goncang bergeser sedikit saja, maka pertolongan Allah swt akan tersendat pula dan rizki akan jadi tidak lancar. Sehingga susah jadinya kehidupan kita. Jadi kemudahan hidup berupa rizki dan lain-lain dari Allah swt ini bergantung dengan kondisi Iman kita. Maka kesusahan demi kesusahanpun datang kepada Maryam r.ha.

 

Setelah ditiupkan Ruh Allah swt kedalam Rahim Maryam, dalam hitungan detik saja Maryam langsung hamil dan langsung mau melahirkan. Maka dia pergi keluar dari Mihrabnya dalam keadaan takut memikirkan fitnah yang akan terjadi.

 

fa ḥamalat-hu fantabażat bihī makānang qaṣiyyā. fa aj&`ahal-makhāḍu ilā jiż’in-nakhlah, qālat yā laitanī mittu qabla hāżā wa kuntu nas-yam mansiyyā

 

Artinya :

 

Maka dia (Maryam) mengandung, lalu dia mengasingkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Kemudian rasa sakit akan melahirkan memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma, dia (Maryam) berkata, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.”

(S. Maryam : 22-23)

 

Fitnah kehamilan ini membuat maryam ketakutan akan pandangan manusia yang akan menganngap dia sebagai wanita pezina, mekahirkan anak tanpa bapak. Sebagai wanita yang sholehah dan suci dari perbuatan mesum, fitnah ini merupakan ujian yang berat. Saking beratnya perasaan yang di deritanya sehingga maryam r.ha berpikir bahwa mati itu lebih enak daripada harus menerima fitnah manusia. Sehingga dia pergi keluar dari mihrobnya lari mengasingkan diri untuk melahirkan.

 

Maryam kelelahan dan bersandar dibawah pohon korma mengasingkan diri jauh dari manusia menunggu kelahiran. Ini masa terlemahnya wanita yaitu ketika hamil dan mau melahirkan. Dalam keadaaan lemah dan kesakitan menunggu kelahiran, maryam AS merasa lapar. Namun Allah swt perintahkan Maryam :

 

wa huzzī ilaiki bijiż’in-nakhlati tusāqiṭ ‘alaiki ruṭaban janiyyā

 

Artinya :

 

“Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya (pohon) itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (S. Maryam : 25)

 

Bayangkan dalam keadaan lemah dan kesakitan Allah swt perintahkan maryam untuk menggoncangkan pohon, bukan disentuh saja padahal Allah swt kuasa dengan sentuhan bisa langsung jatuh. Makanan dari langit aja bisa Allah swt kirim apa susahnya dengan menyentuh pohon kurma untuk makan, kenapa harus mengguncangkan dengan kata-kata “Huzzi”. Sepertinya Allah swt ingin Maryam r.ha berusaha lebih keras asbab turunnya iman tadi. Jadi kalau iman lagi turun segala sesuatu bagi kita ini jadi lebih keras mengusahakannnya, lebih berat dari biasanya.

 

Jadi peritiwa ini ada pelajaran, dulu ketika Maryam AS sehat makanan malah turun dari langit, sekarang dalam keadaan paling lemah dan kesakitan malah disuruh goncangkan “Uzzi”, buat usaha lebih keras. Padahal dalam keadaan sakit bisa saja Allah swt suruh berdoa agar makanan turun dari langit, tapi malah disuruh berusaha dalam keadaan lemah dan kesakitan mengguncangkan pohon kurma untuk dapat makanan.

 

Kenapa ini terjadi ? ini karena iman Maryam goyang ketika di Mihrab mendapat kabar akan punya anak, sehingga dia bertanya, “Bagaimana mungkin?” menggunakan logikanya bukan bashirohnya, keimanannya. Pertanyaan, “Bagaimana ?” ini adalah keadaan dimana Nusrohtullah langsung terhenti menjadi usaha sendiri. Dari biasa terima rizki dari langit, berubah disuruh kerja sendiri untuk mencari rizki. Bagi Allah swt mudah mendatangkan rizki ke mihrab tanpa harus dicari, diusahakan, atau diguncangkan “Uzzi”. Namun asbab iman kita lemah lebih menggunakan akal dari pada menggunakan keimanan dalam mencari rizki sehingga segala sesuatu harus diusahakan dengan susah payah. Allah swt tidak suka kita mempertanyakan kemampuan dan kekuasaan Allah swt bukannya meyakininya tapi malah menggunakan logika, “Bagaimana mungkin ?” inilah penyebab kesusahan kita hari ini, lemah iman, sehingga segala sesuatu menjadi berat kita hadapi.

 

Inilah pelajaran pertama dari surat Al asr yaitu keimanan.

 

  1. Amal Sholeh

 

Berikutnya bagaimana kita beramal sholeh selama 24 jam taat pada perintah Allah swt dan ikut dari pada sunnah Nabi saw. Jadi target kita ini mengisi waktu yang kita habisi dengan Amal Sholeh sesuai tuntunan Nabi saw. Amal akan dikatakan sholeh jika kita ikuti dari pada amal yang dicontohkan Nabi saw, inilah pentingnya Ilmu. Bagaimana kita ikut nabi kita saw dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan badan bergerak mengikuti aktifitas nabi saw selama 24. Sederhana dengan kita menumbuhkan jenggot ini aja sudah amal sholeh yang berjalan setiap saat selama 24 jam. Belum lagi dengan sunnah-sunnah yang lain jika kita ikuti seperti keluar masuk wa, keluar masuk pasar, keluar masuk mesjid, bangun dan tidurnya kita, muamalah kita, muasyarah kita dan seterusnya. Maka setiap waktu ini senantiasa kita isihidup kita dengan amalan-amalan agama.

 

Allah swt berfirman :

 

“Man ‘amila shaalihan min dzakarin aw untsaa wahuwa mu’minun falanuhyiyannahu hayaatan thayyibatan walanajziyannahum ajrahum bi-ahsani maa kaanuu ya’maluuna”

 

Artinya :

 

 

“Barangsiapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (!6:97)

 

Dalam ayat ini Allah swt macam memberi jaminan siapa saja yang mau beramal sholeh pasti dan pasti dan pasti Allah swt akan berikan “Hayyatan Thoyyiba”, kebahagiaan sepanjang hayatnya.

 

Jadi inilah maksud orang yang tidak akan rugi yaitu jika dia mau beramal sholeh ikut contoh nabi saw selama 24 jam dia gerakkan tubuh dia ini dalam ketaatan.

 

  1. Dakwah bil Haq : Orang saling menasehati dalam kebenaran.

 

Kita tidak akan datang Nabi lagi, kenabian sudah tertutup dengan datangnya Nabi saw sebagai Nabi terakhir. Maka kerja Nabi ini menjadi tanggung jawab kita. Maka kita sering di ingatkan oleh masyeikh kita bahwa dalam kerja dakwah yang kita lakukan perlu kita sering ulang-ulang perkara 6 sifat :

 

  1. Bicarakan kebesaran Allah minimal di 25 majelis
  2. Minta kepada Allah melalui sholat atas hajat-hajat kita
  3. Dekati Ulama untuk mendapatkan bimbingan dan ilmu yang bermanfaat
  4. Contoh akhlaq nabi saw dan sahabat dalam muamalah dan musyarah
  5. Senantiasa dalam amal kita jaga keikhlasan karena ini syarat diterima amal
  6. Jaga Nishob dan Ambil Takaza

 

Bagi yang sudah lama dalam kerja dakwah tabligh hendaknya kita memantau perkembangan atau progres dari amal kita. Jangan sampai sudah bertahun-tahun ikut dakwah :

 

  1. Bicara Hadist masih mahfum
  2. Hafalan quran cuman 10 surat
  3. Sholat masih tidak tau syarat dan rukunnya dan tata cara bacaan di dalamnya
  4. Tidak tau memandikan mayat atau mandi wajib
  5. Bagaimana cara berwudhu masih belum sempurna rukunnya
  6. Bagaimana cara istinja masih belum bersih
  7. Bagaimana adab-adab sehari-hari dan doa-doanya hafalannya

 

Maka jangan sampai kita menjadi seperti ahbab yang tidak ada progress, stagnan ditempat menjadi karkun. Tidk mungkin hubungan dengan langit terjaga dengan baik tanpa ada ilmu. Kerja dakwah kita ini menghubungkan umat dan diri kita kepada ulama. Kerja ini sangat berhajat kepada ulama sebagai pembimbing kita. Hormati Ulama, Iqrom mereka, sayangi mereka, ambil manfaat sebanyak-banyaknya dari nasehat dan ilmu mereka. Jika ini tidak kita lakukan maka akan muncul ahbab-ahbab yang merasa lebih hebat dari ulama. Akhirnya muncul kata-kata dalam bayan yang bikin rusak kerja dakwah :

 

  1. Jika tidak 4 bulan tidak akan paham agama walaupun dia ulama, sedangkan dia bayan di depan ulama.
  2. Karkun jangan takut sama covid , kirim jemaah sebanyak-banyaknya ke daerah wabah covid. (tambahan penulis)
  3. Dll

 

Kerusakan tanpa Ilmu

 

Seorang ahbab mo pinjam uang ke ahbab lainnya. Maka Ahbab A kasih mobil sebagai jaminan ke ahbab B agar bisa pinjam Uang 5 juta rupiah. Ahbab B kasih pinjaman 5 juta dengan jaminan Mobil. Namun pas malam markaz ahbab B bawa mobil itu ke markaz. Maka ini haram, Memakai mobil jaminan pinjaman di bawa jalan ini haram hukumnya. Jaminan itu tidak boleh digunakan itu RIBA jadinya. Bahkan kita nularin kerusakan dengan membonceng karkun yang lain. Dalam hukum islam barang jaminan itu tidak boleh digunakan walaupun di izinkan. Kecuali akadnya Jual Beli nanti kalo sudah ada uang dibeli lagi 5 juta, silahkan saja.

 

Begitu juga hukum cipika cipiki, istri karkun cipika cipiki dengan adik laki suaminya, walaupun di izinkan suaminya tapi ini perbuatan Haram. Walaupun dapat izin cipika cipiki sama suami, istri haram hukumnya bercipika cipiki dengan yang bukan mahrom. Izin suami tidak menghalalkan produk hukum yang sudah ada ketetapannya.

 

Pentingnya Akhlaq dalam Dakwah

 

Agama akan datang kepada kita, pribadi kita, dengan mujahaddah. Ini janji Allah swt :

 

Walladzina jahadu fiina lanahdiyannahum subulana

 

artinya :

 

Dan orang-orang yang bersusah payah untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan (Hidayah) menuju Kami. (QS. 29:69)

 

  1. Jika kita berpayah-payah untuk tahajjud, nanti Allah swt akan berikan Taufiq
  2. Jika kita berpayah-payah baca Quran, nanti Allah swt berikan petunjuk
  3. Jika kita berpaha-payah nyari ilmu, nanti Allah swt akan berikan kepahaman
  4. Jika kita bersusah-payah ke mesjid, nanti Allah swt berikan hidayah

 

NAMUN jika kita ingin menyebarkan hidayah kepada orang lain ini HARUS dengan Akhlaq. Tidak bisa kita sebarkan agama kepada orang lain dengan mujahaddahnya kita. Dengan bermujahaddah agama akan meningkat untuk diri kita. Namun untuk membawa agama kepada orang lain diperlukan Akhlaq. Orang biasa makan kambing di iqrom lele, salah ini. Taskilan baru doyan makan kambing, kasih kambing, ini baru Iqrom asbab hidayah. Tapi kalo orang suka kambing dikasih lele, macam saya ini kalau liat lele mau mati rasanya, apalagi dia orang baru, bisa kabur dia nanti. Atau taskilan baru ke markaz, kita bilang ke dia pak maaf makan malam nanti jam 11, sekarang kita mujahaddah ikut program biar hidayah turun katanya, kalo kita naskil macam ini bisa lari orang dari kita. Mujahaddah itu untuk diri kita, kepada orng lain kita harus tunjukkan Akhlaq. Jadi untuk menjadi asbab hidayah kita harus Iqrom, kita korbankan kesengan kita untuk menyenangkan taskilan kita. Kalau untuk diri kita kita harus bermujahaddah. Namun dengan Iqrom kita ini bisa menjadi asbab Hidayah bagi diri kita dan orang lain. Kenapa kita dapat hidayah ? karena mujahaddah mengiqrom taskilan kita.

 

Hidayah akan datang :

 

  1. Diri kita dengan Mujahaddah
  2. Orang lain dengan Akhlaq

 

Maka penting kita jaga Akhlaq dalam dakwah. Seorang pelacur saja Iqrom kepada anjing saja Allah maafkan seluruh dosa-dosanya dan Allah swt masukkan kedalam surga. Bagaimana dengan kita Iqrom Ulama. Kita ini bukan pelacur dan ulama itu tidak mungkin sederajat dengan anjing. Betapa besar ganjaran yang Allah swt akan berikan kepada kita jika kita Iqrom ulama walaupun hanya dengan segelas air saja.

 

Akhlaq Nabi saw dalam Dakwah

 

Lihat Iqrom Nabi Saw kepada musuh Islam agar dapat Hidayah kepada :

 

  1. Khalid bin Walid
  2. Amr bin Ash
  3. Ikrimah bin Abu Jahal
  4. Wahsyi

 

Mereka ini pentolan-pentolan Kafir Quraish yang sudah membunuh banyak umat islam. Menghabisi 70 orang sahabat RA termasuk didalamnya paman Nabi saw Hamzah RA dalam peperangan. Namun Rasullullah SAW tetap ingin mereka dapat hidayah, ini risau dan akhlaq nabi saw, tidak pendendam. Ketika Nabi saw hendak pergi Umrohtul Qadha menjelang Hudaibiyah, Nabi saw menanyakan Khalid bin Walid kepada saudaranya. Namun Khalid lari bersembunyi menghindar, tak mau jumpa nabi saw. Lalu Nabi saw katakan kepada saudaranya : “Mana itu kamu punya kaka, kemana dia ? Khalid itu orang baik dan cerdas. Tetapi kenapa dia menggunakan kecerdasannya itu untuk sesuatu yang tidak baik.” Maka mendengar ini dari Nabi saw maka adiknya langsung mengirim surat kepada Khalid, bahwa nabi saw mencari dia dan tidak menaruh dendam atau benci kepada khalid. Beliaupun mengatakan bahwa khalid orang baik dan cerdas. Khalid membaaca surat adiknya ini terkesan, sudah demikian rupa perbuatan khalid, tapi masih Nabi saw masih memperhatikan dia. Asbab ini khalid datang kepada Nabi saw dan disambut Nabi saw dengan gembira.

 

Begitu pula Amr bin Ash ketika datang disambut oleh Nabi saw dimuliakan dan di iqrom oleh nabi saw.

 

Begitu pula Ikrimah bin abu jahal, ketika ayahnya mati di medan perang di marah sekali, sampai memutus tangan anak yang membunuh ayahnya. Namun ketika futuh mekah, beliau lari, dan dikejar oleh istrinya membawa jaminan dari Nabi saw. Istrinya berkata suami saya orang baik saya mau dakwahi dia, berikan jaminan untuknya. Maka nabi saw berikan sorbannya sebagai jaminan keamanan bagi Ikrimah. Nabi pesan kepada para sahabat bahwa nanti Ikrimah akan datang kalian jangan hinakan ayahnya, abu jahal. Sampai seperti itu Nabi saw berakhlaq kepada musuhnya demi Hidayah. Ikrimah datang kepada Nabi saw dimuliakan oleh nabi saw.

 

Begitu pula Wahsyi yang membunuh paman Nabi saw yang sangat Nabi saw cintai. Bahkan hanya sekedar membunuh tapi merobek dada hamzah RA dan mengambil jantungnya. Nabi sedih melihat perlakuan musuh kepada pamannya. Maka Nabi saw terucap akan membalas perbuatan mereka, manusiawi walaupun seorang nabi tapi sisi kemanusiaan tetap ada. Namun Allah swt tegur nabi :

 

Wa in ‘āqabtum fa ‘āqibụ bimiṡli mā ‘ụqibtum bih, wa la`in ṣabartum lahuwa khairul liṣ-ṣābirīn

 

Terjemah Arti:

 

Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (QS An Nahl : 126)

 

Jika di dzolimi kita mau membalas maka balas lah yang setimpal jangan lebih, tetapi kalau sabar ini lebih baik buat kita. Setelah memberi pilihan, namun Allah swt sendiri yang mengarahkan untuk bersabar. Maka atas pilihan in dan mana yang Allah swt mau, maka Nabi saw lebih memilih untuk sabar.

 

Ketika Mekah terbuka, Futuh Mekkah terjadi, Wahsyi kabur takut dibalas oleh Nabi saw atas perbuatannya. Namun Nabi saw tetap ingin wahsyi dapat hidayah, karena nabi saw tidak ingin memasukkan orang kedalam api neraka. Maka Nabi saw kirim surat berkali-kali kepada wahyi merayu dia, pembunuh pamannya, agar mau menerima islam. Akhirnya wahsyi datang kepada Nabi saw untuk memeluk islam dan Nabi mengabarkan kepada Wahsyi bahwa Allah swt telah mangampuni dan memaafkan wahsyi. Setelah masuk islam wahsyi sangat terkesan dengan akhlaq nabi saw, sehingga selalu merindukan Nabi saw. Dia selalu memikirkan cara bagaimana bisa menyenangkan Nabi saw dan bagaimana bisa menebus kesalahan dia membunuh paman Nabi saw. Setelah Nabi saw wafat pikiran untuk menyenangkan nabi saw terus ada di benak wahsyi. Maka tatkala ada takaza perang melawan Nabi palsu, musailamah bin khazzab, Wahsyi berhasil menombak nabi palsu dengan tombak yang ia gunakan untuk membunuh paman Nabi saw. Lalu Wahsyi sujud syukur dan berkata :

 

“Ya Allah sekarang aku telah bayar. Ya Allah Saksikanlah, dulu aku membunuh orang yang paling Nabi saw cintai dengan tombak ini, sekarang saksikan ya Allah semua itu telah aku bayar dengan membunuh orang yang paling Nabi saw benci.”

 

Seorang Nabi saw kalau soal amal selalu paling depan karena harus memberi contoh kepada yang lain. Beda dengan seorang filosuf, beda di ucapan beda juga diperbuatan, pandai bicara tapi tidak ada amalnya.

 

  1. Nabi : dengar yang aku ucapkan dan lihat apa yang aku kerjakan
  2. Filosuf : dengar yang aku ucapkan tapi jangan lihat apa yang aku kerjakan.

 

Inilah bedanya seorang Nabi dan Ahli Filsafat. Sehingga jika kita lihat sejarah tidak ada ahli filsafat ini yang akhir hidupnya happy ending. Ini karena ahli filsafat ini hanya ahli retorika, ahli bicara, tapi tidak ahli dalam amal. Sedangkan seorang Nabi itu dengarkan apa yang aku katakan dan lihatlah apa yang aku kerjakan :

 

Shollu kama roaitumuni usholli : “Sholatlah kamu sebagaimana Aku Sholat” (Hadits)

 

Jadi Nabi saw selain memerintahkan, beliaupun ikut mencontohkan. Anatara Ucapan dan Amal sama. Ketika Nabi saw memerintahkan untuk sholat, maka nabi pun ikut mengamalkan, memberi contoh kepada ummat cara sholat. Jadi nabi saw itu tidak ada sholat yang disembunyikan. Ketika nabi saw kasih perintah, maka beliau pula yang pertama kali mengerjakan. Namun ada 1 amal menurut ulama yang nabi perintahkan tapi tidak nabi kerjakan, yaitu membunuh orang kafir. Jadi dalam peperangan itu jika kita bunuh 1 orang kafir maka kita dijamin masuk surga, jika 10 orang kafir makin tinggi surganya. Semakin berani kita berjuang di medan perang dan membunuh orang kafir semakin tinggi surganya. Tapi Nabi saw malah berusaha untuk membunuh orang. Selama bisa menghindar dari membunuh orang maka nabi tidak akan membunuh. Seumur hidupnya Nabi saw hanya membunuh 1 orang saja itupun bukan membunuh langsung tapi mati ketakutan yaitu ubay bin khalaf. Kejadian ini di mekkah ketika ubay bin khalaf sombong diatas kuda memamerkan kudanya, mengintimidasi Nabi saw dengan mengatakan akan membunuh Nabi saw.

 

Ubay bin Khalaf seorang kafir yang berjanji akan membunuh nabi di medan perang, tapi nabi saw bilang aku dulu yang akan membunuh kamu. Ketika di uhud nabi dalam keadaan terdesak ubay bin khalaf mencari Nabi untuk membunuh Nabi saw. Maka ketika bertemu Nabi saw duluan melempar tombak sehingga menggores sedikit saja dari leher Ubay bin Khalaf. Maka Ubay teriak-teriak ketakutan, padahal kata abu sofyan itu hanya goresan sedikit saja kenapa harus sampai histeris teriak-teriak ketakutan. Tapi apa kata Ubay bin khalaf jangankan goresan, jika nabi meludah saja aku yakin akan mati. Begitulah keyakinan orang kafir pada Nabi Saw. Akhirnya Ubay bin Khalaf mati asbab goresan tombak nabi saw tersebut, itupun di mekah bukan di medan perang.

 

Jadi Nabi saw berusaha untuk tidak membunuh orang, Kenapa ? karena nabi saw ini ingin membawa seluruh manusia ini kedalam surganya Allah swt.

 

Kisah Abu Bakar dan Pembunuh Putranya

 

Suatu ketika dalam peperangan anak abu bakar RA terbunuh asbab pengkhianatan. Namun orang yang membunuh anak abu bakar RA ini masuk islam. Ketika Abu Bakar RA menjadi khalifah pembunuh anaknya abu bakar ini ketakutan. Maka Abu Bakar RA panggil dia si pembunuh ini. “Wahai saudara kemari jangan takut.” Apa yang Abu Bakar RA sampaikan kepada pembunuh anaknya tersebut :

 

“Wahai saudaraku sesungguhnya anak-anak panah kalian lebih mulia dibanding anak-anak panah kami. Itu karena anak-anak panah kami mengirim manusia ke dalam neraka, sedangkan anak-anak panah kalian mengirim kami ke surga.”

 

Jadi ketika orang islam membunuh orang kafir kemana dia pergi ? ke Neraka. Sedangkan ketika orang kafir membunuh seorang islam kemana dia pergi ? ke Surga. Jadi mana yang mendatangkan kemuliaan kepada yang gugur atau yang mati dalam perang apakah panah orang islam atau panah orang kafir ? panah yang membawa seseorang ke surga itulah yang lebih mulia. Maka dalam dakwah ini kita meluruskan niat untuk membawa manusia ke surga, walaupun dalam peperangan jangan ada pikiran untuk mengirim orang ke neraka. Memanah dalam peperangan biasa, tapi niat untuk mencari Ridho Allah, amal mana yang bisa mengantarkan kita ke surga bukan karena ingin mengirim orang ke neraka.

 

Jadi Nabi saw fikirnya selalu bagaimana manusia ini semua bisa masuk kedalam surganya Allah swt. Nabi bukan di utus untuk menghantarkan manusia ke neraka, tetapi Nabi saw diutus untuk membawa manusia ke surganya Allah swt. Bagaimana caranya mengantarkan manusia ke surga ? yaitu dengan akhlaq.

 

Jadi islam akan tersebar dengan Akhlaq. Inilah kekurangan kita hari ini, sedikit sekali dari kita bisa mengikuti daripada Akhlaq Nabi saw dan para sahabat RA.

 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Iman itu ada tujuh puluh atau enam puluh cabang lebih, yang paling utama adalah ucapan ‘Laailaahaillallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan, dan malu itu salah satu cabang keimanan” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Dari hadits ini :

 

  1. Cabang tertinggi dari Iman ini adalah : “La illaha Illallah”
  2. Cabang terendah dari iman ini adalah : “menyingkirkan duri dari jalan”

 

Jadi Yakin pada Allah itu adalah iman, begitu pula menyingkirkan duri dari jalan juga termasuk iman. Belajar dari hadits ini maka, membersihkan wc, membuang sampah, itupun juga termasuk bagian dari iman. Sholat menangis dalam doa itu adalah iman, senyum kepada istripun juga bagian dari iman.

 

Suatu ketika ada orang awam pergi numpang kencing di mesjid kebun jeruk. Setelah keluar dia bilang bahwa saya sudah sering keluar masuk mesjid untuk kencing. Namun di kebun jeruk ini tempat kencing bersih sekali. Padahal berapa banyak orang bayan di kebun jeruk, tapi yang bikin orang terkesan justru dari perkhidmatan wc, bukan bayan-bayannya ketia orang awam tadi datang ke markaz. Akhirnya orang ini berangkat 40 hari dia setelah dijelaskan mesjid apa ini kebun jeruk kenapa beda dengan yang lain.

 

Jika Akhlaq ini ada dalam diri setiap ahbab dan ulama kita maka orang akan berbondong-bondong ambil ini kerja.

 

Ikhlas

 

Semua amal yang kita kerjakan hendaknya kita bawa dengan keikhlasan. Syarat diterimanya amal ini adalah Ikhlas. Tanpa keikhlasan seseorang tidak akan diterima oleh Allah swt. Dan keikhlasan ini akan nampak menjelang kematian.

“Segala sesuatu yang tidak didasari ikhlas karena Allah, pasti tidak bermanfaat dan tidak akan kekal.”  (Dar-ut Ta’arudh Al ‘Aql wan Naql, 2: 188).

Para ulama juga memiliki istilah lain,

“Segala sesuatu yang didasari ikhlas karena Allah, pasti akan langgeng.”

Ada juga perkataan dari Imam Malik :

Para ulama menyebutkan bahwa Imam Ibnu Abi Dzi’bi yang semasa dan senegeri dengan Imam Malik pernah menulis kitab yang lebih besar dari Muwatho’. Karena demikian, Imam Malik pernah ditanya, “Apa faedahnya engkau menulis kitab yang sama seperti itu?” Jawaban beliau, “Sesuatu yang ikhlas karena Allah, pasti akan lebih langgeng.” (Ar Risalah Al Mustathrofah, hal. 9. Dinukil dari Muwatho’ Imam Malik, 3: 521).

Amal yang di dasari dengan Ikhlas pasti akan langgeng akan bersambung terus, berkelanjutan. Jika kita membuat sesuatu bukan karena Allah swt pasti akan terputus, berhenti.

 

Nabi saw bersabda mahfum :

 

“inaa ahadakum ya’malu bi amali ahlinnaar hatta yakun bainahu wa bainaha illa dziro, fa yasbit alaihil-kitaab fa ya’mal bi amali ahlil-jannah fa yadkhuluha wa inna ahadakum ya’malu bi ‘amali ahlil-jannah hatta yakun bainahu wa bainaha illa dziro, fa yasbit ‘alaihi kitab fa ya’mal bi ‘amali ahlinaar fa yadkhuluha”

 

Artinya :

 

“Ada diantara kalian kata Rasul, maksudnya diantara manusia yang beramal dengan amalan ahli surga, amal sholeh siang dan malam sampai antara dia dengan surga tinggal satu hasta, lantas didahului oleh takdirnya Allah, lantas dia beramal dengan amal ahli neraka dan dia masuk nereka, ada diantara kalian yang beramal dengan amalan ahli nereka, sampai antara dia dengan neraka satu hasta saja, didahului ia oleh keputusan Allah, maka ia beramal dengan amalan ahli surga dan ia masuk kedalamnya.” (Hadits)

 

Nabi menceritakan ada seseorang yang beramal sebagaimana amalnya penghuni surga sepanjang hidupnya, sehingga jarak antara dia dengan surga tinggal 1 jengkal lagi, satu hasta lagi. Tiba-tiba menjelang akhir hayatnya dia berpaling dengan beramal seperti amalnya ahli neraka. Kenapa ini terjadi ? ulama katakan berdasarkan penelitan menjelang akhir hayatnya Allah swt bongkar semua amal yang dikerjakan sepanjang hidupnya sehingga dia berpaling kepada amal nya penghuni neraka ini disebabkan ketidak ikhlasan dalam amalnya. Jadi orang yang beramal tidak ikhlas pasti sebelum mati akan Allah swt bukakan. Namun jika dia beramal ikhlas karena Allah swt, maka nanti akan Allah swt bukakan kepada dia menjelang dia mati, bahwa dia adalah seorang yang mukhlis.

 

Kisah Ali RA berperang karena Allah swt

 

Ali berperang dalam suatu pertempuran. Ketika itu musuhnya sudah kalah bertarung dengan Ali RA. Menjelang Ali RA hendak menebas lehernya, maka si musuh meludah ke wajah Ali RA. Terkejut Ali RA dengan ludah dari lawannya. Sebelum pedang memenggal leher lawannya, Ali RA mendadak memberhentikan ayunan pedangnya. Ali RA lalu berpindah mencari lawan yang lain. Maka musuh yang sudah pedang hampir menebas lehernya bingung, kenapa Ali RA berhenti dan tidak jadi membunuhnya. Maka dia datangi Ali RA dan bertanya kenapa tadi tidak jadi memenggal lehernya. Maka Ali RA katakan :

 

“Sesungguhnya ketika aku berperang ini aku membunuh karena Allah swt, ketika kamu meludahi aku tadi aku khawatir niatku berubah bukan karena Allah swt tapi karena nafsuku. Maka aku hindari dan tidak jadi memenggal lehermu.”

 

Jadi hendaknya kita mengamalkan agama ini karena ingin mencari Ridho Allah swt saja bukan hanya karena nafsu ataupun semangat saja bukan semata-mata karena Allah swt saja. Hari ini kita sering korbankan arahan atau perintah Allah swt demi nafsu kita saja, semangat tidak karuan.

 

Note Penulis :

 

Seperti ada orang dalam bayan menantang mengirim jemaah ke daerah wabah jangan takut sama corona tapi takut hanya kepada Allah swt, ini nafsu saja tapi tidak ada dalam arahan atau perintah Allah swt dan RasulNya. Semangat ingin berbuat baik tapi dengan meninggalkan perintah Allah swt dan sunnah nabi saw.

 

Lurusnya Ketaatan Utsman RA

 

Nabi saw memimpin para sahabat ra untuk melaksanan Umroh ke mekah. Nabi saw berjalan ke mekah membawa 1500 sahabat untuk umroh. Sesampai di Hudaibiyah rombongan berhenti, dicegah oleh orang kafir Quraish. Padahal mereka tidak punya hak menghalangi rombongan Nabi saw dan para Sahabat RA untuk melaksanakan Umroh. Karena dihalangi dan dilarang masuk mekkah, Nabi saw bermusyawarah dengan para sahabat untuk mengirim utusan negosiator ke mekkah bertemu dengan petinggi Kafir Quraish. Maka diutuslah Utsman bin Affan RA ke mekkah untuk negosiasi bahwa nabi saw dan rombongan datang hanya untuk berumroh bukan untuk berperang. Utsman RA pergi ke mekkah dalam keadaan memakai Ihrom. Ketika selesai negosiasi para kafir Quraish menawarkan Ustman untuk umroh karena sudah kadung pakai ihrom dan sudah di mekah. Orang kafir Quraish menerima Ustman RA dengan baik asbab mereka banyak berhutang budi dengan utsman RA ketika beliau masih di mekkah. Namun apa kata Ustman RA ? dia bilang, “saya datang kemari bukan untuk menyelesaikan Umroh, tapi saya diutus Nabi saw hanya untuk berbicara dengan kalian.” Inilah ketaatan Utsman RA, padahal bisa saja dia umroh dulu dan ditawarkan lagi oleh kafir quraish tidak dihalang-halangi seperti rombongan Nabi saw yang belum tentu bisa masuk mekkah.

 

Jadi pelajaran dari kisah Utsman RA ini bahwa kesemangatan dalam amal itu tidak boleh mengalahkan arahan atau ketaatan. Utsman RA tidak asal semangat aja tiba-tiba umroh dulu, ini kan perbuatan baik Umroh, lalu meninggalkan arahan yang hanya diutus untuk negosiasi saja bukan untuk yang lain. Dia Utsman RA tidak beragama hanya berdasarkan semangat saja tapi dia ikut arahan Nabi saw. Dia lurus tidak mau membuat amalan sendirian dan meninggalkan Nabi saw. Dia tidak mau mengalahkan kerja yang diberi Nabi saw dengan Keinginan dia untuk Umroh.

 

Karguzari :

 

Seorang Masyeikh Yaman pergi keluar di pakistan. Setelah wabsyi dia ingin membeli syal-syal murah di markaz raiwind untuk di bawa ke yaman karena sangat murah dan kalo dijual dia bisa balik modal keluar. Maka dia menghadap masyeik menanyakan perkara tersebut bahwa dia sudah ikut bayan wabsyi boleh gak dia belanja syal di markaz untuk di jual di yaman mumpun dia masih di markaz raiwind. Maka masyeikh pakistan katakan jangan, kamu pulang dulu ke yaman buat karguzari baru balik lagi kesini markaz raiwind untuk belanja dagangan. Kenapa ? masyeikh tidak ingin bercampur antar tugas dakwah dan keinginan untuk berdagang, nanti rusak keikhlasannya, tidak lurus lagi niatnya.

 

Doa Maulana Ilyas tentang Ikhlas dan Istikhlas

 

  1. Ya Allah kesusahan yang ada di jaman Nabi saw dan para Sahabat RA jangan engkau berikan kepada umat hari ini.

 

  1. Ya Allah Siapapun yang ada di hatinya ingin buat kerja dakwah ini maka mudahkanlah walaupun tanpa asbab yang memadai

 

  1. Ya Allah Siapapun yang punya niat keduniaan mengambil manfaat dari kerja dakwah ini maka singkirkan dia.

 

Inilah 3 doa maulana Ilyas yang di ijabahi oleh Allah swt

 

  1. Hari ini kalau kita keluar bukan dilempar batu tapi berbondong bondong dilempar makanan alias dijamu, sampai kenyang-kenyang kita semua makan

 

  1. Banyak hari ini petani-petani miskin mampu keliling dunia dan berangka 4 bulan ke India Pakistan Banglades

 

  1. Doa ketiga ini berapa banyak karkun lama yang terpental asbab dia mencari manfaat dunia dari kerja ini terpental dari kerja dakwah.

 

 

Capek dia dalam kerja dakwah, habis-habisan dia korban, tapi terpeleset dalam niat ingin mencari kedudukan dalam dakwah akhirnya dia terpental dari dakwah. Penting kita buat kerja ini semata-mata karena Allah swt.

 

Teladan Para Sahabat RA

 

Allah swt puji para sahabat RA di dalam Al Quran bukan karena ibadahnya saja, tetapi juga karena Akhlaq mereka. Allah swt puji para sahabat RA bukan hanya Tahajjud mereka, tetapi mereka juga mampu memberi makan kepada orang kafir.

 

Allah swt puji sahabat dalam Al Quran :

 

wa yuṭ’imụnaṭ-ṭa’āma ‘alā ḥubbihī miskīnaw wa yatīmaw wa asīrā

 

Artinya :

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. “(QS 76 : 8)

 

Orang kafir yang kalah perang ditwan oleh para sahabat RA, dibawa ke mesjid nabawi lalu di ikat di tiang-tiang mesjid Nabawi. Padahal banyak sahabat yang terbunuh oleh tawanan tersebut bahkan anak mereka, paman mereka, adik akak mereka, terbunuh oleh tawanan orang kafir di medan perang. Kini mereka di ikat di tiang mesjid nabawi. Namun tatkala waktu makan tiba, para sahabat menggelar supra di mesjid nabawi, menjamu makan para tawanan perang. Tangan yang sama yang hendak memenggal leher mereka, kini tangan yang sama menyuapkan mereka makanan. Akhlaq sahabat RA inilah yang dipuji oleh Allah swt dalam Al Quran. Asbab ini banyak tawanan perang mengucapkan asyhadualla illaha illlah wa ashadu anna muhammad darusullah. Tidak sampai 3 hari para tawanan masuk islam, karena mereka melihat suasana mesjid bagaimana nabi saw ber muamalah dan bermuasyarah dengan para sahabat RA. Saling Kasih sayang dalam islam diantara mereka membuat para tawanan ingin hidup seperti sahabat RA.

 

Kisah Islamnya Sumamah RA

 

Sumamah ketika itu menjadi tawanan perang Nabi SAW. Banyak sahabat mati di tangan dia, dan para sahabat RA tidak tahu itu sumamah. Nabi terus dakwahi sumamah untuk menerima islam, tapi sumamah menolak. Bahkan mengancam nabi saw kalau mau bunuh saya masih banyak kaumnya sumamah yang siap membalas kematian dia. Namun nabi saw terus berdakwah para sahabat bingung kenapa nabi mau aja mendakwahi dia. Maka Nabi saw bilang tawanan perang ini adalah sumamah, maka para sahabat terkejut, sampai-sampai Umar RA mau memenggal kepala sumamah. Asbab keras hatinya sumamah tidak mau nerima dakwah nabi saw, akhirnya nabi saw memutuskan untuk membebaskan sumamah. Maka para sahabat lebih terkjut lagi, begitu pula sumamah. Ini seperti mengirim singa kembali untuk menerkam lagi nanti waktu perang. Tapi sumamah tetap dibebaskan oleh Nabi saw. Sumamah yang bingung dengan keputusan Nabi saw akhirnya keluar mesjid cari sumur dia mandi lalu kembali lagi ke mesjid dengan mengucapkan kalimat syahadat. Beginilah dakwah nabi saw, inilah Akhlaq.

 

Arahan dalam buat kerja

 

Allah swt berfirman di dalam AL Quran :

 

Wa sāri’ū ilā magfiratim mir rabbikum wa jannatin ‘arḍuhas-samāwātu wal-arḍu u’iddat lil-muttaqīn. Allażīna yunfiqụna fis-sarrā`i waḍ-ḍarrā`i wal-kāẓimīnal-gaiẓa wal-‘āfīna ‘anin-nās, wallāhu yuḥibbul-muḥsinīn

 

Artinya :

 

“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.”

(3:133-134)

 

Note penulis :

 

[ Siapa itu mereka yang mengejar itu surga ? yaitu mereka yang bersegera berbuat kebajikan dan mendekatkan diri kepada Allah agar kalian mendapatkan ampunan yang besar dari Allah dan masuk ke dalam surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang Allah siapkan bagi hamba-hamba-Nya yang bertakwa. ]

 

[ Siapa itu orang yang bertaqwa ? Orang-orang yang bertakwa ialah orang-orang yang membelanjakan hartanya di jalan Allah dalam keadaan mudah maupun susah, yang menahan amarahnya meskipun sebenarnya mampu melampiaskannya, dan yang memaafkan orang yang berbuat zalim kepadanya. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik yang memiliki perangai semacam itu. ]

 

Berinfaq itu pada umumnya di dalam Al quran itu merujuk kepada Infaq untuk memperjuangkan agama Allah swt.

 

Waktu Ijtima di Pakistan, datanglah seorang pemain cricket yang terkenal diantara negara2 commonwealth (jajahan ingris), namanya Imron. Pemain kaya karena hasil olah raganya. Imran ini pergi menghadap Maulana Saad, sampai akhirnya ditaskyl oleh Maulana Saad untuk pergi di jalan Allah. Namun si pemain cricket ini mengatakan bahwa dia tidak punya waktu dikarenakan kesibukannya. Sebaliknya dia mengatakan bahwa walaupun dia tidak mempunyai waktu tapi dia sudah banyak menyisihkan hartanya di sedekahkan untuk pembangunan mesjid, madrasah, dan panti asuhan yatim piatu, dsb. Jadi dia merasa harta yang dia dapatkan sudah dia sisihkan untuk kebaikan umat islam. Lalu apa jawabnya Maulana Saad :

“Wahai Imron kamu sudah berbuat membantu umat islam tapi kamu belum membantu agama islam”

Ini beda antara membantu ummat islam dan membantu agama islam , contohnya :

  1. Panti Asuhan Yatim Piatu ini dibangun untuk memelihara ummat islam
  2. Mesjid dibuat bagus2, pasang kipas, kasih karpet ini agar umat islam nyaman ibadahnya. Padahal Mesjid Nabi SAW sendiri cuman terbuat dari pelepah kurma dan pasir tidak ada kipas dan karpet. Sebenarnya tanpa mesjidpun kita bisa sholat. Di Sudan mesjid cuman dipatok dengan batu. Untuk apa ada mesjid ini untuk Ummat islam.
  3. Madrasah dibangun agar bisa memberi kenyamanan bagi ummat islam untuk belajar. Dijaman Nabi SAW mereka belajar dibawah-bahan pohon tidak ada madrasah di jaman Nabi SAW.

Inilah yang menjadi pertanyaan bagi Maulana saad :

“Kamu memang sudah membantu ummat islam namun apa yang sudah kamu kerjakan untuk agama islam ?”

Mendapatkan pertanyaan seperti ini si Imron ini terkejut, karena baru kali ini ada ulama yang bertanya seperti itu. Sekarang banyak orang yang sudah merasa membantu agama islam padahal belum, ini dikarenakan yang mereka lakukan adalah untuk membantu ummat islam, bukan agama islam. Kita tidak boleh menafikan apa yang orang sudah lakukan untuk ummat islam, karena semuanya juga berpahala dilakukan. Dari membangun mesjid, madrasah, panti asuhan, semuanya ini mendatangkan pahala.

Namun Janji Allah adalah “Barangsiapa membantu agama Allah maka Allah akan bantu dia”

Janji Allah yang pertama ini adalah bagi yang membantu agama Allah baru Allah akan bantu kita. Bagaimana membantu agama Allah ini adalah dengan dakwah yaitu berangkat 3 hari, 40 hari, dan 4 bulan fissabillillah, dengan harta dan diri sendiri.

Kita berkumpul disini dari seluruh propinsi untuk memikirkan kepentingan dakwah atau agama. Kita berkumpul disini tidak untuk bermusyawarah memikirkan bagaimana membangun mesjid, ataupun membangun madrasah, ataupun membangun panti asuhan, ataupun kita angkat senjata untuk membantu temen kita berperang disana, tidak ini bukan tujuan kita bermusyawarah disini. Itu nanti musyawarah lain. Tapi yang kita pikirkan disini adalah membantu agama Allah yaitu bagaimana agama wujud, agama dapat tersebar, dan rombongan-rombongan dakwah dapat diberangkatkan.

Untuk memahami ini jangankan kita diantara para sahabatpun juga terjadi perbedaan yang cukup menyolok untuk memahami perkara ini. Terjadi perbedaan yang keras antara satu orang sahabat melawan argument seluruh sahabat. Apalagi kita-kita ini yang berusaha untuk memahami. Menjelang Nabi SAW meninggal dunia satu hari sebelumnya Nabi SAW memberikan bayan hidayah kepada rombongan Usamah bin Zaid RA untuk menghadapi tentara Romawi yang akan menyerang kota Madinah. Berangkat petang itu juga, sebelumnya berkemah di tempat namanya al jurk. Namun keesokan harinya Nabi SAW wafat. Atas permintaan Ummu Aiman, ibu daripada Usamah, maka rombongan di tarik balik untuk menghadiri pemakaman Nabi SAW. Setelah Khalifah baru diangkat 3 hari setelah Nabi SAW meninggal, terdengar kabar bahwa :

  1. Pasukan Romawi di perbatasan sudah siap untuk menyerang
  2. Nabi Palsu dengan bala tentaranya 40.000 orang juga akan menyerang Madinah.
  3. Orang Munafiq mulai menentang kebijakan2 yang ada
  4. Orang yahudi mulai menghasut di dalam kota Madinah
  5. Munculnya banyak orang murtad sebanyak 100.000 orang (padahal ulama2 besar dan sahabat2 masih ada)
  6. Orang tidak mau membayar zakat

Apa keputusan Abu Bakar RA sebagai khalifah baru yaitu :

  1. Rombongan Usamah RA segera diberangkatkan untuk menghadapi Romawi
  2. Menyiapkan Rombongan Khalid bin walid dan Wahsyi untuk menghadapi Nabi palsu.
  3. Memerintahkan Umar RA membawa rombongan bergerak sekeliling Madinah

Sehingga yang tertinggal hanya Abu Bakar RA sendiri di Madinah tanpa penjagaan. Para sahabat bingung, karena kok aneh betul ini caranya. Pemikiran para sahabat RA, kalau madinah kosong, nanti bisa dibunuh istri2 Nabi SAW, bayi2 juga juga bisa dibunuh, serigala2 yang biasa datang di malam hari bisa memakan bangkai2 mereka nanti. Maka mereka semua tidak paham perintah amirul mukminin, di otak mereka kita harus mempertahankan madinah bukan membahayakannya. Tapi apa kata Abu Bakar RA, “Tidak, saya tidak akan merubah daripada perintah Rasullullah SAW, Usamah tetap harus berangkat.” Inilah perbedaan yang terjadi diantara sahabat RA. Mayoritas sahabat RA ini yakin dengan hidupnya umat islam ini yaitu ummatnya dijaga, istri2 Nabi SAW dijaga, bayi2 penerus generasi dijaga, maka islam akan mudah dikembangkan dan islam pasti akan terpelihara. Tapi Abu Bakar RA justru pemikirannya berbeda. Abu Bakar RA berkeyakinan jika Islam ini di jaga maka ummat islam akan terjaga, tetapi para Sahabat RA berpikir jika umat islam dijaga maka islam akan terpelihara.

Note dari Penulis :

Ketika itu yang orang-orang fikirkan adalah keselamatan orang-orang islamnya, padahal yang harus dirisaukan adalah bagaimana menyelamatkan agamanya terlebih dahulu. Begitupula yang dilakukan Nabi SAW ketika perang Badr, bahkan sampai Nabi SAW berdoa untuk kemenangan karena jika umat islam hancur di peperangan Badr ini maka habislah islam dari muka bumi. Inilah yang difikirkan Abu Bakar RA yaitu mengirimkan seluruh rombongan untuk menyelamatkan islam. Inilah perbedaan fikir yang mencolok antara satu orang sahabat ini melawan fikir sahabat-sahabat yang lain. Disini ada perbedaan pendapat diantara sahabat yang dapat menjadi pelajaran bagi kita semuanya.

Abu Bakar RA menyelesaikan masalah dengan menggunakan 2 prinsip :

  1. Prinsip Taqwa :

“Saya tidak rela agama berkurang di jaman kekhalifahan saya ini walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat di leher hewan qurban.”

Takwa ini maksudnya adalah Sempurna Amal. Jadi atas dasar prinsip ini, Abu Bakar RA tidak rela dijamannya agama ini berkurang sedikitpun walaupun itu hanya seutas tali yang mengikat leher hewan korban. Fikirnya Abu Bakar RA ini adalah bagaimana agama dapat sempurna diamalkan oleh umat islam ketika itu. Inilah prinsip yang digunakan untuk menghadapi orang-orang islam yang tidak mau membayar zakat. Jadi mereka diancam akan diberantas jika mereka tidak mau membayar zakat.

  1. Prinsip Tawakkal :

“Keluarkan semua laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Nanti biar Allah yang menjaga Ummul mukminin, keluarga nabi,bayi-bayi, dan wanita-wanita di madinah.”

Abu Bakar RA lebih rela melihat keluarga Nabi dalam bahaya, dibanding harus melihat agama dalam bahaya. Jadi bagi Abu Bakar RA, derajat Agama ini lebih utama dibanding keluarga Nabi SAW dan ummat islam itu sendiri. Ini sama dengan percakapan Nabi SAW dengan jibril. Ketika itu Jibril AS bertanya kepada Nabi Saw,”wahai Muhammad lebih mulia mana aku atau dirimu ?” Nabi Muhammad Saw menjawab, “Lebih mulia aku karena engkau diutus untuk aku.” Benar kata jibril, lalu jibril bertanya lagi, “Lebih mulia mana engkau atau agama islam ?”, Nabi Saw menjawab, “Lebih mulia islam, karena aku ditus untuk islam.” Agama lebih penting untuk diselamatkan dibandingkan ummat itu sendiri. Abu Bakar RA, mengirimkan semua laki-laki keluar dijalan Allah dan berserah diri kepada Allah atas keadaan di Madinah inilah Tawakkalnya Abu Bakar RA. Prinsip ini yang digunakan untuk menghadapi orang murtad, nabi palsu, dan musuh islam yang mau menyerang madinah dari luar.

Bahkan Umar RA yang terkenal pemberani karena perbedaan pendapat ini, dimarahi oleh Abu Bakar RA. “Wahai Umar RA, kenapa kamu menjadi seorang pemberani ketika masih kafir dan sekarang setelah dalam islam kamu menjadi seperti seorang pengecut.” Maka digebuk umar oleh Abu Bakar RA. Jika Umar RA seorang pemberani berpikir seperti seorang pengecut bagaimana jadinya dengan yang lain, akan makin banyak pengecut2 yang lain.

Note Mubayin :

Percuma jadi karkun, sebelum jadi karkun kelihatan berani, tapi setelah jadi karkun lebih banyak pembenarannya : “Kita harus hikmah” katanya. Ini pengecut namanya.

Marah ketika itu Abu Bakar RA melihat Umar “Apa kamu ini umar pemberani dijaman Jahiliah tetapi pengecut dijaman Islam”. Jika Umar seperti ini bagaimana sahabat2 RA yang lain menyikapinya. Abu Bakar RA tidak ingin Umar RA menjadi seorang pengecut. Digampar ketika itu Umar RA oleh Abu Bakar RA. Namun karena tempelengan Abu Bakar RA ini berdasarkan Taqwa, tiba-tiba terhenyak Umar RA seperti orang baru terjaga dari mimpi. Umar RA dari tempelengan tersebut seakan-akan melihat cahaya, Umar tersentak dan berkata,“benar engkau wahai Abu Bakar”, langsung pergi dia dengan rombongannya.

Ketika Islam dijaga, maka pertolongan Allah akan datang :

  1. Pasukan Romawi mengundurkan diri
  2. Nabi Palsu bisa dibunuh oleh wahsyi ( dengan lembing yg sama membunuh paman Nabi SAW) ketika itu Wahsyi sujud syukur karena bisa membayar dosa dengan lembing yang sama.

Begitulah Wahsyi dengan kebanggaan dapat membayar dengan lembing yang sama membunuh orang yang paling Nabi SAW cintai yaitu Hamzah RA, dia juga membunuh orang yang dibenci Nabi SAW yaitu Nabi Palsu, Usamah Al Kahzab laknatullah alaih. Maka kita juga harus seperti itu, dulu sebelum jadi karkun suka main judi dan mabuk-mabukan, maka setelah jadi karkun kita datang ke tempat yang sama ajak teman-teman yang dulu kepada Allah. Kita harus berani dan dan bangga seperti wahsyi menebus kesalahannya yang dulu. Jangan seperti orang yang dulu berani sebelum ikut dakwah, kelahi dimana-mana buat kebathilan, sekarang setelah jadi karkun malah loyo alasannya “Hikmah”. Ini percuma jadi karkun.

Jadi ketika Pasukan Usamah berangkat untuk menghadang, rombongan Khalid dan Wahsyi juga berangkat, lalu rombongan Umar RA keliling Madinah, apa yang terjadi ? pasukan Romawi ketakutan, mereka berpikir andaikata sedemikian banyak rombongan yang diberangkatkan berarti yang didalam kota madinah lebih banyak lagi. Akhirnya pasukan Romawi tidak berani menyerang Madinah.

Catatan Penulis :

Disinilah terdapat 2 perbedaan pemikiran dan menyangkut kepada masalah keimanan. Dimana Abu Bakar RA yakin jika semua pergi di jalan Allah, maka nanti Allah akan selesaikan semua masalah : orang murtad, nabi palsu, yang tidak mau bayar zakat, dan pasukan romawi yang sudah siap menyerang. Hanya dalam waktu tempo 3 hari saja setelah semua pergi di jalan Allah akhirnya masalah terselesaikan : Madinah tetap aman, 100.000 orang murtad masuk islam lagi, orang membayar zakat lagi, Nabi palsu dapat ditumpas, dan Pasukan Romawi mundur. Jadi risaunya Abu Bakar RA ini adalah Islamnya atau Agamanya dulu, bukan orang-orang Islamnya. Hari ini ada pemikiran seperti yang terjadi ketika sahabat berbeda pendapat dahulu. Sekarang kebanyakan kita ini risaunya adalah orang-orang islamnya, seperti orang islam ada yang dibunuh, diperkosa, diperangi, hak-haknya dirampas, kekurangan makan, miskin keadaannya, pengungsi-pengungsi, ini boleh saja. Tetapi seharusnya yang lebih penting lagi adalah risau atas islamnya. Akibat islamnya tidak dijaga, sehingga Allah tidak menjaga ummat islam. Ini karena islam itu sendiri sudah diacuhkan oleh orang islam. Kita lihat hari ini orang islam kebanyakan tidak sholat, mesjid kosong. Sholat berjamaah di masjid sudah tidak diacuhkan oleh umat saati ini. Lalu sunnah-sunnah Rasullullah SAW sudah ditinggalkan oleh orang islam, bahkan dianggap aneh bagi yang mengamalkannya. Kehidupan orang islam sudah seperti kehidupan orang yahudi dan nasrani, tidak ada bedanya dengan cara-cara atau kehidupan orang kafir, sulit dibedakan mana yang beriman dan mana yang kafir. Semua kehidupan sunnah Nabi SAW sudah ditinggalkan oleh ummat islam itu sendiri. Tetapi begitu terjadi musibah, semua orang berpikir sama, “Apa dosa saya ? Kenapa ini bisa terjadi, musibah seperti ini ? Kenapa Allah tidak tolong kita ?”. Ummat islam diusir, dibunuh, dijajah, diperkosa hak-haknya, tetapi fikirnya hanya diri mereka sendiri saja (“Apa dosa saya ?”). Padahal jemaah-jemaah dakwah sudah datang mengajak kepada sunnah, kembali kepada amal Nabi SAW, amalkan islam, taat pada perintah Allah. Walaupun perkara-perkara ini sudah didengar berkali-kali, tetapi tetap saja sama tidak ada peningkatan amal. Ditaskil, diminta untuk keluar di jalan Allah tidak mau, maka itulah akibatnya, musibah banyak datang. Tetapi fikirnya “Apa dosa saya ?”. Islamnya sudah kita tinggalin, kita acuhkan, tetapi ketika musibah tiba-tiba datang tidak terpikir amal-amal kita yang buruk, bahkan bertanya, “Kenapa Allah tinggalkan kita ? kenapa Allah tidak tolong kita ?”

Inilah perbedaan antara pergerakan kita dengan pergerakan-pergerakan lainnya. Gerak kita ini adalah gerakan untuk membantu agama Allah. Sedangkan organisasi-organisasi dunia ini kita tidak boleh menafikan perjuangan mereka. Mereka juga bergerak memberikan manfaat untuk membantu umat Islam, sedangkan kita bergerak untuk membantu agama Islam. Kita harus yakin ketika islam kita bantu untuk ditegakkan maka umat islam akan dijaga oleh Allah Swt.

Inilah maksud kedatangan kita kemari dari seluruh propinsi yaitu kita bermusyawarah bagaimana membantu agama Allah :

  1. Kita duduk disini untuk berfikir bersama-sama bagaimana mengeluarkan rombongan sebanyak-banyaknya untuk membantu agama Allah. Kita dengar kargozary, kita bentangkan takazanya, lalu kita siapkan diri kita untuk ambil bagian. Pertolongan Allah akan datang kepada saya ketika saya bantu agama Allah, maka saya keluar berangkat.
  2. Kita berfikir dan bermusyawarah bagaimana kita membantu saudara kita. Apa yang kita bantu ? keperluan dan kebutuhannya itu baik, tapi yang penting bagaimana kita bisa bantu dia mendekatkan diri kepada Allah. Syekh Abdul Wahab, Masyeikh Pakistan, katakan :

”Orang yang cinta kepada Allah tapi dia tidak mau membantu saudaranya untuk cinta kepada Allah, dan mengusahakan agar bagaimana Allah cinta pada saudaranya tersebut, maka Allah tidak akan cinta kepada dia. Walaupun orang ini adalah seorang ahli dzikir dan ahli ibadah”

Maka atas perkara ini kita siapkan diri kita untuk keluar di jalan Allah swt.

Insya Allah kita siap !

Blog di WordPress.com.