Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro Indonesia : KH. Abdul Halim Sragen

BAYAN MUSYAWARAH SYURA KH ABDUL HALIM

Pandangan Bashar vs Bashirah. (Syuro Indonesia, Sragen, Bayan Musyawarah Indonesia 2006). Assalamualaikum w.b.t. Allah Swt menciptakan kehidupan bagi manusia, secara urut Allah Swt menghadirkan manusia ke alam dunia ini sesuai dgn kehendak dan kebijaksanaan dari Allah Swt. Lalu Allah Swt ciptakan sekian banyak kehidupan. Dan kehidupan yg Allah paling sukai dari sekian banyak kehidupan manusia adalah kehidupan Rasullullah Saw. Maka barangsiapa, siapapun itu dari dari org kaya atau org miskin, org pintar atau org bodoh, pejabat atau rakyat jelata, org sihat atau orang sakit, org kaya atau org miskin, org desa atau org kota, jika dia mengamalkan dpd kehidupan Rasullullah saw, maka dia akan berubah menjadi kekasih2 Allah. 

Seorang kekasih Allah, seseorg yg dicintai Allah, maka doa2nya akan ijabah disisi Allah. Seorg kekasih Allah ini, dia tidak akan terkesan kpd keadaan, tidak pernah merasa takut dan tidak akan pernah merasa sedih. Jadi kalau ada berita2 yg dahsyat dtg kpd dirinya, maka ini tidak akan membesarkan dpd hatinya. Jika dia kehilangan sesuatu yg dicintainya, yg sudah melekat lama dgn dirinya, maka dia pun tidak akan merasa sedih. Inilah ciri-ciri dpd kekasih Allah: “Ala in aulia Allah la khofun alaihim walayam lah tahnun” Artinya “Ketahuilah bahwa kekasih2 Allah swt hanya punya 2 ciri saja iaitu tidak pernah takut dan tidak pernah susah hatinya.”

Maka apabila kehidupan kita pada saat ini diliputi oleh ketakutan dan kesedihan. Ada berita bencana kita takut, penyakit menyebar kita takut, berita begini dan begitu kita takut, ada kehilangan kita sedih, ada kejadian begini dan begitu kita sedih. Maka ketakutan dan kesedihan ini ubatnya hanya satu yaitu ikuti kehidupan Rasullullah Saw. Hari ini org2 diliputi ketakutan, salah satunya ketakutan akan penyakit. Berita ttg penyakit yg macam2. Mari kita lihat rumah sakit dan klinik2 penuh dgn pesakit2. Mereka dihantar kesana, dgn rasa ketakutan ataupun rasa kesedihan. Akan tetapi yg namanya penyakit kalau di alam dunia, bukanlah suatu penyakit yg hakiki. Maka pernah seorg Nabiullah, Ayub AS, pernah di uji oleh Allah Swt dgn penyakit selama 70 tahun sakit di alam dunia.
Allah Swt uji Nabi Ayub AS dgn sejenis penyakit kulit yg menjijikkan, sehingga menyebabkan dia di usir dari kampung halamannya. Asbab kesabaran Ayub AS, Allah puji beliau di dlm Al Quran: “Inna wajabnahu shodiron nikmal adqinnahu awwab” Artinya: “Aku telah menemukan Ayub ini dlm keadaan sabar dgn penyakitnya, terusir dari kampungnya, maka senikmat-nikmatnya (sebaik2nya) hambaku adalah Ayub AS”. Allah Swt menyatakan demikian “Innahu Awwab”, senikmat2nya hamba. Ini asbab beliau ingin kembali kepada Allah Swt, rindu kepada Allah Swt. Selama 70 tahun sakit, bukan sekedar harian, mingguan, atau bulanan, tapi bertahun2. Maka gelar yang dicapai oleh seorang hamba yang sabar yang diuji dengan penyakit ini adalah “Nikmal Adn” yaitu senikmat-nikmatnya hamba. Sedangkan kita hari ini masih sehat, maka gelar apakah yang Allah berikan untuk kita ini masih tanda tanya. Apa sebabnya? karena hari ini kita masih takut dengan keadaan dan sedih dgn keadaan.
Padahal yg namanya penyakit ini bukanlah yg katanya penyakit lever, ginjal, jantung, atau diabetes, tetapi yg namanya penyakit adalah dosa yg melekat pada diri kita. Ini karena org yg berpenyakitan di dunia jika dia mati maka selesai sudah penyakitnya. Coba kita lihat kuburan yg berserakan sekarang adakah mereka yg sudah mati membawa penyakitnya ke alam kubur, penyakit levernya, cancernya, ginjalnya, tidak ada, semuanya sudah ditinggalkan dan dipisahkan oleh kematian. Penyakit tersebut hilang bersama maut yg menjemput dia, selesai sudah penyakitnya. Akan tetapi kalau dosa, suatu penyakit, yang apabila kita tidak obati ketika kita masih hidup, maka penyakit ini akan kita bawa terus ke alam kubur, ke alam mahsyar, dan ke hari2 di akherat lainnya yang tidak ada putus2nya.
Namun org yg mengobati dosa ketika dia masih hidup, maka dia akan kembali ketempat yg baik, karena balik ke akhirat tanpa membawa penyakit. Majelis kita dimalam hari ini bukanlah hanya sekedar majelis pengajian, namun termasuk majelis pengampunan. Dimana org yg hadir dimalam hari ini akan mendapatkan pengampunan dari Allah Swt, bahkan ketika dia berdiri semua keburukan2 yg lalu akan Allah gantikan dgn kebaikan2 dari sisi Allah Swt.
Maka majelis spt ini harus dihidupkan dimana2, di semua tempat, agar kita tidak di ombang-ambingkan oleh keadaaan. Jadi kehidupan yg paling dicintai Allah Swt ini adalah kehidupan dpd Rasullullah Saw. Atas perkara ini, Allah Swt perintahkan. Nabi Saw untuk mengumumkan, mengiklankan, kepada umat: “Qul inkuntum tuhibunnallah” : “Apakah kalian benar2 mencintai Allah?”. Ini karena cinta ada 2 iaitu cinta yang sodiq (cinta yg benar) dan cinta yang kazzib (cinta yg palsu). “Ana yuhibbullah” artinya saya cinta kepada Allah”. Kata-kata yuhibbu, mencintai, kalau hanya sekadar perkataan, maka ini hanya getaran di bibir saja. Jika hanya perkataan ini saja, maka dari anak kecil, org gila, bahkan burung kakaktua pun bisa mengata kan ini. Benarkah kita mencintai Allah Swt? maka ini ada persyaratan dan ada masyruk.
Persyaratannya adalah: “Fattabi’uni” artinya : “Ikutilah Aku, Rasullullah SAW”. Jadi org yg tidak mengikuti rasullullah SAW, walaupun dia mengucapkan berjuta2 kali, “ana yuhibbullah” (aku mencintai Allah) maka dia akan termasuk golongan para pencinta palsu. Maka hari ini kita harus jujur kepada Allah Swt bahwa mulai hari ini kita akan tarik kehidupan Rasullullah Saw ini dan akan kita letakkan kedalam kehidupan kita. Kalau sudah demikian, maka Allah Swt berjanji: “Yuhbibkumullah” (Allah akan Mencintai kamu). Kalau kita sudah ikut jalannya Rasullullah Saw dan kehidupannya Rasullullah Saw, baru Allah akan jatuh cinta kepada kita. Lalu apa keuntungannya dicintai Allah. “Fayaghfirlakum Dzunubakum” (Allah akan ampuni dosa2 kita). Allah akan mengampuni kita, membersihkan kita dari dosa2, digugurkan, walaupun sebanyak buih dilautan.
Maka kita akan seperti bayi yang terlahir kembali dari perut ibunya, bersih dari dosa2. Kehidupan sunnah di malam hari ini, dan tekad kita kedepan, akan menyebabkan kita seperti seorang pengantin baru yang duduk di pelaminan. Dimana org2 akan mengucapkan selamat kepada kita, “Selamat menempuh hidup baru.” Begitu pula para malaikat akan berduyun2 mengucapkan selamat kpd kita, “Selamat menempuh kehidupan baru”, yaitu kehidupan dgn Sunnah Rasullullah Saw. Jika kehidupan Rasullullah saw ini ditinggalkan, maka akan timbul masalah2 yg besar dlm kehidupan kita. Kita akan menjadi mudah terkesan dgn keadaan. Kita akan jauh dari kebahagiaan karena sudah melencong dari sunah. Kehidupan Nabi Saw ini adalah asas dpd kehidupan di dunia ini.
Maka kehidupan Rasullullah sawharus dikaji, bagaimana kehidupan Rasullullah Saw? knp kehidupan Rasullullah Saw ini adalah kehidupan yg paling dicintai Allah Swt? Tertib kehidupan Rasullullah Saw ini adalah tertib dpd turunnya Kitab Suci Al Quran. Ketika Rasullullah Saw sebelum diangkat menjadi rasul, semua org senang dan suka kpd Nabi Saw, bahkan sampai dibilang “Al Amin”, “Org yg Terpercaya”, “Yang Jujur”. Sehingga semua org percaya kpd Nabi saw. Sifat Nabi saw ini, jika dititipkan atau diamanahkan sesuatu, maka rasulullah saw akan mengembalikan barang yg dititipkan ini persis, tidak mengurangi apapun, pengembalian yg utuh kepada si pemilik. Berita ttg kejujuran Nabi menyebar kesemua org, sehingga dari setiap mulut mengatakan, “Al Amin, Al Amin”.
Kisah Nabi SAW:
Suatu ketika ada pertengkaran hebat antara suku selama 3 hari 3 malam di Mekkah, yg dipertengkarkan adalah suku mana yg paling berhak mengangkat batu Hajar Aswad ini ke atas Kaabah ketika selesai renovasi. Setiap suku merasa merekalah yg paling berhak utk meletakkan batu Hajar Aswad di Kaabah. Akhirnya mrk bermusyawarah utk mencari mufakat, krn mrk merasa sudah menghabiskan banyak waktu utk bertengkar. Hasil keputusan musyawarah adalah menunjuk satu orang yg mula2 sekali masuk masjid sbgi hakim mrk. Atas kehendak Allah Swt, ternyata secara tiba2 yg mula2 masuk ke masjid ini adalah Rasullullah Saw. Begitu Rasullullah Saw masuk semuanya bersepakat, “ini adalah al amin…ini adalah al amin.” Mereka berkata, “dialah yg paling berhak menghakimi kita dlm menyelesaikan sengketa ini dan menentukan siapa yg patut meletakkan Hajar Aswad ke tempatnya di Kaabah.” Setelah Nabi Saw masuk, mereka lalu meminta Nabi Saw utk ikut bermusyawarah dgn mereka.
Mereka beritahu kpd Nabi SAW ttg masalah yg mereka hadapi dan meminta Nabi SAW menjadi hakim atas masalah tersebut. Asbab dpd sifat Nabi SAW yg cerdas, bijak dan amanah maka Nabi Saw meminta selendang kpd mereka peserta musyawarah. Lalu dari selendang tersebut diletakkanlah batu Hajar Aswad ini ditengah. Ke empat suku yg bersengketa diminta oleh Rasullullah Saw utk memegang setiap sudut dari selendang tersebut dan mengangkatnya utk diletakkan di Kaabah. Maka asbab ini selesailah seluruh masalah sengketa dan pertengkaran oleh para suku tersebut. Maka semua org berteriak, ”Inilah Al Amin… Inilah Al amin.” Siapa org yg tidak senang dipuji? siapa yg tidak senang dirinya mendapatkan gelar yg baik? Akan tetapi pujian dan celaan semua ini dtgnya dari Allah, sbg ujian kpd Nabi Saw. Maka ketika Nabi Saw berkhalwat ke gua Hira, Nabi Saw diperintahkan membaca surat pertama yaitu Al Alaq ayat 1 : “Iqro” artinya : bacalah.
Umat islam diperintahkan utk membaca. Apa yang diminta utk dibaca? sedangkan Al Quran belum sempurna diturunkan. Ini karena ayat2 Allah ada ayat yg ditulis sebagaimana Al Quran secara zahiriah, namun juga ada ayat2 yang bisa dilihat dari peristiwa2 dan kejadian2 di alam. Bahkan semua org boleh membaca ayat al Quran tersebut yg diperlihatkan dlm peristiwa dan kejadian. Setelah Rasullullah Saw membaca dan membaca keadaan ketika itu, maka suatu goncangan yg dahsyat dgn turunnya ayat al alaq tersebut di bacakan oleh Malaikat Jibril AS. Asbab kejadian ini Rasullullah Saw dihibur oleh istrinya yg tercinta Sayyidina Khadijah r.a Kedatangan Jibril ini mendtgkan goncangan yg luar biasa terhadap diri Nabi Saw karena merupakan suatu keanehan yg luar biasa bagi Nabi Saw ketika itu.
Namun Khadijah r.a penyejuk hati dan pendingin mata, mampu menenangkan keadaan Nabi Saw ketika itu, yg sedang kebingungan dan penuh tanda tanya. Ketika itu solusi dari istri adalah membawa sang suami kpd seorg alim besar zaman itu yaitu Waraqah bin Naufal. Waraqah bin Naufal membuka kitab didepan Rasullullah Saw dan Khadijah R.ha. Apa yg disampaikan oleh Waraqoh bin Naufal? “Laqad ja akal nausul akbar kama ata musa Alaihis salam wa anta nabiyyin ummah”. Waraqah katakan bahwa telah dtg kpd engkau wahai Muhammad seorg malaikat yg besar, yg mulia iaitu Jibril AS, sebagaimana Jibril AS dtg kpd Musa AS, dan engkau adalah Nabi bagi ummat ini. Pemberitahuan dpd seorg alim ini, membuat Rasullullah merasa risau akan tggjwb yg besar.
Lalu apa yang harus dilakukan setelah itu? apa yg harus dibuat? Sehingga Hidayah yg kedua setalah gua Hira dtg kembali melalui perintah kpd Rasullullah Saw: “Ya Ayyuhal Mudatsir Kum Fa’andzir… (Wahai org yg berselimut, bangkitlah, bergeraklah, beri peringatan..). Semenjak saat itu keadaan berubah dalam diri Nabi Saw, beliau bergerak tidak henti dan tidak letih mendtgi setiap manusia, mengetuk setiap pintu, menelusuri lorong2, menyampaikan Agama Allah. Sehingga gelar yg Nabi Saw terima sebagai pujian kini sudah tidak ada lagi. Ini karena mereka saat itu punya adat, yg ingin dirubah Nabi Saw menjadi ibadat. Adat org2 pada saat itu suka menyembah dari pada 360 patung2 yang berserakan disekeliling Kaabah. Akan tetapi Rasullullah Saw menginginkan agar mereka menyembah hanya kpd Allah Swt. Pada waktu itu tidak ada wirid, yg ada hanya lafadz:
“Ya Ayyuhannas Qullu La illaha Illallah Tuflihu (Wahai manusia ucapkanlah La ilaha illallah maka kamu akan berjaya”
Lafadz inilah yang dijadikan wirid diucapkan berulang2, dijejalkan ke telinga org2 saat itu. Namun bagi org keyakinannya ada kpd patung dan berhala, mereka tidak bisa menerima dpd ajakan Rasullullah Saw. Karena antara ajakan dgn keinginan org2 pada saat itu berbeda, menyebabkan hati mereka berontak. Dari pemberontakan hati ini, dari hati yg sama dulu memuji “Al Amin”, kini keluar lah cacian, “Ya Sahir” engkau adalah seorg penyihir, “Ya Syair” engkau adalah seorg penyair, “Ya Majnun” engkau adalah seorg gila.  Padahal baru kemarin rasanya mereka memanggil “Al Amin” kini berubah memanggil “Al Majnun”. Namun Nabi Saw tidak patah dan berhenti hanya karena celaan ini.
Ini karena Nabi Saw tidak terkesan akan pujian dan celaan. Inilah kehidupan yg betul2 dicintai oleh Allah Swt, yaitu tidak terkesan dgn keadaan, tidak terkesan dgn pujian atau celaan. Demikan pula ini ummat, dulu di kurun waktu awal. Maka kalau ada ummat yg berjalan spt ini, pindah dari mesjid ke mesjid, mengetuk dari pintu ke pintu, bagi mereka yg simpati akan memberi gelar kpd mereka sbg aulia2 Allah, ahlullah, para wali Allah. Namun sekarang Allah menguji apakah kita setia setia pada Allah dan pada kerja dakwah ini, atau terkesan kepada keadaan.
Maka kini ada yg memberi gelar kpd kita sbg teroris2. Mau pujian sbg aulia Allah ataupun sbg teroris, jgn kita lari, ttpi tetaplah berada dlm usaha Rasullullah Saw ini. Dgn cara spt ini maka amal kita ini akan melekat pada diri kita, sebagaimana kehidupan dpd Rasullullah Saw. Rasullullah Saw tidak pernah terkesan dgn keadaan, ttpi terkesannya dgn perintah Allah Swt, begitupula dgn kita. Org yg mudah terkesan dgn keadaan, maka hidupnya akan terombang-ambing oleh berbagai peristiwa. Apb kita tekuni dpd kerja Nabi Saw, dimana kerja Nabi Saw ini adalah jln utk mencintai Allah Swt. Sehingga org2 yg mengikutinya akan menjadi org2 yg dicintai oleh Allah Swt.
Sehingga Murid daripada Rasullullah Saw, yaitu Abdullah bin Mas’ud RA, mengatakan: “Layasta’minul imanul abdi hatta yakuna qodihuhu awama dihuhu alaihi sawa (Maka tidak akan sempurna iman seseorg sehingga org yg mencela kepadanya atau memuji kpdnya, baginya sama saja)”. Maksudnya apa? Org dtg mencela atau menghina dia tidak terkesan, org memujipun dia juga tidak terkesan. Baginya org yg mencela atau memuji sama saja, tidak merubah dpd hatinya atau keimanannya. Terkesannya nanti pada kerja dakwah ini saja. Ini karena kerja yg mulia ini dilirik oleh org yg setia kepada Rasullullah Saw dan ora yg dicintai oleh Allah Swt. Bukan dilirik oleh mata zahirnya ttpi dilirik oleh mata batinnya. Ketika dilirik oleh mata batinnya, maka yang dinyatakan sendiri oleh Allah Swt: “Qul Hadzihi Sabili” : Katakanlah wahai Muhammad Ini adalah Jlnku (jln hidup Rasullullah Saw). Apa jln hidup Rasullullah Saw? Apakah jln perdagangan? jln pertanian? jla industri  tidak… melainkan: “Ad’u illallah” : Yaitu mengajak manusia taat kpd Allah. (Ad’unnaas:mengajak manusia).
Umat ini menjadi hebat karena dikeluarkan utk manusia, tugas dakwah ini utk mengajak manusia. Ini mengajak manusia saja belum selesai kita dakwahi, kita sudah tergesa2 mau dakwah mengajak Jin. Jgn tergesa2, sempurnakan dakwah kita kpd manusia, nanti ada masanya jin akan ikut sendiri. Bagaimana cara dakwah kita? “Ala Bashirotin” yaitu dgn mata hati. Ada dua jenis penglihatan yaitu satu dgn mata yg ada di luar ini adalah Bashor dan kedua dgn mata yg ada di dlm Qalbu atau hati kita ini adalah Bashiroh. Jika org sudah memandang dgn pandangan Hati ini maka ia akan mendptkan fadhilah “Ilmun Sam” atau Ilmu yg sempurna. Maka utk memahami perintah2 Allah ini tidak bisa dgn menggunakan kecerdasan yg ada dlm otak, melainkan dgn mata hati kita. Jika mata hati ini sudah bertaqwa maka yg akan keluar adalah sinar ketaqwaan. Attaqwa Hahuna 3 kali kata Rasullulah Saw. Jika kita sudah bertaqwa kpd Allah maka kita harus ikut tertib yg diperintah oleh Allah Swt dan ikut caranya Rasullullah Saw. Allah Swt berfirman: “Wattaqullah wayuallimukumullah (Jika kita bertaqwa kpd Allah, maka Allah sendirilah yg akan mengajarkan ilmu kpd kita)”
Maka jika Allah ingin mengajarkan maka tidak akan ada sesuatu yg sulit ataupun rumit. Sehingga kita bisa paham saat itu juga sebagaimana kepahaman org2 yg sudah mendptkan redha Allah Swt, yaitu para sahabat RA. Fikir para sahabat ini adalah bagaimana mrk bisa mentransfer kehidupan Nabi Saw ke dlm dirinya dan kehidupannya secara Kaffah, 100%. Kecintaan Salman RA terhadap Sunnah Nabi SAW. Suatu ketika Nabi Saw mengajak Salman RA berjalan2 ke atas bukit. Salman RA melihat Nabi Saw mematahkan sebuah ranting lalu menguncang2kannya, sehingga daun2nya berguguran. Nabi Saw berkata kpd Salman RA, “Wahai Salaman mengapa engkau hanya melihat saja dan tidak menanyakan mengapa aku melaku kan ini.”  Maka Salman langsung mengikuti dpd perinah Rasullullah Saw, “Ya Rasullullah mengapa engkau melakukan itu?”
Nabi Saw menjawab,“Wahai Salman ketahuilah sesungguhnya org yang melakukan sholat 5 waktu, dosa2nya berguguran sebagaimana daun2 yg gugur dari ranting ini.” Maka setelah wafatnya Rasullullah Saw, Salman RA merindukan sesuatu yg dilakukan Rasullullah Saw, namun belum dikerjakannya. Maka Salman RA mengajak kawannya utk pergi ke bukit, ketempat dimana Rasullullah Saw pernah mengajaknya. Ketika itu Salman RA melakukan dgn sempurna 100 persen dari gaya, cara, posisi, yg dilakukan Rasullullah Saw ketika itu yaitu mematahkan Ranting lalu menguncang2 kannya, sehingga daun2nya berguguran.
Sama spti bersama Nabi Saw, Salman bertanya kpd kawannya abu sulaiman, “Wahai Abu Sulaiman mengapa engkau hanya melihat saja dan tidak menanyakan kenapa aku melakukan ini?” Maka abu sulaiman pun bertanya sebagaimana salman bertanya ketika bersama Rasullullah Saw, “Wahai salman mengapa engkau melakukan itu?” Salman menjawab, “Wahai Abu Sulaiman ketahuilah sesungguhnya org yg melakukan sholat 5 waktu, dosa2nya berguguran sebagaimana daun2 yg gugur dari ranting ini.”
Waktu atau Kurun boleh berlalu, tahun boleh berganti, tetapi sunnah Rasullullah Saw harus hidup sampai kehidupan ini berhenti. Hari ini kehidupan dan jalan Rasullullah Saw ada di depan mana kita, namun bagaimana kita bisa melihatnya dgn mata hati kita. Kalau kita hanya melihat dgn mata zahir kita maka ini tidak akan mampu menangkap kemuliaannya. Mata zahir kita ini rentan sama tipuan zahiriah yang bisa berubah2 kenyataannya. Sehingga sunnah dpd Rasullullah Saw menjadi tidak nampak karena melihat ada yang lain yang lebih baik secara dzohiriah. Padahal yang baik menurut pandangan mata belum tentu baik untuk kita. Inilah ujian bagi kita.
Semua yang kita lihat ini adalah intihan, ujian bagi ini ummat. Maka setan ini sangat pandai mengalihkan pandangan kita, yaitu pertama dgn dimunculkankan keindahan terhadap sesuatu yg terlihat oleh mata zahir dan kedua dgn dimunculkan kebosanan kita terhadap kerja yang mulia ini. Maka sebentar saja kita sudah mengucapkan selamat tinggal terhadap kerja yg mulia ini asbab tertipu oleh pandangan zahir yg seakan2 indah yg dibuat oleh syaitan. Kita tinggalkan jalan dpd Rasullullah Saw menuju ke jalan yang kita lihat menarik secara pandangan mata zahir ini. Maka jika dengan demikian yg terjadi, kelak kita baru tahu bahwa kita sudah terjerumus menjadi pencinta2 yg palsu tadi.
Analogi Kerja Guru Dan Keadaan Umat:
Seorg guru ini digaji oleh Kepala Sekolah atau Kepala Madrasah. Maka dia diberikan fasilitas2 oleh sekolah atau madrasah. Tugasnya guru ini utk apa? mengajar titik. Akan ttpi guru ini melihat tembok sekolah kelihatannya sudah usang. Maka si guru ini inisiatif utk mengecat sendiri tembok tersebut dan mengganti warna tembok sekolah yg sudah kumuh dan usang tadi. Maka apa yg terjadi? ketika loceng sekolah berbunyi, waktu dia harus mengajar, si guru tersebut masih sibuk memperbaiki dan mengecat tembok yg sudah usang tersebut. Sehingga dia dipanggil oleh kepala sekolah, “Wahai guru, loceng sudah berbunyi dan anak2 sudah menunggu utk di ajar, kenapa tidak mengajar?”
Maka si guru tersebut mengatakan, “Eh bapak pengetua, mengapa anda tidak paham? bukankan mengecat dan memperbaiki tembok sekolah ini merupakan suatu kebaikan? mempercantik sekolah suatu kebaikan? ini adalah suatu kebaikan.” Kepala sekolah menjawab, “Betul itu suatu kebaikan, namun kamu digaji bukan utk mengecat atau memperbaiki tembok, kamu digaji untuk mengajar.” Keadaan umat hari inipun demikian. Umat yg berontak hatinya tadi juga demikian pemikiran nya. Apakah bekerja untuk keluarga, mencari nafkah, memberi orang lain pekerjaan, juga bukan merupa kan suatu kebaikan? itu suatu kebaikan menurut mrk. Ummat Nabi Saw saat ini tidak pernah merasa dosa apb meninggalkan dpd dakwah ini. Padahal ketika dia mengucapkan selamat tinggal kpd dakwah ini, dia sudah menjadi pengkhianat, menjadi pecinta2 palsu bagi Allah dan Rasulnya. Ini krn umat ini memandang kerja ini dgn mata bashar, mata zahir mrk, bukan dgn mata bashira mrk atau mata hati mrk.
Sehingga ummat ini spt org yang tidak boleh membedakan perintah2 yg diutamakan. Ada perintah dari kampung, ada perintah dari daerah, ada perintah dari mukim, ada perinta dari kota, ada perintah dari bupati, ada perintah dari gubernur, ada perintah dari menteri, ada perintah dari presiden. Perintah2 ini mempunyai keutamaan2. Umat hari ini tidak paham kedudukan2 dari perintah2 yg ada. Sehingga umat hari ini tidak bisa membedakan antara perintah RT dgn perintah Presiden. Demikian juga kita tidak bisa membedakan antara Amal dakwah ini dgn Amal yg lain. Padahal Dakwah ini tidak sama dgn amal pada umumnya. Allah Swt sudah membedakan dgn jelas antara Amal Dakwah dgn Amal yg lainnya pada umumnya.
Allah pisahkan kekhususan amalan dakwah ini dgn amalan yg lainnya. “Waman Ahsanu Qoulan Mimman da’a illallah wa amilan sholihah wa qolla innani minal muslimin (Siapakah yg lebih baik perkataannya dpd org yg menyeru kpd Allah…)”. Disini seakan2 Allah menantang amal mana lagi yg lebih baik dpd dakwah, inilah keutamaan amal dakwah tersebut. Kemuliaannya dan ketinggiannya sudah Allah bedakan dgn amal2 lain pada umumnya. “Wa amilan sholihah (dan beramal sholih)”. Apakah dakwah ini tidak termasuk dpd amal sholih? Org tua kita mengatakan dlm bayannya ttg tafsir wal asri oleh Ulama KH. Ali Maksum dari pondok pesantren Krapyak, Jogyakarta, yg dikenal dgn Kyai kuno. Kyai Maksum yg kyai kuno ini bisa menjelaskan ttg kekhususan dakwah. Anehnya Kyai Moden tidak bisa menjelaskan kekhususan dakwah ini. Jadi menurut kyai ini semua org dlm kerugian, org kaya rugi, miskin rugi, berpangkat rugi, org awam rugi, org desa rugi, org kota rugi, org pintar rugi, org bodoh rugi, kecuali org2 yg mempunyai 4 sifat.
Siapakah mrk yg memiliki 4 sifat sehingga tidak terkena dampak kerugian tersebut iaitu org yg beriman (Illalladzina amanu), org yg beramal soleh (Wa amilan sholihah), org yg berdakwah yg haq (Wattawa shoubil Haq) dan org yg berwasiat utk kesabaran (Wattawa Shoubil Sobr). Inilah yg kosong atau tidak dilakukan selama ini, saling berwasiat, saling mengulang2, ttg yg Haq. Ini krn dlm kerja dakwah ini kesabaran merupakan suatu keharusan. Sgt aneh jika kita berdakwah ini tanpa kesabaran. Kerja dakwah ini satu pelaminan dgn sabar yg tidak dpt dipisahkan.
Jika kita mau terjun dlm dakwah, syarat yg pertama adalah kita harus sabar. Jadi dakwah ini tidak dpt berdiri sendiri tanpa kesabaran. Tanpa Sabar kita tidak akan bisa dakwah. Jadi kalau kita mempunyai kriteria ini iaitu keimanan yg betul dan kuat, amal2 soleh yg lurus, dakwah atas yg Haq dan kesabaran, maka kita akan terselamatkan dpd kerugian di akherat nanti. Inilah kekhususan dakwah yg dijelaskan oleh Kyai Ali Maksum tersebut. Dakwah ini adalah induk dari segala hasanat, ummul hasanat. Induk dari segala kebaikan ini adalah dakwah. Ini jika dakwah ini benar2 dihidupkan.
Kisah Rabi’ah Al Adawiyah:
Seorang wanita tetapi dia membawa fikir dakwah, maka dia tidak akan terkesan dgn pandangan2 zahir, walaupun dia miskin tidak memiliki apa2 di rumahnya. Wanita ini selain menjadi da’iyah, dia tidak akan terkesan kpd pesona2 keduniaan yg menyebabkan dia keluar rumah. Dia tidak akan terkesan dgn kebendaaan yg indah2, bahkan dia tidak akan memasukkan kebendaan yg indah2 dipandang mata tersebut kedalam rumahnya. Melainkan dia akan hiasi rumahnya dengan amalan2 seperti tasbihat, dzikir, tilawat, tahajjud. Bagi orang yang biasa menghidupkan amalan ini, ketika dia melihat benda maka dia akan melihat itu sbg suatu amalan. Jika ada takaza mengorbankan benda tersebut di jalan Allah, tidak sulit baginya mengorbankannya. Sehingga benda2 tersebut berubah dari maal menjadi suatu amalan. Inilah perbedaan antara ahlul maal dan ahlul amal. Maka suatu saat rumah yang dihuni oleh wanita dai’yah ini dilirik oleh kalangan pencuri sebagai rumah yg mudah utk dijadikan target pencuriannya.
Maka masuklah pencuri tersebut kerumah wanita tadi. Namun asbab sifat wanita tersebut yg betul2 dermawan, apb ada org lain masuk ke rumahnya maka akan dia jamu. Namun kali ini yg masuk adalah seorg laki2 yg maling. Sehingga dari balik tirai hijab, yg memisahkan pandangan atau tempat laki2 dan perempuan, si wanita ini memandang dengan mata hatinya. Sehingga wanita ini tau apa yg diinginkan dpd si pencuri tadi. Maka si wanita ini katakan dari balik hijab, “Wahai pemuda sesungguhnya kamu tidak akan mendapatkan apa yg engkau cari di dlm rumah ini, namun di sebelah kananmu itu ada kendi yg berisi air, berwudhulah lalu sholatlah 2 rakaat, mintalah kepada Allah, maka Allah akan memberikan apa yang kamu cari disini.” Mendengar suara dari wanita sholihah ini mampu membuat seorg laki2 ini ketakutan. Inilah bahwa suara dari seorang perempuan yang mampu menundukkan seorg laki2. Sehingga si maling ini mengambil air dari kendi tersebut dan penuh ketakutan utk berwudhu dan solat 2 rekaat.
Ketika si maling ini solat, si wanita inipun berdoa: “Ya Allah telah masuk kerumah ku seorg pemuda, utk mencari sesuatu yg dia tidak dptkan disini. Ya Allah kini pemuda tersebut, sedang mengetuk pintu rahmatmu, maka berikanlah apa yg dia cari dan bukakanlah pintu rahmatMu.” Sebelum pemuda maling tadi, mengucapkan salam, serta merta terdengar ketukan pintu dari luar rumah wanita tadi. Maka si wanita tersebut bertanya: “Siapa gerangan diluar?” si pengetuk pintu tadi menjawab, “Saya adalah utusan Raja, saya diperintahkan Raja utk membawa hadiah yg banyak utkmu. Harap diterima pemberian ini.” Maka wanita tersebut menjawab, “Jika hadiah itu berupa kebendaan2 maka jgn masukkan ke rumahku, krn aku sudah terbiasa tidak membawa kebendaan2 masuk kedlm rumahku. Letakkan saja di depan halaman rumahku”.
Maka si wanita tadi berkata kpd pemuda maling tersebut, “Wahai pemuda yg masuk ke rumah ku sesungguhnya engkau sudah mengetuk pintu Allah, skrg lihatlah apa yg Allah telah kirimkan kpdmu. Di depan pintu halamanku engkau bisa mencari apa yg engkau inginkan.” Maka ketika si pemuda pencuri ini keluar dari rumah, dia dptkan didepan rumah harta yg sgt banyak diberikan dari kerajaan di dpn matanya. Melihat ini si pemuda langsung menangis, “Knp selama ini saya saya selalu mengambil hak org lain dgn cara menyusahkan mrk, padahal dgn solat 2 rakaat saya bisa mendptkan apa yg saya inginkan.” Sesal pemuda pencuri tersebut. Inilah kisah daiyah seorg wanita waliullah, yg bernama Rabiah Al Adawiyah.
Inilah suara dakwah dari seorg wanita ini mampu menyebabkan seorg pencuri berubah menjadi seorg wali. Inilah kehebatan dpd dakwah. Namun kita tidak pernah menyadari ataupun memahami peristiwa ini. Kita tidak pernah bermudzakarah mengenai hal spt ini. Jadi kekuatan dpd dakwah ini luar biasa. Hebatnya dan cantiknya umat ini, bukanlah karena ibadahnya, melainkan Allah nyatakan dlm Al Quran: “Kuntum Khairu Ummah (Kamu adalah umat yang terbaik)”. Allah nyatakan disini kita ini adalah, umat yg terbaik, tidak ada umat yg lebih baik dari umat ini. Umat yg paling baik melebihi umat2 terdahulu. Jadi kalau ada org yg menanyakan: “Knp kamu mau ikut khuruj2 spt itu?” maka kita harus berani dan tegas mengatakan, “Kenapa saya tidak mau mengambil yg terbaik? Ini adalah yg terbaik.” Dgn ketegaran yg seperti ini, maka kerja ini akan menampakkan manfaat bagi kita.
Dakwah ini adalah induk dari semua hasanat, dan kerja2 agama yg lain itu adalah buah dari kerja dakwah ini. Allah Swt lanjutkan dlm firmannya: “Ukhrijat Linnas (Yg dikeluarkan utk manusia)”. Disini Allah mengatakan Ukhrijat bukan khorajat, dlm ilmu nahwu maksudnya adalah kalau khorajat berarti kita sendiri yg mengeluarkan, ttpi ini ukhrijat berarti siapa yang mengeluarkan? Allah Swt. Hadirnya kita mlm ini disini adalah Allah yg mengeluarkan kita utk dtg kesini. Berbahagialah kita yg dikeluarkan Allah utk semua manusia. Ini adalah bagian dari kehendak Allah Swt mengeluarkan kita utk manusia. Ini agar semua manusia ini mau melihat kita, bercermin kpd kita, krn kita sbg “Khairu Ummah”. Agar kita bisa menjadi cermin umat, maka jgnlah kita sekali2 ada keinginan utk memecahkan cermin tersebut. Jika umat harus melihat cermin yg sudah pecah2, maka mereka hanya akan menemukan wajah yg telah terpecah2, tidak utuh, dan bengkok2. Wajah umat yg bengkok2 ini adalah asbab kita, Khairu Ummah yg telah pecah spt cermin yg pecah. Umat ini adalah penentu arah manusia mau dibawa kemana.
“Al Mukmin mid’atul Mukmin (Org beriman menjadi cermin bagi org beriman)”. Namun kalau cerminnya pecah bagaimana jadinya? Lalu Allah Swt melanjutkan dlm Firmannya: “Takmuruna bil ma’ruf watan hauna anil mungkar (Kamu mengajak kpd amalan yg Maaruf dan mencegah dpd amalan yg mungkar). Disini ada 2 amalan yg Allah perintahkan iaitu mengerjakan amalan Makrufat dan menghindari amalan Mungkarot. Dlm usul2 dakwah yg sering kita mudzakarahkan berulang2 lagi dan lagi, disitu terdapat usul2 amalan makrufat (Amr Makruf) dan amalan mungkarot (Nahi Mungkar) yaitu 4 hal yg diperbanyak inilah amalan Makrufat (Dakwah illallah, Taklim wa Taklum, Dzikir Ibadah dan Khidmat). Jika ini kita lakukan maka ini akan menyebar kemana2 dan mrk akan melakukan amalan2 ini.
Hari ini kita mengantuk mendgr kan hal ini, padahal pembicaraan spt ini adalah puncaknya makrufat. Bayangkan jika setiap org mau berdakwah, mau taklim belajar agama ataupun mengajarkannya, setiap org mau membuat amalan dzikir, baca quran dan solat2 wajib maupun sunat, lalu mrk mau berkhidmat. Maka jika ini tersebar, suasana makrufatpun akan terbentuk dan tersebar. Empat hal yg ditinggalkan ini adalah amalan Nahi Mungkar (Munkarot) iaitu berharap kpd makhluk, meminta kpd makhluk, memakai barang tanpa izin, boros dan membazir. Berharap kpd selain Allah dan meminta kpd selain Allah adalah bentuk kemungkaran yg terbesar kpd Allah.
Begitu juga memakai barang tanpa izin ini adalah pembangkangan terhadap nilai2 yg Allah cintai yaitu sifat amanah. Sedangkan Boros dan Mubazir ini adalah sifatnya setan. Jadi Usul2 dakwah ini seharusnya kita renungkan dan kita hayati. Maka sudah seharusnya kita berdoa kpd Allah dimalam hari mohon kekuatan utk dpt mengamalkan amalan makrufat dan melindungi kita dari amalan mungkarot. Mohonkan agar keyakinan kita sentiasa terjaga dari sifat berharap dan meminta kpd selain Allah. “Iyyakana’budu wa iyyakanashta’in (Hanya kpd engkau kami menyembah dan meminta pertolongan)”.
Kalau kita ibadah dan sujud kepada Allah, namun tangan kita masih mengadah kepada makhluk, ini keyakinan yang macam apa. Jadi jangan kita mengharap kepada mahluk apalagi meminta, berharaplah dan memintalah hanya kepada Allah. Kita harus tau bagaimana bermuamalah yang baik. Jika itu milik dan hak orang lain jangan kita ambil. Jika kita mengambil daripada hak orang lain yang bukan hak kita, maka ini akan menyebabkan rezeki yg kita dapat ini bisa menjadi tidak halal. Jika rezeki yang kita dapat tidak halal, maka ibadah2 kita tidak akan diterima oleh Allah Swt. Semua yang namanya urusan rezeki ini nanti akan Allah tanyakan datangnya darimana dan kemana dihabiskannya, ini semua akan dihisab oleh Allah Swt. Oleh karena itu jangan Boros dan Mubazir.
Boros dan Mubazir ini adalah sifat2 syaitan. Bagaimana jadinya dlm kehidupan kita ini jika kita mengambil dpd sifat2 syaitan kedlm kehidupan kita. Na’udzubillah mindzalik. Utk boleh mendptkan 4 amalan Makruf ini dan menghindari 4 amalan mungkarot maka hanya bisa dengan pertolongan Allah Swt saja yaitu dengan doa. “La haula wala Quwwata illa Billah (Tidak ada kekuatan selain pertolongan daripada Allah Swt.)”. Hari ini kita yang kita dengar hanya kata2 akibatnya kita tidak bisa membedakan mana yang mungkar dan mana yang makruf. Maka dari itu jika kita sudah betul2 melakukan perkara dakwah ini, maka kita ambil dakwah ini secara keseluruhan dari tertib2nya dan sifat2nya, baru kita akan bisa sampai ke tujuan. Ulama katakan: “Man arodhal ushul fa alaihi bil ushul (Siapa yang ingin sampai maka dia harus menyempurnakan ushul dan tertib2nya)”. Kita ingin sampai tapi tidak mau tertib maka yang akan terjadi kita akan jalan di tempat dan tidak akan sampai2. Maka bukan 4 bulan, 40 hari, 3, hari, ini hanya kejar tanggal untuk menaikkan nilai kita saja. Namun jika kita ingin sampai ketujuan maka seluruh kehidupan kita harus kita curahkan pada kerja ini, dan tidak terkesan dgn keadaan.
Kegigihan Nabi Saw Mempertahankan Kerja Dakwah Dari Godaan Dunia:
Bagaimana gigihnya Rasullullah Saw mempertahankan kerja ini dari berbagai macam ujian dan keadaan. Org2 Quraish ketika itu ingin menghentikan Nabi Saw dari melakukan kerja ini, maka mereka selidiki kehidupan Rasullullah Saw. Sebagaimana ummat ini mengkaji kehidupan Rasullullah Saw dalam sirah Nabawiyah. Maka apa yang orang-orang Quraish temukan pada waktu itu ialah Nabi Saw masih muda dan istrinya sudah tua ketika itu, kehidupan Nabi Saw miskin dan hidup tanpa jabatan. Maka datanglah para pemimpin quraish menghadap Nabi Saw dengan tawaran2. Apabila engkau menginginkan wanita2 yang cantik, muda dan belia, maka kami akan bariskan dihadapanmu. Harta akan diberikan yg banyak agar menjadi org terkaya di Quraish dan Jabatan akan diberikan agar menjadi org terpandang di Quraish.
Namun Nabi Saw karena sudah punya sifat istikhlas walaupun istrinya sudah jauh lebih tua melebihi dirinya, harta tidak punya, dan jabatan tidak ada, baginda tetap tegar menghadapi tawaran2 yg indah tersebut. Apa kata Nabi Saw: “Walaupun kalian mampu memberikan bulan ditangan kananku dan matahari ditangan kiriku, supaya saya tinggalkan kerja dakwah, Maka saya tidak akan tinggalkan selama2nya walaupun hanya sekejap mata.” Nabi Saw jika hanya ingin hidup untuk dirinya sendiri maka dia bisa hidup dgn nyenyak. Kalau yg dipikirkan hanya utk keluarganya saja, maka dia bisa hidup enak dan nyaman dgn tawaran2 tersebut. Namun yg selalu ada dipikiran Nabi Saw adalah bagaimana ini ummat. Bukan hanya sekedar ummat yg masuk dlm fikir Nabi Saw namun ummat yg belum jadipun sudah masuk dlm fikir Nabi Saw.
Kisah Nabi Saw Mendapat Siksaan Di Thaif:
Ketika anak2 Thaif melemparkan Nabi Saw dgn batu yg menyebabkan Nabi Saw bermandikan darah. Malaikat katakan, “Ya Rasullullah andaikan engkau berkenan maka aku akan angkat kedua gunung yg menghimpit Thaif, lalu akan aku hancurkan Thaif dgn membalikkan gunung tersebut menghantam Thaif. Sehingga semua org akan mati terhimpit oleh kedua gunung tadi.” Apa yg Nabi Saw jawab: “Tidak jgn lakukan itu. Saya hingga saat ini masih memikirkan dan mengharapkan air yg masih tersimpan didlm tulang sulbi kelak akan di zahirkan oleh Allah Swt sbg penyembah Allah Swt dan tidak akan musyrik selama2nya.”
Jadi fikir Nabi Saw yg sedemikian rupa yg menyebabkan agama tersebar di seluruh alam. Maka untuk inilah dakwahnya rasul saw tidak bisa dihentikan dgn apa saja walaupun Nabi Saw diuji dgn kesenangan yaitu tawaran2 pemimpin Quraish atau Nabi Saw diuji dgn kesusahan dari penyiksaan sampai percobaan pembunuhan. Semuanya Nabi Saw lewati dgn tegar dan sabar, tidak berhenti sedikitpun dari dakwah walaupun hanya sekejap mata. Sebagai mana seseorg belajar tahfidz (menjadi seorg hafidz), dia akan pelajari dpd tajwidnya, makhrojnya, al quran. Namun kalau ditanyakan kpd org yg tahfidz ini, “Apakah bumi itu datar atu bundar?” maka si murid ini akan menjawab, “Saya tidak mempunyai pengetahuan ttg itu.” Ini karena tarbiyah dan intihan yg dihadapi santri ini adalah pelajaran2 ttg tahfidz Qur’an.
Jadi tidak perlu membaca dpd buku2 yg menjelaskan bahwa bumi ini datar atau bundar. Demikian istikhlasnya si santri ini dlm pelajarannya adalah menjadi ahli dalam ilmu tahfidz tadi. Kitapun demikian juga cukup dgn menjadi ahli 6 sifat saja, jangan kita terjebak ilmu ini dan itu. Pegangan kita harus seperti ini, “Saya memang tidak tahu ini dan itu, namun yg saya ketahui cukup dgn enam sifat saja.” Seorang calon dokter ketika dia masuk ke universitas kedokteran, namun yang dia baca malah buku2 tentang elektronik, maka tidak mungkin dia akan lulus menjadi dokter yang baik. Dalam praktek beda antara praktek seorang dokter dengan seorang yang ahli tehnik bangunan.
Kalau seorang ahli bangunan maka yang akan dia bawa adalah kertas gambar, penggaris, polpen, untuk bisa membuat konstruksi bangunan. Beda dengan dokter yang harus membawa pisau bedah, thermometer, suntik, dan obat-obatan dalam melaksanakan tugas kedokterannya. Inilah praktek memang seperti itu. Dokter yang baik adalah dokter yang mampu mengobati daripada pasien. Jika kita memandang kerja ini hanya dengan pandangan bashor, bukan dgn bashiroh, maka sulit kita bisa mencapai derajat Istikhlas sebagaimana Rasullullah Saw. Jika ini terjadi maka kita akan mudah terombang-ambing, sehingga tertaskyl dgn dakwah2 keduniaan. Ini menyebabkan kita akan meninggalkan kerja yg mulia ini. Inilah maksud dari pertemuan kita malam ini yaitu bagaimana bisa wujud dalam diri kita ini sifat istikhlas dlm dakwah.
Dlm kerja ini bahwasanya seseorang itu dapat hidayah atau tidak dapat hidayah ini adalah urusannya Allah Swt. Namun yang penting bagi kita adalah kecintaan kita terhadap kerja ini saja. Ada saja org yg tidak paham mengkritik, “Oh kerja model seperti itu datang dari rumah ke rumah dengan mengetuk pintu itu terlalu lambat, kuno. Skrg kita sudah ada televisi, sekali siaran ratusan ribu rumah bisa dicapai.” Namun cara spt itu bukanlah cara spt yg dilakukan Rasullullah Sw. Lalu mereka akan berkata lagi, “Tuh liat tidak ada yg mau ikut kan.”
Maka bergembiralah org yg bisa mendapatkan dirinya istiqomah yaitu ketika org ikut, dia bersyukur, dan ketika org tidak ada yg ikut, dia tetap istiqomah. Apabila kita mengambil jln dakwah ini namun tidak mengadopsi cara dan kehidupan Rasullullah saw, maka yang akan terjadi adalah rekaan2 pemikiran saja. Inlah kerja dakwah Rasullullah Saw yaitu dgn membentuk rombongan2 dakwah. Hingga menjelang wafatnya sekalipun Rasullullah Saw masih membentuk rombongan Usamah bin Zaid utk diberangkatkan di jalan Allah. Bahkan rombongan belum sampai ke tujuannya, Rasullullah Saw sudah meninggal dunia. Rombongan yg sudah berjalan ini terkesan dgn keadaan sehingga mereka bermusyawarah ingin kembali ke madinah. Ini karena mereka mendengar wafatnya Rasullullah Saw dan Madinah akan serang oleh yahudi dan romawi.
Sedemikian mencekamnya suasana ketika itu. Selepas musyawarah maka diutuslah Umar RA untuk menemui Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq. Umar RA meminta agar rombongan tersebut bisa ditarik pulang utk membantu pengamanan di madinah dari serangan musuh. Namun apa kata Abu Bakar RA: “Wahai umar katakan kepada mereka, apakah mereka ingin menjaga islam atau menjaga Madinah? Kalau ingin menjaga islam teruskan daripada perjuangan. Saya tidak bisa menarik rombongan yang telah dibentuk oleh Rasullullah Saw di masa hidupnya. Bagaimana saya bisa menarik rombongan yang telah dibentuk Rasullullah Saw tersebut setelah wafatnya.” Umar RA lalu berkata, “Kalau begitu nanti bagaimana dgn nasib istri2 Rasullullah Saw jika diserang oleh Romawi.”
Secara serta merta Sayyidina Abu Bakar RA memegang dpd leher baju umar RA : “Ajjabbaru Fi Jahiliah wa Khawarun fi Islam (Wahai Umar apakah kamu seorg pemberani ketika Jahiliyah namun menjadi seorg penakut ketika dlm islam)”. Seorg yg lembut namun demi agama bisa menjadi keras dan seorg yg keras demi agama bisa menjadi lembut, inilah kehidupan. Abu Bakar RA paham walaupun rombongan tersebut kembali tidak akan mampu melindungi dpt isteri2 Rasullullah Saw. Ini karena penjaga yg sebenarnya ini adalah Allah Swt. Perintah dari rombongan usamah ini sudah dikeluarkan langsung oleh Rasullullah utk berangkat di jalan Allah bukan utk melindungi dpd istri2 Rasullullah Saw. Jadi siapa yg akan menjaga istri2 Rasullullah Saw ini ? Allah. Jika seseorg itu membantu agama Allah maka Allah pasti akan bantu dia keluar dari masalah2nya.
Jika jemaah usamah berangkat maka dia akan membantu islam dan org2 islam akan dijaga oleh Allah. Namun jika jemaah usamah ini pulang maka dia hanya membantu org2 islam, namun jemaah usamah tidak akan mampu melindungi dpd kota madinah dari serangan musuh. Mana yg didahulukan membantu islam atau membantu org islam. Abu Bakar yakin jika kita membantu agama Allah yaitu dgn tetap mengirimkan jemaah usamah sesuai perintah Nabi Saw maka Allah akan menjaga dari pada org2 islam di madinah. Maka apa yg dikatakan Abu Bakar: “Seandainya ada serigala2 buas menyeret2 dpd tubuh istri2 Rasullullah Saw dan mencabik2nya, saya lebih rela melihat keadaan spt itu dpd harus melihat islam itu tercabik2.” Padahal diantara istri Rasullullah Saw ini adalah termasuk anaknya Abu Bakar sendiri, yaitu Aisyah R.ha. Abu Bakar tidak memikirkan dpd nasib anaknya ini melainkan yg dipikirkan adalah nasib dpd agama Islam. Sedangkan hari ini kita tidak lagi mewarisi dpd sikap Abu Bakar.
Hari ini kita gara2 anak dan istri, kita rela meninggalkan perjuangan agama. Ini krn umat hari ini melihat perjuangan agama dari mata Bashornya bukan mata Bashirohnya. Ujian dtg kpd ummat ketika itu dibawah kepemimpinan Khalifah Abu Bakar As Shidiqq r.a. Selain ancaman dari org yahudi dan romawi yg akan menyerang madinah. Timbul juga kekacauan dgn banyaknya org murtad dan Nabi palsu. Namun dlm sejarah tidak ada tercatat diantara para sahabat yg mendampingi Nabi Saw dlm perjuangan agama, ada yg murtad, satupun tidak ada yg murtad. Ini karena yang murtad ini adalah dpd org2 yg baru masuk islam dan pemahamannya masih membawa pemikiran2 lama. Apa itu pemahaman pemikiran lama? yaitu bahwa pertolongan Allah ini hanya ada bersama Nabinya bukan bersama umatnya. Jadi ketika nabinya wafat maka pertolongan Allah berhenti bersama Nabinya, tidak bersama umatnya.
Dasar Pemahaman Pemikiran Lama:
Ketika Bani Israil bersama2 Nabi Musa AS terpojok ketika menghadapi kejaran Firaun dan bala tentaranya. Didepan mrk ada lautan jalan buntu, sedangkan dibelakang mrk ada tentara firaun yg siap menghabisi mrk. Kaum Bani Israil berkata : “Kita akan tertangkap… kita akan tertangkap.” Nabi Musa malah mengatakan, “Tidak, sekali2 tidak…. Kita tidak akan tertangkap.” Ini karena Nabi Musa AS melihat situasi dga pandangan Bashirohnya bukan dgn pandangan Bashornya seperti yg dilakukan Bani Israil. Nabi Musa AS mampu dgn bashirohnya melihat yg tidak terlihat oleh Bashor, pandangan mata. Apa kata Nabi Musa AS: “Innama iyya Robbi sayahdeen (Sesungguhnya Allah Swt, Tuhanku bersama aku)”. Namun Tuhan tidak bersama mrk, Bani Israil, tafsirnya begitu. Ini karena pada waktu itu yg dakwah hanya Nabinya saja yaitu Musa AS, sedangkan umatnya tidak ikut berdakwah. Maka da’i itu selamanya bersama Allah Swt.
Nota Penulis:
Dasar Pemahaman Pemikiran baru. Inilah bedanya ummat terdahulu dengan umatnya Rasullullah Saw. Umat terdahulu adalah umat yg Abid karena tidak mendapatkan perintah dakwah. Sedangkan umat Rasullullah Saw ini adalah umat yang Da’i karena mendapatkan perintah melanjutkan dakwah Nabi Saw hingga akhir kiamat. Sedangkan untuk umat ini ketika Rasullullah Saw dlm pengejaran kafir Quraish bersama Abu Bakar RA, terjebak di gua Thur, dalam keadaan mencekam Nabi Saw katakan: “La Tahzan Innaloha Ma’ana (Jangan Khawatir Allah Swt bersama Kita)”. Ini karena Allah Swt bersama Rasulullullah Saw dan Abu Bakar RA yang seorang Da’i. Berbeda perkataan Musa AS kepada Umatnya yang abid. Secara tata bahasa kita bisa melihat perbedaan pemikiran lama dan pemikiran baru yaitu letaknya adalah dalam pertolongan Allah Swt :
1. “Innama iyya Robbi sayahdeen (Sesungguhnya Allah Swt, Tuhanku bersama aku)” (Pemahaman pemikiran lama) Allah bersama Nabinya bukan Umatnya.
2. “La Tahzan Innaloha Ma’ana (Jangan Khawatir Allah bersama Kita)” (Pemahaman pemikiran baru) Allah bersama Nabi dan Ummatnya asbab Dakwah.
Pemikiran dan pemahaman yang lama ini masih terbawa oleh mereka yang baru masuk islam, menjadi suatu prinsip bagi mereka dalam memutuskan keadaan. Sehingga ketika Rasullullah Saw wafat mereka mengira bahwa pertolongan Allah tidak lagi bersama umatnya, maka dgn mudah merekapun meninggal kan islam, menjadi murtad. Mereka yang murtad ketika itu wajib pilihannya bagi Abu Bakar RA sebagai Khalifah untuk memerangi mereka, karena nantinya bisa menjadi ancaman dalam situasi yang genting pada waktu itu. Pilihannya hanya dua bersama Allah dan RasulNya atau bersama Musuh Allah yang akan menyerang pada waktu itu. Inilah musibah yang pertama setalah wafatnya Rasullullah Saw yaitu munculnya pemurtadan sejumlah org2 ketika itu. Musibah yang kedua setelah wafatnya Rasullullah Saw, orang tidak mau lagi membayar zakat.
Maka Abu Bakar RA sebagai khalifahnya Rasul ingin agar suasana agama yang ada di jaman Rasullullah Saw ini sama dengan masa di kekhalifahannya. Kecintaan Abu Bakar RA ini kepada islam telah membuat Abu Bakar RA ketika itu mengambil sikap dalam menghadapi pengemplang Zakat: “Lauman auni inqolan kamilu addunahu fi addin Nabi La qod khalbu (Kalau ada orang yang berzakat pada jaman Nabi Unta bersama Talinya, sekarang kurang tali saja tetap akan saya perangi dan saya bunuh)”. Ini karena apa? ini karena didalam seutas tali ini yang mengikat leher unta sekalipun, juga ada hak daripada fakir miskin. Orang miskin pada saat itu tidak ada yang demonstrasi walaupun mereka tidak membayar zakat. Baru-baru ini ada program pemerintah yaitu “Bantuan Langsung Tunai” untuk fakir miskin. Namun yang mengantri meminta bantuan ini bukan saja dari kalangan fakir miskin saja, dari kalangan yang mampupun ikut mengantri, inilah kondisi kita hari ini.
Sedangkan di jaman Sahabat RA pada waktu itu jangankan org yg mampu, org yg miskin sekalipun tidak ada yg mengemis2 meminta bantuan. Pada waktu itu seolah2 tidak ditemukan keluarga yg miskin, padahal ada. Ini karena apa? Org yg tidak tau betul2 keluarga si fakir miskin akan mengira si fakir ini org yg mampu, karena mereka tidak pernah menampakkan wajah susahnya, ataupun pernah mengadu kesusahan. Org2 spt ini tidak pernah menampakkan wajah susahnya, tidak pernah berharap, walaupun tidak punya apa-apa. Inilah kehidupan org2 yg telah di Ridhoi Allah Swt. Maka Khalifah ketika itu Abu Bakar RA lebih tau akan hak dpd org2 miskin, walaupun mereka tidak meminta. Abu Bakar RA tampil kedepan menyuarakan suara orang miskin ini, dikarenakan beliau pernah kaya dan Jatuh miskin untuk memperjuangkan agama. Jadi org yg jatuh miskin karena memperjuangkan agama inilah yang berhak menyuarakan suara dari org2 miskin.
Namun jika orang miskin jadi kaya, ini kebanyakan jadi lupa kepada Allah Swt. Maka datangnya harta dalam kehidupan kita bisa menjadi suatu musibah. Dulu kalau di Sragen ini org2 berbondong2 ke malam ijtima ini pakai sepeda, kalau skrg sudah pakai motor. Namun seringkali mereka suka mengatakan perkataan yg keliru: “Alhamdullillah sekarang kita sudah mendapat nusroh dari Allah.” Inilah keadaan kita hari ini. Jadi seorg khalifah harus tahu betul dpd hak-hak dpd org miskin. Lalu musibah yg ketiga ini setelah wafatnya Rasullullah Saw ini adalah munculnya nabi2 yg palsu membawa pemikiran2 yang palsu. Sehingga ketika itu Abu Bakar RA mengeluarkan jemaah untuk mengahadapi pemikir2 palsu tadi. Musibah yang ke empat adalah ancaman serang dari luar Madinah yaitu bala tentara Romawi yang siap menyerbu. Bagaimana Abu Bakar RA menyelesaikannya? dengan mengeluarkan jemaah2 sebanyak2nya hingga hampir2 tidak ada sahabat yang tersisa di kota madinah.
Kejadian ini membuat pasukan romawi bergetar karena mereka menyangka jika laki2 yang dikeluarkan dari madinah sebanyak itu bagaimana yang tinggal di dalamnya. Mereka berpikir kalau kita menyerang kedalam pasti kita akan terjebak dengan rencana mereka terkepung dari luar dan dalam. Pasukan Romawi tidak tahu asbab kebijakan Abu Bakar mengeluarkan jemaah sebanyak2nya, kota madinah kosong dari laki2. Mereka menyangka secara logika tidak mungkin Abu Bakar RA mengirim semua laki-lakinya keluar Madinah dan membiarkan kota madinah kosong. Jadi menurut mereka tentara romawi, bahwa ini taktik jebakan umat islam. Namun asbab dari perintah Allah dan sunnah Rasul, Abu Bakar RA bukannya menarik jemaah bahkan mengirimkan jemaah sebanyak2nya di jalan Allah memperjuangkan agama.
Jadi apa aja yang masalah yang dihadapi Khalifah Abu Bakar RA setelah wafatnya Nabi Saw? Orang Murtad, Orang Tidak Mau Bayar Zakat, Nabi Palsu dan Tentara Romawi. Bagaimana cara Abu Bakar RA menyelesaikan masalah ketika itu? Berangkatkan segera jemaah Usmah bin Zaid RA yang telah dibentuk Nabi Saw, Berangkatkan jemaah sebanyak2nya untuk menghadapi Murtadin, Pengemplang zakat, dan Nabi Palsu, hingga tidak tertinggal satu laki-laki pun di Madinah. Hasilnya org2 kembali masuk islam, org2 kembali membayar Zakat, Nabi Palsu ditumpas, Pasukan Romawi batal menyerang karena ketakutan. Inilah cara Abu Bakar RA menyelesaikan masalah yang banyak dan bertubi-tubi ketika itu yaitu dengan mengeluarkan jemaah2 di jalan Allah. 4 masalah diselesaikan dgn 1 cara yaitu keluarkan jemaah pergi di jalan Allah.
Hari ini kalau orang tidak bayar zakat bagaimana solusinya simposium dulu, diskusi dulu, rapat dulu, namun jemaah tidak ada yang dikeluarkan. Maka akhirnya kita hari ini ditipu dgn hutang2 yg besar. Dgn cara Rasullullah saw, satu saja caranya yaitu dengan mengirimkan jemaah sebanyak2nya, maka Allah akan selesaikan masalah. Ini adalah shiroh Nabawiyah, dan inilah kehidupan dpd Rasullullah Saw dan Sahabat RA. Padahal hari ini banyak kita dengar bahwa banyak di kepulauan2 kita org menjadi murtad, masih banyak org tidak mau membayar zakat, namun semua ini hanya kita denger sbg berita2 saja. Namun hari ini karkun tertibnya sudah dirubah2 menjadi tertib selebriti, hanya ada berita2 saja seperti di koran2. Da’i ini bukanlah pembuat berita melainkan pembuat sejarah.
Kalo celebrity ini kerjanya meramaikan koran2, tetapi kalo da’i ini meramaikan halaqoh2 dan mahalah2 di tempatnya masing2. Walaupun sudah demikian gawatnya pemurtadan terjadi, agama ditinggalkan, namun tetap saja jemaah yang dikeluarkan masih dibawah target. Kita ingin keadaan kembali seperti di jaman Rasullullah, kita ingin yg murtad kembali ke islam, namun kita tidak ingin usaha, bagaimana bisa? Kita tidak mau berusaha namun pingin mendapatkan hasil, bagaimana bisa? Dizaman Abu Bakar mungkin hanya zakat yg ditinggalkan, namun hari ini kita hampir semua perintah Allah ditinggalkan oleh ummat. Bahkan sholatpun ditinggalkan oleh ini umat. Padahal di dalam solat itu ada dialok mesra antara hamba dan khaliknya. Dalam setiap bacaan ini ada jawaban Allah yg halus yg tidak terdengar oleh kita.
Ketika kita membaca Al Fathihah :
1). Alhamdullillahi Rabbil Alamin- maka Allah akan membls: “Hammi dari Abdi (Hambaku telah memujiku)”
2). Arrahmanni Rahim- Maka Allah akan membalas: “Wattana ‘ilayya Abdi (HambaKu terus2an Memujaku)”
3). Malikiyawmid Deen- Maka Allah akan membalas:  “Maddajjani Abdi (Hambaku Mengagungkan Aku)”
4). Iyyakana’budu wa Iyyakanash Ta’in… Maka Allah akan membalas: “Hadzana Baini wa Baina Abdi (Ini hanya diantara Aku dan HambaKu saja)” yg lain tidak boleh ikut campur, maka apapun yg dia minta akan Aku perkenankan pada saat ini. Apa itu yg diminta?
5). Ihdinash sirotol Mustaqiem Shirtolladzi na an’amta alaihim ghoiri Maghdu bi alaihim waladh dhollin (Rupanya mereka meminta Hidayah, petunjuk ke jln2 org yg aku Ridhoi).
Inilah sebaik2nya doa yaitu memohon hidayah, bukan meminta harta atau jabatan. Inilah bahasa2 di dlm sholat, namun sudah ditinggalkan umat. Org2 yg membawa pemikiran2 palsu, seperti pemikiran nabi2 palsu, mulai bermunculan. Pemikiran2 yg bertentangan dgn perintah Allah dan kehidupan Nabi Saw di agung2kan seperti emansipasi wanita ala barat, Jaringan Islam Liberal, dan lain-lain. Bahkan org yg mengklaim sebagai nabipun juga bermunculan pada hari ini. Namun apa yang kita perbuat hari ini. Jika hal ini dibiarkan berkembang maka akan berkembang kemana2. Supaya fikir kita tidak kemana2 maka haru kita ikat dengan perintah2 Allah, walaupun itu tidak masuk akal.
Jika tidak maka pemikiran kita akan melantur kemana2 dan lupa perintah Allah Swt. Akibatnya lahirlah pemikiran2 bebas seperti Nabi2 palsu, dan menganggap org2 yang keluar di jalan Allah ini adalah orang-orang yang kolot. Padahal orang2 yang kolot2 seperti inilah yang di cintai Allah Swt dan RasulNya. Bahkan Nabi Saw katakan: “Khoirul quruni Khorni (sebaik2nya zaman adalah zamanku)”. Rasullullah Saw mengatakan di zamannya lah sebaik2nya zaman atau “Khoirul Qurun”. Dimana onta masih dipakai sebagai kendaraan utama, belum ada mobil dan pesawat, tetapi itulah sebaik2nya zaman, Ini karena apa? agama sempurna diamalkan dan bersih dari pemikiran2 palsu.
Pada hari ini Romawi dan Yahudi bukan saja merencanakan menyerang, namun sudah masuk dlm kehidupan umat islam. Berapa banyak org yg mengatakan benci sama yahudi dan romawi atau nasrani namun kehidupan mereka yg membenci sama dgn yahudi dan nasrani. Bahkan kehidupan nya menolak dpd kehidupan Rasullullah Saw dan sahabat karena pengaruh kehidupan yahudi dan nasrani ini. Maka bagaimana jalan keluarnya yaitu sebagaimana pemikiran Abu Bakar RA yaitu dgn mengeluarkan jemaah sebanyak2nya. Kita kirim jemaah2 ke negeri jauh dan ke pelosok2 negara kita, untuk mengobati dpd penyakit2 keimanan akibat virus2 kehidupan yahudi dan nasrani. Insya Allah semua bersedia !!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: