Buyaathaillah's Blog

Bayan Maulana Qasim Al Quraishi

 

Maulana Qasim Al-Quraishy

Musyawarah Indonesia

 

 

Bayan Maghrib

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ () تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Firman Allah :

 

“ Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari adzab yang pedih ? yaitu kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya. “ ( 61 : 10-11 )

 

Hadits Nabi SAW :

 

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِينَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ وَرَضِيتُمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَ يَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوا إِلَى دِينِكُمْ

 

“ Apabila kalian sibuk berjual beli dan mengambil ekor-ekor sapi (Kerja Dunia) sehingga kalian lalai dari kerja agama, maka Allah akan timpakan kehinaan hingga kamu bertobat dan kembali pada kerja agama. “ (Al Hadits )

 

Allah telah berikan kerja Dakwah yaitu amalan para Nabi kepada umat ini. Namun pada hakekatnya kerja ini adalah kerja Allah, tidak ada satu pun yang mampu memberikan petunjuk dan hidayah selain Allah. Allah tidak perlu nabi atau siapa pun dalam menjalankan kerja dakwah. Allah muliakan para Nabi melalui kerja ini. Allah ajak para nabi kepada Darussalam yaitu jalan keselamatan. Kerja Dakwah ini adalah jalan keselamatan, jalan yang ditempuh oleh para nabi. Kerja Dakwah ini Allah berikan kepada para Nabi, dan melalui Nabi SAW, Allah telah pindahkan tanggung jawab ini kepada umat saat ini untuk melanjutkannya. Ini adalah amanah yang Allah telah berikan kepada umat ini. Allah tidak akan menurunkan Nabi lagi setelah Nabi SAW, walaupun keadaan dunia menjadi serusak-rusaknya keadaan. Allah akan hisab kerja dakwah yang dilakukan umat ini. Di dalam kitab Al Ghazali dikatakan, jika ada satu orang di dunia ini yang belum sampai padanya dakwah kalimat “La Ilaaha Illallah”, maka Allah akan hisab seluruh umat.

 

Kita perlu tingkatkan syukur kita atas 2 perkara :

 

  1. Keberkahan dari Nabi Muhammad SAW

 

  1. Mendapat Syafaat Nabi SAW
  2. Masuk Surga lebih dahulu dibanding ummat-ummat terdahulu

 

  1. Keberkahan dari Kerja Dakwah :

 

  1. Allah panggil kita sebagai Khoiru Ummah ( Umat Terbaik )
  2. Allah berikan kita pertolongan seperti yang diberikan kepada para Nabi

 

Allah telah beri Taufiq kepada kita untuk dapat ikut ambil bagian dalam kerjanya Allah dan kerjanya para Nabi AS. Ini adalah kerja yang mulia dan hanya dikerjakan oleh orang-orang besar. Atas perkara ini kita perlu bersyukur kepada Allah dan kita tingkatkan pengorbanan kita. Jika kita bersyukur maka Allah akan tingkatkan nikmat kerja dakwah ini dalam diri kita. Jika tidak bersyukur maka kata Allah, “Sesungguhnya AdzabKu sangat pedih”. Syukur itu adalah kita korbankan segala yang kita miliki untuk agama Allah. Inilah yang sebenar-benarnya syukur, bukan hanya di lisan saja.

 

Hadratji Maulana Innamul Hasan berkata :

 

“Apabila seseorang tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri, maka Allah pasti akan merampas nikmat itu darinya.”

 

Kalau kita tidak bersyukur atas nikmat kerja dakwah ini, maka Allah akan rampas nikmat kerja ini dari kita dan Allah akan gantikan kita dengan yang lain. Lalu Allah akan timbulkan fitnah melalui kita dan Allah akan sibukkan kita dalam amal-amal yang Allah benci. Kita harus bersyukur dari dalam hati, tidak hanya dengan lisan yaitu dengan tidak bakhil terhadap harta dan diri kita untuk kepentingan agama Allah. Kita harus melakukan dakwah dengan yakin yang benar. Modal para Nabi AS dalam berdakwah yaitu, “Allah bersama saya”. Inilah keimanan para Nabi dalam menjalankan kerja dakwah. Sejauh mana kekuatan Iman kita sejauh itu pula kita kuat dalam mengamalkan agama dan memperjuangkannya. Sahabat berkata, “kami belajar Iman, baru belajar Qur’an, maka Iman kami meningkat”. Hari ini orang sholat tetapi setelah itu maksiat jalan terus, ini karena Iman tidak diperhatikan. Iman ini harus diusahakan dan dipelihara, baru akan membawa manfaat kepada amal kita.

 

Firman Allah :

 

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

 

“Sesungguhnya tidak Aku ciptakan Jin dan Manusia selain untuk Ibadah kepadaKu.” ( 51 : 56 )

 

Menurut tafsir ulama ayat ini adalah mengenai Makrifatullah, mengenal Allah. Allah yang Maha Kuasa, dan Kekuasaan Allah ini tanpa batas. Allah punya Kehendak dan Kehendaknya Mutlak. Cukup dengan kata “Kun” maka terjadilah apa yang Allah kehendaki. Tidak ada satu mahluk pun yang dapat menghalangi kehendak Allah. Jika seluruh mahluk dari jin, manusia, dan malaikat dari awal penciptaan hingga hari kiamat berkumpul mencoba menghalangi Kehendak Allah maka mereka tidak akan berhasil. Semua manfaat dan mudaharat ini datangnya dari Allah. Jika seluruh mahluk mau memberi manfaat atau mudharat kepada kita tetapi Allah tidak izinkan maka tidak akan terjadi. Allah yang menciptakan alam ini beserta isinya dan Allah pula yang memelihara. Allah tidak pernah letih dalam memelihara alam ini dan Allah tidak pernah meleset dalam pemeliharaannya. Semuanya sudah Allah jamin kehidupannya.

 

Allah yang menciptakan mahluknya dan Allah pulalah yang menjaganya. Dengan QudratNya, kekuasaanNya, Allah pimpin Alam ini. Peredaran matahari, bulan, bumi, dan bintang-bintang, tidak ada yang tabrakan, semuanya di bawah kontrol Allah Ta’ala. Tidak ada satu pun yang lolos dari pengawasan Allah walaupun itu jatuhnya daun di gelapan malam, semuanya telah Allah ketahui waktunya dan tempatnya. Dari rintiknya hujan dan banyaknya pasir di lautan dari jaman Nabi Adam AS sampai kiamat Allah telah mengetahui jumlahnya. Semua benda yang terlihat dan tidak terlihat ada dalam pengawasan Allah ta’ala. Tidak ada yang dapat disembunyikan dari Allah, Allah Maha Mengetahui segalanya. Allah tahu apa-apa yang kita tidak ketahui dan apa-apa yang kita sembunyikan. Bahkan Allah mengetahui apa-apa yang belum terjadi. Pengetahuan Allah Maha Sempurna dan tidak terbatas.

 

Sampai saat ini kita belum betul-betul mengenal Allah. Justru kita lebih mengenal toko kita, pertanian kita, dan perdagangan kita. Kita tidak mengetahui di balik keadaan-keadaan sekarang ini di belakangnya ada Allah yang mengatur semuanya. Semua yang kita lihat ini ada dalam kontrolnya Allah Ta’ala. Allah dapat melihat semut yang hitam di dalam lobang yang hitam di kedalaman tanah di kegelapan malam, dan Allah tidak lupa rizkinya. Apalagi manusia, mahluk yang paling sempurna, bagaimana mungkin Allah lupa atas rizki mereka. Tidak ada satu pun yang melata di muka bumi kecuali telah Allah jamin Rizkinya. Orang tidak akan mati sebelum rizki yang Allah tetapkan habis walaupun itu hanya satu hirup udara. Tidak ada satu mahluk pun yang mati karena kekurangan rizki melainkan karena sudah waktunya. Semuanya akan mati bahkan Jibril dan Malaikat pencabut nyawa Izrail sekalipun. Mati itu sudah ditentukan, tidak ada hubungannya dengan kekurangan rizki. Jika kita tawakkal kepada Allah sebenar-benarnya tawakkal, maka Allah akan beri rizki kita seperti burung. Burung pergi pagi, pulang sore sudah dalam keadaan kenyang. Allah tidak perlu pertanian, pertokoan, perdagangan dalam memberikan rizki kepada manusia. Mahluk yang Allah ciptakan ada 18.000 jenis, semuanya Allah tanggung rizkinya.

 

Manusia Allah perintahkan kerja dan membuat usaha atas rizki Allah untuk menguji manusia apakah dia yakin pada usahanya atau pada Allah. Allah ingin melihat kemana hati kita bergantung ketika kita membuat usaha atas rizki. Apakah kita bergantung pada Allah atau pada usaha kita, ini yang Allah ingin uji. Nabi Musa AS berkata kepada Qorun untuk berbuat baik pada fakir miskin. Lalu Qorun menjawab, “Ini harta bukan milik Allah, tetapi ini adalah hasil jerih payah saya”. Namun ketika Allah memberi adzab kepada Qorun, harta yang dimilikinya tidak dapat menyelamatkan dia dari adzab Allah. Allah tidak pandang hartanya Qorun, bahkan Allah pendam Qorun bersama harta-hartanya. Qorun merasa Rizki datang dari usaha dia, bukan dari Allah. Ini adalah keyakinan yang salah, dan ini terjadi pada ummat saat ini.

 

Kita perlu ubah keyakinan kita dari yakin kepada mahluk menjadi yakin kepada Allah. Jangan seperti ahli dunia yang menyelesaikan masalah dengan bergantung pada mahluk. Pada hakekatnya seluruh masalah yang ada ini datangnya dari Allah. Allah beri kita masalah agar kita mau kembali kepadanya. Kalau ada masalah adukan langsung pada Allah dengan sholat dan do’a. Allah perintahkan kita untuk sabar dan sholat. Hari ini orang sholat tetapi tidak sabar, sehingga pertolongan Allah tidak turun. Jika kita mau mengadu pada Allah dan bersabar maka Allah akan bukakan pintu-pintu pertolongan. Tetapi jika kita mengadu pada mahluk maka Allah akan tutupu pintu-pintu pertolongan. Minta pada Allah dengan do’a karena do’a ini adalah otak dari ibadah. Jangan minta kepada mahluk seperti pengemis karena orang seperti ini akan bangkit dengan wajah tanpa daging.

 

Dalam mahfum hadits dikatakan :

 

“jika meminta, maka memintalah kepada Allah, dan jika memohon maka memohonlah kepada Allah.” (Al Hadits)

 

Sahabat keluar di jalan Allah, pulang kerumah ternyata tidak ada makanan. Lalu dia sholat 2 raka’at bersama istrinya memohon jalan keluar dari Allah. Sehingga pusaran gandum berputar mengeluarkan gandum tidak henti-hentinya. Setelah dibuka ternyata kosong. Sahabat RA mengadukan perkara ini kepada Nabi SAW. Apa kata Nabi SAW, “Jika engkau tidak membuka pusaran gandum itu, maka dia akan terus berputar mengeluarkan gandum sampai hari kiamat.”

 

Jemaah sahabat RA keluar di jalan Allah dengan amirnya Ibnu Jarrah RA. Mereka keluar tidak ada batasan 3 hari, 40 hari, atau 4 bulan, mereka keluar dan pulang jika maksud telah tercapai. Sangking lamanya dalam perjalanan maka bekal persediaan makan mereka habis. Sahabat cukup puas dengan memakan satu kurma untuk satu hari. Hari ini kita makan berapa kali sehari, dan jika kita memakan kurma perlu berapa kurma untuk memuaskan kita. Setelah kurmanya habis, mereka pun memulai memakan tumbuh-tumbuhan dan daun-daunan, tetapi tidak ada yang mengeluh. Sahabat Tawakkal kepada Allah dan mereka bersabar dalam mujahaddah memperjuangkan agama Allah, sehingga Allah datangkan pertolongan. Allah datangkan Ikan Ambar yang besar, yang dagingnya tidak habis-habis untuk dimakan sampai mereka pulang. Nabi SAW sendiri ingin mencicipi keberkahan makanan yang didapat dari sabar dalam mujahaddah memperjuangkan agama Allah.

 

Allah uji kita agar kita mengetahui keimanan kita asli atau palsu. Diuji agar ketahuan iman kita ini benar atau bohong. Ujian ini Allah kasih untuk menaikkan derajat kita dan Iman kita. Sahabat diuji dengan kelaparan hingga mereka berjatuhan dalam shaff pertama ketika sholat berjamaah di belakang nabi SAW. Inilah ujian yang Allah berikan kepada para sahabat RA.

 

Allah berfirman :

 

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

 

“Dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” (2 : 155 )

 

Sahabat RA juga Allah uji Imannya hingga sampai pada taraf yang sulit diikuti oleh manusia setelah mereka. Kesempurnaan Iman para sahabat ini sampai pada tingkatan derajat keimanan tertinggi setelah Nabi-nabi AS. Dikatakan ulama, Iman terlemah di antara sahabat dibanding dengan keimanan seluruh manusia selain para Nabi AS ini hanya seperti debu saja. Ini disebabkan mereka telah melewati ujian-ujian yang berat dan pengorbanan yang di atas kemampuan kita saat ini untuk menerimanya. Ujian yang Allah beri kepada sahabat jauh lebih berat dibandingkan ujian yang kita terima hari ini. Namun Allah berjanji siapa saja yang meniru-niru suatu kaum maka Allah akan bangkitkan dia bersama mereka.

 

Seorang Anshar yang biasa bertani dan tidak pernah luput dari Fi sabillillah bersama nabi SAW minta cuti dari Jihad karena pertanian yang tidak terurus dan keadaan rumah yang tidak ada apa-apa. Ketika itu Nabi SAW diam saja tidak memberi jawaban. Lalu turun firman dari Allah yang menjawab keadaan sahabat tersebut yang mahfumnya, “Janganlah engkau campakkan dirimu kedalam kehancuran (api neraka).” Inilah jawaban dari Allah bagi mereka yang meminta izin meninggalkan kerja agama demi kepentingan dunia. Akhirnya sahabat tersebut kembali kepada Nabi SAW tidak jadi minta cuti.

 

Beberapa orang Sahabat RA dalam keadaan kesusahan tidak ada air, pertanian terbengkalai, keluarga sudah dikorbankan demi berjuang di jalan Allah. Lalu mereka sepakat untuk datang kepada Nabi SAW untuk minta dido’akan agar Allah berikan mereka air untuk pertanian mereka sehingga mereka bisa keluar di jalan Allah. Anak, istri, dan khadim mereka, telah mereka gunakan untuk mengurusi rumah dan pertanian selama mereka di jalan Allah. Mereka akan tetap keluar di jalan Allah tapi minta didoakan nabi agar air mengalir di sawah mereka. Ketika bertemu dengan Nabi SAW, beliau langsung menyambut mereka dan berkata, “Apa pun yang kalian minta akan aku do’akan dan apa pun yang kalian minta akan aku berikan.” Melihat keadaan tersebut sahabat-sahabat tadi bermusyawarah kembali. Namun kali ini mereka bukan meminta air, tetapi meminta Nabi mendo’akan Ampunan buat mereka. Inilah sahabat RA, datang kepada Nabi ingin meminta dunia malah mendapatkan ampunan.

 

Para sahabat telah mendapatkan Hakekat Iman dengan Dakwah dan Pengorbanan. Ketika Persia berhasil di taklukkan oleh para sahabat RA, mahkota raja yang tidak ternilai harganya waktu itu hanya di jadikan mainan anak-anak untuk ditendang. Sahabat berkata asbab mahkota inilah Raja Persia di hinakan, mereka hanya terkesan pada harta dan tahta. Sedangkan sahabat hanya terkesan pada Iman dan Amal, sehingga harta dan tahta kerajaan persia jatuh di bawah kaki mereka.

 

Seorang Syeikhul Hadits bernama Syekh Abdullah Ibnu Mubarak, guru dari Imam Bukhari, beliau dakwah setiap tahun 6 bulan lamanya di jalan Allah. Setelah 6 bulan beliau pulang ke rumah dan mengajar. Beliau ini suka mengumpulkan debu-debu yang menempel pada sendalnya dan pakaiannya ketika keluar di jalan Allah. Beliau kumpulkan dan di buat menjadi bata-bata kecil. Lalu ketika meninggal dia berwasiat untuk menguburkan bata-bata itu bersamanya. Sahabatnya bertanya mengapa dia melakukan demikian, Beliau menjawab, “Jika nanti Allah bertanya, Apa yang engkau bawa wahai ibnu Mubarak ? maka saya akan jawab, Saya bawakan debu-debu ketika keluar di jalanmu ya Allah. Dan debu-debu itu akan menjadi saksi buatku di pengadilan Allah”

 

Keluar di jalan Allah ini merupakan perkara yang sangat menguntungkan, Investasi besar jangka panjang. Bahkan debunya saja bernilai disisi Allah Ta’ala. Debu-debu yang menempel pada orang yang keluar di jalan Allah tidak akan bertemu dengan asap api neraka, apalagi orangnya. Nabi SAW ketika beliau SAW masih hidup bercita-cita untuk mati di jalan Allah. Beliau ingin mati di jalan Allah, lalu di hidupkan kembali, lalu mati lagi di jalan Allah, hidup lagi, mati lagi di jalan Allah, beliau ulangi ini hingga 10 kali. Ini di karenakan tingginya nilai dan derajat orang yang keluar di jalan Allah.

 

Ada 3 Asbab Utama untuk manusia mendapatkan Hidayah :

 

  1. Kehidupan Nabi SAW : Surroh, Sirah, Sariroh Nabi SAW.
  2. Al Qur’an : Al Huda (Petunjuk) bagi seluruh manusia
  3. Amalan Dakwah : Jalannya para Anbiya dan Sahabat.

 

Atas perkara ini Allah kirim 124.000 Nabi untuk memberi penjelasan kepada manusia tentang jalan menuju kesalamatan. Adam AS adalah bapak dari seluruh manusia yang diberikan tanggung jawab Dakwah kepada keturunannya. Namun ketika itu syariat atau perintah agama, belum di turunkan. Syariat agama di turunkan ketika zaman Nabi Nuh AS. Di saat itu Nuh AS buat kerja dakwah siang dan malam, secara terang-terangan dan secara sembunyi-sembunyi. Mujahaddah selama 950 tahun sampai tidak ada yang mau ketemu dengannya lagi. Walaupun begitu Nuh AS hanya mampu mentaskil 80 orang saja untuk beriman kepada Allah.

 

Allah tidak melihat kuatnya fisik seseorang atau banyak jumlah orang, tetapi yang dilihat oleh Allah adalah Iman dan Amalnya. Sahabat RA walaupun lemah fisiknya seperti Amr bin Jamuh, namun karena kekuatan iman dan amalnya, dia mampu melakukan pengorbanan berjuang di jalan Allah dan mendapatkan syahid. Seseorang yang lemah fisiknya tidak ada kekuatan ataupun senjata tetapi dia punya Iman dan Amal, maka Allah akan menangkan dia diatas musuh-musuhnya. Walaupun musuh-musuhnya mempunyai persenjatan yang canggih-canggih dan tentara yang banyak. Seperti dimenangkannya Musa AS atas Firaun laknatullah Alaih dan Ibrahim AS atas Namrud Laknatullah Alaih.

 

Nabi Nuh AS dapat hidup tenang bersama orang beriman setelah musuhnya yaitu kaumnya yang menentangnnya telah Allah hancurkan. Namun setelah Nuh AS wafat, Dakwahpun wafat bersama dengan Nuh AS. Setelah Dakwah hilang, maka kehidupan manusia kembali sesat dan rusak. Jika tidak ada Dakwah, walaupun di tengah-tengah umat hidup seorang wali tetapi tidak buat kerja dakwah. Maka tanpa dakwah ini :

 

  1. Maksiat akan tersebar
  2. Tauhid manusia akan rusak dan menjadi Syirik
  3. Akhlaq manusia akan menjadi buruk
  4. Amal Agama akan di tinggalkan
  5. Masalah akan timbul
  6. Pertolongan Allah tidak akan turun
  7. Do’a tidak akan di dengar oleh Allah
  8. Manusia akan murtad dan kufur kepada Allah

 

Ketika ini agama akan hilang dari kehidupan manusia, dan adzab Allah akan turun kepada umat ini. Orang sholehpun, walaupun itu para wali, tetapi tidak membuat kerja dakwah, maka Allah akan adzab mereka bersama dengan para pendosa atau kaum itu. Setelah periode Nabi Nuh AS, umat telah menjadi kufur kembali, sehingga Allah kirimkan Nabi lagi. Baru setelah itu umat kembali taat lagi dan beriman lagi. Walaupun selalu kaum yang beriman dan yang taat lebih sedikit di banding yang kufur. Setiap ada usaha atas keimanan dan ketaatan pada Allah, maka selalu ada kaum yang menentang dan menyakiti orang yang mau beriman dan taat kepada Allah. Seperti Nabi Hud AS yang Allah kirim untuk kaum Ad setelah periode Nabi Nuh AS. Kaum Ad ini adalah kaum yang fisiknya kuat-kuat dan superior, sangking kuatnya mereka berkata, “Siapa yang lebih kuat dari kami.” Kaum Ad ini adalah kaum yang kuat, namun Allah lebih kuat lagi dan lebih perkasa dibandingkan kaum Ad. Adzab Allah tidak bisa dikalahkan oleh kekuatan mereka. Cukup Allah lepaskan angin yang kencang sehingga kaum Ad ini binasa.

 

Setelah Nabi Hud AS wafat, maka dakwahpun ikut wafat bersama Nabi Hud AS. Ketika Dakwah hilang dari kehidupan kaum Nabi Hud AS, maka kaum Nabi Hud menjadi kafir kembali. Ini yang akan terjadi terus menerus hingga akhir kiamat jika Dakwah di tinggalkan. Namun setelah Nabi Muhammad SAW, Allah telah berikan tanggung jawab dakwah ini kepada kita. Dengan Dakwah Allah akan hancurkan musuh-musuh Islam, sebagaimana Allah telah hancurkan musuh-musuh Nabi AS asbab kerja dakwah mereka. Tanpa Dakwah maka kemaksiatan akan menyebar dan umat akan kembali menjadi kafir.Setelah periode Hud AS, umat ketika itu kembali kafir sehingga Allah kirim Nabi Sholeh AS kepada kaum Tsamud. Kaum Tsamud ini mempunyai kelebihan ahli dibidang teknologi bangunan dan pabrik-pabrik. Setelah ada dakwah Nabi Sholeh AS, umat kembali ada yang beriman walaupun sebagian besar masih banyak yang menentang dan menyakiti orang yang beriman. Asbab mereka tidak mau tidak mau taat kepada Allah, sehingga Allah kirim kepada mereka Malaikat yang hanya dengan sekali teriakannya mampu membinasakan kaum tsamud. Allah Maha Kuat, cukup dengan satu malaikat saja dan satu teriakan, maka Kaum Tsamud musnah dari muka bumi dan di ganti oleh kaum yang lain. Setelah Nabi Sholeh AS wafat, dakwahpun hilang, sehingga orang kembali menjadi kafir dan kembali menjadi sesat.

 

Jika usaha agama di tinggalkan maka usaha setan akan masuk sehingga manusia kembali menjadi kufur. Padahal awalnya mereka itu adalah orang yang pergi haji, bayar zakat, menjauhi segala larangan Allah, namun karena tidak ada dakwah mereka kufur kembali. Dakwah ini akan menghancurkan :

 

  1. Kekuatan atau sistem kebatilan
  2. Usaha setan atau usaha atas kemaksiatan
  3. Kecintaan terhadap dunia

 

Dengan Dakwah Iman akan menjadi Kuat dan Agamapun akan tersebar. Seperti pohon yang di beri air lalu tumbuh dan mengeluarkan buah yang manis. Dakwah ini adalah makanan Iman, seperti kita yang tidak bisa hidup tanpa makan. Iman tanpa dakwah seperti Pohon yang tidak di beri air, lambat laun akan mati. Ketika orang melakukan zina, mencuri, korupsi, maka iman akan tercabut. Tidak mungkin yang haq dapat berkumpul dengan yang bathil dalam satu tempat dalam diri seseorang. Tanpa Dakwah, Iman ini seperti orang yang tidak diberi makan lalu mati. Dengan Dakwah Allah akan sempurnakan Iman kita dan Allah akan wujudkan agama dalam diri setiap orang secara sempurna, seperti di jaman para sahabat terdahulu. Sahabat dahulu membuat 3 perkara, sehingga Allah hujamkan Iman yang kuat kedalam hati mereka. 3 perkara itu adalah :

 

  1. Dakwahkan Kebesaran Allah
  2. Buat Pengorbanan untuk Agama
  3. Taat kepada yang Allah dan RasulNya

 

Siapa yang mencari penolong selain dari Allah, maka ini seperti membuat sarang laba-laba, lemah dan gampang hancur. Seluruh isi alam ini dengan para malaikatnya sampai pada teknologi manusia yang canggih-canggih, ini hanya seperti sarang laba-laba bagi Allah. Dan nilainya tidak lebih dari sebelah sayap nyamuk. Orang yang tidak hidupkan Dakwah akan menganggap dunia ini mulia. Orang seperti ini akan mudah terkesan dengan harta, kedudukan, dan teknologi. Ini asbab tidak ada dakwah sehingga Iman lemah, mudah terkesan kepada selain Allah. Iman dan yakin hanya bisa di dapat dan dibeli di jalan Allah, tidak bisa didapat atau dibeli di toko, di rumah, di pasar, di sawah, di kantor, dan lain-lain. Iman dan Yakin ini adalah pemberian Allah, hanya Allah yang mampu memberikannya. Apabila kita ingin mendapatkan Iman yang sempurna, pergi di jalan Allah dengan harta dan diri tinggalkan semua yang kita cintai demi Agama Allah.

 

Abu Ayub Al Anshori adalah orang yang menerima Nabi SAW untuk tinggal di rumahnya ketika Beliau SAW hijrah ke madinah. Suatu Ketika beliau hendak memenuhi takaza fissabillillah ke Turki, namun keadaan beliau ketika itu tidak memungkinkan. Ini dikarenakan beliau sudah berumur 92 tahun dan memiliki udzur untuk tidak pergi di jalan Allah. Anaknya ketika itu menginginkan agar ayahnya, Abu Ayub Al Anshari RA, untuk tidak ikut dan agar istirahat saja di rumah. Tapi apa kata Abu Ayub Al Anshori, “Mau saya juga begitu, Namun Allah maunya lain. Allah ingin kita keluar di jalan Allah di waktu senang dan susah, di waktu tua dan muda, kapan saja di butuhkan.” Lalu di tengah perjalanan ke turki dia menderita sakit keras, lalu dia berwasiat kepada anaknya agar menguburkan mayatnya di benteng turkey. Ketika ditanya kenapa, Beliau RA menjawab, “Saya ingin berjuang di jalan Allah baik dalam keadaan hidup maupun mati. Saya ingin tempat saya dikuburkan menjadi saksi saya di hadapan Allah bahwa saya mati dalam Fissabillillah.” Ketika beliau di kuburkan di Turki, terlihat ada selendang bercahaya keluar dari dalam kuburnya memancar hingga ke langit. Orang-orang kafir di turkey yang melihat hal itu terkesan hingga mereka masuk ke dalam Islam. Inilah sahabat cita-citanya adalah untuk mati di jalan Allah, bagaimana dengan kita ? Sehingga kematiannya pun masih Allah jadikan sebagai asbab hidayah bagi manusia.

 

Hari ini kehidupan kita beda dengan sahabat, Allah beri kita jalan menuju ampunan Allah tetapi kita lebih memilih jalan menuju kehancuran. Keduniaan yang kita miliki pada hari ini bukannya dapat menjadi asbab kita menuju surganya Allah malah menjadi asbab kita menuju Nerakanya Allah. Untuk perkara ini kita perlu sambungkan diri kita kepada Jalan yang dapat membawa kita kepada Darussalam. Jalan yang sudah ditempuh oleh para Anbiya AS, para sahabat, dan orang-orang yang sukses setelah mereka. Kita niatkan diri kita untuk dapat mengikuti jejak mereka sehingga Allah bangkitkan kita bersama mereka.

 

Maka kita sipakan diri kita saat ini juga untuk berangkat di jalan Allah !!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: