Buyaathaillah's Blog

Mudzakaroh Keutamaan Umat Nabi Muhammad Saw

Keutamaan Umat Muhammad SAW

Di antaranya, ditetapkanya mereka sebagai umat yang pertama kali masuk surga, sebagaimana riwayat dari abu hurairah ra dalam sahih muslim dia berkata: Rasulullah صل الله عليه وسلم  bersabda:

نحن الآخرون الأولون يوم القيامة، ونحن أول من يدخل الجنة…

“Kami adalah orang-orang yang datang belakangan (namun) yang datang pertama pada hari kiamat. Dan kami adalah umat yang pertama kali masuk surga…” Sahih Muslim (11/585)

Umat Nabi juga ditetapkan sebagai separuh penghuni surga, sebagaimana yang disebutkan dalam Sahih Bukhari dan Sahih Muslim dari hadist Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu anhu  Nabi صل الله عليه وسلم bersabda:

Apakah kalian senang jika menjadi seperempat dari penghuni surga? Kami menjawab: ya wahai rosulullah. Beliau bertanya lagi: Apakah kalian senang jika menjadi sepertiga dari penghuni surga? Mereka menjawab: ya wahai Rasulullah. Beliau bersabda: sesungguhnya aku berharap kalian akan menjadi separuh dari penghuni surga. Perumpamaan kalian dibandingkan dengan umat-umat selain kalian seperti satu rambut putih yang ada pada sapi hitam. Sahih Bukhari (V11/195)

Allah juga memberikan kepada umat ini pahala yang lebih banyak daripada pahala yang diberikan kepada umat-umat yang sebelumnya, sekalipun umat ini lebih sedikit amalanya, sebagaimana di sebutkan dalam hadits qirath.

Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata: Rasulullah  صل الله عليه وسلم   telah bersabda:

مَنْ شَهِدَ الْجَنَازَةَ حَتَّى يُصَلِّيَ فَلَهُ قِيرَاطٌ وَمَنْ شَهِدَ حَتَّى تُدْفَنَ كَانَ لَهُ قِيرَاطَانِ قِيلَ وَمَا الْقِيرَاطَانِ قَالَ مِثْلُ الْجَبَلَيْنِ الْعَظِيمَيْنِ

“Barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menyolatkannya maka baginya pahala satu qirath, dan barangsiapa yang menyaksikan jenazah hingga ikut menguburkannya maka baginya pahala dua qirath.” Ditanyakan kepada beliau, “Apa yang dimaksud dengan dua qirath?” Beliau menjawab, “Seperti dua gunung yang besar.” (HR. Al-Bukhari no. 1325 dan Muslim no. 945)

Dijadikan Sebagai Sebaik-baik Umat

Allah swt. berfirman,

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang maruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Mengenai ayat di atas, Rasulullah saw. bersabda, “Kalian menyempurnakan tujuh puluh umat, dan kalian adalah manusia-manusia terbaik dan termulia di sisi Allah.” (Tirmidzi, ibnu Majah)

sabda Rasulullah saw. “Allah memberiku apa yang tidak diberikan kepada para Nabi.” Sahabat bertanya, “apakah itu, ya Rasulullah?” jawab beliau, “Aku ditolong ketika takut, diberikan kepadaku kunci-kunci bumi, aku diberi nama Ahmad, Allah menjadikan tanah suci untukku, dan diciptakan sebagai sebaik-baik umat.” (Ahmad) demikianlah Allah memuliakan umat Muhammad saw. dengan gelar sebaik-baik umat, berada di atas derajat umat-umat lainnya. tentu Allah tidak memberikan gelar itu begitu saja, tetapi dengan syarat yang telah disebutkan di dalam ayat diatas, yaitu apabila umat ini melaksanakan tugas amar ma’ruf nahi mungkar, serta beriman kepada Allah swt.

Alhamdulillah kita dilahirkan menjadi umat nabi muhammad, akankah kita terus terlena dengan kemuliaan yang telah diberikan Allah kepada kita tanpa menjalankan tugas kita yaitu amar ma’ruf nahi mungkar.

Kedudukan Umat Muhammad saw. Membuat Iri Para Nabi

Diriwayatkan bahwa suatu ketika, Nabi Musa as. berdo’a, “ya Tuhan saya menjumpai di dalam lauh (kitab) umat yang bisa memberikan syafa’at dan dapat menerima syafa’at, maka jadikanlah umat tersebut sebagai umat saya” . Allah berkata, “itu adalah ummat Muhammad SAW”.

Musa berkata, “Ya Tuhan saya menjumpai di dalam kitab sebuah ummat yang dapat menghapus kesalahan dengan sholat 5 waktu maka jadikanlah ummat tersebut sebagai umat saya”, Tuhan menjawab itu adalah umat Muhammad. Musa berkata, “Ya Tuhan saya menjumpai di dalam kitab sebuah ummat yang dapat membinasakan pihak-pihak yang mengajak kepada kesesatan sehingga mereka dapat membunuh Dajjal yang bermata sebelah, maka jadikanlah umat tersebut sebagai umatku,” Tuhan berkata, itu adalah umat Muhammad SAW.

Musa berkata, “ya Tuhan saya menjumpai di dalam kitab sebuah ummat yang dapat bersuci dengan air dan debu maka jadikanlah umat tersebut sebagai umatku,” Tuhan menjawab, itu adalah umat Muhammad SAW.

Musa berkata “Ya Tuhan saya menjumpai di dalam kitab sebuah umat yang melakukan shodaqoh dan memakan shodaqoh, adapun orang-orang terdahulu membakarnya dengan api, maka jadikanlah umat tersebut sebai umatku,” Tuhan menjawab, itu adalah ummat Muhammad SAW.

Musa berkata “Ya Tuhan saya menjumpai di dalam kitab sebuah umat yang apabila memiliki niat baik maka dicatat baginya satu kebaikan dan jika niat tersebut dilakukan maka dicatat baginya 10 hingga 700 kebaikan dan kelipatannya sedangkan jika mereka memiliki niat jelek maka hal itu tidak dicatat sama sekali dan jika niat jelek tersebut dilakukan maka akan dicatat baginya satu kejelekan, maka jadikanlah umat tersebut sebagai umatku,” Tuhan menjawab itu adalah umat Muhammad.

Musa berkata “Ya Tuhan saya menjumpai di dalam kitab umat yang masuk surga dan 70rb dari umat tersebut masuk surga tanpa hisab. Maka jadikanlah umat tersebut sebagai umatku,” Tuhan menjawab, itu adalah ummat Muhammad….. (Abu Laits Samarqandhi)

Keutamaan Ummat nabi Muhammad Saw di Mata Nabi Adam As

Disebutkan bahwa Nabi Adam As telah berkata, “Sesungguhnya Allah SWT telah memberikan kepada umat Muhammad Saw empat kemuliaan yang tidak diberikan kepadaku:

  • Pertama, Taubatku hanya diterima di kota Mekah, sementara taubat umat Nabi Muhammad Saw diterima dimana saja oleh Allah S.W.T.
  • Kedua, Pada awalnya aku berpakaian, tetapi akibat aku berbuat durhaka kepada Allah SWT, maka Allah SWT telah menjadikan aku telanjang. Tetapi Umat Muhammad Saw banyak membuat durhaka dengan telanjang, tetapi Allah SWT memberi mereka pakaian.
  • Ketiga, Ketika aku telah durhaka kepada Allah SWT, maka Allah SWT telah memisahkan aku dengan isteriku. Tetapi umat Muhammad Saw berbuat derhaka dan Allah SWT tidak memisahkan isteri mereka.
  • Keempat, Memang aku telah berbuat durhaka kepada Allah SWT dalam syurga dan aku dikeluarkan dari syurga, tetapi umat Muhammad Saw durhaka kepada Allah akan dimasukkan ke dalam syurga apabila mereka bertaubat kepada Allah Saw.

KISAH Percakapan Allah Swt dengan Musa AS

Suatu kemuliaan sekaligus kebanggaan, kita diciptakan oleh Allah SWT menjadi umat paling mulia dari semua umat dengan Nabi yang paling mulia dari semua nabi. Betapa besarnya anugerah ini, yang layak kita renungkan untuk disyukuri sehingga membangkitkan semangat gairah kita untuk menjalankan tugas sebagai khalifah di bumi Allah ini dengan melaksanakan syariatNya dan kesunnahan NabiNya.

Dan sebaliknya, jangan kita menyia-nyiakan anugerah mulia ini, dengan kita menghinakan dan lalai dalam menjalankan syariat Allah, serta menyakiti hati Baginda Rasulullah dengan menelantarkan sunnah-sunnah beliau.

Berikut ini adalah dialog Nabi Musa AS dengan Robbul ‘Izzah, Allah Ta’ala, yang menunjukkan betapa menjadi umat Muhammad SAW merupakan suatu kemuliaan besar, yang disaksikan oleh Nabi Musa sehingga beliaupun mengharapkan untuk menjadi umat Nabi Muhammad SAW seperti kita.

قَالَ وَهْبُ بْنِ مُنبِّه، رَحِمَهُ الله : لَمَّا قَرَأَ مُوْسَى عَلَيْهِ السَّلاَمُ الأَلْوَاحَ، وَجَدَ فِيْهَا فَضِيْلَةَ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Berkata Wahab bin Munabbih : Tatkala Nabi Musa membaca papan-papan yang tertulis wahyu Allah, dia mendapati didalamnya keutamaan umat Nabi Muhammad SAW.

قَالَ: يَا رَبِّ مَا هَذِهِ الأُمَّةُ الْمُحَمَّدِيَّةُ الَّتِي أَجِدُهَا فِي اْلأَلْوَاحِ ؟

Berkata Nabi Musa : “Ya Allah, siapa umat Muhammad yang aku temukan pada papan – panan itu ?”

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ، يَرْضَوْنَ مِنِّي بِالْيَسِيْرِ مِنَ الرِّزْقِ أُعْطِيْهِمْ إِيَّاهُ، وَأَرْضَى مِنْهُمْ بِالْيَسِيْرِ مِنَ الْعَمَلِ، أُدْخِلُ أَحَدَهُمُ الْجَنَّةَ بِشَهَادَةِ أَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ الله.

Allah berfirman : “Mereka adalah umat Nabi Muhammad, mereka itu ridho dengan rizki sedikit yang Aku beri, maka Aku pun ridho biarpun mereka sedikit beramal, Aku akan memasukkan salah satu dari mereka di surga dengan syahadat”.

قَالَ : فَإِنِّيْ أَجِدُ فِيْ الأَلْوَاحِ أُمَّةً يُحْشَرُوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وُجُوْهُهُمْ عَلَى صُوْرَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِي.

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat yang mereka dikumpulkan di hari kiamat sedangkan wajah-wajah mereka seperti bulan purnama, Ya Allah jadikanlah mereka umatku”.

.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ، أَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ غُرّاً مُحَجَّلِيْنَ مِنْ آثَارِ الْوُضُوْءِ وَالسُّجُوْدِ.

Allah berfirman : “Itu adalah umat Nabi Muhammad, Aku mengumpulkan mereka di hari kiamat, wajah dan kaki mereka bersinar cemerlang karena bekas dari wudhu’ dan sujud”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّي أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً أَرْدِيَتُهُمْ عَلَى ظُهُوْرِهِمْ، وَسُيُوْفُهُمْ عَلَى عَوَاتِقِهِمْ، أَصْحَابَ تَوَكُّلٍ وَيَقِيْنٍ، يُكَبِّرُوْنَ عَلَى رُؤُوْسِ الصَّوَامِعِ، يَطْلُبُوْنَ الْجِهَادَ بِكُلِّ حَقٍّ، حَتَّى يُقَاتِلُوْنَ الدَّجَّالَ فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِي.

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, sorban – sorban mereka diatas punggung-punggung mereka serta pedang -pedang mereka di atas leher-leher mereka, mereka memiliki tawakal dan keyakinan, mereka bertakbir di atas tempat – tempat ibadah, mereka mencari jihad pada setiap kebenaran, hingga mereka melawan Dajjal. Ya Allah jadikanlah mereka umatku”.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : Itu adalah umat Nabi Muhammad

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً يُصَلُّوْنَ فِي اْليَوْمِ وَاللَّيْلَةِ خَمْسَ صَلَوَاتٍ، فِيْ خَمْسِ سَاعَاتٍ مِنَ النَّهَارِ، وَتُفْتَحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَتُنْزَلُ عَلَيْهِمُ الرَّحْمَةُ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ.

Berkata Nabi Musa : “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, mereka sholat sehari semalam 5 kali, dalam 5 waktu sehari, dan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit, serta diturunkan atas mereka rohmat . Ya Allah jadikanlah mereka umatku”.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : Itu adalah umat Nabi Muhammad

قَالَ:يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً، تَكُوْنُ اْلأَرْضُ لَهُمْ مَسْجِداً وَطَهُوْراً، وَتُحَلُّ لَهُمُ اْلغَنَائِمُ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِي.

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, yang bumi dijadikan bagi mereka itu sebagai masjid dan sesuci, serta halal untuk mereka harta rampasan perang, Ya Allah jadikanlah mereka umatku”.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : Itu adalah umat Nabi Muhammad

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً، يَصُوْمُوْنَ لَكَ شَهْرَ رَمَضَانَ، فَتُغْفَرُ لَهُمْ مَا كَانَ قَبْلَ ذَلِكَ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِي.

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, yang mereka berpuasa karena Engkau di bulan Romadhon lantas di ampuni mereka apa yang sebelum hal itu, Ya Allah jadikanlah mereka umatku”.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي الأَلْوَاحِ أُمَّةً يَحُجُّوْنَ لَكَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ، لاَ يَقْضُوْنَ مِنْهُ وَطَراً، يَعِجُّوْنَ بِاْلبُكَاءِ عَجِيْجاً، وَيَضِجُّوْنَ بِالْتَلْبِيَةِ ضَجِيْجاً، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ .

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, yang mereka berhaji karena Engkau ke Baitul Haram, dan mereka tidak menyia-nyiakan dari haji tersebut untuk memenuhi suatu hajat, mereka berteriak menjerit dengan sangat, dan mengucap talbiyah dengan bergemuruh, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.”.

قَالَ : فَمَا تُعْطِيْهِمْ عَلَى ذَلِكَ ؟

Berkata Nabi Mu sa: Balasan apa yang Engkau berikan pada mereka atas hal itu ?

قَالَ : أَزِيْدُ هُمُ الْمَغْفِرَةَ، وأُشَفِّعُهُمْ فِيْمَنْ وَرَاءَهُمْ.

Allah menjawab : Aku akan menambah kepada mereka ampunan, dan Aku akan memberi kewenangan syafa’at untuk diberikan kepada orang-orang di belakang mereka.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً سُفَهَاءَ، قَلِيْلَةً أَحْلاَمُهِمْ، يَعْلَفُوْنَ الْبَهَائِمَ، وَيَسْتَغْفِرُوْنَ مِنَ الذُّنُوْبِ، يَرْفَعُ أَحُدُ هُمُ اللُّقْمَةَ إِلَى فِيْهِ، فَلاَ تَسْتَقِرُّ فِيْ جَوْفِهِ حَتَّى يُغْفَرَ لَهُ، يَفْتَتِحُهَا بِاسْمِكَ، وَيَخْتِمُهَا بِحَمْدِكَ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِي.

Berkata Nabi Musa: “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnyasuatu umat yang dungu, sedikit akal, yang mereka memberi makan hewan-hewan ternak, serta mereka minta ampunan dari dosa-dosa yang salah satu orang dari mereka mengangkat makanan ke mulutnya, tidak diam makanan tersebut dilubangnya sehingga diampuni dosanya, dia mengawali dengan nama-Mu dan mengakhirinya dengan memuji-Mu, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِيْ الأَلْوَاحِ أُمَّةً هُمُ السَّابِقُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ، وَهُمُ اْلآخِرُوْنَ فِي الْخَلْقِ، رَبِّ اجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ.

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, yang mereka itu berlomba-lomba di hari kiamat dan mereka orang yang akhir dalam penciptaan, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ.

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً أَنَاجِيْلُهُمْ فِي الصُّدُوْرِ يَقْرَؤُوْنَهَا، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ .

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat yang kitab-kitab injil mereka itu berada di dada-dada mereka yang dibacanya, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً، إِذَا هَمَّ أَحَدُ هُمْ بِحَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا، فَلَمْ يَعْمَلْهَا، كُتِبَتْ لَهُ حَسَنَةٌ وَاحِدَةٌ. إِنْ عَمِلَهَا كُتِبَ لَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ.

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, jika seorang dari mereka berniat 1 kebagusan yang hendak dilakukannya lantas dia tidak melakukannya, maka ditulis untuk dia 1 kebagusan, apabila dia mengerjakannya maka ditulis baginya 10 sampai 700 ratus kali lipat kebagusan, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : تِلْكَ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً إِذَا هَّمَ أَحَدُ هُمْ بِالسَّيْئَةِ، ثُمَّ لَمْ يَعْمَلْهَا لَمْ تُكْتَبْ عَلَيْهِ، وَإِنْ عَمِلَهَا كُتِبَتْ سَيْئَةٌ وَاحِدَةٌ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ .

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, jika seorang dari mereka berniat kejelekan, lantas dia tidak melakukannya maka tidak ditulis kejelekan atasnya dan apabila dia melakukannya maka ditulis bagi dia satu kejelekan, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : تِلْكَ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِي اْلأَلْوَاحِ أُمَّةً هُمْ خَيْرُ النَّاسِ ، يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ ، وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ .

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, mereka adalah sebaik-baiknya manusia, yang mereka memerintah kebaikan dan mencegah kemungkaran, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ : يَا رَبِّ إِنِّيْ أَجِدُ فِيْ الأَلْوَاحِ أُمَّةً، يُحْشَرُوْنَ يَوْمَ اْلقِيَامَةِ عَلَى ثَلاَثِ ثُلَّلٍ : ثُلَّةٍ يَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ، وَثُلَّةٍ يُحَاسَبُوْنَ حِسَاباً يَسِيْراً، وَثُلَّةٍ يُمَحَّصُوْنَ ثُمَّ يُدْخَلُوْنَ الْجَنَّةَ ، فَاجْعَلْهُمْ أُمَّتِيْ .

Berkata Nabi Musa : “ Sesungguhnya aku mendapati pada papan – papan yang tertulis didalamnya suatu umat, yang mereka dikumpulkan di hari kiamat atas tiga kelompok : satu kelompok mereka itu masuk surga tanpa hisab, satu kelompok mereka itu dihisab dengan hisab yang ringan, dan satu kelompok mereka dibersihkan dari dosa kemudian mereka masuk surga, Ya Allah jadikanlah mereka umatku.

قَالَ : هُمْ أُمَّةُ أَحْمَدَ .

Allah menjawab : “Itu adalah umat Nabi Muhammad”.

قَالَ مُوْسَى : يَا رَبِّ بَسَطْتَ هَذَا اْلخَيْرَ ِلأَحْمَدَ وَأُمَّتِهُ، فَاجْعَلْنِي مِنْ أُمَّتِهِ.

Berkata Nabi Musa : “ Ya Tuhanku, Engkau meluaskan kebaikan ini untuk Nabi Muhammad dan ummatnya, maka jadikanlah aku sebagai umatnya ”.

قَالَ اللهُ : يَا مُوْسَى إِنِّي اصْطَفَيْتُكَ عَلىَ النَّاسِ بِرِسَالاَتِيْ وَبِكَلاَمِيْ فَخُذْ مَا آتَيْتُكَ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِيْنَ.

Allah menjawab : “ Wahai Musa, Aku telah memilihmu diantara manusia dengan Risalah dan Kalam-Ku, maka ambillah apa yang aku berikan padaMu dan jadilah orang-orang yang bersyukur ”.

(dari kitab Sabilul Iddikar, Imam Al Haddad)

Hujan Kebaikan dan Kemuliaan dari Allah swt

Beruntungkah kita menjadi umatnya Nabi Muhammad SAW? Menjadi umat Nabi Muhammad SAW bisa dibilang sangat beruntung. Ada beberapa alasan, diantaranya : Umat Nabi Muhammad SAW kalau berbuat salah tidak langsung disiksa oleh Allah SWT, melainkan ditunggu sampai di akhirat nanti, kita masih diberi kesempatan untuk bertaubat. berbeda dengan umat sebelum nabi Muhammad SAW, jika mereka berbuat salah Allah langsung memberikan Adzab secara langusung didunia, tidak ditunggu dulu sampai diakhirat, bisa kita lihat cerita kaum kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dll,

“Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan, dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah ? Telah datang kepada mereka Rasul-Rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (QS.At-Taubah:70)

Kaum sebelum Nabi Muhammad SAW tidak diberikan lipatan pahala yang luar biasa oleh Allah SWT. Umat Nabi Muhammad SAW oleh Allah SWT diberikan lipatan pahala yang sangat luar biasa sehingga Umat Nabi Muhammad SAW bisa menandingi ibadahnya hamba-hamba Allah yang pilihan sebelum datangnya diutusnya Nabi Muhammad SAW dimuka bumi ini. Lipatan pahala bagi umatnya nabi Muhamad SAW seperti yang tercantum dalam surat Al-Qadr.

Dari Ali bin Urwah, Rasulullah SAW pada suatu hari bercerita tentang 4 orang dari kaum Bani Israel mereka beribadah pada Allah SWT selama 80 tahun tidak maksiat sekejap matapun, Rasulullah menyebutkan orang-orang itu : Ayyub, Zakariyya, hizqiil bin Ajuuz dan yusak bin Nuun. Ali berkata para sahabat heran dengan apa yang diceritakan oleh Rasulullah SAW. Kemudian Jibril datang pada Rasulullah SAW, Jibril berkata “Ya Muhammad, umatmu heran pada ibadahnya orang-orang itu yang selama 80 tahun tidak maksiat sekejap matapun. Sungguh-sungguh Allah SWT telah menurunkan yang lebih baik dari itu”. Kemudian Jibril membacakan untuk Rasulullah “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan, Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Ini lebih baik dari apa-apa yang engkau dan umatmu herankan”. Ali berkata Rasulullah SAW dan manusia yang bersamanya disenangkan oleh penjelasan tersebut. (HR. Ibnu Abi Hatim)

Beruntunglah bagi umat Nabi Muhammad SAW diberikan kesempatan oleh Allah SWT untuk bisa menyamai amal ibadah orang-orang terdahulu. bila sampai menjumpai lailatul qodar dalam keadan mempersungguh beribadah pada Allah SWT dengan cara tadarus, tahajud, dzikir ditambah iktikaf, dia malam itu tidak melakukan maksiat sekejap matapun, maka ia telah bisa menyamai para orang-orang Shalih terdahulu. (wallahu a’alam). Untuk mencari Lailatul Qodar sendiri Rasulullah SAW telah memberikan klu untuk memudahkan umatnya mendapatkan malam yang fenomenal itu.

Dari Aisyah RA sesunguhnya Rasulullah SAW bersabda : mencarilah kalian Lailatul Qodar di hari yang ganjil dari sepuluh malam yang akhir dari bulan Ramdhan”. (HR. Bukhari)

Dengan ada klu dari Rasulullah SAW seperti ini memudahkan kita sebagai umatnya untuk mendapatkan Lailatul Qodar. Sekarang tinggal diri kita mempersiapkan untuk meraih malam yang mulia. Sebaiknya dalam mencari Lailatul Qodar disertai dengan Iktikaf (bermalam untuk beribadah di Masjid), karena iktikaf memiliki beberapa keutamaan, diantaranya dari ibnu Abbas sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang iktikaf itu mencegah pada beberapa dosa dan dijalankan baginya keba

ikan sebagaimana dia beramal pada semua kebaikan”. (HR. Ibnu Majah)

Dari Husain bin Ali RA Rasulullah SAW bersabda:

“Barang siapa yang iktikaf sepuluh hari didalam bulan Ramadan seperti 2 kali haji dan 2 kali umrah”. (HR. Al baihaki)

Al-Masih ‘Isa a.s. Termasuk Umat Ini

Salah satu dari sosok pribadi yang agung di dalam umat ini adalah seorang Nabi dari para Ulul-‘Azm, Al-Masih ‘Isa putera Maryam a.s. Kelak pada waktu beliau turun, akan menjadi seorang anggota dari umat ini dalam keadaan tetap sebagai Nabi. Bahkan ada kelompok ulama yang berpendapat, bahwa beliau a.s. adalah termasuk seorangshahabi (sahabat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam), karena akan bertemu dengan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam sebagai orang yang beriman dan men-toMzo-kan be­liau.

Apabila Nabi ‘Isa a.s. sudah turun (kembali ke tengah kehidupan manusia) beliau akan berpegang pada syariat Nabi kita Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Karena itu Nabi ‘Isa a.s. kelak akan salat berjamaah dengan kaum Muslimin. Demikianlah menurut sebuah hadits di dalamAsh-Shahihain (Bukhari/Muslim) yang dituturkan oleh Abu Hurairah r.a.: Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bertanya (kepada para sahabatnya):

كيف انتم اذا نزل ابن مريم فيكم وامامكم منكموفي صحيح مسلم : كيف بكم اذا نزل ابن مريم فيقال صل بنا . فيقول : لا . ان بعضكم على بعض امراء تكرمة لهذه الأمة . وفي مسند أحمد : فإذا بعيسى فيقال : تقدم فيقول ليتقدم امامكم فليصل بكم

“Bagaimanakah (pendapat) kalianjika Imam putera Maryam tu­run dan berada di tengah kalian, (sedangkan) kalian seorang dari kalian sendiri?” Dalam Shahih Muslim, “Bagaimana (perasaan) kalian jika putera Maryam turun, lalu kepadanya diminta, ‘Imamilah salat kami’, tetapi ia menjawab, ‘Tidak, karena kalian satu sama lain ada­lah penguasa (umara’). Itu adalah penghormatan-(ku) kepada umat ini.” Di dalam Musnad Ahmad bin Hanbal disebut, “Tiba-tiba tu­runlah ‘Isa, lalu kepadanya diminta, ‘Silakan maju’, tetapi ia menja­wab, ‘Maju sajalah Imam kalian lalu mengimami salat kalian.’”

Di dalam Sunan Ibnu Mdjah disebutkan, bahwa Tsa berkata kepada Imam (kalian), “Salatlah, karena salat itu didirikan bagi Anda.”

Kesimpulannya adalah, banyak diberitakan hadits-hadits yang menu­turkan bahwa ‘Isa a.s. salat sebagai ma’mum pada hari turunnya khali­fah umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam Meskipun beliau a.s. merupakan salah seorang dari umat ini dan salah seorang pengikut Nabinya umat ini (Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam), namun ‘Isa a.s. adalah seorang Rasul dan Nabi yang mulia. Tidak seperti yang disangka oleh sementara orang yang berpen­dapat, bahwa beliau a.s. akan datang sebagai salah seorang dari umat ini tanpa predikat kenabian dan kerasulan. Yang berpendapat demikian itu tidak mengerti, bahwa dua predikat itu tidak hilang karena kemati-an. Apalagi kalau datang dalam keadaan hidup! Di dalam Ash-Shahihain (Bukhari dan Muslim) terdapat sebuah hadits yang menyatakan seba­gai berikut, “Tak lama lagi akan datang di tengah kalian putera Mar­yam sebagai hakam (arbitrator, wasit, penengah) yang adil. Ia akan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapuskan pajak.” Hadits tersebut menambah jelas hadits lainnya yang dituturkan oleh Ab-dullah bin Mighfal, yaitu, “Kelak Tsa putera Maryam akan turun un­tuk membenarkan Muhammad (Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam) dan agama beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam (Diriwayat­kan oleh ThabranI dan dikutip oleh Zarqanl V/349).

Di antara para Rasul tidak ada seorang Rasul yang diikuti oleh Rasul lainnya dan mau mengamalkan syariat Rasul yang diikuti itu atau mau meninggalkan syariatnya sendiri. Hanya junjungan kita saja­lah, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam yang syariatnya kelak akan diikuti oleh para Nabi. Sebab beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam adalah nabinya para Nabi.

Kabar Gembira Akan Masuk Surga bagi Umat Ini, Baik yang Terda­hulu Maupun yang Kemudian

Sebuah hadits dari Abu Amamah Al-Bahill menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menyatakan:

طوبى لمن راني وآمن بي وطوبىسبع مراتلمن لم يراني وآمن بي

“Beruntunglah orang yang pernah melihatku dan ia beriman kepadaku, dan Beruntunglah —tujuh kali— bagi orang yang tidak pernah meli­hatku, namun ia beriman kepadaku.”

Hadits tersebut diketengahkan oleh Ahmad dan Bukhari di dalam At-Tarikh, dan juga diketengahkan oleh Ibnu Hibban dan Al-Hakim dengan lafal:

طوبى لمن رآني وآمن بي  – مرة –  وطوبى لمن لم يراني وآمن بي سبع مرات

“Beruntunglah—satu kali—orang yang pernah melihatku dan ia beriman kepadaku. Beruntunglah orang yang tidak pernah meli­hatku, namun ia beriman kepadaku—tujuh kali—.”

Hadits tersebut dibenarkan oleh Al-Hakim. Kebenaran hadits itu di­buktikan oleh hadits Anas yang diketengahkan oleh Ahmad (bin Han­bal) dan diriwayatkan oleh Ath-Thayalisiy serta Abd bin Humaid, ber­asal dari Ibnu ‘Umar yang menuturkan sebagai berikut.

ارايت من آمن بك ولم يرك وصد قك ولم يرك . فقال : اولائك اخواني اولائك معى طوبى لمن رآنى وآمن بى طوبى لمن آمن بى ولم يرانىثلاث مرات

Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ditanya, “Bagaimanakah menurut Anda, orang yang beriman kepada Anda, meski ia tidak pernah melihat Anda; dan orang yang membenarkan Anda meski ia tidak pernah melihat An­da?” Beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menjawab, “Mereka adalah saudara-saudaraku, mereka bersamaku. Beruntunglah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku! Beruntunglah orang yang beriman kepada­ku, meski ia tidak pernah melihatku—tiga kali.”

Sebuah hadits yang diketengahkan oleh ThabranI (dari sejumlah perawi yang dapat dipercaya) dan diketengahkan juga oleh Al-Hakim dan berasal dari Abdullah bin Bisr (sebagai hadits marfu°) menuturkan, bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menyatakan:

طوبى لمن رآني وآمن بي وطوبى لمن رآى من رآني وطوبى لمن رآى من رآنى  طوبى لهم وحسن مآب

“ Beruntunglah orang yang pernah melihatku dan beriman kepadaku, dan beruntunglah orang yang sempat melihat orang yang pernah melihatku, beruntunglah orang yang sempat melihat orang yang pernah melihatku (dua kali). Beruntunglah mereka, dan mereka (akan beroleh) tempat kembali yang baik.”

Dalam sebuah hadits yang diketengahkan oleh Ahmad dan Ibnu Hibban terdapat tambahan, yaitu ketika Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam ditanya ten­tang apa arti atau yang dimaksud dengan “beruntunglah” (thuba), be­liau menjawab, “Sebuah pohon di dalam surga.”

Dengan hadits-hadits tersebut di atas, jelaslah bahwa keutamaan iman kepada Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam merupakan keniscayaan bagi yang terdahulu maupun yang belakangan.

Keutamaan Umat Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, yang Terdahulu dan yang Kemudian adalah Pasti

Mengenai keutamaan kaum Muslimin yang hidup sezaman dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, tidak ada perbedaan pendapat. Hal ini ditunjukkan oleh sebuah hadits di dalam Shahih Bukhari/’Muslim dan kitab-kitab hadits lainnya, yang menuturkan bahwasanya Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam menegas­kan:

خير الناس قرني ثم الذين يلونهم ثم الذين يلونهم

“Manusia-manusia—beriman—yang terbaik adalah generasiku (qarni, yakni yang hidup sezaman denganku), kemudian menyu­sul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya (lagi).”

Menurut para ulama, yang dimaksud ialah zaman hidupnya para sahabat Nabi Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, yakni dalam kurun waktu kurang-lebih mulai tahun bi’tsah (awal kenabian) hingga 120 tahun kemudian. Mengenai kurun waktu itu terdapat perbedaan pendapat, khususnya mengenai batasan akhirnya, yaitu wafatnya seorang sahabat-Nabi yang terakhir, bernama AbuAth-Thufall.

Adapun yang disebut oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam “lalu generasi berikut­nya”, yakni generasi setelah generasi para sahabat, ialah generasi kaum tabi’In yang kurun waktunya kira-kira 70 atau 80 tahun sesudah tahun ke-100 bi’tsah. Kemudian yang dimaksud “lalu generasi berikutnya (lagi)” adalah generasi sesudah kaum tabi’In, yang lazim disebut tabi’t-tabi’In. Kurun waktunya kurang-lebih antara 120 dan 150 tahun. Semua yang tersebut di atas, menunjukkan umat Islam yang terdahulu (pertama) adalah lebih utama (afdhal) daripada generasi-generasi berikutnya. Na­mun Abu ‘Uraar bin Abdul-Birr berpendapat, bisa terjadi ada orang yang hidup sesudah generasi sahabat lebih afdhal daripada orang-orang yang termasuk generasi sahabat.

‘Umar bin Al-Khaththab r.a. menuturkan, “pada suatu saat, ketika saya bertemu dengan Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam, beliau Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam bertanya, “Tahukah kalian hamba Allah (al-Khalq) yang lebih afdhal karena imannya?” Kami menjawab, “Malaikat.” Beliau menyahut, “Itu sudah menjadi hak me­reka. Selain mereka?” Kami menjawab, “Para Nabi.” Beliau menyahut, “Itu sudah menjadi hak mereka. Ada selain mereka.” Kemudian Ra­sulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam melanjutkan, “Manusia paling afdhal keimanannya ada­lah mereka keturunan orang-orang yang beriman kepadaku meskipun tidak pernah melihatku. Mereka itulah yang paling afdhal karena keimanannya.”

Hadits di atas diketengahkan oleh Thabrani dengan isnad baik. Ju­ga diketengahkan oleh Abu Dawiid Ath-Thayalisi dan dinilai baik oleh Ibnu Abdul-Birr.

Hadits yang lain lagi, yang dituturkan oleh Abu ‘Ubaidah bin Al-Jarrah r.a. adalah sebagai berikut.

قال :رسول الله ,هل احد خير منا اسلمنا معك وجاهدنا معك ؟ قال : قوم يكونون من بعد كم يؤمنون بى ولم يرانى

رواه احمد , طبراني والحاكم

Ia—’Ubaidah bin Al-Jarrah—bertanya, “Ya Rasulullah, adakah orang lain yang lebih baik daripada kami? Kami memeluk Islam lang­sung dari tangan Anda dan kami berjihad bersama Anda.” Beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang akan datang sesudah kalian, beriman kepadaku dan tidak pernah melihatku.” (HR Ahmad, Thabrani, dan Al-Hakim).

Kami tidak bermaksud mengetengahkan perbedaan pendapat di kalangan para ulama mengenai masalah kesamaan antara umat yang terdahulu dan yang terakhir dalam hal mana yang lebih afdhal. Namun hal itu tidak menjadi kendala bagi kami untuk membicarakan kesak­sian dan pendapat Rasulullah Shalallahu alaihi wa aalihi wa shahbihi wa salam mengenai itu.

Sumber : Terj. Syaraf al-Ummah al-Muhammadiyyah

Karya Sayid Muhammad bin Alawi al-Maliki al-Hassani

Iklan

1 Komentar »

  1. syukron atas blognya, sy jadikan ini sebagai salah satu rujukan terlengkap.

    Komentar oleh Zen Azfianet — April 13, 2017 @ 3:03 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: