Buyaathaillah's Blog

Bayan Masyeikh Miyaji Mehrab 

Bayan Maghrib Miaji Mihrab rah.a.
11 April 1988
Iman merupakan kekayaan yang paling penting. Kesempatan untuk memperbaiki kehidupan di akhirat adalah ketika kita berada di dunia, sebelum kita mati. Untuk itu, hendaknya kita memperhatikan dua perkara:
1) Seluruh umat menjalani kehidupannya sesuai kehidupan Rasulullah saw, tanpa kecuali
2) Al-Qur’an dan Hadits dijadikan sebagai sumber rujukan.
Maulana Ilyas rah.a. berkata, “Saya berdakwah agar orang keluar di jalan Allah karena pada umumnya, manusia yang hidup di dunia tidak memikirkan secara langsung kehidupan di akhirat. Fikiran mereka hanya tertuju kepada kehidupan dunia belaka. Apabila seseorang keluar di jalan Allah, maka ia meninggalkan suasana seperti ini, dan duduk dalam suasana agama, fikirannya dipenuhi dengan akhirat, dakwah, do’a, dan sebagainya. Apabila seseorang keluar di jalan Allah, maka orang lain akan memperoleh manfaat darinya. Tetapi, manfaat yang paling besar didapatkan oleh orang itu sendiri. Dengan keluar di jalan Allah, seseorang akan mengubah haluan hidupnya dan kehidupan dunia semata kepada kehidupan akhirat. Apabila seseorang telah mengubah kecenderungan hatinya ke akhirat, maka ia dapat memperbaiki dirinya.
Apabila kita tidak keluar, medan usaha agama kita adalah di kampung kita. Tujuan yang akan kita capai masih jauh, tetapi dengan menghidupkan jama’ah masjid, dengan pertolongan Allah seratus persen laki-laki dapat berjam&ah di masjid, kaum wanita dapat menjaga shalat, dzikrullah, menghidupkan ta’lim, tilawat Al-Qur’an, anak-anak dapat dididik secara Islami, dan kaum laki-laki dapat keluar di jalan Allah.
Jama’ah masjid hendaknya dihidupkan. Orang yang menghidupkan jama’ah masjid akan berpendirian bahwa usaha jaulah merupakan perkara yang penting meskipun ia harus menutup tokonya. Setelah orang-orang berkumpul, hendaknya ditugaskan siapakah yang akan menyampaikan iklan. Sebaiknya, yang menyampaikan adalah orang yang berpengaruh. Jika tidak, maka dapat ditugaskan kepada jama’ah masjid sendiri untuk memberitahukan bahwa usaha jaulah akan dilakukan. Seusai shalat, orang yang bertugas menyampaikan penerangan hendaknya segera maju, dan ahil jama’ah Iainnya jangan duduk dulu, tetapi bergerak sedikit untuk membujuk orang-orang agar mengambil bagian. Orang yang menyampaikan penerangan hendaknya membicarakan tentang tujuan jaulah dan keutamaannya, dan berikanlah zihin agar penduduk setempat ikut ambil bagian. Zihin jangan terlalu panjang sehingga waktu untuk jaulah habis, dan jangan terlalu pendek sehingga maksudnya tidak dipahami. Waktunya kurang lebih 15 atau 20 menit. Setelah itu, tasykillah agar orang-orang bersedia bersama-sama menjalankannya. Biasanya, ada orang yang menyatakan kesediaannya, dan ada orang yang menyatakan keberatannya. Orang yang menyatakan keberatannya jangan ditarghib berlebihan agar ia tidak menolak semua usaha kita. Hendaknya kita melihat keadaan. Jangan biarkan Ia pergi begitu saja, tetapi biarkan ia pergi dengan membawa fikir agama.
Selanjutnya, orang-orang yang akan menjalankan jaulah supaya duduk rapat-rapat. Jaulah umumi yang akan keluar kita bentuk menurut jumlah orang yang ada. Kemudian kita tentukan siapakah yang akan menjalankan jaulah. Setidaknya ada dua atau tiga orang lama. Salah seorang dan orang lama ditetapkan untuk menjadi amir, Iebih baik lagi kalau Ia orang tua. Jika tidak ada halangan, bentuklah jama’ah yang terdiri dan 10 orang, kalau tidak, tiga orang pun boleh. Tugas dalil adalah mentawajjuhkan fikiran orang-orang yang ditemui. Barangkali, mereka sibuk dengan pekerjaannya. Pada dasarnya, semua ahil jama’ah adalah ahli dakwah. Tetapi, mutakalim menjadi wakil semua ahli jama’ah.
Tugas mutakalim adalah memberikan kefahaman kepada orang-orang yang didatanginya mengenai maksud jaulah dan dakwah. Untuk itu, hal-hal yang perlu disampaikan adalah :
1) Orang yang beriman memiliki kekayaan yang sangat besar,
2) Tujuan kita berbicara dengan seseorang adalah agar imannya bertambah,
3) Ajaklah orang itu untuk datang ke masjid.
Dalam hal ini, tidak ada susunan kata-kata yang khusus. Mula-mula, keluarkanlah orang itu terlebih dahulu dan suasana yang melingkunginya.
Jaulah mingguan merupakan asas untuk menjumpai setiap laki-laki di mahalah. Pada waktu keluar, tempatnya terserah kepada pertimbangan Anda. Sebelum keluar dapat dilakukan doa yang ringan. Hendaknya beberapa orang tetap tinggal di masjid. Salah seorang yang tinggal di masjid menyampaikan taqrir, dan beberapa orang lainnya duduk mendengarkan. Orang yang menyampaikan taqrir bukan untuk berceramah, tetapi untuk membentuk fikir agar orang-orang dapat mengamalkan perintah Allah dan mencari kebahagiaan akhirat. Hendaknya dua orang ditugaskan sebagal istiqbal untuk menyambut orang yang datang. Sebelum orang yang datang ke masjid duduk di majeIis, hendaknya petugas istiqbal bertanya terlebih dahulu, ia sudah shalat atau belum. Jika belum, petugas istiqbal membujuknya agar ia melakukan shalat terlebih dahulu, baru kemudian duduk di majelis. Orang yang berdzikir sebaiknya orang yang telah tua. Orang-orang yang berjaulah hendaknya kembali ke masjid sebelum masuk waktu shalat sehingga mereka dapat mempersiapkan shalat tanpa tertinggal takbir yang pertama. Sebelum masuk waktu shalat, hendaknya majelis dibubarkan supaya orang-orang dapat bersiap-siap untuk shalat. Petugas iklan sebaiknya imam atau orang yang berpengaruh.
Orang yang menyampaikan bayan hendaknya berbicara dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga setiap orang dapat memahami apa yang Ia bicarakan. Dalam bayan hendaknya disampaikan tentang pentingnya agama, keberhasilan hanya dalam agama, keberhasilan yang sesungguhnya hanyalah di akhirat; dan dengan agama, masalah dunia dan akhirat dapat diselesaikan. Petugas bayan hendaknya berbicara dengan penuh perasaan agar berkesan kepada para pendengar. Hendaknya dibicarakan bahwa banyak sekali manfaatnya jika kita mengamalkan agama. Bicarakan juga tentang kerugian bagi orang yang meninggalkan agama, dan kesempatan untuk mengamalkan agama hanyalah sewaktu kita hidup di dunia. Usahakan agar orang-orang mengerti apa yang dibicarakan, kemudian tumbuhkanlah minat mereka agar ikut menjalankan usaha agama. Tasykil hendaknya dilakukan menurut keadaan, terutama untuk empat bulan dan empat puluh hari. Dalam berdakwah, yang penting dapat mengubah fikir dan memikirkan kehidupan dunia diubah memikinkan kehidupan akhirat, kemudian dijelaskan tentang pentingnya keluar di jalan Allah. Terakhir, targhiblah orang-orang agar ikut serta dalam program minggu depan. Nama boleh ditulis boleh tidak. Hendaknya juga ditarghib untuk menjalankan jaulah kedua.
Usahakan agar orang-orang keluar selama tiga hari pada minggu tertentu. Targhiblah mereka untuk menghidupkan ta’lim fadhail. Targhiblah juga agar mereka mengamalkan dzikir pagi sore. Semua orang yang hadir hendaknya ditarghib supaya menghidupkan amalan dua setengah jam setiap hari. Setiap laki-laki yang telah baligh kita usahakan agar dapat meluangkan waktu dua setengah jam untuk memakmurkan masjid, baik siang maupun malam. Mereka boleh berdo’a, berdzikir, shalat nafil, dan sebagainya. Apabila ada tiga orang yang memberikan waktu dua setengah jam secara bersamaan, mereka boleh mengadakan ta’lim sebentar, kemudian bermusyawarab dan mengunjungi orang-orang. Kunjungilah orang-orang yang sakit dan sebagainya.
Beritahukan kepada mereka pentingnya mendidik istri dan anak, dan tasykillah mereka untuk meluangkan waktunya dua setengah jam. Jika ada jama’ah datang, hendaknya kita melakukan nusrah.
Sampaikan juga kepada kaum laki-laki supaya mereka menjalankan usaha ke atas kaum wanita agar mereka dapat menghidupkan ta’lim, mendirikan shalat, tasbih, mendidik anak dengan cara Islam, dan mendorong suami keluar di jalan Allah.
Sebagaimana ketika kita menjalankan usaha maqami, demikian pula yang kita lakukan ketika menjalankan jaulah kedua. Kita kunjungi juga alim ulama, dan sampaikanlah karkuzari kepada mereka.
Dalam menjalankan usaha hendaknya selalu bermusyawarah dengan orang-orang lama meskipun mereka telah tua atau uzur dan tidak giat lagi seperti dulu

Iklan

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: