Buyaathaillah's Blog

Mudzakaroh Tawassul, Tabarruk, dan Istighossah

PENTINGNYA MEMAHAMI PENGERIAN TAWASSUL, TABARRUK DAN ISTIGHOTSAH

1. TAWASSUL
Pengertian Tawassul
Tawassul secara etimologis artinya adalah perantara, sedang secara terminologis (menurut istilah) adalah :
َالْوَسِيْلَةُ هِيَ الَّتِيْ يُتَوَصَّلُ بِهَا إِلىَ تَحْصِيْلِ اْلمَقْصُوْدِ
“Wasilah adalah segala sesuatu yang dapat menjadi perantara untuk mencapai tujuan” [ Tafsir Ibnu Katsir : II/50]
Yang dimaksud dengan Tawassul adalah :
َالْوَسِيْلَةُ هِيَ طَلَبُ حُصُوْلِ مَنْفَعَةٍ أَوِ انْدِفَاعِ مَضَرَّةٍ مِنَ اللهِ بِذِكْرِ اسْمِ نَبِِيٍّ أَوْ وَلِيٍّ إِكْرَامًا لِلتَّوَصُّلِ
“Wasilah adalah memohon datangnya manfa’aat atau terhindar dari bahaya kepada Allah dengan perantara menyebut nama nabi atau wali sebagai penghormatan bagi keduanya. [Syarhul Qawim : 378]

Tawassul menjadi pilihan dalam berbagai permohonan. Pada hakikatnya Allah jua yang mengabulkan do’a.

Pisau tak memiliki kemampun memotong dari dirinya sendiri, dia hanya penyebab yang alamiah memiliki potensi untuk memotong, Allah SWT. yang menciptakan segala potensi memotong melalui pisau tersebut.[ Al Fajrush Shadiq : 53-54 ]
Dasar pelaksaanaan tawassul adalah ayat ayat Al Qur’an dan beberapa Al Hadits, antara lain adalah, Firman Allah :
يَا أَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُواْ اتَّقُوا اللهَ وَابْتَغُوْا إِلَيْهِ اْلوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُواْ فيِ سَبِيْلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”[ QS.Al Maidah : 35]
وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذْ ظَلَمُوْا أَنْفُسَهُمْ جَاؤُوْكَ فَاسْتَغْفِرُوْا اللهَ وَاسْتَغْفِرْ َلهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوْا اللهَ تَوَّابًا رَحِيْمًا
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. [ QS.An Nisa : 64.]
Shahabat Umar bin Al Khaththab RA. melakukan shalat istisqa’ mohon hujan juga melakukan tawassul :
عَـنْ أَنَسٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ كَانَ إِذَا قَحَطُواْ إِسْتَسْقىَ باِْلعَبّاسِ بْنِ عَبْدِ اْلمُطَّلِّبِ فَقَالَ : الَلَّهُمَّ إِنَّا كُناَّ نَتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّنَا فَتَسْقِيْناَ وَإِنَّا َنتَوَسَّلُ إِلَيْكَ بِعَمِّ نَبِيِّنَا فَاسْقِنَا قَالَ: فَيُسْقَوْنَ
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata:
“Apabila terjadi kemarau panjang, shahabat Umar bin Al Khaththab bertawassul dengan Abbas bin Abdul Muththallib. Kemudian berdo’a : “Ya Allah kami telah bertawassul kepadamu dengan NabiMu, maka Egkau turunkan hujan”. Dan sekarang kami bertawassul lagi dengan paman Nabi kami, maka turunkanlah hujan. Anas berkata : “Maka turunlah hujan kepada kami”. [ HR. Al Bukhari.]
 
2. TABARRUK
Pengertian Tabarruk
Tabarruk artinya mengharap barakah, menurut istilah artinya adalah :
طَلَبُ زِياَدَةِ اْلخَيْرِ مِنَ اللهِ تَعاَلىَ

“Mencari tambahan kebaikan dari Allah Ta’ala”
وَالْمَعْنَى اْلاِصْطِلاَحِيْ للِتَّبَرُّكِ هُوَ: طَلَبُ ثُبُوْتِ الْخَيْرِ اْلإِ لَهِيَّ فيِ الشَّيْءِ
Pengertian tabarruk menurut terminologi syar’iy adalah : “Mencari kebaikan pemberian Tuhan pada sesuatu yang ditetapkan kebaikannya pada sesuatu tersebut”. [ DR.Umar Abdullah Kamil, At Tabarruk : 4 ]

Secara sederhana tabarruk didivinisikan sebagai :
مَعْنىَ التَّبَرُّكِ: طَلَبُ اْلبَرَكَةِ , وَالْبَرَكَةُ هِيَ النَّماَءُوَالزِّيَادَةُ
Artinya tabarruk adalah mencari barakah. Sedang barakah adalah : perkembangan, dan tambahan dalam kebaikan. Sedang barakah menurut istilah adalah :
َالْمُرَادُ بِاْلبَرَكَةِ هِيَ النُّمُوُّ وَالزِّ يَادَةُ مِنَ اْلخَيْرِ وَالْكَرَامَةِ
“Yang dimaksud dengan barakah adalah berkembang dan bertambahnya kebaikan dan kemuliaan”. [ Al Qaulul Badi’ fish Shalahi ‘alal Habibis Syafi’: 91]

Di dalam Al Qur’an dan Hadits kata berkah ini berulang kali disebutkan yang menggambarkan bahwa Allah memberikan keberkahan dalam berbagai hal, tempat ataupun benda, atau apa saja yang dikehendaki mungkin saja menjadi barakah.
Barakah itu mungkin saja oleh Allah diberikan pada pribadi seorang hamba, pada atsar seseorang, atau pada suatu tempat suci yang dikehendaki Allah. Sebagaimana firmanNya :
وَجَعَلَنِيْ مُبَارَكاً أًيْنَ مَا كُنْتُ
”dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada” (QS.Maryam : 31).

Ada pula barakah pada benda atau tempat seperti firmanNya:
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوْتُ فِيْهِ سَكِيْنَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوْسىَ وَآل ُهَارُوْنَ تَحْمِلُهُ اْلمَلاَئِكَةُ
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka : “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja, ialah kembalinya tabut kepadamu, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu dan sisa dari peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun; tabut itu dibawa malaikat”. (QS. Al Baqarah : 148).
وَقُلْ رَبّ أَنْزِلْنِيْ مُنْزَلاً مُبَارَكاً وَأَنْتَ خَيْرُ اْلمُنْزِلِيْنَ
Dan berdoalah : “Ya Tuhanku, tempatkanlah aku pada tempat yang diberkati, dan Engkau adalah sebaik-baik Yang memberi tempat.” (QS. Al Mu’minun : 29).
 
3. ISTIGHOTSAH
Pengertian Istighotsah
Istighotsah secara etimologis artinya adalah thalabul ghauts atau thalabul ‘aun : minta pertolongan, semakna dengan isti’anah, hanya saja lebih umum dan lebih luas pengertiannya. Seperti firman Allah Ta’ala :
وَاْستَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلاَ ةِ
“Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat” [ QS.Al Baqarah : 45.]

Sedang Istighatsah secara terminologis (istilah) adalah :
طَلَبُ اْلغَوْثِ عِنْدَ الشِّدَّةِ وَالضَّيْقِ
“Istighatsah adalah meminta pertolongan dalam keadaan penuh kesukaran dan kesempitan”.

Yang dimaksud dengan Istighatsah adalah sebagai mana dimaksud dalam firman Allah :
إِذْ تَسْتَغِيْثُوْنَ رَبَّكُمْ فَاسْتَجَابَ لَكُمْ أَنِّيْ مُمِدُّكُمْ بِأَلْفٍ مِنَ الْمَلاَ ئِـكَةِ مُرْدِفِيْنَ
“(Ingatlah), ketika kamu memohon pertolongan kepada Tuhanmu, lalu diperkenankan-Nya bagimu : “Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kamu dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” [ QS.Al Anfal : 9.]
Menurut ayat tersebut Nabi Sallallahu’alaihi wa sallam telah beristighatsah memohon bantuan kepada Allah ketika situasi kritis ditengah medan pertempuran perang Badar.
Dimana saat itu kekuatan musuh jauh lebih besar tiga kali lipat dari pada kekuatan ummat Islam secara kwantitatif. Itulah istighatsah yang dilakukan oleh Nabi, kepada Allah.
Sementara istighatsah kepada selain Allah juga diperbolehkan dengan berkeyakinan bahwa makhluq yang diminta pertolongan adalah sebagai sebab. Karena Allah-lah pemberi pertolongan yang sesungguhnya, tetapi Allah telah menjadikan sebab sebagai mediasi. Sebagaimana pengertian istighatsah menurut Syaikh Az Zahawiy sebagai berikut :
أنَ الْمُرَادَمِنَ اْلإِسْتِغَاثَةِ بِاْلأَوْلِياَءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَالتَّوَاسُلِ بِهِمْ هُوَ أَنَّهُمْ أَسْبَابٌ وَوَسَائِلُ لِنَيْلِ اْلمَقْصُوْدِ وَأَنَّ اللهَ تَعَالىَ هُوَ الْفَاعِلُ كَرَامَة ًلهـَُمْ لاَ أَنَّهُمْ هُمُ اْلفاَعِلُوْنَ كَماَ هُوَ الْمُعْتَمَدُالْحَقُّ فيِ سَائِرِ اْلآفْعَالِ
”Yang dimaksud istighotsah dengan para wali dan orang orang shalih dan tawassul dengan mereka adalah bahwa mereka itu merupakan sebab dan perantara untuk tercapainya tujuan. Dan sesungguhnya Allah adalah pelaku sebenarnya yang mengabulkan do’a sebagai penghormatan kepada mereka dan mereka tidak dapat melakukan apa apa. Sebagaimana hal itu menjadi keyakinan yang benar dalam segala macam perbuatan” [ Syaikh Az Zahawiy, Al Fajrush Shaddiq : 53.]
1. Hadits Ibnu Umar RA. Shahih riwayat Al Bukhari.
عَنِ إبْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّهُ خَدِرَتْ رِِجْلُهُ فَقِيْلَ لَهُ: أُذْكُرْ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَيْكَ فَقَالَ: يَامُحَمَّدُفَكَأَنَّمَا َنشَطَ مِنْ عِقَالٍ. (رواه البخاري)
“Diriwayatkan dari Shahabat Abdullah bin Umar RA. Bahwa suatu ketika kaki beliau terkena mati rasa, maka salah seorang yang hadir mengatakan, sebutlah nama orang yang engkau cintai. Lalu Ibnu Umar menyebut : “Ya Muhammad” maka seketika itu kakinya

sembuh”. [ HR. Al Bukhari dan Ibnu Taimiyah, Al Kalimuth Thayyib :88.]
(Dikutip & disarikan dari buku : KONTROVERSI antara BID’AH DAN TRADISI karya KH. Damanhuri, Hal : 137 s/d 157

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: