Buyaathaillah's Blog

Kisah Sahabat : Pentingnya Musyawarah

Kisah Sahabat Ra

Maulana Saad di Nizamuddin,

07 Oktober 2002.

Ada satu cerita yg sangat ajaib dlm kitab Hayatus Sahabah. Ketika para sahabat tlah dperintahkan menggali parit di Medinah dlm peristiwa perang Khandak. Dalam penggalian parit, telah dibagi setiap sekian sahabat,mendapat bagian sekian panjangnya parit. Pembagian2 ini bukan untk memecah belah tetapi justru untuk memudahkan kerja.Diantara kelompok2 sahabat tadi, ads yg menjumpai masalah yaitu ada batu besar. Sahabat yg kebagian t4 tsb lalu bermusyawarah bgmn menyingkirkan batu besar tsb, krn mrk tidak sanggup menyingkirkannya. Akhirnya mrk sepakat untuk datang kpd Baginda Nabi Saw. Menghadapi masalah ini, Baginda mengatakan : ” Saya sendiri akan turun tangan”. Padahal pada saat itu Baginda Nabi Saw dlm keadaan sangat lapar. Karena laparnya itu perut Baginda Nabi Saw diganjal dengan batu. Baginda turun ke parit yg terganjal oleh batu besar tsb. Batu besar tsb, sekali hantam langsung menjadi debu.Dalam pukulan Baginda Nabi Saw ini, keluar cahaya. Dikatakan oleh Baginda Nabi Saw dlm cahaya tsb, ada kabar gembira dari langit. Berita itu mengatakan bahwa kerajaan Kisra, kerajaan Romawi, akan ditaklukkan di bawah telapak kaki para Sahabat r.a ajmain.Selesailah masalah, batu hancurdan sekaligus ada berita gembira dari langit.
Setelah itu ada keberkahan lainnya, yaitu keluarga Jabir Ra, mengundang makan Baginda Nabi Saw, hanya untk 3-4 org saja. Tapi,Baginda Nabi Saw telah mmerintahkan seluruh org yg menggali parit ikut menghadiri undangan tsb. Dengan izin Allah Swt semua org Medinah makan di t4 itu, makanan tidak habis, bahkan tetap seperti semula. Semua keberkahan tsb, baik kabar tentang akan ditaklukkannya Kisra dan Romawi di tangan Sahabat Ra ajmain maupun melimpah ruahnya makanan adalah hasil dari keberkahan musyawarah. Masalah ini harus selalu kita ingat. Maulana Saad katakan: ” Saya belum pernah mbaca dlm Sirah Nabawiyah, cerita Baginda Nabi Saw tentang keberkahan yg lebih besar daripada kisah ini. Seluruh org Madinah makan makanan hanya satu wadah, sudah mencukupi semua, ini adalah suatu keberkahan yg belum pernah terjadi sebelumnya, dan ini semua dimulai dari musyawarah.

Kerja da’wah ini, harus kita pahami. Azas dari kerja ini adalah kesederhanaan. Untuk mndapatkan nushratullah kerja ini dilaksanakan dengan sederhana dan tidak perlu harta. Kerja ini tidak perlu org kaya. Harta benda yg diinfakkam dlm usaha dakwah ini, untuk trnsportasi, komsumsi, dll, pada dasarnya bukan untuk usaha dakwah, tetapi untuk keperluan kita sendiri. Kendaran kita kendarai sendiri,makan kita makan sendiri ,sedangkan dakwah itu sendiri tidak perlu uang. Kita yg perlu uang dan kita yg perlu makan,sedang kerja dakwah tidak perlu uang.

Kerja dakwah ini, kerja yg hidup. Orang hidup itu tidak perlu dipikirkan oleh siapa2, krn org tadi dapat berjalan sendiri.Sedengkan gerakan2 lain yg ada didunia ini seperti jenazah.Jenazah klu tidak dipikul tidak dapat berjalan.
Kalau ada pemahaman, seandainya datang org kaya ikut ambil bagian dlm usaha ini kemudian dakwah dapat maju, ini satu tipuan, dan ini satu kekeliruan serta kesalah pahaman. Kerja dakwah ini tidak perlu uang.
Usaha dakwah ini perlu dikerjakan untuk semua manusia, kepada org umum. Kerja ini tidak dikhususkan pada org2 kaya, org2 berpangkat,tetapi dikerjakan untuk seluruh ummat. Semua org kita bawa dan hubungkan dlm usaha dakwah ini,dengan cara amal mesjid. Setiap org kita ajak menghidupkan kerja amal mesjid sehingga mrk semua (kaya-miskin, khawas-umum dll) mendapatkan sifat2 dgn adanya proses tarbiyah melalui amal mesjid tsb.

Apabila ada org mulai kerja tidak dari amal mesjid (tidak mau musyawarah, tidak mau ta’lim, tidak mau 2 1/2 jam, tidak mau jaulah dst), dan malah dimulai dengan cara2 lain, maka sampai kapanpun dia tidak akan paham dengan usaha dakwah.
Kalau kita ingin ziarah kpd org2 kaya atau org2 khawas, org2 yg berpangkat, kita harus musyawarah dulu,dan kirim org2 yg munasib (tidak mudah terkesan, tidak punya kepentingan dll) untk ziarah kepada mereka. Kemudian kita bawa dan hubungkan mrk dengan amal mesjid, sehingga mrk paham thd usaha dakwah ini. Kita jangan konsentrasi kerja kpd org2 kaya, org2 berpangkat, para pejabat, tapi konsentrasi kerja ini kpd org2 awam, atau pada umumnya manusia.
Begitulah para Nabi, mrk kerja untuk org2 umum, dan org2 rendahan. Seperti Nabi Nuh As kerja untuk org awam, dan org2 kaya mencaci maki. “Lihat itu Nuh kerja dengan org2 rendahan, tidak punya pangkat, tidak punya apa2″. Itulah kerja para Nabi, dimulai dari org2 rendahan.
Apabila kita kerja, kemudian yg mengikuti adalah org2 miskin, org2 rendahan dlsb, sedangkan org2 kaya tidak ikut ambil bagian, janganlah kita ragu. Karena itulah yg terjadi pada kerja para Nabi, yg ikut org2 rendahan belaka.

Ada satu kisah yg penting dalam menangani org2 khawas, org2 kaya, dan para pejabat. Org2 Quraish dari golongan org2 khawas, datang kpd Baginda Nabi Saw dan minta agar diadakan majelis khusus untk mereka. Para pemimpim Quraish menyampaikan usul untk dapat kumpul dlm majelis khusus dan pada waktu yg tertentu pula. Usul ini diterima oleh Baginda Nabi Saw dan nanti ditulis surat perjanjian khusus. Perjanjianpun dibuat dan surat di tt. Setelah datang waktu yg telah ditentukan, org2 khawas Quraish berkumpul di satu tempat yg sudah disepakati. Ketika majelis sedang berlangsung, dan pada saat Baginda Nabi Saw sedang berbicara, datanglah Abdullah Ummi Maktum Ra yg buta, kemudian mengatakan kepada Baginda Nabi Saw: ” Ya Rasulullah Saw ajarkanlah kepada sy ilmu yg telah diajarkan oleh Allah Swt kepada tuan”.
Rasulullah Saw merasa terganggu dan tidak suka atas kedatangan Abdullah Umi Maktum Ra. Karena dia ini buta, maka dia tidak tahu perubahan raut muka Nabi Saw yg menunjukkan bahwa Beliau Saw tidak berkenan atas kedatangannya. Namun Abdullah Umi Maktum terus berteriak teriak menyampaikan maksudnya, dan dia tidak tahu siapa yg hadir dalam majelis tsb, krn memang dia buta. Ini adalah satu hikmah dari Allah Swt dlm mengajarkan kerja dakwah kpd Nabi Saw. Pada saat itulah Jibril As datang dengan mbawa ayat : ” Dia (Muhammad Saw) bermuka masam dan berpaling, krn telah datang seorang buta kpdnya.Tahukah kamu, berangkali ia ingin membersihkan diri ( dari dosa), atau dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu mberikan manfaat kepadanya”.Mendapat peringatan langsung dari Allah Swt, Baginda Nabi Saw langsung memerintahkan kpd Ali Ra untk merobek robek surat perjanjian yg telah dibuat.

Allah Swt telah mmerintahkan kpd Rasulullah Saw untk bersabar dan duduk bersama sama org miskin, dan Beliau Saw dilarang memandang org2 kaya dan mberikan perhatian yg khusus : ” Adapun org2 yg merasa dirinya cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada (celaan) atasmu klu dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan, adapun org2 yg datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran), sedang ia takut kpd Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali kali jangan (demikian).
Hal ini tidak bermaksud agar kita tidak usaha atas org2 kaya, org2 khawas. Tapi kita kirim org2 yg sdh ditafakkud dgn syarat2 ttt untk kerja atas mrk, lalu kita bawa dan hubungkan mrk dgn amal2 mesjid dan gabungkan mrk dgn org2 biasa, shg mrk bisa dapat kanfaatan dan memahami kerja yg mulia ini.
Sejauh mana kita sederhana dlm usaha ini, maka kita tidak akan berhajat kpd org2 kaya. Tetapi klu kita punya cita2 yg tidak sederhana,seperti ingin mbangun markaz, ingin mbeli tanah dan lain sebagainya, maka akhirnya kita punya pemikiran yg mengarah kepada harapan kpd orang2 kaya, kemudian mengumpulkan org2 kaya, dan menjauhkan diri kita dari org2 yg korban dan org2 miskin. Markaz2 spt ini malah justru melemahkan kerja. Kerja ini akan kuat dengan amal2 masjid, bukan dari markaz2. Kalau markaznya bagus dapat dilihat oleh orang, lalu datang pujian: ” Wah markaznya bagus,wah mazkaznya hebat”. Hal semacam ini, justru mlemahkan kerja.

Kita sering mpunyai pikiran bhw untk menguatkan kerja, dgn cara mbangun markaz. Ini pikiran yg salah. Maulana Yusuf Rah Alaih mengatakan: ” Markaz dapat kuat dgn amal2 masjid.Bukan amal mesjid akan kuat dgn markaz”.Masjid2 tidak hidup dengan markaz, tetapi markaz hidup dgn amal2 masjid. Karena itu kita harus pikir bgmn kerja untuk org2 awam dan menguatkan amal masjid.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: