Buyaathaillah's Blog

Bayan Pendidikan Anak dan Keutamaannya

Pendidikan Anak

Keutamaan anak perempuan

 

Masa Jahiliyah adalah jaman dimana manusia berada titik terendah sebagai manusia. Di dalam Al Quran Allah Swt banyak menerangkan bagaimana rusaknya kehidupan manusia ketika itu. Allah mencela sedemikian keras kehidupan orang-orang jahiliyah ketika itu. Ketika diberitakan telah lahir dari istri mereka seorang anak perempuan, maka wajah suami mereka menghitam dan hatinya begitu memendam amarah. Mendapatkan anak perempuan bagi mereka merupakan aib keluarga, yang bisa membuat mereka menjadi malu terhadap kaumny. Sehingga ia menutup diri dari mereka, menghindari orang-orang karena malunya mendapatkan anak perempuan. Mereka rela mengubur putrinya itu hidup-hidup dari pada dibiarkan saja dengan menanggung kehinaan. Allah mencela mereka sedemikian keras atas perbuatan tersebut. Dan perasaan-perasaan jahiliyyah seperti ini masih saja ada pada hati sebagian laki-laki apalagi kalau istrinya telah banyak melahirkan anak perempuan pada hari ini. Padahal seorang istri itu hanyalah seperti hamparan tanah yang menumbuhkan benih yang disebarkan oleh penanam. Bahkan kadangkala ada yang sampai menceraikan istrinya setelah persalinan akibat melahirkan banyak anak perempuan. Maka kita berlindung kepada Allah dari kebodohan dan kepandiran.

Pada masa jahiliyah dulu, perempuan tidak dianggap apa-apa. Sampai-sampai seorang ayah bisa mengubur putrinya hidup-hidup sedang ia sendiri memelihara anjingnya dan memberi makan ternaknya. Maka Allah menghapuskan cara pandang yang merendahkan ini. Dengan Islam, Allah meninggikan kedudukan perempuan serta menempatkannya pada posisinya yang alami. Hidup sesaui fitrahnya. Allah mewajibkan laki-laki untuk memenuhi hak-hak perempuan dan mewajibkan perempuan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban mereka terhadap suami mereka. Di dalam Al Quran Allah meninggikan derajat wanita dengan mengarahkan perkataan-Nya kepada perempuan sebagaimana Ia mengarahkan perkataan-Nya kepada laki-laki. Baik ketika Allah memberikan perintah ataupun larangan. Dan Allah mengkhususkan perempuan dengan hukum-hukum yang sesuai dengan mereka dan cocok dengan fitrah mereka.

Sesungguhnya melahirkan itu adalah perkara yang telah Allah takdirkan. Yaitu perkara yang hanya ada di tangan Allah. Ia memberi anak perempuan kepada siapa saja yang Ia kehendaki dan memberi anak laki-laki kepada siapa saja yang Ia kehendaki. Atau Ia memberi anak laki-laki dan perempuan sekaligus untuk sebagian orang yang lain. Dan Ia menguji sebagian yang lain dengan kemandulan. Allah berfirman:

يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَن يَشَاءُ الذُّكُورَ . أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا وَيَجْعَلُ مَن يَشَاءُ عَقِيمًا

“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki. Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa) yang dikehendaki-Nya, dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (Q.S.42:49-50)

Perhatikanlah bagaimana Allah mendahulukan penyebutan anak-anak perempuan dan mengakhirkan penyebutan anak-anak lelaki, sebagai sanggahan atas mereka yang menghinakan kedudukan anak-anak perempuan dan memandang rendah derajat mereka serta tidak menganggap mereka apa-apa.

Oleh karena itu bersikap ridholah dengan apa yang telah Allah bagikan untukmu. Karena sesungguhnya engkau tidak tahu di mana kebaikan itu?! Berapa banyak para ayah yang sedemikian senang saat diberikan kabar gembira dengan datangnya seorang anak laki-laki, tapi kemudian anaknya itu menjadi musibah besar baginya dan menjadi sebab kesulitan hidup dan panjangnya rasa duka dan sedihnya. Dan berapa banyak para ayah yang kecewa saat diberikan kabar gembira tentang kedatangan seorang anak perempuan, sedang ia menanti-nanti anak laki-laki, namun kemudian anak perempuannya itu menjadi anak yang mengurusnya dengan tangan yang penuh kelembutan dan hati yang penuh kasih sayang serta menjadi orang yang menolongnya di masa-masa sulit.

Dari sini kita bisa mengetahui bahwa hakikat penyejuk mata bukanlah pada keadaan anak yang dilahirkan itu adalah laki-lakia atau perempuan. Akan tetapi penyejuk mata sesungguhnya adalah apabila anak tersebut menjadi keturunan yang sholih dan baik, baik itu laki-laki ataupun perempuan.
Allah berfirman ketika menyifati para ‘Ibaadurrohman (hamba-hamba Allah Yang Maha Rahman):

هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

“..anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Q.S.25:74)

Kalau Allah mengaruniakanmu seorang anak perempuan, maka baik-baiklah dalam mendidiknya, menafkahinya dan memperlakukannya dengan mengharap balasan dari Allah untuk itu semua. Tidakkah engkau tahu ganjaran apa yang akan engkau dapatkan dari Allah kalau engkau melakukan semua itu? Kalau engkau lakukan semua itu, maka engkau akan bersama Rasulullah SAW di akhirat.

Di dalam hadis, Rasulullah SAW bersabda :

“Barangsiapa yang menafkahi dua orang anak perempuan sampai keduanya baligh, ia akan datang pada hari kiamat, dengan keadaan aku dan dia (lalu beliau menghimpun jari jemari beliau). Diriwayatkan oleh Muslim.”

Ketika seorang anak perempuan semakin besar, ia semakin membutuhkan perasaan dihargai dan dihormati. Kalau kebutuhan ini tercukupi dan di rumah orang tuanya ia merasa mempunyai nilai dan kedudukan, ini adalah sebab utama kestabilan dan ketenangan jiwanya. Akan tetapi jikalau ia mendapatkan hinaan dan ketidakpedulian, lalu ia hanya diperlakukan dengan bahasa perintah dan larangan serta suruhan melayani, itu akan membuatnya menaruh kebencian terhadap rumah dan keluarganya. Bisa saja kemudian syetan membisikinya sehingga kemudian ia mencari kelembutan dan kasih sayang yang tidak ia dapatkan dengan menempuh cara-cara haram. Dan itu menyebabkannya jatuh ke jurang yang dalam dan hanya Allah yang Maha Tahu di mana dasarnya.

Dan Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang diberikan ujian dengan sesuatu melalui anak-anak perempuan ini, lalu ia memperlakukan mereka dengan baik, maka mereka akan menjadi penghalang untuknya dari api neraka”. Muttafaqun ‘alayhi.

Usahakan agar kita bisa bersikap adil terhadap anak perempuan dan saudara-saudaranya yang laki-laki. Ini penting karena untuk menghindari perasaan dizolimi. Kita harus hindari sikap lebih banyak berpihak kepada salah satu anak kita. Ini akan menanamkan rasa benci di dalam dirinya terhadap orangtua, dan rasa dengki kepada saudara atau saudari yang dilebihkan. Maka bertakwalah kepada Allah dan bersikap adillah kepada anak-anak kalian. Baik dalam nafkah, yaitu dengan memberi masing-masing sesuai kebutuhannya. Maupun dalam hibah, yaitu dengan memberi anak laki-laki sebesar dua jatah anak perempuan. Dan kalau dipukul rata di antara mereka dalam jatah hibah tersebut, maka itu juga baik.

Penting semenjak usia dini kita sebagai orang tua mengajari dan melatihnya dengan hal-hal yang akan ia butuhkan setelah berumah tangga. Seperti adab-adab memperlakukan suami, mengurusi rumah mulai dari memasak, bersih-bersih dan sebagainya. Ada beberapa kekeluarga yang menyepelekan hal ini. Sehingga ketika gadis itu pindah ke rumah suaminya, ternyata ia tidak bisa memasak, tidak bisa mengurus suami dan sebagainya. Dan bisa jadi suaminya itu bukan orang yang penyabar dan cepat marah, maka muncullah problem-problem dalam waktu yang masih sangat dini. Dan bisa juga itu berakhir dengan perceraian.

Utamakan mengajari anak khusus mengenai sholat

 

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مروا أولادكم بالصلاة و هم أبناء سبع سنين و اضربوهم عليها و هم أبناء عشر. رواه أحمد وأبو داود والحاكم

“Perintahlah anak-anakmu agar mendirikan shalat tatkala mereka telah berumur tujuh tahun, dan pukullah karenanya tatkala mereka telah berumur sepuluh tahun.”

Pada hadits ini Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan tegas mensyariatkan agar pendidikan shalat dimulai semenjak dini, yaitu sebelum baligh, bahkan ketika ia baru berumur tujuh tahun ia sudah diperintahkan untuk shalat. Tentu syariat ini memerlukan persiapan, yaitu dengan mengajarkan tata cara shalat, dimulai dari cara berwudhu, rukun-rukun shalat, wajib-wajibnya, sunnah-sunnahnya, hingga yang membatalkannya. Dan persiapan ini bisa dilakukan semenjak dini walau ia belum diperintahkan, dan tidak perlu dimarahi kalau tidak mau shalat. Akan tetapi bila sudah berumur tujuh tahun, maka disyariatkan untuk memerintahkannya shalat, dengan pengertian: kita mewajibkan atasnya, dan bila ia tidak mau maka kita memarahinya, walau tidak sampai menghukuminya dengan memukul, tapi cukup dengan ucapan. Dan bila sudah berumur sepuluh tahun, maka kita disyariatkan memukulnya bila ia tidak mau shalat.

Nasehat Nabi Saw kepada Ibnu Abbas RA

 

عن بن عباس قال كنت خلف رسول الله صلى الله عليه وسلم يوما فقال ثم يا غلام إني أعلمك كلمات احفظ الله يحفظك احفظ الله تجده تجاهك إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله واعلم أن الأمة لو اجتمعت على أن ينفعوك بشيء لم ينفعوك إلا بشيء قد كتبه الله لك ولو اجتمعوا على أن يضروك بشيء لم يضروك إلا بشيء قد كتبه الله عليك رفعت الأقلام وجفت الصحف. رواه أحمد والترمذي

“Dari sahabat Ibnu Abbas ia berkata: Suatu hari aku membonceng Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau bersabda kepadaku: ‘Wahai nak, sesungguhnya aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat:

 

  1. Jagalah (syariat) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (syariat) Allah, niscaya engkau akan dapatkan (pertolongan/perlindungan) Allah senantiasa di hadapanmu.

 

  1. Bila engkau meminta (sesuatu) maka mintalah kepada Allah, bila engkau memohon pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah.

 

Ketahuilah (yakinilah) bahwa umat manusia seandainya bersekongkol untuk memberimu suatu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat melainkan dengan sesuatu yang telah Allah tuliskan untukmu, dan seandainya mereka bersekongkol untuk mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan mampu mencelakakanmu selain dengan suatu hal yang telah Allah tuliskan atasmu. Al Qalam (pencatat takdir) telah diangkat, dan lembaran-lembaran telah kering.’” (Riwayat Ahmad, dan At Tirmizy)

 

Dan perlu diketahui, bahwa Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dilahirkan 3 tahun sebelum Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhijrah, dengan demikian ketika Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, umur beliau kira-kira 13 tahun.

 

Didikan Nabi Saw kepada Fathimah R.ha

 

Fathimah R.ha diceritakan oleh Ali RA :

 

  1. selalu menggiling gandum dengan tangannya sendiri, sehingga menimbulkan bintik-bintik hitam yang menebal pada kedua telapak tangannya.

 

  1. Fathimah R.ha selalu mengangkut air kedalam rumahnya sendiri, sehingga menyebabkan luka-luka di dadanya.

 

  1. Beliau R.ha selalu membersihkan rumahnya seorang diri, sehingga pakaiannya menjadi kotor.

 

Suatu ketika Fathimah R.ha mendengar Nabi Saw mendapatkan beberapa hamba sahaya. Mendengar hal ini Fathimah R.ha pergi datang kepada Nabi Saw, untuk meminta hamba sahaya dari Nabi Saw. Fathimah mengharapkan diberikan hamba sahaya oleh Nabi Saw agar dapat meringankan pekerjaan rumahnya. Fathimah R.ha menceritakan kesusahan dirinya mengurusi pekerjaan rumah tangga di rumah kepada Nabi Saw dengan harapan diberikan hamba sahaya untuk membantunya dirumah. Namun apa kata Nabi Saw :

 

“Wahai Fathimah bertaqwalah kepada Allah Swt, tetaplah menyempurnakan kewajibanmu kepada Allah Swt. Kerjakanlah pekerjaan rumah tanggamu. Kemudian apabila engkau akan tidur ucapkanlah :

 

  1. Subhanallah 33 kali
  2. Alhamdullillah 33 kali
  3. Allahu Akbar 34 kali

 

Amalan ini lebih baik daripada seorang pembantu.”

 

Mendengar nasehat ini Fathimah R.ha berkata, “Saya Ridha dengan keputusan Allah Swt dan RasulNya.” Ketika pulang beliau menceritakan ini kepada suaminya. Ali RA berkata, “Itu lebih baik lagi.”

 

Hikmahnya :

 

Inilah seorang anak Nabi Saw yang paling dicintainya, hidupnya begitu berat dan susah. Namun ketika menghadap Nabi Saw mengharapkan keringanan dunia, tetapi Nabi Saw justru memberikan amalan sebagai penggantinya. Nabi Saw mentarghib anaknya agar tetap tawajjuh kepada akheratnya, karena pekerjaan rumah ini merupakan ladang amal bagi para kaum wanita. Sedangkan hari ini kebanyakan para wanita menitipkan pekerjaan rumahnya kepada pembantunya. Inilah perbedaan kehidupan kita hari ini dan kehidupan mereka. Asbab iman yang menghujam di hati, Fathimah R.ha berkata, “Saya Ridha dengan keputusan Allah Swt dan RasulNya.” Inilah ketaqwaan dari seorang putri Nabi Saw. Pulang kerumah menceritakan hasil perjalanannya kepada suaminya, Ali RA. Namun sang suami asbab pemahamannya atas agama justru mengatakan, “Itu lebih baik lagi.” Bagi para sahabat RA mendapatkan amalan dari Nabi Saw ini adalah hal yang terbaik bagi mereka karena dapat menyelamatkan mereka dari kesusahan hidup di dunia dan di akherat.

 

Didikan Nabi Saw kepada Hasan RA

 

Hasan RA ketika berumur 7 tahun sudah mampu menguasai banyak ilmu hadits asbab didikan Nabi Saw. Hasan RA bercerita kepada sahabatnya, “Suatu ketika aku sedang berjalan-jalan bersama Rasullullah Saw. Lalu kami melihat setumpuk kurma hasil dari sedekah orang-orang. Kemudian aku mengambil sebutir kurma dan memakannya. Nabi Saw bersabda, “Akh….akh…” Beliau segera mengambil kurma tadi dari mulutku. Nabi Saw berkata kepadaku : “Kita tidak boleh mengambil harta sedekah !”

 

Asbab didikan Nabi Saw terbentuklah kepahaman agama dalam diri Hasan RA. Sehingga suatu ketika Hasan RA ditanya mengenai kenapa beliau RA seringkali menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. Maka Hasan RA menjawab, “Setelah mati nanti, aku merasa malu jika bertemu dengan Allah Swt, sedangkan aku belum pernah kerumahNya dengan berjalan kaki.”

Didikan Nabi Saw kepada Umar bin Abi Salamah RA

Dari sahabat Umar bin Abi Salamah radhiallahu ‘anhu, ia mengisahkan: Dahulu ketika aku masih kecil dan menjadi anak tiri Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam, dan (bila sedang makan) tanganku (aku) julurkan ke segala sisi piring, maka Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ‘Hai nak, bacalah bismillah, dan makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari sisi yang terdekat darimu.’ Maka semenjak itu, itulah etikaku ketika aku makan.” (Muttafaqun ‘alaih)

 

Perlu diketahui, bahwa Umar bin Abi Salamah ini lahir pada tahun kedua hijriah, dan ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia, ia baru berumur 7 tahun, sehingga ia belum baligh, ketika diajari oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adab-adab makan

 

Didikan Nabi Saw kepada Zaid bin Haritsah RA

 

Zaid bin Haritsah adalah seorang anak yang terpisah dari orang tuanya asbab terkena perampokan, lalu dijual sebagai hamba sahaya di pasar. Zaid bin Haritsah dibeli sebagai budak lalu dihadiahkan ke Khadijah RA. Zaid bin Haritsah besar dalam keluarga Nabi Saw dan Khadijah R.ha. Orang tua Zaid sangat terpukul atas kehilangan anaknya, sehingga mereka terus mencari Zaid RA. Ketika mereka mengetahui bahwa Zaid RA ada bersama Rasullullah Saw, merekapun pergi menemui Nabi :

 

“Wahai Bani Hasyim, engkau adalah pemimpin yang tinggal di masjidil Haram, dan juga tetangga Baitullah. Engaku membebaskan tawanan, dan memberi makan orang-orang yang lapar. Kami datang kemari untuk memohon kembali anak kami yang tinggal disini. Kasihanilah kami dan terimalah uang fidyah (tebusan) ini untuk membebaskan dia. Bahkan ambilla uang tebusan yang lebih banyak daripada ini.”

 

Nabi Saw katakan kepada ayahnya Zaid RA :

 

“Baiklah tetapi tanyakan terlebih dahulu kesediaan Zaid RA atas permintaan kalian. Jika ia bersedia pulang bersama kalian, maka saya akan membebaskannya tanpa uang tebusan. Namun jika dia menolaknya untuk pulang bersama kalian, maka saya tidak akan melepaskannya.”

 

Apakata Zaid RA ketika diberi pilihan untuk tinggal bersama Nabi Saw dan pulang bersama ayahnya :

 

“Ya Rasullullah, bagaimanakah saya dapat mengutamakan seseorang selain engkau ? bagi saya engkau lebih berharga daripada orang tua saya.”

 

Lalu ayahnya Zaid RA membujuk Zaid untuk merubah pikirannya :

 

“Wahai Zaid apakah engkau lebih menyukai menjadi seorang budak pelayan disini ? mengapa engkau tega meninggalkan ayahmu, dan keluargamu yang lain, dan tinggal hanya untuk jadi seorang budak ?”

 

Zaid RA berkata :

 

“Ya Rasullullah, Saya lebih mengutamakan engkau daripada semua orang di dunia ini.”

 

Ini adalah jawaban dari seorang anak kecil yang sudah masuk iman dan kepahaman di hatinya. Sehingga mendengar jawaban ini Nabi Saw berkata :

 

“Pada hari ini aku menjadikan Zaid RA sebagai anakku.”

 

Inilah kecintaan seorang anak kecil kepada Nabi Saw asbab hidupnya suasana iman, amal, dan akhlaq, dalam kehidupan rumah Nabi Saw. Sehingga mereka mampu mencintai Allah dan Rasulnya melebihi keluarga mereka sendiri. Inilah Iman ketika kita mencintai Allah dan RasulNya diatas segala-galanya. Didikan seperti inilah yang kita inginkan ada dalam kehidupan rumah tangga kita, khususnya kepada anak-anak kita.

 

Suatu ketika Nabi Saw mengharapkan bisa bertukar rumah dengan Zaid agar Nabi Saw bisa lebih dekat tinggalnya bersama Fathimah R.ha. Namun Nabi Saw malu untuk memintanya kepada Zaid bin Haritsah RA karena sudah pernah memintanya untuk bertukar rumah sebelumnya dan dilakukannya. Mendengar harapan Nabi Saw ini, Zaid bin Haritsah langsung mendatangi Nabi Saw dan mengatakan :

 

“Ya Rasullullah Saw, saya telah mendengar berita bahwa engkau ingin tempat tinggalmu lebih dekat dengan Fathimah R.ha. Maka rumah yang diperlukan untuk bisa tinggal berdekatan dengan fathimah R.ha adalah rumahku. Jika engkau menyukainya tukarlah. Ya Rasullullah Saw, harta saya ini adalah milik Allah Swt dan RasulNya. Demi Allah jika ada harta saya yang engkau ambil, maka itu lebih baik daripada harta yang ada pada saya.”

 

Maka Nabi Saw katakan : “Benar wahai haritsah”. Setelah itu Haritsah RA menukar rumahnya dengan Nabi Saw.

 

Didikan keimanan dan pemahaman atas agama yang diajarkan oleh Nabi Saw, telah dibawa oleh Zaid bin Haritsah dari dia kecil hingga dewasa. Inilah kepahaman yang kita inginkan dari anak-anak kita. Kita ingin nilai-nilai yang kita ajarkan kepada mereka dapat dibawa hingga mereka dewasa.

 

Kecintaan Ali RA kepada Nabi Saw

 

Seseorang bertanya kepada Ali RA :

 

“Apakah engkau mencintai Rasullullah Saw ? dan sejauh manakah cintamu itu ?”

 

Ali RA menjawab :

 

“Demi Allah, bagiku Rasullullah Saw lebih kami cintai daripada meminum air yang dingin ketika berada dalam kehausan.”

 

Kecintaan para Sahabat RA lainnya kepada Nabi Saw

 

Seorang sahabat anshar datang kepada Nabi Saw, “Ya Rasullullah, setiap pagi dan sore kami selalu bertemu dengan engkau. Hati kami selalu rindu untuk berjumpa dengan engkau untuk datang dan duduk di majelismu. Nanti engkau akan mendapatkan kedudukan yang sama dengan para Anbiya AS. Sedangkan kami tidak akan dapat mencapai kedudukan itu.”

 

Asbab ini Allah Swt berfirman :

 

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan RasulNya, mereka akan bersama-sama dengan orang yang diberi nikmat oleh Allah yaitu para Nabi, Shiddiqin, Syuhada, dan Shalihin. Dan mereka itu adalah sebaik-baik teman. Dan itulah karunia dari Allah Yang Maha Mengetahui.” ( 4 : 69 -70 )

 

Nabi Saw katakan :

 

“Orang yang derajatnya lebih tinggi akan berkunjung kepada orang-orang yang derajatnya lebih rendah. Mereka akan duduk bersama-sama dan berbincang-bincang. Orang-orang yang mencintaiku akan lahir setelah aku meningal nanti dan mereka berangan-angan, seandainya mereka dapat mengganti dengan harta dan keluarga untuk dapat berjumpa denganku.”

 

Umar RA berkata Abbas RA paman Nabi Saw :

 

“Keislamanmu lebih aku sukai daripada keislaman ayahku, karena apabila engkau memeluk islam, tentu Nabi Saw akan senang melihatnya.”

 

Kecintaan sahabat RA kepada Nabi Saw melebihi kecintaan mereka kepada keluarga mereka sendiri.

 

Kasih Sayang Nabi Saw kepada anak-anak

 

Dari Aisyah R.ha :

 

Suatu ketika datang seorang arab badui kepada Nabi Saw dan berkata :

 

“Engkau mencium anak-anak, sedangkan kami tidak pernah mencium mereka.”

 

Nabi Saw bersabda :

 

“Apa dayaku apabila Allah Swt telah mencabut kasih sayang dari hatimu.” (HR. Bukhari)

 

Nabi Saw pernah sholat dengan menggendong cucunya, ketika rukuk, cucunya diletakkan kembali, dan ketika bangun dari rukuk cucunya diangkat kembali (Muttafaq Alaih). Nabi Saw juga pernah bermain kuda-kudaan dengan cucunya, Hasan RA dan Husein RA. Ketika itu umar RA masuk dan melihat Nabi Saw sedang merangkak diatas tanah dan Hasan Husein berada diatas punggung Nabi Saw. Umar RA berkata, “Hai bocah, sungguh indah tungganganmu.” Lalu Nabi Saw katakan : “Sungguh indah para penunggangnya.” Seringkali Nabi Saw menghadapi anak-anak dengan sikap melucu. Nabi Saw duduk bersama mereka, memberi pengertian, dan mendoakan mereka. Usamah bin Zaid bercerita ketika beliau masih kecil, Nabi Saw pernah mengambilnya, lalu didudukan diatas paha beliau Saw. Sedangkan Hasan didudukkan siatas paha beliau yang satunya. Kemudian kami berdua didekapnya seraya berdoa : “Ya Allah, kasihilah keduanya, karena aku telah mengasihi keduanya.” (HR Bukhari)

 

Dari Abu Hurairah RA pernah menceritakan bahwa Nabi Saw pernah menjulurkan lidahnya bercanda dengan Hasan RA dan Husein RA. Ketika itu Hasan melihat candanya Nabi Saw, maka Hasanpun langsung berlari menuju Nabi Saw dengan riang gembira.Nabi Saw pernah memendakkan sholatnya ketika mendengar tangis anak, dan beliau juga pernah sujud sangat lama dikarenakan cucunya sedang menaiki punggungnya.

 

Nabi Saw bersabda :

 

“Cintailah anak-anak dan sayangilah mereka. Bila menjanjikan sesuatu kepada mereka tepatilah. Sesungguhnya yang mereka ketahui hanya kamulah yang memberi mereka rezeki.” (HR Ath-Thawawi)

 

Nabi Saw pernah bersedih, meneteskan air mata, disebabkan kematian putra beliau yang bernama Ibrahim. Seorang sahabat, Abdurrahman bin Auf RA, bertanya kepada beliau : “Apakah engkau juga menangisi kematian ya Rasullullah ?” Nabi Saw menjawab :

 

“Wahai ibnu Auf, ini adalah ungkapan kasih sayang yang di iringin dengan tetesan air mata. Sesungguhnya air mata ini menetes jika hati ini bersedih. Namun kita tidak mengucapkannya kecuali di ridhai Allah Swt. Sungguh kami sangat berduka berpisah denganmu wahai Ibrahim.” (HR Bukhari)

 

Meskipun anak-anak biasa merengek dan mengeluh serta banyak tingkah, namun Nabi Muhammad saw tidaklah marah, memukul, membentak, dan menghardik mereka. Beliau tetap berlaku lemah lembut dan tetap bersikap tenang dalam menghadapi mereka. Hari ini, ketika kita mengaku sebagai ummat Muhammad, apakah yang sudah kita lakukan pada anak-anak kita? Apakah kita telah mengusap kepala anak-anak kita sebagaimana yang dilakukan Rasulullah Saw ? Apakah kita juga telah mengecup kening anak-anak kita yang sangat rindu kasih-sayang bapaknya? Ataukah kita seperti Aqra’ bin Habis At-Tamimi yang tak pernah mencium anaknya, sehingga Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.” (HR. Bukhari).

 

Program Tarbiyahtul Aulaad :

 

Yaitu cara mendidik anak agar anak-anak kita agar menjadi orang-orang yang dicintai Allah dan RasulNya. Anak merupakan salah satu anugerah terbesar yang dikaruniakan Allah SWT kepada seluruh umat manusia. Kehadiran seorang anak dalam sebuah rumah tangga akan menjadi generasi penerus keturunan dari orang tuanya. Rasulullah SAW dalam sebuah riwayat pernah berkata :

 

”Sesungguhnya, setiap anak yang dilahirkan ke dunia ini dalam keadaan suci ( fithrah, Islam ). Dan, karena kedua orang tuanyalah, anak itu akan menjadi seorang yang beragama Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

 

Ibu dirumah ini tugas utamanya bukan untuk menjadi pembantu rumah tangga, itu bukan tujuan seorang ayah menikahkan anaknya dengan suaminya, tetapi untuk mendidik anak-anaknya menjadi generasi penerus perjuangan para Nabi Saw dan para sahabat RA. Apapun amal anak-anak kita akan mengalir kepada kedua orang tuanya, khususnya kepada ibunya.

 

Dalam Kitab Bukhari Mulim, dalam memilih calon istri Nabi Saw bersabda :

 

” Dapatkan wanita yang beragama, (jika tidak) niscaya engkau merugi”

 

Inilah adalah pendidikan awal bagi seorang orang tua yaitu mencarikan seorang pendidik dan ibu yang baik bagi anak-anaknya. Ini karena Al Umm madrasatul Kubro : Ibu itu madrasah terbesar bagi anak2nya.

 

Dalam sebuah kitab dikatakan :

“Pendidikan individu dalam islam mempunyai tujuan yang jelas dan tertentu, yaitu: menyiapkan individu untuk dapat beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan totalitas agama Islam tidak membatasi pengertian ibadah pada shalat, shaum dan haji, tetapi setiap karya yang dilakukan seorang muslim dengan niat untuk Allah semata merupakan ibadah.” (Aisyah Abdurrahman Al Jalal, Al Mu’atstsirat as Salbiyah fi Tarbiyati at ThiflilMuslim wa Thuruq ‘Ilajiha, hal. 76.)

Pendidikan anak ini sudah dimulai dari :

  1. Menikah dengan suami atau istri yang sholeh
  2. Menggauli dengan cara sunnah
  3. Menghidupkan amalan ketika hamil
  4. Menghidupkan sunnah bagi bayi yang baru lahir : adzan-qomat, tahnik, aqiqah, khitan
  5. Mendidiknya sesuai dengan syariat agama

Islam mensyariatkan kepada ibu hamil agar tidak berpuasa pada bulan Ramadhan untuk kepentingan janin yang dikandungnya. Sabda Rasulullah :
“Sesungguhnya Allah membebaskan separuh shalat bagi orang yang bepergian, dan (membebaskan) puasa bagi orang yang bepergian, wanita menyusui dan wanita hamil”

 

(Hadits riwayat Abu Dawud, At Tirmidzi dan An Nasa’i. Kata Al Albani dalam Takhrij al Misykat )

 

Tugas-tugas orang tua ketika sebelum melahirkan :

 

  1. Mencarikan calon ibu dan pendidik yang baik bagi anak-anaknya
  2. Menikah dengan cara yang sunnah
  3. berjima’ harus dengan adab sunnah

 

 

Tugas-tugas orang tua ketika hamil :

 

  1. Selama mengandung tingkatkan amal ibadah
  2. Berdoa agar diberikan keturunan yang sholeh
  3. Sediakan makanan dari rizki yang halal

 

Tugas-tugas orang tua ketika melahirkan :

 

  1. Memberikan kabar gembira ketika melahirkan
  2. Di adzankan di telinga kanan dan di qomatkan ditelinga kiri
  3. Di tahnik (mengolesi langit-langit mulut bayi) dengan gigitan kurma orang sholeh
  4. Diberikan nama yang baik
  5. Aqiqah
  6. Mencukur rambut bayi dan bersedekah perak seberat timbangannya
  7. Khitan

 

Tugas-tugas orang tua ketika sudah memulai proses pendidikan :

1.              7 tahun pertama :

 

  1. fokus pada kasih sayang
  2. anak pada umur ini suka mengikuti, hindari perkataan kasar dan kekerasan
  3. Sering mengulang-ulang nafi itsbat ( meniadakan yang lain hanya mengistbatkan Allah )
  4. Sering memberi contoh yang baik seperti bersedekah, adab ke orang tua, dll.

 

  1. 7 – 14 tahun ajari iman, amal, akhlaq co : anak diajari tentang sopan santun seperti meminta izin masuk rumah orang lain, dan cara memandang yang santun. Tekankan tentang mendirikan sholat.
  2. 14 – 21 tahun :

 

  1. libatkan dalam Keputusan
  2. Pada usia 10-11 tahun, ketika anak memasuki masa pubertas, anak harus dijauhkan dari hal-hal yang dapat membangkitkan hawa nafsu dan birahinya.
  3. Pada usia 14-16 tahun, anak sudah harus diajari etika bergaul dengan lawan jenis.
  4. Pada usia yang sudah cukup, segeralah nikahkan anak. Setelah melewati masa remaja, yang disebut dengan masa muda, anak harus diajari etika menahan diri bila ia tidak mampu kawin. Rasulullah SAW mengajarkan berpuasa.

 

Cara Memasukkan Qualitas Nabi Saw dan Sahabat RA kepada Anak

 

  1. Kita buat halaqoh pembicaraan Iman dengan mereka :

 

  1. Bicarakan kebesaran Allah Swt : Allah menciptakan langit, matahari, manusia, Allah pula yang memeliharanya
  2. Bicarakan pertolongan Allah Swt kepada para Nabi AS
  3. Bicarakan pertolongan Allah Swt kepada para Sahabat RA
  4. Bicarakan dalil-dalil keimanan yang ada dalam Al Quran dan Al Hadits

 

  1. Kita ajarkan kepada mereka mencintai Nabi Saw dan Sunnahnya

 

  1. Suroh : Ajarkan cara nabi berpenampilan dari ujung rambut sampai kaki dan dijelaskan
  2. Sirah : Ajarkan Akhlaq, adab-adab, dan Aktifitas Nabi SAW selama 24 Jam
  3. Sarirah : Ceritakan perjalanan Hidup Nabi Saw, pengorbanannya, kasih sayangnya, dll
  4. Fikir dan Perasaan Nabi Saw : timbulkan kerisauan mereka melalui musyawarah
  5. Maksud Hidup Nabi Saw : libatkan mereka dalam program dakwah jika umur sudah cukup

 

  1. Kita ajarkan mereka menegakkan sholat yang benar :

 

  1. Ajarkan tertib, adab, dan Fiqih Sholat

 

  1. Tertib : Diawal waktu, berjamaah, ketika adzan dikumandangkan
  2. Adab : memakai wangi-wangian, baju bersih, gamis / koko, peci, siwak, sorban
  • Fiqih : Wudhu, Gerakan Sholat, Bacaannya, dan apa saja yang membatalkannya

 

  1. Ajarkan mereka Khusyu dalam sholat

 

  1. Latih mereka menghadirkan Ihsan dan Keagungan Allah dalam sholat
  2. Biasakan mereka menghidupkan sholat sunnah sebelum sholat sebagai latihan
  • Ajari mereka bacaan quran dan artinya agar mulut dan hati sejalan

 

  1. Ajarkan kepada mereka untuk menyelesaikan masalah dengan sholat sampai sholat mereka bisa menyelesaikan masalah.

 

  1. Biasakan Hidupkan Taklim bersama mereka

 

  1. Sampaikan kepada mereka keuntungan dan Fadhilah Sholat, Quran, Sedekah, Dakwah
  2. Ceritakan kepada mereka perjuangan para Nabi dan Sahabat
  3. Mudzakarohkan qualitas-qualitas Nabi Saw dan para sahabat
  4. Mudzakarohkan perkara-perkara yang seharusnya mereka jauhi dan lakukan tanya-jawab
  5. Ajarkan kepada mereka fiqh umum dan adab sehari-hari

 

  1. Hidupkan Amalan Ijtimaiat Dzikir Ibadah :

 

  1. Dzikir Tasbihat pagi petang
  2. Bacaan Quran 1 juz setiap hari
  3. Ajarkan wirid jika ada diberikan dari ulama-ulama
  4. Dirikan sholat Tahajjud dan Dhuha bersama-sama mereka
  5. Ajarkan doa-doa masnunah

 

  1. Ajarkan kepada mereka Akhlaq yang baik

 

  1. Menghormati yang tua
  2. Menyayangi yang muda
  3.  Memuliakan Tamu dan Ulama
  4. Mencintai Fakir Miskin
  5. Memperlakukan pembantu dengan baik
  6. Membantu orang yang sedang kesusahan
  7. Memberi Nasehat yang baik
  8. Memaafkan orang yang berbuat salah dan memperbaiki pertemanannya

 

  1. Ajarkan kepada mereka tentang pentingnya menjaga keikhlasan karena Allah Swt dengan menjaga niat sebelum beramal, ketika beramal, dan sudah beramal. Di ingatkan berulang-ulang.

 

  1. Ajarkan dan jelaskan kepada mereka tentang pentingnya berkorban untuk agama dan menjelaskan kepada mereka maksud hidup manusia.

 

  1. Ajak mereka nusroh jemaah dan berjaulah
  2. Taskyl mereka bila sudah mencukupi umurnya
  3. Biasakan mereka untuk berdakwah ke teman-temannya di tempat bermain dan sekolahnya
  4. Libatkan mereka dalam musyawarah

 

 

Ushul-ushul dalam mendidik anak :

 

4 hal yang diperbanyak dengan anak

 

  1. Dakwahkan Nafi Itsbat, kekuatan amal, dan kampung akherat
  2. Taklim dan Mudzakaroh
  3. Dzikir ibadah
  4. Khidmat

 

4 hal yang dikurangin dengan anak :

 

  1. Kurangi bicara selain Allah
  2. Kurangi keluar rumah terlalu banyak
  3. Kurangi waktu nganggur dan sia-sia
  4. Kurangi waktu bermain yang berlebihan

 

4 hal yang dijaga dari anak :

 

  1. Amalan ijtimaiyat : Khidmat, dzikir pagi petang, taklim, dan musyawarah
  2. Jaga ketaatan pada orang tua
  3. Jaga kebersihan diri
  4. Jaga akhlaq yang baik

 

4 hal yang dihindari dari anak :

 

  1. Hindari berharap pada mahluk
  2. Hindari meminta pada mahluk
  3. Hindari memakai barang tanpa izin
  4. Hindari sifat boros dan mubazir

 

4 hal yang jangan disentuh dari anak :

 

  1. Bicara Politik
  2. Bicara Konflik dan Permusuhan
  3. Bicara Aib
  4. Bicara Status Sosal

 

5 hal yang sering dimudzakarohkan :

 

  1. Nafi Itsbat
  2. Adab-adab Sunnah
  3. 6 Sifat
  4. Kisah para Nabi AS dan Sahabat RA
  5. Maksud hidup manusia

 

5 Amalan Ijtimaiyat anak :

 

  1. Waktu musyawarah
  2. Waktu Taklim dan Mudzakaroh
  3. Waktu Khidmat
  4. Waktu Dzikir Ibadah
  5. Waktu makan

 

6 hal yang perlu ditanamkan :

 

  1. Sifat Harap : Dengan sholat dan doa
  2. Sifat Takut : Dengan kisah atau ayat ancaman dan hukuman orang tua
  3. Sifat Sederhana : makan sederhana, pakaian sederhana, isi rumah dan kendaraan sederhana
  4. Sifat Malu : Malu pada Allah dan Rasulnya, pada orang tua, dan diri sendiri seperti menjaga aurat
  5. Sifat Jujur : dengan penjelasan
  6. Sifat Mahabbah : dengan contoh dan tauladan

 

6 hal yang dihindarkan dari si anak :

 

  1. Sombong
  2. Boros dan Mubazir
  3. Malas ibadah dan belajar
  4. Kikir
  5. Pembohong
  6. Suasana Maksiat

 

4 hal yang perlu kita buat dalam rangka mengontrol perkembangan anak :

 

  1. Ajarkan mereka bermuhasabah : introspeksi diri dan perbaikan untuk besok harinya
  2. Ajarkan mereka bermuatabah : jika ada kesalahan dan kekurangan ajak mereka istighfar
  3. Ajarkan mereka bermujahaddah : sungguh-sungguh dalam amal, pelajaran, dan janji.
  4. Ajarkan mereka bermuqorrobah : selalu merasa diperhatikan dan malu kepada Allah

 

Di antara adab-adab dan kiat dalam mendidik anak adalah sebagai berikut:

 

  1. Jangan sediakan untuknya tempat tidur yang mewah dan empuk karena mengakibatkan badan menjadi terlena dan hanyut dalam kenikmatan. Ini dapat mengakibatkan sendi-sendi menjadi kaku karena terlalu lama tidur dan kurang gerak.

 

  1. Hendaknya anak dididik agar makan dengan tangan kanan, membaca basmalah, memulai dengan yang paling dekat dengannya dan tidak mendahului makan sebelum yang lainnya (yang lebih tua, red). Kemudian cegahlah ia dari memandangi makanan dan orang yang sedang makan.

 

  1. Perintahkan ia agar tidak tergesa-gesa dalam makan. Hendaknya mengunyahnya dengan baik dan jangan memasukkan makanan ke dalam mulut sebelum habis yang di mulut. Suruh ia agar berhati-hati dan jangan sampai mengotori pakaian.

 

  1. Harus ditanamkan rasa cinta untuk membaca al Qur’an dan buku-buku, terutama di perpustakaan. Membaca al Qur’an dengan tafsirnya, hadits-hadits Nabi dan juga pelajaran fikih praktis dan lain-lain. Dia juga harus dibiasakan menghafal nasihat-nasihat yang baik, sejarah orang-orang shalih dan kaum zuhud, mengasah jiwanya agar senantiasa mencintai dan meneladani mereka. Dia juga harus diberitahu tentang buku dan faham Asy’ariyah, Mu’tazilah, Rafidhah dan juga kelompok-kelompok bid’ah lainnya agar tidak terjerumus ke dalamnya. Demikian pula aliran-aliran sesat yang banyak berkembang di daerah sekitar, sesuai dengan tingkat kemampuan anak.

 

  1. Cegahlah ia dari mengambil sesuatu milik temannya, baik dari keluarga terpandang (kaya), sebab itu merupakan cela, kehinaan dan menurunkan wibawa, maupun dari yang fakir, sebab itu adalah sikap tamak atau rakus. Sebaliknya, ajarkan ia untuk memberi karena itu adalah perbuatan mulia dan terhormat.

 

  1. Ditanamkan kepadanya agar mendahulukan orang lain dalam hal makanan dan dilatih dengan makanan sederhana, sehingga tidak terlalu cinta dengan yang enak-enak yang pada akhirnya akan sulit bagi dia melepaskannya.

 

  1. Jika ia mengulangi perbuatan buruk itu, maka hendaknya dimarahi di tempat yang terpisah dan tunjukkan tingkat kesalahannya. Katakan kepadanya jika terus melakukan itu, maka orang-orang akan membenci dan meremehkannya. Namun jangan terlalu sering atau mudah memarahi, sebab yang demikian akan menjadikannya kebal dan tidak terpengaruh lagi dengan kemarahan.

 

  1. Biasakan anak-anak untuk bersikap taat kepada orang tua, guru, pengajar (ustadz) dan secara umum kepada yang usianya lebih tua. Ajarkan agar memandang mereka dengan penuh hormat. Dan sebisa mungkin dicegah dari bermain-main di sisi mereka (mengganggu mereka).

 

  1. Selayaknya anak dijaga dari bergaul dengan anak-anak yang biasa bermegah-megahan dan bersikap angkuh. Jika hal ini dibiarkan maka bisa jadi ketika dewasa ia akan berakhlak demikian. Pergaulan yang jelek akan berpengaruh bagi anak. Bisa jadi setelah dewasa ia memiliki akhlak buruk, seperti: Suka berdusta, mengadu domba, keras kepala, merasa hebat dan lain-lain, sebagai akibat pergaulan yang salah di masa kecilnya. Yang demikian ini, dapat dicegah dengan memberikan pendidikan adab yang baik sedini mungkin kepada mereka.

 

  1. Hendaknya dilatih untuk tidak bermewah-mewah dalam makan (harus pakai lauk ikan, daging dan lain-lain) supaya tidak menimbulkan kesan bahwa makan harus dengannya. Juga diajari agar tidak terlalu banyak makan dan memberi pujian kepada anak yang demikian. Hal ini untuk mencegah dari kebiasaan buruk, yaitu hanya mementingkan perut saja.

 

  1. Tumbuhkan pada anak (terutama laki-laki) agar tidak terlalu mencintai emas dan perak serta tamak terhadap keduanya. Tanamkan rasa takut akan bahaya mencintai emas dan perak secara berlebihan, melebihi rasa takut terhadap ular atau kalajengking.

 

  1. Sangat disukai jika ia memakai pakaian berwarna putih, bukan warna-warni dan bukan dari sutera. Dan ditegaskan bahwa sutera itu hanya untuk kaum wanita.

 

  1. Jika ada anak laki-laki lain memakai sutera, maka hendaknya mengingkarinya. Demikian juga jika dia isbal (menjulurkan pakaiannya hingga melebihi mata kaki). Jangan sampai mereka terbiasa dengan hal-hal ini.

 

  1. Anjurkanlah ia untuk memiliki jiwa pemberani dan sabar dalam kondisi sulit. Pujilah ia jika bersikap demikian, sebab pujian akan mendorongnya untuk membiasakan hal tersebut.

 

  1. Dia harus dijauhkan dari syair-syair cinta gombal dan hanya sekedar menuruti hawa nafsu, karena hal ini dapat merusak hati dan jiwa.

 

  1. Seorang ayah hendaknya menjaga kewibawaan dalam berkomunikasi dengan anak. Jangan menjelek-jelekkan atau bicara kasar, kecuali pada saat tertentu. Sedangkan seorang ibu hendaknya menciptakan perasaan hormat dan segan terhadap ayah dan memperingatkan anak-anak bahwa jika berbuat buruk maka akan mendapat ancaman dan kemarahan dari ayah.

 

  1. Biasakan ia untuk menulis indah (khath) dan menghafal syair-syair tentang kezuhudan dan akhlak mulia. Itu semua menunjukkan kesempurnaan sifat dan merupakan hiasan yang indah.

 

  1. Jika anak melakukan perbuatan terpuji dan akhlak mulia jangan segan-segan memujinya atau memberi penghargaan yang dapat membahagiakannya. Jika suatu kali melakukan kesalahan, hendaknya jangan disebarkan di hadapan orang lain sambil dinasihati bahwa apa yang dilakukannya tidak baik.

 

  1. Hendaknya dicegah dari tidur di siang hari karena menyebabkan rasa malas (kecuali benar-benar perlu). Sebaliknya, di malam hari jika sudah ingin tidur, maka biarkan ia tidur (jangan paksakan dengan aktivitas tertentu, red) sebab dapat menimbulkan kebosanan dan melemahnya kondisi badan.

 

  1. Ajari ia duduk di lantai dengan bertekuk lutut atau dengan menegakkan kaki kanan dan menghamparkan yang kiri atau duduk dengan memeluk kedua punggung kaki dengan posisi kedua lutut tegak. Demikian cara-cara duduk yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.

 

  1. Jangan dibiasakan melakukan sesuatu dengan sembunyi-sembunyi, sebab ketika ia melakukannya, tidak lain karena adanya keyakinan bahwa itu tidak baik.

 

  1. Biasakan agar anak melakukan olah raga atau gerak badan di waktu pagi agar tidak timbul rasa malas. Jika memiliki ketrampilan memanah (atau menembak, red), menunggang kuda, berenang, maka tidak mengapa menyibukkan diri dengan kegiatan itu.

 

  1. Jangan biarkan anak terbiasa melotot, tergesa-gesa dan bertolak (berkacak) pinggang seperti perbuatan orang yang membangggakan diri.

 

  1. Melarangnya dari membanggakan apa yang dimiliki orang tuanya, pakaian atau makanannya di hadapan teman sepermainan. Biasakan ia ber-sikap tawadhu’, lemah lembut dan menghormati temannya.

 

  1. Jauhkan dia dari kebiasaan meludah di tengah majelis atau tempat umum, membuang ingus ketika ada orang lain, membelakangi sesama muslim dan banyak menguap.

 

 

  1. Mencegahnya dari banyak berbicara, kecuali yang bermanfaat atau dzikir kepada Allah ta’aala.

 

  1. Cegahlah anak dari banyak bersumpah, baik sumpahnya benar atau dusta agar hal tersebut tidak menjadi kebiasaan.

 

  1. Dia juga harus dicegah dari perkataan keji dan sia-sia seperti melaknat atau mencaci maki. Juga dicegah dari bergaul dengan orang-orang yang suka melakukan hal itu.

 

  1. Sebaiknya anak diberi mainan atau hiburan yang positif untuk melepaskan kepenatan atau refreshing, setelah selesai belajar, membaca di perpustakaan atau melakukan kegiatan lain.

 

  1. Jika anak telah mencapai usia tujuh tahun maka harus diperintahkan untuk shalat dan jangan sampai dibiarkan meninggalkan bersuci (wudhu) sebelumnya. Cegahlah ia dari berdusta dan berkhianat. Dan jika telah baligh, maka bebankan kepadanya perintah-perintah.

 

Kesimpulan:

Pertama, untuk pendidikan, maka tidak ada batas waktu kapan dimulainya, bahkan berbagai dalil di atas, menunjukkan bahwa seyogyanya pendidikan baik yang berkaitan dengan penanaman nilai-nilai aqidah islamiah, adab-adab islami, atau amaliah islamiah dimulai sedini mungkin. Bahkan para ulama menyebutkan bahwa pendidikan bukan hanya dimulai hanya setelah sang anak terlahirkan ke dunia, akan tetapi dimulai jauh-jauh hari, yaitu dengan cara memilih pasangan yang saleh, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

تخيروا لنطفكم وانكحوا الأكفاء وأنكحوا إليهم رواه ابن ماجة والحاكم

“Pilihlah tempat engkau menanamkan air mani (benih)mu, dan nikahilah wanita-wanita yang sekufu (sederajat), dan nikahkanlah mereka (dengan wanita-wanita yang berada di bawah perwalianmu).” (Riwayat Ibnu Majah, dan Al Hakim)

Kedua, Pendidikan bukan hanya dengan cara mengajari mereka, akan tetapi lebih dari itu, karena mencakup banyak hal, diantaranya adalah menjaga mereka dari makanan yang tidak halal, dan segala yang tidak halal untuk mereka, sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam bersama cucunya Al Hasan bin Ali bin Abi Thalib rodhiallahu ‘anhuma. Dengan demikian ini adalah tanggung jawab besar yang dipikul oleh setiap orang tua, yaitu hendaknya mereka mencari nafkah untuk keluarga, istri dan anaknya dari jalan-jalan yang halal, dan benar-benar ia ketahui akan kehalalannya, agar anaknya benar-benar tumbuh menjadi anak yang saleh, dan akan lebih mudah dididik dengan pendidikan yang benar. Oleh karena itu bila suatu saat kita merasa mendapatkan kesulitan dalam mendidik anak kita, maka hendaknya permasalahan ini dikoreksi ulang, yaitu: Apakah seluruh nafkah yang saya berikan kepada anak saya benar-benar halal? Pada kesempatan ini, betapa perlunya kita semua untuk merenungkan kisah yang disebutkan oleh Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam berikut,

“Ada seseorang yang safar jauh, keadaannya kusut dan berdebu, menengadahkan kedua tangannya ke langit, sambil berkata: Ya Rab, Ya Rab, akan tetapi makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka mana mungkin akan dikabulkan do’anya.” (HRS Muslim)

Para ulama menjelaskan bahwa alasan keempat ditolaknya doa orang tersebut ialah karena semasa ia masih kecil ia diberi nafkah dari harta yang haram, sebagaimana dijelaskan oleh Al Mubarakfury dan Syaikh Muhammad bin Shaleh Al Utsaimin. Maka sadar dan pikirkanlah semenjak sekarang wahai saudara-saudaraku tentang nasib anak kita, dan masa depan anak keturunan kita, jangan sampai karena dosa kita, yaitu mencari harta dari jalan-jalan yang haram, dan kemudian kita nafkahkan kepada mereka, doa-doa yang kelak mereka panjatkan tidak diterima Allah ta’ala.

Ketiga, pendidikan anak akan lebih menghasilkan buahnya bila disertai dengan adanya uswah hasanah, yaitu dengan cara mencontohkan setiap yang kita ajarkan pada mereka dalam bentuk praktek nyata dari orang tua. Cermatilah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas kepada cucunya Al Hasan, yaitu tatkala beliau bersabda kepadanya “Tidakkah engkau sadar bahwa kita tidak (halal) memakan shadaqah?” Pada hadits ini Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan kepada Al Hasan, bahwa syariat ini, yaitu haramnya shadaqah, bukan hanya berlaku pada dirinya saja, akan tetapi berlaku bagi seluruh keluarga Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, sehingga beliau menyebutkan alasan larangan ini dengan kata-kata “kita”. Dan pembahasan masalah uswah hasanah dan perannya amat panjang, dan bukan ini saatnya untuk saya sebutkan.

Keempat, di antara metode pendidikan yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ialah dengan menggunakan metode “perintah dan larangan”. Metode ini dengan jelas dapat kita amati pada hadits-hadits yang saya sebutkan di atas. Dan hal ini “larangan dan perintah” merupakan salah satu pokok ajaran islam, yang lebih dikenal dengan sebutan “amar ma’ruf dan nahi mungkar“. Dan sudah barang tentu metode ini menyelisihi metode pendidikan yang sedang dikembangkan di dunia kafir dan diikuti oleh banyak sekolah-sekolah islam terpadu, yaitu mengajarkan dengan cara menyampaikan tanpa memerintah atau melarang. Metode yang sedang digandrungi oleh banyak ormas islam dan sekolah-sekolah islam ini amat berbahaya bagi kelangsungan agama mereka, sebab ini akan mengikis habis prinsip amar ma’ruf & nahi mungkar dari jiwa mereka. Maka hendaknya umat Islam sadar dan mengkaji kembali berbagai metode pendidikan yang selama ini mereka terapkan, dan meningkatkan daya dan upaya mereka guna mengkaji metode pendidikan yang diajarkan dalam syariat.

Kelima, di antara metode pendidikan yang dapat kita simpulkan dari hadits-hadits di atas ialah dibenarkannya hukuman fisik, yaitu berbentuk pukulan, bahkan Nabi shollallahu ‘alaihi wa sallam dengan jelas memerintahkan kita untuk memukul anak-anak kita bila mereka telah berumur 10 tahun dan berani meninggalkan shalat atau bermalas-malasan untuk shalat. Bukan hanya dalam mendidik anak saja kita disyariatkan untuk memukul, bahkan dalam mendidik istri (yang tentu sudah baligh dan dewasa, dan mungkin sudah berumur 60 tahun) kita juga disyariatkan untuk menggunakan metode memukul, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah berikut:

وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ

“Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya (sikap tidak taat pada suami), maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka.” (QS. An Nisa’: 34)

Dan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

عن معاوية بن حيدة رضي الله عنه قال قلت يا رسول الله ما حق زوجة أحدنا عليه قال أن تطعمها إذا طعمت وتكسوها إذا اكتسيت ولا تضرب الوجه…. رواه أبو داود وابن حبان

“Dari Mu’awiyyah bin Haidah radhiallahu ‘anhu ia berkata, Aku bertanya kepada Rasulullah, ‘Ya Rasulullah! Apakah hak-hak istri kami atas kami?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beri makan mereka bila engkau makanan, engkau beri mereka pakaian bila engkau berpakaian, dan janganlah engkau memukul wajah…’” (Riwayat Abu Dawud dan Ibnu Hibban)

Dan dalam hadits lain Nabi bersabda:

فاضربوهن ضربا غير مبرح رواه مسلم

“Pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras (tidak membikin patah tulang, atau luka, atau mengeluarkan darah, atau meninggalkan bekas).” (HR. Muslim)

Tentunya metode ini tidak dilakukan dengan sembarangan dan semena-mena, atau bahkan dengan cara-cara yang menjadikan anak cidera atau terluka, atau memukul di muka dll, sebagaimana yang dijelaskan dalam dua hadits di atas. Dan tentunya tidak dilakukan setiap saat, sebagaimana hal ini jelas dari teks ayat di atas, yaitu bila nasihat dan peringatan yang berbentuk kata-kata tidak berguna atau tidak dihiraukan lagi.

Keenam, dan yang tidak kalah penting dalam pendidikan anak adalah pembenahan terhadap diri sendiri, jadilah orang yang saleh, dan bertakwa, dengan izin Allah, bila hal ini telah tercapai, dan kita mendidik anak-anak kita dengan baik, anak-anak kita akan menjadi anak saleh pula. Pada kesempatan ini saya mengajak para pembaca untuk merenungkan kisah yang disebutkan dalam Al Quran, yaitu yang Karena kesalehan orangtua termasuk salah satu sebab agar Allah menjaga keturunan mereka. Sebagaimana yang Ia firmankan dalam surat Al Kahfi dalam kisah Musa dan Khidir:

حَتَّى إِذَا أَتَيَا أَهْلَ قَرْيَةٍ اسْتَطْعَمَا أَهْلَهَا فَأَبَوْا أَن يُضَيِّفُوهُمَا فَوَجَدَا فِيهَا جِدَارًا يُرِيدُ أَنْ يَنقَضَّ فَأَقَامَهُ قَالَ لَوْ شِئْتَ لاتَّخَذْتَ عَلَيْهِ أَجْرًا

“..hingga tatkala keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka minta dijamu kepada penduduk negeri itu, tetapi penduduk negeri itu tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dalam negeri itu dinding rumah yang hampir roboh, maka Khidhr menegakkan dinding itu. Musa berkata: “Jikalau kamu mau, niscaya kamu mengambil upah untuk itu”. (Q.S.18:77)

Setelah itu Khidir berkata menjelaskan sebab mengapa ia memperbaiki dinding itu tanpa mengambil upah:

وَأَمَّا الْجِدَارُ فَكَانَ لِغُلامَيْنِ يَتِيمَيْنِ فِي الْمَدِينَةِ وَكَانَ تَحْتَهُ كَنزٌ لَّهُمَا وَكَانَ أَبُوهُمَا صَالِحًا فَأَرَادَ رَبُّكَ أَنْ يَبْلُغَا أَشُدَّهُمَا وَيَسْتَخْرِجَا كَنزَهُمَا رَحْمَةً مِّن رَّبِّكَ

“Adapun dinding rumah adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan di bawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang saleh, maka Tuhanmu menghendaki agar supaya mereka sampai kepada kedewasaannya dan mengeluarkan simpanannya itu, sebagai rahmat dari Tuhanmu;..” (Q.S.18:82)

Betapa jelasnya kisah ini, pada kisah pertama, Allah mengutus Khidir untuk membunuh seorang anak yang bila hidup hingga dewasa akan menjadikan kedua orang tuanya yang mereka adalah orang-orang saleh menjadi sesat dan kafir.

Dan pada kisah kedua Allah memerintahkan Khidir untuk menegakkan pagar dinding yang hendak roboh, dan ternyata alasannya adalah karena di bawah dinding itu tersimpan harta peninggalan dua orang saleh untuk anak mereka berdua yang masih kecil. Jadi yang menjadi alasan adalah kesalehan orang tua, buka karena anaknya yang saleh.

Dari kisah ini dengan jelas kita mendapatkan banyak pelajaran penting dalam dunia pendidikan, yaitu bila orang tuanya saleh, maka -atas izin Allah- anak keturunannya akan dijaga Allah, bukan hanya tentang kehidupannya di dunia, akan tetapi sampai yang berkenaan dengan kehidupan akhiratnya. Oleh karena itu, betapa perlunya kita untuk merenungkan kisah ini, sehingga timbul di jiwa kita keyakinan dan iman bahwa Alah adalah benar-benar akan menjadi wali/pengurus orang-orang saleh.

Dan mungkin yang perlu kita perhatikan dalam mendidik anak kecil ialah, ajari mereka tata cara yang sopan lagi baik dalam menyampaikan alasan, baik alasan ketika meminta, atau menolak, atau mengajak, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman pada orang lain ketika mereka bermain dengan anak-anak mereka.

Ketujuh, mengajarkan kepada anak tentang pentingnya berdoa. Rasulullah SAW telah mengajari kita untuk berlindung kepada Allah dari segala fitnah. Dan demikian juga hendaknya anak-anak itu diajari do’a-do’a dan mereka dituntun untuk mengucapkan do’a yang semoga Allah memberikan manfaat untuk mereka dengan do’a tersebut. Dan ketika Yusuf ‘alayhissalam diuji dengan fitnah wanita, ia berkata:

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ . فَاسْتَجَابَ لَهُ رَبُّهُ فَصَرَفَ عَنْهُ كَيْدَهُنَّ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Yusuf berkata: “Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dari padaku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” Maka Tuhannya memperkenankan do’a Yusuf dan Dia menghindarkan Yusuf dari tipu daya mereka. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Q.S.12:33-34)

Dan Allah menjelaskan bahwa sebab diperkenankan-Nya do’a Yusuf adalah karena Ia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Sehingga orang yang beriman mengetahui bahwa kalau ia berdo’a kepada Allah dengan sungguh-sungguh, maka sesungguhnya Allah itu Maha Dekat dan Maha mengabulkan.

Dari jawaban saya di atas, jelas bahwa pendidikan dapat dimulai semenjak dini, tanpa ada batasan umur, walaupun untuk sampai memerintahkan mereka shalat dan menegur dengan keras bila tidak shalat, ada batasannya, yaitu ketika telah berumur 7 tahun, atau yang sering disebut dengan umur tamyiiz (dapat membedakan antara baik dan buruk, sandal kanan dari sandal kiri). Dan sudah barang tentu selama masa pembelajaran dan pelatihan, anak-anak akan melakukan banyak kesalahan, baik yang berkaitan dengan ucapan atau perbuatan, maka kesalahan-kesalahan tersebut, sedikit demi sedikit dibenarkan dengan cara-cara yang selaras dengan pertumbuhan mereka.

Semoga Allah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah dan ‘inayahnya kepada kita dan keluarga kita, serta kepada seluruh pembaca dan keluarga mereka sehingga termasuk orang-orang yang mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat, amiin. Wallahu a’lam bisshawab.

 

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: