Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro Mufti Luthfi Al Banjari : Sifat Muhajirin dan Sifat Anshor

Bayan Syuro Indonesia

Mufti Luthfi Al Banjari

Mesjid Jami Kebun Jeruk

Orang yang telah Allah swt ridhai itu adalah mereka para Sahabat RA, baik dari kalangan Muhajirin ataupun Anshor. Sedangkan pintu keridhoan Allah swt ini masih dibuka sampai hari kiamat. Untuk siapa ? untuk mereka yang mau mengikuti jejak para Sahabat RA.

Maka Allah swt jelaskan dalam Al Quran :

waalssaabiquuna al-awwaluuna mina almuhaajiriina waal-anshaari waalladziina ittaba’uuhum bi-ihsaanin radhiya allaahu ‘anhum waradhuu ‘anhu wa-a’adda lahum jannaatin tajrii tahtahaa al-anhaaru khaalidiina fiihaa abadan dzaalika alfawzu al’azhiimu”

Artinya :

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (9:100)

Para Muhajirin dan Anshor ini adalah orang-orang yang senantiasa berlomba dalam mengejar kebaikan. Bukan mereka saja, tapi juga orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik dalam sifat-sifat kaum muhajirin dan kaum anshor. Allah swt ridha pada mereka dan mereka pasti ridha dengan Allah swt. Bagi mereka yang sudah Allah swt Ridhoi balasannya adalah surga dan mereka kekal selama-lamanya, tidak ada lagi kematian. Inilah yang namanya kemenangan yang besar.

Allah swt puji mereka para sahabat RA, karena mereka senantiasa dalam keadaan balapan, berlomba-lomba, dalam mengejar kebaikan. Ini agama memerlukan orang yang mau berlomba dalam kebaikan.

Iqromul Muslimin :

  1. Dalam perkara Keduniaan : Sunnah
  2. Dalam perkara Agama : Makruh bisa Haram

Contoh Sunnah Iqrom :

Dalam makan dan minum, kita dahulukan orang lain, ini sunnah. Silahkan pak diambil duluan makanannya, silahkan pak diminum duluan. Ini Sunnah mengorbankan kesenangan kita untuk menyenangkan orang lain.

Contoh Makruh Iqrom :

Level kita sama-sama ahbab 40 hari, shaff pertama kosong. Tapi kita malah menyuruh orang lain menempati, sedangkan kita malah memilih dibelakangnya. Silahkan pak duluan, silahkan pak ambil shaff di depan. Bukan kita yang maju mengambil shaff pertama tapi malah nyuruh orang lain. Ini makruh, Iqrom untuk perkara agama.

Yang benar adalah kita berlomba, ambil duluan shaff yang kosong didepan, bukannya nawarin ke yang lain. Bahkan kalau badannya besar dikit, boleh show of force, adu power, ambil duluan itu shaff yang kosong.

Nabi saw sabdakan :

“Andaikan orang tahu fadhilah sholat di shaff pertama, maka orang-orang akan berlomba-lomba untuk sholat di shaff pertama walaupun harus berkelahi.” (Mahfum Hadits)

Jad jangan Iqrom perkara agama, tidak apa-apa tidak kebagian pahala, silahkan biar orang lain saja, makruh kita seperti itu. Kalau level kita sama, Kita yang maju ambil duluan, jangan sampe keduluan orang lain. Berlomba-lomba mengejar kebaikan.

Contoh Haram Iqrom :

Kita belum shalat ashar, waktu sudah menjelang maghrib diperjalanan. Sampai di mesjid kebun jeruk, air mati, cuman ada air satu botol untuk wudhu dia. Ketika mau wudhu datang temannya, ini pakai punya saya saja botol air buat wudhu, duluan saja, saya belakangan. Setelah selesai temannya wudhu, baru dia mau wudhu tiba-tiba adzan maghrib. Maka ini haram hukumnya menawarkan air wudhu kepada orang lain untuk Iqrom. Wudhu dulu kejar sholat ashar jangan sampai telat, baru tawarkan kepada orang lain. Kenapa ? ini karena saya punya kewajiban.

Maka untuk perkara dunia, Iqrom itu sunnah, sedangkan untuk kerja agama, tidak bisa ngalah. Bahkan untuk perkara agama terlambat 1 detik saja bisa masuk neraka.

Maulana Ibrahim Daamat Barakatuhu menjelaskan dalam bayan :

Nabi saw pergi tiap tahun ke Mina untuk berdakwah dikalangan Hujjaj, orang berangkat Haji. Ini karena pelaksanaan Haji itu sudah berjalan semenjak jaman Nabi Adam AS, lalu jaman Ibrahim AS, berlanjut bahkan sebelum Nabi Muhammad Saw diutus sebagai Nabi juga sudah dilakukan. Haji terus berjalan cuman sudah banyak modifikasi, perubahan-perubahan, seiring waktu oleh orang-orang musyrik mekah dan suku-suku sebelumnya. Maka Nabi saw gunakan kesempatan musim haji untuk berdakwah. Setiap kemah didatangi Nabi saw di Mina : ada yang senang di datangi nabi saw, Ada yang marah di datangi Nabi saw, ada yang menerima, ada yang mengacuhkan Nabi saw.

Salah satu kemah yang didangin Nabi saw, semangat mendengar bayan Nabi saw. Bahkan satu anak muda bersemangat dengar dakwahnya Nabi saw. Dia katakan kepada kaumnya ini dakwahnya benar, ajakannya kepada yang Haq. Dia mengajak kaumnya untuk bersegera masuk islam. Kaumnya katakan kitakan punya kepala suku, tunggu dia dulu, apa yang dia putuskan baru kita ikuti. Datang kepala suku udah tua orangnya. Diberi tahu tentang ajakan Rasullullah saw kepada islam, marah dia kepala suku tersebut. Kepala suku bilang kita datang kemari bukan untuk tujuan ini, mengikuti dakwah Nabi saw, tetapi kita kemari untuk Haji. Kita selesaikan saja Haji, beres langsung pulang. Akhirnya mereka selesaikan haji, lalu pulang, tidak masuk islam.

Tapi itu anak muda semangat ingin mengajak kaumnya masuk islam, maka dia bilang ini ada kampung khaddaq dalam perjalanan pulang ke madinah. Dia mengajak kaumnya mampir untuk bertanya disana ada ahlul kitab dari kalangan orang yahudi. Mari kita bertanya kepada dia, barangkali dia tahu tentang kenabian yang akan datang. Akhirnya mereka sepakat masuk ke kampung Khaddaq, disana ada pendeta yahudi. Mereka bercerita kepada pendeta yahudi tersebut bahwa mereka di mina didakwahi oleh seseorang. Maka dijelaskanlah kepada pendeta tersebut sifat nabi saw, wajah nabi saw, perawakan nabi saw, isi bayan nabi saw, bagaimana menurut kamu wahai pendeta. Maka si pendeta yahudi ini buka kitabnya. Setelah dibaca kitabnya, si pendeta bilang betul itu adalah nabi akhir jaman, cepat kalian kembali kesana masuk islam, jagan sampai terlambat. Maka mereka bertanya kalau memang dia nabi akhir jaman kenapa kamu tidak ikut saja bersama kami menemui dia dan masuk islam. Anehnya si pendeta Yahudi mengakui bahwa mereka tidak bisa masuk islam, bahkan akan menjadi musuh mereka orang islam. Tapi ini pendeta yahudi jujur, menyuruh mereka masuk islam.

Maka itu anak muda tambah semangat, mengajak kaumnya untuk kembali ke Mina, cari Nabi saw untuk masuk islam, jangan sampai terlambat atau datangi nabi saw di mekkah. Kata kaumnya sudah tanggung kita sudah dalam perjalanan pulang. Kata kepala sukunya, tahun depan saja ditaskilnya, sekarang udah dalam perjalanan pulang. Si anak muda itu katakan sekarang saja, nanti keburu terlambat. Kaumnya sepakat untuk tidak balik ke mina, lanjut pulang, taskil ditunda sampai tahun depan saja. Karena mayoritas sudah minta pulang, akhirnya mereka pulang.

Mubayin : “Demokrasi itu adalah kesesatan dalam islam yang benar adalah Rasullullah saw.”

Allah swt berfirman :

wa-in tuthi’ aktsara man fii al-ardhi yudhilluuka ‘an sabiili allaahi in yattabi’uuna illaa alzhzhanna wa-in hum illaa yakhrushuuna

Artinya :

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (6:116)

Jika kita ikut demokrasi, ikut suara terbanyak, kita akan tersesat, ikut rasullullah saw saja.

Jadi asbab demokrasi, suara terbanyak, akhirnya mereka pulang, tidak balik ke Mina mencari Nabi saw untuk masuk islam. Ternyata sesudah itu banyak terjadi pergolakan dan peperangan dimana-mana. Waktu hajjatul wada, berarti sudah 10 tahun lebih, 3 bulan menjelang wafatnya nabi saw. Ketika itu Nabi saw pergi haji. Ini anak muda yang semangat tadi jumpa rasulullah saw di mina pada hajjatul wada, haji pertama dan terakhirnya nabi saw. Anak muda itu bertanya kepada Nabi saw apakah masih ingat dengan dia. Nabi saw katakan ingat. Anak muda itu berkata alhamdullillah saya sudah masuk islam ya rasullullah, sedangkan teman-teman saya yang dulu sudah banyak yang mati. Dia bertanya bagiamana nasib teman-teman saya yang mati belum sempat masuk islam ya rasullullah ?

Maka Nabi saw sabdakan :

“Siapa saja yang mati tidak sempat mengucapkan La illaha ilallah maka masuk neraka.”

Jadi kata maulana ibrahim terlambat buat keputusan bisa menyebabkan masuk neraka. Maka kitapun juga begitu, jangan sampai terlambat. Berangkat taskil jangan ditunda-tunda, nanti terlambat. Jadi kita harus berlomba-lomba mengejar kebaikan, jangan menunda-nunda.

Masyeikh katakan :

Ahbab hari ini bergerak seperti mainan anak-anak yang diputar engsel atau kuncinya setelah penuh putarannya baru jalan. Setiap habis dikunci lagi sampai full baru jalan lagi. Jadi tidak mau berlomba maunya di kunci dulu kayak mainan anak-anak. Kalau ada takaza bayan yang ditanyakan siapa yang siap jemput saya. Alumni pondok juga begitu, saya siap khotbah tapi siapa yang siap jemput saya. Minta di jemput ini kayak mainan anak-anak namanya. Katakan saya ini bukan ulama jemputan, saya berangkat sendiri. Kamu berangkat saja ambil takaza jangan bergantung sama yang lain. Jangan naik jemputan, naik saja taxi, gak ada taxi bisa naik ojek, gak ada juga jalan kaki saja, nanti Allah swt kirim kamu kendaraan untuk bawa anda.

Jadi yang Allah swt puji itu “wastabiqul : berlomba” dalam kebaikan. Jadi dalam beramal itu perlu berlomba, mengejar kebaikan.

Kisah Saad bin Abi Waqash RA dan Ayahnya

Saad RA bersama bapaknya berlomba untuk fissabillillah. Saad ra bilang, saya yang berangkat, sedangkan ayahnya bilang, saya saja yang berangkat, saling mengatakan dia yang berangkat, tidak mau mengalah. Lalu Nabi saw memberikan jalan tengah, diundi saja siapa yang berangkat. Karena waktu itu tidak diperlukan untuk semuanya berangkat. Undian dimenangi oleh Saad RA. Tapi tetap bapaknya katakan kepada Saad, “wahai saad saya saja yang berangkat. Kau yang jaga adik-adik kamu” apa kata Saad ra, “Wahai ayah jika ini bukan masalah surga, saya akan mengalah.”

Tapi ini masalahnya surga, walaupun dengan bapak kandung sekalipun tidak boleh mengalah. Ini cuman sama teman-teman sendiri, silahkan maju, kamu saja yang di depan, jangan begitu tapi kamu duluan yang kejar. Sama ayah saja kita tidak boleh ngalah dalam urusan mengejar kebaikan dalam agama, apalgi sama teman selevel. Kecuali dalam shaff pertama yang mau maju itu hafidz quran, atau ulama, pak kyai, maka ini kita harus adab, memang tempat itu untuk mereka shaff pertama. Pak Kyai mundur saya yang di depan, jangan, itu memang hak beliau untuk duduk dimuka.

Inilah keutamaan sahabat dari muhajirin seperti saad bin abi waqqash ra yang berlomba dengan ayahnya berebut untuk berangkat fissabillillah. Begtu juga kaum anshor juga berlomba dalam menerima tamu, sedangkan yang muhajirin berlomba dalam hijrah. Dan ini perlombaan jangan berhenti di sahabat saja tapi : “Walladzina taba uhum bil ihsan : Mereka yang mengikuti sahabat RA dengan baik.” Jadi untuk mendapatkan Ridho Allah swt, berlomba-lomba dalam mengejar kebaikan tetap harus dikerjakan sampai sekarang. Dalam kerja agama tidak boleh santai.

Allah swt berfirman :

Fastabiqul Choirot : Berlomba-lombalah dalam kebaikan” (2:148)

Kalau sahabat itu :

Wassabiquna Awwalaun : “Orang Awal yang berlomba dalam kebaikan

Perintah Allah swt :

wasaari’uu ilaa maghfiratin : “Dan bersegeralah (balapan) kamu kepada ampunan dari Tuhanmu” (3:133)

“yaa ayyuhaa alladziina aamanuu idzaa nuudiya lilshshalaati min yawmi aljumu’ati fais’aw..” : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu”(62:9)

Sholat Jumat

Kalau ada panggilan untuk sholat jumat berlari, segera hadir. “Fais’aw” itu “Berlari Cepat” untuk mendengarkan Khutbah Jum’at. Karena terlambat 1 detik saja bahaya. Nabi saw sampaikan bahwa Malaikat kalau hari jumat ada di depan pintu mesjid istqibal. Mereka para Malaikat mencatat orang-orang yang datang di awal untuk menunaikan sholat jumat. Ini karena berbeda pahalanya setiap kedatangan dengan waktu yang berbeda, makin awal makin bagus. Paling awal pahalanya setara berkorban 1 onta, berikutnya setara sapi, lalu kambing, ayam, telur, jadi beda-beda. Kalau Khotib sudah naik mimbar, dan mengucapkan “alhamdullillah nahmaduhu wa nasta’inuhu…” tanda khutbah sudah dimulai. Khotib naik mimbar malaikat langsung tutup buku, berhenti mencatat, tawajjuh mendengarkan khutbah juga malaikat. Orang yang datang setelah khotib berkhutbah maka dia tidak masuk dalam catatan malaikat tadi. Apakah dianggap alpha atau kosong wallahu’alam yang jelas malaikat tidak akan mencatat orang yang datang terlambat.

Ada orang datang ke mesjid, adzan pertama sudah di kumandangkan, tiba-tiba HP berbunyi, diangkat sama dia ternyata istrinya. Istrinya bilang tolong dibelikan ini dan itu setelah jumatan. Lalu dia tanya apa lagi, dan apa lagi, selesai matikan HP ternyata khotib sudah mulai khotbah. Maka telat 1 detik tidak dicatat oleh malaikat. Telat matikan HP 1 detik saja tidak dicatat malaikat. Ada yang lebih kacau lagi telat gara-gara ngerokok, bilangnya nanggung 3 hisapan lagi, inikan goblok namanya. Alasannya takut ngantuk dengerin khutbah. Gara-gara rokok 3 hisapan tidak dapet catatan malaikat ini kacau banget. Terlambat gara-gara 3 hisapan rokok, bodoh banget. Kalau ada orang tabrakan nolongin, itu lain masalah, tapi ini gara-gara ngerokok 3 hisapan telat tidak dapat catatan malaikat, begitu bodohnya jadi manusia.

Mubayin : “Jadi 1 detik saja terlambat perkara agama ini fatal. Tapi untuk kerja dunia terlambat 1 detik tidak jadi masalah.”

Allah swt berfirman :

“huwa alladzii ja’ala lakumul ardha dzaluulan faimsyuu fii manaakibihaa wakuluu min rizqihi wa-ilayhi alnnusyuuru”

Artinya :

“Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.”(67:15)

Allah swt jadikan bumi ini “Dzalul : Mudah” untuk digarap. Dari padang pasir kering kerontang sampai yang subur hijau, semuanya mudah untuk digarap.

Karguzari Hujan di Mekah Mubayin:

Ketika kami ada di saudi, waktu itu hujan lebat terus menerus selama 1 minggu, setelah satu bulan jadi hijau itu padang pasir. Satu bulan hujan, padang pasir bisa ditumbuhi rumput-rumputan. Jadi ini bumi mudah untuk digarap.

Maka Allah swt katakan “Faimsyu : berjalanlah” dengan tenang. Jadi untuk dunia perintahnya bukan berlari tapi berjalan saja, biasa saja. Pergi ke sawah jangan berlari, berjalan saja biasa. Ke kantor jangan berlari, jalan saja biasa. Tapi kalau untuk ke mesjid harus berlari, jangan sampai datang terlambat.

Karguzari Mubayin :

Ketika kami di mekkah kami ke Bathah, di lereng jabal Tsaur. Disana ada rumah ahbab namanya Abdul Rosyis. Maulana Ahmad lath kumpulin orang-orang penanggung jawab saudi. Termasuk saya dan Kyai Mukhlisun ketika itu hadir bersama beliau. Kita dapat karguzari bahwa aneh ini karkun sorban gede-gede, siwak gondrong-gondrong gede, tapi sholat kok pada masbuk.

Maulana Ahmad Lath bercerita :

“Suatu hari saya hadir dalam pertemuan orang lama, disalah satu markaz. Ternyata setelah selesai sholat mengucapkan sholat, karkun lama banyak yang masbuk. Saya panggil mereka, saya tanyakan kenapa sholat pada telat. Mereka bilang kami baru selesai dari musyawarah markaz. Ditengah-tengah musyawarah qomat. Maka baru pada berlarian mengejar wudhu dan sholat. Saya bilang ke mereka, “Kalian bermusyawarah untuk memperbaiki manusia, tapi lupa diri sendiri.”

Mereka musyawarah bagaimana menghanddle jemaah, buat rute, atur jemaah, tapi lupa menyelamatkan diri sendiri, sholat masbuk. Makanya kalau ada karkun yang masbuk itu keajaiban dunia yang ke 8. Masbuk itu orang yang ketinggalan, sedangkan Tsabbit orang yang berlomba terus, berpacu dalam amal. Jadi untuk kerja dunia tidak usah berlomba, tapi untuk kerja agama kita harus berlomba. Baru nanti Allah swt ridho pada kita.

Pertanyaannya apa sifat muhajirin dan sifat anshor yang harus kita ikuti supaya Allah swt ridho pada kita. Maka Sifat mereka ini dikekalkan dalam kehidupan kita, supaya hasilnya nampak.

Maulana Umar Phalampuri Rah.A jelaskan :

“Ada 3 sifat Muhajirin dan 3 Sifat Anshor, jika kalian ikuti maka nanti anak atau generasi keturunan kalian akan menjadi ulama yang mempunyai 3 sifat juga.”

Sunnah Menikah Segera

Saya baru menikah, khadijah sudah meninggal, sekarang dapat aisyah. Khadijah sudah korban dalam perjuangan, sekarang sudah kembali kepada Allah swt. Semoga Allah swt terima pengorbanan istri saya almarhumah. Orang-orang pada kaget belasungkawa, tapi saya kirim undangan walimah.

Tidak ada sunnahnya itu menunggu kubur kering, menunda-nunda nikah lagi. Bahkan subuh istri meninggal, dzuhur sudah menikah lagi. ini kisah ulama madura bagaimana dia mencontohkan untuk menyegerakan nikah, jangan menunda. Istrinya meninggal, pagi-pagi dikafani istrinya, dia tinggal sebentar, pergi untuk menikah, tapi belum kumpul nanti dulu. Orang-orang terkejut kok istri pagi masih dikafani langsung buru-buru amat menikah.

Si Kyai bilang : “Loh yang nyuci baju saya siapa, yang masak buat saya siapa, kalian sih enak aja ngomong, kalau almarhumah sudah pergi, jumoa dengan Allah swt, mudha-mudah masuk surga. Yang suami almarhumah ini pusing tidak punya istri.”

Laki-laki itu tidak akan tenang hidupnya tanpa istri. “Litaskunu ilaiha” : Tujuan perkawinan itu untuk ketenangan, biar tenang gak gelisah. Jika ada yang bilang : saya bujang walaupun tidak kawin saya tenang hidupnya, ini pembohong anda. Alhamdullillah istri saya sudah meninggal, sekarang saya lebih tenang tidak ada istri, ini dusta namanya. Tidak ada ketenangan bagi seorang laki-laki tanpa hadirnya seorang istri. Jangankan tinggal di gubuk reot, tinggal di istana dalam surga saja, Nabi Adam AS gelisah tidak ada istri.

Kisah Sahabat

Rasullullah saw meninggal dunia, datang syaidina Abu Bakar RA. Abu Bakar RA ini bukanlah pengganti Rasullullah saw, karena Rasullullah itu tidak bisa diganti. Hadirnya Abu Bakar as shiddiq ini adalah sebagai penerus kerja nabi saw. Ini karena kerja nabi saw belum selesai. Apa saja kerja Nabi saw :

  1. Kafattan Linnaas
  2. Rahmatan Lil Alamin

Beliau saw sudah wafat tapi kerja belum selesai, akan terus berlanjut sampai hari kiamat. Maka hadirnya Abu Bakar RA ini adalah untuk melanjutkan daripada kerja Rasullullah saw. Khadijah ra meninggal, sedangkan Aisyah R.ha bukan Khadijah R.ha, Aisyah R.ha tidak bisa mengganti Khadijah R.ha, Aisyah R.ha hanya bisa meneruskan kerja daripada Khadijah R.ha. Semasa hidup Khadijah R.ha sudah korban habis-habisan, sampai Nabi saw puji Khadijah R.ha asbab pengorbanannya. Bahkan Allah swt dan Jibril AS mengirimkan salamnya untuk khadijah R.ha. Allah swt sudah siapkan mahligai untuk Khadijah r.ha. Datang Aisyah R.ha, tapi tidak bisa gantikan khadijah R.ha. Aisyah R.ha hanya bisa meneruskan daripada kerja khadijah R.ha. Maka Aisyah R.ha berlomba, mengejar Khadijah R.ha dalam amalan. Aisyah R.ha terus buat kerja dan pengorbanan, berlomba dalam kebaikan, sehingga dia mendapatkan pujian dari Nabi saw :

“Pelajari separuh agama kalian dari Aisyah R.ha.”

Aisyah r.ha tampil menjadi orang yang berlomba, mengejar Khadijah R.ha dalam amalan dan keutamaan. Semoga istri-istri kita bisa menjadi seperti Khadijah R.ha dan Aisyah R.ha.

Sifat Muhajirin

Allah swt berfirman :

lilfuqaraa-i almuhaajiriina alladziina ukhrijuu min diyaarihim wa-amwaalihim yabtaghuuna fadhlan mina allaahi waridhwaanan wayanshuruuna allaaha warasuulahu ulaa-ika humu alshshaadiquuna

Artinya :

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(59:8)

Setiap orang yang muhajirin itu disebut fuqara, orang fakir, walaupun pada dasarnya dia kaya. Asbab dia berhijrah, menjadi muhajjir, walaupun kaya tetap dia digolongkan sebagai Faqir, berhak dapat zakat. Misalnya si fulan tinggal di sitiung lalu hijrah ke jakarta, walaupundia kaya di sitiung, tetap dia sebagai muhajir berhak atas zakat. Begitu pula, Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, Abdurrahman bin Auf RA, mereka semua ini orang kaya, tapi karena ikut hijrah bersama nabi saw sebagai muhajirin, maka Allah swt panggil mereka sebagai Orang Fakir dari Kalangan Muhajirin, Lil Fuqorohil Muhajirin, boleh terima zakat.

Apa itu 3 Sifat Muhajirin :

  1. Dikeluarkan dari Kampung Halaman Mereka dan meninggalkan Harta benda mereka : alladziina ukhrijuu min diyaarihim wa-amwaalihim
  1. Mereka pergi hanya untu mencari Ridho atau Karunia Allah swt : yabtaghuuna fadhlan mina allaahi waridhwaanan
  1. Pergi untuk menolong Agama Allah swt, Menolong Allah swt dan RasulNya : wayanshuruuna allaaha warasuulahu

Sifat Muhajirin yang pertama : Dikeluarkan dari Kampungnya dan Meninggalkan Harta

Mereka punya tanah dikampungnya dan harta tapi di usir dari sana, berhijrah tinggalkan itu semua, untuk mencari karunia dari Allah swt. Mereka dikeluarkan dari kampung halaman mereka, mekkah, terusir. Ada juga sahabat Nabi saw, orang-orang tidak berani mengusir mereka, tapi mereka ikut hijrah meninggalkan tanah air dan harta mereka. Siap bergerak berpisah dengan tanah air dan harta, ini adalah sifat yang Allah swt puji.

Pujian Allah swt kepada ummat ini karena mereka bergerak bukan berdiam.

Allah swt berfirman :

kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi

Artinya :

“Kalian adalah ummat terbaik yang dikeluarkan (digerakkan) untuk seluruh manusia…” (3:110)

Pujian yang Allah swt berikan kepada ini ummat karena mereka bergerak, Ukhrijat. Dipuji karena bergerak bukan berdiam diri. Sedangkan ummat dahulu dipuji karena berdiam diri, tidak gerak, cukup semedi saja, ibadat panjang-panjang. Jangan sampai cinta tanah air ataupun cinta pada sawah, kebun, tambang, membuat kamu terhambat pergi di jalan Allah swt.

Hadits yang mengatakan “Hubbul Wathan Minal Iman : cinta tanah air adalah sebagian dari Iman” ini Maudhu, hadits palsu. Kalau di dunia ini tempat bergerak, hijrah, jangan berdiam di tanah air saja, rugi kita. Silahkan anda punya kebun sawit, sawah, batu bara, tapi jangan sampai itu semua menghalangi anda untuk pergi di jalan Allah swt. Jangan sampai kecintaan kepada tanah air dan harta menghalangi kita untuk berjuang, pergi di jalan Allah swt. Inilah sifat muhajirin yaitu siap kapan saja meninggalkan tanah air dan harta mereka berpisah demi memperjuangkan agama Allah swt.

Sifat Muhajirin yang ke Dua : Mereka pergi hanya untu mencari Ridho atau Karunia Allah swt

Lalu mereka keluar semata-mata hanya untuk mencari karunia, ridho, Allah swt saja. Sekarang banyak tempat transmigrasi, orang-orang pada keluar meninggalkan kampung halamannya. Lalu apa bedanya ? para transmigran itu keluar dari kampungnya juga tapi untuk mencari dunia : membuka hutan, membuka sawah, berkebun, dll. Sedangkan sahabat keluar meninggalkan tanah air dan harta untuk mencari Ridho Allah swt.

Sifat Muhajirin yang ke Tiga : Pergi untuk menolong Agama Allah swt, Menolong Allah swt dan RasulNya

Berangkatnya mereka untuk berdakwah menolong Allah swt dan Rasullullah saw. Inilah 3 sifat yang membedakan dengan keluarnya seorang transmigran yang mencari dunia, dan seorang yang pergi haji/umroh yang juga mencari Ridho Allah swt. Bedanya adalah kalau Muhajjir mereka keluar meninggalkan kampung dan harta bukan untuk dunia ataupun ibadah saja, tapi demi menolong Agama Allah swt.

Karguzari Ahbab Istri Melahirkan saat Nisab

Ada ahbab menghubungi saya, dia katakan “Ustadz saya sudah jatuh nisab buat berangkat, passport, tiket, dan tafakud semuanya sudah siap. Tapi Istri saya mau melahirkan. Bagaimana ini stadz”. Saya kenal ini orang, karkun lama, maka saya katakan sama dia, “Anda ingin menjadi Dai atau ingin jadi dukun bayi.” Ketawa dia, dia bilang, ”saya ingin jadi Dai ustadz.” Akhirnya berangkat dia.

Sampai di Batam lagi transit dia telpon lagi, “Alhamdullillah ustadz anak saya sudah lahir.” Namanya Anak dai itu malu ditungguin bapaknya yang belum keluar nisab juga. Bapaknya pergi baru keluar dengan selamat anaknya.

Mukmin yang Shoddiq : Iman yang Benar

Allah swt berfirman :

lilfuqaraa-i almuhaajiriina alladziina ukhrijuu min diyaarihim wa-amwaalihim yabtaghuuna fadhlan mina allaahi waridhwaanan wayanshuruuna allaaha warasuulahu ulaa-ika humu alshshaadiquuna

Artinya :

“(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(59:8)

Jadi seseorang diakuin Shoddiq oleh Allah swt kapan ?

ulaa-ika humu alshshaadiquuna : Mereka itulah orang-orang yang benar

Yaitu tatkala mereka keluar, pergi di jalan Allah swt. Walaupun berbagai kitab anda kaji, berbagai tarekat anda ikuti, Suluk dilaksanakan, tetapi tidak terjun ke lapangan, Khuruj Fissabillillah, untuk Dakwah, jangan coba-coba mengatakan saya sudah benar dalam iman saya. Tidak akan diakui oleh Allah swt sebagai As Shodiqun, jika belum keluar di jalan Allah swt.

Analogi Iblis

Walaupun ke aliman saudara sudah sampai di level ke aliman iblis, maaf, iblis ini adalah orang yang paling alim, paling berilmu, setelah para anbiya AS. Jangan dikira iblis itu bodoh.

Syair dari Pujangga Sastra Arab :

“Kalau hanya sekedar mempunyai ilmu tanpa Taqwa, dapat menhantarkan seseorang kepada derajat yang mulia, maka yang paling mulia di dunia ini adalah Iblis.”

Ilmu Kitab Tafsir Iblis hapal dari : Zabur, Taurat, Injil Quran, hafal semua. Ilmu hukum fiqh hafal dari : Hukum Warisan, Hukum Muamalah, Hukum Dinayat, dan lain-lain. Pintar iblis itu, ilmunya tinggi. Jika ada quiz yang dihadiri seluruh ulama dan hanya 1 orang iblis saja, iblis lebih alim dari mereka semua. Quiz warisan : Bapak meninggal ada 10 anak perempuan, 5 anak laki-laki, 4 istri, 1 orang ibu, bagaimana membagi hukum warisnya ? ini iblis tanpa kalkulator bisa langsung jawab saking hafal dan pintarnya.

Jadi seberapapun tingginya Ilmu kita dan Kuatnya Dzikir kita, tapi tidak keluar di jalan Allah swt, maka Belum Mendapakan “Ulaaika humushadiqun” : “Orang yang Imannya Benar

Allah swt berfirman :

“innamaa almukminuuna alladziina aamanuu biallaahi warasuulihi tsumma lam yartaabuu wajaahaduu bi-amwaalihim wa-anfusihim fii sabiili allaahi ulaa-ika humu alshshaadiquuna”

Artinya :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.”(49:15)

Orang beriman itu siapa ? mereka yang beriman kepada Allah swt dan Rasulnya, dan mereka tidak ada keraguan sama sekali. Tidak cukup perlu di buktikan yaitu dengan :

“wajaahaduu bi-amwaalihim wa-anfusihim fii sabiili allaahi : berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah”

Yaitu dengan berjuang di jalan Allah swt dengan harta dan diri. Baru nanti Allah swt katakan :

ulaa-ika humu alshshaadiquuna” : “Mereka itulah orang-orang yang benar dalam Imannya.”

Jika kita sudah buktikan dengan pergi di jalan Allah swt baru Iman kita “Shoddiq : Benar”. Jadi jangan coba-coba berkoar iman saya sudah benar kalau kamu itu belum pergi di jalan Allah swt.

Jadi walapun kalian sudah belajar :

  1. Tauhid Uluhiyah
  2. Tauhid Rububiyah
  3. Asma wa Sifat
  4. Hadits Shahih, Dhaif, dan Maudhu

Tidak perlu keluar 40 hari, Iman kami sudah benar. Ini berarti anda sudah dusta dalam pengakuan, tidak sesuai dengan firman Allah swt. Siapa itu Iman yang Shoddiq atau Iman yang benar yaitu Kaum Muhajirin yang telah membuktikan dirinya Hijrah, Siap pergi kapan saja untuk memperjuangkan Agama Allah swt.

Jadi sifat muhajirin ini adalah siap kapan saja di taskil apapun keadaannya, senang ataupun susah. Masalah mau melahirkan, mau panen sawah, mau tanda tangan kontrak, malau malam pengantin, tidak menghalangi dia untuk pergi di jalan Allah swt.

Jadi dijaman Nabi saw masyeikh kita katakan para sahabat itu tidak hanya menjadi :

  1. Muhajirin Dai
  2. Anshori Dai

Tetapi mereka menjadi Muhajjir juga dan menjadi Anshor juga. Tidak ada sahabat menjadi muhajir saja, lalu tidak pernah jadi anshor, atau yang terus menjadi anshor, tidak mau menjadi muhajjirin, tidak ada seperti itu. Kedua keadaan ini baik Sahabat Muhajirin dan Sahabat Anshor, mereka mengamalkan sebagai muhajirrin dan juga mengamalkan sebagai anshor. Tidak ada sahabat Nabi saw yang hanya menjadi muhajjir selama-lamanya sampai mati, ataupun menjadi anshor selama-lamanya sampai mati. Hari ini dia muhajjir besok dia jadi anshor. Hari ini jadi anshor besok dia jadi muhajir. Jadi kapan menjadi muhajirin dan kapan menjadi anshor, ini sifatnya rolling, berputar dan bertukar.

Contoh :

  1. Abu Bakar RA menjadi Muhajirin ke Madinah. Tapi ada juga Abu Bakar RA menjadi Anshor menerima tamu.
  1. Abu Ayub Al Anshori dengan gelarnya dia dikenal sebagai anshor yang menyediakan tempat untuk Nabi saw. Tapi Abu Ayub Al Anshori meninggal di Turkey sebagai Muhajirin.

Jadi jangan sampai diantara kita ada pikiran untuk Hijrah terus, Khuruj terus, tidak mau maqomi. Ataupun maunya Maqomi terus, jadi Anshor terus, tidak mau menjadi Muhajjir, tidak mau Khuruj Fissabillilah. Dai itu harus kayak sahabat, berperan menjadi muhajjir juga dan menjadi anshor juga. Hari ini kamu jadi muhajjir, tapi besok jadi Anshor juga. Hari ini kamu jadi anshor, besok kamu jadi muhajjir. Inilah sahabat RA.

Sifat Anshor

Allah swt berfirman :

“waalladziina tabawwauu alddaara waal-iimaana min qablihim yuhibbuuna man haajara ilayhim walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu wayu/tsiruuna ‘alaa anfusihim walaw kaana bihim khasasatun waman yuuqa syuhha nafsihi faulaa-ika humu almuflihuuna”

Artinya :

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (59:9)

Orang Anshor itu adalah orang Madinah, tempatan yang menerima para Muhajirrin dari Mekah. Mereka sudah beriman kepada Allah swt dan Rasulnya sebelum para sahabat ra hijrah dari mekah. Ada 6 orang awallun anshor madinah beriman kepada Allah dan Rasullullah saw di Aqobah. Mereka pulang ke madinah buat kerja dakwah, lalu dapat 75 orang taskilan. Nabi saw ketika itu belum hijrah lagi. Mereka minta dikirimkan penanggung jawab, mus’ab bin umair, buat kasih mudzakarah dan bayan ke madinah. Akhirnya Nabi saw kirim Mus’ab bin Umair, dakwah di madinah selama 1 tahun, sampai akhirnya tidak ada 1 rumah pun dimadinah yang tidka ada orang islam. Asbab dakwahnya siapa ? Dakwahnya Mus’ab bin Umair keluar 1 tahun di madinah buat dakwah. Baru berikutnya para sahabat RA yang lain datang berbondong-bondong ke madinah, Hijarah yang pertama.

Apa saja 3 Sifat Anshor ini :

  1. Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah : yuhibbuuna man haajara ilayhim
  1. Mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka : walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu
  1. Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan : wayu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walaw kaana bihim khasasatun

Sifat pertama Kaum Anshor : Mencintai Tamu, para Muhajirrin.

“Mereka mencintai orang-orang yang berhijrah : yuhibbuuna man haajara ilayhim

Mereka orang anshor ini mempunyai sifat mencintai tamu, mencintai mereka orang-orang yang berhijrah karena Allah swt, yaitu para Muhajirin. Berapa saja tamu yang datang ke mereka, Alhamdullilah, seneng mereka. Dapat tamu 10 pasang, alhamdullillah. Ditambah lagi, di takazakan tamu 20 pasang, alhamdullillah. Minggu ini dapet tamu 10 orang senang, minggu depan datang 20 orang senang. Kedatangan tamu terus menerus, senang orang anshor ini.

Sifat Anshor yang ini belum wujud di ahbab indonesia. Minggu ini dikirim rombongan ke mahalah dia. Tapi kalau dikirim lagi minggu depannya, marah dia. Bisa-bisa datang ke markaz marah-marah, nanya kenapa dikirim lagi jemaah ke maqomi dia.

Mubayin : “Cintai Tamu kayak Orang Anshor, mau datang berapa saja silahkan, kapanpun dan berulang-ulang datangnya, silahkan.”

Masturoh dikirim ke rumah dia, minggu berikutnya datang takaza lagi buat nerima masturoh, siap dia menerima lagi, tidak pakai marah, malah senang. Ini baru masuk sifat sahabat Anshor, senang dengan kedatangan kaum muhajirin. Cinta sama orang Muhajirin yang bawa agama, rebutan bahkan mereka mendapatkan tamu muhajirin, inilah sahabat anshor RA.

Jadi yang dilihat ketika menerima tamu bukannya berapa banyak duit dia habis menerima tamu, tetapi yang dia lihat berapa banyak rahmat Allah swt yang dibawa oleh tamu tersebut. Jadi kehadiran masturoh dirumah kita, para muhajirin ini, membawa rahmat Allah swt. Bahkan perginya mereka dari rumah kita membawa dosa-dosa kita semuanya, habis bersih dosa-dosa kita. Setiap 1 orang tamu datang ke rumah kita minimal dia membawa 70.000 malaikat. Kalau 6 pasang datang ke rumah saya berarti sudah 12 orang maka ini sama dengan menghadirkan 840.000 malaikat. Jika mereka 3 hari di rumah kita berarti rumah kita sudah menghadirkan 2.520.000 malaikat. Belum lagi ditambah tamu yang nusroh. Kalau yang nusroh 100 orang jadi 2.5 milyar malaikat hadir di rumah kita memohonkan ampunan, memohonkan rahmat, hidayah, dan sakinah untuk kita. Jadi senang sekali orang Anshor ini menerima muhajirin. Berapa saja yang datang mereka terima, ini sifat anshor sahabat RA. Tidak pernah takut kehabisan, selalu yang dia lihat keutamaannya disisi Allah swt.

Karguzari Mubayin :

Saya ini dasarnya pedagang, sejak kecil sudah dagang. Cuman sekolahnya ke Gontor, belajar agama. tapi ketika saya lulus sekolah, guru saya bilang :

“Luthfi kalau kamu pulang jangan jadi pedagang. Ciri ulama yang Allah swt sukai itu kalau dagang bangkrut.”

Ini fatwa guru saya almarhum, jadi saya tidak boleh dagang. Kenapa begitu ? karena kalau sudah ulama ikutan dagang, maka insya allah dia akan berhenti ngajar. Berapa sih dapet duit ngajar dibandingakan dengan keuntungan berdagang. Jadi kesibukannya adi berdagang dibandingkan ngajarnya. Lalu setelah sibuk dagang, nanti berhenti juga dakwahnya. Jadi agar ulama ini bisa konsentrasi dalam mengajar ilmu dan dakwah, maka tidak dianjurkan jadi pedagang, bisa Allah swt bikin bangkrut. Tapi tidak boleh juga minta-minta, kirim-kirim mengajukan proposal. Hilang marwah ulama kalau minta-minta uang ke bupati, walikota, camat, dan lain sebagainya.

Note Penulis :

Fadhilah Menerima Tamu :

  1. Seperti mendapatkan Pahala Haji dan Umroh

dari Ibnu Abbas RA, Nabi saw bersabda :

“Jika ada tamu masuk ke dalam rumah seorang mukmin, maka akan masuk bersama tamu itu seribu berkah dan seribu rahmat. Allah akan menulis untuk pemilik rumah itu pada setiap kali suap makanan yang dimakan tamu seperti pahala haji dan umrah.” (mahfum)

  1. Mendatangkan Rahmat, dan Membawa Pergi Petaka / Musibah :

Dari Nabi saw :

“Kedatangan tamu ke rumah mendatangkan banyak karunia ke dalam rumah yang dikunjungi, dan pada saat pergi mereka membawa keluar berbagai Petaka dirumah tersebut.” (Mahfum)

  1. Membawa Rizki dan Asbab Ampunan :

Nabi Saw bersabda :

“Sesungguhnya seorang tamu yang datang mengunjungi seseorang, membawa rezeki untuk orang tersebut dari langit. Apabila ia memakan sesuatu, Allah swt akan mengampuni dosa penghuni rumah yang dikunjungi.” (Mahfum)

Dari Abu Hurairah RA, Nabi saw bersabda :

“Wahai sekalian manusia, janganlah kalian membenci tamu. Karena sesungguhnya jika ada tamu yang datang, maka dia akan datang dengan membawa rezekinya. Dan jika dia pulang, maka dia akan pulang dengan membawa dosa pemilik rumah.” (Mahfum)

  1. Menghadirkan Malaikat :

““Setiap rumah yang tidak dikunjungi tamu, maka malaikatpun tidak akan mengunjungi rumah tersebut.” (Mahfum)

“Barangsiapa mengunjungi sahabatnya semata-mata karena Allah SWT, niscaya Allah SWT mengutus 70 ribu malaikat untuk menyertainya. Para malaikat itu berkata, “Surga untuk kamu.” (Imam Ja’far Ash Shidiq)

  1. Sunnah Nabi SAW dan Ciri orang beriman :

Nabi Saw bersabda :

“Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam”. [HR. Bukhari]

  1. Amalan Penghuni Surga :

Ath-Thawil dari Anas bin Malik RA, ia berkata : Ada suatu kaum datang kepadanya untuk menjenguk sakitnya, lalu (Anas) memanggil pembantunya, “Hai anak perempuan, bawalah kesini untuk teman-teman kita walaupun sedikit (makanan), karena saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Kemuliaan akhlaq termasuk amalan-amalan surga”. [HR. Thabrani].

“Tidaklah seorang muslim yang mendatangi saudaranya yaitu mengunjunginya karena Allah, kecuali ada malaikat yang menyerunya dari langit dengan mengatakan, “Sangat baik perbuatanmu dan surga yang baik untukmu. Dan jika tidak demikian, Allah berfirman di kerajaan ‘Arsy-Nya, “Hamba-Ku berkunjung karena Aku, dan pasti Aku akan memulyakannya”. Maka Aku tidak ridla memberi balasan baginya kecuali surga”. [HR. Abu Ya’la]

Sifat Kedua Kaum Anshor : Tanpa Pamrih / Ikhlas

“Mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka” : “walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu

Mereka dalam berkorban untuk tamu tidak ada pamrih atau pengharapan apapun dari tamu, Ikhlas karena Allah swt saja.

Contoh :

Ada jemaah di dalamnya ada seorang jendral. Ahbab kesan jadi nusroh tiap hari, kalau bisa dekat dengan jendral bisa dapat keuntungan koneksi nantinya.

Contoh :

Ada jemaah saudi datang, ahbab silau langsung full nusroh. Berharap kalau ini jemaah saudi kesan bisa bwa dia ke arab saudi untuk kasih pekerjaan.

Jadi nusroh ataupun menjadi anshor hanya karena ingin mendapatkan keuntungan dunia saja. Jadi orang anshor itu dalam nusrohnya tadi kepada kaum muhajirin tidak ada pengharapan apapun selain Ridho Allah swt saja. Akhirnya banyak juga ahbab hilang dari peredaran gara-gara ikut jemaah kerja ke saudi dan ke tempat-tempat lain. Kita tidak ingin tamu-tamu yang datang jadi pencari-pencari tenaga kerja, dan dimanfaatkan sama yang karkun iman lemah. Jemaah kita ditaskil jemaah saudi ke saudi hanya untuk keluar dakwah bukan untuk menyambut kerja dunia dari jemaah saudi.

Karguzari Syaikh Abdul Wahab Menolak Permintaan Presiden Ziaul Haq

Dulu di pakistan ada presiden namanya : Zia’ul Haq, Presiden Pakistan. Beliau senang kepada Syaikh Abdul Wahab, Amir markaz raiwind. Dia kesan dengan kerja dakwah ini, setiap tahun datang ijtima. Maka ziaul haq menulis surat kepada Syaikh Abdul Wahab agar setiap karkun lama ini untuk bekerja di setiap lini pemerintahan dia. Supaya mereka bisa memberi warna tabligh dan metaskil yang lainnya. Tapi Syaikh abdul wahab menolaknya, justru yang diminta syaikh abdul wahab agar Ziaul Haq mengirim orang-orang di setiap lini pemerintahannya agar berangkat 4 bulan untuk dibina.

  1. Ahbab jadi anggota DPR ini tidak baik, Tapi Anggota DPR jadi Ahbab ini baik
  2. Ahbab Jadi bupati ini tidak baik, tapi bupati jadi Ahbab ini baik
  3. Maling jadi karkun itu baik, tapi karkun jadi maling itu tidak baik.

Beda jika ahbab-ahbab markaz dikirim ke pemerintahan, nanti yang terjadi ahbab harus menyesuaikan kehidupan dia dengan kehidupan di pemerintahan.

Contoh :

Misalnya saya jadi bupati, istri saya pakai purdah. Mau tidak mau saya dan istri saya harus menyesuaikan. Sorban lepas buat saya karena harus menyesuaikan dengan lingkungan pemda, jubah ganti dengan kemeja, dst. Begitu juga istri saya purdah jadi lepas karena ada ibu dharmawanita, warna pakaian jadi mengikuti, dst. Begitu juga kalau makan, biasanya sunnah ijtimai 1 nmpan, kini disesuaikan dengan acara protokoler. Sehingga mau tidak mau sayapun jadi berubah lama kelamaan.

Beda kalau Pejabat jadi Ahbab. Kayak pak Anton Bahrul Alam ketika masih menjadi Kapolda, beliau copot kopiah belajar pakai sorban.

Jadi jangan coba-coba kita masuk ke dalam lingkungan mereka, tapi ajak mereka ke kita berangkat 4 bulan, insya allah nanti mereka yang buat perubahan di lingkungan mereka. Jadi kalau polisi, tentara, pejabat sudah keluar 4 bulan kembalikan mereka ke pos mereka masing-masing, insya allah mereka akan paham apa yang seharusnya dilakukan. Bukannya kita yang kesana, gelap disana, bisa hilang kita nanti.

Jadi dalam pergerakan kita ini, setiap melihat seseorang itu jangan ada kepikiran kita ingin mendapatkan dunia dari mereka. Hilangkan pengharapan kita ingin mendapatkan sesuatu dari dalam kerja dakwah ini.

“walaa yajiduuna fii shuduurihim haajatan mimmaa uutuu“ : “Mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka.

Mewat vs Bangladesh

orang miskin yang buat kerja dakwah ini ada 2 :

  1. Orang Mewat
  2. Orang Bangladesh

Namun dalam dunia dakwah yang menjadi Guru adalah orang-orang mewat. Kenapa orang-orang bangladesh umumnya masih sebagai murid, sedangkan orang mewat sudah bisa menjadi guru ? Ini karena tatkala dunia datang, orang mewat menolaknya. Sedangkan orang-orang Bangladesh, ketika dunia datang diterima oleh mereka. Makanya banyak tenaga kerja dari saudi dari bangaladesh. Tidak ada orang mewat jadi tenaga kerja di saudi.

Maulana Harun bertanya : “Apa betul ustadz orang-orang mewat berkata sama saya, jika kami inginkan dunia maka semua toko-toko di Nizamuddin itu sudah kami kuasai. Tapi alhamdullillah tidak ada satu toko pun yang dimiliki oleh orang mewat. Padahal awalnya kita dulu disana saat masih hutan belantara buat kerja dakwah di nizamuddin.”

Jika kalian ingin maju dalam dakwah jangan berpikir untuk buka toko di kebun jeruk. Jadi setiap tamu yang datang kita tidak ingin mendapatkan apa-apa dari mereka.

Sifat Ketiga Kaum Anshor : Mengutamakan Orang Lain Walaupun Susah

Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan : wayu’tsiruuna ‘alaa anfusihim walaw kaana bihim khasasatun

Jadi sifat yang Allah swt puji dari kaum anshor ini adalah mereka senantiasa mengutamakan tamu mereka, Iqrom, walaupun mereka faqir, miskin. Kalau kaya dia Iqrom kepada tamu ini biasa, dia punya kelebihan, tapi bagi yang faqir tetap Iqrom sama tamu ini luar biasa. Orang kaya potong kambing 1 atau sapi 1 untuk tamu ini biasa. Tapi kalau miskin cuman punya kambing 1, itu dia pelihara dan kumpulkan uang buat beli kambing bertahun-tahun, lalu dia potong itu kambing untuk melayani tamunya, muhajirin, ini luar biasa. Bahkan kalau tidak ada kambing, apa yang ada dirumah diberikan kepada orang-orang muhajirin, keluarganya disuruh berpuasa demi Iqrom kepada tamu. Inilah keutamaan orang-orang anshor yang Allah swt puji.

Inilah 3 keutamaan orang Anshor yang Allah swt puji :

  1. Senang menerima Tamu
  2. Tidak mengharapkan apapun dari Tamu
  3. Mengorbankan kesenangan mereka untuk menyenangkan Tamu

Apa yang Allah swt sampaikan tentang kaum anshor ini asbab keutamaan mereka :

“waman yuuqa syuhha nafsihi faulaa-ika humu almuflihuuna”

artinya :

“…Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”(59:9)

Jadi orang yang tidak Bakhil ini adalah orang yang bahagia. Jangan kita Bakhil kepada Allah swt, jangan bakhil kepada tamu.

Pepatah orang Arab :

“Bertanya itu adalah ciri orang Bakhil.”

Contoh :

Saya datang ke tempat ustadz fulandi sitiung, padang. Maka sebagai tuan rumah, ustadz fulan bertanya, “Ustadz udah makan belum ?” jika pertanyaan ini terlontar kepada tamu berarti orang ini adalah orang bakhil. Namun si ustadz ini tidak nanya seperti itu, melainkan langsung menjamu tanpa bertanya, hidangkan semuanya dikeluarkan. Ini baru bener.

Jadi jangan tanya tamu itu, langsung saja siapkan makanan yang ada untuk mereka, keluarkan semua dari dalam rumah, jamu sebaik-baiknya. Dia mau makan atau tidak makan tamu ini, itu menjadi urusan dia, terserah saja, itu nomer dua. Nomer satu hidangkan dengan hidangan yang terbaik.

Jangan kita berkata: “Bapak sudah makan belum ?” di hati dia waktu nanya mudah-mudahan sudah makan. Inilah yang dimaksud dengan kekikiran dirinya, orang bakhil namanya. Makanya kebiasaan orang arab ini, walaupun dia sudah tidak makan seminggu rasa-rasa mau mati kelaparan, tapi kalau ditanya seperti itu, tidak bakal dia mau makan. Jangan ditanya, siapkan saja hidangannya, dia makan atau tidak itu urusan lain, tidak ada masalah.

Jadi orang anshor ini Allah swt puji asbab mengutamakan tamu dan bersih dari sifat bakhil dalam diri mereka, makanya Allah swt bilang sebagai orang yang sukses, beruntung.

Maka Maulana Umar Phalampuri Rah.A katakan jika kita mempunyai 3 sifat muhajirin dan 3 sifat anshor, maka keturunan mereka akan menjadi ulama-ulama, dai-dai, yang mempunyai 3 sifat :

  1. Punya sifat Inabah
  2. Menghargai Pendahulu Mereka
  3. Jauh dari sifat dengki

waalladziina jaauu min ba’dihim yaquuluuna rabbanaa ighfir lanaa wali-ikhwaaninaa alladziina sabaquunaa bial-iimaani walaa taj’al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanuu rabbanaa innaka rauufun rahiimun

Artinya :

“Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. (59:10)

  1. Generasi yang Mempunyai Sifat Inabah

“rabbanaagh fir lanaa” : “Ampunilah Kami ya Rabb”

Semakin tinggi ilmunya semakin merasa bukan siapa-siapa. Doanya : “Ya Allah kami orang yang penuh dosa ya Allah.” Dia orang Alim tidak sempat tahajjud, kalah sama preman tatoan tapi istiqomah tahajjud. Selalu merasa tidak lebih baik dari preman, selalu merasa orang lain lebih baik dari dia. Jadi semakin tinggi ilmunya merasa semakin banyak kekurangan, merasa banyak dosa. Kalau semakin tinggi tapi semakin sombong, ini sifat iblis. Ini semakin tinggi ilmunya semakin timbul ketawadhuan dari dalam diri dia. Bahkan semakin tinggi kealimannya, semakin tidak nampak seperti orang alim.

Kisah Badui

Nabi saw sedang berada di suatu majelis, maka orang badui mencari Nabi saw. SI Badui mencari,”Dimana yang namanya Muhammad saw ini. Kok penampilanya sama semua.” Akhirnya gak kuat juga, dia berteriak, “Mana yang namanya Muhammad saw.” Lalu nabi saw berdiri, “ini saya.”

Maksudnya apa semakin tinggi keilmuannya semakin merendahkan diri.

  1. Generasi yang Menghargai Para Pendahulu Mereka

wali-ikhwaaninaa alladziina sabaquunaa bil-iimaani : “Ya Rabb ampunilah saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami”

Mereka senantiasa menghargai para pendahulu mereka dengan mendoakan kebaikan untuk mereka. Hari ini banyak alumni pakistan, alumni temboro, alumni magetan, ini semua tidak bisa dilupakan dari pada jasa pendahulu kita yaitu Almarhum Bp. Dzulfakar dan Dokter Nur, Rahmatullah Alaih. Mereka ini dua orang tua kita, awallun, yang merintis kerja dakwah ini. Pak dzulfakar almarhum walaupun mereka tidak hafal 1 juz, karena latar belakang dia tentara. Begitu juga Dokter Nur, walaupun tidak hafal 1 juz, karena latar belakangnya dokter. Namun asbab pengorbanan mereka dalam dakwah pada masa awal dulu, sehingga kini banyak wujud hafidz-hafidz Qur’an.

Kita yang hari ini bisa merasakan manisnya dakwah, tidak ada lagi yang ngusir seperti dulu. Sudah banyak ulama-ulama dan hafidz-hafidz jebolan pondok ikut usaha ini. Maka tidak boleh kita melupakan jasa-jasa mereka para pendahulu seperti Dr. Nur dan Bp. Dzulfakar, Rahmatullah Alaih.

Maka melalui gerak dakwah ini akan terwujud ulama-ulama yang menghargai pendahulu mereka.

“Ya Allah ampunkan dosa Dr. Nur dan pak Dzulfakar. Ampunkan dosa-dosa para pendahulu kami, Maulana Inamul Hasan, Maulana Yusuf, Maulana Ilyas, para tabi’in-tabi’in, tabi’in, dan sahabat RA”

Jadi senantiasa menghormati pendahulu, dan mengakui jasa-jasa mereka melalui doa.

Kisah Pembelajaran Ulama

Dulu waktu kami belajar di Al Azhar masuk kepada pembahasan Fiqh. Guru kami memberikan penjelasan tentang pendapat masing-masing mahzab dari pendapat Imam hanafi, Imam maliki, Imam syafei, dan Imam hambali. Lalu diantara kami bertanya, “Mana yang lebih kuat pendapatnya ?” Maka Guru kami bilang :

“Jika saya katakan Syafei lebih kuat, lebih hebat mana saya dengan imam maliki, imam hanafi, dan hambali. Kalau saya katakan hanafi lebih kuat, lebih hebat mana saya dengan imam maliki, imam syafei, dan imam hambali. Mereka ini adalah orang-orang yang lebih alim dan lebih sholeh dari saya mana pantas saya menilai mana yang lebih baik dan mana yang lebih kuat pendapatnya diantara mereka.”

Hari ini ada penyakit diantara kita seperti itu :

  1. tidak menghargai pendahulu
  2. merasa lebih baik dari mereka.

Ini penyakit berbahaya, dimana otak kita berani-beraninya menilai mereka dan tidak menghormati mereka. Itukan hanafi ada kelemahan, syafei juga ada kelemahan, maliki juga ada kelemahan, jadi yang dilihat kekurang-kekurangan mereka, sehingga merasa lebih baik dari mereka. Jika mereka punya kekurangan, anda berani-beraninya mengkritik, apakah anda punya kelebihan melebihi mereka.

  1. Generasi yang Jauh dari Sifat Dengki

walaa taj’al fii quluubinaa ghillan lilladziina aamanuu : “janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman”

Walaupun belajar di temboro, dan ada yang belajar di magetan, dan ada yang belajar di mesir, dan ada yang belajar di pakistan, dan ada yang belajar di yaman, terlepas dari perbedaan, walaupun berbeda madrasah, semuanya tetap bisa saling menghormati, saling mahabbah, saling memuliakan, tidak ada dengki. Berebeda Tarekat juga tidak jadi masalah. Berbeda dalam mahzab juga tidak jadi masalah. Namun diantara mereka tidak ada kedengkian satu sama lain.

Habib Umar Hafidzahullah, dalam pertemuan dengan para Ulama mengatakan :

“Dengan kerja dakwah yang secara terus menerus, walaupun di level pertama dari orang-orang awam, nanti dengan kerja dakwah ini akan menciptakan ulama-ulama hebat dibelakangnya, di kemudian hari.”

Saya heran, apa mungkin akan tercipta ulama-ulama yang bisa lebih alim dari generasi yang sekarang. Maka beliau, habib umar hafidzahulla menyetir sebuah hadis perkara ini.

Nabi saw bersabda :

“Allah swt akan mencahayakan wajah seseorang di hari kiamat, yaitu mereka yang mau mendengarkan daripada kami satu ucapan, dan direkam di hatinya, dan dia sampaikan itu hadist sebagaimana dia dengar. Berapa banyak nanti pihak ketiga yang mendengar, lebih paham dari pihak yang pertama.” (Mahfum)

Maksudnya apa ? jika kita terus dalam kerja dakwah, siap jadi anshor dan siap jadi muhajirin, Hijrah siap dan Nusroh juga siap, maka nanti anak-anak kita akan menjadi generasi yang lebih baik dari generasi kita yang sekarang.

Note Penulis :

Dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

Semoga Allah mencerahkan (mengelokkan rupa) orang yang mendengar hadits dariku, lalu dia menghafalnya – dalam lafazh riwayat lain: lalu dia memahami dan menghafalnya –, hingga (kemudian) dia menyampaikannya (kepada orang lain), terkadang orang yang membawa ilmu agama menyampaikannya kepada orang yang lebih paham darinya, dan terkadang orang yang membawa ilmu agama tidak memahaminya” (Hadits yang shahih dan mutawatir).

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Dawud (no. 3660), at-Tirmidzi (no. 2656), Ibnu Majah (no. 230), ad-Darimi (no. 229), Ahmad (5/183), Ibnu Hibban (no. 680), ath-Thabrani dalam “al-Mu’jamul kabiir” (no. 4890), dan imam-imam lainnya.

Siapa mukanya yang Allah swt berikan cahaya ? yaitu yang mau mendengar dakwah, mendengar makolah, satu ucapan. Jika dia dengar bayan, maka dia akan mendengarkannya dengan baik.

Lalu Fawa’a, dia rekam di hati hadits tersebut, atau bayan tersebut. Bukan direkam di HP, tapi direkam di hati. Maulana Saad katakan HP itu alat kebathilan, alat yang digunakan untuk menyebar kebathilan dan banyak kebathilan yang keluar dari HP. Silahkan punya HP, tapi jangan berkhayal bisa menyebarkan kebaikan dengan HP. Setelah dengarkan bayan lalu di forwardkan, dikirim ke 1000 orang via facebook, whatsap, instagram, dll. Jangan berkhayal bahwa agama akan tersebar dengan cara seperti itu. Rekam di HP, diletakkan dengan speaker, dalam majelis dia siap-siap tidur, karena udah merasa yakin bisa di dengar lagi di rumah sambil ngopi dan tidur-tiduran. Agama tidak akan masuk dengan cara seperti ini, dan tidak akan tersebar dengan cara seperti ini. Jangan sampai merekam di HP untuk mengganti rekaman di hati, ini bahaya. Rekamnya di hati bukan di HP.

Setelah direkam dihati, dia sampaikan itu hadits atau bayan, sebagaimana dia dengar. Jika dakwah terus di buat walaupun dari level orang awam saja, setiap dia dengar lalu sampaikan, maka Nabi saw memberikan kabar gembira. Apa itu kabar gembira dari Nabi saw :

“Berapa banyak nanti orang yang pihak ketiga yang mendengarkan, lebih paham dari orang yang menyampaikan dari pihak yang pertama”

Anda mendengar bayan sekarang namanya Sami’ dan lalu kalian pergi menyampaikan apa yang kalian dengar namanya Mubalagh. Kalau yang menyampaikan namanya Mubaligh. Saya bicara, anda mendengarkan, ini sami’ namanya. Nanti anda sampaikan lagi apa yang kalian dengarkan, maka yang dibelakang nanti namanya mubalagh yang mendengarkan. Orang pertama mendengarkan namanya Sami, lalu orang kedua yang mendengarkan namanya mubalagh. Asbab anda rajin menyampaikan, nanti akan datang orang dibelakang bapak yang mendengarkan akan lebih paham lagi lebih dari anda.

Kisah Tufail Ad Dawsi

Waktu Tufail Ad Dawsi masuk islam, maka dia pulang ke kampungnya buat dakwah disana. Buat dakwah tahunan dia. Maka tertaskil 70 keluarga dari kota madinah, diantaranya adalah siapa ? Abu Hurairah RA, Raisul Muhaditsin, pimpinan para penghafal hadits. Binaan siapa Abu Hurairah RA ini ? Tufail Ad Dawsi. Padahal Tufail RA ini tidak sealim Abu Hurairah RA. Namun kealiman Abu Hurairah RA ini bisa menjadi pemimpin para Muhaditsin asbab adanya dakwahnya Tufail Ad Dawsi RA.

Begitu juga, Pak Dzulfakar bukan orang Alim, dan Dokter Nur juga bukan dari orang alim. Namun lihat hasil binaan beliau, dan bagaimana dakwah hari ini, berapa banyak ulama dan hafidz yang terbentuk asbab pengorbanan beliau.

Coba kita perhatikan hari ini santri-santri di temboro alim alimah dan hafidz hafidzoh, siapa orang tua mereka ? apakah dari kalangan ulama juga, tidak, kebanyakan mereka dari orang awam, pedagang, petani, polisi, dll. Inilah bukti daripada hadits tersebut, jika kita terus buat dakwah. Mau tidak anak kita jadi ulama besar ? maka terus bergerak, dakwah lagi dan lagi.

Ada yang berkata : “Alhamdulllllah ustadz, saya sudah tidak keluar lagi tapi anak saya semuanya ada 10 orang, semuanya ada di pondok jadi alim alimah dan hafidz hafidzoh.”

Jangan kita berkata seperti ini, berhati-hatilah. Justru kalau kamu istiqomah dalam hijrah dan nusroh, nanti akan terwujud generasi yang lebih baik adri yang sekarang. Tapi kalau kita tidak istiqomah, walaupun anak-anaknya sudah di pondok, hati-hati, nanti akan menjadi santri yang gagal. Kalaupun berhasil dia lulus dari pondok, asbab bapaknya sudah berhenti dari dakwah, maka ini anak-anaknya yang lulus dari pondok ilmunya tidak akan berkah asbab memenuhi keinginan bapaknya untuk mencari dunia.

Maksudnya bukannya ngajar ini anak yang alim akan diminta kerja dunia mencari nafkah sehingga ilmu yang dipelajarinya tidak bisa di gunakan untuk mengajar ummat. Banyak hari ini anaknya sowan ke bapaknya lapor bahwa dia sudah lulus dari pondok. Tapi bapaknya malah bicara ke anaknya yang baru lulus dari pondok :

“Nak bapak sudah letih nih kerja, sekarang sudah waktunya kamu yang cari kerja melanjutkan usaha bapak mencari nafkah.”

Malah bikin bingung si anak, kerja apa yah. Ini orang tua yang konyol asbab tidak dalam dakwah lagi, tidak mengerti anaknya disekolahkan di pondok itu untuk apa. Kenapa bisa terjadi seperti ini karena dia tidak istiqomah dalam dakwah. Kalau dia istiqomah dia akan bilang :

“Nak kamu sudah keluar setahun jangan coba-coba jadi pedagang di tanah abang. Dagang itu bukan urusan kamu tapi urusan bapak nak. Berjuang terus nak, jangan takut bapak akan dukung”

Begitu seharusnya, kalau bapaknya istiqomah dalam dakwah, maka fikirnya akan terjaga. Kalau dipakistan sana itu lulusan pondok itu di intai sama orang-orang kaya. Apa yang mereka lakukan :

  1. Dikawinkan dengan anaknya
  2. Dibuatkan pondok
  3. Diberi penghasilan dari toko, sawah, bisnis, yang dia punya.

Jadi si santri yang sudah lulus tersebut tidak dibiarkan ngurus toko atau bisnis yang membuat dia terhalang dari mengajarkan ilmunya. Jadi perkara nafkah sudah difikirkan oleh ayahnya atau mertuanya. Beginilah di pakistan, cuman di indonesia belum bisa seperti ini.

Kalau di Indonesia sama santri lulusan pondok sama orang tuanya :

“Nak kamu kan sudah lulus dari pondok sekarang sudah waktunya kamu nyari nafkah, itu ada toko bapak di tanah abang, buat kamu saja, biar berkah coba kamu teruskan usaha bapak disana.”

Bayangkan karkun sudah 1 tahun, ulama pula, di kasih toko di roxy jual HP, jualan silahkan dilihat pak, silahkan dlihat dulu, macam SPG. ini namanya penghinaan kepada kealiman itu anak. Orang tua apa macam ini ? dia tidak paham maksud dari pada anak tersebut lulus dari pondok dan sudah keluar 1 tahun untuk dakwah. Banyak lulusan pesantren, para maulana, menghilang dari peredaran asbab dibuatkan toko disuruh kerja jadi tukang hp, tukang kain, dll. Seharusnya di dukung dia buat madrasah, dukung dakwahnya, nanti Allah swt berkahkan pesantren yang bapak buat, dan usaha yang bapak punya, anak cucu bapak jad orang alim dan orang sholeh. Kalau tidak begitu, mungkin tokonya kan berkembang, tapi anaknya tidak akan ada yang jadi orang alim. Jangan kita berkhayal kealiman yang berlanjutnya ke toko atau ke bisnis lainnya, bukannya ke madrasah dan dakwah, anak-anaknya akan menjadi seorang alim juga. Asbab toko tadi, anak anda yang lulus dari pondok akan terhalang dari keberkahan ilmu, dan hartanya akan habis juga tapi tidak akan ada keberkahan di dalamnya.

Jadi kalau kita istiqomah dalam berdakwah menjadi Muhajjirin dan Anshor maka anak cucu kita akan mempunyai 3 keutamaan tadi :

  1. Inabah : Merasa berdosa terus
  2. Menghargai para pendahulu
  3. Mahabbah satu sama lain

Kalau tidak, maka akan banyak ulama terbentuk, kita bisa membentuk ulama tanpa harus keluar khuruj, tapi tidak akan punya 3 keutamaan ini. Apa resikonya :

  1. Semakin Alim dia semakin sombong seperti Iblis.
  2. Mulai mengkritik, Kerjanya menghujat, dan menyalahkan para pendahulu, tidak punya hormat kepada generasi sebelumnya. Dimulai dari Imam Mahzab, kan punya kelemahan juga, melihat kekurangan imam mahzab, lalu naik ke Tabi’in dikritik dan dicari-cari kesalahan, lalu sahabat RA, sampai Nabi saw pun dicari-cari kesalahannya. Terakhir menyalahkan Allah swt : Kalau Allah swt sayang kita kenapa engkau menciptakan neraka.
  3. Saling mendengki, sehingga begitu mudah satu sama lain saling mengkafirkan dan menyesatkan satu sama lain, penuh kebencian.

ini ulama yang bicara seperti ini. Dan Ini sudah terjadi terjadi, kenapa ? karena keilmuannya tadi tidak dibina dalam suasana dakwah. Maka kita niatkan diri kita untuk menjadi kaum muhajjir dan kaum anshor.

Insya Allah swt kita siap !!!

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: