Buyaathaillah's Blog

Oktober 20, 2016

Mudzakarah Kerja Dakwah Buya Hamka

Filed under: Tak Berkategori — Buya Athaillah @ 2:02 am

​Nasehat Buya Hamka 

mengenai “Nilai-Nilai Berdakwah” . . . . . . . . . . . . .*
▫Dakwah itu membina, bukan menghina.
▫Dakwah itu mendidik, bukan ‘membidik’
▫Dakwah itu mengobati, bukan melukai.
▫Dakwah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan.
▫Dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan.
▫Dakwah itu mengajak, bukan mengejek.
▫Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan.
▫Dakwah itu mengajar, bukan menghajar.
▫Dakwah itu saling belajar, bukan saling bertengkar.
▫Dakwah itu menasehati, bukan mencaci maki.
▫Dakwah itu merangkul, bukan memukul.
▫Dakwah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar.
▫Dakwah itu argumentative, bukan provokatif.
▫Dakwah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat.
▫Dakwah itu realistis, bukan fantastis.
▫Dakwah itu mencerdaskan, bukan membodohkan.
▫Dakwah itu menawarkan solusi, bukan mengumbar janji.
▫Dakwah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan.
▫Dakwah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat.
▫Dakwah itu memperbarui masyarakat, bukan membuat masyarakat baru.
▫Dakwah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan.
▫Dakwah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat.
▫Dakwah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan.
▫Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari2 aib dan menyebarkannya.
▫Dakwah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli kebenaran.
▫Dakwah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan.
▫Dakwah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis.
▫Dakwah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan meletihkan umat.
▫Dakwah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan.
▫Dakwah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran.
▫Dakwah itu siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh.
▫Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan.
▫Dakwah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran.
▫Dakwah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian.
▫Dakwah itu menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan.
▫Dakwah itu kita mengatakan: “aku cinta kamu”, bukan “aku benci kamu”
▫Dakwah itu kita mengatakan: “Mari bersama kami” bukan “Kamu harus ikut kami”.
▫Dakwah itu “Beaya Sendiri” bukan “Dibeayai/Disponsori”
▫Dakwah itu “Habis berapa ?” bukan “Dapat berapa ?”
▫Dakwah itu “Memanggil/Mendatangi”  bukan “Dipanggil/Panggilan”
▫Dakwah itu “Saling Islah” bukan “Saling Salah”
▫Dakwah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja, bukan hanya di pengajian.
▫Dakwah itu dengan “Cara Nabi” bukan dg “Cara Sendiri” 
amat bermanfaat🙏

Iklan

Oktober 10, 2016

Doa

Filed under: Tak Berkategori — Buya Athaillah @ 5:08 am


YA WADUD YA DZAL ARSYIL MAJID
YA FAALAL LIMA YURID
AS’ALUKA BIIZATI KALATI LA TUROM
WA BI MULKI KALDZI LA YUDOM
WA BI NURI KALDZI MALA ARKANA ARSYIK

Allahumma Maalikal mulki tu’tilmulka mantasyaa’u

wa tandzi’ul mulka mimmantasyaa’u biyadikal khairu

innaka ‘alaa kulli syai’in qadir.

Tuulijul laila finnahaari
wa tuulijun nahaara fillaili

wa tukhrijul hayya minal mayyiti
wa tukhrijul mayyita minal hayyi
wa tarzuqu manntasyaa’u bighairi hisaab.

Wahai Allah swt yg mempunyai kerajaan, Engkau beri kerajaan kpd siapa yg Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dr org yg engkau kehendaki, Engkau muliakan org yg engkau kehendaki dan engkau hinakan org yg engkau kehendaki. Di tanganMu lah segala kebaikan. Sesungguhnya engkau maha kuasa atas segala sesuatu. Engkau masukkan malam kedalam siang. Dan engkau masukkan siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yg hidup dr yg mati dan engkau keluarkan yg mati dr yg hidup. Dan engkau beri tizki siapa yg engkau kehendaki tanpa hisab. Ali Imran 3: 26-27

Allahumma inni as’aluka bi’anna lakalhamda laa illaha illa anta
yaa hannaanu yaa mannannu
yaa badii’assamaawati wal ‘ardhi
yaa dzal jalali wal ‘ikram.

Ya Allah aku memohon kepadamu krn sesungguhnya bagimu puja dan puji. Tiada tuhan selain engkau. Wahai yg maha pemberi, yg menjadi harapan, yg mencipta langit dan bumi. Yg maha luhur dan maha mulia.

Allahumma inni  as ‘aluka bi ‘anni  asyhadu annaka antallahu la illaha illa antal ‘ahadush shamadulladzi lam yalid walam yuulad walam yakullahu kufuan ahad

laa illaha illallahu wallahu akbar
la illaha illallahu wahdahu la syarikalahu
Lahulmulku wallahul hamdu wuhuwa ala kulli syain qadir.
La illaha illallahu wala haula wala quwwata illaa billaah
Yaa dzaljalali wal ikram
Yaa arhamar rahimin

Rabbi laa tadzarnii fardawwa anta khairul waritsiin

Ya Allah janganlah engkau tinggalkan aku seorang diri, dan engkaulah waris yg plg baik. 21:89

Rabbi habli hukmawwa’alhiqni bish shaallihiin walaa tukhzuni yauma yub’stsuuna

Ya allah berikanlah kpd ku hikmah dan masukan aku k dlm golongan org shalih dan jangan engkau hinakan aku pd hr kebangkitan

Rabbana alaika tawwakkalnaa wa ilaika anabnaa wa ilaikal mashiir

Ya allah kpdmu km bertawakal, bertaubat dan berserah diri.

Al baqarah ayat terakhir

Allahumma habbib ilainal imanaana wa zayinhu fi quluubina wa karrih ilainal kufra wal fusuuqa wal ishyana waj alna minarrasyidin

Doa minta kecintaan pd iman dihiaskan dlm hati dan kebencian pd  kufur fasik dan maksiat

Allahumma qinii ‘adzabaaka yauma tab’atsu ibadaadakk.

Peliahara dr adzab dan dibangkitkan sm hamba2 yg ibadah

Allahummar zuqnil jannata bighairi hisab

Masuk surga tanpa hisab

Oktober 8, 2016

Kisah Nabi SAW dan Seorang Munafiq

Filed under: Tak Berkategori — Buya Athaillah @ 8:58 am

​Suatu hari, Nabi Muhammad saw didatangi Abdullah, putra Abdullah bin Ubay bin  Salul, pemimpin kaum munafik di Madinah. Dengan wajah sedih, sahabat yang selalu  bertentangan dengan ayahnya itu, menceritakan bahwa Abdulah bin Ubay sedang sakit  keras. Sang ayah menginginkan Rasulullah saw supaya bersedia menjenguknya.
Rasulullah tidak keberatan. Beliau menjenguk rumah dedengkot para pengkhianat  yang  sangat licik itu. Tiba-tiba,  melihat  Nabi  Muhammad saw  berada  di  dekatnya,  Abdullah  bin  Ubay memelas kepada Nabi  Muhammad  untuk melepas jubahnya dan  menyelimutkannya ke tubuhnya yang tengah meregang menghadapi maut.
Umar bin Khattab yang saat itu hadir menemani Nabi, memberi isyarat agar Rasulullah  saw menolak dan tidak memenuhi keinginan Abdullah bin Ubay. Tapi Nabi Muhammad saw  tidak menuruti apa yang diinginkan Umar. Nabi Muhammad saw segera melepas jubahnya dan menutupkannya ke tubuh Abdullah bin Ubay. Keinginan Abdullah bin Ubay terlaksana, meninggal dunia dengan berselimutkan jubah Nabi Muhammad saw.
Tentu saja Umar bin Khattab merasa penasaran dan heran. Sepulang dari rumah  Abdullah  bin Ubay, Umar  bertanya  kepada  Nabi,  “Wahai  Rasulullah, saya tidak  habis pikir dengan sikapmu. Saya betul-betul tidak mengerti. Bukankah Abdullah  bin Ubay adalah musuh besarmu, dan juga musuh besar umat Islam?
Nabi mengangguk, “Ya betul.” Tapi alangkah beruntungnya Abdullah bin Ubay,  dapat mati dengan berselimutkan jubahmu. Padahal kami para sahabatmu yang setia,  yang  senantiasa mendampingimu, belum tentu  mendapatkan  nasib  sebaik  itu?”  
Nabi  tersenyum  dan  menjawab,  “Sahabatku Umar. Engkau jangan berpikiran sempit.  Memang Abdullah bin Ubay meninggal dunia dengan berselimutkan jubahku. Namun  ketahuilah, Abdullah bin Ubay takkan selamat karena memakai jubahku. Sebab jubahku  takkan menyelamatkan siapa-siapa. Manusia hanya akan selamat karena iman dan amal shalihnya.” Mendengar penjelasan Nabi, Umar pun tersenyum.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.