Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro Mufti Luthfi Al Banjari : Pentingnya kerja atas Masturoh dan Indikator Suksesnya Masturoh

Bayan Syuro Indonesia

Mufti Luthfi Al Banjari

 

 

Hidup yang Allah swt berikan ini bukan untuk main-main, bercanda, bersenda gurau, bukan. Tapi hidup ini adalah amanah. Maka Nabi saw sudah menjelaskan kepada ini ummat :

 

“Kullukum Ro’in : Setiap kalian ini adalah penanggung jawab.” (Mahfum Hadits)

 

Lalu Nabi saw lanjutkan dalam hadits yang sama :

 

“Dan setiap kalian nanti akan dimintai pertanggung jawabannya tentang tanggung jawab yang diberikan kepada kalian.” (Mahfum Hadits)

 

Setiap dari kita ini adalah pemimpin, penanggung jawab. Ada 6 tanggung jawab yang kita bawa kepada Allah swt :

 

  1. Tanggung Jawab kepada Diri kita sendiri.

 

“Ya ayyuhalladzi na amanu ku anfusakum” : “Wahai Orang beriman selamatkanlah dirimu.” (66:6)

 

  1. Tanggung Jawab kepada Keluarga kita.

 

“wa ahlikum Naaran” : “Jagalah anak dan istri kalian dari Api Neraka.” (6:66)

 

  1. Tanggung Jawab kepada Maqomi kita : Kerabat dan Tetangga, masyarakat.

 

“Wa-andzir ‘asyiirataka Aqrabiina” : “Dan BERILAH PERINGATAN kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat.” (26:214)

 

  1. Tanggung Jawab kepada Kota dan Negeri Kita

 

“litundzira ummaal quraa” : “memberi peringatan kepada Ummul Quro (penduduk kota Mekah)” (42:7)

 

  1. Tanggung Jawab kepada penduduk Jiran dan Negara Tetangga

 

“waman hawlahaa” : “Beri peringatan kepada penduduk-penduduk Jiran.” (42:7)

 

  1. Tanggung Jawab kepada seluruh manusia.

 

“wamaa arsalnaaka illaa kaaffatan lilnnaasi basyiiran wanadziiran walaakinna aktsara alnnaasi laa ya’lamuuna”

 

Artinya :

 

“Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.” (34:28)

 

Jadi kita bertanngung jawab kepada :

 

  1. Diri Sendiri
  2. Keluarga
  3. Maqomi
  4. Negeri Kita
  5. Negeri Tetangga
  6. Seluruh Manusia

 

Jika saya orang kalimantan selatan maka saya bertanggung jawab kepada diri saya sendiri, keluarga saya, mahalah saya (tetangga dan kerabat), Negeri tempat saya tinggal (Seluruh kalimantan selatan), dan seluruh Indonesia (tetangga jiran), bahkan seluruh manusia.

 

Jadi tidak cukup diri saya dan keluarga saya, tidak. Namun Allah swt juga berikan tanggung jawab kepada Nabi saw untuk mengingatkan kerabat (kabilah) dan tetangga kita, maqomi mahalah kita. Tidak berhenti disitu Allah swt perintahkan Nabi saw untuk memikirkan Ummal Quro, penduduk kota kita tinggal, dan negeri jiran, penduduk negeri tetangga. Bahkan Allah swt perintahkan Nabi saw, untuk memikirkan bagaimana seluruh manusia ini bisa taat kepada Allah swt. Dari manusia yang lahir semenjak beliau Nabi saw diutus sampai bayi yang lahir terakhir di hari kiamat menjadi tanggung jawab Nabi saw dan kita sebagai ummat Nabi saw.

 

Nabi Muhammad saw ini diutus :

 

  1. Kaffatan Linnas : Seluruh manusia
  2. Rahmatan Lil Alamin : Rahmat Seluruh Alam (bukan hanya manusia)

 

Begitu juga kita sebagai ummatnya Nabi saw harus memikirkan seluruh manusia dan menjadi rahmat seluruh alam.

 

Jangan kita sampai menjadi yahudi yang hanya beriman kepada sebagaian ayat dan mengingkari ayat yang lain.

 

Note penulis, Allah swt berfirman :

 

Allah berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang kufur terhadap Allah dan rasul-rasul-Nya, dan bermaksud memperbedakan antara Allah dan Rasul-Nya dengan mengatakan : ‘Kami beriman terhadap sebagian, (dari rasul itu), dan kami kafir terhadap sebagian (yang lain), serta bermaksud (dengan perkataan itu) mengambil jalan (lain) di antara yang demikian, makalah orang-orang yang kafir sebenar-benarnya”. (Q.S. 4 : 150-151). 

 

Kita sering dengar ucapan :

 

“Kamu jangan urusi orang lain, tapi urusi diri kamu sendiri dulu.”

 

Ini sama saja kita hanya mengambil satu ayat, tentang diri sendiri, lalu mengingkari ayat yang lain. Ini orang seperti ini, mirip yahudi, hanya merasa bertanggung jawab kepada satu ayat saja, mengingkari ayat yang lain. Padahal :

 

“Bapak adalah tetangga saya, saya bertanggung jawab untuk memikirkan bapak juga.”

 

Ini perintah Allah stw, siapa yang memerintahkan kita untuk memikirkan orang lain ? Allah swt.

 

“Sudah, kita tidak usah memikirkan negara tetangga, konsentrasi aja memikirkan negara kita saja. Tidak usah memikirkan negara yang lain. Tahun ini tidak usah dikirimkan jemaah kemana-mana yang penting indonseia beres dulu, kirim dalam negeri aja. Pikirkan negara sendiri dulu baru memikirkan negara lain”

 

Tidak bisa seperti ini kerja kita. Berarti kita hanya mau mengambil sebagian ayat dan meninggalkan ayat-ayat yang lain. Maka dalam satu waktu kita harus memikirkan semuanya :

 

  1. Bagaimana diri saya selamat
  2. Bagaimana keluarga saya selamat
  3. Bagaimana jiran saya selamat
  4. Bagaimana satu negeri selamat
  5. Bagaimana negeri tetangga selamat
  6. Bagaimana seluruh manusia selamat

 

Inilah tanggung jawab yang dibebankan kepada kita yang harus kita fikirkan bersama. Ini merupakan tanggung jawab yang besar, tanpa bantuan Allah swt sulit kita untuk bisa mengamalkan. Namun Allah swt memudahkan kita dalam firmannya :

 

“yaa ayyuhaa alladziina aamanuu in tanshuruu allaaha yanshurkum wayutsabbit aqdaamakum”

 

Artinya :

 

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” (47:7)

 

Intansurullaha yansurkum : Kalau kamu ikut memikirkan, membantu agama Allah, menyebarkan agama Allah swt ke seluruh manusia, apa kata Allah swt selanjutnya ? Wayutsabbit Aqdamakum : Allah swt akan tolong kalian, bantu kalian. Jadi kita yang lemah ini akan dibantu oleh Allah swt selama kita mau memikirkan, membantu, agama Allah swt.

 

Lalu Nabi saw juga memberikan kunci agar Nusrotullah ini datang kepada kita dalam memikul tanggung jawab yang besar ini :

 

“Allah swt akan membantu seorang hamba selama hambanya membantu saudaranya.” ( Mahfum Hadits )

 

  1. Kapan Allah swt akan membantu saya ? kalau saya membantu teman-teman yang lain.

 

  1. Kapan Allah swt membantu keluarga saya ? kalau saya ikut membantu rumah-rumah yang lain.

 

  1. Kapan Allah swt membantu Mahalah saya ? kalau saya ikut membantu Mahalah yang lain.

 

  1. Bagaimana Allah swt membantu menghidupkan agama di kota saya ? kalau saya ikut membantu menghidupkan agama di kota yang lain.

 

Inilah kaidah yang diajarkan Nabi saw, tidak boleh di rubah.

 

“Saya akan membereskan kota saya sendiri dulu. Kalau sudah beres baru saya akan bergerak ke kota-kota lain kayak surabaya, malang, jakarta, dan lain-lain.”

 

Jika anda berpikir seperi ini, sampai anda mati kota anda tidak akan beres-beres. Jika anda dari jakarta, sampai anda mati jakarta tidak akan beres-beres, kalau anda hanya memikirkan jakarta saja tidak mau memikirkan kota yang lain. Begitupula jika anda dari medan, saya akan bereskan medan dulu gak usah memikirkan kota lain. Sampai anda mati kota medan tidak akan beres-beres.

 

Namun kalau kita dalam bekerja senantiasa memikirkan juga negara lain, kota lain, kampung lain, mahalah lain. Nanti ketika dia buat kerja keatas semua itu, Allah swt akan perbaiki kampung kita, kota kita, dan negara kita. Kita fokus saja indonesia dulu malaysia jangan dipikirkan. Insya Allah dengan cara seperti itu indonesia tidak akan beres-beres. Justru jika disaat yang bersamaan kita memkirkan juga bagaimana menggarap negeri tetangga : Malaysia, Philipina, Kamboja, Thailand, nanti pas saat kita bekerja atas Negara kita Allah swt akan bantu. Ketika kita juga mengirimkan rombongan-rombongan ke negeri jiran, nanti disaat yang bersamaan Allah swt akan bantu juga perbaiki negeri kita. Kita buat usaha atas Negeri lain, Nanti Allah swt akan bantu kita buat usaha di negeri sendiri. Bantuan siapa yang kita cari dalam mengurus maqomi kita ? Allah swt, cara bagaimana ? Bantu Jiran kita, baru Allah swt bantu maqomi kita, kota kita, dan negeri kita. Baru jika seperti ini, kerja kita akan tertata dengan rapih.

 

Arahan arahan masyeikh kita jaga dalam menyelamatkan diri kita dari api nerak, jangan sampai pengorbanan dan waktu kita kurang dari 10%, tingkatkan lagi menjadi 1/3 masa. Sampai akhirnya kita betul-betul siap menunaikan janji kita.

 

Apa itu janji Allah swt pada kita :

 

“innasholati wanussuki wamah yaya wama mati lillahi rabbil alamin.”

 

artinya :

 

sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (6:162)

 

Jadi bagaimana kita membuktikan bahwa sholat saya, ibadah-ibadah saya yang lain, hanya untuk menyenangkan Allah swt saja.

 

Inilah targetnya. Dimulai dengan : musyawarah, hidupkan taklim rumah dan mesjid, 2.5 jam temui ummat, jaulah 1 & 2, lalu tiap bulan kita keluar 3 hari mengunjungi mesjid-mesjid lainnya. Ini tujuannya khususnya untuk memperbaiki diri kita sendiri.

 

Kemudian anak dan istri kita, kita bawa dalam kerja masturoh. Hidupkan taklim rumah untuk istri dan anak kita, lalu kita bawa istri kita ke taklim mahalah. Setelah itu berangkat 3 hari masturoh, tingkatkan menjadi 15 hari keluar masturoh, sampai 2 bulan masturoh. Sehingga istri kita paham bagaimana mendidik anak, berkhidmat dirumah, mendukung dakwah suami, dan menjadi contoh dan asbab hidayah bagi wanita lain. Sampai nanti rumah tangga kita terbawa menjadi seperti rumah tangga Nabi saw. Ini juga kerja kita menyiapkan ini semua.

 

Lalu Mahalah kita ini kita juga hidupkan daripada musyawarah harian, berikan waktu 2.5 jam, jaulah 1 & 2, keluar 3 hari dari mahalah. Untuk dapat merubah masyarakat kita tadi, maka hendaknya 1 atau 2 orang lama memikirkan bagaimana bisa membawa 8 orang baru. Ini dibuat dalam rangka “Wa-andzir ‘asyiirataka Aqrabiina” : kerja atas kerabat dan maqomi kita, masyarakat di sekitar kita.

 

Bentuk jemaah bawa keluar antar kota, antar propinsi, memikirkan jiran-jiran mahalah kita, kampung kita, kota kita, negara kita. Bahkan kita pikirkan betul-betul bagaimana setiap orang ini jangan sampai belum pernah pergi 4 bulan di jalan Allah swt. Kita juga perlu berangkat ke India dan Pakistan agar diri kita capable, mampu menghandle kerja, menjadi dai seluruh dunia berangkat ke negara-negara jauh.

 

Inilah mudzakarah-mudzakarah yang telah isusun oleh para ulil amri, yaitu para masyeikh kita. Walaupun kita belum keseluruh dunia, mati tapi membawa niat keseluruh dunia, maka Syaikh Abdul Wahab katakan :

 

“Walaupun kamu buat jaulah pertama di mahalah kamu ini, tapi niat kamu melangkahkan kaki untuk ke amrika, ke rusia, ke london, ke china. Mungkin hanya mampu mengunjungi 20 rumah saja. Maka nanti kesan dakwah anda, Allah swt akan sampaikan ke seluruh dunia.”

 

Analogi :

 

Insya Allah nanti Allah swt akan haji kan kita semua lalu disana nanti kita akan bertemu orang yang tinggi besar, meluk anda. Lalu dia bilang, “Thank you brother… thank you brother.” Kita bingung kamu ini kenapa nanya ke dia. Dia akan bilang, “Kamu yang taskil saya masuk islam.” Kita akan nanay kapan saya taskil kamu, ke negara kamu saja saya gak pernah. Maka dia bilang 3 tahun yang lalu di amerika sana, saya sedang bingung, tertidur lalu bermimpi orang berwajah seperti antum ngajak saya masuk islam. Hari apa kamu mimpi kita bertanya. Hari jumat malam sabtu waktu itu mimpinya. “Oh itu malam jaulah pertama saya.” Jadi kesan dari jaulah 1 yang kita lakukan, Allah swt kirim ke amerika nan jauh disana dengan niat kita buat dakwah ke amerika sana.

 

Begitu juga ketika jaulah kita tertimpa bangunan lalu meninggal, tapi niat membawa agama keseluruh dunia. Maka nanti kita akan dibangkitkan bersama sahabat ra yang buat kerja agama ke seluruh dunia.

 

Ketika kita di depan orang banyak di mesjid di hadapan penghulu menikahkan anak kita saat berkata :

 

“saya nikahkan anak saya kepada kamu dengan mahar sekian.”

 

Lalu si calon suami berkata : “Saya terima nikahnya fulanah binti fulanah dengan mas kawin sekian dibayar tunai.”

 

Apa yang anda terima ketika penyerahan ini ? Ini penyerahan Tanggung Jawab. Bukan hanya sekedar penyerahan itu wanita kepada kita. Jadi orang tua yang membina anaknya sejak kecil, ketika tiba hari perkawinan :

 

“Sekarang saya serahkan untuk dilanjutkan pendidikan anak saya kepada kamu.”

 

Maka wanita ini semenjak kecil sampai menjelang perkawinan, semua tanggung jawab wanita tersebut ada pada orang tuanya. Jika itu anak pacaran maka dosa yang di akibatkan anak perempuannya tadi menjadi tanggungan orang tuanya. Perbuatan dosa anak perempuan sebelum dia menikah akan mengalir ke bapaknya juga, dosa yang sama.

 

Namun tatkala ijab nikah dibacakan, llau diterima, semenjak itu urusan kemaksiatan yang dilakukan istri menjadi tanggungan suami. Tdak masuk ke pintu ayahnya lagi tapi sudah berpindah kepada suaminya. Jadi kalau paginya si istri tidak sholat subuh dan masih berjalan dengan rambut terbuka maka ini suami akan kebagian dosa tersebut, tidak ke ayahnya lagi. Jadi ketika saya terima nikahnya dari fulanah tersebut bukan hanya transfer tanggung jawab memikirkan makan dan minum nya saja, atau pakainya saja, atau rumahnya saja, tidak seperti itu. Namun si suami juga bertanggung jawab melanjutkan pendidikan, pengajaran, bagaimana istri saya ini selamat dari api neraka. Inilah yang menjadi tanggung jawab kita sebagai suami. Kita bertanggung jawab kepada anak dan istri kita.

 

Anak itu bergantung kepada ibunya karena anak itu besar melalui pangkuan ibunya. Maka bagaimana istri kita kita bina sehingga dia bisa menjadi murobbiyah, pengajar atau pembimbing, yang baik bagi anak-anak kita. Membina istri kita menjadi Mualimah sehingga anak kita menjadi anak-anak yang sholeh. Memang kesholehan itu anak bergantung kepada kesholehan ibunya lebih dulu ketimbang bapaknya. Kalau istri sudah terbina maka anakpun juga akan terbina juga. Kalu istri kita tidak baik jangan diharapkan anak kita menjadi orang yang baik.

 

Allah swt berfirman :

 

waalbaladu ath thayyibu yakhruju nabaatuhu bi-idzni rabbihi waalladzii khabutsa laa yakhruju illaa nakidan kadzaalika nusharrifu al-aayaati liqawmin yasykuruuna

 

Artinya :

 

“Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur.” (7:58)

 

Maksudnya apa ? negeri yang subur akan tumbuh tanaman yang subur, sedangkan tanah yang jelek jangan diharapkan tumbuh tanaman yang bagus, tapi yang tumbuh adalah tanaman yang jelek juga.

 

Mufassirin menyampaikan yang dimaksud “Balad” disini adalah wanita, seorang istri. Daripada istri yang sholehah akan lahirlah anak yang sholehah juga. Dari istri yang tidak sholeh jangan diharapkan lahir anak yang sholeh, pasti anak yang tidak sholeh juga.

 

Sejarah sudah membuktikan kisah tentang anak Nabi :

 

  1. Kan’an anak Nabi Nuh AS
  2. Ismail anak Nabi Ibrahim AS

 

Dua-dua anak ini ayah mereka adalah Nabi.

 

  1. Kan’an :

Di didik langsung oleh ayahnya yang Nabi tentang Tauhid tapi Mati dalam keingkaran kepada Allah swt.

“waqaala irkabuu fiihaa bismi allaahi majraahaa wamursaahaa inna rabbii laghafuurun rahiimun wahiya tajrii bihim fii mawjin kaaljibaali wanaadaa nuuhunu ibnahu wakaana fii ma’zilin yaa bunayya irkab ma’anaa walaa takun ma’a alkaafiriina. qaala saaawii ilaa jabalin ya’shimunii mina almaa-i qaala laa ‘aasima alyawma min amri allaahi illaa man rahima wahaala baynahumaa almawju fakaana mina almughraqiina

artinya :

 

“Dan Nuh berkata: “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuhnya”. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir. Anaknya menjawab: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!” Nuh berkata: “Tidak ada yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha Penyayang”. Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. ” (11:41-43)

 

  1. Ismail :

 

Di didik bukan oleh ayahnya melainkan ibunya. Namun ketika Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya untuk menyembelih ismail, untuk mentest pendidikan ismail dibawah ibunya. Apa kata ismail : “

 

falammaa balagha ma’ahu alssa’ya qaala yaa bunayya innii araa fii almanaami annii adzbahuka faunzhur maatsaa taraa qaala yaa abati if’al maa tu/maru satajidunii in syaa-a allaahu mina alshshaabiriina

 

Artinya :

 

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. 37:102

 

Nabi ismail katakan : “Wahai ayah, kerjakan apa yang Allah swt perintahkan kepadamu, nanti engkau dapati aku sebagai orang yang sabar.”

 

Bahkan Maulana Utsman, masyeikh kita, sampaikan :

 

Sebelum disembelih, Nabi ismail memberikan bayan hidayah kepada bapaknya : “wahai ayah nanti ketika engkau hendak menyembelih aku tutup engkau punya mata.” Maksudnya apa Nabi ismail meminta Ibrahim menutup mata :

 

  1. Supaya perasaan iba seorang ayah yang mau menyembelih anaknya, tidak menghalangi beliau menjalankan perintah Allah swt

 

  1. Agar mengurangi kesedihan Nabi Ibrahim AS yang mendapatkan perintah menyembelih anaknya.

 

Lalu bukan itu saja, bahkan Nabi ismail meminta Nabi Ibrahim AS untuk menyimpan bajunya terlebih dahulu agar tidak bikin sedih ibunya yang melihat cipratan darah pada bajunya. Anak siapa yang siap bukan hanya untuk dikorbankan, bahkan memberikan pengarahan agar perintah Allah swt tersebut bisa terlaksana dengan baik. Apa yang membedakan keduanya ? yaitu didikan ibu.

 

Asbab peranan Hajar R.ha, walaupun tidak ada suami disampingnya, harus mendidik anak di lembah yang tandus. Namun asbab didikan yang baik dari ibunya, Ismail menjadi anak yang tumbuh menjadi anak yang sholeh.

 

Maulana Saad sampaikan : Islam ini seperti satu bangunan

 

Sebagaimana Hadits Nabi saw :

 

“Islam itu mempunyai 5 fondasi : Syahadat, Sholat, Puasa, Zakat, Haji.” (Mahfum Hadits)

 

Hendaklah kalian paham bahwa yang 5 ini adalah pondasi. Dan islam dibangan diatas 5 pondasi tadi. Lantas bangunannya itu apa ? sedangkan yang tadi hanya pondasi saja, tiang saja, islamnya belum dibangun. Jika ada melakukan itu semua anda baru membangun pondasi islam, belum membangun islam.

 

Analogi :

 

Seseorang membangun hotel dengan 1000 kamar yang lux. Lantas dia bangun diatas 100 pondasi. Setelah dia bangun 100 pondasi, diatas tiang pancang dia bilang ke orang-orang : Silahkan pak menginap disini, hotel saya ini. Kira-kira ada yang mau tinggal gak ? tentu gak ada yang mau orang masih tiang pancang atau pondasi, belum berbentuk bangunan. Siapa yang mau menginap disitu. Atau tidak usah menginap, kita jual hotelnya dengan judul 1000 kamar lux, tapi pas check kelapangan hanya 100 tiang pancang. Kira-kira berapa nilainya, mau gak orang beli dengan harga 1000 kamar lux padahal cuman tiang pancang. Paling yang mau tidur disana adalah : kucing, tikus, anjing, ular, jin. Manusia tidak akan mau tidur disitu.

 

Kapan orang bisa menilai itu islam ? yaitu tatkala bangunannya sudah mulai dibangun. Apa itu bangunan islam ? Bangunannya adalah :

 

  1. Imaniat : Tauhid dan Syahadat kita
  2. Ibadat : Sholat, Puasa, Zakat, Haji
  3. Muamalat : Transaksi perdagangan dan hutang piuatang kita
  4. Muasyarat : hubungan suami isteri, anak beranak, dan jiran kita.
  5. Akhlaq : hubungan dengan diri kita : tawadhu, iqrom, ihsan, dll

 

Jika ini sudah dibangun, baru orang akan tertarik pada islam. Setelah bangunan islam nampak, baru nanti orang-orang berbondong-bondong masuk islam. Pondasi ini belom lagi menjadi bangunan, bangunan belum nampak.

 

  1. Syahadah ini memang diucapkan di lisan tapi kebenenarannya terletak di hati, orang kafir tidak lihat.

 

  1. Sholat kita juga terletak dimana ? di mesjid. Jad orang kafir tidak lihat sholat kita ini, karena orang kafir tidak ke mesjid.

 

  1. Puasa kita terletak dimana ? di perut, gak keliatan oleh orang kafir. Orang kafir tidak tertarik dengan puasa kita.

 

  1. Zakat dimana ? mengalir kepada orang islam, orang kafir juga tidak melihat. Kita tidak menyerahkan zakat ke gereja ataupun panti asuhan non muslim. Jadi mereka juga tidak lihat zakat kita.

 

  1. Haji kita kemana ? ke Mekkah, orang kafir juga tidak bisa lihat.

 

Maka walaupun orang tersebut sudah mengamalkan rukun islam, itu baru pondasi saja, orang kafir tidak lihat. Kenapa ? karena 5 pondasi ini tersembunyi, tidak nampak. Kapan nampaknya ? tatkala umat islam sudah, bermuamalah, bermuasyarah, berakhlaq, dengan benar, baru akan nampak bangunan islam.

 

Muasyarah

 

Orang islam mengamalkan kehidupan rumah tangga Nabi saw. Melihat keharmonisan bagaimana hubungan suami istri dalam islam. Baru orang kafir yang melihat akan terkesan. Ternyata islam itu indah. Sehingga orang yang melihat rumah tangga ahab indah dan adem, meeka terkesan jadi pingin ikut keluar. Datang kerumah ahbab yang muasyarahnya bagus, keluar dari rumah dia pulang dapat hidayah. Istrinya walaupun suaminya bukan orang yang punya, tapi setiap kedatangan tamu, tidak pernah mengeluh, selalu nampak gembira. Anaknya walaupun kelaparan karena tidak ada makanan di rumah, dia tetap nyalakan api agar terlihat mereka ada makanan. Tidak ada makanan mereka istri dan anak yang kelaparan tidak mau minta-minta pada orang. Ternyata kehidupannya tertata dengan baik. Kehidupan ini yang akan menjadi asbab hidayah bagi tamu-tamunya.

 

Karguzari Maulana Umar Phalampuri Rah.A :

 

Ketika satu orang ahbab dia keluar di jalan Allah swt 40 hari. Ternyata tiba lebaran, hari raya. Makan anak-anak diluar sudah mendapatkan pakaian baru dari ayah-ayah mereka. Sementara ini anak ahbab dari keluarga miskin, dan ayahnya berangkat 40 hari, uang hanya cukup untuk makan saja. Maka ini anak ahbab ketika keluar rumah untuk bermain-main, diejek oleh teman-temannya. Mana pakaian baru kamu ? mana itu sepatu baru kamu ? kok gak pakai pakaian baru dan ssepatu baru ? kami sekarang pakai pakaian baru. Mereka bergembira, sedangkan anak ahbab tersebut bersedih, tidak ada pakaian baru, tidak ada sepatu baru, tidak ada ayah yang menemani. Dia pulang menangis, mencari ibunya mengadu ejekan teman-temannya.

 

Sia anak mengadukan sepatu baru dan baju baru yang dimiliki teman-temannya, sedangkan ibunya tahu bahwa mereka tidak memiliki apa-apa, dan suaminya juga sedang pergi di jalan Allah swt. Kalau istri yang tidak terbina dengan baik maka dia akan berkata :

 

“Begitulah ayah kamu, tidak peduli sama keluarga, tidak meninggalkan uang buat beli baju baru, bukannya kerja malah meninggalkan kita. Kamu menderita gara-gara ayah kamu. Ibu juga susah, sudah malu sama tetangga. Maka nanti kalau sudah dewasa kamu jangan ikut-ikutan seperti ayah kamu.”

 

Kalau kita mendapati istri kita menjadi seperti ini, apa gunanya kita keluar 40 hari atau 4 bulan.

 

Namun istrinya ini sudah terbina dengan baik, diajak taklim, diajak aktif di taklim mahalah, dan diajak keluar fissabillillah. Sehingga istri yang sudah terbina dengan baik ini, dia akan paham siapa dia dan siapa suami dia. Saya ini adalah istri seorang Dai dan paham kalau suaminya ini Dai. Maka istri yang faham ini akan mengumpulkan anaknya kasih targhib :

 

“Wahai anakku, mereka itu berhari raya di dunia, ayah mereka bersama dengan mereka. Namun ayah kalian sedang pergi di jalan Allah swt memperjuangkan agama. Nanti ayah kamu dan kita akan masuk surga. Disana nantii kamu akan dihadiahi pakaian-pakaian yang sangat indah, sepatu baru yang bagus. Bahkan nanti Allah swt akan beri kita kendaraan yang sangat bagus. Kita bersama-sama nanti akan berhari raya disana”

 

Maka oleh ibunya diceritakan tentang keindahan surga dan pemberian-pemberian di surga kepada anaknya. Maka anaknya menjadi gembira mendengar hal itu dari ibunya, tidak lagi menangis. Sehingga si anak itu langsung keluar rumah dan berkata kepada teman-temannya :

 

“Wahai kawan-kawan, kalian sekarang boleh bersenang-senang dengan pakaian baru dan sepatu baru dari ayah kalian. Tapi nanti di akherat kelak, kita akan tahu siapa yang akan jadi pemenang. Ayahku sedang keluar di jalan Allah swt sedang memperjuangkan agama. Setiaplangkah dia akan menganggkat derajat kami di surga. Setiap kata yang dia ucapkan Allah akan berikan pahala kepada kami juga. Sehingga nanti ayahku dan ibuku akan menjadi Raja dan ratu bidadari di Surga. Sedangkan aku akan memakai pakaian yang indah lebih indah dari pada pakaian kalian disini”

 

Maka seluruh kawan-kawan dari anak ahbab itu terkejut mendengarnya, hingga mereka pulang minta kepada ibunya agar ayahnya keluar di jalan Allah swt. Maka satu kampung tertaskyl dengan istri yang demikian. Kisah ini bukan cerita khayalan, tidak.

 

Melalui kerja ini kita ingin membuat muasyarah yang demikian di keluarga kita. Membina istri dan anak-anak kita. Sehingga istri paham saya ini siapa dan suami saya itu siapa. Melalui kerja ini kita ingin agar para istri sadar bahwa mereka ini adalah daiyah, istri seorang da’i, dan suaminya adalah seorang da’i.

 

Kisah Sahabiyah Ummu Sulaim R.ha

 

Punya anak bernama Anas, ditinggal suami pergi asbab si suami tidak mau masuk islam. Maka ummu sulaim r.ha menjanda. Saat itu nabi saw belum lagi hijrah ke madinah. Sedangkan Ummu Sulaim sudah masuk islam ketika itu. Maka ummu sulaim r.ha ini dilamar oleh seorang kaya namanya Abu Thalhah. Abu Thalhah membayangkan pasti ummu sulaim menerima lamaran saya karena saya orang kaya dan di janda di tinggal suami. Berapapun yang dia minta akan saya kasih duit rencananya Abu Thalhah. Ternyata Ummu sulaim katakan :

 

“Wahai Abu Thalhah, saya tidak meminta apapun daripada Mahar, tapi yang saya minta keislaman kamu saja. Saya tidak minta uang tapi masuknya kamu kedalam islam itulah yang menjadi Mahar bagi saya.”

 

Kalau itu yang kamu minta biarkanlah aku berfikir satu malam terlebih dahulu. Abu Thalhah bingun ini wanita macam apa ? dikasih harta malah nolak. Biasanya wanita itu kalau dilamar oleh orang kaya maka yang dimintanya adalah uang. Tapi kok ini wanita tidak minta duit. Bahkan dia hanya minta saya masuk islam saja sebagai mahar. Agama macam apa ini islam bisa merubah wanita seperti itu. Semalaman Abu Thalhah berfikir :

 

“seorang wanita bisa menolak harta yang dicintainya hanya karena agama. Berarti ini adalah agama yang Haq.”

 

Kegembiraan sesorang kepada Agama melebihi kegembiraan seseorang kepada harta. Maka keesokan harinya Abu Thalhah datang kepada Ummu Sulaim dan menyatakan kesediaannya masuk islam. Maka setelah masuk islam, ummu sulaim perintahkan anaknya untuk mengawinkan dia dengan Abu Thalhah. Diapun termasuk orang yang ikut Baiatul Aqobah bersama Nabi saw. Siap menjamu Nabi dan menerima Nabi saw ketika hijrah ke Madinah. Dan betul, Nabi saw pun datang ke madinah. Mereka bermusyawarah, apa yang bisa kerjakan untuk membantu nabi saw. Ini anas anak kita, anak tiri abu thalhah, sudah berumur 10 tahun kita serahkan kepada Nabi saw untuk berkhidmat. Maka anas pun berkhidmat kepada Nabi saw.

 

Dari pernikahan Ummu Sulaim dan Thalhah ini lahirlah seorang anak, diberi gelar thalhah sebagai Abu Umair. Nabi saw akrab betul dengan keluarga ini. Maka suatu ketika Abu Thalhah ra hendak pergi sambut takaza. Maka dia pesan kepada ummu sulaim : “Wahai istriku kau jaga anak kita ini.” Ini karena ketika Abu Thalhah RA hendak pergi anaknya tersebut sedang sakit. Ternyata setelah Abu Thalhah pergi anaknya meninggal, mati karena sakit. Ummu sulaim paham bahwa saya ini adalah siapa ? saya ini adalah istri dari seorang dai, suami saya ini dai. Seorang istri dai itu faham bahwa dia bertanggung jawab kepada suaminya selama di tinggal untuk menunjukkan muasyarah suami istri yang benar kepada tetangga. Hati boleh sedih, mata boleh menangis, namun tetap kita tidak boleh keluar dari ajaran dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.

 

Apa kata Nabi saw :

 

“Istri yang paling baik adalah yang paling menarik dipandang suami. Ketika bicara tidak menyakiti, lalu mentaati suami ketika diperintah. Dan menjaga harta dan kehormatan suami ketika suaminya tidak ada” (mahfum Hadits)

 

Maka ummu sulaim katakan kepada tetangganya, jangan ada yang memberitahukan kepada suami saya tentang kematian anak saya sebelum saya. Maka datang Abu Thalhah dimalam hari. Sebelum menguburkan anaknya, ummu sulaim sudah mampu menguburkan kesedihannya yang ada dalam hati dia. Sebelum anaknya dikubur, yang dikuburkan terlebih dahulu apa ? kesedihannya kehilangan anak. Perasaan sedih jangan di nampakkan di depan suami. Saya harus menjadi istri seperti yang disampaikan Nabi saw yaitu sebaik-baiknya istri adalah yang menarik dipandang suami. Maka untuk mengamalkan ajaran Nabi saw ini, Ummu sulaim dia kuburkan dulu kesedihannya kehilangan anak demi menyambut suami. Maka dia bersolek menyambut suami, menyediakan makanan, lalu makan bersama. Dalam kegembiraan disambut istri abu thalhah menanyakan bagaimana kabar anak kita. Ummu sulaim jawab dia sudah lebih tenang dari sebelumnya. Maksudnya dia sudah tenang sekarang di surga, agar Abu Thalhah tidak khawatir, dan dia bisa melanjutkan perkhidmatannya sebagai seorang istri yang ingin mengamalkan ajaran Nabi saw. Maka pemahaman Abu Thalhah berarti anak saya sudah sehat. Akhirnya abu thalhah melanjutkan makannya, lalu masuk kamar bergaul dengan istrinya. Setelah menyelesaikan takazanya sebagai istri yang mengikuti ajaran Nabi saw, baru ummu sulaim menyampaikan tentang kematian anaknya. Ummu sulaim sampaikan :

 

“Wahai suamiku, bagaimana jika kita meminjam piring dari tetangga, lalu kini dia minta kembali piring tersebut. Apakah harus kita serahkan ?”

 

Maka Abu Thalhah bilang, “Tentu harus kita serahkan karena itu milik tetangga.”

 

Lalu Ummu Sulaim katakan : “Begitulah Allah swt telah menitipkan anak kepada kita, kini sudah diambil kembali oleh Allah swt.”

 

Kita ingin menjadikan istri kita seperti ummu sulaim. Target dari usaha masturoh ini bukan untuk membawa dia jalan-jalan. Mengejar sertifikasi masturoh istilahnya, bukan. Tapi targetnya bagaimana istri kita menjadi seperti sahabiyah R.ha, seperti ummu slaim r.ha. Istri yang bisa menguburkan kesedihan demi mengamalkan ajran Nabi saw, muasyarah yang betul kepada suami.

 

Lantas Abu Thalhah marah dia kepada istrinya. Kenapa baru diceritakan sekarang, kenapa kamu berbohong mengatakan dia telah tenang. Kenapa tidak diberi tahu ketika aku baru pulang. Abu Thalhah tidak mau memperpanjang pertengkaran di rumah, maka dia langsung manid, lalu pergi keluar menenangkan diri untuk sholat subuh. Dia pergi menemui Nabi saw, lalu menceritakan apa yang terjadi. Nabi saw tersenyum bangga memiliki sahabiyah yang demikian. Lalu Nabi saw tanya kepada Abu Thalhah, “Apakah tadi malam kamu menjadi pengantin.” Abu Thalhah sampaikan, “Betul ya Rasullullah.” Maka Nabi saw mendoa, “Semoga Allah swt memberikan keberkahan dalam pertemuan kamu dengan istri kamu tadi malam sebagai pengantin.”

 

Berkat kesabaran seorang wanita seperti Ummu Sulaim, dan doa nabi saw, dari malam pemgantin tersebut, lahirlah seorang anak bernama Abdullah. Abdullah besar punya anak 11 orang, semuanya menjadi hafidz dan alim. Dalam kerja masturoh ini, kita ingin membina istri kita menjadi seperti sahabiyah r.ha. Arahnya kesana yaitu Muasyaah yang benar dalam keluarga. Sehingga tetangga dan orang lain senang melihat keharmonisan dalam rumah tangga kita. Bukan hanya sekedar pakai purdah tapi jalan sendirian kesana kemari, bicara sama suami masih kasar, hubungan dengan tetangga buruk, bikin gosip, dll.

 

Maka bagaimana kita bawa rumah kita ini sebagai contoh, sample, bagi rumah yang lain. Maka penting kita bawa istri kita ke arah sana. Ini adalah tanggung jawab kita, fahamkan kepada istri kita bahwa :

 

  1. Kamu bertanggung jawab atas diri kamu
  2. Kamu bertanggung jawab atas keluarga kamu : suami dan anak
  3. Kamu juga bertanggung jawab kepada tetangga
  4. Kamu bertanggung jawab atas kerja masturoh di halaqah
  5. Kamu juga punya tanggung jawab kepada wanita di kota kamu
  6. Kamu bahkan punya tanggung jawab atas umat di seluruh dunia.

 

Tanamkan kepada istri kita bahwa kamu mempunyai tanggung jawab untuk seluruh dunia. Dan ini sudah tertanam dalam diri para sahabyah r.ha.

 

Kisah Ummu Haram R.ha

 

Ketika rasullullah saw sedang berisitirahat di rumah ummu haram r.ha. bibi susuan Nabi saw. Dalam keadaan berbaring beliau tersenyum, maka ummu haram r.ha bertanya kepada Nabi saw, “Apa yang membuatmu tersenyum ya Rasullullah.” Maka beliau sampaikan, “Aku melihat sekelompok umatku sedang menyebrangi laut. Seperti raja-raja diatas tahta mereka.” Kenapa nabi saw tersenyum ? ini karena tatkala nabi saw sedang risau, dalam keadaan istirahat Allah swt hibur nabi saw dinampakkan umatnya sedang bergerak membawa agama diatas lautan. Selama beliau masih hidup belum ada rombongan yang dikirim melewati lautan untuk membawa agama ke sebarang lautan. Ketika itu kerja dakwah masih hanya sekitar jazirah arab saja, belum lagi keseluruh dunia. Sedangkan nabi saw mendapatkan perintah untuk membawa agama keseluruh dunia. Sedangkan Nabi saw menginginkan ada sahabat yang siap membawa agama ini menyebrangi laut. Bahkan ditarghib nabi saw kepada para sahabat agar berani menyebrangi laut membawa agama, jangan takut.

 

Nabi saw sabdakan :

 

“Perjuangan melewati laut 10 kali lebih tinggi dibandingkan yang di darat.”

 

Contoh : Bagi yang keluar dari medan lalu ke padang ini dapat pahala 700.000 kali. Tapi yang menyeberang dari medan ke kalimantan via laut maka ini Allah swt gandakan 10 kali lipat, jadi 700.000 x 10 = 7.000.000 kali lebih tinggi dari yang di darat.

 

Bahkan dalam satu kitab, ada hadits Nabi saw mahfum :

 

“Mabuknya orang dilautan ini (karena berjuang membawa agama) ini setara dengan tetesan darah syahid di daratan.”

 

Maka ketika Allah swt perlihatkan dalam mimpi beliau bahwa ada sekelompok umatnya yang berjuang membawa agama melewati lautan, beliau gembira betul.

 

Ummu Haram r.ha sadar bahwa saya juga mempunyai tanggung jawab membawa ini agama. Maka dia minta kepada Nabi saw untuk mendoakannya agar bisa bersama rombongan tersebut yang Nabi saw mimpikan menyebrangi lautan. Nabi tidak bilang kamu perempuan, di dapur saja, layani suami saja, tidak. Ini karena Nabi saw ingin kita faham bahwa tanggung jawab membawa ini agama adalah tanggung jawab setiap laki dan wanita dari ummatnya. Setelah Nabi saw doakan nabi berkata, “Nanti kamu bersama mereka tadi.”

 

Nabi tidur lagi lalu bermimpi lagi rombongan yang kedua yang melintasi lautan, nabi saw tersenyum lagi. Maka Ummu Haram bertanya lagi kenapa Nabi saw senyum. Nabi saw ceritakan ada rmbongan yang kedua berangkat melintasi lautan lagi. Ummu haram faham nilai agama membawa agama melintasi lautan, dia karena semangatnya dalam agama ini membuat dia minta di doakan lagi oleh Nabi saw masuk dalam rombongan yang kedua. Kata Nabi saw, “kamu ada di rombongan yang pertama.” Jadi bukan rombongan yang kedua.

 

Setelah Rasullullah saw meninggal dunia, dijaman Utsman bin Affan RA, muawiyah menjadi gubernur di negeri Syam, di damaskus sana. Maka beliau ummu haram melihat ada kesempatan untuk menyebrang ke cyprus sana berdakwah membawa agama. Menyebrang ke Eropa dibuat armada besar. Lalu di i’lankan bahwa kita akan menyebrang lautan membawa agama, memenuhi hadits Nabi saw. Ummu haram mendengar berita itu langsung mentaskil suaminya Ubadah bin shammit ra untuk ikut mendaftarkan nama berangkat bersama romobongan tersebut. Sesampainya di cyprus agamapun mulai disebarkan ke dataran eropa. Ketika takaza sudah selesai, mau pulang terjadi kecelakaan di pelabuhan, ummu haram jatuh dari kudanya dan tewas, syahid meninggal di cyprus sana.

 

Karguzari :
Jemaah yang baru pulang dari cyprus memberikan karguzari bahwa mereka sempat berziarah ke makam ummu haram r.ha. Diatas batu nisan beliau tertulis : “A’maratu Sholihah : Ibunya para orang sholeh.”

 

Pahamkan kepada istri kita bahwa kamu itu di hantar kemuka bumi bukan hanya untuk ngurus dapur, melahirkan anak, masak, bersih-bersih rumah, bukan. Kalau hanya sekedar mengurus itu sama saja dengan perempuan-perempuan yang lain. Apa bedanya pekerjaan seperti itu dengan kambing, sapi, dan lain sebagainya. Beda, kamu itu bukan hanya bertanngung jawab memberi agama kepada anakmu saja tapi juga kepada seluruh manusia. Fahamkan kepada istri kita bahwa dia mempunyai tanggung jawab membawa agama kepada ummat. Kalaupun dia belum bisa berangkat yang jauh minimal ada fikir “Ya Allah berikanlah hidayah kepada ummat Nabi saw yanga da di Amerika, di Eropa, Di australia, di China, dan seluruh belahan dunia.” Sehingga dalam doa-doa yang dilantunkan bukan hanya berdoa “Ya Allah swt kayakan suami saya. Berikan saya rumah yang besar. Berikan saya harta yang banyak.”

 

Jadi kita juga mempunyai tanggung jawab menjadikan istri kita sebagai Partner dalam dakwah. Partner dalam tujuan hidup bukan keperluan hidup.

 

Allah swt berfirman :

 

“waalmukminuuna waalmukminaatu ba’dhuhum awliyaau ba’dhin ya/muruuna bialma’ruufi wayanhawna ‘ani almunkari wayuqiimuuna alshshalaata wayu tuuna alzzakaata wayuthii’uuna allaaha warasuulahu ulaa-ika sayarhamuhumu allaahu inna allaaha ‘aziizun hakiimun”

Artinya :

 

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (9:71)

 

Tujuan pernikahan :

 

  1. Bekerja sama menegakkan yang makruf dan mencegah yang mungkar
  2. Mendirikan Sholat
  3. Membayar Zakat
  4. Ketaatan pada Allah swt dan Rasulnya

 

Jadi inilah kerja sama yang dilakukan suami istri semenjak mereka menikah yaitu kerja sama dalam maksud bukan keperluan. Jadi fahamkan kepada istri kita bahwa sekala prioritas dalam pernikahan kita untuk menegakkan dakwah.

 

Dipuji para sahabat RA ini karena dakwah.

 

kuntum khayra ummatin ukhrijat lilnnaasi ta/muruuna bialma’ruufi watanhawna ‘ani almunkari watu/minuuna biallaahi walaw aamana ahlu alkitaabi lakaana khayran lahum minhumu almu/minuuna wa-aktsaruhumu alfaasiquuna

 

artinya :

 

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.” (3:110)

 

Pujian ini bukan untuk laki-laki saja, bukan hanya untuk Abu Bakar RA, Umar RA, Utsman RA, Ali RA, tidak, tetapi juga untuk, Aisyah RA, Hafsah RA, Khadijah RA, Fathimah RA, dan yang lainnya, laki-laki dan wanita. Jadi kata-kata “kuntum” disini ini untuk ummat Nabi SAW, laki-laki dan wanita. Bagaimana setiap wanita juga bergerak memperjuangkan ini agama. Kita ingin fahamkan kepada istri kita bahwa tanggung jawab mereka juga adalah untuk berdakwah.

Allah swt berfirman dalam Al Quran :

 

waal’ashri. inna al-insaana lafii khusrin. illaa alladziina aamanuu wa’amiluu alshshaalihaati watawaasaw bialhaqqi watawaasaw bialshshabri

Artinya :

“Demi Masa. Sesungguhnya setiap manusia ini dalam kerugian. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.”(103 : 1-3)

 

Semua manusia ini dalam kerugian kecuali :

 

  1. Beriman
  2. Beramal sholeh
  3. Berdakwah

 

Berdasarkan ayat ini, bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan, mempunya tanggung jawab yang sama dalam : menyempurnakan iman, menyempurnakan amal sholeh, dan bergerak untuk dakwah. Dan Allah swt sudah i’lankan melalui lisan Nabi saw.

 

Allah swt berfirman :

 

qul haadzihi sabiilii ad’uu ilaa allaahi ‘alaa bashiiratin anaa wamani ittaba’anii wasubhaana allaahi wamaa anaa mina almusyrikiina

 

artinya :

 

Katakanlah: “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (12:108)

 

Ayat ini adalah SK (surat keputusan) dari Allah swt untuk melantik umat Nabi saw, baik yang laki-laki maupun yang perempuan, sebagai umat yang da’i. Diperintahkan untuk berdakwah dengan dalil yang jelas, hujjah yang nyata. Azasnya dakwah kita ini adalah Bashiroh : Yakin yang benar kepada Allah swt, bukan kebendaan. Bukan ala bashorin, pandangan mata, tapi bashiroh, keyakinan dalam hati. Kalo berdasarkan bashor, pandangan mata, nanti jadinya : “Bagaimana kamu berangkat sedangkan kita tidak ada duit.” Jadi menilai dari pandangan mata. Kita ingin menanamkan pada istri kita Bashiroh, keyakinan, bahwa yang memberangkatkan itu bukan duit tapi Allah swt. Aku bisa berangkat ini bukan karena aku punya duit tapi ini semata-mata karena Allah swt yang memberangkatkan.

 

Nasehat :

 

“1000 orang kaya di dunia dengan segala kekayaannya ini tidak akan bisa membangun agama, tapi 1 orang miskin yang yakin, Allah swt akan jadikan dia asbab tegak nya agama.”

 

Maulana Yusuf katakan bahwa :

 

“Orang yang bisa menghandle ini kerja adalah orang yang yakin bukan orang yang punya duit.”

 

Inilah yang ingin kita tanamkan pada istri kita bahwa kerja ini :

 

Ala Bashirotin (mata hati : Keyakinan) bukan Ala Bashorin (mata dzohir : kebendaan)

 

Sehingga istri yang mempunyai keyakinan yang sempurna, walaupun ditinggal tanpa duit dia siap, sebagaimana Hajar R.ha ditinggal Ibrahim AS tanpa duit / bekal. Dan dia tidak pernah mengeluhkan kemiskinannya kepada orang lain.

 

Masyeikh sampaikan :

 

Begitu pahamnya para sahabiyah-sahabiyah r.ha, bahwa suami-suami mereka adalah sebagai dai-dainya Allah swt yang bergerak kemana-mana. Tidak ada satu orangpun sahabiyah r.ha yang melaporkan kemiskinannya kepada Rasullullah saw. Jangankan curhat kepada sahabiyah yang lain, kepada Nabi saw saja tidak pernah mereka curhat tentang kemiskinannya ditinggal suami.

 

Ini karena mereka paham bahwa suami mereka adalah seorang dai. Jangankan kepada sahabat yang lain kepada Nabi saw saja mereka tidak pernah melaporkan kesusahan mereka tersebut.

 

Kisah Fatimah

 

Adapun kepergian Fatimah R.ha menemui Nabi saw untuk meminta 5 ekor kambing dan hamba sahaya. Ini bukan daripada kemauan Fatimah R.ha, tapi kemauan daripada suaminya Ali RA, yang iba dengan beban yang dipikul istrinya. Fatimah R.ha sebetulnya lebih memilih bersabar. “Aku ini rela dengan kesusahan ini walaupun badanku kurus.” Tangan fatimah menjadi kasar, banyak goresan, ini tidak menjadi masalah buat Fathimah R.ha. Dia tau suaminya berangkat-berangkat terus sambut takaza. Jadi kedatangan Fatimah R.ha kepada Nabi saw ini bukan dari keinginan dia, melainkan permintaan Ali RA, karena iba pada Fathimah RA. Maka atas ketaatan kepada suami, maka Fathimah R.ha pergi kepada ayahnya, Nabi saw, untuk meminta 5 kambing dan hamba sahaya. Fathimah melakukan ini atas desakan dari Ali RA, yang iba kepada pekerjaan fathimah, dan dia tau nabi saw baru mendapatkan ghanimah. Sebenarnya Fatimah ra tidak mau melaporkan keadaannya kepada ayahnya, Nabi saw, tetapi karena perintah suami maka dia pergi ke Nabi saw. Ali RA kasihan melihat istrinya kurus, dan sudah lama tidak makan karena tidak ada makanan. Ali faham betul kecintaan Rasullullah saw kepada fathimah R.ha. Dengan banyaknya kambing yang datang dan tawanan perang, Ali RA berharap Nabi saw bisa meringankan daripada kesusahan fathimah R.ha, putrinya yang paling dicintai Nabi saw. Jadi kepergian Fathimah R.ha menemui Nabi saw semata-mata karena dorongan suami saja, karena suami kasihan. Bukan maunya fathimah, tidak. Fathimah tidak pernah melaporkan laparnya kepada Nabi saw.

 

Sampai-sampai ada satu peristiwa Nabi saw datang ke rumah Fathimah R.ha, beliau ketuk pintu daripada rumah Fathimah R.ha tapi tidak ada yang menjawab. Ketika Nabi saw mengucapkan salam dari luar, ternyata ada suara yang lemah sekali membalas salam Nabi saw. Ternyata Fathimah R.ha sedang sakit. Nabi saw minta izin untuk masuk, lalu fatimah sampaikan bahwa ini adalah rumah baginda rasullullah saw sendiri, langsung masuk saja. Namun Nabi saw sampaikan bahwa dia membawa tamu laki-laki, Usaid bin Hudair RA, seorang anshor yang dekat dengan keluarga Nabi saw. Maka Nabi saw katakan : “Wahai Fathimah pasang Hijab.” Fathimah katakan :

 

“Jangankan Hijab ya Rasullullah. Pakaian saja tidak sempurna untuk bisa menutup aurat ya Rasullullah.”

 

Begitulah keadaan keluarga anak Nabi saw yang paling dicintainya : Lapar, tidak ada makanan, sakit, pakaian tidak sempurna menutupi aurat, dan hijab atau tiraipun tidak punya. Sudah demikian susahnya Fathimah, namun dia tidak pernah melaporkan kesusahannya kepada Nabi saw kalau tidak ditanya. Jiwa seperti Fathimah R.ha inilah yang mau kita tanamkan kepada istri kita melalui kerja ini.

 

Jangan sampai gara-gara kita berangkat istri kita curhat sana curhat sini, telpon orang kaya minta bantuan, akhirnya jadi fitnah, merusak dakwah.

 

Kisah Tamu Nabi saw

 

Tamu datang berkunjung ke mesjid Nabawi menemui Rasullullah saw, lalu mau bermalam. Biasanya siang dijamu oleh Nabi saw, baru malamnya ditakazakan siapa yang siap menerima Tamu Nabi saw. Malam hari dilelang siapa yang bisa menjamu tamu rasullullah saw. Jika tamu yang berdatangan banyak maka mereka saling berebutan menyambut takaza menjamu tamu Nabi saw. Ada yang bilang saya ambil 5 ya Rasullullah, saya ambil 10 orang tamu, begitu.

 

Saad bin Ubadah RA mempunyai amalan suka menjamu tamu Nabi saw sampai 80 orang tiap malam di rumah untuk makan. Tapi kadang-kadang ada juga timbul masa paceklik. Di rumah tidak ada makanan, maka para sahabat Nabi saw berdiam tidak berani ambil takaza menerima tamu Nabi saw. Jadi karena paceklik sahabat ambil tamu-tamu yang kurus saja, sedangkan yang gemuk-gemuk ditinggal untuk dijamu oelh Nabi saw. Maka ketika datang untuk dijamu, 7 botol susu untuk keluarga, habis diminum oleh tamu tersebut.

 

Maka Fatimah r.ha berdoa “Ya Allah lapar kita ini.” Ini tamu gak punya pengertian dihabiskan semua susu kita. Tapi Fathimah R.ha sabar, tidak mengeluh. Dia sadar begitulah resiko menjadi istri seorang Dai dn anak dari seorang Dai, siap untuk lapar. Begitu juga keadaan macam ini juga terjadi dengan sahabiyah yang lain.

 

Besok datang lagi itu tamu, maka Aisyah r.ha membayangkan lagi akan kelaparan malam ini, tapi malam ini dia hanya minum 1 botol susu saja. Maka aisyah r.ha pun terheran kok bisa berubah porsinya. Ternyata ketika datang malam sebelumnya dia belum masuk islam, masih dalam keadaan kafir. Ketika dia masih kafir 7 botol besar masuk ke satu perut. Namun setelah masuk islam, satu botol saja dia sudah kenyang. Inilah target kita bagaimana istri kita bisa dapat menjadi seperti Fathimah R.ha dan Aisyah R.ha.

 

Bukannya setelah keluar 3 hari targetnya istri kita jadi suka jaulah sendirian bawa mobil. Pergi sama ibu-ibu lain nusroh jemaah bawa mobil jemput rame-rame pergi nusroh. Bukan untuk itu tujuannya. Tiap hari bawa ibu-ibu masturoh untuk nusroh jemaah. Masya Allah istri saya setelah keluar 3 hari jadi jos, pergi nusroh jemaah terus dengan ibu-ibu masturoh lainnya. Ini bukannya ukuran keberhasilan.

 

Fikir yang harus kita tanamkan dalam diri istri kita adalah bagaimana istri kita menjadi daiyah yang fikirnya untuk seluruh dunia. Inilah fikir khadijah r.ha, bagaimana dirinya siap dikorbankan agar agama dapat tersebar sampai keseluruh dunia. Inilah yang kefahaman yang ditanamkan Nabi saw kepada anaknya Fathimah R.ha ketika menangis melihat keadaan nabi saw yang pucat dan badan sudah lusuh. Tapi apa kata Nabi saw :

 

“Wahai anakku, janganlah engkau menangis, agama yang dibawa oleh ayah kamu hari ini akan sampai dimana sampainya siang dan malam. Agama yang dibawa ayahmu hari ini akan masuk sampai kedalam rumah baik sebuah gubug ataupun dalam sebuah tembok”

 

Nabi pahamkan kepada Fathimah R.ha bahwa kamupun juga mempunyai tanggung jawab yang sama, untuk menyertai ayah kamu membawa ini agama dimana sampainya siang dan malam. Agama akan masuk ke rumah rumah baik dari gumbuk ataupun yang bertembok, agama akan masuk. Inilah yang dipahamkan Nabi saw kepada anaknya, dan yang harus kita pahamkan kepada anak kita.

 

Hadratji Inamul Hasan sampaikan :

 

“Kerja masturoh ini sangat penting sekali tetapi sangat sensitive. Harus hati-hati sekali membawanya. Sedikit saja salah bisa membawa fitnah yang besar..”

 

Bukannya hidayah yang tersebar tetapi fitnah, kalau kita tidak hati-hati dalam membuat kerja masturoh ini. Kalau kita tidak tau target masturoh ini, maka nanti akan menjadi fitnah. Kerja masturoh ini harus kita bawa dengan penuh kehati-hatian. Kita ingin membina kita menjadi istri yang diarahkan Nabi saw yaitu

 

  1. Menarik dipandang suami
  2. Taat kepada suami

 

Ini bahkan seorang istri wajib mentaati suami melebihi mentaati orang tuanya. Saya pernah mengintakan seorang ayah yang membiarkan suaminya pergi cari nafkah sementara istrinya ditahan di rumah dia karena anak satu-satunya, ini dosa besar. Ketaatan kepada suami bagi seorang istri ini no.2 peringkatnya setelah ketaatan kepada Allah swt dan RasulNya, baru berikutnya taat kepada orang tuanya. Ini harus kita pahamkan kepada istri kita bukan karena kemauan suami tapi ini kemauan Allah dan RasulNya. Seorang istri dibolehkan meninggalkan ketaatan kepada orang tuanya jika itu berbenturan dengan keinginan suami, ini bukan termasuk kedurhakaan. Saya tidak mengajarkan kedurhakaan kepada orang tua tapi ketaatan kepada suami ini setelah ketaatan kepada Allah swt dan RasulNya. Penting kita bawa istri kita ke dalam kerja ini untuk mendapatkan pemahaman yang benar, maka diperlukan kehati-hatian.

 

Jangan sampai kita ikut-ikutan sampai ada istilah masturoh sertifikasi, sehingga masing-masing masturoh kejar paket. Berlomba-lomba keluar tapi hanya untuk dapatkan sertifikasi, yang penting udah keluar buat sambut takaza terus. Tiap bulan bisa keluar terus, karena takaza terus berdatangan, kejar sertifikasi sehingga tertib di langgar terus. Dalam kerja Rijal ini beda dengan kerja Masturoh, ushul bisa mengikuti belakangan yang penting pemahaman dimudahkan dulu, tapi kalo masturoh tidak bisa, tertib atau ushul harus sempurna terlebih dahulu pemahaman bisa mengikuti.

 

Tertibnya :

 

  1. Rijal : Keluar dulu biar paham Tertib bisa belakangan
  2. Masturoh : Tertib sempurna dulu baru boleh keluar

 

Contoh Rijal :

 

Seorang preman bersedia ikut tapi belum bisa meninggalkan Khamr karena sudah kecanduan. Ini gak papa yang penting ajak dia keluar. Denger bayan hidayah dia izin mau minum khamr dulu biarkan, tapi jangan dibantu kasihh gelas, dosa nanti kita membantu orang maksiat. Tapi kalo dia minum nyari tempat diluar mesjid silahkan. Nanti setelah keluar 3 hari, hidayah sudah masuk ke dalam diri dia, dia akan tinggalkan itu semua.

 

Contoh Masturoh :

 

Seorang istri pejabat mau keluar tapi dilarang karena tidak bersedia pakai purdah. Lalu ada yang bilang tidak bisa dilonggarkan, karena istri bupati ini tokoh, kalau dia ikut bisa jadi asbab semua ibu PKK juga ikut, ibu-ibu pemda ikut, dan ribuan masturoh bisa ikut. Dan inikan demi hidayah juga biar semua bisa ikut berubah jadi baik. Tidak bisa kayak gitu kerjanya.

 

Syarat keluarnya masturoh itu ada 4 :

 

  1. Pakai Purdah sempurna muka, kaki, tangan
  2. Mahrom Hakiki
  3. Musyawarah Markaz
  4. Jangan bawa anak

 

Lalu caranya bagaimana ? inilah bijaknya dakwah, ibu pejabat tadi, ibu bupati, ibu gubernur, ibu presiden, walaupun dia tidak bisa keluar bersama jemaah karena belum bisa tertib, belum sanggup pakai purdah, silahkan bisa di bawa nusroh. Bawa nusroh ikut program sama suaminya, seteleah selesai pulang. Ajak terus nusroh sampai ada kesiapan pakai purdah untuk keluar.

 

Maka kita mulai kerja masturoh dari rumah kita sendiri. “Kum anfusakum wa ahlikum Naaro” : Selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka. Awal dari kerja masturoh ini adalah di rumah dia. Hari ini ada pemikiran merubah istri dengan 3 hari tapi tidak menghidupkan taklim di rumah : “Ustadz tolong doakan istri saya agar bisa keluar 3 hari.” Tapi kalau ditanya sudah menghidupkan taklim belum ? dia jawab belum, ini tidak bisa. Bukan diharam keluar 3 hari tapi belum taklim, bukan itu maksudnya. Justru yang benar itu keluarnya, tatkala istri mau keluar asbab hidupnya taklim di rumah.

 

Karguzari Taklim di rumah di Thailand :

 

DI negara lain umumnya jmlah ahbab banyak tapi yang menghidupkan taklim sedikit. Ahbab ada 200 tapi yang hidup taklim rumah cuman 50. Begitu umumnya. Contoh di singapura jumlah ahbab 100 tapi yang menghidupkan taklim 30. Tapi kalau di Thailand ahbabnya 50 tapi taklim rumahnya 200. Ini karena di Thailand orang awamnya pun sudah menghidupkan taklim rumah. Cuman yang membedakan taklim rumah orang awam dan rumah ahbab ini kalau Taklim di rumah ahbab pakai mudzakarah 6 sifat, di taklim rumah awam tidak pakai.

Asbab menghidupkan Taklim nanti di rumah kita segala bentuk kemaksiatan akan hilang, kedurhakaan akan lenyap, kebandelan akan berhenti. Namun hidupkan Taklim dengan adab, jaga daripada adab-adab taklim biar berkah dan bermanfaat. Diantara fadhilah taklim adalah suasana malaikat akan hadir, malaikat-malaikat akan mengerumuni kita, sampai ke langit sana, berkerumun. Sehingga rumah tersebut bercahaya dipandang oleh masyarakat di langit.

 

Nabi saw bersabda :

 

“Orang itu bergantung pada agama temannya.” (mahfum)

 

Asbab hidupnya amal rumah sehingga malaikat sering kerumah kita. Maka akan ada 2 sifat malaikat yang akan masuk kedalam kehidupan kita :

 

  1. Tidak pernah buat maksiat (66:6)
  2. Selalu Taat (66:6)

 

Jadi kapan istri dan anak bisa taat dan suasana maksiat sirna, tatkala hadirnya suasana malaikat di rumah kita. Awalnya boleh 5 menit saja, tapi tingkatkan minimal 30 menit lengkap : Taklim Kitabi (fadhilah amal / muntakhab al hadits / fadhilah sedekah ) dan Mudzakarah 6 sifat. Lalu tingkatkan sampai 1 jam 30 menit.

 

Namun jika kita tidak hidupkan Taklim rumah maka apa yang akan terjadi ? suasana maksiat akan masuk di rumah kita melalui dakwah batilnya TV. Jika dakwah batil masuk maka yang datang siapa ? bukan malaikat tetapi syetan. Jika suasana syetan sudah masuk kedalam rumah kita maka sifat syetan akan masuk kedalam diri kita dan keluarga kita. Apa itu sifat syetan :

 

  1. Malas
  2. Sombong

 

Inilah sifat iblis yang masuk asbab suasana maksiat di rumah yaitu sifat malas, Aba wastakhbar. Malas beribadah, malas sholat, malas tahajjud, malas baca quran. Lalu muncul sifat sombong kayak iblis. Merasa dirinya paling baik. Istri bawa kesombongan keluar, anak juga bawa kesombongan keluar rumah. Jadi 2 sifat iblis ini akan masuk kepada rumah yang tidak hidup taklim. Maka hidupkan taklim dari sekarang agar suasana malaikat yang masuk bukan suasana iblis.

 

Lalu setelah taklim bermusyawarahlah dengan anak istri. Musyawarah siapa yang taklim besok, kitabnya apa, siapa yang ngasih mudzakarah 6 sifat, libatkan mereka dalam fikir agama. Kita ulang-ulangi terus sampai masuk ke hati itu taklim kitab dan mudzakarah 6 sifat. Sebagaimana adzan kita ulang-ulangi terus.

 

Karguzari Keutamaan Taklim

 

Ketika kami di jordan, ada laporan mengatakan saya sekarang berantem sama istri saya. Ditanya kenapa sampai berantem ? kemarin pulang 40, saya katakan pada istri saya TV haram sekarang. Istri nanya kenapa haram ? ini kan TV abang yang belikan. Kata saya dulu halal sekarang haram, karena gara-gara TV iblis banyak masuk ke rumah. Akhirnya tengkar, anaknya nontonin saja. Sang istri bilang, “sudah jangan berkelahi panjang bang. Silahkan abang keluarkan TV dan aku akan keluar bersama TV.” Ini keluhan ahbab arab yang melapor kepada masyeikh di jordan. Maka masyeikh katakan siapa yang menyuruh kamu mengeluarkan TV, ada gak dalam bayan Wabsyi kita nyuruh kamu mengeluarkan TV ? tidak ada. Lalu dalam bayan Wabsyi apa yang disuruh kamu untuk mengerjakan di rumah ? Takilm, ya sudah itu aja dibuat jangan banyak bicara.

 

Hari pertama istri tidak mau dneger taklim, hari kedua begitu, hari ketiga begitu, terus saja istiqomah. Seminggu kemudian anak-anak mulai ikut taklim. Dua minggu istri mulai mendekat ikut taklim. Sebulan kemudian semuanya sudah duduk dalam taklim. Pergi masturoh 3 hari, istri jos. Dia baru pulang kerja tiba-tiba TV sudah tidak ada. Dia tanya, “sayang TV ada dimana ?” Istri bilang, “Jangan banyak bicara, kita taklim dulu.” Istri jadi Jos. Selesai taklim mudzakarah 6 sifat lalu doa. Lihat gudang ternyata TV nya ada disitu sudah pecah. Suami nanya, “Kenapa di pecahkan itu TV sayangku, kan bisa kita jual untuk keluar lagi ?” lalu istri bilang, “Kan abang bilang TV haram, kalau kita jual barang haram berarti kita keluar, khuruj, dari penghasilan yang haram.”

 

Ini semua perubahan bisa terjadi asbab apa ? asbab taklim. Indikator suksesnya kerja masuroh di suatu mahalah adalah banyak rumah yang menghidupkan taklim. Kalau taklim rumahnya masih sedikit dibanding jumlah masyarakat disekitarnya, berarti kerja masturohnya belum benar. Jemaah masturoh terus bertambah, 3 hari 25 hari, 2 bulan, tapi taklim masturohnya tidak bertambah, berarti tidak berhasil kerja masturohnya. Keberhasilan dari kerja masturoh ini adalah makin banyaknya taklim rumah yang hidup, terus bertambah. Taklim Rumah + Enam Sifat terus bertambah di rumah-rumah ahbab.

 

Jika taklim rumah sudah hidup ditambah dengan mudzakarah enam sifat, nanti membawa istri untuk keluar masturoh itu mudah. Banyak penanggung jawab berat membawa istrinya keluar, karena si istri belum paham, ketakutan bakal disuruh taklim lah, mudzakarah lah, belum siap. Namun kalo istri ini sudah dilatih di rumah nanti akan datang kesiapan kepada dia untuk berangkat keluar masturoh. Lalu kita arahkan juga agar istri kita aktif di taklim mahalah kita. Libatkan istri kita dalam kerja mahalah dan kerja halaqah kita.

 

Idealnya istri keluar 3 hari setelah menghidupkan taklim rumah ditambah mudzakarah 6 sifat. Tapi tidak di haramkan untuk langsung keluar walaupun belum hidupkan taklim rumah, hanya saja idealnya seperti itu hidupkan dulu taklim rumah. Bawa istri keluar 3 hari, tapi rijalnya syaratnya sudah pernah keluar 3 hari. Anak gadis boleh ikut keluar 3 hari, tapi sayartnya ayah dan ibunya ikut keluar. Begitu juga janda boleh keluar dengan anak laki-lakinya bersama istrinya yang sudah keluar 3 hari. Jangan sampai anak gadis keluar bersama abangnya yang belum menikah ataupun janda keluar sama anak laki-lakinya yang tidak ada istri. Kalo dilakukan nanti yang terjadi si anak gadis ini, dia hafidz, akan jadi rebutan ibu-ibu untuk menawarkan putra-putra mereka, akhirnya berantem, tapi kalau ada ibunya ada yang jaga gak berani macem2. Begitu juga dengan janda, didalam rumah saling menawarkan saudara laki-lakinya atau pamannya untuk dikawininya, akhirnya ribut berantem salaing mendahului, tapi kalo ada menantu perempuannya tidak berani. Anak gadis atau Janda boleh kita bawa dengan syarat keluar bersama pasangan suami istri mahrom mereka.

 

Begitu juga musyawarah keberangkatan jemaah mastuoh di markaz jangan kaku dan keras. Musyawarah markaz yang dimaksud tidak harus malam selasa, boleh dalam malam subguzari di musyawarahkan, atau musyawarah harian markaz jam 7 pagi. Kalau jemaah tidak bisa datang ke markaz boleh orang markaz mendatangi jemaah. Selama tidak ada tertib yang dilanggar, maka yang lainnya boleh dimudahkan, yang penting jemaah bisa keluar. Jadi jangan sampai menunggu malam markaz hari senin jemaah tidak bisa keluar, itu pointnya. Orang markaz bisa hadir ke tempat jemaah, korban datangi jemaah biar mereka bisa tetap keluar. Tidak mau matanya ditutup kain hitam, boleh pakai kaca mata hitam, biar lebih nyaman. Keluar sama mahrom, jangan sampai ada pernah yang kecolongan pacaran ngajak pacarnya masturoh, orang markaz gak teliti, akhirnya jadi masalah. Begitu juga mau berangkat baru 2 pasang, istri-istri saling telpon pas kumpul di markaz ternyata jadi 10 pasang, jangan begitu. Tertib hanya 5-6 pasang maximal, maka yang lain kelebihannya silahkan buat jemaah baru. Jangan mentang-mentang ada orang khowas akhirnya dibuat jemaah besar lebih dari 5-6 orang, ini tidak boleh. Jangan ada jemaah gabungan2 lagi yang akhirnya over limit, kelebihan jemaah dari yang seharusnya.

 

Kerja dakwah ini mirip sholat, ada 3 ketentuan :

 

  1. Takbir : permulaan / pembuka
  2. Amalan dalam sholat
  3. Salam : penutup

 

Sholat berjemaah makmum datang bergabung tapi gak pakai takbiratul ihrom langsung baca al fatihah aja nimbrung, kira-kira sholatnya sah gak ? Atau setelah takbir ihrom dia ikut tapi tiba-tiba berhenti, tidak melanjutkan amalan sholat, pergi ngerokok dulu, lalu menjelang salam dia masuk lagi nyelonong. Takbir ikut salam ikut, cuman diantaranya ngepul rokok dulu, bener gak sholatnya. Atau takbir ikut, buat amalan dalam sholat dari rukunya, sujudnya, tuma’ninahnya, ketika imam salam dia tidak ikut langsung pergi. Kira-kira sholat yang dilakukan seperti ini sah gak ?

 

Dakwah kita ini sama dengan Sholat :

 

  1. Ada Bayan Hidayah : ini seperti Takbir
  2. Ada Karguzari (3 hari/40 hari/4bulan ) : Amalan Sholat
  3. Ada Bayan Wabsyi : ini Salam dalam sholat

 

Kalau kita kerja dengan 3 perkara ini baru ini bisa diterima sebagai suatu kerja. Dengar bayan Hidayah, lalu ada Karguzari kerja selama keluar, baru Bayan Wabsyi, inilah kerja dakwah. Walaupun ada orang yang sudah keluar 100 kali 3 hari ataupun 15 hari tapi dia tidak ikut proses dari bayan hidayah, karguzari, dan bayan wabsyi, maka tidak sah dakwahnya tersebut merujuk kepada tertib kita. Seperti orang yang tidak sholat tadi. Cara seperti itu main selonong saja tidak ikut proses dari bayan hidayah, karguzari, dan bayan tangguh, ini bukannya membawa kebaikan nanti malah akan membawa kerusakan. Tolong jangan lagi ada yang nyelonong-nyelonong seperti itu.

 

Indikator keberhasilan istri keluar masturoh ada 2 :

 

  1. Indikator pertama keberhasilan : Dia paham bahwa dia ini adalah istrinya dari seorang dai, Siap ditinggal kapan saja.

 

Sebagai seorang istri dari seorang polisi atau tentara. Suami capek karena siaga satu kerja 24 jam di lapangan, ngurusin demo, ngurusin perampokan, pulang ke rumah sudah letih, sudah jam 10 malam. Baru pegang tangan istri sudah ditelpon komandan, dipanggil lagi ke kantor untuk kerja ada kejadian butuh dia untuk hadir. Kira kira gimana sikap istri yang polisi tersebut ? suami polisi tadi bilang “Maaf adinda kita jamak takhir saja, tugas menanti abang.” Gimana sikap istrinya ? langsung siap ditinggalkan gak kecewa. Dibantu suaminya menyiapkan pakaian dan sepatunya untuk pergi ambil takaza. Ini karena sang istri paham bahwa suaminya adalah polisi. Sebagai istri polisi dia harus siap ditinggal setiap saat oleh suaminya yang polisi. Mana berani istri polisi bilang ke suaminyaitu komandan macam apa, abang baru pulang sudah disuruh pergi lagi, itu komandan goblok jangan di dengarin. Lalu banting HP, dia bilang ke suaminya yang polisi, “Abang milik saya bukan milik komandan.” Berani gak istri polisi seperti itu, ada gak istri polisi yang seperti itu.

 

Suaminya seorang tentara baru 7 hari honeymoon, pulang-pulang dapet tugas ke ujung indonsia, ke papua sana, dinas 1 tahun. Suami bilang, “adinda, abang dapat tugas dinas 1 tahun ke papua, jauh sekali adinda.” Walaupun sedih dia akan pendam, dia akan sampaikan, “Tenang Abang, Adik paham abang itu tentara, dan itu sudah menjadi tugas abang, adik siap ditinggal 1 tahun. Abang berangkat saja mudah-mudah karir abang bersinar bisa jadi jendral suatu saat nanti. Abang jangan khawatir dengan keselamatan aku, aku akan gabung bersama ayah dan ibuku lagi. Abang kurang uag ini bawa ATM aku.” Seneng suami tentara dapat istri paham seperti ini. Ini karena dia paham suaminya tentara.

 

Karguzari :

 

Ada seorang ahbab orang kalimantan saya temui di papua sana, dia bekerja di perusahan minyak. Dia bilang di tugasnya ngebor minyak. Kadang di Laut, kadang di darat. Dia beri tahu bahwa dia kerja 5 bulan lalu pulang 1 bulan balik lagi kerja 5 bulan. Jadi setahun cuman 2 bulan di rumah. Saya tanya bagaimana istri dan mertua menyikapi kerja kamu ini. Dia bilang istri dan mertua tidak masalah, happy happy saja. Sekarang istri juga lagi hamil besar saya tinggal mau melahirkan. Mertua tidak protes anak ditinggal saya tanya ? tidak ustadz, baik-baik saja.

 

Pertanyaanya ? ada tidak khotib atau ulama yang menhajar kamu bahwa yang kamu lakukan adalah kedzoliman kepada keluarga. Ada gak yang bilang, “Hati-hati ini orang kalimantan tidak bertanggung jawab, kawin sama orang kita, lalu dia tinggalkan 10 bulan cuman 2 bulan dia di rumah. Saya ingatkan jemaah sholat jumat jangan nikahkan anaknya dengan orang kalimantan. Berbahaya nanti anak tuan ditelantarkan ditinggal pergi lama.”

 

Apakah ada khotib atau ulama yang menyerang anda seperti itu ? dia billang tidak ada ustadz. Ini karena dari istri sampe mertua paham bahwa dia ini pekerja minyak, harus pergi berbulan-bulan cari nafi nafkah ngebor minyak.

 

Tapi coba kalo ini kejadian sama ahbab yang baru keluar 3 hari lalu dia ambil takaza pergi 3 hari lagi. Apa yang terjadi di rumah kita ? bagaimana mertua kita ? kalau istri tidak paham dia akan protes, “kenapa baru pulang udah pergi lagi.” Mertua begitu juga kenapa kamu pergi terus ninggalin anak saya. Nanti keluar fatwa dari khotib ini jemaah berjengot tidak tanggung jawab, sukanya ninggalin istri, baru pulang 3 hari, pergi lagi, pergi lagi. Coba ini khatib bisa gak ngomong tentang tentara, ini tentara indonesia kacau baru pulang ninggalin istrinya, udah pergi lagi ninggalin istrinya, ini tentara dzolim. Ada gak khatib berani bicara seperti itu tentang tentara kita ? kira-kira kalau dia bicara sepeti itu diapain nanti dia sama tentara ? Pasti ditangkap. Khatib bicara ini bagaimana polisi dzolim baru pulang kerumah ketemu istri, udah ninggalin lagi karena tugas, polisi macam apa ini ? kira-kira polisi ketemu khatib kayak gini gimana ? pasti ditangkap.

 

Kita ingin bagaimana istri kita siap menerima keadaan dirinya sebagi istri seorang Dai.

 

Kisah Siti Hajar R.ha dan Ibrahim AS

 

Setelah sekian lama ditinggal suami, siti hajar r.ha rindu, menyambut suami dengan penuh kehangatan, rindu dia. Tapi apa kata Ibrahim AS, “Wahai hajar, aku hanya di izinkan oleh Allah swt untuk menjenguk kamu saja dan anak kita, aku tidak di izinkan turun dari kendaraanku.” Hajar r.ha paham bahwa suami membawa perintah Allah swt dan harus kembali bukan karena ingin bertemu istri tua, tapi karena ada tugas agama yang lebih besar. Hajar paham, maka dia bilang “Tidak apa-apa wahai suamiku, selama ini perintah Allah swt, aku terima. Tapi izinkan aku untuk mencuci kepalamu dan juga kakimu.” Hajar r.ha dia ambil ember lalu bersihkan kepala suami dan kaki suami, silahkan berangkat lagi suamiku.

 

Ini istri siapa yang paham kayak gini ? istri dari seorang dai.

 

Kisah Abu Haisamah RA

 

Abu Haisamah baru pulang dari takaza. Sampai di madinah ternyata madnah sepi, Nabi saw dan para Sahabat RA sudah pergi ke Tabuk. Musim panas, pingin istirahat, dan dia juga sudah lama tidak pulang. Ternyata sampai deket rumah, sang istri rupanya sudah menunggu. Rumah sudah ditutup jerami biar sejuk menyambut Abu Haisamah ra. Istri juga sudah berdandan menyambut Abu Haisamah ra. Hari panas dipadang pasir bukan main, haus dahaga yang luar biasa, rumah yang teduh menanti, istri yang cantik menunggu. Maka Abu Haisamah melihat rumah yang sejuk dengan jerami, air minum sudah disiapkan oleh istri, dan istri juga sudah berdandan, ingin segera menikmati itu semua. Namun karena fikirnya ada bersama langkah-langah nabi saw dan para sahabat yang sedang menuju tabuk, langkah kakinya terhenti tidak menuju rumahnya. Abu Haisamah ra berkata kepada dirinya, “wahai abu haisamah tidak adil kamu menikmati itu semua sementara Nabi saw dan para Sahabat RA sedang kepanasan bersusah payah di Tabuk sana.” Sehingga dia bilang istri,”wahai istriku siapkan kembali kendaraan untuk mengejar Nabi saw dan para sahabat RA.” Istrinyapun paham bahwa suaminya itu seorang dai. Suami baru pulang belum masuk rumah lagi, sudah harus pergi lagi.

 

Sampai di Tabuk Nabi saw menanyakan, “mana Abu Haisamah, kok saya tidak lihat ?” sebagian ada ynag bilang Abu Haisamah sudah menjadi orang munafik tidak ikut berangkat bersama kita. Sahabat lain mengatakan, tidak mungkin ya rasullullah, abu haisamah itu orang baik. Nabi saw diam saja. Ternyata nampak kepulan debu dari kejauhan, nabi katakan, “mudah-mudahan itu Abu Haisamah.” Ternyata betul itu memang Abu haisamah Ra. Setelah mendekat abu haisamah, dipeluk oleh Nabi saw.

 

Istri seperti sahabiyah inilah yang ingin kita bentuk.

 

Tapi kita ini aneh, kesuksesan itu bukan dilihat seperti sahabiyah istri kita. Kita malah berpikir kesuksesan itu tatkala istri kita sudah keluar, sekarang siap dimadu. Siap dimadu ini bukan ukuran keberhasilan masturoh. Suami menikah lagi itu memang hak daripada suami bukan menjadi suatu kehebatan tatkala bisa di izinkan istri untuk menikah lagi. Tapi kehebatan masturoh itu adalah tatkala ada rombongan mau berangkat, dia minta suami ikut rombongan itu, didorong suami keluar di jalan Allah swt. Gak ada duit gak papa, saya jual kalung saya biar abang bisa pergi ambil takaza. Ini baru masturoh yang berhasil dibentuk. Siap menjual apa yang dia miliki untuk keberangkatan suami.

 

  1. Indikator kedua keberhasilan : Dia menjadi senang tinggal dirumah dan memahami bahwa medan kerja dia di rumah.

 

Jadi seorang istri setelah keluar 3 hari, 40 hari, dan 2 bulan, indikator keberhasilannya adalah dia semakin senang tinggal di dalam rumahnya. Dan dia memahami bahwa medan kerja dia ini adalah di dalam rumahnya, bukan di kantor, di warung, di pom bensin .

 

Allah swt berfirman :

 

waqarna fii buyuutikunna walaa tabarrajna tabarruja aljaahiliyyati al-uulaa wa-aqimna alshshalaata waaatiina alzzakaata wa-athi’na allaaha warasuulahu innamaa yuriidu allaahu liyudzhiba ‘ankumu alrrijsa ahla albayti wayuthahhirakum tathhiiraan

 

artinya :

 

“dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (33:33)

 

Inilah indikatornya, setelah mereka keluar masturoh, mereka semakin senang tinggal di rumah.

 

Kasus Pelajaran :

 

Seorang janda atau seorang istri yang ditinggal suami khuruj, siap nusroh full jemaah. Ini perempuan sudah 2 bulan masturoh, dan bisa masak. Kira-kira dibolehkan gak nusroh full karena dia bisa ngasih mudzakaroh bagus dan pandai khidmat masak, dibutuhkan jemaah masturoh gerak.

 

Jawabannya :

 

Berdiamnya dia di rumah dia untuk berdzikir, ataupun baca al quran, lebih mulia dari pada dia ikut masturoh 3 malam full. Walaupun dia waktu nusroh khidmat kepada jemaah : mencucikan pakiannya, memasakkan makanan untuk jemaah, memberikan mudzakaroh, tetap membuat amalan di rumahnya lebih baik.

Hendaknya kita menjadikan istri kita seperti Mariam Al Batul, senang dirumah, jangan jadikan istri kita menjadi Mariam Al Gaul, doyan keluyuran diluar rumah. Kalau dia mau nusroh silahkan waktu program, tapi jangan full nusroh, bermalam bersama jemaah. Maka hendaknya istrinya amir mentafakkud jemaah nya dan masturoh yang nusroh, ditanyakan istri siapa. Jangan sampai ada masturoh yang tidak tertib nimbrung dengan jemaah dengan alasan nusroh full. Ini kalau dibiarkan lama-lama melenceng jadi ngobrol sia-sia kesana kemari, bahkan nanti ada yang jualan. Jangan juga dibiasakan masturoh ini nusroh tanpa suami bawa mobil sendirian jemput masturoh lain, nanti loss meter, gak terkendali pembicaraannya, beda kalau ada suaminya terjaga pembicaraannya. Apalagi pergi sama bukan mahrom hanya berdua dengan supir. Ini jangan dibiarkan, tetep harus ada mahromnya.

 

Target Masturoh di rumah menjadi Abidah

 

“Sholatnya perempuan sendiri di rumah ini lebih Afdhol dibanding sholatnya dia bersama laki-laki berjamaah 25 derajat.” (Jamiush Saghir)

 

Jadi kalau perempuan ini sholatnya dirumah dapet 25 derajat sedangkan kalau ke mesjid hanya dapat 1 derajat. Bukan berarti salah sholat berjamaah di mesjid tapi kalau dia sholat dirumahnya lebih afdhol, dikali 25 derajat. Usahakan sebelum adzan dia sudah berada di sajadahnya menunggu waktu sholat. Sehingga dia betul-betul konsentrasi bagaimana menjadi Maryam Al Batul bukan Maryam Al gaul. Batul itu apa ? yang tidak bergaul dengan laki-laki.

 

Ini perempuan kalu dia betul-betul tawajjuh di rumahnya, maka rizki Allah swt mudahkan. Kemudahan rizki perempuan bukan ketika dia keluar rumah mencari nafkah : menjadi pramugari, menjadi manager, menjadi cheff koki resaturant, tidak. Tapi kemudahan rizki bagi perempuan ini tatkala dia beribadah di rumahnya.

 

Ada orang yang bilang :

 

“Kita ini kan wajib kerja, kalau tidak kerja, emangnya Allah swt mau menurunkan riizki dari langit.”

 

Dalilnya ketika maryam melahirkan Allah swt perintahkan dia untuk menggoyang-goyangkan pohon agar buah-buahan berjatuhan untuk bisa dimakan.

 

Allah swt berfirman :

wahuzzii ilayki bijidz’i alnnakhlati tusaaqith ‘alayki ruthaban janiyyaan

Artinya :

“wahai maryam goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu.” (19:25)

 

Maryam aja disuruh kerja, masa kamu laki-laki tidak mau kerja. Ini kata mereka. Maka ulama sampaikan dalam menafsirkan ayat jangan sepenggal sepenggal, lihat dulu ayat-ayat sebelumnya.

 

Counter Dalil :

 

Allah swt berfirman :

 

kullamaa dakhala ‘alayhaa zakariyyaa almihraaba wajada ‘indahaa rizqan qaala yaa maryamu annaa laki haadzaa qaalat huwa min ‘indi allaahi inna allaaha yarzuqu man yasyaau bighayri hisaabin

 

artinya :

 

“…Setiap Zakariya masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakariya berkata: “Hai Maryam dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?” Maryam menjawab: “Makanan itu dari sisi Allah”. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.” (3:37)

 

Jika kerja itu wajib, sehingga harus kerja, kenapa ketika maryam lagi segar bugar, tidak punya anak, kok gak disuruh kerja. Bahkan ketika Nabi zakaria membuka pintu hendak mengantarkan makanan, ternyata sudah ada makanan. Maryam sampaikan bahwa Allah swt telah mengirim makanan langsung dari langit, tanpa menggoyang itu pohon. Logikanya perintah kerja itu seharusnya waktu dia sehat dan segar bugar bukan ketika melahirkan. Kenapa justru waktu sakit disuruh kerja. Justru wanita hari yang paling sakit itu adalah ketika melahirkan, kok malah di suruh kerja. Kenapa waktu sehat tidak disuruh kerka, waktu sakit justru disuruh kerja ?

 

Semakin wanita itu suka keluar rumah semakin disulitkan rejekinya. Semakin perempuan itu bertahan di dalam rumah dan buat ibadah yang benar, maka semakin dimudahkan rejekinya. Nanti Nusrotullah yang diberikan kepada Maryam akan Allah swt berikan kepad istri kita jika kita melakukan perkara yang sama.

 

Target Masturoh di rumah menjadi Mualimah

 

Keberadaannya di rumah untuk mengajarkan anak-anaknya di rumah perkara agama. Hari ini yang 7 tahun sudah banyak yang hafal qur’an apalagi yang 10 tahum. Apa yang didengar dan dibicarakan oleh istri ketika hamil akan memberi kesan kepada anak bayinya yang masih di dalam perut ibunya. Jadi pendidikan anak ini sudah dimulai ketika masa hamil.

 

  1. Abdul Halim, orang tua kita almarhum pernah bayan :

 

Sofyan Ats sauri pulang ingin menjenguk ibunya. Sudah 13 tahun tidak jumpa ibunya yang dicintai. Dia pulang lari karena rindu sekali, ayahnya sudah meninggal, tinggal ibunya saja sendirian. Sampai di depan pintu rumah dia ketuk pintu rumahnya. Ibunya menyaut, “siapa yang diluar ?” sofyan berkata, “Ini aku ibu, sofyan.” Lalu ibunya bilang, “Wahai sofyan itu kah kamu, kalau itu kamu jangan kamu masuk ke rumah. Karena aku sudah mewakafkan kamu untuk agama. Biarlah pertemuan kita nanti di surganya Allah swt.”

 

Ajib ini ketegaran seorang ibu yang mendidik anaknya, sehingga anaknya menjadi seorang Alim dan waliullah. Ibu siapa yang bisa seperti ini. Tapi kalo seorang ibu sedikit-sedikit nangis jauh dari anaknya, akhirnya anaknya dikit-dikit pulang, kapan jadinya anak ini bisa menjadi Alim lulus pesantren.

 

 

Target Masturoh di rumah menjadi Murobbiyah

 

Mufti Zaenal Abidin :

 

“Kamu jangan jadikan istri kamu sebagai asbab pengajar kemusyrikan kepada anak-anak kamu.”

 

Sering di rumah kita sering menakut-nakuti anak kita dengan :

 

  1. Awas Hantu
  2. Awas orang Jahat
  3. Awas Tikus
  4. Awas kecoAwas ada Jin

 

Ini sama saja dengan mengajarkan syirik kepada anak-anak kita. Ajarkan kepada anak kita, wahai anakku :

 

  1. Allah Sami’ : Allah swt Maha Mendengar
  2. Allah Bashir : Allah swt Maha Melihat
  3. Allah Alim : Allah swt Maha Mengetahui
  4. Allah Khalik : Allah swt yang menciptakan segala sesuatu
  5. Allah Malik : Allah swt yang berkuasa atas segala sesuatu
  6. Allah Razieq : Allah swt yang mmeberi Rizki atas segala sesuatu

 

Ketika kita bilang bahwa Allah swt maha mendengar anakku, maka si anak tidak berani berdusta. Ketika kita bilang kepada anak kita Allah swt maha melihat maka dia tidak akan berani mencuri. Ketika kita bilang Allah swt maha mengetahui maka anak kita akan takut berbuat dosa. Allah yang menciptakan segala sesuatu sehingga anak ini tahu siapa yang memelihara dia. Allah swt berkuasa atas segala sesuatu sehingga anak kita tahu siapa yang sebenarnya berkuasa. Ketika kita bilang rizki ini dari Allah swt sehingga anak kita tahu kemana harus meminta rizki. Inilah yang seharusnya di sampaikan kepada anak kita. Ajarkan anak kita, didik mereka.

 

Didik mereka mengenai adab-adab makan, minum, tidur, cara berpakaian muslim. Didik mereka secara islami menurut syariat islam. Kalau kita tidak memulai mendidik mereka bagaimana cara berpakaian yang benar nanti mereka akan pakai pakaian yang kacau.

 

Karguzari :

 

Ada cerita di mekah, seorang anak senang dengan superman dan batman, maka orang tuanya membelikan baju superman dan batman buat anaknya. Tiap hari anaknya dijejeli tontonan seperti itu. Ketika orang tuanya lagi thawaf ini anak yang lugu ini ingin membuktikan dirinya. Pakai baju superman dia lompat dari atas hotel kamarnya, mati. Ini kenapa bisa terjadi seperti ini ? ini karena salah didikan.

 

Jadi kita ajarkan anak-anak kita bagiaman berpakaian yang baik. Bagaimana laki-laki berpakian muslim yang baik, perempuan bagaimana berbusana muslimah yang baik. Ajarkan mereka cara masuk wc dan bagaimana istinja yang benar. Memang berat mendidik anak ini tapi kedepannya akan menjadi hadiah buat kita.

 

Karguzari :

 

Saya semenjak punya anak tidak pernah beli popok, cukup kain gombal saja kayak orang tua dulu. Istri karena sudah terbiasa belajar kebiasaan anak dia tahu waktu-waktu anak akan ngompol. Jadi setiap 1 jam kain gombal itu diganti. Atau ketika sejam belum keluar di bawa ke wc disiram kakinya dengan air dingin, akhirnya dia kencing. Terus setiap selesai kencing di wudhukan lagi oleh istri saya, dipasang kain gombal lagi. Begitu terus.

 

Ini namanya tarbiyah mendidik anak. Mendidik anak untuk menjaga kebersihan dan berwudhu. Memang anak tersebut tidak wajib dia berwudhu, tetapi kita ingin mendidik anak dengan kesucian. Dibersihkan dan berwudhu masih kecil. Sehingga anak sudah terbiasa. Maka ini anak akan tumbuh bersih dan segar. Anak yang dalam keadaan suci malaikat akan mendekati dia.

 

Ada anak dititipkan ke istri saya, suka nangis. Setelah diperiksa, dibuka popoknya ternyata lecet. Rupanya ibunya pemalas. Ini anak dibiarkan kencing sampai 5 – 6 kali kencing ditampung di pampersnya. Padahal kadar garam kencing ini tinggi dan sebanyak air kencing yang keluar. Sehingga kalo dibiarkan berlama-lama tidak diganti popoknya bahaya. Ini anak popok tidak diganti sampai lecet. Kesakitan itu anak karena air kencingnya. Disamping mendatangkan rasa sakit, insya allah malaikat tidak mau dekat dia. Malaikat tidak mau masuk wc, dan anak yang kotor dengan kencing malaikat tidak mau dekat. Sedangkan yang dekat siapa nanti anak yang kotor dengan kencing ? iblis, jin, dan syetan.

 

Jadi duit kita tidak habis beli pampers, bawa kedokter gara sakit karena pampers. Uang bisa disimpan untuk mengambil takaza. Maka kita ingin istri kita menjadi murobbi yang benar bagi anak-anak kita, pendidik yang benar.

 

Selain kesucian kita ingin memberi pendidikan akhlaq yang baik. Kedermawanan kita ajarkan kepada anak-anak kita. Ini kue bagi-bagi sama adik-adik kamu dan kawan-kawan kamu, ajarkan begitu. Jangan malah diajarkan : “Nak ini kue kamu ngumpet sana biar gak kelihatan yang lain, ini buat kamu saja.” Berarti ini anak sejak kecil sudah diajarkan kebakhilan, insya allah setelah dewasa dia akan menjadi orang yang bakhil.

 

Target Masturoh di rumah menjadi Khadimah

 

Berkhidmatnya seorang istri dirumah untuk suaminya lebih mulia daripada dia berkhidmat jemaah masturoh.

 

Note penulis : Maka perlu kita bawa istri kita kepada perkhidmatan yang dilakukan sahabiyah r.ha. Khidmatnya khadijah kepada Nabi saw untntuk berdakwah. Khadijah dari seorang wanita yang kaya raya, sampai menjadi sangat miskin menjelang meninggalnya. Sehingga kain yang menutupi badannya saja tidak cukup. Kain ditarik ke kepada kakinya keliatan begitu juga sebaliknya. Bahkan Khadijah siap mengorbankan tulang belulangnya hanya untuk berkhidmat kepada Nabi saw demi menyampaikan agama.

 

Target Masturoh di rumah menjadi Zahidah

 

Kita inginkan daripada istri kita siap menghadapi kehidupan yang zuhud, kesederhanaan.

 

Note penulis : kesederhanaan ini penting buat kerja dakwah. Banyak suami sulit mengambil takaza asbab istrinya tidak siap zuhud banyak maunya. Minta dibelikan kulkas mahal, TV mahal, sofa mahal, akhirnya tafakud habis, bayar pakai hutang, credit card. Akhirnya ahbab gak bisa keluar asbab cicilan kredit yang harus dibayar dengan kerja lebih berat lagi.

 

Target Masturoh di rumah menjadi Daiyah

 

Kita harus fahamkan istri kita bahwa tanggung jawab agama ini bukan hanya menjadi tanggung jawab laki-laki saja tapi juga para wanita. Libatkan mereka dalam kerja dakwah. Ajak mereka 3 hari, 15 hari, dan 2 bulan keluar. Istri yang sudah pernah 3 kali 3 hari dan suami sudah berangkat 40 hari boleh membawa istrinya berangkat 15 hari masturoh. Kalau pegawai negeri keluarnya baru bisa daftari, jangan bawa istrinya keluar 15 hari. Maka istri yang punya fikir dan risau dia akan berdoa menangis dihadapan Allah agar Allah swt bisa mengirim suaminya berangkat 40 hari. Cuti 40 hari keluar di jalan Allah swt baru setelah itu bisa bawa istri keluar 15 hari. Suami harus berangkat 40 hari agar perempuan ini tidak menjadi amiroh di rumah dia (note penulis : suaminya dibawah ketek dia). Nanti istri macam ini yang menjadi amiroh, akan lebih sering mendebat suaminya. Rusak jadinya.

 

Jord Masturoh

 

Dibuat ijtima masturoh, agar digalakkan. Ketika di ijtma BSD maulana saad melihat adanya potensi dari masturoh-masturoh di indonesia. Banyak dari masturoh di indonesia sudah keluar 10 hari dan 15 hari. Maka beliau menganjurkan agar diperbanyak Jord Masturoh. Buat jord masturoh bagi daerah-daerah yang sudah banyak masturohnya 15 pasang, 20 pasang, max 30 pasang. Jika tidak mencukupi hanya 10 pasang maka buat jord masturoh gabungan tingkat kota biar terpenuhi jumlahnya. Buat taklim lalu bayannya agak di up grade, ditingkatkan targhibnya, karena targetnya keluar 2 bulan masturoh dan 15 hari. Kalau 3 hari cukup dari halaqah masing-masing. Lebih kepada mengarahkan kepada tertib yang benar agar tidak belok kesana kemari.

 

Urgency Rumah Masturoh

 

Masturoh kekurangan rumah, banyak jemaah yang mau masuk tapi tidak ada rumah. Padahal fadhilah menerima tamu ini luar biasa, datangnya membawa rahmat pulangnya tamu menghabiskan dosa-dosa tuan rumah. Jadi tamu datang rahmat datang. Nanti tamu pulang langsung membawa dosa-dosa tuan rumah, menghabiskan dosa. Setiap tamu yang hadir membawa 70.000 malaikat. Jika dari pagi hingga petang buat program berarti 70.000 malaikat menemani dia dari pagi hingga petang. Kalau yang datang 5 pasang berarti 10 orang, setiap orang bawa 70.000 malaikat ebrarti dia sudah mengumpulkan 70.000 x 10 = 700.000 malaikat bersama dia di rumah dia. Lalu dikali 3 hari yang dirumah dan 3 hari rijalnya, jadi 700.000 x 6 = 4.200.000 malaikat bersama dia di rumah. Menerima tamu itu jangan kesel, harus senang, gembira, rumah kita Allah swt pakai buat agama.

 

Buat jemaah masturoh jangan pilih-pilih kalau mau keluar, harus siap. Rumah gubuk siap, rumah tembok siap. Ketika saya keluar masturoh dikirm ke merauke sana. Pas mendarat dibawa lagi dengan mobil ke pedalaman 2 jam perjalanan. Di perjalanan hujan deras, kami diberi sepatu bot, istri saya kelihatan sakit sudah jalan sempoyongan. Hujan turun deras bersana dengan derasnya tetesan air mata istri-istri kita masuk ke rumah gubuk mujahaddah. Tapi saya gembira karena teringat hadits nabi saw. Ketika itu pak cecep dan pak dede daud keluar di eropa, di london saat itu.

 

Nabi saw berkata bahwa islam akan masuk ke setiap rumah baik gubuk ataupun tembok ternyata benar adanya.

 

Asbab kerja masturoh ini kita sudah mewujudkan hadits nabi saw. Saya gembira bisa ikut mewujudkan hadits ini. Saya masuk kerumah gubuk, pak cecep masuk kerumah tembok. Dua-duanya mengamalkan hadits nabi saw. Masuk tembok dapat mengamalkan hadist ini, yang masuk gubuk juga dapat mengamalkan hadits ini. Kapan kita bisa mengamalkan hadits ini ? asbab kerja masturoh ini, baru dapat terwujud.

 

Namun jemaah masturoh yang masuk juga harus tenggang rasa dengan tuan rumah. Dulu ada ahbab rumahnya dipakai buat masturoh, tapi sekarang sudah tidak lagi. Saya tanya kenapa ? dia bilang istri saya sudah tidak mau terima lagi. Terakhir ada jemaah datang, dia bilang ibu di dalam rumah saja, saya yang masak. Tapi ini jemaah pas di dapur serampangan masaknya. Sehingga minyak berteberan dimana-mana bikin kotor, sampai-sampai istri tuan rumah ke dapur dia terpeleset jatuh. Akhirnya masuk ke rumah sakit sekian lama, patah tulang dia. Semenjak itu tidak mau lagi menerima masturoh. Maka hendaknya jemaah yang masuk ke rumah orang agar bertindak hati-hati. Kita beradab di rumah orang, jangan sembarangan memakai barang, jangan bikin rumah mereka berantakan.

 

Jangan juga kita bawa anak sampai-sampai makanan jemaah dihabiskan juga sama anak-anak yang dibawa nusroh. Ajak istri kita nusroh, kita hantarkan dia, tapi jangan bawa anak.

 

Kesimpulan

 

  1. Mulai sekarang kita fikirkan bagaimana istri kita bisa menjadi daiyah yang siap korban setiap saat, siap ditinggal suaminya kapanpun.

 

  1. Kita fahamkan kepada mereka untuk buat kerja masturoh dengan tertib yang benar. Jangan sampai ada yang nyelonong lagi atau dikarbit, dipaksakan keluarnya tidak dengan arahan yang benar.

 

  1. Indikasi keberhasilan kerja masturoh adalah dengan meningkatnya taklim di rumah ditambah dengan 6 sifat.

 

  1. Indikasi berikutnya istri kita semakin senang dirumah buat kerja maqomi di rumahnya, sebagai medan kerja dia.

 

  1. Anak-anaknya menjadi Hafid dan Alim asbab ibunya tegar dengan keadaan-keadaan yang mujahaddah di rumah dia.

 

  1. Masturoh diberangkatkan jangan sampai kurang dari 4 pasang, dan maximal 7 pasang untuk dalam negeri. Tapi untuk IP cukup 6 asang aja, agar ada 1 pasang orang lokal disana bisa bergabung menemani.

 

  1. Setelah istri kita keluar IP, jangan berhenti disana. Cepat kita pikirkan bagaimana istiqomah menjaga nishobnya 3 hari tiap 3 bulan, lalu 15 hari, dan bawa ke negeri-negeri jauh.

 

  1. Libatkan istri kita dalam fikir agama. Bagi mereka yang sudah keluar lama 15 hari dan 2 bulan, hendaknya memikirkan wanita-wanita lain yang belum keluar. Ajak mereka untuk menghandle masturoh-masturoh dalam kerja mahalah dan halaqah.

 

Maka sekarang mari kita pikirkan kerja masturoh ini dengan membentuk jemaah-jemaah.

 

Insya Allah kita semua bersedia !!

Iklan

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: