Buyaathaillah's Blog

Konflik Nizamuddin : Nasehat Dalam Menyikapi Konflik Nizamuddin vs Syuro Alami

Nasehat Dalam Menyikapi Konflik Nizamuddin vs Syuro Alami

Maulana Saad Al Khandalawi

  1. Azas Dakwah dibangun diatas 4 perkara :
  1. Mahabbah bukan Benci, lihat kebaikannya bukan keburukannya
  2. Islah diri bukan mengislahkan orang lain
  3. Ijtimaiyat bukan perpecahan
  4. Ketaatan bukan Hawa Nafsu
  1. Jangan kalian berghibah, jika kita menceritakan 1 keburukan orang lain, maka orang tersebut akan mencari 2 atau 3 keburukan kita.
  1. Jangan kalian memandang keburukan dan kekurangan orang lain jika tidak ingin terlempar dari usaha dakwah yang mulia ini.
  1. Bahaya itu bukan terjadi dari luar tapi dari dalam : Kisah Uhud. Orang munafik tidak ikut dalam pasukan ini tidak membahayakan jemaah, tetapi ketika jemaah tidak taat inilah asbab kekalahan umat islam di uhud.
  1. Mesjid Taqwa vs Mesjid Dhiror. Mesjid Kuba mesjid yang dibangun atas dasar ketaqwaan, sedangkan Mesjid Dhiror dibangun untuk memecah belah umat islam.
  1. Keikhlasan Khalid bin Walid. Diturunkan dari Panglima tetap ikut berjuang sebagai prajurit dan anak buahnya menjadi panglima karena Khalid berjuang bukan untuk mencari keridhoan manusia tetapi keridhoan Allah swt.
  1. Celakanya Iblis asbab melihat kekurangan Adam AS. Iblis merasa aman dengan amalnya sehingga memandang kecil adam AS.
  1. Murtadnya orang yang meremehkan Usamah bin Zaid
  1. Gagal Taat :
  1. asbab kedudukan : Sombong Iblis vs Ikhlas Khalid bin Walid,
  2. asbab Nafsu / Semangat : perjanjian hudaibiyah
  3. asbab kebiasaan : pindahnya kiblat
  4. asbab merasa aman : perang Uhud
  1. Taat meninggalkan yang haram Mudah, Tetapi Taat meninggalkan yang Halal sulit. Inilah peristiwa ujian sahabat di hudaibiyah.
  1. Hindari 4 hal dalam dakwah :
  1. Jangan Lihat Hasil tapi Lihat Perintah Allahnya,
  2. Jangan Lihat keburukan orang tapi Lihat kebaikannya
  3. Jangan Niat memperbaiki orang lain tapi perbaiki diri sendiri
  4. Jangan Tertibkan orang lain tapi Tertibkan diri sendiri
  1. Adalah sunnah mencari kebaikan dlm diri org lain dan menyembunyikan keburukan org lain. Satu jenazah dibawa di hadapan nabi. Org yg buruk perangainya. Umar larang nabi dari menyembahyangkan jenazahnya. Nabi tanya, siapa pernah lihat org ini buat kebaikan? Satu org telah bangun dan bagitahu bahawa dia pernah berjaga satu malam di jln Allah. debu2 yg melekat pd badannya semasa berada di jln Allah diharamkan dari api neraka. Dia adalah ahli syurga. Hati yg gelap ialah hati yg sentiasa mencari kekurangan org lain. Tanda2 seseorang itu akan mundur dlm usaha agama ini ialah melihat keburukan rakan seusaha. Lihatlah hati kita. Kalau sentiasa melihat kekurangan org lain maka, hati kita masih gelap dan kotor.

Syaikh Abdul Wahab

  1. Bersabarnya kamu dalam ijtimaiyat karena tersakiti lebih baik dari senangnya perasaan kamu diluar ijtimaiyat tapi sendirian
  1. Kita ini semua umat Nabi saw adalah bersaudara, umat yang satu. Kita ini seperti satu badan, jika satu sakit maka yang lain akan merasakan.
  1. Dakwah ini berasal dari Nizammuddin, maka hendaknya kalian pergi belajar ke Nizammuddin, ikuti nasehat yang diberikan oleh para masyeikh kita di Nizammuddin.
  1. Jangan bicarakan Penyakit tapi bicarakan Obatnya. Perpecahan ini adalah penyakit maka Obatnya adalah Iqram.
  1. Hendaknya kita jangan punya perasaan bahwa saya orang indonesia, saya orang pakistan, saya orang malaysia, saya orang india, saya orang amerika, tapi hendaklah merasa saya ini adalah Umat Nabi saw. ( Jangan kita terjebak dalam Assobiyah / pembenaran kelompok )
  1. Buat Dakwah seperti Nabi saw yaitu dengan Kasih Sayang dan Kerisauan.

Mufti Muhammad Luthfi Al Banjari

  1. Dalam Fiqih perkara 4 mahzab yang ada harus kita jaga. Kalo dibiarkan setiap orang berfatwa sesuai dengan pemikirannya sendiri maka akan timbul 1000 Mahzab. Dalam Dakwah kita jaga Rujukan kita ke Nizammuddin, kalo setiap dari kita kerja berdasarkan pemikiran kita maka akan muncul sempalan-sempalan dalam dakwah.
  1. Jangan kita seperti Babi. Babi ini walaupun dia berjalan dikebun yang berisi buah-buahan dan makanan-makanan yang baik, tetapi tetap saja yang dicari ini adalah kotoran dalam got atau kubangan.
  1. Dalam dakwah tidak boleh berpecah belah. Dalam taklim boleh berbeda-beda. Silakan anda belajar ke Madinah, Mesir, Lirboyo, Temboro, Magelang, ke Banten silakan. Perbedaan dalam hukum fiqih adalah rahmat tapi dalam dakwah musibah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat di Mina dan di Makkah waktu haji di qasar menjadi dua rakaat, demikian juga Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Umar radhiyallahu ‘anhu. Lalu ketika Utsman radhiyallahu ‘anhu menjadi Amirul Hajj beliau shalat empat rakaat, lalu Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu mengkritik Utsman radhiyallahu ‘anhu dengan memberitahu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu, dan Umar radhiyallahu ‘anhu telah shalat qasar dua rakaat. Namun Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu tetap shalat berjamaah dengan Utsman radhiyallahu ‘anhu sebanyak empat rakaat di depan murid-muridnya. Setelah selesai shalat murid-muridnya bertanya, “wahai guru kenapa kamu mengkritik Utsman radhiyallahu ‘anhu namun engkau ikut shalat empat rakaat.” ‘alkhilafu ‘asyad’ perpecahan itu lebih berat lagi.

H. Cecep Firdaus

  1. Dakwah akan kuat kalo kita Jaga 3 perkara : Nasab, Sanad, dan Amal. Nasab kerja dakwah ini dari Maulana Ilyas Rah.A dan para Masyeikh, Sanadnya Masyeikh di Nizamuddin, Amalnya Dakwah. Ahlul Batil bekerja untuk melemahkan 3 perkara ini : Hancurkan Nasabnya, Hilangkan Sanadnya, dan Tinggalkan Amalnya.
  1. Kita harus yakin bahwa kita berjalan diatas yang Haq tapi kita tidak boleh mengklaim kebenaran hanya milik kita.
  1. Hati-hati dengan yang kita bicarakan nanti itu akan menjadi Ujian bagi kita. Saya dulu suka marah sama pembersih wc di bandara, saya katakan kenapa ini toilet tidak ada yang jongkok ini tidak sunnah. Saya memarahi tukang bersih wc asbab keyakinan saya bahwa wc itu batil dan yang Haq itu adalah pendapat saya. Kini Allah swt buat saya dengan keudzuran saya harus menerima wc duduk padahal itu yang saya tolak dahulu.
  1. Tatkala kita dimusuhin mereka maka yang harus kita lakukan perintahnya adalah kita bersabar, lalu memohonkan ampun untuk mereka. Ini adalah kesempatan dari Allah swt untuk mengikuti Akhlaq Nabi Saw, Akhlaq Azimah, apa itu ? membalas keburukan dengan kebaikan
  1. Kita dalam dakwah ini bukan untuk berebut jadi faishalat, tapi kita berebut mengambil takaza.
  1. Semua musibah yang terjadi ini asbab dosa-dosa kita, karena kekurangan kita. Seharusnya untuk memperbaiki keadaan yang ada bukannya dengan berfikir merebut kekuasaan atau rebutan markaz, tetapi fikir bagaimana menunaikan nishob, menjaga maqami, dan mengambil takaza.
  1. Kita harus menjaga hubungan dengan seluruh masyeikh yang berikhtilaf jangan kita terjebak dengan permusuhan dan kebencian kepada mereka. Jika mereka kembali bersatu maka kita tetap bisa menjaga hubungan baik dengan mereka. Mereka semua adalah orang korban asbab mereka hidayah sampai kepada kita.
  1. Kita dalam dakwah ini ingin Makbul bukan Mahsyur.
  1. Hati-hati dengan orang Munafik ? siapa mereka yaitu yang banyak bicaranya tapi amalnya gak ada. Mengambil manfaat dari perpecahan terutama demi pengakuan eksistensi dirinya.
  1. Allah swt perintahkan Al Quran agar kita menghormati dan memuliakan orang tua kandung kita. Padahal mereka mengurusi Jasad kita. Sedangkan Masyeikh ini adalah orang tua kita yang mengurusi Ruhaniat kita dan Akherat kita. Maka kitapun harus menghormati dan memuliakan masyeikh kita sebagaimana kita menghormati dan memuliakan orang tua kandung kita. Jangan kita justru menghina dan membenci mereka, para masyeikh yang asbab mereka kita mendapatkan hidayah. Jika kita tinggalkan masyeikh kita maka kita akan kehilangan keberkahan akherat kita.
  1. Kita harus Netral dalam Iktilaf Masyeikh agar kita tidak memihak kepada salah satunya yang menyebabkan kita meninggalkan yang lain. Tetapi untuk kerja dakwah kita harus memilih karena Netral dalam arahan artinya Dakwah tidak berjalan dan tidak bisa maju / move on. Sedangkan Dakwah harus berjalan maju sesuai arahan sebagai ukuran kemajuan atau progress kerja.

Buya Athaillah : Mengapa saya memilih Nizammuddin ?

  1. Saya tidak di ajarkan untuk membenci dalam dakwah tetapi untuk mencintai, Mahabbah dan Iqrom kepada orang lain. Jika sesama teman saja kita saling menyakiti bagaimana orang lain mau ikut. Sibuk Bicara Kasih Sayang tetapi faktanya saling membenci bagaimana orang lain mau ikut.
  1. Perpecahan terjadi asbab adanya keinginan perubahan, salah satunya mengajak umat keluar dari Nizamuddin. Maka bagi saya jika perubahan menyebabkan perpecahan maka saya tidak akan mau ikuti, dan saya tidak akan berubah, saya akan tetap beramal sesuai arahan dari Nizammuddin selama Nizamuddin tidak mengajak kepada kemaksiatan kepada Allah wt dan RasulNya.
  1. Bagi saya jika saya mengikuti Syuro Alami dan meninggalkan Nizammuddin maka semua latihan dalam dakwah selama bertahun-tahun dan mudzakarah yang didapat dalam dakwah akan jadi mentah.
  1. Dalam dakwah kita diminta menjaga Ijtimaiyat sedangkan SA mengajak kita meninggalkan Ijtimaiyat. Bukannya menjaga persatuan tetapi malah mendorong perpecahan
  2. Dalam Dakwah kita diajarkan tidak berghibah tetapi SA mengajarkan kepada kita untuk menghibahi Maulana Saad bahkan memfitnah beliau.
  3. Dalam dakwah kita diajarkan untuk taat kepada musyawarah. Sedangkan SA mengajarkan kita untuk makar dari musyawarah. Asbab usul SA yang dipaksakan belum ada persetujuan Maulana saad sehingga terjadi makar.
  4. Dalam dakwah kita diajarkan Iqromul Muslimin tapi SA membuat kita saling bermusuhan dan membenci masyeikh. Mudzakarah Mahabah jadi hilang kalau kita ikut SA.
  5. Mengapa kita harus menguatkan Ikhtilaf antar masyeikh yang bukan urusan kita. Jika kita ingin menguatkan ikhtilaf maka perbedaan antara mahzab hanafi dan syafei udah cukup untuk kita saling menkafirkan. Mengapa hanya ijtihad maulana saad saja yang kita permasalahkan dan peruncing ikhtilafnya. Ini karena ada hasad kepada maulana Saad Al Khandalawi.
  6. Perpecahan menyebabkan Assobiyah (yaitu merasa kelompoknya yang paling benar padahal kita mengajak kepada Allah swt bukan kelompok). dan Assobiyah menyebabkan hilangnya Mahabbah. Tanpa Mahabbah tidak ada Dakwah. Maka saya tidak mau berpecah dan terjebak dalam perpecahan dan assobiyah. Kenapa bisa berpecah karena Khilafiyah dibicarakan padahal ushul dakwah tegas agar kita jangan membicarakannya.
  1. Jika kita tidak bisa bersepakat tentang penambahan Syuro dunia yang menyebabkan Ikhtilaf. Maka mengapa dipaksakan, mengapa harus makar ? kenapa kita tidak kembali kepada kesepatan awal yang sudah kita sepakati dan tidak ada perbedaan bahwa syuro dunia tinggal dua yaitu Maulana Saad Al Khandalawi dan Syaikh Abdul Wahab, bukankah itu masih bisa berjalan dan kita masih bersepakat. Mengapa harus dipaksakan sehingga menjadi perpecahan. Ini karena ada hasad kepada Maulana Saad.
  1. kebencian dibalas kebencian hasilnya tambah benci. kebencian dibalas dengan kasih sayang inilah Sunnah Nabi Saw. Sunnah Nabi saw itulah jalan hidayah. Dakwah kasih sayang yang tersebar Rahmat Allah, Dakwah kebencian yang tersebar adalah permusuhan dan perpecahan hasilnya Murka Allah swt. Jika saya iikut SA maka saya akan terjebak dalam kebencian.
  1. Ushul Dakwah, Azas Dakwah, Sifat Dai, 6 sifat, Mudzakarah dan Nasehat Masyeikh, menjadi relevan ketika kita tetap bersama Nizamuddin. Namun ketika berubah menjadi memusuhi nizamuddin maka semua itu menjadi mentah dan sia-sia.

Bagaimana menyikapi Ikhtilaf Buya Athaillah :

Kemarin ada yang nanya ke saya ? Antum kalo masih rujuk ke nizamuddin kenapa posting2 bayan Masyeikh SA ?

jawab saya :

  1. Bayan / Nasehat itu bisa kita ambil dari mana saja bukan hanya dari masyeik dalam dakwah saja. selama itu ada kebaikan didalamnya saya akan ambil walaupun itu datang dari wahabi sekalipun. Apalagi ini masyeikh kita dalam dakwah walaupun dia tidak satu arahan dengan kita. Sekali mrk saya anggap orang tua saya, sampai mati mrk adalah orang tua saya dan saya akan perlakukan mereka dan nasehat mereka sbgmna orang tua saya apalg itu untuk kebaikan saya dan membuat kita makin taat kepada Allah swt. Janganlah 1 kekurangan dalam diri seseorang membuat kita buta kebaikan2 dia yg lebih banyak lagi. Terlalu banyak kebaikan2 mrk yg saya berhutang budi kepadanya. Asbab nasehat2 mrklah saya menjadi spt skrg.
  2. Ibarat percekcokan antara ayah dan anak yg menyebabkan anaknya keluar dr rmh. Walaupun seorang ayah tau anaknya salah tapi krn rasa cintanya kepada anak dan ingin anaknya kembali kerumah maka ayahnya akan berkata,” anakku pulanglah kerumah…. ini semua salah bapak….. maafkan bapak…” kalau si bapak tetap marah maka si anak tidak akan berani kembali kerumah. Hadratji Maulana saad sampaikan bahwa kita harus membawa saudara kita yg keluar dr arahan nizamuddin kembali kepada arahan nizammuddin berapapun harganya. Maka tidak mungkin mereka mau kembali sebelum sikap kita sama sbgm sikap kita dahulu sblm perpecahan bahwa semua ini terjadi krn salah saya sbgmn orang tua kepada anaknya. semua keburukan yg terjadi ini krn salah saya bukan krn salah mereka. mereka hanya korban keburukan amal saya. ini yg hrs ada dalam perasaan kita. Tanpa ini sulit balik rujuk kembali selama kita masih saling menyalahkan.
  3. Dakwah itu mempersatukan dan menafikan perbedaan. Sbgmn perpecahan antara NU dan Muhammadiyah, namun asbab dakwah mrk bs bersatu berjuang bersama2. Untuk ini bs terjadi kita harus bicarakan persamaan bukan perbedaan. Kembalikan sifat mahabbah kepada seluruh mahluk Allah swt apalagi kepada partner2 kita dalam dakwah para ahbab. Mrk bukan pegawai kita, mrk ada untuk membantu kita krn ini kerja saya. Jika mereka mau membantu saya hrs d syukuri dng menjaga mereka dalam arahan dng kasih sayang. Jika mrk tdk mau maka terus rayu mrk. Jaga akhlaq kita kepada mrk yg sudah membantu kita dalam kerja kita. Sayangi mereka jangan dibenci, perpecahan yg terjadi saat ini tdk membawa manfaat apapun kpd kita selain kerusakan demi kerusakan yg membuat kita menjadi manusia yg lebih buruk dr sblmnya asbab benci dan hasad. buktinya ghibah dan saling menyalahkan dmna2. Jauh dr sikap kita yg dulu suka menyalahkan diri sendiri. Semakin sibuk dalam dakwah semakin kelihatan kekurangan diri sendiri dan kebaikan orang lain. Namun lihat yg terjadi sekarang yg kelihatan kita merasa paling benar dan yg nampak kesalahan/keburukan org lain.
  4. . Rindu dengan Dakwah masa dulu. Teringat kesan dalam dakwah bagaimana sesama ahbab begitu mahabbahnya. Setiap melihat ada kerusakan selalu menyalahkan diri sendiri. “Ini salah saya….” kenapa kerusakan terjadi….. ini semua karena salah saya. Saya yang kurang korban. Saya yang jelek amalnya….. Dakwah ini kerja saya. Mereka itu hanya orang yg membantu saya. Jika mereka membantu saya alhamdullillah. jika tidak membantu saya gak papa wong ini kerja saya. Sebaik baiknya saya masih lebih baik orang lain. seburuk buruknya orang lain masih lebih buruk saya. Dekati orang yang menolakmu dengan Iqrom dan rayuan. Biarkan mereka membenci yang penting Allah Ridho sama saya…..
  5. Ulama itu warosatul anbiya, pewaris Nabi. Namun Ulama bukan Nabi alias tidak maksum bisa khilaf. Sekurus-kurusnya ikan pasti ada dagingnya. segemuk gemuknya ikan pasti ada tulangnya. Maka kita ambil dagingnya buang tulangnya. Dari Ulama kita ambil kebaikannya dan tutupi kekurangannya. Jangan 1 kekurangan membutakan kita dari banyaknya kebaikan yang kita dapat darinya.Hendaknya kita senantiasa memuliakan ulama jika mau mendapatkan keberkahan dari ilmu mereka.
  6. Ini sudah waktunya untuk rekonsiliasi bukan berpecah. Kebenaran itu biarlah menjadi tafsir masing2 pihak. Bicarakan persamaan bukan perbedaan. Masa sekarang adalah Takaza masuk surga yg Allah swt berikan kesempatan ini pada kita. Jangan disia siakan. Apa itu takazanya ? yaitu takaza mendapatkan akhlaq Nabi saw

Takaza Akhlaq Nabi saw :

  1. Menyambung sillaturahmi dengan yg memutuskan
  2. Berbuat baik dengan yang menzalimi
  3. Memberi kepada yg pelit kpd kita
  4. Bersabar ketika mampu membalas

Nabi saw bersabda :

“Barangsiapa mengamalkan sunnahku berarti dia mencintaiku, barangsiapa mencintaiku dia akan beesamaku di surga.” ( Mahfum Hadits )

“Orang islam itu adalah orang yg orang lain terjaga dari kejahatan mulut dan tangannya.” (mahfum hadits)

Quran dan Hadits Nabi Saw yang saya langgar jika ikut SA :

  1. Nabi saw sampaikan mahfum bahwa Umat islam itu seperti satu tubuh. Jika yang satu sakit maka yang lain akan merasakan. Ini yang mau kita sakiti masyeikh kita maulana saad.
  2. Nabi saw sampaikan jangan kalian menceritan keburukan saudara kalian kepada ku karena aku ingin bertemu kalian dengan hati yang bersih. Sedangkan SA mendorong kita membicarakan keburukan maulana saad bahkan sampai dibuat bukunya.
  3. Dosa ghibah itu seperti berzina dengan ibu sendiri. Di SA yang kita ghibahi Maulana Saad.
  4. Nabi saw sampaikan Mahfum tidak sempurna iman kalian sebelum kalian mencintai saudara kalian sebagaimana kalian mencintai diri kalian sendiri. Sedangkan di SA kita diajarkan untuk membenci maulana Saad.
  5. Mahfum hadits, jika kalian sudah saling mencaci satu dengan yang lain maka jatuhlah kalian dari pandangan Allah swt. Jika saya ke SA maka saya akan memulai mencaci.
  6. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah KEBANYAKAN DARI PRASANGKA, SESUNGGUHNYA SEBAGIAN PRASANGKA ITU ADALAH DOSA dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS.Al Hujurat [49] ayat 12)
  7. Rasulullah saw bersabda: ”Tahukah kalian apa itu ghibah? Jawab para sahabat : Allah dan rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka kata Nabi saw: “engkau membicarakan saudaramu tentang apa yang tidak disukainya. Kata para sahabat: Bagaimana jika pada diri saudara kami itu benar ada hal yang dibicarakan itu? Jawab Nabi SAW: Jika apa yang kamu bicarakan benar-benar ada padanya maka kamu telah mengghibah-nya, dan jika apa yang kamu bicarakan tidak ada padanya maka kamu telah membuat kedustaan atasnya.”(HR Muslim, Abu Daud dan Tirmidzi )
  8. Muslim dengan muslim lainnya itu bersaudara, tidak boleh mengkhianati, mendustakan dan menghina. Setiap muslim dengan muslim lainnya haram kehormatan, harta dan darahnya. Taqwa itu disini (sambil nabi SAW menunjuk pada dadanya) Cukup disebut seorang itu jahat jika ia mencaci saudaranya sesama muslim (HR. Muslim)
Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: