Buyaathaillah's Blog

Bayan Maulana Ibrahim IV

Nasehat Maulana Ibrahim

Umur kita adalah amanat. Amanat yang cuma sekali. Jadi setiap detik adalah amanat. Waktu adalah amanat juga suatu nikmat.

Semua makhluk Allah jamin rezekinya. Besar mana perut kita dengan perut paus? Mengapa kita kuatir ?
Jadikan semua yang kita lihat dan alami, sebagai bahan untuk menuju Allah.
Kita suka merasa sudah banyak amalkan agama, tapi kenapa masalah terus datang tak ada ujung? Pikiran seperti ini adalah komplain sama Allah; ini tanda putus asa; ini hasil kerja iblis.

Setan suka menanamkan rasa putus asa. Putus asa adalah, merasa bahwa ibadah-ibadah dan amal soleh kita tidak ada manfaatnya.
Maka jangan pernah komplain sama Allah, jangan terbawa kerja iblis. Kita kudu selalu baik sangka sama Allah. Karena Allah yang maha bijaksana, Allah tidak pernah keliru. Apapun yang datang dari Allah adalah baik!
Jangan lihat duri yang menusuk, lihat bagaimana ampunanNya atas musibah itu. Bahkan, bagi orang beriman, kaget pun menjadi ampunan.
Ketika masalah datang, upaya-upaya kita utk menyekesaikannya pun diperintah Allah, ini supaya kita punya pengharapan. Upaya, meminta (doa) dan sabar menunggu, ini semua merupakan ibadah. Yang penting, jangan sampai kita kecewa, berhenti doa, berhenti ibadah.
Memiliki rasa harap kepada Allah, juga merupakan ibadah.Jika kita mendapat musibah, bangun rasa syukur. Dengan cara membayangkan musibah yang lebih besar dari yang kita hadapi. Untung ketabrak sepeda, bukan ketabrak mobil.
Sesungguhnya ridha atau murka Allah tidak berwujud keadaan-keadaan yang kita hadapi. Tidak ada hubungan. Ridha dan murka Allah berhubungan dengan bagaimana kita beramal di dalam hadapi keadaan-keadaan tersebut.

Kadang hamba diberi kesusahan, agar dia kembali ke Allah; fa firu ilallah  maka berlarilah pulang ke Allah!  dapat kekayaan: fa firu ilallah. Dapat kemiskinan: fa firu ilallah.

Jadikan istighfar sebagai amal keseharian. Akui dosa, sebab Allah maha pengampun. Jangan mengeluh, jangan komplain. Jangan salahkan Allah dengan bertanya, “ya Allah kenapa?”

Hari ini semua manusia suka komplain. Ke sesama manusia, ke atasan, ke pemerintah lama-lama komplain ke Allah.
Kesusahan dan masalah kita tidak akan diangkat, sebelum kita mengakui kesalahan dan lari mencari ridha Allah.
Kadang kita merasa sudah beramal, lalu komplain bahwa masalah masih banyak? Pikir berapa lama kita jauh atau berpaling dari Allah? Mungkin puluhan tahun? Bagaimana bisa daki yang ditumpuk selama 30 tahun dibersihkan dengan sabun / mandi yang baru sedikit?
Istighfar dan taubat. Istighfar itu untuk yang sudah berlalu. Taubat itu janji untuk menyempurnakan amal yang ke depan. Misal kita pernah curi sendal, maka kita istighfar tobatnya, Kembalikan itu sendal, jangan kita pake lagi!

Perbaiki hubungan dengan Allah, nanti Allah perbaiki hubungan kita dengan sesama dan dengan keadaan-keadaan.
Nabi saw pernah mengalami kenyang, pernah alami lapar, pernah sehat, pernah sakit. Semua keadaan ini menimpa Nabi saw agar kita punya teladan bagaimana bersikap hadapi aneka keadaan.

Kadang Allah beri keadaan kesusahan juga untuk tingkatkan iman kita. Dulu bani israil umat nabi Musa protes; dulu kami susah, sekarang sudah ada Nabi pun kita tetap susah?! Beda! Susah yang dulu dihadapi tanpa amal. Susah yang kini dihadapi dengan amal dan ketaatan. Maka hasilnya sangat beda.
Dulu para sahabat di usir dari kampungnya karena mempertahankan iman. Kini muslim di usir dari negerinya karena kelemahan iman dan kerusakan amal mereka sendiri BEDA!
Jadi musibah datang karena dosa kita. Allah kirim musibah bukan karena Allah mau siksa kita. Tapi karena Allah ingin bersihkan kita dari segala dosa. Sebetulnya dibanding diberi musibah atas dosa, banyak sekali dosa kita yang Allah ampuni begitu saja. Karena Allah Maha pengampun.
Minta ampun dan tobat terus, jangan sambil tergesa-gesa, senantiasa ditambah dengan penyempurnaan amal-amal.

Apapun keadaan yang datang, jika kita hadapi dengan ketaatan kepada perintah Allah dan sunnah Nabi saw. Maka kita mendapatkan kemenangan

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: