Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro KH. Udzairon : Waktu dan Cara Memanfaatkannya

Hadirin Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Ada satu surat dalam Al Qur’an yang sudah menjadi kebiasaan para sahabat, setiap mereka berjumpa dengan temannya, mereka tidak akan berpisah sebelum membaca surat ini. Yaitu surat Al ‘Ashr. Karena begitu pentingnya surat Al ‘Ashr ini. Untuk diingat-ingat, untuk direnungi. Sehingga para sahabat itu punya kebiasaan setiap berjumpa dengan temannya, sebelum berpisah, maka membaca surat Al ‘Ashr.

والعصر إن الإنسـان لفى خسر

 

والعصر “Demi Masa”. Maksudnya demi masa ini, supaya kita ini berfikir, merenung sejenak mengenai masa. Merenungi masa yang lalu, 100 tahun yang lalu, 200 tahun yang lalu, 1000 tahun yang lalu. Kita renungi masa yang lalu. Kalau kita merenungi masa yang lalu, maka di antara hasilnya adalah kita ini akan ingat bahwa kita ini dulu tidak ada. Kemudian diadakan oleh Alloh SWT. 100 tahun yang lalu kita tidak ada. Kemudian diadakan oleh Alloh SWT. Kalau kita ini mengingati masa yang lalu, maka kita ini akan merasa bahwa saya ini ciptaan Alloh, saya ini hamba Alloh, saya ini miliknya Alloh. Kalau kita ini megingati masa yang akan dating, maka apa yang tampak pada masa yang akan datang itu? Kita akan mati sebentar lagi yang dimulyakan. Semua kita akan mati. Kalau orang itu mengingati masa yang akan datang, memikirkan masa yang akan datang, maka akan keluar dari hatinya kebanggaan kepada dunia. Lha wong arep mati he lho… apa yang dibanggakan dunia itu apa?! Kekayaan, teknologi, jabatan, semua yang ada di dunia ini kalau kita ini mikir akan mati nilainya itu jadi nol puthul. Nol puthul bener. Apa saja!! Ini fulan – fulan, Negara sana, Negara sana, sangat maju, teknologinya sangat canggih. Betul!! Memang betul – betul hebat seumpama bisa menyelamatkan dia dari kematian. Tapi apapun teknologi yang dibuat manusia, tidak akan bisa menyelamatkan dia dari kematian. Walaupun bisa naik ke bulan, juga akan turun ke kuburnya masing-masing.

 

Jadi kalau kita itu mengingati masa yang akan datang, maka teringat kematian. Dan kematian itu bukanlah akhir dari kehidupan manusia. Ada berita dari pencipta manusia, bahwa setelah kematian ini akan ada kehidupan yang kekal abadi. Tidak akan selesai ceritanya seorang manusia sebelum :

 

فريق فى الجنة وفريق فى السعير

 

” Sebagian manusia ke surga, sebagian manusia ke neraka.”

 

Karena Alloh itu Maha Adil yang dimulyakan. Alloh itu Maha Adil. Di dunia ini masih banyak orang baik, tapi dianggap buruk. Orang buruk dianggap baik. Maling dianggap pahlawan. Pahlawan dianggap maling.

 

Maka Alloh SWT Yang Maha Adil tidak akan membiarkan keadaan ini begini saja. Alloh punya pengadilan. Hakimnya Alloh sendiri. Saksinya para malaikat. Untuk mengadili manusia ini seadil-adilnya. Kalau kita ini mengingati masa yang akan datang ini jadinya kayak gini di pikiran kita. Tidak terkesan dengan suasana-suasana sekarang. Kalaupun orang seluruh dunia mengatakan diri kita ini orang baik. Tapi kalau kita ini menurut Alloh tidak baik, Ooo… akan datang suatu masa, kita akan menyesal. Kalaupun seluruh dunia mengatakan diri kita ini orang buruk, tetapi kalau kita ini memang baik menurut Alloh, akan datang suatu masa kita dimulyakan. Ini di antara faedahnya mengingati masa lalu, mengingati masa yang akan datang. Mengingati masa yang lalu, yang dimulyakan Alloh SWT, mengingatkan kita pada sejarah. Sejarah para Nabi, Sejarah para Rosul, Sejarah para Raja. Sehingga kita ini akhirnya mengambil kesimpulan : betul-betul dunia ini tidak ada yang kekal. Dulu ada kerajaan, yang namanya kerajaan Romawi. Ribuan tahun berdiri, akhirnya juga runtuh. Dulu ada kerajaan, namanya kerajaan Persi, runtuh. Dulu ada kerajaan, namanya kerajaan Uni Soviet, beberapa puluh tahun yang lalu dia menganggap Negara paling kuat di dunia, tahu-tahu runtuh. Dulu ada kerajaan yang namanya Majapahit, dengan patihnya Gadjah Madha. Dikatakan ini Negara besar, tetapi dimakan sama makhluq Alloh yang namanya masa habis tak tersisa. Mojo-nya habis, pahit-nya habis, nggak ada apa-apanya. Begitulah nasibnya di dunia ini, semua makhluq tidak ada yang bertahan lama. Karena dunia ini diciptakan oleh Alloh bukan untuk berlama-lama. Sekarang semua orang takut dengan Amerika. Amerika ini super power. Nggak usah dibom. Biarin… biar dimakan sama yang namanya masa. Nanti tahu-tahu akan ditulis dalam sejarah. “Dulu ada Negara namanya amerika, super power, tapi sekarang sudah tidak ada.” Seperti Majapahit itu, sekarang sudah tidak ada tahu-tahu.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Begitulah dunia ini. Orang kalau memikirkan masa lalu, masa yang akan datang, dia tidak akan terkesan, dia tidak akan terpengaruh dengan dunia ini. Tetapi yang dia pikirkan adalah yang setelah dunia ini. Kehidupan yang abadi yang selama-lamanya.

Hadirin Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Kalau kita memikirkan masa yang lalu, kita akan ingat amalan-amalan kebaikan kita, apakah sudah diampuni oleh Alloh, apakah sudah diterima oleh Alloh. Alaman-amalan keburukan kita apakah sudah diampuni oleh Alloh, sehingga kita itu istighfar, menangis kepada Alloh.

 

Kalau kita mengingati masa yang akan datang, Yang dimulyakan Alloh SWT, maka kita ini akan ingat. Apakah kita ini bisa mati dalam keadaan iman, dalam keadaan islam atau tidak. Maka tiap saat do’a : Ya Alloh berikanlah kepada aku Khusnul Khotimah, mati dalam keadaan iman, dalam keadaan islam. Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Jadi memikirkan masa lalu, masa yang akan datang, itu penting sekali dipikirkan, banyak manfaatnya yang dimulyakan. Orang itu terkesan dengan keadaan – keadaan, tergiur dengan keadaan – keadaan, karena dia ini lupa masa lalunya, lupa masa yang akan datang. Kalau kita ini melihat seorang raja yang kaya, gagah perkasa, dihormati seluruh manusia, maka kita akan terkesan. Tetapi yang dimulyakan, kalau kita ingat masa yang lalu & masa yang akan datang, tidak terkesan. Karena raja ini asalnya apa?

Asalnya dari bayi. Bayi dari mana?

 

Dari setetes air mani. Setetes air mani dari mana?

Dari sari – sari makanan. Makanan dari mana?

Dari tanah.

 

Kalau kita melihat masa yang lalu, maka melihat raja – raja tadi teringat Alloh. Bukan terkesan dengan raja itu. Maha Suci Alloh, Maha Agung Alloh. Tanah kok jadi raja.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Kalau kita mengingati masa yang akan datang, maka raja ini akhinya bagaimana? Akhirnya tua. Akhirnya mati. Jadi tanah lagi. Sama saja. Akhir dari seorang raja & akhir dari seorang kere, sama saja, jadi tanah, jasadnya ini. Tetapi nilainya ini yang beda, yang dimulyakan. Kalau orang itu ada iman, maka ini nilainya beda. Walaupun sudah jadi tanah, tapi nanti akan jadi raja di surganya Alloh SWT. Tapi kalau dia tidak ada iman. Maka jadi tanah, kemudian jadi intip di neraka Alloh.

 

Yang dimulyakan Alloh SWT, Maka kemudian Alloh berfirman :

 

إن الإنسـان لفى خسر

 

“Sesungguhnya manusia dalam kerugian.”

 

Semua orang dalam kerugian. Orang kaya dalam kerugian, orang miskin dalam kerugian. Semua manusia dalam kerugian. Karena semua orang akan mati, yang dimulyakan. Orang kaya, bagaimanapun kayanya, dalam kerugian. Karena sebentar lagi dia akan mati. Kehilangan seluruh kekayaannya. Raja – raja dalam kerugian. Karena sebentar lagi akan kehilangan kerajaannya. Anak – anak muda yang gagah perkasa, gothot, ganteng, dalam kerugian. Karena sebentar lagi dia akan kehilangan kemudaannya. Gantengnya hilang, jadi tua peyok. Orang – orang yang cantik pun dalam kerugian, karena sebentar lagi akan kehilangan kecantikannya. Semua manusia dalam kerugian.

 

الاّ الذين آمنوا

 

“Kecuali orang yang beriman.”

 

Orang yang beriman ini bagaimanapun keadaannya, kaya, miskin, sakit, sehat, jadi raja, jadi rakyat, semua di dalam keberuntungan. Karena sebentar lagi akan masuk ke surga Alloh. Jadi yang beruntung itu hanyalah orang yang beriman. Seluruh orang yang tidak beriman, rugi… semuanya. Tambah banyak duwitnya, tambah banyak ruginya. Kalau dia punya duwit 1 milyar, maka mati kehilangan 1 milyar. Kalau uangnya 2 milyar, ruginya tambah banyak. Berarti akan kehilangan 2 milyar. Kalau nggak punya apa – apa, tidak kehilangan apa – apa. Jadi manusia ini aneh yang dimulyakan. Kerugiannya dalam keberuntungannya. Keberuntungannya dalam Kerugiannya. Seperti pepatah orang dahulu, dunia itu seperti kancing baju. Nek dilebokne malah metu. Kethoke mlebu tapi malah metu. Kethoke untung, malah rugi. Inilah dunia yang dimulyakan.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Ini betul-betul yang dimulyakan, ini perlu kita renungi. Orang yang mendapatkan dunia ini tambah banyak dunianya tambah banyak ruginya. الاّ الذين آمنوا “inilah orang yang beruntung”. Apakah orang dunia tidak kehilangan dunia? Kehilangan juga. Tapi dapat ganti, yaitu surga. Apa orang beriman tidak akan kehilangan kehidupannya di dunia ini? Iya, kehilangan kehidupannya di dunia diganti dengan kehidupan akherat yang kekal abadi. الاّ الذين آمنوا . orang yang beriman ini lho orang yang benar – benar beruntung, tapi pakai syarat.

 

وعملوا الصالحات

 

“(Setelah iman) amalnya sholeh.”

 

Kalau iman tapi amalnya tidak sholeh, juga masih rugi lagi. Ada 6 rukun iman. Maka kita ini harus usaha bagaimana amal kita ini sesuai dengan iman kita. Itulah namanya amal sholeh. Amal yang sesuai dengan imannya. Setelah kita ini punya keyakinan bahwa kita ini hamba Alloh.

 

لا اله الاّ الله

 

Maka kita sesuaikan kehidupan kita. Dengan iman kita. Yaitu senantiasa siang dan malam mengingati Alloh, mengagungkan Alloh, tunduk kepada Alloh, berdo’a kepada Alloh, malu kepada Alloh, takut kepada Alloh, cinta kepada Alloh. Lha ini namanya iman lalu amal sholeh. Amalnya sesuai. Kalau sudah iman kepada Alloh bahwa Alloh itu yang menciptakan kita. Alloh yang menciptakan penglihatan tentu Maha melihat, Alloh yang menciptakan pendengaran tentu Maha Mendengar, kok kita ini merasa nggak didengar oleh Alloh, tidak merasa dilihat oleh Alloh, amalan kita seenaknya sendiri. Lha ini namanya amalannya tidak sesuai dengan imannya.

 

Setelah kita ini iman kepada Rosululloh SAW, bahwasanya Rosululloh adalah utusan Alloh, semulia-mulianya makhluq. Dialah makhluq Alloh yang diutus untuk menjemput kita menuju ridho Alloh, menuntun kita kepada surga Alloh. Semulia-mulianya makhluq, pimpinannya para nabi, para rosul, yang mendapatkan bimbingan langsung dari Alloh. وما ينطق عن الهوى إن هو الى وحي يوحا . Semua ucapannya dari bimbingannya Alloh. Kalau kita sudah punya keyakinan demikian, maka siang dan malam kita sesuaikan kehidupan kita dengan kehidupan rosululloh SAW. Kita mencintai rosululloh SAW, mencintai sunnah – sunnahnya, mencintai umatnya, mencintai perjuangannya, mencintai sesuatu yang berkaitan dengan Rosululloh SAW. Apa saja kok ada kaitan dengan Rosululloh, maka dicintai. Bahasa Rosululloh lebih dicintai daripada bahasa dia sendiri. Kebiasaan Rosululloh lebih dicintai daripada kebiasaan dia sendiri. Ada orang, yang dimulyakan Alloh Ta’ala, mengatakan : “Saya ini ya islam, tapi saya ini kan orang jawa?!” “Bukan!! Kamu ini bukan orang Jawa.” “Saya ini orang Jawa, maka ya saya pertahankan kejawen saya.”

 

“Eh… ojo ngono kuwi. Kleru kuwi. Saya ini islam. Saya ini hamba Alloh, saya ini umat rosululloh, saya ini anak cucunya nabi Adam, tinggalnya di Jawa.”

 

Jadi hubungan kita dengan Alloh, hubungan kita dengan rosululloh harus kita lebihkan melebihi segala hubungan.

 

لا يؤمن أحدكم حتى يكون الله ورسوله أحبّ اليه ممّا سوى هما

 

“Belum termasuk iman yang sempurna, selagi orang belum mencintai Alloh dan rosulnya melebihi apa saja.”

 

Baru sempurna imannya. Kalau nggak begitu imannya belum sempurna. Maka kehidupan rosululloh itulah kehidupan yang kita cintai. Karena ini kehidupannya utusan Alloh, kehidupannya kekasih Alloh, kehidupannya pimpinan para Nabi, kehidupannya orang yang dibimbing langsung oleh Alloh.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Kemudian kita ini ada iman kepada kitabulloh. Satu-satunya kitab Alloh yang dari langit, tinggal satu saja yaitu Al Qur’an. Kitab yang masih asli 100%. Maka kalau kita itu punya keyakinan kepada kitabulloh, mesti kita sesuaikan kehidupan kita dengan kitabulloh. Senang membaca Al Qur’an, senang belajar isinya Al Qur’an. Mesti kita tanamkan dalam hati ilmu yang besar adalah ilmu yang bersumber dari Al Qur’an. Ilmu – ilmu yang bersumber dari otak – otak manusia yang otak manusia ini cuman satu liter saja itu ilmu kecil. Kalau ilmu yang bersumber dari yang mencipta otak, yaitu Al Qur’an, itulah ilmu besar. Maka jangan sampai kita itu nggak mau belajar agama. Saya ini bukan jurusan agama kok, pak… Saya jurusan IPA, maka saya tidak belajar agama.

 

Lho gak… semua orang itu harus belajar agama, semua orang itu harus belajar agama untuk supaya tahu bagaimana aturannya sebagai hamba Alloh. Bagaimana sopan santunnya hidup di bumi Alloh. Bagaimana persiapan akherat. Jadi nggak ada orang itu yang boleh… saya ini bukan jurusan agama, saya ini pak!!! Saya ini jurusan IPS, bukan jurusan agama. Semua orang itu harus belajar agama. Karena semua orang itu adalah hamba Alloh. Semua orang akan ke akherat.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Kita harus punya keyakinan yang benar akan adanya malaikat di kanan kiri kita ini. Di depan belakang kita. Kemudian kita sesuaikan kehidupan kita dengan itu. Sekitar kita ini banyak malaikat – malaikat, makhluq – makhluq yang suci. Dengan macam – macam tugas, yang di antara tugasnya adalah mencatat amal – amal kita. Maka kita mesti hidup ini hati – hati. Kalau orang itu ngomong dicatat, mau dilaporkan kepada seorang raja, bagaimana dia? Mesti ngomongnya dia ini hati-hati. Kalau kita ini dalam kehidupan ada intel dari Polres, yang ngawasi kita ini, umpamanya. Maka kita ini tidak bisa ngomong seenaknya. Wah nanti saya dilaporkan bisa masuk penjara nanti. Tapi kita ini hati-hati, kita ini ada intelnya dari langit. Yaitu para malaikat. Maka kita ngomong hati-hati, berbuat hati-hati. Kalau tidak nanti dicatat malaikat, dibawa ke mahkamah nanti di padang mahsyar.

 

ما يلفظ قولٍ الاّ لديه رقيب عتيد

 

Semua ucapan kita dicatat. Sampai yang sekecil-kecilnya.

 

ما لهذا الكتاب لا يغادر صغيرة ولا كبيرة الاّ احصاها ووجدوا ما عملوا حاضرا

 

Yang kecil, yang besar, semua dicatat. Yang dimulyakan, orang mau maksiat diintip oleh anak kecil, malu. Ya nggak?! Malu, nggak jadi maksiat. Beda dengan orang yang otaknya sudah terkena narkoba itu, rusak jadinya. Kalau otak sudah terkena narkoba, rusak. Nggak punya malu.

 

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

 

Maka diintip anak kecil malu. Lha kita ini lho diintip malaikat 24 jam, bagaimana? Sekarang terus terang di kanan kiri kita ini ada malaikat yang mencatat. “Ini fulan, fulan, dengarkan bayan dengan ngantuk umpamanya. Kamu senang kalau dicatat demikian itu. Oo.. masya Alloh, kita akan malu, yang dimulyakan. Jadi yang dimulyakan Alloh Ta’ala, kita ini harus termenung, kanan kita ini penuh dengan malaikat. Kita tidak bisa melihat, tapi rosululloh melihat. Dan dulu para sahabat, ketika hatinya itu sudah jernih betul, matanya tidak pernah maksiat, mereka ini bisa melihat malaikat. Iya yang dimulyakan. Jadi sahabat itu tingkatan – tingkatan iman itu bisa melihat malaikat. Subhanalloh…

Orang – orang yang suci, orang – orang yang jernih hatinya. Hatinya selalu dzikir. Matanya nggak pernah maksiat. Itu kadang-kadang matanya ditampakkan malaikat kepada mereka. Bukan hanya para sahabat saja. Tapi kalo kita ini, lha wong matanya kotor, banyak maksiat, telinganya banyak dengar musik, hatinya itu lalai, ngantukan, akhirnya melihat syetan, bukan melihat malaikat.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Jadi kita ini, hidup itu perlu direnungi, dirasakan begini ini jangan didengarkan thok. Dirasakan!! Saya duduk dari tadi. Dari habis maghrib sampai sekarang. Ucapan apa yang telah dicatat malaikat, ya? Sakarang ini masih menulis juga malaikat ini. Sekarang nulis apa malaiakat ini. Sehingga kita ini menjadi orang yang lurus yang dimulyakan. Kemudian Yang dimulyakan Alloh SWT, kita tanamkan dalam hati, keyakinan kepada negeri akherat. Dan kemudian kita sesuaikan kehidupan kita ini. Kalau orang itu yakin kepada negeri akherat, akhirnya siang dan malam, berfikir untuk membangun akherat. Tidak rakus dengan dunia. Dunia ini sak cukupnya saja. Nggak usah akeh-akeh. Karena dunia ini yang dimulyakan, hanyalah untuk perbekalan menuju akherat. Lha bekal itu yang bagus yang secukupnya saja. Jangan terlalu banyak. Kita ini mau ke Surabaya. Bekal nasi satu/dua bungkus sudah cukup. Mau ke Surabaya bekalnya nasi bungkus satu truk. Malah ngrepotin. Mau ke Jakarta, berapa bekalnya? 500 ribu cukup. Tapi ada orang yang ingin ke Jakarta bekalnya 5 milyar. Akhirnya ngundang pencuri, ngundang perampok di tengah jalan, jadinya. Digebuki dia di tengah jalan. Ya tho?! Lha terlalu banyak membawa uang. Tapi kalau bawa uang Cuma 500 ribu, insya Alloh selamat. Dan nanti kalau terlalu banyak membawa uang, tidak bisa tidur di perjalanan. Karena takut uangnya akan dicuri orang. Jadi Yang dimulyakan Alloh SWT, dunia ini hanyalah pejalanan menuju akherat. Maka bekalnya secukupnya saja. Nggak usah banyak-banyak. Ini kalau orang berfikir. Maka Nabi itu berdo’a :

 

اللهم اجعل رزقا آل محمد قوتا

 

“Ya Alloh, jadikan rizki keluarga Muhammad itu makanan secukupnya saja.”

 

وَاسْئل رزقا يوما بيوم

 

Nabi itu suka rizki itu dating tiap hari begitu saja. Ngak usah ada nyimpen-nyimpen. Ini nabi suka dengan rizki yang يوما بيوم . Ini orang yang paling cerdas di dunia. Itulah rosululloh SAW, ndak usah nyimpen banyak-banyak. Pokoknya tiap hari makan itu ada, sudah, bagus.

 

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Kita tanamkan keyakinan kepada taqdir. Bahwa segala sesuatu yang akan terjadi telah ditentukan oleh Alloh. Sehingga kita itu tidak akan pusing memikirkan masa yang akan datang. Yang penting kita pikirkan adalah bagaimana sekarang kita itu taat kepada Alloh.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Inilah namanya iman dan amal sholeh. Keyakinannya lurus, kemudian amalnya disesuaikan dengan keyakinannya itu. Tetapi yang dimulyakan, orang yang sudah iman dan amal sholeh inipun masih dalam kerugian. Kecuali kalau disempurnakan dengan :

 

وتوا صوبالحق وتوا صوبالصبر

 

Saling pesan memesan, saling mengajak untuk menjalankan yang haq. Jadi sudah iman amal sholeh, masih rugi juga, kalau kita itu nggak mau dakwah. Lho kenapa, pak? Lha wong sudah bagus, imannya lurus, amalnya lurus, kok masih rugi, kalau nggak dakwah?

Karena apa?! Karena kalau kita nggak dakwah, maksiat-maksiat, kerusakan-kerusakan yang ada di sekitar kita ini, kita dapat dosanya. Sehingga kita itu dapat dosa gratis. Nggak ngamalkan tapi dapat dosanya. Jadi dosa itu bukan harus berbuat dosa. Kita melihat dosa, tapi nggak cawe-cawe, nggak ikut usaha untuk meluruskan kita dapat dosa juga. Seperti kalo kita itu melihat maling, lihat perampok, yang dimulyakan, di depan mata kita, tapi kita ini nggak mau usaha bagaimana kalau perampokan itu bias berhenti. Kita malah duduk, tersenyum-senyum, minum kopi, duduk melihat perampok. Maka nanti kalo polisi datang kita akan ikut ditangkap. “Ini mesti koncone, iki!! Yen gak koncone gak mungkin iki.” Lho saya bukan temannya, pak. Saya bukan siapa-siapa. “kenapa kamu gak mau laporan? Ini kamu juga bagian dari pada sebab terjadinya kejahatan ini. Kenapa kamu tidak usaha apa-apa?”

 

Ini yang dimulyakan Alloh SWT, kalau kita nggak mau amar ma’ruf nahi munkar, kita juga akan dapat resiko juga di depan Alloh. Jangan kita salah paham dengan slogan-slogan orang-orang tidak beriman. Ini zaman demokrasi, zaman kebebasan.

Yo, kebebasan, opo yo kebebasan maling gitu yo tho. Kebebasan kedurhakaan?! Kebebasan bikin kerusakan, begitu?! Lha ini kebebasannya orang gila ini.

 

Tidak bisa, yang dimulyakan. Karena kita membiarkan orang dalam keburukan. Kita mesti usaha sekemampuan kita. Dengan do’a kita, dengan dakwah kita, dengan akhlaq kita, denagn pendekatan kita. Apa yang kita mampu, kita harus amar ma’ruf nahi munkar. Kalau tidak, kita akan dapat dosanya.

 

Maka imam Ghozali dalam kitab Ihya’ mengatakan : ini zaman 500, zaman orang masih banyak orang sholeh. Tapi Imam Ghozali mengatakan, “zaman ini kita duduk di rumah ini dosa. Karena saking banyaknya orang tidak kenal agama, dan tidak ada yang memperingatkan mereka. Maka hari ini kita duduk di rumah ini sudah dosa. Ini Imam Ghozali tahun 500 H, yang dimulyakan. 900 tahun yang lalu. Subhanalloh…

 

Lha kalau Imam Ghozali melihat zaman sekarang ini kayak apa jadinya, yang dimulyakan?! Jadi kita ini, yang dimulyakan, setelah iman amal sholeh ini kita ada kewajiban untuk mikir orang lain, mikir umat, yang dimulyakan. Minimalnya itu ada keprihatinan, kerisauan. Minimal-minimalnya ada do’a ada tangisan. Itu minimal-minimalnya. Kalau tidak kita ini ikut bertanggung jawab.

Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Dan kalau kita ini tidak amar ma’ruf nahi munkar, maka kita ini dinilai di sisi Alloh sebagai orang yang kejam, yang dimulyakan. Karena membiarkan teman-temannya, membiarkan manusia berjalan menuju jahannam. Dan orang yang kejam ini akan dimurkai oleh Alloh. Na’udzubillah…

 

Tapi kalau kita ada amar ma’ruf nahi munkar, maka kita ini dihitung orang yang saying kepada manusia. Kalau kita orang yang sayang akan disayangi oleh Alloh. Maka syekh Yusuf rah. Yang mengarang kitab hayatush shohabah itu, beliau mengumpulkan santri-santrinya. Maukah kamu jadi orang yang disayangi oleh Alloh, maukah kamu jadi orang yang dicintai oleh Alloh? Tentu syekh!!

 

Mudah… Jalannya mudah. Sayangilah umat ini, maka kamu akan disayangi oleh Alloh. Kalau kamu disayangi oleh Alloh, jadi wali, kamu. Ini dari hati. Betul-betul sayang umat. Jangan sampai kita ini membiarkan siapa saja, berjalan menuju jahannam. Kita do’akan, kita dekati. Di kampong kita harus ada piker. Mulai kampong yang paling timur sampai kampong yang paling barat, utara selatan, jangan sampai ada orang yang terjerumus dalam api jahannam. Di negeri kita, kitapun begitu. Jangan sampai ada orang dimana saja yang terjerumus ke dalam api jahannam. Di Seluruh umat begitu juga. Bagaimana umat seluruh alam, mereka berjalan menuju ridho Alloh. Insya Allah yang dimulyakan?! Kita tahu, yang dimulyakan Alloh Ta’ala, bahwa manusia itu ada yang dijatah ke neraka ada, ada jatah ke surga.

 

ولقد ذرأنا لجهنّم كثيرا من الجنّ والإنس

 

Ada orang yang memang jatah ke neraka itu memang ada. Tapi itu bukan urusan kita, itu urusan Alloh itu. Urusan kita ini bagaimana kita ini menyayangi umat. Sebagaimana seorang dokter. Pikirannya bagaimana pasiennya itu bisa sembuh semua. Walaupun kita tahu, bahwa tidak akan yang sembuh itu pasti ada. Yang mati itu mesti ada. Nggak ada rumah sakit, semua masuk sembuh semua. Nggak ada ceritanya. Tetapi namanya seorang dokter, ya pikirannya bagaimana sembuh semua. Kalau dokter itu pikirannya, pokoknya inginnya saya itu, separo pasien saya mati, yang separo hidup. Ini bahaya dokter begini ini. Dokter itu pikirannya bagaimana semua itu sembuh. Adapun kalau ada yang nggak sembuh itu bukan urusannya kita. Itu takdir Alloh. Lha yang dimulyakan. Seorang Kyai juga begitu, pikirnya bagaimana santrinya jadi baik semua. Kalau ada santri yang mbeling itu bukan urusanku. Memang sejak dulu ya pasti ada, santri mbeling itu ya pasti ada. Tapi kalau pikirannya Kyai itu, saya ingin santri saya separo sholeh, separo mbeling, lha ini Kyai gendeng ini namanya. Begitu juga yang dimulyakan, kita ini sebagai penerus Rosululloh SAW. Pikir kita bagaimana semua orang jadi baik. Walaupun kita tahu, mesti ada juga yang nggak mau baik itu ada juga. Nabi dakwah siang dan malam, sebagian jadi Abu Bakar, sebagian jadi Abu Jahal. Itu urusan Alloh. Tapi nabi juga terus dakwah siang dan malam. Nanti kita itu begitu yang dimulyakan. Dan dakwah itu adalah maksud yang terpenting. Bukanlah orang itu mau. Tapi maksud yang terpenting supaya kita ini bisa sayang kepada umat, sehingga kita disayangi oleh Alloh. Itu maksud yang terpenting. Dakwah itu maksud yang terpenting itu bagaimana maksudnya? Kita dapat ridho Alloh, itu maksud yang terpenting. Orang mau, orang tidak mau, itu nomer 2. ini maksud terpenting dari dakwah, supaya kita itu dapat ridho Alloh. Nabi Nuh itu dakwah 950 tahun, dapat orang cuman sedikit… Padahal dakwah beliau itu sudah sempurna. ليلا ونهارا . “Siang dan Malam”. Setiap 12 tahun kurang lebih dapat satu orang. Subhanalloh… Tapi Alloh tidak marah kepada Nabi Nuh. “Nuh kamu tidak dapat tasykilan, bagaimana tho Nuh, Nuh!!” tapi Alloh mengatakan :

 

سلام على نوحٍ فى العالمين

 

Salamnya Alloh untuk Nuh

 

Jadi Alloh SWT kirim salam buat Nabi Nuh AS. Karena apa? Nabi Nuh sudah menunaikan tugasnya.

 

انّى دعوت قومى ليلا ونهارا

 

Siang dan malam sudah dakwah. Nanti kita itu begitu yang dimulyakan. Terus dakwah. Orang mau orang tidak mau kita tetep dapat pahala terus. Seperti dokter itu ngobati orang, sembuh nggak sembuh, itu ya dapet gaji terus. Enak jadi dokter itu. Lha jadi Da’I juga begitu. Orang mau, orang nggak mau tetep dapat pahala terus. Maka kalau orang tidak mau, kita jangan marah. Lha wong sudah dapat pahala kok marah?! Ini gimana ini? Kalau orang itu ngajak orang, trus nggak mau kok marah… lha itu tandanya dakwahnya nggak cari pahala ini. Kalau tetap dakwahnya cari pahala, orang mau orang nggak mau ya tetap senang saja. Wah kesempatan ini… dia sekarang nggak mau, ini kesempatan saya besok bisa ke sini lagi. Dapat pahala lagi. Lha kok nolak lagi, lha ini pekerjaannya diperpanjang ini. Pahalanya tambah banyak lagi ini. Bagaimana yang dimulyakan?!

 

Jadi kita ini dakwah hanya agar supaya dapat ridho Alloh saja. Dan kalau orang itu dakwah semata-mata hanya mengharap ridho Alloh, kemudian dia teruskan do’a kepada Alloh, maka do’a-do’anya akan makbul, yang dimulyakan.

 

Lha yang dimulyakan, sudah iman, amal sholeh, dakwah, masih rugi juga kalau tidak disempurnakan dengan yang satu lagi. Yaitu sabar.

 

وتوا صوبالصبر

 

Harus sabar… Bagaimana supaya sabar? Kalau kita merasa dunia ini tidak lama, ya kita sabar. Kalau kita merasa dunia ini lama, nggak akan sabar kita ini. Kamu kerja mulai pagi sampai sore, saya gaji satu milyar insya Alloh semuanya siap. Tapi kalau ada orang dikasih tahu. “Kamu kerja seratus tahun, saya kasih satu milyar. Ya nggak ada yang mau angkat tangan. Lha 100 th kon nyambut gawe. Opo yo ono sing kuat?

 

Lha begitu juga yang dimulyakan. Kalau kita merasa dunia ini tidak lama, maka amal itu jadi sabar. Walah ndonya ora suwe… paling 60 th – 70 th. 60 th – 70 th itu kalau dihitung dari lahir. Lha ini sekarang sudah 50 tahun lho. Tinggal sedikit lagi ini, yo tho, masya Alloh. Dunia 60 tahun-70 tahun, itu dihitung mulai lahir lho pak. Bukan dihitung muali sekarang. Kalau dihitung mulai sekarang tinggal sedikit lagi. Kalau dihitung umur kita yang sebenarnya, tidak tahu. Mungkin tinggal 1 bulan lagi, mungkin juga tinggal seminggu lagi, mungkin juga lebih dekat dari itu. Kita semua nggak tahu. Jadi kalau kita merasa dunia ini sebentar, maka amal kebaikan jadi sabar.

 

 

Nha Yang dimulyakan Alloh SWT

 

Bagaimana caranya supaya kita bisa dapat ini semua, yang dimulyakan? Bisa iman, amal sholeh, suasana dakwah, sabar, sehingga kita itu tidak jadi orang rugi, menjadi orang yang beruntung itu caranya bagaimana?

 

Caranya kalau kita itu menceburkan diri kita ini ke dalam perjuangan usaha Rosululloh SAW. Siang malam dakwah, hidupkan taklim, do’a nangis kepada Alloh dengan akhlaq yang baik. Maka Yang dimulyakan Alloh SWT, kita akan mendapatkan ini semua. Ada seorang orang tua kita itu memberikan nasehat. Kemulyaan kita di dunia dan di akherat hanya ada dengan satu jalan saja. Yaitu kalau iman kita lurus, amal kita lurus. Sudah nggak ada yang lain. Kalau iman kita lurus, amal kita lurus dijamin oleh Alloh kebaikan dunia kebaikan akherat. Tapi bagaimana supaya iman dan amal kita lurus?

 

Kalau kita melihat sejarah Nabi, untuk meluruskan iman meluruskan amal, itu dimulai dengan kerja dakwah. Mewujudkan suasana dakwah. Maka Nabi itu yang diusahakan pertama kali adalah usaha dakwah. Membuat suasana dakwah di Makkah Al Mukarromah. Sendirian Beliau.

 

قم فأنظر

 

Beliau berangkat mendatangi setiap orang, mendatangi setiap rumah. Semua orang dikasih tahu sama Nabi.

 

ايّـها الناس قولوا لا إله الاّ الله تفلحوا

 

“Hai manusia, katakanlah لا إله الاّ الله kamu akan sukses.”

 

Hambakan diri kamu kepada Alloh, kamu akan selamat. Kamu ini hamba Alloh, tidak ada jalan keselamatan, selain kamu menghambakan diri kamu kepada Alloh. Tiap orang didatangi, tiap lorong didatangi. Ini pertama kali usaha rosululloh SAW. Dan inilah yang ingin kita usahakan sekarang yang dimulyakan. Asalnya dulunya itu gelap gulita. Tetapi yang dimulyakan setelah Rosululloh mulai gerak ini dari orang ke orang. Dari rumah ke rumah, dari kampong ke kampong.

 

“Hai manusia ucapkanlah لا إله الاّ الله kamu akan sukses.”

 

Kelihatannya sederhana… sekali usaha Nabi itu. Tapi dengan usaha yang sederhana seperti itu, karena kerja ini perintah Alloh, yang dimulyakan, hasilnya tidak sederhana. Hasilnya adalah muncul-muncul orang yang baik. Orang-orang yang terbaik muncul setelah ada kerja itu yang dimulyakan. Muncullah wali Alloh Abu Bakar Ash Shiddiq ra. Sayyidina Umar Ibnu Khottob ra. Sayyidina Utsman Ibnu Affan ra. Sayyidina Ali bin Abi Tholib ra. Itu munculnya orang-orang yang hebat – hebat itu dari mana?

 

Setelah Nabi dakwah. Sebelum Nabi dakwah, Abu Bakar itu ya Cuma pedagang Makkah itu saja. Sebelum Nabi dakwah, Sayyidina Umar itu ya Cuma pemuda jagoan githu saja. Tapi setelah Nabi dakwah, maka Abu Bakar menjadi Abu bakar Ash Shiddiq, yang menyebarkan agama kemana-mana. Umar menjadi Umar Al Faruq. Yang kalau berjalan syetan-syetan pada lari semuanya. Yang dulunya Cuma jagoan Makkah githu saja, senengane gelut wae. Lha kok dadi Umar Al Faruq yang syetan pun ketakutan melihat Umar. Kapan ini terjadi? Setelah ada dakwahnya Rosululloh SAW. Jadi setelah dakwah itu yang dimulyakan, akan muncul orang-orang yang sholeh, muncul orang-orang yang baik. itu setelah dakwah, yang dimulyakan. Sebelum ada dakwah, pokoknya wonge yo wis sumpek terus. Maka nanti kalau kita itu dakwah mengikuti jejak Rosululloh SAW, maka kita akan melihat pengalaman-pengalaman seperti pengalamannya Rosululloh SAW. Orang maksiat jadi taat, orang kafir jadi iman, orang buruk jadi baik, akan kita lihat terus menerus. Hari-hari akan kita lihat. Dan sudah kita lihat dimana-mana yang dimulyakan. dengan kerja-kerja dakwah ini maka banyak orang akan diperbaiki oleh Alloh SWT. Di seluruh dunia, bukan hanya di negeri kita saja. Tetapi kata para ulama’, yang dimulyakan, dakwah ini tidak akan ada kekuatannya, kecuali kalau ada mujahadah. Lha kalau mujahadah, orang itu harus ada pengorbanan. Kalau dakwah ini tidak dibarengi dengan pengorbanan, maka tidak ada kekuatannya.

 

Yang dimulyakan Alloh Ta’ala

 

Dan mujahadah ini tidak akan ada kekuatannya kalau tidak dibarengi dengan inabah. Inabah itu nangis kepada Alloh. Dan inabah (nangis kepada Alloh) tidak ada kekuatannya, do’a-do’a tidak akan makbul kecuali kalau orang itu akhlaqnya baik, makanannya halal. Jadi untuk mewujudkan iman dan amal sholeh itu pertama kali usaha dakwah. Tapi dakwah ini supaya ada kekuatan harus ada mujahadah. Kita ini harus mau susah payah untuk dakwah ini. Tidak hanya enak-enakan saja, itu tidak bisa. Nanti kalau dakwah enak-enakan. Nha gawat yang dimulyakan, nanti dakwah itu setrumnya hilang, sehingga jadi gelap juga. Sehingga dimana-mana ada dakwah, justru yang muncul adalah kemaksiatan. Kenapa yang dimulyakan Alloh SWT? Karena tidak dibarengi mujahadah. Kalau dibarengi mujahadah, orang itu mau susah payah untuk agama, maka dakwahnya jadi nur. Bercahaya. Maka jamaah-jamaah dikirim kemana-mana sekarang, ada berita-berita, banyak orang-orang taubat, banyak orang-orang mau sholat dan sebagainya. Tetapi mujahadah ini harus dibarengi dengan inabah, do’a. dan do’a ini yang dimulyakan, syaratnya kita itu harus dengan akhlaq yang baik dan makanan yang halal. Kalau orang itu makanannya tidak begitu halal, akhlaqnya nggak baik, do’anya nggak bisa naik ke langit. Maka kita perlu latihan yang dimulyakan. latihannya bagaimana? Kita tinggalkan sementara kesibukan-kesibukan kita, kita konsentrasi mau belajar. Belajar perjuangan rosululloh, perjuangan para sahabat, belajar iman amal sholeh, belajar dakwah, belajar do’a, belajar mujahadah. Lah ini caranya bagaimana? Kita siapkan waktu pertama 4 bulan. Insya Alloh yang dimulyakan?! 4 bulan ini ada rahasianya yang dimulyakan. kata para ulama 4 bulan itu ada rahasianya. Orang itu kalau amal selama 4 bulan terus-menerus, maka amal itu akan jadi sifat dia, kebiasaan dia. Tapi kalau amal itu belum 4 bulan, ini kadang-kadang masih banyak kumatannya ini. Sudah baik, kumat lagi, sudah baik, kumat lagi. Tapi kalau sudah 4 bulan itu insya Alloh kemungkinannya kumat itu sudah agak sedikit lah. Ada juga kemungkinannya kumat itu, tapi sudah agak sedikit. Maka yang dimulyakan Alloh SWT, ketika Rosululloh SAW telah menaklukkan Makkah, maka Beliau mengatakan kepada orang Makkah, “Saya kasih kesempatan kepada kamu untuk berkumpul dengan orang islam selama 4 bulan.”

 

Orang-orang kafir itu dikasih kesempatan berkumpul dengan orang islam selama 4 bulan. Lha yang dimulyakan Alloh Ta’ala dengan berkumpulnya orang-orag Makkah dengan orang-orang islam selama 4 bulan itu, ini pada tahun 8 H setelah fathul Makkah, maka terjadi perubahan yang luar biasa. Ternyata seluruh orang Makkah akhirnya masuk islam semua. Jadi perkumpulan dengan orang-orang sholeh, dengan orang-orang baik selama 4 bulan akan ada kesan yang khas dalam dirinya. Maka yang sudah 4 bulan 40 hari, ini waktunya 4 bulan. Bagaimana yang dimulyakan. yang sudah 4 bulan, 4 bulan lagi. Barang kali 4 bulannya yang dulu itu masih banyak ngantuknya. Masih banyak gothangnya. Lha sekarang disempurnakan 4 bulan lagi. 4 bulan yang benar-benar sempurna. Insya Alloh Yang dimulyakan?! maka siapa yang niat 4 bulan 40 hari silahkan berdiri. Sing nate medal 40 dinten sakniki niat 4 wulan. Sing dereng nate 40 dinten sakniki niat 40 dinten. Monggo…nek kitho ini mikir niki perkoro agami yen kangge urusane piyambake dhewe-dhewe yo ringan nggeh pak. Kados sampeyan macul teng sawahe sampeyan piyambak meskipun 40 tahun yo siap. Lha wong sawah-sawahe dhewe. Nek sampeyan diken macul teng sawahe wong, mung 3 dino wae yow is ora kuat. Lha iki urusan agami niki urusane dhewe-dhewe lho pak, mbangun akherate dhewe-dhewe, mosok 4 wulan niku wae sampeyan kabotan. Wong kanggo omahe dhewe-dhewe. Dudu omahe wong liyo. Insya Alloh Yang dimulyakan…

 

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: