Buyaathaillah's Blog

Bayan Maulana Saad Al Khandalawi : Iman dan Qudratullah

 

Tarjim: Maulana Harun
Kemudian dengan agama itulah keadaan diperbaiki dan hamba-hamba-Nya juga. Tapi sampai hari kiamat ketentuan Allah I tidak akan berubah. Dan tidak ada seorang pun mampu merubah ketetapan Allah I  ini.  Allah I firmankan kepada Rasulullah r “wahai Nabi, jika engkau ingin merubah ketetapan kami, maka engkau tidak akan mendapatkan tempat untuk penjagaannya.Bila engkau ingin merubah ketetapanku, maka engkau tidak akan mendapat tempat yang engkau bisa selamat di sana.” Ketentuan Allah I, aturan Allah I adalah untuk membenahi dan tarbiyah umat. Allah I tentukan jalan, yang dengan jalan itu para sahabat mendapatkan hidayah. Dan dengan jalan itu pula mereka mendapat faedah langsung dari Allah I. Allah I telah tentukan jalan itu sampai hari kiamat. Maka di jaman sahabat pun jika orang masuk Islam dan ingin mendapatkan agama sempurna, atau ingin menyelesaikan masalahnya, kemudian mencari jalan lain meninggalkan jalan itu, maka pikiran mereka, usaha mereka akan bertentangan dengan ketentuan Allah I.

 

Maka pikiran mereka, usaha mereka pasti bertentangan dengan ketentuan Allah I. Di dunia ini, pekerjaan kecil saja bila bertentangan dengan peraturan pemerintah, kita tahu pasti akan mendapat masalah. Padahal itu aturan pemerintah yang dibuat manusia sendiri. Lalu bagaimana dengan ketentuan Allah I? Maka siapa yang akan melanggar ketentuan Allah I ini? Sedangkan ketentuan Allah I tidak akan berubah. Jika tinggalkan dan menyelesaikan masalah kita – semoga Allah I ampuni kita – bahkan para dai pun berfikir, “iya betul, memang dakwah ini betul. Tapi segala kerusakan, musibah yang ada sekarang ini, untuk menyelesaikan masalah ini maka bagaimana penyelesaiannya yang sesuai jaman sekarang.” Bila kita berfikir seperti itu bahwa untuk menyelesaikan masalah-masalah, penyelesaian masalah ini, untuk perbaikan muasyarah apa yang harus kita lakukan di jaman ini? Ini kenapa muncul pertanyaan begini? Sebab setan telah membuat kita lupa jalan yang dibuat oleh para anbiya dan para sahabat. Usaha para anbiya dan para sahabat adalah jalan yang pasti untuk mendapat hidayah, tarbiyah dan keamanan. Inilah ketentuan dari Allah I.

 

Maka pada masa kapan pun apabila ada kerugian, kekurangan dan keadaan musibah yang menimpa kita, bila kita ingin selamat dari itu semua lalu kita adakan cara-cara baru, maka keadaan akan lebih buruk lagi dan kerugian pasti lebih besar lagi. Sebab, kerugian pertama adalah kita tinggalkan cara Nabi r. Kemudian kerugian berikutnya kita mengikuti cara orang-orang kafir. Tolong dengarkan dengan baik-baik. Kita mesti yakin dari hati kita yang paling dalam, Allah I di jaman ini, Allah I yang telah beri kita kerja ini, ini adalah usaha yang dilakukan bersama para anbiya dan para sahabat. Allah I tentukan menjadi jalan hidayah, tarbiyah dan tazkiyah dan jalan perbaikan untuk segala macam keadaan sampai hari kiamat. Ini Allah I sudah janjikan pada kita. Ini harus kita yakini. Amal dakwah adalah amal nubuwwah. Amal dakwah adalah amal nubuwwah. Amal dakwah adalah amal nubuwwah. Yang di dalamnya Allah I menjadikan penyelesaian masalah. Dan Allah I menjanjikan memberikan garansi/jaminan bahwa di situ ada penyelesaian masalah.

 

Lihat polisi yang paling rendah pangkatnya pun dia berjanji akan menyelasaikan masalah apa pun maka penjahat pun akan sombong. “Siapa pun tidak bisa berbuat apa pun pada saya. Sebab kalau saya tertangkap, polisi itu janji akan melepaskan saya.”  Lihat, apabila Allah I telah menjanjikan, menjamin keamanan, hidayah kemudian dimasukkan ke dalam surga, mestinya seperti apa rasa senang yang kita dapatkan kalau Allah I sendiri memberikan jaminan-Nya pada kita. Bahkan kita harus yakin atas hal ini, bahwa Allah I telah memberikan jalan pada kita jalan yang dijadikan sebagai tazkiyah, maghfirah, penjagaan, Allah I telah janjikan itu. Maka hadirin yang mulia, yang pertama kali hendaknya kita pikirkan, kenapa dakwah mesti seperti ini? Kenapa sebenarnya? Pada akhirnya kenapa kita dapat kerja ini? Dengan amal dakwah, yang dimaksud itu apa? Apa maksud amal dakwah ini? Maksud amal dakwah adalah umat dari sisi dakwah dan ibadah sampai kepada level tatkala Rasulullah r meninggalkan para sahabat. Tinggalkan umat. Dalam sisi ibadah dan dakwah umat kembali sampai level tatkala Rasulullah r tinggalkan para sahabat.

 

Suasana seperti itu tidak akan kita dapatkan selama cara itu belum ada dalam kehidupan umat Islam. Maka selama cara yang dulu dilakukan oleh Rasulullah r dan para sahabat belum wujud dalam diri umat seratus persen, sampai kapan pun hidayah, keberkahan dan tarbiyah tidak akan didapatkan oleh umat ini sebagaimana yang dulu Allah I berikan kepada para sahabat. Ini penting ini, asas ini. Maka kita mesti menghidupkan cara/usaha yang di situ Allah I janjikan ada tarbiyah. Allah I firmankan, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا  Allah I memberikan hidayah hanya kepada mereka yang berusaha sesuai cara yang Allah I berikan. Bila ada satu masalah datang maka pada umumnya kita ini langsung berfikir asbab, pada pemerintah, pada asbab-asbab yang sama dimiliki oleh orang kafir, kita langsung berfikir ke arah sana sampai kita lupa pada asbab para anbiya dan para sahabat. Syaikh Ilyas Rah.a. katakan, “Orang  yang meninggalkan cara para sahabat t, dia akan melawan kebatilan dengan kebatilan. Dia akan melawan kerusakan dengan kerusakan. Dia akan melawan masalah dengan masalah. Dia akan melawan masalah dengan masalah baru.” Apabila orang melawan masalah dengan masalah, maka masalah ketemu masalah, akan makin parah. Akan berbenturan. Maka kebatilan akan sukses. Orang mengatakan, “ini kan amal masjid. Apa hubungannya dengan masalah-masalah yang muncul pada zaman sekarang?”

 

Tolong dengarkan baik-baik. Ini terutama untuk orang Mewat ini. Untuk kalian orang Mewat, apabila untuk menyelesaikan masalah kalian tinggalkan jalan ini, masalah-masalah yang menimpa orang lain akan Allah I timpakan dua kali lipat pada kalian. Sebab ada orang yang meninggalkan jalan karena tidak tahu, ada yang meninggalkan jalan walaupun sudah tahu, beda itu. Dalam hadits, sebab adanya orang-orang yang memakmurkan masjid, Allah I hindarkan adzab yang telah Allah I takdirkan akan datang. Padahal adzab itu sudah Allah I takdirkan akan datang. Adzab seperti itu pun Allah I singkirkan. Kenapa? Karena ada orang yang memakmurkan masjid. Sebab apa? Sebab orang yang memakmurkan masjid. Adzab yang sudah Allah I putuskan datang pun Allah I singkirkan. Sebab orang-orang yang memakmurkan masjid itu, Allah I singkirkan adzab. Maksud saya sampaikan ini adalah jangan sampai melawan masalah dengan masalah. Tapi yang kita fikirkan bahwa cara apa yang dibuat oleh Rasulullah r dan para sahabat yang dengan cara itu Allah I jadikan kesuksesan di setiap masa. Allah I putuskan untuk setiap masa. Allah I firmankan, وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا  barangsiapa yang berbuat usaha sesuai cara yang aku tentukan, لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا pasti akan aku beri hidayah. Maka yang perlu kita fikirkan adalah cara sahabat itu. Cara usaha mereka bagaimana? Cara usaha sahabat itu apa?

 

Usaha sahabat adalah, dengarkan baik-baik, para sahabat untuk menguatkan dan mematangkan iman mereka – sebab iman  itu adalah menjadi asas untuk semua amal – para sahabat punya satu usaha, yaitu setiap orang mukmin dibawa ke masjid dan di masjid ada majelis iman. Setiap orang ditemui, disampaikan pada mereka bahwa di masjid ada halaqah iman tolong bapak datang. Ini adalah kebiasaan para sahabat. Setiap orang ditemui dan dibawa ke masjid karena di sana ada halaqah iman. Dengan kunjungan-kunjungan, ziarah maka mereka dikumpulkan di masjid. “Mari, mari, ayo, ayo ikut ke masjid kita duduk sebentar dalam halaqah iman.” Sebab dengan cara itu mereka menguatkan iman mereka. Mereka katakan, “Ayo duduk di sini, sehingga dengan ini iman kita akan bertambah.”

 

Maksud utama kunjungan kita adalah bagaimana orang-orang yang bertebaran di luar masjid, di tengah-tengah suasana kebendaan, kita keluarkan dari suasana itu dan kita bawa ke masjid. Yang sering, benda-benda itulah yang mendatangkan masalah-masalah mereka. Maka usaha pertama atas kalimat thayyibah adalah itu tadi. Untuk belajar yakin ikuti cara sahabat. Untuk belajar iman ikuti cara sahabat. Untuk belajar iman ikuti cara sahabat. Sahabat Abdullah bin Rawahah, Muadz bin Jabal, Umar, Ubay bin Kaab dan Abu Hurairah R.hum, dan banyak sahabat-sahabat yang diriwayatkan bahwa mereka membuat majelis iman dan menjumpai satu-satu sahabat. “Ayo ke masjid, sebentar saja, agar iman kita bertambah.” Maksud perjumpaan kita, dialog kita adalah mengeluarkan setiap orang dari suasana mereka ke suasana masjid. Sebab tempat untuk tarbiyah dan membuat hubungan dengan Allah I adalah masjid.  Dalam hadits dikatakan bahwa orang-orang yang berkumpul di masjid, malaikat akan bersusun-susun sampai ke langit. Dan Allah I sebut-sebut mereka di depan makhluk yang sangat dekat, yang ahli ibadah pada Allah I, yakni di depan para malaikat. Allah I sebut-sebut mereka. Allah I sebut mereka. Siapa? Orang-orang yang membuat majelis iman di masjid.

 

Maka kerja kita adalah dengan kunjungan-kunjungan kita kumpulkan orang ke masjid. “Ayo,ayo, sebentar saja ke masjid, untuk menambah iman kita.” Ini adalah cara para sahabat untuk menguatkan iman. Dengan kunjungan- kujungan itu orang dikumpulkan di masjid. Lihat cara sahabat adalah membawa orang dari suasana mereka ke masjid. Dibawa ke masjid lalu berbicara di masjid. Dikumpulkan di masjid. “Sebentar, sebentar kita duduk di sini beriman kepada Allah I.” Inilah  cara sahabat untuk mendapatkan hakikat dan keikhlasan kalimat thayyibah.

 

Allah I perintahkan orang beriman untuk beriman, يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا آَمِنُوا Wahai orang yang beriman, berimanlah kalian. Apa maksudnya? Maksudnya adalah orang mukmin lebih berhak atas kalimat Laa ilaaha illallah. Sebab semua takaza kalimah berhubungan dengan orang mukmin. Maka orang beriman diperintahkan untuk beriman. Tadi masalahnya adalah, tempat untuk tarbiyah dan membuat hubungan dengan Allah I adalah masjid. Maka dengan kunjungan-kunjungan, kumpulkan orang di masjid. “Ayolah ke sini sebentar untuk beriman pada Allah I.” Hadirin yang mulia, asas amal adalah iman. Kami dulu belajar iman kemudian belajar Al Quran. Iman akan mendorong orang untuk menyempurnakan semua perintah Allah I. Cara belajar iman adalah membuat majelis iman di masjid dan seperti para sahabat melakukan kujungan-kunjungan lalu mengumpulkan orang di masjid. Sebab kebatilan yang ada di luar masjid, semua itu kenapa bisa muncul? Karena orang-orang Islam melewatkan waktu di luar masjid.

 

Seandainya orang Islam melewatkan waktu luangnya untuk masjid, maka semua kebatilan itu akan hilang semua, kata Maulana Ilyas Rah.a. Seandainya orang Islam melewatkan waktu luangnya saja, waktu kosongnya saja untuk masjid maka kebatilan itu habis. Kita kumpulkan orang-orang mukmin ke dalam majelis iman. Empat cara akan menguatkan iman.

Pertama adalah qudrat Allah I, kehebatan Allah I, kebesaran Allah I, tauhid Allah I kita bayankan. Bawa orang dari suasana pasar ke masjid, kemudian di situ sampaikan kebesaran Allah I. Bawa ke suasana masjid kemudian pahamkan kehebatan Allah I, kebesaran Allah I.  Sebab hari ini hati tidak terkesan lagi dengan kehebatan Allah I. Kenapa? Siapa bisa mengatakan hari ini orang Islam tidak lagi terkesan dengan kehebatan Allah I? Orang yang tahu satu perkara agama kemudian dia tidak amalkan maka itu pertanda hatinya kosong dari rasa takut kepada Allah I. Maka hatinya kosong dari rasa takut kepada Allah I. Orang yang tahu sesuatu yang haram tapi dia langgar, dia tidak menghindarkan dirinya, itu pertanda hatinya kosong dari rasa takut kepada Allah I. Hatinya kosong dari rasa takut kepada Allah I. Seorang tahu bahwa perintah adalah wajib lalu dia tidak kerjakan, berarti hatinya kosong dari rasa takut kepada Allah I. Sebab kita semua menganggap bahwa iman khayalan itu cukup. Iman khayalan. “Kita kan sudah beriman, untuk apa beriman lagi?” Mengherankan sekali. Dan akhirnya dengan fikiran semacam ini dakwah diarahkan untuk orang-orang kafir. Dan orang terpelajar pun mengatakan “apa, tabligh kok pada orang muslim!? Tabligh itu bukan kepada orang muslim. Masa dakwah begitu caranya!?

 

Padahal Nabi dan  para sahabat kan usahanya pada orang kafir.” Ini saya pahamkan bahwa, tinggalkan kesalahpahaman ini. Tidak, tidak begitu. Usaha para sahabat tidak hanya pada orang kafir. Para anbiya dan sahabat yang paling utama adalah usaha mereka kepada saudara muslim. Dua ratus ribu anbiya diutus ke dunia ini, dalam satu riwayat, dari dua ratus itu kebanyakan diutus untuk orang-orang muslim. Untuk siapa? Orang yang sudah muslim. Hari ini orang menganggap, berfikiran, dakwah itu untuk orang kafir saja. Bagaimana ini? Usaha panjang lebar yang dibuat oleh para sahabat adalah untuk saudara muslim. Para anbiya dakwah pada orang muslim sendiri. Nabi Musa u dakwah pada Fir’aun singkat. Tapi untuk bani israil gimana usahanya? Untuk orang muslim, untuk Bani Israil usahaya lebih panjang. Usahanya begtu panjang, sampai karena kesabaran dan ketakwaan mereka Allah I siksa Fir’aun. Hari ini, usaha ini hilang dari umat Islam. Yang dengan usaha itu Allah I akan hancurkan kebatilan. Kalian orang kafir jadi penghalang orang mukmin? Allah I akan siksa ahli batil. Haq dalam sabar dan takwa.

 

Bila orang mukmin tidak punya sabar dan takwa, maka Allah I akan kuasakan ahli batil pada orang mukmin. Maka medan yang sebenarnya dari dakwah ini adalah orang muslim sendiri. Medan dakwah yang sebenarnya adalah orang-orang muslim. Tadi saya sampaikan jalannya para sahabat adalah sesama sahabat. Khususinya sahabat adalah sesama sahabat.

Dalam Quran :

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ,

ini dalam Quran. Mufasirin menulis: apabila shalat sudah selesai maka kebaikan yang engkau dengar di dalam masjid, perkara agama yang engkau dengar di dalam masjid, bawa itu keluar masjid, menyebar, bila engkau ingin karunia Allah I. Begitu muffasirin menulis. Bila ingin fadhlullah, karunia Allah I. Apa itu fadhlullah? Fadhlullah yang paling besar adalah bersama para anbiya. Dalam Al Quran banyak tempat Allah I sampaikan fadhlullah diberikan pada para anbiya.

وَكَانَ فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا

wahai Nabi, fadhlullah atas engkau ini besar sekali. Fadhlullah paling besar adalah untukmu wahai Nabi. Pada umumnya orang beranggapan bahwa fadhlullah adalah perdagangan, perniagaan saja. Apa? perniagaan saja. Pada umumnya begitu anggapannya. Lihat dalam tafsir Al Mazhhari. Makanya menganggap fadhlullah itu apa? Mencari rizki, mencari roti, mencari makan. Padahal kalau ingin mencari fadhlullah seperti yang Allah I berikan pada siapa? Pada para anbiya. Kalau ingin itu, selesai shalat maka apa pun yang kalian dengar di masjid maka menyebarlah di muka bumi dan sebarkanlah itu. Menyebarlah! Bisa dipahami tidak? Maka saya gembira sekali pada saat sekarang ini. Setiap amal itu ada buktinya dari Al Quran. Tapi kita buat dakwah ini sebagai organisasi. Bila engkau ingin fadhlullah sebagaimana yang Allah I  berikan pada para anbiya. Fadhlullah paling besar adalah untuk para anbiya.

 

Allah I ta’ala firmankan sendiri

أَمْ يَحْسُدُونَ النَّاسَ عَلَى مَا آَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ فَقَدْ آَتَيْنَا آَلَ إِبْرَاهِيمَ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ,

apakah manusia cemburu, iri, pada fadhlullah yang diberikan pada para anbiya. Kami berikan al kitab dan hikmah pada anak-anak Nabi Ibrahim as. Allah I di banyak tempat dalam Al Quran menyebut fadhlullah adalah pemberian yang Allah I berikan pada para anbiya. Itu yang Allah I sebut fadhlullah dalam Al Quran. Maka untuk menguatkan iman ada empat jalan. Ya, ini cara, ini jalan untuk menguatkan iman. Tapi usahanya apa? Bentuk usahanya apa? Yang dengan usaha itu para sahabat menguatkan iman mereka sendiri. Caranya adalah ini tadi. Maka hendakya kita ingat bahwa maksud kita jaulah, khususi bukan untuk berbicara di pasar atau di rumah, bukan. Tapi maksud jaulah, khususi kita adalah kita targhib singkat dan sampaikan fadhilah masjid dan kita bawa ke suasana masjid. Tolong ditulis ini. Terutama ini orang-orang Mewat. Sebab kalian orang Mewat banyak waktu luang, banyak waktu kosong. Maka setan gunakan waktu kosong itu sehingga banyak masalah-masalah baru.

 

Maulana Ilyas Rah.a. mengatakan bahwa orang yang tidak melihat cara sahabat adalah cara sukses maka dia akan memperbaiki kebaikan dengan cara yang batil. Dengan cara kebatilan dia akan perbaiki kebenaran. Ada orang-orang yang berkata kepada perusak, “tolong perbaiki kami.” Pada orang-orang perusak mengatakan tolong perbaiki kami. Padahal ini perusak. Bagaimana harus saya sampaikan. Ya ini kan kerja para mulwi, para ustadz. Ini kan cuma satu pergerakan saja. Islahul muslimin. Kan banyak pergerakan-pergerakan lain. Ini adalah salah satu pergerakan saja ini. Darimana, darimana ini dapatnya? Allah I untuk setiap masa sampai hari kiamat untuk menyelamatkan orang muslim dari kerugian adalah: Allah I  beri jalan dakwah. Orang yang meninggalkan jalan ini maka dakwah yang dipilih di situ tidak ada janji Allah I.  Tadi sudah sampaikan, adzab yang sudah diputuskan turun pun Allah I akan hindarkan asbab ada orang yang memakmurkan masjid.

 

Tadi saya sampaikan bahwa maksud jaulah, khususi kita adalah membawa orang ke dalam masjid. Bawa ke masjid, saya ingin bicara di masjid. Sayyidina Umar t pegang satu dua orang tangan mereka bawa ke masjid.  Tolong bisa dimengerti. Bicara pada siapa kalau begitu? Bicara pada orang kafir? Bukan, pada orang muslim. Bahkan hari ini para dai pun berfikir bahwa para sahabat tidak ada usaha sesama sahabat. Padahal maksud usaha kita ini adalah menghidupkan usaha yang dulu dibuat oleh sahabat atas sesama sahabat. Usaha yang dibuat sahabat untuk sesama sahabat. Agar kita tahu apa sebenarnya yang menjadi asbab kekuatan iman dan amal mereka. Dari mana kekuatan dan kehebatan derajat iman dan amal mereka dapatkan? Maka membawa orang ke masjid lalu diajak bicara di sana, ini adalah yang asas. Dalam hadits dikatakan bahwa orang yang berjalan ke masjid  untuk belajar dan mengajarkan satu kebaikan Allah I berikan pahala haji yang sempurna. Haji yang makbul dan sempurna, untuk siapa pahala itu? Untuk orang yang berjalan ke masjid baik untuk belajar atau mengajar.

 

Kita ini tidak pernah dapatkan dalam kehidupan sahabat ketika jaulah bicara di rumah, tapi orang dibawa ke masjid lalu bicaranya di masjid.  Sebab, orang yang berjalan ke masjid akan Allah I sambut dengan berlari. Maka Allah I menyambutnya dengan berlari. Hadits qudsi وَإِنْ أَتَانِى يَمْشِى أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً barang siapa yang datang padaku dengan berjalan, Aku akan menyambutnya dengan berlari. Aku akan datang padanya dengan berlari. Maka kita bawa rahmat Allah I . Berarti kita bawa rahmat ke orang-orang yang kita bawa dari suasana mereka ke suasana masjid. Maulana Ilyas Rah.A. mengatakan, “bawa orang ke masjid lalu dakwah padanya di masjid. Maka rahmat Allah I akan bercucuran kepadanya dengan berlari.” Sebab tempat tarbiyah yang asal adalah suasana masjid. Kita tidak inginkan keluarkan amal masjid keluar masjid. Tapi ingin bawa orang-orang ke dalam masjid, kumpulkan di masjid. Ketika datang utusan dari banu Tsaqif, maka Rasulullah r letakkan mereka di masjid. Tempatkan mereka di masjid, padahal waktu itu mereka belum masuk Islam. Diletakkan di mana? Di masjid.

 

Rasulullah r katakan pada para sahabat, “Aku letakkan mereka di masjid agar mempengaruhi hati mereka sehingga menjadi lembut sebab amal-amal masjid.” Tolong renungkan. Apabila hati orang kafir saja dengan amal  masjid menjadi lembut dan mengarah kepada Islam, maka apakah hati orang-orang Islam tidak berubah asbab amal masjid? Dengan amal masjid hati mereka menjadi lembut dan cenderung pada Islam untuk masuk Islam. Waktu datang utusan dari banu Tsaqif dikumpulkan di mana? Di masjid. Maka temui orang-orang kumpulkan di masjid. Temui mereka dan bawa ke masjid. Hari ini sudah terbentuk tabiat, “ah kita di sana saja. Di ruang tamu dia atau di tempat istirahat dia. Kita bicara agama di rumah dia.” Ya betul. Tapi kalau mau menghubungkan orang dengan Allah I bawa ke rumah Allah I, bicara di sini. Bawa ke mana? Ke rumah Allah I. Tolong dengarkan baik-baik. Ada orang di jalan ketemu dengan seorang dokter, “pak dokter saya sakit, tolong periksa saya, obati saya.” “Masa di jalan. Ya ke rumah sakit di sana ada alat, ada obat, ada macam-macam.” Kalau kita ketemu seorang pengacara apakah “pak tolong bantu saya?” Ya bukan di sana, di kantor. Ini urusan dunia orang paham untuk memperbaiki harus di tempatnya. Ini hubungan dengan Allah I mau diperbaiki bukan di tempatnya, bagaimana ini? Maka orang dikumpulkan di mana? Di masjid. Ayo ke masjid, ke masjid. Ini adalah kegiatan para sahabat. Ini bukan perkara baru. Para sahabat mengumpulkan orang-orang di masjid. “ayo ke sini, ke sini. Duduk di sini sebentar kita beriman kepada Allah I.” Itu adalah kerja pertama.

 

Kerja pertama adalah bayankan kehebatan, qudrat Allah I. Bayankan dengan hebat segala kebesaran Allah I. Yang melakukan segalanya adalah Allah I. Untuk mendapatkan faedah langsung dari Allah I syaratnya adalah keluarkan keyakinan pada alam semesta. Orang yang masih yakin dengan alam semesta tidak akan mendapatkan faedah langsung dari Allah I. Untuk mendapatkan faedah langsung dari Allah I syaratnya adalah keluarkan keyakinan pada alam. Maka ini syarat untuk mendapatkan faedah langsung dari Allah  I. Orang yang masih yakin pada alam ini, maka dia tidak akan mendapatkan faedah langsung. Sebab apa? Makhluk ciptaan Allah I ini akan menjadi penghalang antara dia dengan Allah I. “Ya, memang Allah I yang melakukan, tapi kan kita perlu asbab dulu.” Maka dia menganggap bahwa Allah I perlu asbab. “Ya Allah I ini saya buat asbab, engkau yang memberikan.” Kalau begitu orang kafir juga bisa. Usaha kita buat terserah yang memutuskan yang di atas sana. Ya, itu orang kafir begitu juga. Sebab orang-orang kafir menganggap bahwa alam ini adalah sebuah ketentuan. Sedangkan orang muslim berkeyakinan bahwa amal itulah ketentuan Allah I.

 

Perintah-perintah Allah I itulah ketentuan, standar. Orang-orang kafir menganggap bahwa alam, langit, bumi, bulan, bintang, matahari itu dianggap sebagai ketentuan, kepastian Allah I. Itu adalah sistim qudratullah. Itu bagi orang kafir. Kalau orang-orang mukmin hukum-hukum Allah I itulah ketentuan Allah I. Shalat itulah ketentuan untuk mendapat kesuksesan. Kalau orang kafir ketentuan untuk mendapat kesuksesan ialah mempunyai perdagangan, perniagaan. Itulah orang-orang kafir. Maka dua jalan pasti berbeda ini. Orang kafir mengambil asbab, saya punya asbab Allah I yang menyukseskan. Itu orang kafir begitu. Orang kafir mengatakan saya usaha asbab Allah I yang memberi kesuksesan. Orang kafir mengatakan, saya akan pilih asbab dan Allah I yang akan memberi keberhasilan. Kalau orang mukmin pun juga mengatakan, kita usaha atas asbab lalu Allah I yang akan memberi kesuksesan, apakah ada bedanya antara orang kafir dengan orang mukmin kalau begini? Masih ada bedanya? Tidak kelihatan ada bedanya antara orang mukmin dengan orang kafir ini.

 

Hari ini orang muslim begini, “sudah buat asbab saja, tapi berharap pada Allah ya.” Padahal ini orang kafir pun mengatakan  begitu. Buat asbab yang kuat lalu berharap kepada Allah. Ini yang saya sampaikan dari Al Quran ini. Wahai Nabi bila engkau tanya orang-orang kafir, siapa yang menciptakan langit, bumi, bintang? Siapa yang mengatur? Semuanya mengatakan, pasti mereka mengatakan Allah I yang membuatnya. Allah I yang membuat. Beliau bertanya pada orang musyrik, “apabila engkau mengalami kerugian maka apabila agar kerugian ini hilang, kamu mintanya pada siapa?” “Saya akan minta pada Tuhan yang di langit”, kata orang musyrik itu. Ini musyrik padahal. Maka dia mengakui bahwa yang melakukan adalah Allah I. Tapi minta Allah I untuk perbaikan dengan benda-benda dunia ini. Jadi minta pada Allah I tapi dengan benda-benda dunia. Maulana Ilyas Rah. A. katakan selama kita belum menganggap bahwa took dan berhala ini sama, dan kementerian dengan berhala itu belum kita anggap sama, maka kita belum mungkin berharap pada Allah I. Tidak mungkin kita bisa berharap pada Allah I. Sebab bila orang masih menjadikan sekutu bagi Allah I maka harapannya pada Allah I adalah palsu, bohong dia.

 

Maka bila orang berharap pada Allah I hatinya mesti kosong dari selain Allah I. Maka hatinya mesti kosong dari selain Allah I. Dari kedai ini, dari toko ini saya berharap dapat keuntungan segini, dari tanah saya berharap dapat ini, dari kerbau saya berharap dapat ini.  Dengan cara begini akan menjadi penghalang untuk mendapatkan faedah dari Allah I. Akan menjadi penghalang untuk mendapatkan faedah langsung dari Allah I. Sebab dia berharap pada Allah I tapi dengan perantaraan benda-benda. Untuk menguatkan iman ini asbabnya bahwa sampaikan qudrat Allah I, tauhid Allah I. Sebab orang yang yakin pada alam, maka tatkala dia minta pada Allah I dia akan bawa alam ini di hadapan Allah I. Ya Allah I ini toko saya, maka berikan keuntungan di dalamnya. Allah I tidak akan berikan keuntungan di dalamnya.

 

Jadi kalau orang mukmin begitu, orang kafir juga begitu. Orang kafir Allah I beri di dunia semuanya. Kalau orang muslim tidak begitu. Kalau orang muslim berkata ya Allah I ini toko saya berikan keuntungan di dalamnya. Kalau cara begitu orang kafir yang untung. Ya Allah I ini sakit, saya minum obat tapi engkau yang menyembuhkan. Maka dengan cara begini yang sembuh orang kafir, orang muslim tidak. Bukan begini kalau orang muslim. Orang kafir yang mendapat kesembuhan dengan cara begini, bukan orang muslim. Orang muslim mengatakan ya Allah I kemenangan adalah di tangan-Mu, tapi aku akan pegang ini. Kalau hanya begitu orang kafir pun begitu juga. Orang muslim bertani, Ya Allah I saya bertani, tapi yang memberikan panen adalah engkau. Maka hasil panen begitu orang-orang kafir dapat, bukan orang-orang muslim. Masyaallah, sudah hilang perkataan ini. Yang mendengar pun heran, bingung. Ini apa ini? Sebab fikir kita sudah terbentuk bahwa hamba Allah I mesti buat bom atom, Allah I yang memberikan kemenangan. Jadi memang betul keyakinan pada amal hilang sama sekali. Jadi benih amal itu dikeluarkan, hilang. Sudah hilang yakin pada amal. Dunia kan darul asbab, harus asbab baru nanti berharap pada Allah I.

 

Padahal orang yang mengejar asbab jangan berharapnya pada Allah I. Kalau orang yang mengejar asbab jangan berharapnya pada Allah I. Orang yang berharap pada Allah I adalah orang yang membawa amal ke hadapan Allah I. Orang yang menyampaikan amal kepada Allah I. Sebab semua janji Allah I hubungannya dengan amal, bukan dengan asbab. Apa ada dalam Al Quran Allah I firmankan, kamu bertani saya akan berikan panen. Bertanilah kamu. Seandainya ada janji begitu di Al Quran atau hadits, seandainya Allah I pernah berjanji begitu maka tidak ada seorang pun di dunia ini yang bertani, berdagang, berniaga, orang sakit yang berobat, lalu gagal. Semuanya pasti sukses. Dan Allah I tidak pernah janjikan itu memang. Seandainya pernah Allah I berjanji seperti itu bahwa dengan asbab Allah I berikan kesuksesan, pasti semua orang yang punya asbab sukses, tidak akan gagal. Tapi lihat berapa banyak orang yang punya asbab, malah gagal.

 

Tolong dengarkan baik-baik. Dengarkan baik-baik. Hari ini orang muslim pun megejar asbab lalu berharap pada Allah I. Ada seorang teman tidak punya anank sudah 20 tahun menikah, maka dia berobat pada dokter kafir. Maka dia, “ikhtiar sudah saya sempurnakan. Sekarang terserah yang di atas saja. Kan ikhtiar sudah saya selesaikan, usaha sudah saya kuatkan. Lalu berharap pada Allah I.” Maka dia ceritakan pada saya. Maka saya tanya, “Apa bedanya kita dengan orang kafir. Orang kafir juga begitu. Orang kafir mengatakan, “saya sudah berobat. ya Allah yang menyembuhkan.“  Apa bedanya kita dengan orang kafir. Orang kafir juga begitu mereka berobat, minta pada Allah I. Tapi kalu kita orang muslim berbeda, kita beramal lalu terserah Allah I. Amal lalu katakan terserah Allah I. Kalau orang kafir asbab lalu katakan terserah Allah I.”

 

Kita mungkin berkali-kali, kita mungkin sudah sering mendengar kisah tentang tiga orang yang terjebak dalam gua itu, lalu tertutup batu. Sering dengar tapi paham belum. Belum paham juga apa maksud kisah ini. Ya Allah I tolong singkirkanlah batu ini. Ya Allah I tolong singkirkan dengan banjir, dengan angin, dengan malaikat, atau dengan gempa bumi. Ada ya? Ada doanya begitu dalam kisah tadi? Tidak ada! Tapi semuanya  tiga orang mengatakan bawa amal di depan Allah I. Sebut amalmu kepada Allah I. Ada orang yang menyebut muamalahnya, kebaikan muasyarahnya, bahkan akhlaknya. Itu yang mereka sebut. Semua menyebut amalnya masing-masing. Sebut amalnya masing-masing lalu batu itu pun tersingkir. Tidak ada yang doa, “ya Allah kirimkan malaikat untuk menyingkirkan batu”, tidak ada yang berdoa begitu. Sebab kalau kita berdoa, meminta ya Allah kirimkan malaikat untuk ini, ini ada bau syirik. Semua terserah Allah I, mau pakai malaikat, mau pakai apa terserah. Tidak ada nabi yang meminta ya Allah kirimkan malaikat, tidak ada. Semua malaikat yang turun itu untuk ikram anbiya saja.  Untuk ikram anbiya saja. Tidak ada nabi yang meminta ya Allah kirimkan malaikat, tidak ada. Ya Allah turunkan malaikat untuk bantu kerja kami, tidak ada yang begitu.

 

Lihat, ada seorang sahabat yang dibawa perampok, penyamun, lalu dia minta shalat dua rakaat. Lalu dia doa, datang malaikat dari langit yang ke berapa? Dari tujuh lapis langit datang. Doa sampai ke sana, seperti ada ketukan pintu. “Ya Allah ada hamba-Mu.” Lalu suara kedua datang, “Ya Allah ini hambaMu.” Tolong perhatikan. Kita memang sudah sering dengar tapi belum paham. Kita selalu memahami, ini kan darul asbab. Kita kejar asbab, terserah Allah I nanti. Yang dikejar asbab berharap pada Allah I. Padahal ini tidak bisa ketemu ini. Ini bukan pasangannya. Usaha pada amal lalu berharap pada Allah I. Nah ini yang tepat. Maka inilah asbab yang menguatkan iman. Ini adalah Asbab menguatkan iman. Yakni sampaikan, bayankan qudratullah. Dan qudratullah dalam dzat Allah I bukan dalam alam semesta ini. Qudratullah bersama dzat Allah I. Ini mengutkan yakin. Ini adalah yang pertama.

Yang kedua nushratullah yang ghaib kepada para anbiya u, bayankan itu. Sebab kisah-kisah para anbiya u menguatkan hati kita. Kisah para anbiya u menguatkan hati kita. Allah I berfirman, “Wahai Muhammad kami kisahkan para anbiya agar hatimu menjadi kuat, menjadi kokoh. Jangan sampai melihat keadaan orang-orang kafir hatinya menjadi goyah. ” Allah I berfirman kepada Rasulullah saw. Allah I berikan wahyu kisah para anbiya agar yakin bahwa dulu Allah I berikan pertolongan begini-begini kepada para anbiya. Hendaknya setiap orang mukmin sampai hari kiamat selalu menceritakan kisah para anbiya u, yang dengan begitu hatinya akan menjadi kuat. Bila tidak,  hari ini kebanyakan hati terkesan, “ ya, betul memang itu kan pertolongan Allah I, betul. Tapi itu kan nabi, kita bukan nabi.” Mendengar kisah sahabat, “Oya bagus, betul. Tapi itu kan sahabat. Kita bukan sahabat. Iyalah mereka ditolong, mereka kan sahabat.” Saya dengar sendiri. Padahal ini orang lama dalam dakwah ini. Dia mengatakan begitu. “itu kan sahabat. Mereka ditolong karena sahabat.  Kalau kami, siapa kita ini?” fikiran seperti ini berarti sudah suuzzhon kepada Allah I. Fikiran seperti ini membuat kita suuzzhon pada Allah I. Fikiran seperti ini membuat kita suuzzhon pada Allah I, buruk sangka pada Allah I. Seolah mengatakan, “Allah I yang dulu menolong Nabi dan sahabat, hari ini tidak bisa menolong kita seperti itu.” Ini namanya buruk sangka pada Allah I.

 

Lihat dalam hadits, Rasululah r bersabda pada para sahabat, “setelah kalian akan ada orang-orang muslim yang ditolong oleh Allah I sepuluh kali lipat dari kalian. Setelah kalian akan orang-orang muslim yang datang, satu orang diberi bantuan sepuluh kali lipat.” Para sahabat bertanya, ‘ya Rasulullah, sepuluh kali lipat mereka atau sepuluh kali lipat dari kami?” “Bukan. Sepuluh kali lipat kalian.” Seorang sahabat. Di jaman ini orang muslim diberi bantuan sepuluh kali lipat sahabat. Mendapat pahala, Allah I tambahkan, tambahkan, tambahkan. Dalam satu hadits yang shahih tertulis, seorang mukmin Allah I beri pahala lima puluh sahabat. Berapa kali lipat? Lima puluh kali lipat. Liama puluh kali ganda. Ini pahala satu orang mukmin atas amal shalihnya. LIhat hadits begitu, fikiran begini. Fikiran mengatakan,“Ya itu kan sahabat. Sahabat, dibantu.” Bantuan yang datang pada para sahabat sebab amal. Kalau wali punya karamah itu bukan kehebatan wali, tapi kehebatan amalnya. Itu bukan keistimewaan seorang wali itu bukan. Tapi karena keistimewaan amal wali itu. Allah I berikan karamah karena amal-amalnya.

Maka jika kita ambil bagian dalam kerja ini ALlah swt akan berikan pertolongan kepada kita sebagaimana yang Allah swt berikan kepada para Sahabat RA.

Iklan

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: