Buyaathaillah's Blog

Mudzakaroh Tauhid

Ulama katakan : “Awalluddeen Ma’rifatullah” artinya awal beragama adalah mengenal Allah. Istilah Umum : “Tak kenal tanda tak sayang” maksudnya kenal terlebih dahulu baru rasa sayang datang. Jadi tugas pertama yang perlu kita fikirkan adalah bagaimana kita bisa mengenal Allah terlebih dahulu karena itu adalah awal dari suatu rasa cinta kita. Dengan mengenal Allah maka akan datang rasa cinta kita kepada Allah. Jika kita sudah cinta kepada Allah baru kita fikirkan bagaimana caranya mendatangkan cinta Allah kepada kita. Namun untuk bisa mengenal Allah, maka kita harus mengenal diri sendiri terlebih dahulu. Cara terbaik untuk mengenal Allah adalah dengan Pengenalan Diri bahwa kita ini hanya”Hamba” dan Allah adalah “Khaliq”. Contoh :

1. Kita ini Fana ( dari tiada ) dan hanya Allah yang Nyata ( yang ada )
2. Kita ini tidak bisa berbuat dan hanya Allah yang bisa berbuat
3. Kita ini salah dan hanya Allah yang benar
4. Kita ini hina dan hanya Allah yang mulia, etc.

Inilah hakekat dari Iman kepada Allah swt, Iman kepada La illaha (Mahluk tidak ada yang bisa ) Illallah ( Hanya Allah swt saja yang bisa).

Kita harus Meyakini Kekuasaan Allah ada yang :

1. Dengan Asbab    :
menciptakan manusia dari hasil perkawinan manusia ( Sunnatullah )

2. Tanpa Asbab    :
menciptakan manusia tanpa ibu dan bapak seperti Adam AS

3. Berlawanan Asbab :
menciptakan manusia bertentangan dengan asbab, Isa AS lahir dari ibu yang suci, onta nabi sholeh yang lahir dari batu, tongkat nabi Musa AS menjadi ular.

Tauhid terbagi atas :

  1. Tauhid Uluhiyah : Nafi Itsbat
  2. Tauhid Rububiyah : Allah Kholiq, Allah Maliq, Allah Raziq
  3. Asma Allah : Nama Allah swt
  4. Sifat Allah : Definisi Ketuhanan

Tauhid Uluhiyah : Nafi Itsbat

“Tauhid uluhiyah atau tauhid ibadah merupakan konsekuensi dari tauhid rububiyah. Hakikat tauhid uluhiyah adalah mengesakan Allah dalam beribadah. Menujukan segala bentuk ibadah hanya kepada-Nya, dan meninggalkan sesembahan selain-Nya. “

La Illaha Illallah  (Manifestasi dari Mahluk Tidak Bisa Apa-apa Hanya Allah yang bisa ) dapat dijelaskan dalam dzikir La Haula Wala Quwwata illa Billah ( Tidak ada Pertolongan selain Pertolongan dari Allah )

Usaha atas Nafi Itsbat ( Meniadakan yang lain dan hanya membenarkan Allah ) :

1. Allah mampu memberikan manfaat dengan mahluk
2. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah
3. Allah tidak berhajat pada mahluk, tetapi mahluk berhajat pada Allah
4. Allah mampu memberikan manfaat tanpa mahluk

contoh    :

“ Allah dapat menyembuhkan penyakit dengan obat. Obat tidak bisa menyembuhkan penyakit tanpa izin dari Allah. Obat adalah mahluk, dan mahluk tetap mahluk. Allah tidak berhajat pada mahluk tetapi mahluk berhajat pada Allah. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa izin dari Allah. Obat dapat menyembuhkan penyakit karena ada izin dari Allah. Tetapi Allah tidak memerlukan obat dalam menyembuhkan penyakit. Allah berkuasa menyembuhkan penyakit dengan obat ataupun tanpa obat.”

“ Allah dapat menghilangkan haus dengan air. Namun Air tidak bisa menghilangkan haus tanpa izin dari Allah. Air adalah mahluk, dan mahluk tetap mahluk. Allah tidak berhajat pada mahluk tetapi mahluk yang berhajat pada Allah. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa izin dari Allah. Air dapat menghilangkan haus karena ada izin dari Allah. Allah mampu menghilangkan haus tanpa air.”

“ Allah mampu menggunakan Api untuk membakar. Tetapi Api tidak bisa membakar tanpa izin dari Allah. Api adalah mahluk, dan mahluk tetap mahluk. Allah tidak berhajat pada mahluk tetapi mahluk berhajat pada Allah. Mahluk tidak bisa memberikan manfaat dan mudharat tanpa izin dari Allah. Api dapat membakar karena ada izin dari Allah. Allah berkuasa membakar tanpa api.”

• Meyakini bahwa :

1. Mahluk tidak bisa berbuat apa-apa, hanya Allahlah yang bisa
2. Mahluk untuk bisa berhajat pada Allah, Allah melakukannya tidak berhajat pada mahluk
3. Jika Allah berkehendak dapat memberikan manfaat dengan mahluk, jika Allah berkehendak Allah bisa memberikan manfaat tanpa mahluk, Jika Allah berkehendak walaupun ada mahluk tapi mahluk tidak bisa memberikan manfaat apa-apa
4. La illaha Illallah

Contoh :

“Api tidak bisa membakar, Allah yang membakar. Api untuk membakar berhajat pada Allah. Allah membakar tidak berhajat pada api. Jika Allah berkehendak Allah bisa membakar dengan api, jika Allah berkehendak Allah bisa membakar tanpa Api. Jika Allah berkehendak walaupun ada api tapi tidak bisa membakar. La Illaha Illallah.”

“Pesawat tidak bisa mengantar manusia, Allahlah yang mengantar manusia. Pesawat untuk bisa mengantar manusia berhajat pada Allah. Allah untuk mengantar manusia tidak berhajat pada pesawat. Jika Allah berkehendak Allah bisa mengantar manusia dengan pesawat, jika Allah berkehendak Allah bisa mengantar manusia tanpa pesawat. Jika Allah berkehendak walaupun ada pesawat tapi pesawat tidak bisa mengantar manusia. La Illaha Illallah”

“Air tidak bisa menghilangkan haus, Allah yang menghilangkan haus. Air menghilangkan haus berhajat pada Allah. Allah menghilangkan haus tidak berhajat pada air. Jika Allah bekehendak Allah bisa menghilangkan haus dengan air, jika Allah berkehendak Allah bisa menghilangkan haus tanpa air.”

Tauhid Rububiyah

Rububiyyah Allah adalah mengesakan Allah dalam tiga perkara yaitu penciptaan-Nya, kekuasaan-Nya, dan pengaturan-Nya.

Meyakini bahwa :

1. Allah Khaliq : Allah yang menciptakan
2. Allah Malik    : Allah yang bertanggung jawab atas pemeliharaan ciptaannya
3. Allah Razieq : Allah pula yang menjamin Rizki CiptaanNya

Contoh :

Allah swt yang menciptakan Burung. Allah swt pula yang mengatur kehidupan Burung. Dan Allah pulalah yang menjamin rizki bagi si burung.

Allah swt menciptakan alam semesta. Allah swt pula yang mengatur Alam semesta. Dan Allah pulalah yang menjamin rizki mahluk diseluruh alam semesta ini.

Allah swt menciptakan ikan-ikan dilaut. Allah stw pula yang mengatur kehidupan ikan-ikan dilaut. Dan Allah pulalah yang mengatur rizki ikan-ikan dilaut.

Allah swt ciptakan Jantung Manusia. Allah pulalah yang mendetakkan jantung manusia (tidak bisa diperintah manusia). Jantung manusia akan berhenti tatkala diperintahkan Allah untuk berhenti. Sedangkan manusia akan mati ketika rizki sudah habis dan sudah datang waktunya untuk mati. ini semua sudah ditentukan di Lauh Mahfudz 50.000 tahun sebelum segala sesuatu diciptakan.

Dari Umar bin Khattab RA, ia berkata, “Saya mendengar Rassulullah SAW bersabda, ‘Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya Allah akan memberikan rezeki kepada kalian seperti seekor burung, pagi-pagi ia keluar dari sarangnya dalam keadaan lapar dan pulang disore hari dalam keadaan kenyang “ (HR.Ahmad dan Turmuzi).

Kisah Nabi sulaiman meminta izin kepada Allah swt untuk dapat memberikan makan kepada seluruh binatang yang ada di laut. setelah 3 bulan persiapan menyiapkan hidangan makanan. Allah swt kirim 1 ikan yang melahap seluruh makanan yang disiapkan selama 3 bulan dengan sekali suapan. Ikan tersebut berkata bahwa Allah menjamin rizkinya berupa makanan seperti ini 3 kali sehari dan setiap hari. Sedangkan Nabi sulaiman hanya mampu memberi 1 mahluk aja 1 kali makan saja habis. Hikmah dari kisah ini jangan khawatir masalah rizki ini sudah dalam tanggungan dan jaminan Allah swt.

Asma Allah Swt : Asmaul Husna

Dalam agama islam, Asmaa’ul husna (bahasa arab : أسماء الله الحسنى, asmāʾ allāh al-ḥusnā) adalah nama-nama Allah yang indah dan baik. Asma berarti nama dan husna berarti yang baik atau yang indah, jadi asma’ul husna adalah nama nama milik Allah yang baik lagi indah.

Sejak dulu para ulama telah banyak membahas dan menafsirkan nama-nama ini, karena nama-nama Allah adalah alamat kepada Dzat yang mesti kita ibadahi dengan sebenarnya. Meskipun timbul perbedaan pendapat tentang arti, makna, dan penafsirannya akan tetapi yang jelas adalah kita tidak boleh Musyrik dalam mempergunakan atau menyebut nama-nama Allah ta’ala. Selain perbedaaan dalam mengartikan dan menafsirkan suatu nama terdapat pula perbedaan jumlah nama, ada yang menyebut 99, 100, 200, bahkan 1.000 bahkan 4.000 nama, namun menurut mereka, yang terpenting adalah hakikat Dzat Allah SWT yang harus dipahami dan dimengerti oleh orang-orang yang beriman seperti Nabi Muhammad.

Asma’ul husna secara harfiah adalah nama-nama, sebutan, gelar Allah yang baik dan agung sesuai dengan sifat-sifat-Nya. Nama-nama Allah yang agung dan mulia itu merupakan suatu kesatuan yang menyatu dalam kebesaran dan kehebatan milik Allah.

Berikut adalah beberapa terjemahan dalil yang terkandung di dalamAl Quran dan Hadits tentang asmaul husna :

  • “Dialah Allah, tidak ada Tuhan/illah (yang berhak disembah) melainkan Dia, Dia mempunyai asmaul husna (nama-nama yang baik).” ((20:8)
  • Katakanlah: “Serulah Allah atau serulah Ar rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al Asmaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam salatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu” (17:110)
  • “Allah memilik Asmaul Husna, maka memohonlah kepada-Nya dengan menyebut nama-nama yang baik itu…” (Al Araf : 110)

Asma Al-Husna

No. Nama Arab Indonesia
Allah الله Allah
1 Ar Rahman الرحمن Yang Maha Pengasih
2 Ar Rahiim الرحيم Yang Maha Penyayang
3 Al Malik الملك Yang Maha Merajai (bisa di artikan Raja dari semua Raja)
4 Al Quddus القدوس Yang Maha Suci
5 As Salaam السلام Yang Maha Memberi Kesejahteraan
6 Al Mu`min المؤمن Yang Maha Memberi Keamanan
7 Al Muhaimin المهيمن Yang Maha Mengatur
8 Al `Aziiz العزيز Yang Maha Perkasa
9 Al Jabbar الجبار Yang Memiliki Mutlak Kegagahan
10 Al Mutakabbir المتكبر Yang Maha Megah, Yang Memiliki Kebesaran
11 Al Khaliq الخالق Yang Maha Pencipta
12 Al Baari` البارئ Yang Maha Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)
13 Al Mushawwir المصور Yang Maha Membentuk Rupa (makhluknya)
14 Al Ghaffaar الغفار Yang Maha Pengampun
15 Al Qahhaar القهار Yang Maha Memaksa
16 Al Wahhaab الوهاب Yang Maha Pemberi Karunia
17 Ar Razzaaq الرزاق Yang Maha Pemberi Rezeki
18 Al Fattaah الفتاح Yang Maha Pembuka Rahmat
19 Al `Aliim العليم Yang Maha Mengetahui (Memiliki Ilmu)
20 Al Qaabidh القابض Yang Maha Menyempitkan (makhluknya)
21 Al Baasith الباسط Yang Maha Melapangkan (makhluknya)
22 Al Khaafidh الخافض Yang Maha Merendahkan (makhluknya)
23 Ar Raafi` الرافع Yang Maha Meninggikan (makhluknya)
24 Al Mu`izz المعز Yang Maha Memuliakan (makhluknya)
25 Al Mudzil المذل Yang Maha Menghinakan (makhluknya)
26 Al Samii` السميع Yang Maha Mendengar
27 Al Bashiir البصير Yang Maha Melihat
28 Al Hakam الحكم Yang Maha Menetapkan
29 Al `Adl العدل Yang Maha Adil
30 Al Lathiif اللطيف Yang Maha Lembut
31 Al Khabiir الخبير Yang Maha Mengenal
32 Al Haliim الحليم Yang Maha Penyantun
33 Al `Azhiim العظيم Yang Maha Agung
34 Al Ghafuur الغفور Yang Maha Memberi Pengampunan
35 As Syakuur الشكور Yang Maha Pembalas Budi (Menghargai)
36 Al `Aliy العلى Yang Maha Tinggi
37 Al Kabiir الكبير Yang Maha Besar
38 Al Hafizh الحفيظ Yang Maha Memelihara
39 Al Muqiit المقيت Yang Maha Pemberi Kecukupan
40 Al Hasiib الحسيب Yang Maha Membuat Perhitungan
41 Al Jaliil الجليل Yang Maha Luhur
42 Al Kariim الكريم Yang Maha Pemurah
43 Ar Raqiib الرقيب Yang Maha Mengawasi
44 Al Mujiib المجيب Yang Maha Mengabulkan
45 Al Waasi` الواسع Yang Maha Luas
46 Al Hakiim الحكيم Yang Maha Maka Bijaksana
47 Al Waduud الودود Yang Maha Mengasihi
48 Al Majiid المجيد Yang Maha Mulia
49 Al Baa`its الباعث Yang Maha Membangkitkan
50 As Syahiid الشهيد Yang Maha Menyaksikan
51 Al Haqq الحق Yang Maha Benar
52 Al Wakiil الوكيل Yang Maha Memelihara
53 Al Qawiyyu القوى Yang Maha Kuat
54 Al Matiin المتين Yang Maha Kukuh
55 Al Waliyy الولى Yang Maha Melindungi
56 Al Hamiid الحميد Yang Maha Terpuji
57 Al Muhshii المحصى Yang Maha Mengalkulasi (Menghitung Segala Sesuatu)
58 Al Mubdi` المبدئ Yang Maha Memulai
59 Al Mu`iid المعيد Yang Maha Mengembalikan Kehidupan
60 Al Muhyii المحيى Yang Maha Menghidupkan
61 Al Mumiitu المميت Yang Maha Mematikan
62 Al Hayyu الحي Yang Maha Hidup
63 Al Qayyuum القيوم Yang Maha Mandiri
64 Al Waajid الواجد Yang Maha Penemu
65 Al Maajid الماجد Yang Maha Mulia
66 Al Wahid الواحد Yang Maha Tunggal
67 Al Ahad الاحد Yang Maha Esa
68 As Shamad الصمد Yang Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta
69 Al Qaadir القادر Yang Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan
70 Al Muqtadir المقتدر Yang Maha Berkuasa
71 Al Muqaddim المقدم Yang Maha Mendahulukan
72 Al Mu`akkhir المؤخر Yang Maha Mengakhirkan
73 Al Awwal الأول Yang Maha Awal
74 Al Aakhir الأخر Yang Maha Akhir
75 Az Zhaahir الظاهر Yang Maha Nyata
76 Al Baathin الباطن Yang Maha Ghaib
77 Al Waali الوالي Yang Maha Memerintah
78 Al Muta`aalii المتعالي Yang Maha Tinggi
79 Al Barru البر Yang Maha Penderma (Maha Pemberi Kebajikan)
80 At Tawwaab التواب Yang Maha Penerima Tobat
81 Al Muntaqim المنتقم Yang Maha Pemberi Balasan
82 Al Afuww العفو Yang Maha Pemaaf
83 Ar Ra`uuf الرؤوف Yang Maha Pengasuh
84 Malikul Mulk مالك الملك Yang Maha Penguasa Kerajaan (Semesta)
85 Dzul Jalaali Wal Ikraam ذو الجلال و الإكرام Yang Maha Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan
86 Al Muqsith المقسط Yang Maha Pemberi Keadilan
87 Al Jamii` الجامع Yang Maha Mengumpulkan
88 Al Ghaniyy الغنى Yang Maha Kaya
89 Al Mughnii المغنى Yang Maha Pemberi Kekayaan
90 Al Maani المانع Yang Maha Mencegah
91 Ad Dhaar الضار Yang Maha Penimpa Kemudharatan
92 An Nafii` النافع Yang Maha Memberi Manfaat
93 An Nuur النور Yang Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)
94 Al Haadii الهادئ Yang Maha Pemberi Petunjuk
95 Al Badii’ البديع Yang Maha Pencipta Yang Tiada Bandingannya
96 Al Baaqii الباقي Yang Maha Kekal
97 Al Waarits الوارث Yang Maha Pewaris
98 Ar Rasyiid الرشيد Yang Maha Pandai
99 As Shabuur الصبور Yang Maha Sabar

 

Sifat atau Qualitas Ketuhanan

Sifat-sifat Allah adalah sifat sempurna yang yang tidak terhingga bagi Allah. Sifat-sifat Allah wajib bagi setiap muslim mempercayai bahwa terdapat beberapa sifat kesempurnaan yang tidak terhingga bagi Allah. Maka, wajib juga dipercayai akan sifat Allah yang dua puluh dan perlu diketahui juga sifat yang mustahil bagi Allah. Sifat yang mustahil bagi Allah merupakan lawan kepada sifat wajib.

Berikut adalah beberapa terjemahan dalil tentang sifat-sifat Allah:

  • “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa, tidak ada Tuhan melainkan Dia” – (Q.S. Al Baqarah : 163)
  • Sesungguhnya Allah itu Amat Berkuasa atas segala sesuatu” – (Q.S 2: 20)
  • “Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu” – (QS. 2 : 29)
  • “Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia” – (QS. Yasin : 82)
  • “… Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat” – (QS. Asy Syura: 11)
  • “Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup, yang berdiri sendiri… “ – (QS. 2 : 255)
  • “Dialah Yang Awal (tidak berpemulaan) dan Yang Akhir (tidak berkesudahan)… “ – (QS. Al hadid : 3)

Sifat 20

Sifat Wajib Tulisan Arab Maksud Sifat Sifat Mustahil Tulisan Arab Maksud
Wujud ﻭُﺟُﻮْﺩ Ada Nafsiah Adam ﻋَﺪَﻡْ Tiada
Qidam ﻗِﺪَﻡْ Terdahulu Salbiah Huduts ﺣُﺪُﻭْﺙْ Baru
Baqa ﺑَﻘَﺎﺀِ Kekal Salbiah Fana ﻓَﻨَﺎﺀِ Berubah-ubah (akan binasa)
Mukhalafatuhu lilhawadits ﻣُﺨَﺎﻟَﻔَﺘُﻪُ ﻟِﻠْﺤَﻮَﺍﺩِﺙِ Berbeda dengan makhluk-Nya Salbiah Mumatsalatuhu lilhawadits ﻣُﻤَﺎﺛَﻠَﺘُﻪُ ﻟِﻠْﺤَﻮَﺍﺩِﺙِ Sama dengan makhluk-Nya
Qiyamuhu binafsih ﻗِﻴَﺎﻣُﻪُ ﺑِﻨَﻔْﺴِﻪِ Berdiri sendiri Salbiah Qiamuhu bighairih ﻗِﻴَﺎﻣُﻪُ ﺑِﻐَﻴْﺮِﻩِ Berdiri-Nya dengan yang lain
Wahdaniyat ﻭَﺣْﺪَﺍﻧِﻴَﺔِ Esa (satu) Salbiah Ta’addud ﺗَﻌَﺪُّﺩِ Lebih dari satu (berbilang)
Qudrat ﻗُﺪْﺭَﺓِ Kuasa Ma’ani Ajzun ﻋَﺟْﺰٌ Lemah
Iradat ﺇِﺭَﺍﺩَﺓِ Berkehendak (berkemauan) Ma’ani Karahah ﻛَﺮَﺍﻫَﻪْ Tidak berkemauan (terpaksa)
Ilmun ﻋِﻠْﻢٌ Mengetahui Ma’ani Jahlun ﺟَﻬْﻞٌ Bodoh
Hayat ﺣَﻴَﺎﺓْ Hidup Ma’ani Al-Maut ﺍَﻟْﻤَﻮْﺕ Mati
Sama’ ﺳَﻤَﻊْ Mendengar Ma’ani Shummum ﺍﻟصُمُّمْ Tuli
Basar ﺑَﺼَﺮ Melihat Ma’ani Al-Umyu ﺍﻟْﻌُﻤْﻲُ Buta
Kalam ﻛَﻼَ ﻡْ Berbicara Ma’ani Al-Bukmu ُﺍﻟْﺑُﻜْﻢ Bisu
qaadiran ﻗَﺎﺩِﺭًﺍ berkuasa Ma’nawiyah ajizan ﻋَﺎﺟِﺰًﺍ lemah
muriidan ﻣُﺮِﻳْﺪًﺍ berkehendak menentukan Ma’nawiyah mukrahan مُكْرَهًا tidak menentukan (terpaksa)
‘aliman ﻋَﺎﻟِﻤًﺎ mengetahui Ma’nawiyah jahilan ﺟَﺎﻫِﻼً yang bodoh
hayyan ﺣَﻴًّﺎ hidup Ma’nawiyah mayitan َََﻣَﻴِّتا Keadaan-Nya yang mati
sami’an ﺳَﻤِﻴْﻌًﺎ mendengar Ma’nawiyah ashamma ﺃَﺻَﻢَّ tuli
bashiiran ﺑَﺼِﻴْﺭًﺍ melihat Ma’nawiyah a’maa ﺃَﻋْﻤَﻰ Keadaan-Nya yang buta
mutakalliman ﻣُﺘَﻜَﻠِّﻤًﺎ berbicara Ma’nawiyah abkam ﺃَﺑْﻜَﻢْ bisu

Dua puluh sifat yang tertera di atas yang wajib bagi Allah terkandung di dalam dua sifat kesempurnaan. Sifat tersebut adalah:

  • Istigna’ ( ﺇﺳﺘﻐﻨﺎﺀ )
    • Kaya Allah daripada sekalian yang lain daripada-Nya yaitu tidak berkehendak ia kepada sesuatu. Maksudnya, Allah tidak menghendaki yang lain menjadikan-Nya dan tidak berkehendak akan tempat berdiri bagi zat-Nya. Contohnya, Allah tidak memerlukan dan tidak menghendaki malaikat untuk menciptakan Arasy.
    • Maka, Maha suci Tuhan daripada tujuan pada sekelian perbuatan dan hukum-hukumnya dan tidak wajib bagi-Nya membuat sesuatu atau meninggalkan sesuatu.
    • Sifatnya: wujud, qidam, baqa’, mukhalafatuhu lilhawadith, qiamuhu binafsih, sama’, basar, kalam, kaunuhu sami’an, kaunuhu basiran, kaunuhu mutakalliman.
  • Iftiqar ( ﺇﻓﺘﻘﺎﺭ )
    • Yang lain berkehendak akan sesuatu daripada Allah yaitu yang lain berkehendakkan daripada Allah untuk menjadikan dan menentukan mereka dengan perkara yang harus. Contohnya, manusia memohon kepada Allah melancarkan hidupnya.
    • Sifatnya: wahdaniat, qudrat, iradat, ilmu, hayat, kaunuhu qadiran, kaunuhu muridan, kaunuhu hayyan.

 

Sifat Jaiz Bagi Allah adalah sifat yang mungkin boleh dimiliki dan boleh tidak dimiliki oleh Allah SWT.

Sifat Jaiz Allah hanya ada satu yaitu Fi’lu kulli mumkinin au tarkuhu, artinya  Allah itu berwenang untuk menciptakan dan berbuat sesuatu atau tidak sesuai dengan kehendak-Nya.

Sifat wajib terbagi empat bagian yaitu nafsiah, salbiah, ma’ani atau ma’nawiah.

I – SIFAT NAFSIYYAH(SIFAT KEPERIBADIAN)

Maksudnya sesuatu yang tidak bisa diterima oleh akal jika Allah tidak disifatkan dengan sifat ini. Atau bisa juga dikatakan sifat untuk menentukan adanya Allah, di mana Allah menjadi tidak mungkin ada tanpa adanya sifat tersebut. adapun yang tergolong sifat ini hanya satu yaitu sifat wujud. 

Sifat Wajib: Wujud Artinya: Ada

Sifat Mustahil: ’Adam Artinya : Tidak Ada

Allah Taala itu ada. Mustahil Allah itu tiada.

II – SIFAT SALBIYAH

Maksudnya sifat yang menolak apa yang tidak layak bagi Allah. Atau dikatakan juga sifat yang digunakan untuk meniadakan sesuatu yang tidak layak bagi Allah. Sifat Salbiyah ini ada lima sifat yakni, 2- Qidam, 3-  Baqo’, 4- Mukhalafatu lil hawaditsi, 5- Qiyamuhu binafsihi, 6- Wahdaniyyah.

Sifat Wajib: Qidam Artinya: Sedia/terdahulu/tidak ada permulaanya

Sifat Mustahil: Huduts Artinya: Baru

Allah Taala itu sedia/terdahulu, tidak ada permulaanya. Mustahil Allah itu didahului oleh ‘Adam (ada permulaanya).

Sifat Wajib: Baqa’ Artinya: Kekal

Sifat Mustahil: Fana’ Artinya: Binasa

Allah itu bersifat kekal. Mustahil Ia dikatakan fana (binasa)

Sifat Wajib: Mukhalafah Lilhawaditsi Artinya: Tidak sama dengan yang baru

Sifat Mustahil: Mumatsalah Lilhawaditsi Artinya: Sama dengan yang baru

Allah itu tidak mempunyai sifat-sifat yang baru yakni dijadikan dan dihancurkan. Mustahil bersamaan dengan yang baru.

Sifat Wajib: Qiyam Binafsihi Artinya: Berdiri dengan dirinya sendiri

Sifat Mustahil: Ihtiyaj Ila Mahal Wa Mukhashshash

Allah Taala itu berdiri sendiri. Mustahil tidak berdiri dengan dirinya sendiri atau berdiri pada lainnya dan berdirinya tidak memerlukan tempat tertentu

Sifat Wajib: Wahdaniyah Artinya: Esa

Sifat Mustahil: Ta’addud Artinya : Berjumlah

Allah itu Maha Esa Dzat-Nya, Esa sifat-Nya dan esa juga perangai-Nya. Mustahil ia mempunyai Dzat, sifat dan perangai yang berbilang-bilang.

III – SIFAT MA’ANI

Maksudnya sifat yang diwajibkan bagi zat Allah suatu hukum atau sifat yang pasti ada pada Dzat Allah. Sifat ini terdiri dari tujuh sifat :

Sifat Wajib: Qudrah Artinya: Kuasa

Sifat Mustahil: ’Ajez Artinya: Lemah

Alah Taala itu Maha Berkuasa, apapun bisa dilakukannya. Mustahil Allah itu lemah atau tidak berkuasa.

Sifat Wajib: Iradah Artinya: Menentukan

Sifat Mustahil: Karahah Artinya: Terpaksa

Allah itu Menentukan segala-galanya, semua terjadi dengan ketentuan Allah, Mustahil Allah Taala itu terpaksa dan dipaksa menentukan segala galanya

Sifat Wajib: ’Ilim Artinya: Mengetahui

Sifat Mustahil: Jahil Artinya: Bodoh

Allah Taala itu amat mengetahui segala-galanya. Mustahil Allah tidak mengetahu atau bodoh.

Sifat Wajib: Hayah Artinya: Hidup

Sifat Mustahil: Maut Artinya: Mati

Allah Taala itu sentiasa hidup yakni sentiasa ada. Mustahil Allah Taala itu bisa mati, dianiyaya atau dibunuh.

Sifat Wajib: Sama’ Artinya: Mendengar

Sifat Mustahil: Shamam Artinya: Tuli

Allah Taala itu mendengar. Mustahil Allah tuli atau tidak mendengar.

Sifat Wajib: Bashar Artinya: Melihat

Sifat Mustahil: ’Ama Artinya: Buta

Allah Taala itu sentiasa melihat. Mustahil Allah Taala itu buta.

Sifat Wajib: Kalam Artinya: Berkata-kata

Sifat Mustahil: Bakam Artinya: Bisu

Allah Taala itu berkata-kata atau berbicara. Mustahil Allah Taala itu tidak berbicara atau bisu.

IV – SIFAT MA’NAWIYAH

Maksudnya sifat Allah yang dilazimkan atau tidak bisa dipisahkan dengan Sifat Ma’ani. Sifat Ma’nawiyah adalah sifat yang mulazimah atau menjadi akibat dari sifat ma’ani. Sifat ini terdiri dari tujuh sifat, yakni 14- Kaunuhu Qadiran, 15- Kaunuhu Muridan, 16- Kaunuhu Aliman, 17- Kaunuhu Hayyan, 18- Kaunuhu Sami’an, 19- Kaunuhu Bashiran, 20- Kaunuhu Mutakalliman.

Sifat Wajib: Kaunuhu Qodiran Artinya: Keberadaan Allah Maha Kuasa

Sifat Mustahil: Kaunuhu ’Ajizan Artinya: Keberadaan Allah lemah (tidak berkuasa)

Allah Taala keberadaanya amat berkuasa sifatnya. Mustahil bagi Allah memiliki sifat lemah atau tidak berkuasa.

Sifat Wajib: Kaunuhu Muridan Artinya: Menentukan

Sifat Mustahil: Kaunuhu Mukrahan Artinya: Terpaksa

Allah Taala itu berkuasa menentukan apa yang dikehendakinya. Mustahil sifatnya terpaksa atau dipaksa

Sifat Wajib: Kaunuhu ‘Aliman Artinya: Maha Mengetahui

Sifat Mustahil:Kaunuhu Jahilan Artinya: Bodoh

Allah Taala itu maha mengetahui. Mustahil Allah Taala itu jahil/bodoh atau tidak mengetahui.

Sifat Wajib: Kaunuhu Hayyan Artinya: Hidup

Sifat Mustahil: Kaunuhu Mayyitan

Allah Taala itu Maha Hidup dan menghidupkan alam ini. Mustahil Allah itu bisa mati atau dibunuh.

Sifat Wajib: Kaunuhu Sami’an Artinya: Mendengar

Sifat Mustahil: Kaunuhu Ashamma Artinya: Tuli

Allah Taala itu maha mendengar. Mustahil jika Allah Taala tidak mendengar atau tuli.

Sifat Wajib: Kaunuhu Bashiran Artinya: Melihat

Sifat Mustahil: Kaunuhu A’ma Artinya: Buta

Allah Taala itu melihat semua kejadian di muka bumi. Mustahil jika sifat Allah itu tidak melihat atau buta.

Sifat Wajib: Kaunuhu Mutakalliman Artinya: Maha Berkata-kata

Sifat Mustahil: Kaunuhu Abkama Artinya: Bisu

Allah Taala itu berkata-kata. Mustahil jika Allah Ta’ala bisu atau tidak bisa berkata-kata.

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: