Buyaathaillah's Blog

Mudzakaroh Akhlaq

• Maksud dan Tujuan : Menunaikan hak saudara kita tanpa meminta hak kita untuk di tunaikan. Bahkan belajar mengorbankan hak kita, keperluan kita, kebutuhan kita demi memenuhi hajat saudara kita.

• Fadhilah / Keuntungan ( Hadits Mahfum ) :

1. Barang siapa yang membuka aib saudaranya, maka Allah akan membuka aibnya, sehingga dia malu untuk pulang kerumahnya sendiri. Barangsiapa menutupi aib saudaranya maka Allah akan menutupi aibnya dunia dan akherat, bahkan malaikatpun tidak akan bisa membaca aib atau dosa yang telah Allah tutupi dari catatan amalnya.

2. Barang siapa memenuhi hajat saudaranya maka Allah akan memberinya 73 Rahmat dari KhazanahNya. 1 Rahmat dapat menyelesaikan seluruh masalahnya di dunia, dan 72 lagi Allah simpan di akherat.

3. Orang yang paling bangkrut diakherat adalah orang yang membawa pahala sebesar gunung namun karena dia sering menyakiti orang maka pahalanya habis bahkan dia harus menanggung dosa orang lain.

4. Barangsiapa memenuhi hajat saudaranya maka ini lebih baik daripada 60 tahun Itikaf. 1 hari Itikaf Allah jauhkan kita dari Neraka sejauh 3 parit. 1 parit jaraknya sejauh langit dan bumi.

5. Dijaman sebelum Nabi SAW ada seorang pelacur yang masuk surga hanya karena mengambil air dengan susah payah untuk diberikan kepada anjing yang kehausan dengan sepatunya. Ini baru Iqrom kepada anjing bagaimana kepada manusia.

• Cara mendapatkannya :

Kita Tunaikan Hak saudara kita :

Jika sakit, kita jenguk
Jika meninggal, kita hantar
Jika perlu bantuan, kita tolong
Jika diundang, kita datang
Jika ada aib, kita sembunyikan
Jika minta nasehat, kita berikan

Kita Muliakan dengan cara :

Menyayangi yang muda
Menghargai sesama
Menghormati yang tua

Akhlaq Penghuni Surga :

  1. Berbuat Baik kepada yang mendzolimi
  2. Menyambung sillaturahmi dengan yang memutuskan
  3. Memberi kepada yang kikir
  4. bersabar ketika mampu membalas
  5. berbuat adil ketika marah
  6. Melayani walaupun dalam keadaan tidak mampu
  7. Menyembunyikan kesusahan dari mahluk

• Penyakit jika Akhlaq ditinggalkan : Penyakit Bakhil ( Pelit / Kikir ) dan Ghibbah ( Gossip )

TAKABUR yang menjerumuskan Iblis pada kehinaan.

SERAKAH yang mengeluarkan Adam dari Surga

DENGKI yang menyebabkan Anak Adam membunuh saudaranya sendiri. 

(Ibnu Qayyim Al-Jauziah)

• Kisah Nabi :

1. Suatu ketika Bilal RA masih dalam keadaan memeluk Islam, ia sedang diperintahkan oleh majikannya untuk menggiling gandum, lalu Nabi SAW lewat didepannya dan mengambil gilingan gandum dari Bilal yang seorang budak dan menyuruhnya istirahat. Bilal RA tanpa banyak tanya dia duduk istirahat dan memperhatikan Nabi SAW yang rela membantu seorang budak. Hari kedua, Nabi SAW melakukan hal yang sama, namun Bilal RA tidak bertanya apa-apa dan tidak mempedulikan Nabi SAW. Namun setelah hari ketiga Nabi SAW melakukan hal yang sama baru Bilal berani bertanya dan Nabi SAW menjelasakan tentang Islam. Karena Akhlaq Nabi SAW yang dilihatnya akhirnya Bilal RA masuk Islam.

2. Ketika Nabi SAW ditimpuki batu oleh orang Thaif hingga nabi terluka kepalanya dan masih terus ditimpuki hinga bermil-mil jauhnya walaupun telah diluar kota Thoif sehingga Nabi pingsan. Para Malaikat turun atas perintah Allah untuk menerima perintah Nabi SAW membalas perbuatan orang Thoif dengan menghancurkannya. Tetapi apa kata Nabi SAW, “Ini bukan yang Aku mau, mereka melakukan ini karena kelemahanku dalam menyampaikan.” Lalu Nabi SAW mendoakan kebaikan bagi Rakyat Thoif agar suatu hari dapat memeluk Islam. Nabi SAW mendoakan Hidayah bagi orang yang telah mendzoliminya, dan menolak Adzab yang akan ditimpakan atas mereka.

3. Suatu ketika Nabi SAW membagi-bagikan sedekah untuk para fakir, lalu Nabi SAW berkata kepada Umar RA, “Wahai Umar RA orang yang aku berikan sedekah tadi adalah orang yang kaya” Lalu Umar RA berkata, “Kenapa engkau berikan ya Rasullullah” Lalu Nabi SAW menjawab, “Allah tidak menyukaiku mempunyai sifat Bakhil.”

• Kisah Sahabat :

1. Sahabat menjamu Tamu Nabi SAW padahal dirumahnya hanya ada makanan tinggal buat anak-anaknya. Lalu Sahabat memerintahkan isterinya untuk menidurkan anaknya dan menyediakan makanan untuk tamu Nabi SAW. Lalu dia perintah isterinya untuk mematikan lilin lalu pura-pura membetulkan lilin, sementara dia pura-pura mengunyah makanan sehingga dikira tamunya ia ikut makan. Asbab perbuatan sahabat ini turun ayat dari Allah untuk mengenang perbuatan Sahabat yang Iqrom kepada tamu Nabi SAW, sampai hari kiamat.

2. Sahabat membuat makanan kepala kambing lalu memberikannya kepada tetangganya. Lalu tetangganya berpikir bahwa tetangga dia belum makan maka diberikanlah kepala kambing itu kepada tetangganya sehingga kepala kambing itu berputar hingga tujuh rumah dan kembali kepada si pembuat.

• Nasehat :

Buahnya Iman adalah Akhlaq yang baik. Sebaik-baiknya Akhlaq adalah Menolong Sesama Muslim.

• Ayat Qur’an :

“Pergilah kamu berdua kepada Firaun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” ( 20 : 43-44)

“Hai orang-orang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah sebagian kamu menggunjingkan sebagian yang lain…” (49: 12)

Akhlaq itu adalah mendahulukan kepentingan orang lain diatas kepentingan kita.

Ada 3 jenis Akhlaq  :

  1. Akhlaqul Hasanah : membalas kebaikan dengan kebaikan
  2. Akhlaqul Karimah : Membalas kebaikan dengan kebaikan yang lebih baik lagi
  3. Akhlaqul Azimah : Membalas keburukan dengan kebaikan

Nabi saw sampaikan :

  1. Islam itu adalah ketika orang lain selamat dari kejahatan lidah dan tanganmu.
  2. Iman itu adalah ketika orang lain merasa harta dan kehormatanya bisa merasa aman denganmu.
  3. Kafir itu adalah ketika kalian kembali berbunuh-bunuhan setelah islam

Ini adalah pesan Nabi saw ketika haji wada mahfum hadits.

Ada seorang ulama menyindir akhlaq ulama lain. Dia berkata bahwa ulama itu tidak punya akhlaq. Maka ketika dia mendengar dia tersinggung lalu membuat buku khusus tentang Akhlaq lalu diberikan kepada ulama yang menyindirnya tadi. Maka si ulama tadi yang menerima buku tersebut dari murid ulama yang disindir berkata, ” katakan pada dia, bahwa saya tidak mengatakan bahwa dia bukan tidak tahu akhlaq, tetapi dia tidak punya akhlaq.”

Suatu ketika Nabi Saw berkata kepada Muadz bin Jabal RA mahfum wahai muadz tahukah kamu apa yang menyebabkan rusaknya agama ? Muadz bertanya, apa itu ya rasullullah yang mampu merusak agama ? Nabi saw memegang lidahnya sendiri, sambil berkata jagalah lidahmu. Jagalah lidah karena sesungguhnya tak ada dosa yang lebih banyak dilakukan oleh Ummat ini yang menyebabkan mereka masuk kedalam neraka melebihi dosa yang disebabkan oleh lidahmu. (mahfum hadits)

Alamat Akhlaq itu ada dua :

  1. Akhlaq kepada Allah swt : Ibadah. Kisah Syukurnya Nabi saw melalui sholatnya hingga kakinya bengkak.
  2. Akhlaq kepada Mahluk : Kasih Sayang. Kisah seorang pelacur masuk surga asbab memberi minum kepada seekor anjing.

 

SEORANG lelaki menemui Rasulullah Saw dan bertanya,” Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Rasulullah Saw bersabda, “Akhlak yang baik.” Kemudian ia mendatangi Nabi Saw dari sebelah kanannya dan bertanya, “Ya Rasulullah, apakah agama itu?” Nabi Saw pun bersabda, “Akhlak yang baik.”

Kemudian ia mendatangi Nabi Saw dari sebelah kirinya, “Apa agama itu?” Nabi Muhammad Saw bersabda, “Akhlak yang baik.”

Kemudian ia mendatangi Nabi Saw dari belakang dan bertanya,”Apa agama itu?” Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda, “Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik). Sebagai misal, janganlah engkau marah.”(Al-Targhib wa Al-Tarhib 3: 405).

Rasulullah saw juga bersabda :

إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَخْلاَقِ

Artinya: “Sesungguhnya saya ini diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.

Kisah Akhlaq kepada Istri

Dalam kisah Rumah Tangga Sahabat Umar, diriwayatkan bahwa, ada seseorang bermaksud menghadap Umar Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar Ra di depan pintu. Saat itu ia mendengar istri Umar mengomeli dirinya, sementara Umar sendiri hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam:

”Kalau keadaan Amirul mukminin saja begitu, bagaimana halnya  dengan diriku. ”

Bersamaan itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar memanggilnya, katanya, ”Ada keperluan penting?”.

Ia menjawab : ”Amirul mukminin, kedatanganku ini sebenarnya hendak Mengadukan perihal istriku lantaran suka memarahiku. Aku mendengar istrimu sendiri berbuat serupa, maka aku bermaksud kembali. Dalam hatiku berkata : “Kalau keadaan amirul mukminin saja diperlakukakan Istrinya seperti itu, bagaimana halnya dengan diriku. ”

Umar berkata kepadanya: ”Saudara, sesungguhnya aku rela Menanggung perlakuan sperti itu dari istriku, karena Adanya beberapa hak yang ada padanya. Istriku bertindak sebagai juru masak makananku, Ia selalu membuatkan roti untukku. Ia selalu mencucikan pakaian-pakaianku. Ia Menyusui anak-anakku, padahal semua itu bukan kewajibannya. Aku cukup tentram tidak melakukan perkara Haram lantaran pelayanan istriku. Karena itu aku menerimanya sekalipun dimarahi. ”

Kata orang itu : ”Amirul Mukminin, demikian pulakah terhadap istriku?”.

 Jawab Umar : ”Ya terimalah marahnya. Karena yang dilakukan istrimu tidak akan lama, hanya sebentar saja.. ”

Nabi saw bersabda :”Orang yang terbaik diantara kalian adalah yang paling kepada istrinya.”

Nabi saw dirumah dia juga ikut membersihkan rumah, menjahit pakaian, memperbaiki sendal sendiri. Bahkan Aisyah r.ha sampaikan bahwa sebaik baiknya suami adalah Nabi saw.

Kisah Nabi Saw dengan Pengemis Yahudi Buta

Suatu hari Abu Bakar ra berkunjung ke rumah anaknya (Aisyah). Beliau bertanya kepada Aisyah:

“Anakku, adakah sunnah Rasul yang belum aku kerjakan?” . Aisyah menjawab pertanyaan ayahnya: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah saja. Hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja“, ucap Aisyah.

“Apakah itu?” Tanya Abu Bakar. “Setiap pagi, Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang ada di sana“, jawab Aisyah.

Keesokan harinya, Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikan kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya.

Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, tiba-tiba pengemis itu marah sambil berteriak: “Siapa kamu!” Abu Bakar menjawab: “Aku orang yang biasa“. “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku.” sahut pengemis buta itu.

Lalu pengemis itu melanjutkan bicaranya:

“Apabila ia datang kepadaku, tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan itu, baru setelah itu ia berikan makanan itu kepadaku.”

Abu Bakar yang mendengar jawaban orang buta itu kemudian menangis sambil berkata:

“Aku memang bukan yang biasa datang kepadamu. Aku adalah salah seorang dari sahabatnya. Orang yang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad, Rasulullah saw. yang sering anda maki dan fitnah”

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar, pengemis itu pun menangis dan kemudian berkata “Benarkah demikian?”, tanya pengemis, kepalanya tertunduk dan air matanya mulai menetes.

“Selama ini aku selalu menghinanya dan memfitnahnya”, lanjutnya. Tetapi ia tidak pernah marah kepadaku, sedikitpun!”, ucap sang pengemis Yahudi sambil menangis terisak.

“Ia selalu mendatangiku, sambil menyuapiku dengan cara yang sangat lemah lembut…”  sambil menahan kesedihan… namun akhirnya dia pun menangis.

Lalu ditengah tangisannya, sang pengemis Yahudi itupun berteriak, “Ia begitu mulia !Ia begitu mulia…!” sambil mendongakkan kepalanya kearah langit biru. Kedua tangannya dibuka lebar seperti berdoa, dan kemudian kembali duduk simpuh.

Spontan, mereka berpelukan. Mereka berdua larut dalam tangisan. Tangisan kehilangan seseorang yang paling mulia sepanjang masa. Lalu sesaat mereka terdiam, kemudian pengemis Yahudi buta itu meminta kepada Abu Bakar untuk menuntunnya bersyahadat.

Ahirnya pengemis itupun bersyahadat dihadapan Abu Bakar. Jadilah pengemis itu seorang muslim yang berserah diri kepada Allah SWT.

Akhlaq para Sahabat RA

Di Perang Yarmuk, Ikrimah bin Abi Jahal berjuang untuk Islam secara total. Dia terus maju menghadapi musuh tiada gentar sedikitpun. Tercatat, sudah banyak tentara Romawi yang tewas di tangannya.

Demi memperhatikan ‘kinerja jihad’ Ikrimah yang super-berani itu, lalu Khalid bin Walid –sang panglima perang- mendekati dan mengingatkannya: “Ikrimah, janganlah nekat. Keberadaan Anda sangat dibutuhkan oleh kaum muslimin!”

“Hm…, mudah saja Anda berkata seperti itu. Anda sudah merasakan manisnya berjuang di Jalan Allah bersama Rasulullah SAW ketika saya dan bapak saya sangat keras memusuhi di medan perang. Pantaskah kini -setelah bersama Rasulullah SAW- saya malah lari dari hadangan pasukan Romawi? Oh, tidak! Biarkan saya menebus dosa-dosa saya,” kata Ikrimah dengan mantap. Lalu, tanpa ragu-ragu, iapun kembali masuk ke arena perang.

Sayang, Ikrimah akhirnya terluka parah. Ia dibaringkan berdekatan dengan Harits bin Hisyam dan Suhail bin Umair yang juga terluka parah. Akibat kehilangan banyak darah, mereka merasa sangat haus.

Ketika seorang perawat hendak memberi Ikrimah segelas air minum, tiba-tiba Harits mengeluh kehausan. Ikrimah meminta air itu untuk diberikan ke Harits saja. Namun, belum lagi bibir Harits menyentuh gelas, Suhail mengerang kehausan. Haritspun mendahulukan Suhail untuk minum. Tapi, Suhail pun tidak jadi minum dan mendahulukan Ikrimah yang kembali mengerang kehausan.

Begitu gelas berisi air itu didekatkan ke bibir Ikrimah, ternyata dia sudah meninggal. Demikian pula ketika air hendak diminumkan ke Harits, ternyata dia juga telah tiada. Dan, Suhail menyusul syahid pula. Ketiganya gugur di medan jihad tanpa sempat minum untuk kali yang terakhir. Subhanallah!

Berbuat kebajikan memang perintah Allah. Ketiganya sangat memahami dan bahkan tampak berusaha untuk mempraktikkannya. Ikrimah, Harits, dan Suhail terlihat sedang “berebut perhatian” Allah. Ketiganya sedang “mencari perhatian” Allah. Mereka rindu untuk mendapat ridha Allah. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS Al-Maaidah [5]: 93).

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: