Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro KH. Udzairon : Fikir Nabi dan Sahabat RA

Hadirin yang dimulyakan…

 

Allah SWT Mengutus para Nabi para Rasul, mulai kakek kita Adam as. Sampai Nabi yang terakhir yang mulya baginda Muhammad SAW dengan membawa Agama, untuk apa Agama ini? Untuk menyelesaikan seluruh masalah manusia dunia akherat, jadi Agama untuk menyelesaikan masalah manusia dunia akherat, dan masalah jin juga, tapi syaithon ini dating  kepada manusia membisikkan dalam hati manusia bahwa dengan Agama ini manusia justru akan bermasalah susah malahan, padahal Agama ini Allah berikan kepada manusia ini unutk menyelsaikan seluruh masalah manusia dunia akherat, Agama ini kebutuhan yang paling penting bagi manusia bukan kebutuhannya Allah Agama ini, tapi kebutuhan kita semua, kebutuhan manusia ini maka Allah ceritakan dalam Al-Qur’an yang dimulyakan.

 

Fir’aun la’natullah ‘alaih dia ini ngimpi, perasaan ada anak kecil yang datang naik harimau bawa tongkat kemudian memukul kepala Fir’aun. Maka bangun tidur itu Fir’aun itu bingung ini ada apa. Maka dukun-dukunnya dikumpulkan saya kok ngimpi begini apa artinya ini, wong ngaku tuhan kok tanya sama dukun aneh. Inilah namanya manusia itu emang nggak cocok  jadi tuhan itu, akhirnya itu mikir yang aneh-aneh, ngaku tuhan sekaligus takut sama mimpi, tuhan kok takut lo, tuhan apa itu cari dukun lagi, saya itu mimpi begini mimpi begini, maka dukunnya malah nakut-nakuti ini tandanya akan ada anak kecil dari bani Israil akan menghancurkan kerajaan kamu, maka Fir’aun itu berfikir?  bagaimana supaya saya selamat? mestinya kalo dia itu berfikir kenapa kerajaan saya dihancurkan?  saya berbuat kesalahan apa? Di perbaiki kesalahannya mestinya begitu, tapi Fir’aun malah berfikir sebaliknya Oo! Kalo begitu bayi-bayi bani Israil tak bunuh semua. jadi dia menyelesaikan masalah usaha menyelesaikan masalah itu malah dengan meninggalkan aturan Agama semestinya dia itu menyelesaikan masalah itu dengan memperbaiki dirinya, memperbaiki pemerintahannya, memperbaiki sistim kehidupannya sehingga akhirnya kerajaannya selamat, tapi malah dia tidak anak-anak yang nggak bersalah di sembelih akhirnya bukan selesai masalah malah akhirnya sebagaimana yang telah kita dengar Fir’aun hancur dengan seluruh kerajannya seluruh pasukannya.

 

Jadi yang dimulyakan Allah ta’ala ini pelajaran dari Allah buat kita, kalo menghadapi masalah itu jangan justru malah meninggalkan Agama tapi justru kembali kepada Agama maka nanti masalah-masalah itu akan selesai. Yang dimulyakan Allah ta’ala kadang-kadang hati kita ini sumpek, sumpek hati saya kok sumpek kenapa ya ini jalan-jalan ke kota cuci mata bukan cuci mata malah ngotori mata,  bukan tambah selesai tambah sumpeknya kalo sumpek itu banyak dzikir  perbanyak “Laa haulawala quwwata illa billah” maka sumpeknya nanti akan hilang bukan dengan jalan-jalan ke kota dengarkan musik melihat maksiat, tapi syetan tu maunya begitu, maunya begitu tapi bukan malah selesai tapi malah tambah masalahnya tambah-tambah ini kalo orang kampung ini merasa ekonominya kurang, gimana cara jalan keluarnya utang bank dengan cara riba, persaannya itu akan menyelesaikan masalah ternyata toaambah banyak masalah ekonominya, tambah banyak masalahnya bukan selesai masalah, pokoknya apa saja masalah kita hadapi dengan meninggalkan aturan Agama itu nanti ngalamat itu tooambah parah masalahnya, ibaratnya kita sakit bukan minum obat tapi malah minum racun bagaimana jadinya,

 

Maka kita ini keluar di jalan Allah kita hidupkan amalan masjid kita usaha Agama ini untuk kita ini belajar menyelsaikan masalah dengan Agama, yang mulya baginda Nabi SAW. Di teruskan oleh para sahabtnya sudah memberikan contoh pada kita menyelesaikan masalah dengan kembali pada Agama. Nabi kita kalo menghadapi macam-macam masalah, di Mekkah menghadapi banyak masalah di Madinah mengahadapi banyak masalah maka beliau menghadapi masalah bagaimana caranya istiqomah dalam Agama, istiqomah dalam da’wah, istiqomah dalam ibadah, istiqomah dalam akhlak istiqomah dalam da’wah teruus da’wa, istiqomah dalam ibadah teruus do’a, istiqomah dalam akhlak walaupun menghadapai masalah yang bertubi-tubi dari arah kanan-kiri depan belakang beliau tetap sayang saja kepada umat tidak berubah akhlaknya, akhirnya semua masalah aaa.. selesai semuanya.

 

Masalah berubah jadi rahmat begitu juga telah ditiru sikap nabi ini oleh sahabatnya sayyidina “Abu Bakar As-shiddiq r.a.” ketika beliau wafat terjadi masalah-masalah besar di kalangan umat islam, banyak orang murtad, banyak Nabi palsu, orang romawi mau nyerbu madinah wes nggak karu-karuan. Sebagian orang sudah keder menghadapi masalah ini, bagaimana ini..!! bagaimana ini..!! tapi sayyidina Abu Bakar, sayyidina Abu Bakar bagimana yang difikirkan dulu Rasulullah pesan apa? Ketika Rasulullah mau wafat tu pesan supaya kita mengeluarkan jama’ahnya usamah ke romawi tapi ketika Rasulullah wafat banyak masalah ini sehingga jama’ah ini tertunda, maka untuk menyelesaikan masalah ini berangkatkan jama’ah sebagian orang ngusul hai “Abu Bakar.” jangan, jama’ah  di keluarkan ini huru-hara kayak begini ini dikeluarkan nanti malah repot bahaya ini maka Abu Bakar mengatakan tidak, Rasulullah sudah  pesan keluarkan, keluarkan. Akhirnya ada yang ngusul lagi, yaa kalo terpaksa dikeluarkan pendapat kamu harus begitu tapi yang mimpin jangan usamah lah, itu anak muda belum pengalaman coba cari orang tua, tidak!! dulu oleh Rasulullah telah ditentukan amirnya usamah, ya usamah!. Usamah di jadikan pimpinan Jama’ah? Ganti yang lain. “Rasulullah ngangkat saya suruh ngganti??” katanya : Abu Bakar, tidak bisa jama’ah harus berangkat amirnya harus usamah, Berangkat!! Akhirnya ada yang ngusul lagi, ya kalo orang-orang tidak mau berangkat bagaiamana? Wong suasana kayak begini, nggak mau berangkat? Saya berangkat sendiri, ketika Abu Bakar mengatakan saya berangkat sendiri akhirnya berangkat semua, jadi caranya memberangkatkan jama’ah itu begitu kalo orang-orang alasan banyak, saya berangkat sendiri  akhirnya jama’ah berangkat, orang-orang pada nggak berangkat saya juga nggak berangkat to nggak ada temannya ee!! wes akhirnya nggak berangkat semua, akhirnya dalam beberapa saat seluruh masalah selesai orang murtad bisa dihancurkan, Nabi-nabi palsu sebagian tobat, sebagian bisa dihancurkan orang romawi yang akan menyerbu Madinah nggak jadi ketakutan semua,

 

Ini Abu Bakar ini memberikan contoh kepada kita pokoknya jangan sampai coba-coba menyelesaikan masalah itu dengan cara meninggalkan tertib Agama dengan cara meninggalkan perintah Nabi. Inilah maksud kita-kita belajar, maka kita ini kalo membaca Al-Qur’an itu ada cerita orang-orang da’wah para Nabi dan para Rasul dan cerita masalah-masalah mereka, terus mereka istiqomah nanti datang pertolongan Allah, jadi ceritanya Al-Qur’an itu semuanya begitu.

 

Nabi Ayyub sakit-sakitan terus istiqomah dalam Agama akhirnya datang pertolongan Allah, Nabi Yusuf ini Masya Allah banyak masalahnya ini, masih kecil di rumah sudah ada masalah saudara-saudaranya iri saudaranya sama-sama seayah, sama-sama putra Nabi, sama-sama orang Islam, sama-sama da’i juga. Ini putranya Nabi Ya’qub ini saudara-saudaranya Nabi Yusuf ini orang ……tapi itulah ujian Allah kepada Nabi Yusuf saudara-saudaranya jadi iri sama beliau ingat-ingat ini da’i ini kadang-kadang kena iri ini, karena saudaranya Nabi Yusuf, putra-putranya Nabi Ya’qub itu di ceritakan dalam Al-Qur’an dimana? “Inni roaitu ahada ‘asyaro kaukaba” jadi saudara-saudaranya Nabi Yusuf itu di gambarkan dalam Al-Qur’an sebagai bintang, bintang itu simbolnya da’i itu, jadi saudaranya itu da’i-da’i semua memberikan cahaya sama orang lain “Wabinnajmi hum yatadun” tapi ini ya Allah menguji orang itu macam-macam saudara-saudaranya iri maka kita ini jadi Da’i jangan iri kalo ada orang dapat kenikmatan dapat kemulyaan malah kita ikut senang Insaya Allah, akhirnya Nabi Yusuf itu dibuang ke sumur terus di jual ke Mesir sebagai budak, Nabi kok dijual gimana itu, Nabi kok dijual. Masya Allah ini ujian kepada Nabi Yusuf sampai di Mesir, dibeli oleh menteri di Mesir di rumahnya menteri Mesir ada masalah lagi, ini perkara yang mestinya jadi penyelesai masalah berubah jadi masalah untuk Nabi Yusuf, Nabi itu Yusuf orangnya guaanteng nggak kayak kita ini, pesek-pesek begini orangnya guaanteng, orang yang lapar itu kalo ketemu Nabi Yusuf nggak jadi makan liaat aja, nggak jadi makan, orang sakit kalo melihat Nabi Yusuf  sudah nggak terasa sakit lagi, akhhirnya isterinya menteri Mesir itu gandrung sama Nabi Yusuf , tapi Nabi Yusuf nggak mau “ma’aa dzallah” aku berlindung kepada Allah kata Nabi Yusuf  digoda sama isterinya menteri, oo.., kalo kamu nggak mau sama saya tak masukkan penjara, nggak apa-apa kata Nabi Yusuf , di penjara tapi nggak maksiat malah saya lebih seneng, akhirnya di masukkan penjara masalah lagi masuk penjara dengan saudara masalah, dengan tua rumah masalah sekarang masuk penjara jadi masalah  di kerajaan, jadi masalah-masalah terus tapi Nabi Yusuf istiqomah, istiqomah dalam da’wah di penjara pun tetap da’wah, istiqomah di dalam Agama digoda perempuan tu nggak mau ”ma’aadzallah” tidak, ini apalagi yang muda-muda kayak kamu ini mungkin juga di goda perempuan kalo digoda sih masih lumayan tapi kalo nggoda, ini tambah parah lagi ni.

Ini Allah ceritakan dalam Al-Qur’an supaya kita ini hati-hati maka waktu keluar jangan sampai membawa HP bisa digoda nanti atau nggoda, istiqomah dalam Agama, istiqomah dalam da’wah akhirnya selesai masalah semua saudara yang tadinya iri berubah seneng semua kerajaan yang tadinya memenjarakan berubah Nabi Yusuf diangkat menjadi perdana menteri di sana, yang ini lebih aneh lagi tapi tidak dalam Al-Qur’an ini diceritakan dalam cerita Israilliat, itu Dzulakho akhirnya di kawin sama Nabi Yusuf, Dzulakho sudah tuaa datang pada Nabi Yusuf , Nabi Yusuf sudah nggak kenal siapa kamu? Saya ini Dzulakho.. dulu itu isterinya menteri itu! Oo.. mau apa kamu saya itu masih tetep seperti dulu kamu sudah tua kayak begitu itu.. ia, suami kamu mana? Sudah mati, lah rumah kamu mana? Sudah habis, kamu punya apa sekarang? Saya tidak punya apa-apa, saya punya satu aja cinta kepada kamu, ini nekatnya perempuan kayak begitu itu, ya sudah kamu duduk disitu saya akan do’a kepada Allah. Nabi yusuf sholat dua raka’at do’a kepada Allah dengan ismul a’dzom, do’a-do’a kepada Allah tau-tau ini Dzulakho berubah jadi gadis lagi, terus kemudian dikawin sama Nabi Yusuf, pokoknya semua selesai dengan baik 100% ketika orang itu istiqomah, jadi kita ini keluar 4 bulan keluar 40 hari keluar se-tahun itu supaya kita ini bisa istiqomah untuk mengahadapi apa-apa saja masalah tetep istiqomah kalo yang da’wah setelah ada masalah berhenti itu tu banyak, tapi ada masalah tetep istiqomah la ini yang akan dapat …. Maka dalam Al-Qur’aan tu ceritanya banyak cerita masalah-masalah da’i ini Insya Allah kita niat.

Jadi supaya kita ini punya derajat Agama itu istiqomah, penyakit kita ini kumatan kadang-kadang begini kadang-kadang begitu makanya dikeluarkan supaya nggak kumatan lagi, teruus istiqomah. Jadi maksudnya kita keluar ini supaya kita ini amal itu bukan kumatan, terus istiqomah dalam keadaan apapun juga, itu orang kalo keluar se-tahun itu biasanya mesti ada sakitnya itu, mesti ada se-tahun itu ada sakitnya, ada pegel linunya pokoknya terus istiqomah la ni Insya Allah setelah pulang itu sakit pun tetep dalam agama mesti mengahadapi orang yang seneng mesti menghadapi orang yang benci di waktu keluar itu, kok terus istiqomah, la ini kita harapkan nanti setelah pulang menghadapi apa saja tetap istiqomah mesti menghadapi teman yang cocok kadang-kadang teman yang nggak cocok, kalo kita bisa istiqomah kita berharap nanti setelah itu kita bisa tetap istiqomah, istiqomah ini penting.

 

Para Masyaikh kita di Nidzhomuddin itu contoh orang istiqomah zaman ini, hadirin yang dimulyakan. Syeikh Ilyas di teruskan oleh puteranya Syeikh Yusuf diteruskan oleh Syeikh In’amul Hasan di teruskan oleh para masyaikh sekarang ini maulana Sa’ad maulana Zubair, itu Nidzomuddin itu sampai satu abad itu, tu sudah mengalami wes macam-macam masalah, syeikh Ilyas itu mulai da’wah ini pada zaman India itu masih dijajah sama Inggris zaman perang itu, perang kemerdekaan tapi beliau tetap istiqomah setelah zaman syeikh yusuf yang dimulyakan, wah tambah parah lagi di India itu, India dengan Pakistan itu perang dimana-mana kepala manusia sumur-sumur penuh dengan kepala-kepala manusia, tapi orang Nidzomuddin itu istiqomah teruus sudah nggak ada makanan waktu itu di Nidzhomuddin, maka syeikh yusuf itu kumpulkan orang-orang di Markaz itu, ini keadaan Negeri kayak begini ini tidak aman siapa yang mau pulang silahkan yang mau bersama-sama saya disini silahkan, satupun orang tidak ada yang mau pulang, pokoknya kami bersama tua aja disini, wes zaman nggak karu-karuan muacem-macem keadaan orang Nidzhomuddin itu teruus bawa 6 sifat, 5 amal masjid, itu aja kirim jama’ah tiap hari akhirnya ya Allah SWT. telah mulyakan mereka bisa menggerakkan Agama di seluruh dunia, ya kita ini juga bergitu mau belajar istiqomah dalam keadaan-keadaan yang macem-macem sebagaimana yang diceritakan dalam Al-Qur’an itu kalo orang itu menghadapi masalah teteap istiqomah ya sudah lulus namanya tapi kalo belum begitu itu, itu namanya ya.. belum lulus, tapi kalo lulus naik kelas bagaimana supaya kita tetap istiqomah itu  bagaimana? Ya kita do’a sama Allah banyak orang mengatakan wah, istiqomah itu berat, kata siapa,, beratnya kayak gunung itu matahari itu lebih besar dari gunung bahkan lebih besar dari bumi tapi Allah bikin ringan melayang-layang beribu-ribu tahun di udara, itu besarnya melebihi bumi yang kita tempati ini, berlipat-lipat, Allah bikin ringan, ya ringan aja, bulan ngeleang kayak layangan, lo sekian besarnya kok bisa ngeleang? Ya emang Allah ngeleangkan, begitu juga kita jangan takut wah istiqomah ini berat ini, kata siapa kalo Allah mudahkan ya mudah saja kamu do’a kepada Allah, “ya Allah mudahkan aku untuk istiqomah dalam ridhomu, istiqomah dalam Agamamu” nanti Allah akan mudahkan kita untuk istiqomah, yang beri istiqomah itu Allah SWT. bukan karena keadaan-keadaan, wah ini saya tidak bisa istiqomah ini karena utang saya banyak, bukan.. karena Allah belum menolong kamu untuk istiqomah, saya tidak bisa istiqomah ini, karena istri saya ini nggak faham, bukan Nabi nuh istrinya juga tidak faham tetap istiqomah, ya salah kamu sendiri saling nyalahkan istrinya, saya tidak bisa istiqomah itu karena nggak ada temannya di kampung ini, baru saya sendiri, ya.. bukan Nabi ibrohim juga tidak ada temannya di Babilonia itu Nabi Ibrohim sendiri saja, ayahnya tidak mau istri juga belum punya tapi bisa juga istiqomah, karena apa? Karena Allah tolong dia untuk istiqomah.

 

 

Jadi masalahnya itu pertolongan Allah kepada seseoarng, jadi kalo Allah sudah menolong ya bisa istiqomah, tapi kalo tidak menolong istrinya mendukung dia juga nggak mau keluar duitnya banyak tambah sibuk-sibuk, sehat malah keluyuran kalo Allah tidak menolong ya tidak bisa istiqomah, kalo sudah Allah tolong, istiqomah.
Maka kita do’a ini pertama kali, supaya istiqomah senantiasa do’a kepada Allah, Insya Allah. Pertama kali do’a, kedua kali syukur orang kalo ingin istiqomah tu amal tu dengan syukur, bisa keluar 3 hari seneeng syukuur nanti oleh Allah di istiqomahkan itu, kita dalam zaman seperti ini Allah tolong kita untuk berjuang,, seneeng pahalanya orang-orang yang keluar, pahalanya orang-orang yang da’wah, pahalanya orang-orang ibadah kita renungi sehingga kita seneng syukur, orang itu kalo syukur oleh Allah ditambahi maka jangan amal tu dengan cemberut, seneeng “Qul bifadhlillahi wabirohmatihi fabizaalika fal yafrohuu”  dengan Agama kita harus gembira jangan habis shubuh itu kelihatan nguaantuk bayan shubuh, nggak syukur blass iki, ini nggak ada syukurnya itu orang tu kalo syukur seneng tu nggak bisa ngantuk itu, ya nggak.! Kamu lihat penganten-penganten baru itu, sykurnya nemen itu nggak bisa tidur nggak bisa ngantuk.

Jadi kita ini harus syukur, dengan Agama ini gembira syukur nanti Allah akan ditambah-tambah supaya kita syukur tu senantiasa kita membaca fadhilah-fadhilahnya Agama ini ta’lim, jadi ta’lim itu diantara fadhilahnya itu untuk membentuk sifat syukur dalam hati itu jadi amalan sueeneng itu bukan amalan  dengan terpaksa dengan malas,, tidak. tapi dengan syukur Insya Allah Yang dimulyakan.. kita lihat nanti di akherat bagaimana kemulyaan orang yang amal Agama mereka akan duduk bersama para Nabi, bersama para sahabat, bersama para wali-wali Allah, disaat orang dalam keadaan kesusahan, kepanasan, kelaparan, kehausan. Jadi kita ini mengamalkan Agama Allah ini seneng kedua kali syukur, do’a dan syukur yang ketiga kalo kita ingin istiqomah itu apa-apa Musyawarah  jangan biasa Muntaber.. apa Muntaber itu? Ini istilahnya pak kyai Yahya saya dengar, pa tu Muntaber pak yai? Mundur Teratur Tanpa Berita, ini kata pak kyai Yahya ini, itu muballigh Cianjur itu. Dari tadi saya tegur pak kyai itu, saya kok ketularan malahan, pak kyai nggak usah bikin istilah-istilah, nanti ditiru orang jadi akhirnya digunjing orang,, “oo ya, ya, ya, tapi sekarang saya kok ketularan ini, heran saya, hati-hati itu kalau negur orang, yang betul-betul ikhlas, kalau tidak nanti ketularan dia, kamu tidak istiqomah, nanti lama-lama yang negur itu tidak istiqomah, jadi kalau negur orang itu harus betul-betul ikhlas, karena Allah dan sayang, bukan karena kita merasa lebih baik, itu biasanya jadi tidak istiqomah itu, apa-apa musyawarah, itu ada jama’ah satu tahun, minta wabsy di Nidzomuddin, kepada para Masyaikh “wabsinya satu saja, kalau kamu ingin istiqomah, apa saja musyawarah, nanti istiqomah. Kalau mau tidak keluar, ada masalah…. Ya, musyawarah, kalau mau keluar ya musyawarah, apa saja musyawarah, nanti kamu istiqomah, tapi kalau nggak mau musyawarah, nah ini nanti akhirnya orang, jadi nggak istiqomah.. senantiasa do’a, senantiasa syukur, senantiasa musyawarah, insya Allah nanti bisa istiqomah, walaupun ngadepi badai..!!! yang besarpun akan isiqomah, nah kalau sudah istiqomah, akhirnya pertolongan Allah datang, akhirnya masalah-masalah berubah jadi rahmat, Insya Allah, syukur itu penting yang dimulyakan.. sehingga Allah memerintahkan kepada Nabi Daud, untuk senantiasa syukur, “I’malu ‘alaa daawuda syukro”  amallah dengan syukur, baginda Nabi sholat sampai bengkak-bengkak kakinya, ditanya.. kenapa!!, kok berbuat begini, padahal tuan ini kan, maka Nabi mengatakan “af’al akunu ‘abdan syukuuro”  apa saya tidak ingin jadi orang syukur, jadi kalau syukur itu, ibadah walapun panjang, uenak saja itu, syukur.. kenapa kita ini sholat dua raka’at saja sudah capek, syukurnya kurang.. kalau betul-betul syukur, nanti sholat semalam itu, uueenak saja rasanya, nah, termasuk kenapa kita keluar, kok tidak bisa mengeluarkan jam’aah, kalau dapat tasykilan kurang syukur, kalau kita ini kok dapat tasykilan, itu syuukur…seperti dapat uang satu milyar itu, insya Allah dapat tasykilan, wong nggak dapat tasykilan tenang-tenang saja, malah tidur seperti nggak terjadi apa-apa, makanya nggak dapat tasykilan, tapi kalau kita ini dapat tasykilan terus sueeneng, “’alaisallah hubi a’alama bisyaaakiriin”  ini dalam tafsir-tafsir para ulama’ kalau Allah tu tau dalam hati kita ini kalau diberi syukur, Allah akan kasih, jadi Allah itu tidak memberi, karena Allah tau, ini kalau diberi juga nggak syukur ini, di kasih tasykilan ni nggak di urus orang ini, setelah dapat tasykilan tinggal pulang, makanya nggak dapat tasykilan, lo saya ini syukurnya kurang kok dapat tasykilan, ya itu rahmat Allah, diampuni Allah kamu, sebetulnya tidak layak untuk dapat tasykilan kamu ini, bukan berarti kalau sudah dapat tasykilan berarti syukur betul.. belum!! Kalau yang tidak dapat tasykilan itu ada tanda-tanda, emang syukurnya kurang betul ini, maka kita ini dapat tasykilan itu seneeeng… begitu, terus kita rawat, kita do’akan, nanti oleh Allah ditambah lagi, ditambah dapat dua syukur, ditambah lagi, itu di Rewin itu dulu Cuma orang empat, empat orang saja, tapi ini Insya Allah syukur semua empat orang ini, jadi berjuta-juta orang, bukan beribu-ribu, berjuta-juta orang akhirnya, maka kita jadi da’i yang syukur, Insya Allah yang dimulyakan, taklimnya syukur, dapat satu hadits dua hadits, sueeneng terus diamalkan, jaulah yang syukur, dapat tasykilan syukur, punya teman syukur, kalau kita punya teman nggak syukur, nanti satu jama’ah, ada yang pulang nanti, ahh ini jama’ah saya, sepuluh tinggal lima, kemana? Pada pulang nggak betah, karena kurang kamu syukuri, kalau betul-betul syukur nanti sepuluh jadi dua puluh, tapi karena kurang syukur, sepuluh jadi lima, Insya Allah “’alaisallah hubi a’alama bisyaaakiriin”  Allah tahu siapa yang akan syukur itu., kalau Allah melihat hati kita ini betul-betul akan syukur insya Allah, Allah itu akan kasih kita. Insya Allah yang dimulyakan, do’a terus syukur terus, apa-apa musyawarah. Kita punya teman tu harus syukur, kalau malam istima’ itu, teman-teman kita kumpul di Markaz ia? Ia.. kita syukuri, kita temani, jangan ditinggal pulang, kalau ditinggal pulang nanti, namanya kurang syukur nanti, ditemani, bawakan tempe, kopi jahe, kita ikrom, kita ceritakan da’wah pada mereka, bawakan tikar, nanti insya Allah akan bertambah itu teman kita, sehingga kita mati, kita gembira, karena banyak yang meneruskan kerja-kerja kita ini, insya Allah!!. Syukur ini penting, untuk istiqomah ini,  syarat utama ini,

Do’a, syukur & musyawarah Insya Allah..!! bagaiamana mensyukurinya, yang mau keluar berdiri ke selatan… insya Allah…

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: