Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro KH. Udzairon : Wali Santri 2012

اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

 

Bapak-bapak wali-wali santri dan juga ibu-ibu wal akhosh para ulama’ yang hadir dalam majelis siang ini. Para habaib-habaib. Dalam majelis kita ini juga hadir yang terhormat habib Ibrahim al hasani dari yaman. Beliau ini lama sekali bersama saya di rumahnya sayyid Muhammad di makkah sana. Dan juga habib-habib yang lain, yang banyak. Juga habib ‘Ubaidillah dari trangkil.

 

Masya Allah, seumpama tidak ada perintah dari Allah :

 

وامّا بنعمة ربك فحدث

 

Hendaklah kita ini menceritakan nikmat-nikmat Allah saja. Saya itu macam tidak berani cerita mengenai keadaaan-keadaan yang sangat menggembirakan pada siang hari ini. Tapi karena ada perintah  supaya kita ini bercerita mengenai nikmat-nikmat Allah, dan bercerita mengenai nikmat Allah itu adalah tanda syukur, sebagaimana dalam sebuah hadits dikatakan :

 

التحُدُّث بنعمة شُكرٌ

 

Bercerita mengenai nikmat-nikmat Allah itu syukur.

 

Seumpama tidak ada itu, saya khawatir cerita-cerita spt ini bisa menjadi nggak baik. Bisa jadi sombong dsb.

 

Tapi karena perintah Allah, dan karena kita ini mendapatkan ridho Allah, dan supaya kita ini digolongkan orang-orang yang syukur, akan saya ceritakan juga.

Al imam Abdul Wahab Asy Sya’roni, beliau mengarang kitab Lathoiful minan wal akhlaq fit tahadduts bi ni’matillah alal ithlaq. Beliau bercerita mengenai nikmat-nikmat Allah, yang telah Allah berikan kepada Beliau. Mulai lahir beliau sampai menjelang wafat. Maka saya sbg tanda syukur ke hadirat Yang Agung, Yang Mulya, Yang telah memberi taufiq kita, kepada kebaikan-kebaikan ini, tanda syukur kita ke hadirat Allah Swt, maka akan saya ceritakan sedikit mengenai apa yang saya rasakan dalam majelis ini.

 

Hadirin yang dimulyakan…

Saya itu sudah banyak melihat madrasah-madrasah, pesantren-pesantren di mana-mana, di pojok-pojok dunia ini. Tapi pesantren kita ini, bukan pesantren saya lho…, tapi pesantren kita ini, termasuk pesantren yang langka. Saya lama di Saudi itu, saya juga pernah masuk di kuliah-kuliah hadits, bagian kelas terakhir doctor itu, yang hafal bukhori satu pun ndak ada. Jadi seumpama saya itu bisa ngasih gelar kamu itu, yang hafal bukhori saya kasih gelar “Doktor” semua, itu. S4, bukan S3…

Betul ini..!

 

Jadi sekarang ini, orang hafal bukhori itu termasuk orang langka, perlu diawetkan. Jangan sampai dirusak dengan perkara-perkara yang merusaknya. Orang tuanya seharusnya memang harus syukur betul-betul. Punya anak hafal bukhori ini harus syukuran. Kalo nggak syukuran itu ya… masya Allah. Berarti tidak tahu nilainya ilmu, tidak tahu nilainya agama. Karena ini perkara besar Hadirin yang dimulyakan. Sudahlah kamu putar… sampai kepada ulama’ yang katanya besar pada zaman ini, nanti kan nggak hafal bukhori. Tapi bukan berarti kamu trus ulama’ besar lho… bukan… Kamu baru ulama’ kecil. Umurnya saja baru 19 tahun. Ulama’ besar, besar dari mana?! Ya Tho?!

 

Dari segi hafalan lho… bukan dari segi yang lain-lain. Tapi ini perlu kita syukuri, supaya kita ini syukur betul-betul.

 

Barang siapa yang dikasih Allah Swt hafal Qur’an, kemudian dia merasa ada orang yang lebih beruntung dari pada dia, betul-betul dia ini orang yang tidak syukur.

Lha ini hafal Qur’an, hafal Bukhori lagi… ini syukurannya harus nyembelih unta ini. Unta itu saja tidak cukup. Kalau seumpama boleh nyembelih orang, mungkin nyembelih orang saja ini. Tapi nyembelih orang tidak boleh masalahnya. Pokoknya ini adalah nikmat yang sangat besar. Apalagi ada beberapa yang hafal minhaaj. Ini lebih langka lagi ini. Sekarang ini kok ada orang hafal minhaaj, minhaaj itu bapak-bapak ibu-ibu, tebalnya itu kayak qur’an itu lho. Tulisannya kecil-kecil lagi. Nggak ada harokatnya, gundul. Itu dihafalkan oleh anak-anak kita. Itu kalau tidak karena taufiq dari Allah Swt, masya Allah…

Dan ini semua menunjukkan bukti kebenaran mengenai apa yang dikatakan oleh yang Mulya Baginda Nabi Agung Muhammad Saw :

 

امتى كالمطر لا يدرى اولام اخيره

 

Umatku ini seperti hujan, tidak diketahui yang dulu apa yang akhir yang baik.

Maksudnya yang akhir-akhir pun orang-orang yang istimewa itu pastinya ada. Orang-orang yang isimewa itu bukan orang yang dulu saja. Orang yang akhir pun juga ada. Dan insya Allah ini, menurut pandangan saya, orang tadi itu, yang salaman tadi itu, termasuk orang-orang yang istimewa. Dari segi hafalannya. Tinggal sekarang ini, bapak-bapak ibu-ibu kita semua, khususna santri-santri berfikir, bagaimana tingkatan hafalan yang begitu tinggi ini dibarengi dengan tingkatan taqwanya yang begitu tinggi juga. Jangan keilmuannya itu tinggi trus tingkatan taqwanya itu rendah. Saya betul-betul sesak nafas saya itu, kalau ada santri setiap hari hafalannya qur’an, kok pulang kemaren itu nonton TV. Kok itu saya sedih… masya Allah.

 

Kalau orang awam yang kadang-kadang sholat kadang-kadang tidak, ndak begitu ngerti ilmu agama, nonton TV itu kok kelihatannya pantas-pantas saja, dari pada keluyuran ke mana-mana, begitu. Dari pada lho itu?! Tapi kalau orang hafidz qur’an,…?!

 

Maka saya itu ingat ayah saya. Dulu kalau saya baca qur’an kok keliru, mesti beliau itu marah. “Lidah kamu ini pasti pernah berbuat dosa, ini.? Apa dosa kamu? Kamu bohong ya… hari ini?!”

 

Ooo… dimarahi habis-habisan. Jadi gara-gara salah tajwid saja, lidah itu dimarahi habis-habisan.

 

Lha tadi malam itu ada beberapa santri, tidak saya sebut namanya, saya suruh baca beberapa ayat itu, padahal dia ini pakarnya hafalan di pondok ini, kok bacanya bisa :

 

اذ قالت امرئة عمران إني نظرت لك ….

 

Heh… lho kamu pulang kok ذ –nya jadi ظ itu bagaimana itu? Langsung ini kesempatan. “Kamu nonton TV, ya?” makanya kok mblero itu?!

 

Tapi namanya tidak saya sebutkan.

 

إن الله ستاريحب الستر

 

Orang itu tidak boleh menceritakan keburukan orang. Paham ini?! Ini satu, yang saya ingatkan itu. Tapi ini untuk yang lain-lain juga. Termasuk juga untuk wali murid. Ingin jadi anaknya jadi orang alim, jadi orang sholeh, jadi orang taqwa, anaknya di pesantren, ngaji siang malam, trus wali muridnya itu di rumah nonton TV, itu kelihatannya juga sudah tidak pantas. Kalau orang itu cita-citanya jadi insinyur atau jadi dokter, nonton TV itu nggak pa pa lah. Ingin anaknya itu jadi orang alim, jadi ulama’, jadi hafidz qur’an, jadi hafal bukhori, jadi penyebar hidayah, lha kok nonton TV, inna lillahi wa inna ilaihi rooji’uun…

 

“Apa TV itu harom?…”

 

Ooo… TV itu bukannya harom. Sumbernya harom…

 

Yang harom-harom itu semua… didakwahkan di televisi. Maka ini santri-santri yang baru dating dari rumah, yang merasa tersinggung dengan parkataan saya ini untuk segera taubat. Insya Allah yaaa… biar nanti ذ –nya tidak jadi ظ, yaa…?!

 

Hadirin yang dimulyakan…

 

Betul-betul kita syukuri suasana ini. Lha suasana ini adalah barokahnya do’a para guru-guru kita, doa orang-orang sholeh, dan para para wali murid juga, termasuk doa para ibu-ibu juga. Karena dikatakan dalam kitab “Bahjatul Majalis” itu bahwa doanya wanita yang sholihah itu seperti doanya seratus wali, katanya. Nggak tahu sumbernya dari mana. Tapi dikatakan oleh para ulama’. Maknanya doa para wanita itu sakti. Karena memang langka wanita sholehah itu. Sehingga doanya seorang wanita sholehah itu kayak doanya seratus wali. Jadi kalau ada sepuluh wanita sholihah itu seperti seribu wali, sudah. Tidak usah banyak-banyak hidayah sudah menyebar ke mana-mana ini. Berkat doa para guru kita, doa para masyaikh kita, doa wali murid, doa santri sendiri, dan pengorbanan semuanya. Karena wali-wali murid ini saya lihat juga berkorban besar. Dari tempat-tempat yang jauh datang ke sini hanya supaya untuk anaknya belajar ilmu.

 

Kemarin itu ada seorang wali murid, diceritakan kepada saya untuk datang ke sini itu beliau jual satu rumahnya. Rumahnya itu ndak tahu berapa, dijual satu untuk datang ke sini. Dari Kalimantan itu. Lha orang kayak gitu kalau jelas itu tiada tara nilainya di sisi Allah. Bapak telah berkorban dan ibu-ibu telah berkorban, anak-anak juga sudah berkorban juga. Semoga pengorbanan kita ini barokah seperti pengorbanan keluarga Ibrohim AS. Ayahnya berkorban, istrinya Siti Hajar berkorban, anaknya berkorban siap untuk disembelih. Istrinya berkorban habis-habisan. Ayahnya pun siap dibakar demi agama. Akhirnya keluarga ini dipilih oleh Allah untuk menjadi asbab hidayah bagi seluruh alam. Keluarga inilah yang akhirnya menurunkan yang Mulya baginda Agung Nabi Muhammad Saw. Nabi Agung melahirkan sayyidah Fatimah r.ha. Sayyidah Fatimah melahirkan hasan husen r.huma. sayyidina Hasan, sayyidina husen melahirkan ulama’-ulama’ melahirkan pejuang-pejuang, termasuk wali 9. Yang akhirnya menyebarkan agama di negeri ini. Begitulah pengorbanan-pengorbanan kita ini semoga Allah terima.

 

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Tapi perlu diingat oleh bapak-bapak ibu-ibu, wali murid bahwa anaka-anak ini walaupun tingkat hafalannya sudah begitu banyak, saya katakan begitu banyak untuk ukuran zaman ini, ada beberapa orang yang hafal 10 ribu hadits. Ini termasuk barang langka di alam semesta ini. Tapi walaupun hafalan sudah banyak, belajar juga sudah agak lama, tapi mereka itu masih anak-anak. Perlu mereka itu dibimbing lagi didewasakan, makanya kita membuka takhosus fiqih, takhosus qiro’ah, takhosus bahasa arab, dua tahun. Maksudnya apa!? Jangan sampai nanti anak-anak yang sudah punya kelebihan-kelebihan ini, mentalnya belum dewasa kemudian pulang, akhirnya kembali kepada keawwaman lagi. Karena namanya anak-anak itu bagaimanapun bentuknya ya tetap anak-anak. Perlu mereka ini sedikit didewasakan supaya mereka lebih dewasa. Dan supaya mereka menambal kekurangannya di kelas 1,2,3,4,5,6,7,8 itu kita buka takhosus supaya mereka menyempurnakan kekurangan-kekurangannya itu. Ada yang punya kelebihan di bidang qiro’ah tapi tajwid masih pletat-pletot. Ada yang sudah hafal bukhori, tapi nahwunya masih lemah. Maka kita sempurnakan. Insya Allah Hadirin yang dimulyakan?!

 

Ini saya ingatkan kepada santri-santri semua dan juga wali murid. Jangan mikir ke mana-mana. Mau dikirim ke luar negeri, ndak!!! Takhosus dulu…

 

Ini untuk kemaslahatan anak-anak kita sendiri. Bukan maksudnya saya ini menahan-nahan anak-anak, bukan… supaya keilmuannya itu matang. Kita sudah mengirim anak-anak ke Pakistan. Kurang lebih 500 orang kita kirim ke sana. Mulai tahun dulu sampai sekarang ini. Tapi kenyataannya bagaimana?! Yang dulu awalnya di temboro maju, pulang dari sana ya.. maju. Tapi kalau di temboro dulu itu saabiqunal mutaakhkhiruun, bukan saabiquunal awwaluun, tapi saabiqunal mutaakhkhiruun yaa… di sana pun kelihatannya sedikit perkembangannya. Cuman tambah gelar maulana…

 

Fiqihnya itu lemah, keilmuannya lemah. Tapi kita berharap disempurnakan takhosus dulu, supaya keilmuannya itu agak lumayan. Baru dikirim ke Pakistan, untuk belajar semangat dakwah di sana. Belajar ke yaman. Boleh juga, tapi setelah takhosus. Untuk belajar ziaroh qubur di yaman. Tapi sebelum itu semua, keluar satu tahun dulu. Lho kok banyak sekali…?! Itu belum banyak, masih nambah satu kali lagi. Kamu harus pernah khidmat di pondok ini minimal satu tahun. Enak saja kamu ini. Sudah diajari sepuluh tahun trus kamu nggak mau mbantu saya. Itu namanya tidak syukur tho?! Keluar setahun itu unutk ummat. Ke Pakistan itu untuk menambah wawasan, dakwah kamu, dakwah seluruh alam. Ke yaman supaya kamu ketemu orang-orang sholeh disana. Itu mbahnya wali songo ada disana, Faqih Muqoddam. Satu tahun untuk saya. Bagaimana?! Lha ini penting ini. Karena saya ini juga sudah capek lho ngajar kamu itu. Samapai saya sekarang sakit-sakiten, itu gara–gara kamu. Bukan kebanyakan kolesterol, bukan. Kebanyakan sumpek ngelihat kamu itu. Sekarang gembirakan saya, khidmat setahun. Apa tugasnya?! Nanti kamu membantu adik-adik kamu yang musyawarah habis isya’ itu. Sehingga mutu santri-santri yang akan datang lebih baik dari pada yang sekarang. Insya Allah.

 

Insya Allah itu kalau menurut orang-orang sholeh maknanya janji. Bukan insya Allah itu untuk menghentikan orang bicara. Maknanya janji da berharap kepada Allah agar Allah mudahkan apa yang kita harapkan. Itulah maknanya insya Allah. Saya meng-program kalian itu, itu karena betul-betul saya itu saying kepada kamu. Saya memprogram kamu, persis dengan saya memprogram anak-anak saya. Itu anak-anak saya tidak ada yang saya kirim ke mana-mana. Harus selesai takhosus. Yaa… nggak. Itu anak-anak saya, tak kasih tahu semua tho kamu. Jadi bukan saya ini nyuruh kamu untuk takhosus ini maksudnya untuk ganjel kamu, itu bukan begitu. Tapi untuk supaya ini, masya Allah, zaman ini keilmuan agama itu tambah merosot, tambah merosot, tambah merosot. Jadi kalau kita biarkan, tambah merosot lagi. Seperti yang diceritakan pak Bed tadi. Professor doctor tamatan al azhar, tapi baca al qur’an pletat-pletot. Kenapa?! Karena tidak belajar tajwid lho… walaupun dia itu professor/ di atas professor, kalau ndak belajar tajwid apa tahu-tahu pintar tajwid. Oo,,, ya nggak bisa. Jadi titel itu bukan menunjukkan orang itu bermutu. Maka kita ingin pesantren kita itu membentuk orang-orang yang bermutu. Bermutu imannya dan mujahadahnya. Fikir ummatnya. Makanya kita bikin program-program dakwah. Bermutu keilmuannya, bermutu waro’nya ndak mau dengan perkara-perkara yang harom. Maka mungkin wali murid itu agak sedikit sedih ini, anak-anaknya di pondok, nggak boleh HP, nggak boleh ini, sehingga dihubungi susah. Memang disini dihubungi susah. Kalau nggak punya HP. Tapi nanti di akherat dihubungi itu mudah. Anak-anak kamu akan memberi kamu syafa’at kepada kamu. Dihubungi mudah, karena dia hafidz qur’an. Bisa mensyafa’ati ayah ibunya. Di temboro dihubungi sepuluh tahun nggak bisa. Di padang mahsyar, langsung menjemput kita. Mana yang untung?! Nhaa… gara-gara HP ini, anak-anak nggak konsentrasi. Ada genteng bocor tahu, sapinya sakit tahu, walimah tahu. Apa saja jadi tahu. Akhirnya ngajinya tidak konsentrasi, tidak tawajuh. Akhirnya jadi kedodoran, dan tidak berhasil. Maka nabi Musa AS ketika mau menerima wahyu, menerima ilmu agama, maka digiring oleh Allah, ditarik oleh Allah Swt, di puncak gunung tursina sana. Baru berhak menerima kalamullah. Begitu juga Yang Mulya Baginda Nabi Muhammad Saw. Ketika mau menerima wahyu digerakkan hatinya oleh Allah untuk datang ke gua Hirro’. Maka dalam logo Al-Fatah itu kan ada tulisan iqro’ dan di bawahnya itu ada jabal nur yang ada gua hirro’nya itu. Jadi maksudnya kalau kamu ke al fatah ini, berarti kamu masuk gua hirro’. Belajar, iqro’. Gua hirro’ ada HPnya nggak?! Nggak ada… Sunyi….

 

Walaupun istri nabi itu di rumah waliyullah, sebaik-baiknya wanita yang ada di dunia ini, tapi rosulullah untuk menerima iqro’ itu, dipisahkan dulu di puncak. Ditunjukkan memang untuk mencari ilmu agama ini diperlukan satu keheningan, ketenangan, ketawajuhan, supaya bisa masuk itu. Lain dengan ilmu-ilmu dunia. Ilmu agama itu lain. Ilmu agama itu harus ada hubungan kuat antara guru dengan muridnya. Maka sayyidina Jibril AS, ketika mau mengajarkan iqro’ kepada baginda Nabi, dipeluk dulu, sampai setengah mati pelukannya itu. Dipeluk lagi, Dipeluk lagi, Dipeluk lagi, sampai tiga kali, baru diajari iqro’. Maka santri itu perlu rapat dengan gurunya itu. Biar sukses. Lain dengan belajar matematika. Belajar matematika kepada orang kafir pun bisa. Tapi ilmu agama itu lain… ilmu suci, ilmu langit, ilmunya para Nabi, harus ada cara khas. Termasuk kerapatan, kecintaan, antara murid dengan gurunya. Maka wali-wali murid itu, harus mendukung bagaimana anak-anaknya itu punya pandangan yang baik kepada guru-gurunya. Jangan nanti anaknya pulang satu tahun sekali, cuman beberapa hari, kemudian ngomel sama anaknya. Ini pesantren apa sih ini?!

 

Orang nggak boleh pulang. Pulang cuman dikasih kesempatan sebentar saja. Wah-wah tertibnya kok tertib apa ini. Kok memberatkan sekali.

 

Itu namanya, wali murid itu tidak kerja sama dengan gurunya, itu. “Tapi masya Allah, nak… itu guru-guru kamu itu kok begitu saying sekali sama kamu tho.?! Dikasih kesempatan prei cuman sebentar saja. Nah cepat-cepat balik, cepat-cepat balik. Sudah disayangi jangan sampai kita ini tidak memperhatikan sayangnya guru kita. Jangan bertepuk sebelah tangan. Akhirnya ditempiling nanti. Bertepuk sebelah tangan kan artinya nempiling, kan?!

 

Jadi Hadirin yang dimulyakan Allah Swt….

 

Ini pentingnya kita kerja sama semuanya. Dah ini untuk semuanya. Saya teringat beberapa tahun yang lalu, ketika pak Bed ini datang ke Nidzomuddin, Beliau cerita mengenai perkembangan Daurotul Hadits di temboro ini kepada Maulana Ilyas Barabankawi. Beliau ini penanggung jawabnya pesantren di Nidzomuddin, Tajibul ‘Ulum. Tahu anak-anak hafal seribu hadits, dua ribu hadits, maka Maulana Ilyas itu terkejut. Kok masih ada ya… sekarang yang menghafalkan seperti itu?! Jadi orang india sendiri terkejut dengan perkembangan ini. Tapi lebi terkejut lagi kalau sudah hafal 1000 hadits masih nonton TV. Ooo… lebih terkejut lagi itu. Jadi maksud saya itu, antara keilmuan dengan ketaqwaan itu harus kita sesuaikan. Kalau antara keilmuan dengan ketaqwaan tidak sesuai, akhirnya seperti kita ini punya lampu gedhe sejuta watt, nggak ada setrumnya, akhirnya yaa gelap saja. Tapi ada lampu itu 5 watt, tapi ada setrumnya, yaa menerangi mana-mana.

 

Insya Allah Hadirin yang dimulyakan… ini bapak & ibu datang jauh-jauh. Kalau bicara sama santri bisa disambung lagi kapan-kapan. Tapi saya mau mengfokuskan pembicaraan saya ini kepada wali-wali murid yang datang. Jauh-jauh masya Allah… pertama kali saya sangat gembira dengan kedatangan bapak-bapak & ibu-ibu semua. Diceritakan bahwa ibunya Imam Bukhori, seorang wanita yang kaya raya. Beliau itu menemani Imam Bukhori yang masih kecil waktu itu dari satu negeri ke negeri yang lain, tapi pengorbanan-pengorbanan ibunya itu, sampai hartanya habis, untuk anaknya itu tidak rugi. Sehingga ilmunya Imam bukhori menjadi rujukan bagi seluruh umat di seluruh dunia sampai sekarang. Kayak apa untungnya ibunya imam Bukhori itu?! Maka kalau ibu-ibu, mungkin sedikit korban untuk anaknya ini insya Allah tidak akan rugi. Pengorbanan seorang ibu sangat tinggi nilainya di sisi Allah Swt. Cita-cita seorang ibu, sangat mempengaruhi keadaan anaknya.

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Sebagaimana diceritakan di dalam al qur’an, istrinya sayyidina Imron ketika beliau hamil, berdoa :

 

اذ قالت امرئة عمران ربي اني نذرت لك ما في بطني محررا فتقبل مني انك انت السميع العليم

 

Ketika beliau hamil, berdo’a kepada Allah : Ya Allah, saya bernadzar, saya bercita-cita, bahwa anak saya ini, محرر , hanya untuk agama saja, ya Allah. Hanya untuk berkhidmat pada agamaMu saja. Terimalah nadzar saya ini ya Allah, dari aku.

 

Maka dari awal kesuksesan anak itu di mulai dari niat tulus ibunya. Ini ibu-ibu dengar. Penting ini. Sudah punya niat seperti istrinya imron apa belum ini.?! Ya Allah, saya bernadzar, anak saya ini untuk agamaMu. Saya tidak ingin anak saya ini jadi lurah, jadi camat, jadi bupati, jadi presiden. Ndak…..

 

Betul itu…..

 

Presiden sudah ada. Untuk apa kamu jadi presiden?! Nanti nganggur kamu. Lurah juga sudah ada. Ini pak lurah juga hadir di sini. Kamu mau mendaftarkan lurah. Ya mesti nggak diterima.

 

Kita jangan bercita-cita anak-anak kita menjadi pejabat-pejabat. Tapi bercita-citalah anak-anak kita jadi asbab hidayah untuk pejabat-pejabat. Kayak wali 9. Tidak jadi raja. Tapi malah jadi asbab hidayah bagi para raja-raja. Sehingga raja-raja jawa pada masuk islam semua. Ini penting ini. Dimulai dari sini ini. Jadi pendidikan bukan dimulai dari pesantren. Dimulai dari niatnya seorang ibu. Anaknya itu diniatkan tulus untuk agama. Ada seorang wali Allah bercerita. Kalau nggak salah namanya ini, Bishral Hafi, kalau nggak salah. Maka anaknya itu, santri, dapat targhib dari gurunya seperti ini. Maka akhirnya dia pulang menemui ayahnya dan ibunya.

 

“Yah… saya tadi dapat penjelasan dari syeikh, supaya anak-anak itu bisa sukses, anak-anak diserahkan untuk agama. Maka saya mohon kepada ayah & ibu, serahkan saya ini untuk khidmat kepada agama saja. Saya tahu bahwa saya punya kewajiban berkhidmat kepada ayah, berkhidmat kepada ibu. Tapi saya mohon halalnya bu… mohon halalnya pak… saya ini serahkan kepada Allah untuk khidmat kepada agama saja. Maka ayah & ibunya, “Ya… benar anakku. Pokoknya kamu untuk agama. Kamu nggak perlu khidmat sama ayah, nggak perlu khidmat sama ibu. Kamu saya niatkan untuk agama saja. Akhirnya berangkatlah ngaji dia ini. Dia ngaji lama jadi orang alim, maka malam hari dia pulang ke rumahnya. Setelah sekian tahun pulang, trus ketuk pintu. Thok, Thok, Thok, assalamu’alaikum… dijawab sama ayahnya: “Wa’alaikum salam… siapa? Siapa ini?” ‘Lho… saya anaknya bapak. Anaknya ibu.’ “Lho,,, saya tidak punya anak, kok. Kata ayah & ibunya.” ‘Tidak punya anak bagaimana?’ “Dulu… saya punya anak. Tapi sudah saya serahkan kepada Allah… jadi sekarang saya tidak punya anak. Saya serahkanAllah untuk khidmat agama. Lha kamu ini anak siapa? Saya nggak punya anak lagi sekarang.”

‘Waduh. Nggak bisa pulang ni saya.’

 

Akhirnya dia berangkat ngaji lagi. Dan jadi wali anak itu. Maka wali murid itu seperti itu. Jangan dididik anaknya itu cengeng. Suruh pulang… saja. Kamu di pondok makan tewel saja nak… sekarang kamu saya sembelihkan ayam…

 

Akhirnya nggak mau mondok anaknya itu. Insya Allah bapak-bapak ibu-ibu…

 

Sekarang anaknya bagaimana ini.?! Santri-santri ini. Kamu sudah pernah diserahkan kepada Allah belum oleh ayah dan ibu kamu?! Belum…?! Ya nanti minta halalnya saja ya. “bu’… ayah… serahkan saya kepada Allah. Supaya saya itu jadi anaknya imron itu lho. Supaya barokah… jangan disuruh pulang saja, tho!!! Masak ngaji dijatah-jatah. Nanti pulang, Nanti pulang. Ini bagaimana ini. Nanti barokahnya jadi kurang. Insya Allah begitu yaaa…

 

Jadi barokah dari seorang anak itu, diceritakan itu, di antara asbabnya yang besar  itu adalah dimulai dari niat yang tulus dari seorang ibunya hanya untuk agama. Akhirnya keluarlah anak. Cita’cita ibunya itu yang keluar itu adalah anak laki-laki. Tapi ternyata malah keluar perempuan… itulah sayyidah Maryam r.ha. dan semoga santri-santri putri ini begitu juga. Jadi Sayyidah Maryam r.ha.

 

Maka Hadirin yang dimulyakan, barokah dari seorang ibunya itu, siti Maryam ketika masih kecil itu, kecerdasannya, kepintarannya itu sudah seperti orang yang umurnya besar. Jadi umur sebulan itu sudah kayak umur setahun.

 

فأنبتهانباتا حسنا

 

Barokah dari niat ibunya tadi, pertumbuhannya lebih bagus…begitu.

 

وكفلها زكريا

 

Kemudian ini terjadi yang aneh lagi ini. Barokah dari niat seorang ibu itu ada keanehan terjadi. Apa itu?

 

Ulama’-ulama’ bani israil pada zaman itu, mereka itu berebut ingin mendidik Maryam. Kalau ulama’ itu masih bisa dipahami. Tapi kalau yang ikut berebut itu bukan hanya ulama’, sampai seorang nabi pun, yaitu nabi Zakaria, itu berebut juga. Dan ulama’ulama’ itu pada nggak mau ngalah dengan nabi Zakaria itu.

 

“Pokoknya kami saja ya, yang ngurus ini.” ‘saya saja!!!’ “ndak… saya saja…”

 

‘ya sudah. Sekarang undian. Diundi, setiap ulama membawa pena ditulisi namanya, kemudian dilemparkan ke sungai. Siapa yang penanya hanyut, nggak berhak mendidik Maryam. Siapa yang penanya tidak hanyut, boleh. Lha ternyata semua penanya hanyut, selain penanya nabi Zakaria. Akhirnya nabi Zakaria yang berhak.

 

Lho…ini kamu renungi itu. Jadi kalau orang tua itu kalau niatnya itu bener-bener lurus, nanti Allah akan gerakkan orang-orang sholeh untuk mendidik anak-anak kita. Makanya kalau kita lihat anak-anak kita itu kok kumpul dengan orang-orang nakal, anaka-anak nakal, jangan disalahkan siapa-siapa. Ini barang kali niat saya ini kurang lurus ini. Sehingga yang menemani anak-anak saya itu orang-orang nakal. Lha kalau niat saya lurus. Insya Allah orang-orang sholeh akan berebut untuk mendidik anak saya. Begitu saja… nggak usah nyalahkan orang. Karena kalau nyalahkan orang, itu tidak ada perkembangan apa-apa. Jadinya malah kita ini rusak. Tapi kalau kita ini menyalahkan diri kita sendiri, maka kita aka nada perbaikan, meningkat. Dalama nasehat yang diriwayatkan oleh nabi isa, “siapa yang menyalahkan orang lain, dia tidak akan sampai kepada Allah. Siapa yang menyalahkan dirinya sendiri, maka dia akan sampai kepada Allah.”

 

Lha kalau orang itu mau menyalahkan dirinya sendiri, dia akan meningkat. “Oo… niat saya kurang lurus ini. Oo… doa saya kurang ini. Nangis saya waktu malam kurang ini. Maka akhirnya anak saya ngantukan seperti ini. Tidak menyalahkan orang. Akhirnya meningkat, meningkat, meningkat. Dan datang nusrotullah.

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Kemudian dari siti Maryam itu menurunkan seorang Nabi seorang Rasul, yakni nabi Isa as. Dan nabi Isa itu setelah dakwah kurang lebih 3 tahun, lalu diangkat ke langit. Dan nabi kita mengatakan, bahwa nanti menjelang kiamat, nabi isa akan diturunkan kembali untuk menyempurnakan perjuangan Nabi Saw, sehingga tidak ada agama yang dianut di muka bumi ini selain agama islam. Habis agama selain agama islam.

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Ini masalah barokahnya doanya ibu. Cita-citanya ibu. Ini masih ada satu lagi ni, satu cerita yang sangat menarik di dalam al qur’an ini. Yaitu ceritanya siti sarah. Istrinya nabi Ibrahim. Beliau dimulyakan oleh Allah, dikaruniai anak namanya ishaq as. Dan nabi ishaq ini akhirnya menurunkan ribuan Nabi. Seluruh nabi-nabi bani israil adalah keturunan ishaq. Kapan beliau mendapatkan kemulyaan ini. Kapan?! Ini perlu diperhatikan ibu-ibu ini. Kapan? Yaitu ketika beliau khidmat tamu. Dikatakan oleh para ulama, kalau seorang ibu suka khidmat umat, khidmat tamu, mak itu barokahnya akan kembali kepada anaknya, anak-anaknya akan mudah jadi orang yang baik.

 

فبشرناها بغلامٍ عليم

 

Aku kasih kabar gembira siti sarah akan saya kasih anak yang alim.

 

Padahal ini anaknya belum lahir, sudah dapat gelar dari Allah, anak yang alim. Jadi anak alim, belum ke pesantren, belum apa-apa, belum belajar. Alimnya itu semenjak lahir. Sebab apa? Sebab ibunya suka khidmat. Maka ibu-ibu, di kampungnya masing-masing biasakan khidmat orang-orang sholeh. Itu di masjid ada program dakwah, kirimlah tahu tempe atau tewel untuk khidmat di masjid,. Ya Allah… saya berbuat ini karena niru-niru siti sarah, semoga anak saya yang mondok di temboro jadi orang yang Engkau ridhoi. Bisa juga dengan cara khidmat yang lebih mudah lagi. Ibu-ibu nanti sebelum nanti pulang, kalau ada kelebihan uang, di alfatah ini ada 1000 orang itu nggak dibekali dari rumah itu. Sudah datang saja ke kantor. Ini ada 10 juta ini, untuk anak-anak yang tidak punya bekal. Khidmat semoga anak-anak saya itu dijadikan orang-orang yang sukses. Katanya panembahan senopati gus Ubaid, kotak’e sing disiapke sih okeh. Kothak sudah disiapkan banyak. Tapi isinya nggak tahu. Tapi ini saya tidak minta lho Hadirin yang dimulyakan. Ini diperhatikan betul. Katanya ayah saya dulu, kalau kamu minta, kamu calon mlarat, katanya. Tapi ini tidak minta. Ini menyemangatkan kita supaya kita ini korban. Bukan minta.,. kalau minta tambah mlarat.

 

من فتح لنفسه بابا السؤال فتح الله له بابا الفقر

 

Siapa yang membuka pintu minta-minta, maka Allah akan buka pintu mlarat.

Maka al-fatah ini punya tertib “Siri’an”. Apa siri’an itu?! Pokoknya anti minta-minta. Pesennya guru-guru saya begitu. Saya pernah jumpa kepada maulana Umar. Maulana Umar bilang, lebih kamu mati daripada kamu minta-minta. Karena saya Tanya waktu itu. Pesantren saya ini perlu bangunan, dan perlu ini-ini, bagaimana syeikh?

Beliau jawab : dari pada minta-minta lebih baik mati saja.

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Ini tidak minta-minta. “Trus dipahami menyumbang?” Lho… kamu tidak menyumbang. Ini adalah untuk diri kita sendiri supaya tambah barokah diri kita dan anak-anak kita. Menyumbang, kayak agama ini untuk orang lain. Agama untuk orang temboro, apa?! Agama itu untuk kamu sendiri. Kalau kamu dapat surge ya akan kamu tempati sendiri. Kok menyumbang itu, menyumbang bagaimana?

 

Jadi istilah menyumbang itu adalah istilah yang sangat tidak baik itu. Kotak sumbangan…. He..he… Makanya disini ditulis kotak amal. Bukan sumbangan. Karena agama ini untuk diri kita sendiri.

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Saya punya pengalaman dikit ini. Orang-orang yang sudah banyak korban dengan pesantren ini, akhirnya itu saya lihat anak-anaknya itu pada punya pesantren. Dimudahkan oleh Allah untuk membikin pesantren. Itu dulu, ayah saya, mbah saya, kalau ada orang yang bikin pesantren, mesti ikut. Orang bikin masjid, saya kayunya. Akhirnya anak cucunya itu pada mudah bikin pesantren. Lha kamu pengin mudah apa tidak?! Ini untuk wali murid lho itu?! Bukan untuk murid tapi untuk wali murid. Nanti kalau untuk murid saya takut untuk disalah gunakan. Minta uang sama orang tuaya. Biar ditambah bekalnya, supaya barokah ini. Jangan begitu…

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt…

 

Jadi niat tulusnya istri imron dan khidmatnya siti hajar barokahnya tidak karu-karuan, sehingga membikin anak-cucunya jadi orang-orang yang sukses. Semoga ibu-ibu begitu juga. Allohumma… amiin…

 

Ini baru ibu-ibu. Belum ayah ini. Ayah lain lagi. Karena saya dengar dari orang Jakarta kemaren dia bilang. Orang laki-laki itu dimana-mana sukanya cari duit. Tapi kalau perempuan sukanya belanja. Minta duit. Jadi aslinya sama saja. Jadi Hadirin yang dimulyakan. Sekarang untuk wali murid. Allah Swt telah berikan contoh yang mulya, yang sukses, yaitu keluarganya nabiyulloh Ibrahim, sehingga setiap sholat kita doa. Allohumma sholli ‘ala sayyidina Muhammad wa’ala ali sayyidina ibrohim. Ya nggak. Ya Allah rahmatilah Nabi Muhammad Saw sebagaimana Engkau merahmati nabi Ibrohim.  Ada apanya Nabi Ibrohim itu. Sampai nabi kita itu minta didoakan oleh seluruh ummat supaya Allah datangkan barokah kepada beliau sebagaimana Allah datangkan barokah, kebaikan kepada Nabi Ibrohim. Nabi kita itu sudah Nabi tertinggi. Tapibeliau minta dijadikan kayak nabi Ibrohim. Itu menunjukkan nabi ibrohim itu sangat tinggi. Kalau kamu tahiyyat pakai sayyidina apa nggak? Pakai nggak? Pakai yaa… karena menurut fatwanya Imam Ibnu Hajar, imam Romli, itu yang paling bagus pakai sayyidina. Karena kita diperintah dalam qur’an.

 

لا تجعل دعاء رسول كدعاء بعضكم

 

Jangan kamu memanggil rasul seperti orang lain. Yang paling bagus pakai sayyidina. Lho di bukhori nggak ada sayyidinanya. Yaaa… karena itu rosulullah ngajar langsung kepada para sahabat. Maka nggak pakai sayyidina. Masak manggil sendiri pakai sayyidina. Tapi kita sebagai umat ini bagus pakai sayyidina. Itu begitu, kata para ulama’. Tapi kalau nggak pakai sayyidina ya terserah kamu. Tidak batal sholatnya ya tidak. Tapi menurut kebanyakan ulama’. Khususnya ibnu hajar & imam romli bagusnya pakai sayyidina. Biar wali murid tahu, ini.

 

Lha Hadirin yang dimulyakan Allah Swt.

 

Diantara ujian orang yang menuntul agama adalah dia memikirkan ekonominya. Lha kalau dia lulus, rezekinya di tangan Allah, akhirnya dia bisa berjuang kemudian dia bisa amal agama.

 

Hadirin yang dimulyakan …

 

Kemudian saya pesan juga yang terakhir ini, untuk wali murid khususnya. Disamping doa, disamping kamu juga berjuang menurut kemampuannya masing-masing, itu, sunan giri. Maka disana itu di dekat kali itu saya tulisi itu komplek sunan giri. Kenapa itu.? Sunan giri itu tidak pernah ketemu sama ayahnya. Masih bayi ayahnya sudah diusir sama orang banyuwangi sana, ini banyuwangi banyak juga ini, anak cucunya minak sembuyu, ya tho,diusir sama minak sembuyu, bupati banyu wangi itu, gara-gara dakwah di sana tidak di ijinkan. Akhirnya dia pergi ke samudera pasai. Ke aceh sana. Yang aneh di banyuwangi juga ada sekarang aceh juga ada. Itu namanya maulana Ishaq. Kelihatannya dulu nagjinya juga di india, ada maulananya kelihatannya. Dakwah disana diusir sementara anaknya masih di perut. Akhirnya beliau pergi ke samudera pasai ke aceh sana. Trus katanya dari aceh sana beliau pergi ke Malaysia. Menyebarkan agama lagi di sana. Itu ada data-datanya itu.

 

Hadirin yang dimulyakan Allah Swt.

 

Tapi karena perginya ayahnya itu untuk agama, anaknya yang ada di perut ibunya itu pun akhirnya dijaga oleh Allah. Dimulyakan oleh Allah jadi ulama besar. Jadi sunan giri, raden paku rohimakumullah.

 

Jadi kita ini, kalau ingin anak kita sukses, kita harus berjuang. Jangan sampai kita nggak berjuang. Kemudian selanjutnya. Ini yang belum saya sampaiikan. Kirimlah harta yang terbaik yang terbersih, yang terhalal untuk anak-anak kita di pesantren ini. Karena orang itu kalau makanannya benar-benar bersih. Itu biasanya hatinya jadi tenang. Ngamalkan agama itu jadi ringan. Tapi kalau ada makanan syubhat masuk….., kemaren ada ijtima’ di Jakarta itu ada ulama’ dari india itu cerita dalam ijtima’ itu. Jaman dulu itu ada ulama’ yang namanya maulana ya;kub. Beliau ini ber doa kepada Allah, “ya Allah jangan sampai perutnya dimasuki makanan haram. Akhirnya dikabulkan oleh Allah. Kalau makanan itu kok harom, dimasukkan ke mulutnya itu cuman putar-putar saja tidak bisa masuk. Suatu hari beliau diundang makan oleh santrinya. Dan santrinya ini adalah seorang polisi. Ini bukan berarti menjelek-jelekan polisi, bukan lho ya…?!

 

Ini polisi zaman dahulu, kalau polisi zaan sekarang lebih parah lagi……. Ini polisi zaman dulu lho maksudnya. Ini guyonan lho. Nanti marah sama, ini guyonan saja. Karena wali murid yang polisi juga banyak. Tapi insya Allah polisi yang baik, insya Allah. Tapi polisi ini meskipun serabut sana- serabut sini, tapi dia ini ngerti agama. Lha wong memang santri. Santri trus jadi polisi, begitu. Akhirnya dia mikir, saya mau ngundang polisi ke tempat saya. Maka akan saya siapkan makanan yang betul-betul halal. Maka dia kerja sebagai polisi itu jam 3 slesai. Setelah itu dia lembur. Cari pekerjaan lain di luar yang betul-betul halal trus disimpan uangnya sedikit-sedikit trus diberikan untuk istrinya. Ini uang luar biasa ini. Ini bukan dari polisi. Ini uang dari kerja lembur khusus halal 100% karena saya mau ngundang kyai saya. Maka siapkan makanan semua uangnya dari sini. Dan kamu janagn pakai itu nampan jangan pakai piring jangan pakai kompor yang ada di rumah ini. Ini sudah banyak syubhatnya semua. Nanti nggak mau makan nanti kyai ya’kub ini. Lha gimana. Pinjam ke rumahnya orang-orang sholeh. Kayu pun jangan di campur beli kayu khusus dari uang halal itu. Akhirnya betul disiapkan semua. Akhirnya santri ini datang ke syeikh ya’kub. “syeikh, saya ngundang makan di rumah saya. Lha syeikh ya’kub ini tahu kalau santrinya ini polisi. Maka dia ini. “kenapa sih sulit-sulit ngundang saya.

 

Nggakusah…

 

Tidak syeikh ini sudah saya siapkan makanan yang betul-betul halal. Bukan dari gaji-gaji yang tidak halal.

 

Akhirnya kyai tadi ikrom sama santrinya. “ya sudahlah kapan?”

 

Besok…

 

Maka besok datang. Makanan disiapkan. Tapi makanan itu di masukkan ke mulutnya maulana ya’kub ini puter saja di mulutnya itu. Akhirnya di lepeh, dibuang. Ditaruh di bawah seprehnya, trus sudah. Saya sudah menunaikan undangan kau. Tapi ini nggak tahu kenapa nggak bisa masuk ya makanan ini. Maaf ya ini bukan mau saya. Memang nggak tahu saya. Minta maaf ya… asssalamu’alaikum…. Sudah… pulang…

 

Maka akhirnya pak polisi ini manggil istrinya. Itu maulana ya’kub nggak mau masuk makanannya mesti ada haromnya ini. Ayo ceritakan apa adanya! Semua yang saya masak semua wadahnya, kayunya sudah saya istimewakan insya Allah halal 100%. Lha kok nggak bisa masuk?mesti ada masalah ini. “demi Allah sudah saya carikan yang sebaik baiknya.” Akhirnya, siapa yang kamu surh beli daging, katanya polisi itu. Ya… itu pempantu kita itu. Oo… mungkin disini. Panggil pembantu itu. Kau yang beli daging yang untuk jamuan maulana ya’kub itu? Benar? Coba ceritakan!

 

Ini pak… pak polisi. Saya itu beli baging dari uang dari ibu dari uang husus itu. Tapi setelah saya beri daging. Daging itu jatuh di selokan. Saya bawa itu tahu-tahu jatuh. Karena saya ambil dagingnya sudah kotor saya beli lagi dari uang gaji polisi….

 

Lho … tapi ni polisi zaman dulu. Maaf lho ini… ini saya cuman nyeritakan bayannya orang india itu. Oo… ini sebabnya? Akhirnya santri ini suatu hari hadir di majelisnya maulana ya’kub itu. Maka dipanggil oleh beliau. “kang… saya makan di tempat kamu itu betul-betul musibah.” Lho tapi kan nggak masuk kan syeikh.

 

“iya memang daging itu nggak masuk di perut saya. Tapi kan mengenai lidah saya. Dan lidahnya kan akhirnya masuk juga. Itu membikin hati saya berbulan-bulan ingin buruk saja, ingin jahat saja… kamu tahu ya ini khusus untuk kamu ini. Hati saya ini tahu-tahu ingin zina, ingin zina, ingin zina. Padahal tidak pernah hati saya itu begitu. Itu gara-gara kamu. Hati-hati ngasih makan orang ya…

 

Ini ceritanya orang india lho. Ini sekedar untuk contoh. Dan haram itu bukan hanya dari polisi. Petani pun yang nyolong banyu itu juga jelas haromnya. Bukan petani saja, takmir masjid uang dimakan itu juga harom. Harom itu dimana-mana bisa.

 

Hadirin yang dimulyakan memang sekarang jarang orang yang duitnya itu 100% halal itu jarang. Tapi kita harus teliti, yang benar-benar halal itulah yang harus untuk kita dan anak-anak kita. Yang lain-lain itu bisa untuk bikin WC untuk bikin jembatan, dll. Yang penting jangan dimakan. Yang bagus itu disedekahkan kepada fakir miskin. Tapi kalau hatinya belum rela ya…

 

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: