Buyaathaillah's Blog

Bayan Masturot Maulana Shamim

Bayan Masturot

 

Maulana Syamim

Markaz Nizammuddin

 

Assalamualaikum wr. wb.

 

Sebagaimana laki-laki mempunyai tanggung jawab dalam dakwah ini, maka begitu pula kaum wanita, mereka pun juga mempunyai tanggung jawab yang sama dalam dakwah. Nabi Saw ini adalah nabi untuk kaum laki-laki dan nabi untuk kaum wanita. Nabi muhammad Saw, dalam kerja dakwah ini mengikut sertakan bukan hanya laki-laki, tetapi wanita dan anak-anak juga. Semua dibawa oleh Nabi Saw dalam kerja dakwah. Sejarah membuktikan dalam setiap zaman yang nabi-nabinya dibantu oleh istri-istri mereka dalam kerja dakwah, maka kerja dakwahnya maju. Sedangkan Nabi-nabi yang tidak dibantu oleh istri-istri mereka maka dakwahnya sulit tersebar. Begitu besar kerja dakwah ini, maka Allah Swt nampakkan pengorbanan kaum wanita yang sangat banyak di jaman Nabi Saw. Terciptanya orang-orang besar menurut sejarah ini asbab adanya pengorbanan wanita. Nabi Musa AS menjadi besar asbab dari pengorbanan ibunya. Begitu pula diwujudkannya kembali Ka’bah ini asbab adanya pengorbanan wanita yaitu Hajar R.ha.

 

Allah Swt tidak menjadikan kaum wanita Nabi-nabi, tetapi Allah muliakan wanita dengan melahirkan Nabi-nabi AS. Para Nabi AS menjadi besar asbab tumbuh dari pangkuan wanita. Orang melahirkan tanpa bapak, ini bisa saja terjadi, tetapi orang lahir tanpa ibu, ini tidak mungkin terjadi. Isa AS lahir tanpa ayah, tetapi tanpa ibu tidak mungkin lahir. Apabila kepahaman agama ada pada kaum wanita, lalu mereka ikut terlibat dalam kerja dakwah ini, maka agama akan mudah tersebar. Allah Swt ciptakan wanita ini dari tulang rusuk laki-laki. Dari tulang rusuk laki-laki sebelah kiri yang lebih dekat kepada hati. Inilah sebabnya wanita ini lebih dekat kepada laki-laki. Dan kaum wanita ini Allah Swt berikan kemampuan, yaitu apa yang dia inginkan di rumahnya, maka itulah yang akan di jalankannya. Sebagaimana Hawa R.ha punya keinginan, maka adam AS pun akhirnya mengikuti keinginan istrinya, yang akhirnya menyebabkan mereka dikeluarkan dari surga oleh Allah Swt. Asiyah R.ha istri dari Firaun, menyampaikan keinginannya kepada Firaun agar bayi Nabi Musa AS ini jangan dibunuh. Padahal Firaun sadar bahwa bayi inilah yang nanti akan menghancurkan kerajaannya. Maka kalau dia tidak bunuh bayi Nabi Musa AS ini, suatu saat nanti akan menggulingkannya. Asbab mencari bayi Nabi Musa AS ini, Firaun membunuh 70.000 bayi setiap tahunnya. Bayi yang tanpa dosa dibunuh oleh bala tentara Firaun, tetapi dengan sekali bujukan Asiyah R.ha, mampu meredam keinginan Firaun untuk membunuh bayi Nabi Musa AS ini.

 

Allah Swt memberikan kekuatan kepada kaum wanita ini yang bisa membuat kaum laki-laki dengan sekali perkataan dapat mengikutinya. Ini karena apa? wanita ini lebih dekat ke hati kaum laki-laki. Jadi kaum wanita ini apabila meminta kepada suaminya untuk dibelikan sesuatu di pasar, lalu tidak cocok, maka mereka mampu membuat suaminya bolak balik kembali ke pasar berpuluh-puluh kali. Inilah kelebihan kaum wanita atas suaminya, bisa membuat suaminya mengikuti apa pun permintaan dari istrinya. Apabila wanita ini mempunyai keinginan yang tidak baik, bisa-bisa di rumahnya tidak ada orang yang akan melaksanakan sholat asbab keinginannya tersebut. Namun kalau mereka punya keinganan yang baik, maka mereka pun bisa mengirim laki-laki mereka yang ada di rumah mereka keluar di jalan Allah Swt. Jadi membentuk fikir kaum wanita ini sangatlah penting sekali, karena merekalah yang mengendalikan rumah kita. Untuk meluruskan fikir wanita ini dan jazbah (semangat) wanita ini ke arah agama, di sinilah pentingnya kita buat taklim rumah. Kerja kaum wanita inilah yang akan membentuk suasana agama di rumah tersebut. Walaupun laki-lakinya seorang yang sholeh dan alim, tetapi kaum wanitanya tidak ada agama, maka suasana rumah akan mengikuti fikir kaum wanita tersebut. Apabila wanita di rumah ini tidak beragama, maka anak-anak pun, generasi berikutnya juga tidak akan beragama. Jika ini yang terjadi, maka kita tinggal menunggu waktu saja agama keluar dari rumah dan kehidupan kita. Untuk bisa membentuk fikir wanita dan membuat suasana agama di rumah, maka di sinilah tanggung jawab laki-laki tersebut.

 

Ketika kaum wanita telah memberikan banyak pengorbanan untuk agama, maka agama akan cepat berkembang dan maju, sebagaimana yang terjadi di zaman Nabi Saw. Maka yang pertama kali menerima, memberi pengorbanan, dan memberi dorongan kepada Nabi Saw adalah seorang wanita yaitu istri beliau, Khadijah R.ha. Ketika Nabi Saw pertama kali menerima wahyu di goa Hira’, maka ketika pulang dalam keadaan ketakutan beliau bilang kepada istrinya, “Selimuti aku…selimuti aku.” Kemudian setelah diselimuti , Khadijah R.ha bertanya, “ada apa gerangan wahai suamiku.” Nabi saw katakan dengan ketakutan, “celaka aku…celaka aku.” Maka Khadijah R.ha menghibur suaminya, “Demi Allah wahai suamiku, Allah tidak akan menghinakan kamu. Bukankah engkau adalah orang yang suka membantu orang yang dalam kesusahan, membantu fakir miskin, mencintai anak yatim.” Nabi Saw ditarghib oleh Khadijah R.ha dengan menyebutkan kebaikan-kebaikan Nabi Saw. Orang yang seperti ini kata khadijah R.ha tidak mungkin dihinakan oleh Allah Swt. Bahkan setelah itu untuk menenangkan Nabi Saw, khadijah mengajak Nabi Saw bertemu dengan kerabatnya yaitu ahli kitab bernama Waraqah bin Naufal. Setelah menceritakan kejadian yang dialami oleh Nabi Saw, maka Waraqah bin Naufal memberikan kabar gembira kepada Nabi Saw bahwa dia akan menjadi nabi bagi umat ini. Khadijahlah yang pertama kali beriman kepada Nabi Saw. Bahkan sebagai seorang wanita yang kaya raya beliau beriman kepada Nabi Saw. Khadijah R.ha katakan kepada Nabi Saw, “Wahai suamiku aku serahkan seluruh harta kekayaanku ini kepadamu. Maka gunakan lah seluruh hartaku ini sesuai dengan kehendak Allah Swt.” Harta Abu Bakar RA yang habis di jalan Allah ini datangnya kemudian, yang pertama mengorbankan harta di jalan Allah Swt ini adalah Khadijah R.ha. Bahkan dengan pengorbanan para wanita di jaman Nabi Saw, banyak orang besar Islam memeluk Islam asbab pengorbanan mereka. Seperti :

 

  1. Ikrimah RA putra dari Abu Jahal masuk Islam asbab dakwah istrinya
  2. Umar RA masuk Islam asbab taklim adik perempuannya
  3. Utsman RA masuk Islam asbab dakwah bibinya

 

Begitulah di zaman Nabi Saw, setiap yang wanita beriman menjadi dai Allah Swt. Sebagaimana kaum laki-laki setelah mereka beriman kepada Nabi Saw, mereka langsung melakukan kerja dakwah, begitupula dengan kaum wanita. Mujahadah yang dialami para Sahabat RA dalam berdakwah, juga dialami oleh kaum wanita. Dalam keadaan yang sangat susah para sahabiyah juga mengambil tanggung jawab dakwah yang sama dengan laki-laki. Mereka pun ikut berperan dalam membantu Dakwah Nabi Saw.

 

Kisah Sahabat RA

 

Ketika Abu Thalhah RA melamar Ummu Sulaim R.ha, ibu Anas RA, Ummu Sulaim berkata:

 

“Wahai Abu Thalhah jika kamu mau menikahiku, saya tidak meminta apa-apa, yang saya minta engkau masuk Islam saja, itu saja sebagai maharku. Jika engkau masuk Islam maka aku akan terima lamaranmu.”

 

Maka Abu Thalhah RA terheran dia dengan permintaan Ummu Sulaim ini. Abu Thalhah RA yang merupakan seorang kaya raya, bagi dia merupakan keanehan ada wanita yang mau mengorbankan keuntungan atau pemberian berupa harta ditukar dengan agama. Padahal wanita arab ketika itu sangat terkenal dengan sifat materialistisnya, wanita yang suka meminta harta yang banyak dalam maharnya. Maka Abu Thalhah RA bingung agama apa yang bisa menyebabkan ummu sulaim ini membuang kecintaannya kepada harta. Kekuatan dari wanita ini adalah dari kecantikannya, sedangkan laki-laki ini dari hartanya, namun justru yang diminta Ummu Sulaim R.ha adalah keislaman Abu Thalhah RA, bukan hartanya. Peristiwa ini sungguh membuat Abu Thalhah RA terkejut, sehingga semalam suntuk rasa keingin tahuannya berkecamuk di hatinya. Akhirnya pada pagi harinya hati Abu Thalhah RA pun terbuka, sehingga dia datang kepada ummu sulaim R.ha, dan bersedia masuk Islam. Maka Ummu Sulaim R.ha membawa Abu Thalhah RA kepada Nabi Saw. Ummu Sulaim R.ha katakan, “ Ya Rasullullah ini Abu Thalhah telah bersedia masuk Islam, maka terimalah keIslamannya. Dan saya siap untuk dikawinkan dengannya tanpa mahar apa pun.”

 

Hari ini suasana agama sudah hilang, sudah keluar dari kehidupan manusia. Ini karena apa? ini karena wanitanya sudah tidak mempunyai fikir agama lagi. Syekh Yusuf AS katakan :

 

“Kebathilan ini akan tersebar melalui wanita dan kekayaan. Sedangkan yang Haq ini akan tersebar melalui usaha atas Hijrah dan Nusroh.”

 

Bila wanita ini tidak ada agama, dan fikir agama tidak terbentuk dalam diri mereka, maka melalui wanita-wanita di rumah kita akan tersebar kebathilan-kebathilan. Kita telah beragama, dan kita ingin berjalan dengan betul di atas agama, tetapi karena wanita-wanitanya tidak beragama, maka kebathilan akan tersebar melalui wanita-wanita di rumah kita. Namun kalau kaum wanita ini ada fikir agama dan mau mengamalkan agama dalam kehidupan mereka, maka mereka bisa menjadi partner kita yang hebat dalam kerja dakwah. Maka untuk memberntuk fikir agama dalam diri wanita dan anak-anak adalah dengan menghidupkan taklim rumah. Jangan kita biasakan membentuk fikir istri kita untuk jalan ke sana ke mari. Maka hendaklah kita bentuk karakter kaum wanita ini untuk tetap berada di rumah, tetapi dengan menghidupkan amalan : ibadah, taklim, khidmat, mendidik anak dengan sunnah. Inilah fikir yang hendak kita bentuk dengan wanita-wanita di rumah kita, bukannya membentuk fikir agar pergi ke sana ke mari. Fikir agar bagaimana wanita-wanita di rumah kita mau membentuk suasana amal di rumah kita. Sudah menjadi kebiasaan atau sifat kaum wanita ini untuk pergi jalan-jalan. Baru sebentar kita ajak untuk pergi, dia sudah bergembira, pingin jalan-jalan ke sana ke mari. Oleh sebab itu untuk wanita ini tidak ada tertib untuk selalu keluar fii sabillillah tiap bulan, atau 10 hari setiap bulan, atau 4 bulan setiap tahun, tidak ada seperti itu. Jadi membawa wanita keluar fii sabillillah ini bukanlah suatu tujuan. Di bawanya wanita keluar fii sabillillah ini dikarenakan ada suatu kepentingan. Apa kepentingannya? yaitu untuk membentuk suatu lingkungan agama lagi supaya tertanam pentingnya agama dalam diri mereka. Agar dalam diri kaum wanita terbentu fikir akherat. Maka dengan keluar ini akan terbentuk fikir dalam diri mereka :

 

  1. Untuk tetap berada di rumah
  2. membuat amalan di rumah
  3. mendidik anak secara Islami

 

Dengan keluar di jalan Allah maka akan tertanam karakter ahli khidmat dalam diri mereka sebagaimana istri-istri Nabi SAW. Mereka akan mulai memikirkan bagaimana memberikan tarbiyah atau pendidikan kepada anak-anak mereka secara Islami. Jika nizam agama sudah terbentuk dalam diri kaum wanita maka :

 

  1. Dia akan mendorong suaminya untuk pergi di jalan Allah
  2. Dia akan menghidupkan amal-amal di rumah
  3. Mendidik anaknya menjadi pejuang agama, da’i, hafidz, dan alim.
  4. Menyiapkan saudara-saudaranya dan kawan-kawannya untuk berjuang di jalan Allah Swt

 

Ketika nizam dakwah telah tertanam dalam diri sahabiyah R.ha, maka mereka mengirim semua anggota keluarga mereka, ayah, suami, anak laki-laki untuk pergi di jalan Allah. Bahkan mereka akan ikut berkorban harta memperjuangkan agama Allah. Hendaklah kita berfikir untuk membentuk fikir kaum wanita kita di rumah agar mau tetap di rumah mereka. Ini semua bisa terwujud jika kita mau membuat taklim rumah dan mudzakarah 6 sifat dengan istri kita. Melalui taklim, maka fikir agama akan tertanam dalam diri kaum wanita, dan dia akan paham nilai atau pahala amal agama. Sehingga tertanam dalam hati kaum wanita di rumah tingginya pahala dari setiap amal yang dia kerjakan. Jika kepahaman ini sudah masuk maka para istri akan berkhidmat kepada suami, mendidik anak secara sunnah, mengamalkan agama, tetap tinggal di rumah mereka, hanya semata-mata karena Allah Swt. Inilah tanggung jawab kita sebagai laki-laki yaitu membentuk suasana amal untuk anak dan istri kita di rumah, yang bisa menjadi asbab mereka ikut dalam amalan tersebut.

 

Maka untuk dapat melakukan ini pertama-tama kita bawa istri kita untuk keluar 3 hari di jalan Allah Sw. Kita bawa istri kita keluar 3 hari bersama wanita-wanita yang sudah ada pengalaman keluar di jalan Allah, yang sudah bisa menghandle program kerja dakwah. Kita sertakan istri kita bersama wanita-wanita yang sudah memahami kepentingan kerja dakwah, sehingga kepahaman istri kita pun juga akan meningkat. Jika di mahalah kita belum ada wanita yang berpengalaman, maka kita minta wanita lain bersama suaminya, beberapa pasang yang sudah berpengalaman, untuk keluar di tempat kita. Lalu kita bergabung bersama rombongan tersebut. Melalui jemaah 3 hari masturot tersebut nizam atau fikir agama akan terbentuk dalam diri kaum wanita. Jika di mahalah kita sudah ada 2 – 5 pasang, wanita yang berpengalaman keluar di jalan Allah, dan diantara mereka sudah ada yang bisa menghandle taklim, maka kita minta kepada halaqah untuk dimusyawarahkan agar bisa memulai taklim mahalah diantara mereka. Taklim ijtimai mingguan yang diadakan disetiap tempat harus memenuhi persyaratan yang sudah ditentukan. Semua program-program masturot ini dihandle oleh kaum laki-laki, dan tidak ada amirah (amir perempuan) dalam program masturot. Begitupula para laki-laki ini tidak boleh menjadikan para kaum wanita sebagai penanggung jawab. Para laki-laki di setiap mahalah itulah yang menjadi penanggung jawab dari kerja masturot.

 

Kaum wanita dalam melaksanakan program-program jangan sampai mereka berdiri seperti taklim, mudzakaroh 6 sifat, ini tidak ada yang seperti itu. Semua program dikerjakan dalam keadaan duduk. Jika sudah beberapa hari 3 hari maka dia bisa keluar 10 hari atau pun 15 hari bersama kita. Kaum wanita dapat keluar dengan mahram-mahram mereka seperti ayah, atau suami mereka. Ketika keluar di jalan Allah, jika semua anggota rombongan sudah berkumpul semua di rumah yang sudah di tentukan dalam musyawarah, sudah lengkap, baru bayan hidayah bisa dimulai. Bayan Hidayah harus betul-betul dijelaskan secara detail, karena kerja masturot ini sangat penting dan sensitif sekali. Maka kalau semua syarat betul-betul diperhatikan, baru manfaat akan bisa dirasakan. Namun kalau kerja masturot ini ushul-ushul kerjanya tidak diperhatikan, maka bukannya mendatangkan faedah, tetapi malah bisa mendatangkan fitnah. Dalam kerja masturot ini hendaknya ushul-ushul dalam dakwah masturot ini betul-betul diperhatikan. Kita bawa kaum wanita kita pergi di jalan Allah ini dengan penuh kehati-hatian dengan syarat-syarat yang telah dipenuhi. Semua ushul-ushul yuang sudah dibuat hendaknya dilakukan dengan betul dan sungguh-sungguh. Ushul-ushul dakwah ini harus diulang-ulang, hingga tidak ada satu jemaah pun yang berangkat tanpa mengetahui ushul dakwah. Namun ini bukan berarti kita senantiasa menargetkan masturot untuk berangkat terus menerus, itu bukan tujuan kita. Kaum wanita boleh dikeluarkan dalam satu jemaah jika telah memenuhi syaratnya. Jika ushul belum bisa disempurnakan, maka jemaah jangan dikeluarkan. Jangan kita lemah dalam menegakkan ushul jemaah masturot tersebut. Dalam kerja masturot tidak boleh ada flexibilitas, harus tegas dan keras dalam menegakkan ushul masturot. Jika tertib masturot ini ditinggalkan, maka akan menimbulkan fitnah. Bahkan untuk suara wanita ini pun harus di hijab agar tidak terdengar keluar karena merupakan aurat. Hendaknya mereka dikeluarkan dengan penuh kesederhanaan. Pakaian mereka harus hitam, dengan purdah yang sempurna, jangan sampai ada kesan kemewahan. Kaus kaki dan kaus tangan juga harus digunakan dalam jemaah masturot ini. Semua perlengkapan ini tidak boleh ada tawar menawar, semuanya harus sempurna dari warna, purdah, kaos tangan dan kaos kaki, jangan sampai ada satu pun yang ditinggalkan atau pun berbeda. Sehingga keberangkatan jemaah masturot ini bisa menjadi contoh bagi yang lain. Di rumah mana kaum wanita ditempatkan, maka tidak boleh ada kaum laki-laki yang tinggal di rumah tersebut. Baik tuan rumah atau pun jemaah jangan ada yang tinggal di rumah tersebut. Jemaah tinggal di mesjid dan dan masturot tinggal di rumah. Kaum wanita yang di rumah merekalah yang mempersiapkan makanan mereka sendiri dengan memasak. Maka hendaklah mereka memperhatikan kebersihan rumah tersebut.

 

Mengenai taklim ijtimai masturot mingguan boleh diadakan jika syarat-syaratnya bisa dipernuhi. Taklim ijtimai masturot mingguan harus melalui proses musyawarah para penanggung jawab di daerah tersebut. Jika syarat-syarat sudah terpenuhi maka boleh dibentangkan takaza dimana taklim tersebut akan diadakan. Kalau sudah ditaffakkud tempatnya baru dibawa ke musyawarah markaz. Jika sudah diputuskan dalam musyawarah markaz propinsi baru boleh diadakan taklim mingguan masturot. Taklim mingguan masturot ini jangan digalakkan wanita dari daerah yang jauh-jauh untuk datang, cukup yang dekat-dekat saja rumahnya. Rumah yang digunakan sebaiknya bisa menampung sekitar 25 – 30 orang. Jika lebih dari 30 orang maka diadakan di mahalah lain untuk menampung kelebihannya. Jika syarat-syaratnya sudah terpenuhi, baru kita izinkan untuk mengadakan taklim mingguan masturot tersebut. Kerja kaum wanita ini sangatlah penting, tetapi harus dengan ushul-ushul yang ketat dan sempurna. Maka para penanggung jawab hendaknya betul-betul memperhatikan untuk bisa keluar di jalan Allah Swt membawa istri-istri mereka 3 hari tiap 3 bulan sehingga dalam 1 tahun dia bisa keluar 3 kali 3 hari dan 15 hari dalam tahun tersebut. Kemudian di rumah yang akan ditempati oleh jemaah masturot atau pun taklim masturot, tuan rumahnya hendaknya sudah pernah keluar masturot. Suami dan istri harus sudah pernah keluar di jalan Allah untuk bisa menerima jemaah masturot atau pun mengadakan taklim masturot.

 

Jika suami dan istri ini sudah keluar 3 kali 3 hari dalam setahun, maka mereka diperbolehkan untuk berangkat 15 hari dalam jemaah masturot. Jemaah masturot keluar 15 hari maka tingkat persyaratannya lebih banyak lagi dan lebih ketat lagi, harus diperhatikan betul-betul kelengkapannya dan kesempurnaannya. Bagi yang sudah pernah berangkat 15 hari, baru diizinkan untuk berangkat 40 hari jemaah masturot. Apa tambahannya? suaminya harus berjenggot, jangan yang tidak mempunyai jenggot. Dan jangan dibawa yang sudah udzur secara umur seperti nenek-nenek. Jangan pula membawa anak kecil atau pun bayi ketika keluar dalam jemaah atau pun taklim mingguan. Ketika keluar 15 hari jangan sampai ada yang belum nikah atau pun sudah nikah tapi membawa anak. Jika belum memenuhi syarat maka jangan dibawa 40 hari. Bukan berarti dipaksakan keluarnya agar bisa berangkat 15 hari ataupu 40 hari, padahal syaratnya tidak memenuhi. Dalam kerja masturot ini baik yang 3 hari atau pun yang 15 hari hendaknya betul-betul memperhatikan syaratnya tersebut.

 

Semua program-program dimusyawarahkan oleh kaum laki-lakinya. Kaum wanita boleh mengajukan ushul tetapi ditulis dikertas tanpa menyebutkan namanya. Tidak ada penanggung jawab di kalangan kaum wanita. Tidak boleh di kalangan wanita memilih di antara mereka untuk diangkat sebagai amir, ini juga tidak boleh. Juga tidak boleh diadakan jaulah. Sedangkan bayan boleh diadakan kaum laki-laki dalam taklim mingguan tetapi jangan diberi tahu waktunya kapan. Jika dirasakan perlu setelah lewat 1 – 1 ½ bulan, boleh diadakan bayan oleh kaum laki-laki tetapi dengan musyawarah markaz. Namun setiap diadakan bayan, tidak perlu diumumkan ke satu kota. Jangan ditanamkan sejak awal dalam diri kaum wanita ini kecintaan mendengarkan bayan, tetapi yang harus ditanamkan adalah kecintaan mendengar nur kalammullah dan nur sabda rasullullah Saw. Sehingga nur tersebut akan masuk kedalam hati-hati mereka. Jadi yang mau kita bentuk dalam hati mereka adalah kecintaan terhadap nur kalammullah dan nur sabda rasullullah Saw di dalam hati-hati mereka. Kenapa kita jangan memberitahu minggu keberapa bayan tersebut dilakukan oleh kaum laki-laki? karena kalau di tentukan kaum wanita akan terlalu banyak yang hadir hanya untuk mendengarkan bayan saja. Lalu jangan disampaikan kepada mereka nama orang yang akan memberikan bayan tersebut. Nanti jika ketauan maka mereka akan memberi tahu teman-temannya yang lain. Ketika hendak memberikan bayan sebaiknya mubayin ditemani oleh 2 atau 3 orang temannya dari kaum laki-laki, jangan pergi sendirian. Jika kita betul-betul perhatikan ushul-ushul masturot ini baru akan betul-betul nampak faedah kerja masturot ini :

 

  1. Akan terbentuk keyakinan yang betul di kalangan kaum wanita
  2. Akan terbentuk keyakinan terhadap janji-janji Allah Swt
  3. Akan terbentuk kepahaman atas agama :

 

“Jika suami saya keluar di jalan Allah, dan saya tetap di rumah bermujahadah menjalankan perintah Allah di rumah, maka berapa banyak pahala nanti yang akan saya terima di akherat (Sangat Banyak).”

 

Kaum wanita yang suaminya akan keluar di jalan Allah, lalu dia mempersiapkan suaminya keluar di jalan allah perlengkapannya, pakaiannya, beddingnya, maka dia akan masuk surga 500 tahun lebih dulu sebelum suaminya. Bahkan di hari kiamat nanti dia akan dibangkitkan bersama istri-istri para Nabi. Oleh karena itu kita harus sungguh-sungguh membentuk fikir kaum wanita ini. Setelah mereka keluar maka kita fikirkan, bagaimana suasana agama dapat terbentuk di rumah dia :

 

  1. Ada perhatian terhadap sholat-sholat wajib tepat pada waktunya
  2. Ada perhatian terhadap sholat-sholat nawafil
  3. Ada perhatian terhadap pendidikan agama anaknya
  4. Ada perhatian terhadap memahami qur’an dan hadits
  5. Ada perhatian terhadap amalan dzikir
  6. Ada perhatian terhadap ketaatan atas suami

 

Inilah wujudnya agama dalam kehidupan kaum wanita. Kapan agama itu dikatakan telah wujud pada kaum wanita yaitu ketika mereka sudah bisa mentaati suami mereka. Ketika wanita itu tidak mau mentaati suami mereka, maka agama akan Allah lemparkan kepada muka mereka sendiri. Namun batasan ketaatan kepada suami, selama suami tidak maksiat kepada Allah Swt.

 

Nabi Saw bersabda :

 

“Tidak boleh mentaati mahluk (orang), dalam bermaksiat kepada Khaliq (Allah Swt)”

 

Inilah yang perlu kita tanamkan dalam fikiran kaum wanita. Sehingga akan muncul sifat khidmat di dalam dirinya. Bahkan nanti mereka akan membantu kita dalam menegakkan agama Allah Swt. Ketika suaminya pergi, dia akan menjaga dirinya, harta suaminya dan anak-anaknya, selama suaminya pergi. Kapan ini akan terjadi yaitu ketika sudah tertanam fikir agama dalam diri mereka.

 

Maka wanita yang sudah keluar 3 hari 3 kali, lalu 15 hari, barulah dia boleh keluar selama 40 hari di jalan Allah. Berangkat 40 hari ini bukan dimusyawarahkan sendiri tetapi di musyawarahkan di markaz. Difikirkan betul-betul tafakkudnya di markaz baru ditentukan rute yang cocok untuk dia keluar dimana. Itu pun syaratnya untuk yang berangkat 40 hari harus betul-betul diperhatikan. Syarat-syarat sudah terpenuhi baru jemaah masturot ini diberangkatkan, kalau belum terpenuhi jangan diberangkatkan. Sebagaimana agama penting bagi kaum laki-laki, begitu pula pentingnya agama bagi kaum wanita. Sebagaimana yang laki-laki mempunyai musyawarah harian di mesjid mahalahnya, begitu juga dengan kaum wanita juga perlu membuat musyawarah dengan suami-suami mereka di rumah. Penting kita tawajjuh betul-betul dalam memikirkan kaum wanita. Jika mereka belum mampu untuk berpartisipasi, minimal kaum wanita bisa ikut mendoakan. Kita perlu bentuk fikir atas kaum wanita di rumah kita. Sehingga mereka akan terbawa fikir kita. Asbab kerisauan kita tiap hari memikirkan mereka, kaum wanita di rumah kita, sehingga mereka akan bertanya, “Apa itu yang kamu fikirkan sehingga nampak kamu risau sekali.” Maka kita bisa katakan :

 

“Saya risau memikirkan keberangkatan jemaah keluar dari mahala. Tadi takaza jemaah yang hendak diberangkatkan ke Amerika dibentangkan di mahala. Coba kamu bantu fikir juga bagaimana jemaah ini bisa segera berangkat juga.”

 

Libatkan mereka dan tanamkan fikir takaza ini kepada mereka untuk ikut memikirkannya. Sehingga ketika kita berbicara demikian, timbullah fikir dan kerisauan dalam diri mereka. Asbab mereka mulai fikir dan risau akhirnya mereka akan berdoa :

 

“Ya Allah berangkatkan suami saya bersama jemaah yang akan diberangkatkan ke amerika. Bantulah suami saya agar bisa berangkat bersama mereka.”

 

Maka ketika suami ini berangkat di jalan Allah, pahala yang sama Allah berikan kepada kaum wanita di rumah. Hendaklah kita sungguh-sungguh memikirkan kaum wanita kita di rumah. Kita hidupkan musyawarah harian di rumah, kita tanamkan kepada mereka untuk risau atas kawan-kawan mereka. Kita gilir dalam musyawarah siapa yang akan membacakan kitab, siapa yang akan memberikan mudzakaroh 6 sifat. Inilah kepentingan bermusyawarah dengan istri kita, sehingga asbab musyawarah maka fkir dan kerisauan istri kita akan meningkat. Mereka akan ikut memikirkan pula bagaimana suami, anak laki-lakinya, ayah mereka, untuk dapat keluar di jalan Allah. Bahkan ketika nisab suaminya sudah datang untuk berangkat 40 hari, maka istrinya akan segera mengingatkan suaminya dan menyiapkan keberangkatannya. Inilah dampak musyawarah harian dengan istri kita. Kalau bisa bagi kaum wanita di rumah, kita siapkan musholla khusus untuk mereka. Di musholla itu mereka akan buat amalan : sholat, tillawatil quran, dan dzikir hariannya. Sebagaimana kaum laki-laki memakmuran mesjid dengan amalan, maka dengan musholla di rumah bagaimana kaum wanita memikirkan untuk dapat memakmurkannya. Maka ditempat itulah kita adakan taklim dan mudzakaroh bersama mereka. Di tempat itu pulalah mereka akan berdoa, menangis bermunajat kepada Allah, membuat amalan dzikir dan membaca al Quran. Inilah kepentingan membuatkan musholla untuk mereka. Jika suasana agama sudah terbentuk di rumah kita, maka tulang punggung syetan akan patah, dia tidak akan punya kekuatan lagi untuk membuat kerusakan di rumah kita. Inilah kepentingannya kita menertibkan diri kita untuk istiqomah keluar di jalan Allah dengan tertib 3 hari tiap 3 bulan atau pun 15 hari dan 40 hari. Bagi yang belum berangkat 3 hari segera berangkat 3 hari, dan bagi yang sudah 3 hari 3 kali segera berangkat 15 hari atau pun 40 hari. Bagi yang sudah 15 hari segera mengatur waktunya untuk berangkat 2 bulan ke India dan Pakistan.

 

Inilah yang seharusnya menjadi fikir para penanggung jawab yaitu memenuhi takaza bagi kaum wanita untuk berangkat 2 bulan ke India dan Pakistan. Agar ini bisa tercapai maka harus Kita usahakan membentuk suasana agama di rumah kita. Sekiranya agama ada 100% dalam diri laki-laki, tetapi tidak ada dalam diri kaum wanitanya, berapa persen kita akan kehilangan agama dalam diri umat? minimal separuhnya. Padahal jumlah kaum wanita ini diseluruh dua ini bisa dua kali lipat daripada jumlah laki-laki. Bahkan jumlah anak kecil tiga kali lipat dari jumlah kaum laki-laki. Maka kalau sekiranya kita tidak bisa mendapatkan fikir kaum wanita ini, maka kita sudah kehilangan 2/3 umat manusia. Sedangkan medan kerja yang kita inginkan ini adalah bagaimana bisa menjangkau seluruh umat manusia. Kita inginkan bagaimana mesjid dan rumah saya ini dapat menjadi contoh. Maka kalau rumah kita hidup amalan sebagaimana mesjid hidup dengan amalan maqomi, maka kehidupan kita ini akan menjadi contoh bagi kehidupan umat di seluruh dunia ini. Bagaimana dahulu ketika orang asing masuk ke Madinah, terkesan dengan suasana mesjid dan kehidupan sahabat, sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. Itulah maksud membentuk suasana agama di rumah dan di mesjid kita. Nanti setiap orang yang datang ke rumah kita atau ke mesjid kita, dia akan pulang dengan membawa agama. Begitu pula jika tetangga kita datang ke rumah kita, ketika pulang dia akan membawa agama dalam dirinya. Jikalau rumah kita sudah hidup amalan mesjid, maka setiap orang yang datang kerumah kita akan terbawa suasana agama. Sehingga dia mau membawa agama kedalam kehidupannya. Mari kita siapkan diri kita membawa kehidupan kita ke arah itu.

 

Para sahabat dahulu suasana agama terbentuk di rumah-rumah mereka, sehingga anak-anak kecil pun ingin berkorban di jalan Allah. Agar terpilih untuk dapat keluar di jalan Allah, ketika dimulai seleksi, mereka berupaya menjinjitkan kaki mereka agar terlihat seperti orang dewasa dan terpilih untuk berkorban di jalan Allah. Bahkan kaum wanita mereka datang kepada Nabi Saw dengan membawa anak-anak mereka agar dapat diterima untuk berjuang di jalan Allah Swt. Ini karena apa? suasana agama sudah terbentuk dalam kehidupan mereka. Jika suasana agama sudah terbentuk dalam rumah kita, maka istri-istri kita akan paham, ketika takaza dibentangkan mereka akan menyiapkan suami dan anak-anak mereka untuk keluar di jalan Allah Swt. Bahkan nanti akan datang kehidupan istri yang menunggu suaminya pulang dari mesjid dengan membawa takaza agama, agar dia bisa ambil bagian memenuhi takaza tersebut. Dia akan bertanya kepada suaminya, “Takaza apa yang kamu bawa dari mesjid, cepat beritahu saya.” Itulah perubahan jazbah dalam diri kaum wanita jika terbentuk fikir agama dalam diri mereka. Bahkan kaum wanita akan membantu suami mereka untuk memenuhi takaza agama. Hendaklah kita betul-betul membentuk suasana agama di rumah kita. Suasana agama ini akan terbentuk di rumah dari menghidupkan taklim di rumah. Jika taklim ini dibuat dengan penuh perhatian dan disiplin, baru suasana agama akan datang dalam kehidupan rumah kita. Asbab ini maka kaum wanita kita akan mulai sholat tepat pada waktunya, mereka akan mulai membaca quran di rumah, dzikir pagi petang dihidupkan, dan mereka akan mulai memperhatikan secara seksama sunnah-sunnah apa saja yang harus dibuat dalam rumah mereka. Mereka akan mengajarkan agama kepada anak-anak mereka. Mereka akan membuat anak-anak mereka mengamalkan sunnah-sunnah Nabi Saw. Sejauh mana sunnah-sunnah Nabi Saw dihidupkan di rumah tersebut, sebanyak itupula cucuran rahmat dan sakinah Allah datangkan kepada mereka. Asbab ini doa-doa kita akan dikabulkan oleh Allah Swt. Asbab ini pula hidayah akan tersebar ke seluruh alam melalui rumah kita. Bagaiama dengan tuan-tuan apakah ada keinginan untuk menjadikan rumah kita sebagai asbab hidayah ke seluruh alam. Maka masing-masing pulang ke rumah untuk menghidupkan suasana agama di rumah masing-masing.

 

Insya Allah !!

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: