Buyaathaillah's Blog

Mudzakarah Adab dan Hukum atas Kepemimpinan

Kebiasaan Kaum Jahiliyyah
Ustadz Ahmad Zainuddin, Lc
6 Jumadil Akhir 1440H

Karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Adalah Kebiasaan jahiliyyah yaitu, menyelisihi pemimpin dan tidak taat kepadanya. Bagi kaum jahiliyah ketidak taatan pada pemimpin itu adalah sebuah keutamaan, dan tunduk kepada pemimpin adalah sebuah kehinaan dan kerendahan. Maka Rasulullah ﷺ menyelisihi mereka dan memerintahkan untuk taat kepada pemimpin.

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” QS. An-Nisa ayat 59

Siapakah Ulil Amri (pemimpin)? Ada 3 pendapat ulama, yang pertama pendapat Ibnul Arabi, Ulil Amri adalah orang yang memiliki kekuasaan dan pasukan. Pendapat kedua, Ibnu Abbas, Ulil Amri adalah para ulama fiqih dan ahli agama. Pendapat ketiga, Ibnu Katsir, Ulil Amri adalah para ulama dan para penguasa.

Kaum Jahiliyyah benci ketaatan pada pemimpin, oleh karenanya tidak ada 1 pemimpin yang berada di atas mereka semua. Yang ada hanyalah pemimpin masing-masing kabilah.

Hak pemimpin yang pertama yaitu wajib kita taati selama tidak memerintahkan pada kemaksiatan

“Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” HR. Bukhari

Hak pemimpin yang kedua yaitu wajib kita berbaiat kepadanya

“Barangsiapa yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada ikatan bai’at, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah”. HR. Muslim

Hak pemimpin yang ketiga yaitu wajib kita taati meskipun pemimpin berasal dari golongan rendah

“…Aku wasiatkan kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada Allah Yang Mahamulia lagi Mahatinggi, tetaplah mendengar dan mentaati, walaupun yang memerintah kalian adalah seorang budak hitam…“ HR. Ahmad

Hak pemimpin yang keempat yaitu wajib kita taati meskipun kita dalam keadaan sulit apalagi dalam keadaan lapang

“Rasulullah memanggil kami, lalu kami membai’at beliau. Di antara yang beliau tekankan kepada kami adalah, agar kami selalu mendengar dan taat (kepada penguasa) dalam keadaan suka maupun tidak suka dalam kesulitan atau pun kemudahan, bahkan dalam keadaan penguasa mengurus kepentingannya mengalahkan kepentingan kami sekalipun (tetap wajib taat). Dan tidak boleh kami mempersoalkan suatu perkara yang berada di tangan ahlinya (penguasa). Selanjutnya beliau bersabda: ‘Kecuali jika kalian melihat kekufuran yang jelas dan kalian memiliki bukti yang nyata dari Allah dalam hal itu.” HR. Bukhari

Hak pemimpin yang kelima yaitu, hendaknya bersabar apabila mendapati pemimpin yang dibenci karena kedzalimannya

“Barangsiapa yang tidak suka sesuatu pada pemimpinnya, bersabarlah. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan pada pemimpin barang sejengkal, maka ia mati dalam keadaan mati jahiliyah.” HR. Bukhari

Kebiasaan mencaci, menghina, membuat meme yang buruk tentang pemimpin adalah kebiasaan jahiliyyah

Hak pemimpin yang keenam yaitu wajib kita memberi nasehat secara rahasia atau tidak terang-terangan

“Barangsiapa yang ingin menasejati pemimpin maka janganlah ia memulai dengan terang-terangan, namun hendaknya ia ambil tangannya, kemudian bicara empat mata. Jika diterima maka itulah (yang diharapkan), jika tidak maka ia telah melaksanakan kewajibannya.” HR. Ahmad

Hak pemimpin yang ketujuh yaitu tidak boleh kita menghinakannya

“Penguasa adalah naungan Allah di bumi. Barangsiapa yang memuliakannya maka Allah akan memuliakan orang itu, dan barangsiapa yang menghinakannya, maka Allah akan menghinakan orang tersebut.” HR. Ahmad

Hak pemimpin yang kedelapan yaitu kita mendoakan pemimpin

Seorang ulama salaf, dari tabiin, Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Jikalau aku mempunyai do’a yang baik yang akan dikabulkan, maka semuanya akan aku tujukan bagi para pemimpin.” Ia ditanya: “Wahai Abu ‘Ali jelaskan maksud ucapan tersebut?” Beliau berkata: “Apabila do’a itu hanya aku tujukan bagi diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata para pemimpin berubah menjadi baik, maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Hak pemimpin yang kesembilan yaitu kita memuliakannya

Hak pemimpin yang kesepuluh yaitu kita menolong mereka

Hak pemimpin yang kesebelas yaitu kita tidak boleh memberontaknya

“Kalian akan menyaksikan sikap-sikap egois (red. kezaliman penguasa seperti korupsi dan lain-lain) sepeninggalku, dan beberapa perkara yang kalian ingkari” .

Para sahabat bertanya, “Lantas bagaimana anda menyuruh kami ya Rasulullah?” Nabi menjawab, “Tunaikanlah hak mereka dan mintalah kepada Allah hakmu!” HR. Bukhori

Hak pemimpin yang kedua belas yaitu kita mentaati jika mereka memerintahkan untuk berjihad di jalan Allah

Hak pemimpin yang ketiga belas yaitu kita boleh memberontak kepada pemimpin kafir ketika telah jelas terlihat kekafirannya yang nyata. Pemberontakan ini pun harus ditimbang lagi akan maslahat dan mudharatnya mengenai kerusakan yang ditimbulkan.

Hak pemimpin yang keempat belas yaitu kita tidak boleh memberontak selama mereka sholat

“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka mencintai kalian dan kalian mencintai mereka, mereka mendo’akan kalian dan kalian mendo’akan mereka. Dan seburuk-buruk pemimpin kalian adalah yang membenci kalian dan an membenci mereka, mereka mengutuk kalian dan kalian mengutuk mereka“.

Kemudian seorang sahabat bertanya kepada Nabi ﷺ apakah boleh pemimpin semacam itu kita perangi dengan pedang (memberontak). “Ya Rasulullah, tidakkah kita perangi saja mereka dengan pedang?” Nabi ﷺ menjawab, “Tidak! Selagi mereka mendirikan shalat bersama kalian. Jika kalian melihat dari pemimpin kalian sesuatu yg tak baik maka bencilah tindakannya dan janganlah kalian melepaskan ketaatan kepada mereka” HR. Muslim

_____________________________________

Diantara ajakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah di dalam sebuah hadits yang dikeluarkan oleh imam Muslim di dalam Shahihnya, Imam Malik di dalam Al-Muwatta’nya, dan Imam Ahmad di dalam Musnadnya dari hadits Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا, (وفي رواية: ويسخط منكم ثلاثا) يَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوْهُ وَلَا تُشْرِكُوْ بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَأَنْ تَنَاصَحُوْا مَنْ وَلَّاهُ اللهُ أَمْرَكُمْ وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيْلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإضَاعَةَ الْمَالِ

“Sesungguhnya Allah meridhai kalian pada tiga perkara dan membenci kalian pada tiga perkara (di dalam riwayat yang lain: dan murka kepada kalian pada tiga perkara); Allah Ridha kepada kalian (ketika kalian) beribadah hanya kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, (dan meridhai ketika kalian semua) berpegang teguh kepada tali agama Allah dan janganlah kalian bercerai berai, (Allah subhanahu wa ta’ala meridhai ketika kalian) saling nasehat menasehati kepada pemimpin-pemimpin kalian. Dan Allah subhanahu wa ta’ala membenci desas-desus, dan membenci banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.”
(lafaz hadits ini adalah lafaz dari Imam Malik dan Imam Ahmad).

Hadits ini adalah hadits yang sangat agung, di dalamnya terdapat pokok dan dasar agama Islam.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan (إن الله يرضى لكم)
Allah tidak meridhai kecuali sesuatu yang dicintai-Nya, dan Allah tidak mencintai kecuali hal-hal yang disyari’atkan-Nya, karena itu ridha, cinta, izin dan pertolongan Allah terletak pada syari’at-Nya.

Perkara yang Diridhai Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pertama: at-Tauhid

Tujuan utama kenapa Allah menciptakan kita adalah untuk beribadah hanya kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun.

Firman Allah azza wa jalla:
“Artinya: Mereka tidaklah diperintahkan kecuali hanya untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam menjalankan agama yang lurus” [al-Bayyinah: 5]

Firman Allah :
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk beribadah kepada-Ku” yaitu untuk mentauhidkan-Ku.” [adz-Dzariyat: 56]

Tegaknya langit dan bumi, diturunkannya kitab-kitab Allah dan diutusnya para Rasul, ditumpahkannya darah para Syuhada’, tetesan tinta-tinta para ulama, perseteruan antara yang haq dan yang batil, semua ini karena tauhid.Karena tauhid pulalah Ibrahim ’alaihissalam dilemparkan kedalam api. Karena tauhid, Rasulullah dan pengikutnya hijrah dari Makkah ke Madinah, karena tauhid pula gangguan, ujian dan tantangan diderita oleh beliau dan pengikutnya.

Tauhid adalah haq Allah yang wajib ditunaikan oleh hamba-Nya, tanpa tauhid manusia tidak ubahnya seperi binatang yang tidak memiliki nilai sedikitpun.

Ketahuilah wahai hamba Allah, bahwa tauhid tidak akan sempurna kecuali dengan menetapkan tiga jenis tauhid, dan menafikan segala sesuatu yang bertentangan dengan tauhid ini. Tiga jenis tauhid itu adalah; Tauhid Rububiyyah (mengesakan Allah dalam kepemilikan dan pengaturan alam semesta), Tauhid Uluhiyyah(mengesakan Allah dalam keberhakan-Nya untuk diibadahi dengan haq tanpa sedikitpun tersaingi oleh selain-Nya), dan Tauhid Asma’ was Sifat (menetapkan semua yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya dari nama dan sifat Allah). Kalau semua ini sudah diterapkan dalam kehidupan seorang hamba, maka dia layak mendapat gelar muwahhidin (orang yang mentauhidkan Allah) dan meraih keselamatan dunia, keberuntungan di akhirat dan keridhaan Allah.

Kedua: Tali Allah

Kitab Allah, agama-Nya, manhaj Rasulullah, dan syariat-Nya, semuanya masuk dalam definisi Tali Allah. Karena itu berpegang kepada Tali Allah, adalah berpegang teguh dan tegar di atas Alqur’an dan Sunnah.

Pondasi kedua ini diambil dari firman Allah:
“Artinya: berpegang teguhlah kalian kepada tali Allah dan jangan kalian bercerai berai.” [Ali Imran: 103]
Allah menyebutkan tentang persatuan setelah menyebutkan tentang tauhid, karena persatuan yang sesungguhnya tidak akan tegak tanpa tauhid, orang-orang yang mengajak kepada persatuan di atas hizbiyyah jahiliyyah, tidak di atas tauhid, hanya menambah hancur dan berkeping-kepingnya ummat dan menjauhkan mereka dari mentauhidkan Allah.

Orang arab dan non arab telah melakukan berbagai macam usaha dan daya upaya untuk menyatukan ummat, tetapi hasilnya justru menambah kehancuran, perpecahan dan kehinaan. Kegagalan mereka untuk menyatukan ummat, disebabkan oleh usaha dan daya upaya mereka tidak berlandaskan tauhid. Karena itu tauhid adalah asas dan pondasi persatuan ummat, persatuan ummat adalah syi’ar dan tujuan orang yang benar-benar mentauhidkan Allah, sementara perpecahan dan perselisihan adalah syi’ar dan tujuan orang-orang musyrik.

Rabb kita satu, Nabi kita satu, qur’an kita satu, qiblat kita satu, manhaj dan tujuan kita satu, lalu dimana letak perselisihan kita wahai hamba Allah?.

Ketiga: an-Nashihah

Keamanan dan ketentraman suatu kaum tidak mungkin tercapai kecuali dengan mentaati pemimpin mereka, selama pemimpin itu masih muslim, walaupun ia melakukan dosa dan maksiat. Allah berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kalian.” [An-Nisaa’:59]

Menasehati pemimpin adalah tugasnya para ulama, bukan masyarakat awam dan bukan pula dengan melakukan demonstasi, karena cara-cara seperti ini bukanlah cara islami. Seorang yang alim harus menasehati pemimpin dengan hikmah dan bijaksana, sebagaimana sabda Rasulullah:
“Barang siapa yang ingin menasehati para penguasa, maka ambillah tangannya dan nasehatilah dia dan bicaralah dengan empat mata, kalau diterima, maka itu kebaikan, jika tidak maka kamu telah menunaikan kewajibanmu.”

Menasehati penguasa dengan melakukan demonstrasi dan pemberontakan bukan jalan untuk mengembalikan ummat kepada kejaayaan dan kemerdekaannya. Justru akan mengantarkan kepada kehancuran dan kehinaan umat di mata musuh-musuhnya.

Setelah Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan 3 hal yang dirihai oleh Allah, beliau menyebutkan pula tiga hal yang dimurkai oleh Allah, yaitu :

Perkara yang Dibenci Allah Subhanahu Wa Ta’ala

Pertama: Qiila wa Qoola

Qiila wa qool maksudnya adalah menyampaikan berita-berita yang belum jelas tanpa mencari kejalasannya, banyak berbicara dan larut dalam kebatilan. Sedangkan seorang muslim yang sejati menahan tindakan dan ucapannya, karena dia sadar bahwa semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah kelak di hari akhirat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah mengucapkan kata-kata yang baik atau diam.”

Kedua: Banyak Tanya yang Sia-Sia

Banyak bertanya tanpa kebutuhan dan manfaat bukanlah ciri-ciri orang yang paham tentang agamanya, bukan pula jalannya orang-orang yang mempelajari agama ini. Para sahabat Rasulullah bukanlah termasuk orang-orang yang banyak bertanya, bahkan di dalam Al-qur’an para sahabat hanya bertanya pada 13 tempat.

Diantara penyebab kehancuran yang besar adalah banyaknya pertanyaan tentang hal-hal yang belum terjadi dan mustahil terjadi, bahkan terdapat di dalam sebagian kitab-kitab fiqh pertanyaan-pertanyaan yang tidak mungkin terjadi, ini semua disebabkan karena jauhnya fiqh kita dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah dengan pemahaman para salafus shaleh.

Ketiga: Menghamburkan Harta

Salah satu sumber kehidupan manusia adalah harta, karena itu Islam melarang untuk menyia-nyiakan harta. Diantara bentuk menyia-nyiakan harta adalah menyerahkan harta kepada orang-orang yang bodoh. Allah berfirman :
“janganlah kalian memberikan harta kalian kepada orang-orang yang bodoh”

Orang yang bodoh yang dimaksud oleh ayat ini adalah orang-orang yang tidak bisa membelanjakan hartanya dengan baik, dan membelanjakan hartanya untuk bermaksiat kepada Allah.

Orang-orang yang menghambur-hamburkan hartanya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat serupa dengan syaitan. Firman Allah:
“Artinya: janganlah kalian berlaku boros, karena orang yang boros adalah teman setan”.

Allah memuji hamba-hambanya yang membelanjakan hartanya dengan baik. Firman Allah:
“Artinya: dan orang-orang yang apabila menginfakan hartanya, mereka tidak berlebih-lebihan dan juga tidak terlalu pelit akan tetapi pertengahan.”

Mereka dituntut untuk bersikap pertengahan di dalam membelanjakan hartanya. menyia-nyiakan harta termasuk dosa besar. Kita banyak melihat orang-orang di sekitar kita yang menggunakan hartanya untuk membeli rokok dan minuman-minuman keras, orang-orang seperti ini pada hakikatnya telah membakar hartanya. Wal ‘iyadzubillah

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: