Buyaathaillah's Blog

Tabligh : Kesalahpahaman Terhadap Dakwah kita yang dikenal tidak ada Nahi Mungkar dan Politik

Mudzakaroh H. Cecep Firdaus

Itikaf 10 terakhir Ramadhan

Mesjid Kebon Jeruk

 

Kesalahpahaman Terhadap Dakwah kita yang dikenal tidak ada Nahi Mungkar

 

Seseorang datang kepada saya lalu bercerita bahwa dia ingin ke IPB, bahwa ayahnya pencinta agama. Katanya dulu dia bercerita pernah membunuh pendeta ditahun 74 asbab ingin menghancurkan islam. Saat ini ayahnya melarang dirinya untuk ikut dakwah. Alasannya Tabligh ini ada kekurangannya yaitu tidak ada nahi mungkar jadi cuman amar makruf saja. Dia pingin dalam kerja dakwah ini ada kerja nahi mungkarnya juga. Begitulah anggapan orang ahli agama diluar kerja dakwah hari ini.

 

Hari ini kalau orang melihat dari jauh suatu rumah tapi dia tidak memasuki rumah tersebut lantas menilai dari luarnya aja. Dia akan berkata ini rumah tidak ada dapurnya, ini rumah tidak ada wc, tidak ada ruang tamunya. Bagaimana bisa dia tahu ? sedangkan dia tidak masuk kedalam rumah. Jika dia tidak masuk maka tidak akan tau. Padahal itu semua ada semua, andaikan orang itu mau masuk kedalam rumah.

 

Hari ini orang yang tidak masuk kedalam kerja dakwah seperti itu pandangan, hanya dengan anggapan anggapan saja menilai dari luar. Ini karena mereka tidak ada dalam tabligh sehingga beranggapan didalam tabligh ini tidak ada nahi mungkarnya, tidak ada ilmunya lah, dll. Padahal kalo sudah di dalam semua itu ada.

 

Hari ini orang beranggapan yang namanya nahi mungkar itu harus dengan show of force, dengan keuatan dan kekerasan. Nahi mungkar misalnya seperti FPI rumah-rumah yang ada perjudiannya digerebek, yang ada jual minuman kerasnya digerebek, prostitusi digerebek. Jadi hari ini Tabligh ini dianggap lemah karena tidak ada nahi mungkarnya. Padahal didalam dakwah ini sudah ada didalamnya kerja nahi mungkar. Mereka merasa tabligh ini tidak ada nahi mungkarnya seperti yang mereka kerjakan.

 

Padahal kalau kita perhatikan orang orang yang ikut dakwah hari ini tidak sedikit dari mereka mantan preman, mantan penjahat, mantan pemabuk, mantan penjudi, mereka yang dulunya adalah ahli maksiat. Asbab ikut dakwah mereka berhenti sendiri, tidak ada paksaan, mereka ikut saja akhirnya berhenti sendiri. Jadi sebenarnya tanpa disadari kerja dakwah ini sudah ada kerja atas nahi mungkar. Para ahli kemungkaran dengan mengenal kerja dakwah ini mereka berhenti dengan sendirinya dengan kesadaran mereka. Mungkin saja hari ini orang berangapan bahwa kerja nahi mungkar itu harus dengan cara menggrebek, melakukan kekerasan perlawanan kepada ahli maksiat. Bisa saja tempat maksiatnya bubar, tapi ahli maksiatnya tetap akan cari tempat yang lain dimana dia bisa berbuat maksiat. Jadi dengan penggrebekan maksiat tidak berhenti sebenarnya hanya pindah lokasi bersama dengan ahli maksiatnya. Sedangkan dakwah target kita adalah ahli maksiatnya bukan tempat maksiat. Dengan mengajak mereka dalam dakwah nanti ahli maksiat itu akan berhenti sendiri, tidak perlu ada paksaan. Sehingga nahi mungkar berlaku dengan sendirinya. Kalo semua ahli maksiat ini sadar lalu tobat maka tempat maksiat tidak laku, nanti akan hilang dengan sendirinya.

 

Nahi Mungkar yang dilakukan Nabi saw bukanlah seperti yang dibuat hari ini dengan menggrebek tempat-tempat maksiat, memerangi tempat maksiat, menghancurkannya, tidak seperti itu. Yang Nabi saw lakukan adalah memberi dakwah kepada pelaku maksiat sehingga iman masuk kedalam hati mereka. Jika iman sudah masuk maka mereka akan berhenti dengan sendirinya.

 

Salah satu pelajaran Hikmah Dakwah Nabi saw ketika beliau berdakwah dimekah tidak ada satu patungpun yang dihancurkan oleh Nabi saw dan para sahabat RA. Para sahabat RA dahulu itu para penyembah patung, dan ketika nabi dakwah kepada mereka tidak ada satu patungpun yang nabi saw hancurkan. Namun setelah Iman masuk kedalam hati para sahabat asbab dakwah nabi saw, maka mereka sendiri yang menghancurkan berhala-berhala tersebut.

 

Maulana Ilyas ada kedatangan ulama dari Saudi Arabia. Dia berkata kepada Maulana Ilyas apakah maulana tidak tahu bahwa ada hadits jika melihat kemungkaran tahanlah dengan tanganmu. Kalo tidak bisa tegurlah dengan kata-kata atau ucapan. Kalo masih tidak bisa juga maka benci dalam hati. Maulan Ilyas katakan bahwa hadits itu ada diatas kepala saya maksudnya kedudukan hadits itu mulia. Lalu si ulama ini bertanya kalo tau kenapa tidak diamalkan ? itu disebelah markaz nizammudin ada kuburan ulama Syeikh Nizammuddin yang disembah sembah kenapa tidak diberantas saja, kenapa hanya sibuk dakwah saja.

 

Lalu Maulana Ilyas bertanya itu hadits untuk saya atau untuk ummat. Ulama arab itu berkata itu untuk ummat. Lalu maulana Ilyas bertanya lagi kamu ini dari ummat apa bukan ? dia menjawab iya saya dari ummat. Apakah yang bisa kamu lakukan dengan hadits itu. Ulama itu katakan saya akan serbu tempat itu. Maulana bertanya ketika diserbu apa yang hasilnya ada manfaatnya gak ? ulama itu katakan yang terjadi pertengkaran dan perkelahian. Lalu maulana Ilyas bertanya lagi apakah masalah selesai ? Ulama itu menjawab tidak, mereka tetap datang lagi kesana. Maulana Ilyas katakan kalian menyerang dan berkelahi sesama orang islam ditempat maksiat tapi masalah tidak selesai bukan. Maka ulama itu katakan kalau bergitu harus bagaimana caranya ? Maulana ilyas katakan di dalam hadits itu tidak dijelaskan, apakah kita menggunakan tangan untuk berkelahi atau menyerang orang lain, apalagi orang islam. Hadits itu meminta kita merubah keadaan dengan tangan. Ternyata dengan cara engkau ini tidak merubah keadaan, bahkan malah berkelahi dan mereka tetap datang. Caranya bagaimana ? Maulana Ilyas katakan seharusnya kita pegang tangan mereka, kita undang mereka makan, ajak minum2, lalu dakwahkan ke mereka bahwa yang kalian sembah dikubur itu adalah ulama. Andaikan dia masih hidup maka dia akan sampaikan kalau punya hajat itu mintanya ke Allah jangan minta kepada mahluk. Dakwahkan ke mereka seperti itu, karena mereka yang datang itu ke makam syekh nizammuddin itu umumnya karena ingin hajatnya terpenuhi. Biar pangkatnya naiklah, harta tambah banyaklah, dagangan makin larislah, dan lain lain. Maka sampaikan kepada mereka bahwa syekh nizammuddin ini seorang ulama besar, dia mengajarkan kepada pengikutnya kalau ada masalah atau punya keinginan mintalah kepada Allah swt. Buat hubungan baik dengan mereka, dengan Iqrom, jika dakwah kita kena di hati mereka nanti dengan sendirinya mereka akan berhenti dari menyembah kuburan.

 

Begitu juga dalam dakwah kita tidak melakukan nahi mungkar dengan cara menggrebek atau menyerang tempat tempat maksiat. Kita juga tidak menyampaikan didepan muka mereka yang sedang berjudi bahwa judi ini haram, tidak bukan seperti itu cara kita. Justru kita dakwahkan kepada mereka tentang fadhilah fadhilah amal dan tentang kehidupan akherat, kenikmatan kenikmatan yang Allah janjikan di akherat dengan amal agama. Sampaikan kepada mereka kita hidup ini tidak selamanya, masih ada kehidupan berikutnya yang menanti kita, maka kita perlu buat persiapan. Orang yang berbuat maksiat bukan dia tidak tahu bahwa maksiat itu salah, jika kita serang kesalahan dia pasti marah. Ibarat luka kita kasih obat merah fadhilahnya biar sembuh, Tapi kalo luka kita kasih garam dia pasti akan kesakitan. Begitu juga orang yang bermaksiat ini seperti luka kalo kita salahkan ini ibarat kita kasih garam ke lukanya, dia pasti marah.

 

Jadi dakwah kita kepada ahli maksiat bukan langsung menyerang ke perkara maksiatnya yang dia sendiri juga udah tahu bahwa itu salah. Justru kita dakwahkan ke mereka tentang pentingnya iman dan amal. Iman amal ini seperti nur atau cahaya jika ada nur maka kegelapan pasti menyingkir. Itulah dakwah kita dengan mengajak kepada yang makruf dengan sendirinya yang mungkar akan lenyap. Kalo iman sudah masuk maka dengan sendirinya kemungkaran akan berhenti.

 

Sebagaimana dalam dakwah bil makruf kita ini salah satunya mengajak kepada sholat. Jika sholat sudah dikerjakan dengan benar salah satu khasiatnya adalah mencegah diri kita dari perbuatan yang mungkar.

 

“Inna sholata anil fahsyai wal mungkar” : sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

 

Jika umat islam sudah sholat dengan baik dan benar maka nanti dengan sendirinya kemungkaran kemungkaran itu akan ditinggalkan, melalui kekuatan sholat itu sendiri. Kalo kita mencegah langsung pada kemungkarannya pada umumnya mereka marah. Sebagaimana seorang anak kecil sedang bermain pisau tajam itu berbahaya buat dia. Kalo kita rampas pisaunya dia akan nangis dan dia akan marah. Seharusnya kita kasih dia mainan yang lain yang kira kira dia sukai sehingga dia tinggalkan pisaunya dengan sendirinya.

 

Dakwah kita ini dengan damai, kasih sayang, akhlaq yang baik bukan dengan paksa apalagi menyerang. Ajak orang kepada keimanan, kepada Allah, kepada akherat, kepada ibadah. Kalau kita datang kepada orang yang melarat secara ekonominya maka kita sampaikan ke mereka fadhilah sholat. Sampaikan kepada mereka bahwa kalo dengan sholat Allah swt akan datangkan rezeki kepada kita dengan mudah, akan diberkahi, dijauhkan dari kesempitan hidup. Jadi kesulitan kesulitan hidup yang kita hadapi hari ini jutru akibat karena kita tidak sholat Kalo kita sholat maka nanti masalahnya akan Allah swt selesaikan.

 

Dulu ketika tsunami di Aceh, rombongan rombangan dakwah datang untuk membantu disana sekaligus memberikan dakwah nasehat-nasehat. Namun mereka ada yang menjawab kami tidak butuh nasehat kami butuh uang untuk makan. Memang banyak dari organisasi organisasi lain datang membawa uang, bekal makanan, bantuan pakaian dan lain-lainnya. Padhal sumber musibah itu datangnya asbab dosa, asbab perintah Allah ditinggalkan. Perkara ini kalo kita tidak ingatkan ke mereka, walaupun jangka pendek mereka terobati dengan uang dan bekal lainnya, namun kalau mereka tidak bertaubat dan masih berbuat dosa maka musibah akan datang lagi. Jadi tidak menyelesaikan masalah juga.

 

Ulama memberikan analogi ada seorang pemuda mengiris tangannya lalu berteriak minta tolong agar di obati. Maka datang orang, diobatin lalu dibalut lukanya. Setelah selesai diobatin maka si orang ini mengiris lagi tangannya yang lain lalu teriak teriak minta tolong. Maka datang lagi orang mengobatin dan membalut luka irisannya tadi. Setelah selesai menolong diobatin dan dibalut, kembali lagi si permuda mengiris lagi tangannya, luka lagi, teriak lagi minta tolong. Maka kata ulama menolong orang yang seperti ini tidak ada gunanya. Justru yang harus kita lakukan hentikan perbuatannya mengiris ngiris tangannya baru dia berhenti. Umat hari ini seperti itu, bencana datang kita cuman kirim uang makanan, tapi sumber maslahnya gak kita pikirkan. Nanti mereka berbuat dosa lagi, maka musibah datang lagi, teriak teriak lagi minta tolong, begitu terus jadinya. Hentikan umat dari perbuatan dosa maka nanti musibah akan terhenti, ini yang penting. Yakinkan bahwa segala musibah yang terjadi ini asbab dosa dosa kita. Kalau tidak akan terus seperti itu, terus musibah datang kepada kita asbab dosa-dosa kita. Mungkin pengobatan berupa uang, pakaian, makanan akan datang ketika terjadi musibah tapi kalo gak dicegah berbuat dosa maka musibah akan terus datang. Jika tidak ada dakwah iman dan amal maka yang kemaksiatan ini hanya akan berpindah pindah saja bersama dengan pelaku maksiatnya. Sehingga musibah itu tidak berhenti datang asbab dosa dosa yang masih dibuatnya.

 

Kita juga dalam kerja dakwah juga mengirim rombongan rombongan ke daerah daerah yang tertimpa musibah. Kita datang ke mereka membawa uang, makanan, baju yang diperlukan untuk mereka dengan kemampuan kita masing masing. Tapi yang utama adalah kita datang ke mereka juga membawa agama, nasehat bahwa segala musibah yang terjadi ini asbab dosa dosa kita. Jika agama sempurna diamalkan pasti Allah swt akan hindari kita dari musibah. Kalaupun musibah itu tetap datang maka nanti Allah swt akan tolong kita keluar dari musibah asbab amal amal agama yang kita buat.

 

Hari ini jika suatu daerah islam umat islamnya dianiaya, maka banyak orang sukarelawan siap jihad datang ke daerah tersebut. Umat islam akan marah jika mereka melihat umat islam didzalimin di tempat lain. Semua akan angkat pedang siap jihad jika umat islam di dzalimin di suatu wilayah dimana mana hari ini. Dulu kalo di indonesia kayak di ambon, dari kita di jawa umat islam banyak yang siap angkat pedang jihad kesana. Begitu juga dibelahan dunia lainnya kayak di palestina misalnya. Namun anehnya hari umat islam memikirkan keadaan umat islam yang susah tapi tidak siap membantu agama. Jadi ada perbedaaan : membantu orang islam dan membantu agama islam. Kita hari ini mikirnya membantu orang islam tapi tidak mau memikirkan agama islam.

 

Ketika Nabi saw wafat dan Abu Bakar Ash Shidiq diangkat menjadi khalifah, saat itu terjadi pergolakan. Nabi saw memberi amanah agar rombongan usamah segera diberangkatkan fissabillillah. Namun keburu Nabi wafat terjadi pergolakan hebat madinah dalam bahaya. Namun oleh abu bara ra pasukan usamah tetap dikirimkan. Umar ra protes ini kok bukannya bertahan menjaga madinah kok malah disuruh pergi juga. Ketika itu madinah sudah dikepung oleh bangsa romawi mau menyerang dari luar, munafiqin siap membuat pergolakan didalam, yahudi siap berontak, orang islam banyak yang murtad dan tidak bayar zakat. Jadi keadaan sangat kacau ketika itu kok abu bakar ra malah ngirim rombongan keluar fissabillillah bukannya bertahan menjaga umat dimadinah dari serangan menurut umar ra. Kaum munafiqin, musyrikin, dan Yahudi beranggapan kalo nabi saw sudah tidak ada berarti tidak ada lagi pertolongan dari Allah swt. Jadi madinah kosong, sedangkan di madinah kata umar ra banyak orang tua, anak, anak bahkan istri istri nabi saw yang perlu dijaga. Kenapa justru laki lakinya dikirim semua keluar fissabillillah bukannya bertahan di madinah menjaga umat disini yang dalam bahaya.

 

Dalam peristiwa ini terjadi perbedaan pendapat diantara dua sahabat ra yang keimanannya tidak diragukan lagi. Umar RA ini dikatakan andaikata ada nabi lagi setelah aku kata rasulllullah saw maka umar adalah orangnya. Abu Bakar RA ini ketika masih hidup Allah swt sudah menyampaikan salam kepadanya asbab pengorbanannya untuk agama, bahkan kata nabi saw semua hutangku kepada para sahabat sudah aku lunasi kecuali abu bakar ra hanya Allah swt saja yang bisa membayarnya. Perbedaan antara Abu bakar ra dan Umar ini cukup mencolok. Umar RA dsatu sisi ingin menyelamatkan Umat Islam di Madinah, sedangka Abu Bakar RA ingin menyelamatkan agama islam. Kata abu bakar tidak bisa memberangkat rombongan usamah itu sudah menjadi perintah Nabi saw. Apakah aku akan biarkan agama berkurang ketika aku masih hidup, tidak bisa, kata abu bakar ra. Aku lebih rela melihat istri istri nabi saw dibunuh lalu bangkainya dimakan oleh serigala dibanding harus melihat agama berkurang dijamanku. Jadi Abu Bakar lebih tinggi fikirnya dibanding umar ra. Abu Bakar lebih memilih menyelamatkan agama terlebih dahulu. Kalo kita tolong agama Allah swt maka Allah swt akan tolong umat. Tapi kalo umat sudah tinggalkan agama maka Allah tidak akan tolong umat. Asbab abu bakar kirimkan rombongan rombongan fissabillillah sesuai arahan nabi saw maka masalah Allah swt selesaikan, romawi kabur, pemberontakan bisa diredam, yang murtad masuk islam laigi, yang tidak mau bayar zakat jadi bayar zakat.

 

Hari ini kita memikirkan umat didzolimin dimana mana siap angkat senjata, tapi ketika agama ini susah ditinggalkan tidak ada yang siap buat nolong agama. Kita tidak sadar yang meninggalkan sholat itu merusak agama. Asholatu Imaddudin : sholat itu tiang agama. Barangsiapa yang mendirikan sholat dia sudah mendirikan agama. Barangsiapa yang meninggalkan sholat dia sudah meninggalkan agama. Jadi hari ini yang menghancurkan agama bukan orang yahudi atau orang nasrani, tetapi orang islam itu sendiri. Maka gerakan kita ini mengajak orang terus untuk sholat, untuk memakmurkan mesjid, untuk hidupkan amal amal agama.

 

Sedangkan orang yang tidak paham akan berpikir masa islam akan maju dengan cara seperti itu. Ngajak-ngajak orang sholat bagaimana islam bisa maju kalo yang dipikirkan sholat saja. Padahal dahulu sahabat ini tidak ada yang ahli teknologi atau ahli science. Bahkan tidak sedikit para sahabat gak bisa membaca tidak bisa berhitung, tapi semua sahabat ra ahli sholat, ahli iman dan ahli amal. Maka dalam keadaan minim persenjataan, minim teknologi, minim science, minim ekonomi tapi justru negara negara super power kayak romawi dan persia takluk dibawah sahabat ra. Bahkan dibawah kekhalifahan umar ra 1/3 dunia mampu dikuasai.

 

Hari ini orang berpikir bahwah tabligh ini alergi sama politik bagaimana mau berkuasa padahal untuk merubah keadaan itu perlu berkuasa. Tabligh pun berpolitik hanya saja politik dalam tabligh ini berbeda dengan politik yang ada sekarang. Kalo politik yang ada sekarang fikirnya bagaiman yang berkuasa bisa digulingkan, bisa dijatuhkan, kalo terpilih. Bikin partai jika dipilih nanti dari partai mereka akan amanah ternyata kenyataannya banyak juga yang khianat. Sunatullah itu adalah dalam suatu hadits andaikata suatu negeri umat ini maksiat kepada Allah swt maka nanti akan Allah swt akan datangkan pemimpin yang dzolim, khianat, dan korup. Masuk diakal kalo dipikir pikir bagaimana mungkin pemimpin yang sholih muncuk ditengah tengah masyarakat yang maksiat. Kalo umat ini taat kepada Allah swt baru nanti akan Allah datangkan pemimpin yang sholih dan amanah. Melalui umat yang taat dan pemimpin yang sholih nanti allah turunkan keberkahan dari langit dan dari dalam bumi. Jadi tidak mungkin kita berlawanan dengan sunatullah berharap dari partai politik pemimpin yang amanah dan sholih muncul ditengah tengah masyarakat yang maksiat. Maka politik kita ini adalah memikirkan bagaimana umat ini baik dan mau taat kepada Allah swt supaya nanti Allah dwt datangkan keadaan baik dan pemimpin yang baik. Ternyata hari ini jika kita tidak siapkan masyarakat supaya jadi taat kepada Allah, masyarakat tetap dalam keadaan maksiat kepada Allah swt, nanti akhirnya yang terjadi pemimpin yang baik jadi dzolim, yang amanah jadi korup, begitu jadinya. Kalo masyarakatnya mau taat kepada Allah swt nanti akan Allah rubah bahkan pemimpin dzolimpun bisa jadi adil, amanah, dan baik. Inilah janji Allah. Jika kita ingin mendatangkan pemimpin yang adil ditenga masyarakat yang khianat, maksiat, dan durhaka kepada Allah swt ini adalah perbuatan yang sia sia. Seperti mendirikan benang basah, tidak mungkin.

 

Melalui Dakwah ini nanti Allah swt akan datangkan perbaikan dari ekonomi, kekuasaan, kesejahteraan. Namun Allah swt tidak akan mau merubah keadaan suatu kaum sebelum kaum itu sendiri usaha buat merubahnya. Apa yang diusahakan untuk dirubah ? yaitu amal amalnya. Insya Allah kita siap semuanya ? Insya allah.

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: