Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro Mufti Luthfi Al Banjari : Agama itu adalah kenikmatan, Arahan, dan Amanah

Bayan Mufti Luthfi Al Banjari

 

Agama itu adalah kenikmatan

 

Nikmat yang paling besar yang Allah berikan pada kita ini adalah Agama. Nabi saw jelaskan bahwa Allah swt berikan yang namanya dunia ini : makanan, pakaian, tempat tinggal, keluarga, kebendaan lainnya kepada orang yang Allah cintai dan yang Allah tidak cintai. Jadi kalo kenikmatan duniawi ini Allah berikan kepada semuanya :

 

  1. Orang muslim juga makan – Orang Kafir makan
  2. Orang muslim juga punya rumah – Orang kafir punya rumah
  3. Orang islam juga berkeluarga – Orang kafir berkeluarga

 

Maka ini bukan ukuran cinta Allah kepada seseorang.

 

Nabi Ibrahim as saking Josnya berdoa agar orang kafir ini jangan dikasih makan asbab berbagai banyak kenikmatan yang Allah kasih tapi kufur kepada Allah. Doa jangan dikasih makan supaya kapok menentang Allah.

 

Nabi Ibrahim berdoa untuk siti hajar ra dan anaknya ismail as yang ditinggalkan dilembah bakkah. Lembah yang kering kerontang tidak berbentuk dan tidak ada kehidupan. Doanya :

 

“ Ya Allah jadikanlah negeri ini tempat yang aman, damai, dan berikanlah rizki kepada penduduknya, buah-buahan”

 

Tidak perlu pohonnya, buah-buahannya saja. Kalo ngurus pohonnya repot. Nabi Ibrahim as tau bahwa bakkah ini adalah negeri yang tandus. Susah untuk ditanami. Maka beliau minta dikasih rizki buah buahan saja. Kepada siapa ?

 

Man amana minhum billahi wal yaumil akhir : Yaitu orang yang beriman kepada Allah dan kepada hari akhir.

 

Maksud doa nabi ibrahim as ini agar yang dikasih makan ini hanya orang beriman saja. Tapi apa kata Allah swt :

 

Qola waman kafaro : Tidak, orang Kafir pun akan Aku beri makan juga.

 

Jadi sudah menjadi ketentuan Allah swt bahw aorang kafirpun Allah swt kasih makan.

 

Fahumada til qolilan : tapi cuma dkasih kenikmatan sedikit saja.

Tsumma athori ar haza binnar isamasina : Tapi nanti mereka akan digiring ke neraka Jahannam ke tempat kembali yang paling buruk.

 

Nabi saw katakan :

 

Walatudeena man ahabba

 

“Dan Allah tidak memberikan agama melainkan kepada yang Allah cintai”

 

Jadi tanda cintanya Allah swt kepada hambanya ini diberikannya agama oleh Allah swt. Maka agama ini nikmat. Maka Allah swt katakan :

 

AL-YAUMA AKMALTU LAKUM DINA-KUM WA ATMAMTU ‘ALAIKUM NI’-MATI WA RADITU LAKUMUL-ISLAMA DINA. 

 

“..Pada hari ini telah kusempurnakan untukmu agamamu, dan telah kucukupkan nikmatKu kepadamu, dan telah Kuridhai Islam menjadi agamamu..”

 

Jadi Agama itu adalah nikmat, kenikmatan bagi kita. Hari ini kita baru bisa menikmati rumah baru, mobil baru, istri baru, ini yang baru terasa nikmat bagi kita. Sedangkan agama ini belum lagi terasa nikmat bagi kita.

 

Nabi saw dan para Sahabat RA ini menikmati agama melebihi daripada kenikmatan keduniaan ini. Sehingga bagi Nabi saw ini sholat tahajjud itu lebih beliau nikmati daripada bercumbu rayu dengan istri beliau yang cantik dan muda yaitu aisyah r.ha. Andaikan di izinkan Nabi saw akan sholat tahajjud terus sepanjang malam setiap hari. Namun karena istri punya hak juga maka Nabi saw berikan. Bagi nabi saw sesungguhnya kenikmatan sholat tahajud itu sendiri melebihi dari kenikmatan bercumbu rayu dengan istrinya itu sendiri. Ternyata wanita yang paling banyak meriwayatkan tahajjud nabi saw ini adalah aisyah r.ha. Padahal Aisyah r.ha ini adalah istri termuda, terpintar, tercantik, perawan, yang paling nabi saw cintai. Berarti nabi saw tidak menghabiskan waktunya bercumbu rayu dengan istrinya melainkan dihabiskan untuk ibadah kebanyakan waktunya.

 

Suatu ketika urwah ra bertanya kepada aisyah r.ha :

 

“Wahai bibiku apa yang aneh dari kehidupan nabi saw yang engkau lihat ?”

 

Kata Aisyah R.ha :

 

“Semua aneh, baru berbaring sebentar disamping saya sudah minta izin untuk ibadah semalam suntuk menghadap Rabbnya”

 

Nabi saw baru baring sebentar disebelah istrinya yang muda dan cantik udah minta izin untuk ibadah munajat kepada Allah swt. Kira-kira kita bisa gak seperti itu. Baru punya istri muda cantik pintar, baru sebentar berbaring disebelahnya bilang ”maaf sayangku izinkan aku beribadah menghadap Rabbku”. Kira-kira ada yang bisa seperti itu kita. Kalo sama istri tua masih percaya, mudah minta izin, ini sama istri muda bisa gak kita minta izin.

 

Maka Aisyah r.ha katakan :

 

“Aku ingin disampingmu ya Rasullullah saw. Tapi aku lebih cinta apa yang engkau cintai”

 

Disamping suami, seorang nabiullah lagi, pinginnya dikelonin tapi Aisyah r.ha paham bahwa dia lebih memilih suami melakukan perkara yang lebih besar lagi. Aisyah r.ha lebih memilih menyenangkan suami melakukan apa yang suami cintai. Maka Nabi sholat sepanjang malam berlama lama dalam sholat sampai tiba waktu subuh. Maksudnya apa ini menjelaskan bahwa Nabi saw menikmati agama itu sudah sampai di level dimana Agama lebih nikmat dibandingkan kenikmatan dunia. Bercengkrama dengan Allah swt lebih dinikmati dari pada bercumbu rayu dengan istri yang cantik dan muda. Begitu juga para sahabat RA lebih menikmati puasa dimusim panas dibanding menikmati minum es ketika kehausan dalam keadaan kepanasan. Kalo kita mungkin masih lebih menikmati minum air dingin dalam keadaan kepanasan dibanding memilih puasa. Inilah bedanya kita dan sahabat ra. Kalo sahabat mereka sudah bisa merasakan nikmat agama melebihi nikmat dunia.

 

Nabi saw katakan :

 

Bagi orang yang berpuasa itu diberi 2 kebahagiaan :

 

  1. Kebahagiaan waktu berbuka puasa
  2. Kebahagiaan waktu berjumpa dengan Rabbnya nanti

 

Bahagianya orang berpuasa itu ketika berbuka, yaitu ketika bedug dan adzan berkumandang. Kalau bahagia dengan makanan itu puasa anak kecil. Anak kecil itu waktu berpuasa untuk berbuka udah dirancang sama dia mau makan cendol, es kelapa, gorengan, dan lain-lain. Ini puasanya anak kecil. Begitu juga ketika idul fitri anak kecil bahagianya ketika dapat baju baru, pakaian baru dari orang tuanya. Ini gembiranya anak kecil. Lalu apa maksudnya hadist nabi bergembiranya waktu berbuka atau ketika idul fitri ini ? kata Alim ulama maksudnya disini adalah gembiranya orang beriman ketika mampu menyempurnakan perintah Allah swt. Jadi orang beriman itu bahagianya bukan karena bahagia makan atau dapat baju baru bukan, itu bahagianya anak kecil, tetapi bahagia karena menyempurnakan perintah Allah swt.

 

Maka kenikmatan dunia Allah swt berikan kepada kita : makan itu nikmat, tidur itu nikmat, punya kendaraan itu nikmat. Makanya nabi saw mengajarkan kita untuk bersyukur.

 

Baru bangun tidur doa syukur :

 

Alhamdullillahilladzi ahyana ba’dama amatana wailaihin nushur

 

Segala puji bagi Allah swt yang telah membangunkan ku dari kematian yang sementara. Bukannya kita berkata, “Sungguh enak ya Allah tidurnya” ada gak doa yang seperti itu. Lagi makan enak berdoa : “Waduh enak sekali makanannya ya Allah” ada gak doa seperti itu. Tidak ada pujiannya, rasa syukurnya kepada Allah. Tapi yang ada :

 

Alhamdullillahilladzi at amana…

 

Segala puji bagi Allah swt yang telah memberi aku makan. Jangan sampai kita merasa nikmat karena makan, tetapi kita merasa nikmat karena Allah swt kasih kita makan. Jadi bukan merasa nikmat karena dapat pakaian baru, melainkan merasa nikmat karena Allah swt kasih kita pakaian. Disitu letak bedanya dan disitulah yang harus kita syukuri.

 

Menisbatkan Nikmat kepada Al Mun’in, kepada yang memberi nikmat.

 

Subhanaladzi sakhorolana hadza wama kunna lahum mukrinin

 

Jadi kata merasa bahwa kebaikan ini Allah swt yang memberikan. Contoh bangga mana kita mendapat pakaian dari :

 

  1. Kyai kita ngasih baju pulang Haji
  2. Paus Vatikan ngasih kita jubah juga

 

Mana yang lebih mengesankan buat kita dapet baju dari siapa ? sama-sama ngasih baju. Tapi satu datang dari orang yang kita cintai, satu lagi datang dari orang besar tapi orang kafir. Bagi kita yang pernah tinggal di pondok berani gak ini loh saya dapaet dari kyai, lah ini loh aku dapat dari paus paulus vatikan, berani gak, walaupun memamng lebih bagus.

 

Maksudnya Nabi saw mengajarkan kepada kita bukan untuk menikmati kenikmatan dunia tapi menikmati pemberian dari Allah. Jadi kita senantiasa menisbatkan kenikmatan ini dari Allah swt. Jadi Agama itu nikmat sebenarnya.

 

Maka orang yang Allah swt beri kenikmatan ada 4 dalam Al Quran :

 

Ihdinash shiratal mustaqim shiratal ladzi na’an amta alaihim

 

Ya Allah berilah kami hidayah untuk berjalan di jalan yang lurus yaitu Jalan orang yang engkau berikan nikmat. Siapa mereka itu yang Allah berikan nikmat ? Dalam ayat lain Allah swt jelaskan :

 

  1. Minal Nabiyyin : Para Nabi
  2. Wa Shiddiqqin : Para orang yang shiddiq
  3. Wa syuhada : Para Syuhada
  4. Wa shalihin ; Para Sholihin

 

Jadi Nabi itu enak bisa menerima wahyu, bertemu jibril as, berkomunikasi dengan Allah swt. Padahal para nabi ini ditindas dan disiksa. Namun kenikmatan yang paling besar adalah yang Allah swt berikan kepada para Anbiya AS yaitu nikmat Nubuwah. Padahal bagaimana kehidupan para Anbiya AS penderitaanya dan letihnya mereka.

 

Kemudian mati syahid itu nikmat. Sahabat RA ketika ditombak seharusnya dia teriak kesakitan tapi justru teriak :

 

“Fustu wa rabbiul Ka’bah” : Saya Sukses demi tuhannya Ka’bah

 

Sehingga orang yang menombak sahabat bingung, ini orang kok aneh dibunuh malah gembira. Jadi mati syahid itu nikmat. Kenapa ? karena sahabat ini bersyukur nyawa yang Allah swt kasih bisa dikorbankan untuk agama. Memang orang yang mati syahid secara dzohir keliatan menderita kena tombak darah bercucuran, pasti kesakitan. Namun nikmat mendapatkan syahid ini kenikmatannya mampu menghilangkan kesakitannya.

 

Istri Firaun, Aisyah r.ha, seorang permaisuri raja, punya segalanya kenikmatan di istana. Namun ketika dia di beriman kepada Nabi Musa AS, firaun marah. Akhirnya dicopot mahkota permaisurinya, diambil semua fasilitasnya, tetap tidak mau mengakui firaun sebagai tuhan. Akhirnya disiksa oleh Firaun laknatullah alaih, di gores sama pisau. Tapi Aneh, setiap sayatan pedang siksaan firaun, Asiyah r.ha mengahdap ke langit tersenyum. DI sayat lagi oleh pedang badannya asiyah r.ha, tersenyum lagi asiyah r.ha. Bingung Firaun, nanya ke asiyah r.ha mengapa kamu disiksa malah tersenyum. Asiyah r.ha katakan kamu hanya bisa menyakiti badanku saja, tapi hatiku sudah terpaut dengan pemilik segala kenikmatan yaitu Allah swt.

 

Dalam sebuah tafsir dikisahkan ketika asiyah r.ha mengadahkan mukanya ke langit dia berdoa :

 

Rabbi ibnili indaka baitan fil jannah

 

Ya Allah buatkan untuk saya disisimu sebuah rumah.

 

Tafsir doanya disini menurut seorang ulama, aisiyah r.ha bukan minta sekedar dibuatkan rumah disurga tapi yang dia minta disisii Allah swt sebuah rumah artinya bertetangga dengan Allah swt dekat sekali. Punya rumah biasa saja tapi dempet sama rumah Kyai, tenang rasanya. Dibanding punya rumah mewah megah, tetangganya preman, jadi resah terus. Kira-kira pilih yang mana tetangganya. Jadi yang asiyah r.ha minta ini bertetnagga dengan Allah swt, sebuah rumah. Langsung Allah swt bukakan hijab di surga rumah yang bertetangga dengan Allah swt. Sehingga goresan goresan pisau firaun ini pedihnya tidak terasa karena kalah dengan kenikmatan yang Allah swt nampakkan. Hati Asiyah r.ha sudah terpaut dengan Allah swt pemilik segala kenikmatan.

 

Lalu para shidiqqin yaitu Abu Bakar RA. Menjadi orang yang bisa membenarkan Rasullullah saw itu suatu kenikmatan. Walaupun semua perkataan itu tidak masuk di akal, tapi tetap dibenarkan oleh Abu Bakar As shidiq ra. Ketika orang lain mendustakan Nabi saw dalam peristiwa isra miraj. Peristiwa ini merupakan ujian terbesar bagi orang beriman karena ada yang sampai murtad karena gak masuk diakal. Tapi itu semua kejadian Nabi yang diceritakan oleh Nabi saw dibenarkan semuanya oleh Abu Bakar RA. Sehingga suatu ketika orang kafir datang kepada Abu Bakar bercerita mengenai orang pergi isra dari mekkah ke palestine, baitul maqdis, hanya dalam satu malam. Abu Bakar bilang gak mungkin, mustahil itu. Lalu orang kafir bilang itu cerita dari sahabatmu Muhammad, maka seketika itu Abu Bakar RA langsung membenarkan bahkan walau ceritanya lebih jauh lagi tidak masuk diakal. Abu Bakar RA berkata kalo itu kejadiannya yang diceritakan oleh sahabatku Muhammad saw maka itu pasti benar dan pasti terjadi peristiwa isra itu, belum mi’rajnya. Walaupun tidak masuk diakal karena itu datang dari Nabi saw, maka langsung dibenarkan oleh Abu Bakar RA. Jadi diberi kekuatan untuk bisa membenarkankan perkataan orang yang kita percayai dan yakini itu nikmat.

 

Lalu para sholihin, menjadi orang sholih itu nikmat. Ada wanita cantik, dia bilang syekh tuh ada wanita cantik. Dia bilang, “Subhanallah ma Rabbana khalaqatahazal Bathilla.” Tapi asik mandang wanita cantik itu.. Ketika ini terjadi maka untuk mengukur iman kita ini mudah. Kita lihat apakah lebih nikmat memandang wanita tadi tapi melanggar perintah Allah atau lebih nikmat menundukkan wandangan tidak melihat wanita cantik tadi karena Allah swt. Kalo anda melihat itu wanita berarti anda menikmati keduniaan, nikmat agama kalah sama nikmat keduniaan. Kalo anda menundukkan pandangan berarti anda sudah bisa merasakan nikmat agama melebihi dari nikmat dunia. Jika kita sudah bisa mengutamakan nikmat agama dengan menundukkan pandangan tadi wari wanita nikmat dunia, berarti kita sudah diberikan nikmat oleh Allah swt. Inilah nikmat kesholihan daripada nikmat kemaksiatan, anugerah dari Allah swt. Hari ini na’udzubillah orang merasa nikmat dalam kemaksiatan. Merasakan kenikmatan dalam maksiat ini bahaya karena dia akan terus menarik kita kepada kebinasaan. Fikir kita seharusnya bagaimana ketaatan yang kita lakukan nikmatnya bisa melebihi kemaksiatan. Bagaimana mentaati perintah Allah swt lebih kita nikmati dari pada kemaksiatan tersebut. Hari ini kita lebih menikmati kemasiatan melebihi menikmati ketaatan. Padahal yang mau kita kejar ini target dari minal sholihin, menjadi orang sholih. Menjadi orang sholeh ini nikmat. Tidak perlu mengambil uang orang lain itu nikmat. Tidak menyakiti orang lain itu nikmat.

 

Kata Mufti Zaenal Abidin :

 

“Orang yang mengalah itu menang. Orang yang menang itu yang mengalah.”

 

Nabi Saw katakan : Ad Deenu Nasihah, Agama itu Nasehat.

 

Tapi nasehat yang kita inginkan hari masih jauh dari nasehat yang Nabi saw inginkan. Apa arti Nasehat ? Nasehat itu memberi arahan, solusi, saran. Namun Imam Muslim dalam sarahnya menafsirkan hadits nabi saw ini :

 

“An Nasehatu hiya dzul khoilil ma suhla” atau dalam bahasa arab yang mudah : “Iradatul khoiri ghoir”.

 

Yaitu adanya keinginan kita untuk berbuat baik kepada orang lain, inilah nasehat. Jadi agama adalah nasehat maksudnya adalah kecondongan kita untuk berbuat baik kepada orang lain. Orang Haus diberi minum ? ini kecondongan dalam kebaikan. Memberi minum kepada orang haus inilah nasehat. Orang lapar, nasehatnya kasih makan. Orang buta, nasehatnya kita tuntun.

 

Contoh Kasus :

 

Seseorang mau pergi taskyl datang dari jauh jauh kampungnya, sampai markaz ke ruang taskyl. Ditanya mau keluar berapa lama pak oleh tim taskyl. Dia bilang mau keluar 40 hari. Tim Taskyl langsung targhib, tanggung ngapain 40 hari berangkat saja 4 bulan. Ini saya ada nasehat dari syekh abdul wahab nih 2 jam bayan mari kamu dengarkan. Ini orang baru sampai, kehausan dan kelaparan, langsung dihajar dengan taghib 2 jam. Bisa shock dia kalo begini, kena stroke dia karena gak kuat.

 

Cara seperti ini bukan nasehat namanya. Nasehat itu kebaikan. Gimana caranya ? Baru datang karena orang itu kecapekan, kasih dia minum dulu kalo haus atau makan dulu kalo lapar. Orang buta jalan mau jatuh dipinggir jurang kita teriaki bodoh kamu jalan gak liat liat, didepan kamu itu ada jurang. Ini bukanlah nasehat yang dia teriaki, bukan kebaikan. Yang namanya nasehat itu, kita tau dia buta maka kita tuntun dia jalan, sampaikan didepan ada jurang pak jangan lewat sini. Memberikan kebaikan kepada orang lain inilah Nasehat.

 

Sahabat RA bertanya kepada Nabi saw, “Kepada Siapa ya Rasullullah kami beri Nasehat itu ?” Nabi saw sampaikan< “Kepada Allah swt, kepada RasulNya.”

 

Hari ini kita kebanyakan kita salah memahami bahwa kita fikir hadits ini Allah swt yang memberi nasehat dan nabi yang memberi nasehat kepada kita. Bukan seperti itu. Maksud hadits kita memberi nasehat kepada Allah ini adalah kita mempersembahkan kebaikan kepada Allah swt, berbuat baik kepada Allah swt. Agama itu memberikan kebaikan kepada orang lain, kepada siapa tanya sahabat kepada Allah dan Rasulnya. Hamba yang paling baik itu hamba yang memberi Allah swt, bukan hamba yang minta. Hamba yang paling baik adalah hamba yang memberi kepada Allah swt :

 

“Iyyaka nabudu wa iyyaka nasta’in” : Kepada engkau kami menyembah dan kepada engkau kami meminta

 

Na’budu dulu baru Nasta’in, jangan dibalik Nasta’in baru Na’budu, tidak sah sholatnya nanti. Hidup kita sering gak sah, karena maunya minta dulu baru ngasih :

 

  1. Ya Allah kayakan saya dulu baru saya nanti nyumbang mesjid
  2. Ya Allah naikkan dulu gaji saya baru saya bisa sedekah
  3. Ya Allah naikkkan dulu jabatan saya baru saya pergi haji
  4. Ya Allah saya ini sakit, sehatkan dulu saya baru saya habis-habisan ibadah.

 

Bukan, tidak seperti ini caranya yang Allah mau. Kasih dulu Allah, baru minta hajat kita. Bahkan yang lebih hebat lagi, begitu sibuknya ngasih Allah swt gak sempat minta.

 

Hadist Nabi saw mahfum : Barangsiapa sibuk membaca Al Quran, gak sempat doa, nanti Allah swt berikan dia lebih baik dari apa yang diminta-mintanya.

 

Minta syafaat kepada Nabi saw dibolehkan tapi yang lebih hebat lagi menyibukkan diri dalam bershalawat kepada Nabi. 1 kali shalawat Allah swt balas 10x rahmat, 100 kali shalawat Allah beri 1000 rahmat. Maka apa yang kita minta nanti Allah swt kasih. Hidupkan sunnah Nabi saw. Baca Al Quran jangan diletakkan sembarangan tanpa ada rasa hormat. Berbuat baiklah kepada Al Quran, dirapihkan, ditempatkan yang tinggi, baca dia, jangan biarkan terlantar apalagi berdebu.

 

Pengalaman saya ketika dipakistan ini mereka sangat memuliakan AL Quran. Bahkan tidak ada di dunia ini yang mencetak hafidz dan hafidzoh ini melebihi India dan Pakistan. Rahasianya apa ? mereka sangat memuliaka Al Quran. Mereka membacanya, tidak dibiarkan berdebu dimasukkan kedalam tempat yang kantong yang menghindarkan quran dari berdebu, lalu mereka letakkan di tempat yang tinggi. Disini saya ada datang ke pesantren, santrinya 5000 orang, tapi heran tidak ada satu hafidzpun dihasilkan. Saya heran sayang sekali pesantren sebesar ini tidak ada hafidnya. Ternyata setelah saya perhatikan ketika mereka selesai membaca quran. Tangan yang sama yang memegang Al Quran untuk dibaca, tangan sama dia lepaskan saja dilantai berserakan tidak ada rasa hormat sama sekali pada Al Quran. Quran diletakkan bersama kaki mereka. Meletakkan Quran kayak meletakkan barang dunia yang murah. Jika tidak ada penghormatan kepada Al Quran bagaimana Quran bisa masuk kedalam hati.

 

Kisah lain ada seorang dosen JIL (Jaringan Iblis Laknatullah Alaih) berkata : “Kenapa hari ini kita marah-marah Quran dirobek atau dibakar, itukan hanya kertas saja, tulisan saja. Quran itu seharusnya ada didalam hati..” Lalu satu orang mahasiswa pintar dia datang kedepan ke si dosen : “Stadz saya izin, bolehkah melihat makalah yang ustadz tulis ?” si dosennya bilang boleh silahkan sambil memberikan makalahnya. Maka tatkal dipegang sama si mahasiswa makalah tersebut langsung diludahin. Terkejut si dosen, dia marah. Kenapa kamu lakukan itu, tau gak berapa banyak orang yang membacanya dan menghargai makalah tersebut sebagai suatu rujukan keilmuan, saya dapat cumlaude gara-gara buku ini. Lalu si mahasiswa itu sampaikan, “Inikan kertas saja ustadz sama kayak buku-buku yang lainnya. Kenapa ustadz musti marah.” Baru si dosen tadi sadar mengenai menghormati Al Quran.

 

Berbuat baik dengan Al Quran ini minimal baca 6 bulan 1x khatam, setahun 2x khatam, ini dari Nabi saw, haknya Al Quran. Sedangkan kita pekerja dakwah minimal 1 bulan 1x khatam, 1 hari 1 juz, 30 hari khatam 30 juz.

 

Lalu kita amalkan Al Quran :

 

salah satunya berbuat baik kepada pemimpin kaum muslimin. Selama ida memperjuangkan dan menegakkan agama kita bantu dia, kita dukung dia, ini islam. Kalo dia pemimpin kita jangan demo, tapi kita tegur langsung. Hadits Nabi saw sampaikan :

 

“Jihad yang paling utama itu adalah membicarakan yang Haq didepan pemimpin yang Dzolim.”

 

Misalnya sekarang gubernur kita dzolim, presiden kta dzolim, atau bupati kita dzolim, maka datangin dia, beri tahu langsung dia kesalahannya di istananya sana. Jika kita mati, maka mati syahid insya allah. Kalau hari ini kita kumpulkan orang lalu demo berkoar koar pemimpin kita dzolim, koruptor, tukang bohong, lalu kita ditembak maka ini bukan mati syahid yang kita dapatkan, mati sangit. Kenapa ? karena kita sudah membicarakan Aib pemimpin kita didepan Rakyat yang bodoh. Namanya Jihad itu menurut Hadits Nabi saw adalah membicarakan yang Haq didepan Raja yang Dzolim, bukan membuka keburukan didepan rakyat yang bodoh. Nilai Jihadnya itu bicara yang Haq didepan Raja nya atau Pemimpinnya langsung, karena ada resiko kamu digampar atau dibunuh.

 

Kadang-kadang diantara teman teman kita juga kalau melihat kesalahan beraninya sms saja, tidak berani bicara langsung. Ini bukan pejuang namanya, ditanya namanya gak berani ngasih tahu juga. Ada khotnah jumat, setelah selesai khotib di sms, bahwa isinya salah. Tapi pas di telpon balik sama khotibnya malah gak diangkat. Ini bukan jihad perkara yang Haq namanya. Yang benar itu bicara langsung didepan dia.

 

Lalu berbuat baik terhadap sesama, inilah agama. Agama itu berbuat baik kepada yang lain. Agama itu perbuatan baik. Kalau kita sudah biasa berbuat baik jadi nikmat. Memberi bukannya nuntut, inilah agama. Kayak pembagian zakat, malah banyak yang minta, kuranglah katanya. Malah menuntut bukannya memberi. Agama itu memberi bukan nuntut. Bahkan yang hebat lagi orang miskin tapi memberi, ini luar biasa. Orang miskin malah memberi ini Allah swt puji. Orang kaya memberi ini biasa, tapi orang miskin memberi ini luar biasa.

 

Dalam Hadits Nabi saw dikatakan : Jauhi api neraka walaupun hanya dengan separuh kurma

 

Hadits ini bukan untuk orang kaya tapi untuk orang miskin. Orang kaya punya satu gudang kurma lantas panitia takjil mesjid datang minta menawarkan takaza kurma ke si orang kaya. Lalu si orang kaya bilang saya dengar hadits shahih dari nabi saw katanya jauhi neraka walaupun hanya sebutir kurma. Maka dikasih sebutir kurma ke panitia takjil mesjid. Kira-kira gimana menurut bapak. Ini hadits shahih tapi Iman lemah. Karena Iman lemah walaupun hadits shahih tidak ada kekuatan untuk mengamalkan. Beda sama Iman shohih, walaupun hadits dhaif akan dia amalkan.

 

Jadi ini apa yang diberikan orang kaya bukan mengamalkan agama tapi mengejek agama namanya. Punya segudang kurma tapi hanya ngasih separuh biji kura karena denger hadits shahih ngasih separuh biji kurma. Ini hadits bukan untuk orang kaya, tapi targhiban untuk orang miskin. Walaupun miskin hanya punya satu kurma, tapi ingat targhiban hadist shahih ini, maka dia tetap memberi, ini baru agama.

 

Umumnya orang bisa kennyang makan kurma jika dia makan 7 kurma rata-rata. Maka orang miskin yang punya satu kurma tadi diperbolehkan minta 6 kurma, agar bisa memenuhi kebutuhan dia. Tapi jangan lebih karena kalo kebanyakan nanti malu di hadapan Allah hari kiamat datang dengan dagingnya yang berjatuhan tinggal tulangnya saja. Diperbolehkan meminta untuk memenuhi kebutuhannya tapi jangan lebih. Ini karena kata Nabi saw sampaikan :

 

“Tidak ada orang yang membuka pintu meminta minta kecuali akan diperluas kemiskinannya.”

 

Jadi orang yang suka meminta minta tadi semakin hari semakin diperlebar kemiskinannya. Bahkan hari ini banyak orang kaya tapi masih suka meminta minta bahkan daftar haji plus, tapi tidak dihilangkan oleh Allah kemiskinannya, karena suka minta-minta. Begitu juga hari ini orang miskin kelihatannya punya profesi meminta minta di jalan padahal dikampung dia kaya punya rumah punya mobil pula. Coba saja lihat hari ini orang-orang yang mengemis di jalan, mereka bukannya miskin hanya karena profesi aja, hati mereka yang miskin bahkan diperluas kemiskinannya oleh Allah swt. Satu hari datang ke salah satu pasar ada seorang tua pengemis profesinya biasa kelihatan dipasar. Namun hari ini tidak nampak dia, setelah ditanyakan kepada seorang pengemis muda, di tempat orang tua itu mengemis, baru tahu sudah meninggal. Ternyata si pengemis muda itu adalah anaknya. Apa yang terjadi ? asbab meminta-minta, Allah swt jadikan bukan saja bapaknya, bahkan anaknya ikut meminta-minta, Alllah swt perluas kemiskinannya. Jadi orang yang meminta minta itu tidak akan Allah swt hilangkan kemiskinannya bahkan dibikin tambah miskin lagi.

 

Namun kalau orang miskin tadi yang hanya punya sebiji kurma, dia sedekahkan separuh kurmanya, lalu separuhnya dia makan. Maka detik itu juga akan dibahagiakan oleh Allah swt. Dan di hari hari lain tangannya Insya Allah akan Allah swt jaga dari meminta minta kepada orang lain.

 

Mufti Zaenal Abidin rah.a bercerita :

 

3 orang santri dipakistan diberi kue cuman 2. Kita bertiga kok cuman dikasih 2. Karena faham agama santri yang lain malah ngasih, kamu aja yang ambil. Si yang junior bilang abang saja ambil saya tidak usah. Ini santri paham agama, dia tidak menuntut tapi memberi. Namun asbab dia ngalah, dia jadi menang. Maka si abangnya pun paham agama dia belah kasih separuh ke juniornya. Lalu temannya juga ngasih separuh karena paham agama. Kalo semua paham agama maka akan saling memberi bukan menuntut. Berkat ngalah jadi menang si santri yang ngalah gak diberi malah dapat 1 yang lain setengah setengah. Semua dapat kebagian roti dan dapat pahala.

 

Jadi orang yang punya agama ini bahagia terus, dengan agama ini, hidup dia bahagia. Kita ingin bagaimana menikmati agama ini melebihi daripada menikmati dunia. Kuncinya cuman satu kata Allah swt :

 

“Walladzina jahadu fina lanahdiyannahum subulana”

 

“Barangsiapa yang bermujahadah di jalanKu maka Aku akan bukan baginya pintu-pintu hidayah.”

 

Kalau kita tidak pernah bermujahaddah, bersusah payah untuk agama, maka tidak akan bisa kita menikmati ataupun memahami agama. Hari ini kita kadang tahajjud kadang tidak. Bagaimana tahajjudnya ? kalo saya mampu, saya tahajjud, kalo tidak yah gak apa-apa, gak merasa rugi. Maka sampai mati dengan cara yang seperti ini anda tidak akan menikmati tahajjud. Karena kalo orang yang sudah menikmati tahajjud dia akan pingin lagi pingin lagi, terus tidak ingin tertinggal. Karena apa ? sudah menikmati tahajjud, kalo tidak tahajjud menyesalnya luar biasa. Beda sama yang belum menikmati, hari ini dia tahajjud, besok dia malas malasan. Kapan seseorang sudah bisa merasa nikmatnya tahajjud ? ini kalau anda sudah bermujahaddah, bersusah payah, mendirikan dan menjaga tahajjud. Mujahaddah itu kita paksakan diri kita.

 

Layukallifullahu nafsan illa wusaha

 

“Allah swt tidak akan memberikan beban melebihi kemampuan dia”

 

Jadi Allah swt tidak memberikan beban melebihi kemampuan, bukan karena kemauan dia.Hari ini kita salah kaprah menafsirkan ayat ini kita menyamakankan antara kemampuan dan kemauan. Rata rata kita ini mampu untuk sholat tahajjud insya allah 8 reakaat plus witir 3 rakaat. Cuman karena kemauan kita, setiap 2 rakaat tidur lagi, besok begitu juga setiap 2 rakaat tidur lagi. Sebenarnya kita mampu tapi kita tidak mau, bukannya kita tidak mampu. Allah swt memberikan beban itu kepada yang mampu bukan yang tidak mau. Dia mampu sebenarnya tapi memilih tidak mau alasannya Agama ini berdasarkan kemampuan. Bukannya tidak mampu tapi tidak mau. Beda antara tidak mampu dan tidak mau.

 

Maulana Ibrahim katakan bahwa kemampuan itu harus diasah dan dilatih. Kenapa orang mampu ? karena ada latihan, disinilah mujahaddahnya. Hari ini kita sebenarnya ada kemampuan untuk mengangkat beban 100 kg, tapi karena tidak dilatih gak mampu, gak kuat. Jangankan 100 kg, baru 10 kg sudah kecapekan, karena tidak diasah kemampuannya, tidak dilatih. Maulana bercerita bahwa dia melihat tetangga dia mengangkat kerbau. Padahal orang india inikan tidak terlalu besar, tapi bisa ngangkat kerbau. Maulana tanya apa rahasianya kamu kok bisa angkat kerbau ? dia katakan kerbau ini lahir dikandang kerbau saya, dari lahir masih bayi sudah biasa saya gendong. Setiap hari saya gendong dari hanya seekor gudel, kerbau baru lahir, sampai besar. Karena setiap hari digendong, tidak berasa, sampai akhirnya udah besar karena tiap hari dilatih digendong jadi biasa. Gendong kerbau tiap hari stamina dia dan physic dia jadi biasa. Jadi kuncinya apa ? dilatih, bermujahaddah mengasah diri.

 

Jadi sebenarnya kemampuan kita ini ada, cuman karena tidak dilatih, kemampuan itu tidak muncul. Kenapa tidak mampu ? karena tidak dilatih. Nah sama dengan ngangkat kerbau tadi, Tahajjud pun perlu dilatih. Awalnya berat buka mata saja susahnya minta ampun. Paksakan sholat tahajjud, buka mata itu, nyebur ke air, iblis itu dari api, padam dia sama air. Besok berat lagi, paksakan lagi sholat tahajjud, nyebur lagi tambah kopi biar melek. Dulu kami di pesantren biar melek kami bikin kopi pakei garam, karena kalo pake gula masih tidur. Masih kacau juga iblis mengganggu tahajjud kita, makan cabe lagi biar joss meleknya. Inilah latihan namanya, mujahddah, bersusah payah, untuk melatih kemampuan kita dalam beribadah. Jika kita paksakan diri kita, latih selama 40 hari, maka insya allah kemampuan itu akan muncul. Orang nanya kenapa musti dipaksa ustad ? bukankah ada ayatnya :

 

“La iqroha fiddin : tidak ada paksaan dalam agama.”

 

Ini maksud dari ayat ini adalah orang kafir tidak boleh dipaksakan masuk kedalam islam. Kalau orang kafir jangan dipaksa. Namun bagi yang sudah masuk kedalam islam ada yang namanya pemaksaan dan dibolehkan. Salah satunya orang berhutang duitnya sudah ada, maka ini boleh dipaksa untuk bayar. Negara berhak paksa dia untuk bayar hutang. Zakat sudah datang nishabnya untuk dibayarkan, uaangnya juga ada, maka boleh dipaksakan untuk bayar zakat. Bahkan salah satu imam yaitu Imam Ahmad bin Hambal ini lebih jos lagi, panggil orang 3 kali tinggalkan sholat jumat ditanya mau tobat gak dia, kalo tidak mau tebas lehernya. Jadi pemaksaan dalam agama itu ada kalo sudah masuk kedalam islam. Orang kafir jangan dipaksa masuk islam tapi kalo sudah masuk islam ada kewajiban kewajiban yang sudah ditentukan boleh untuk dipaksa. Nah sekarang kita latihan, kita paksakan diri kita. Kita latihan, paksakan diri kita 40 hari tahajjud, insya allah hari ke 40 baru berasa nikmat tahajjud kita. Hari ke 60 kalo tidak bangun akan ada perasaan menyesal yang luar biasa. Bahkan yang tadinya dibangunin istri kita marah-marah, dicipratin air maraha-marah. Sekarang malah marah karena tidak dibangunkan istri tahajjud. Mudah-mudahan Allah swt sampaikan kita kesana. Insya Allah setelah kita paksakan baru akan terasa kenikmatan. Agama ini nikmat hanya saja kita belum merasakan kenikmatannya asbab tidak adanya mujahaddah kita melatih diri.

 

Begitu juga dakwah merupakan suatu kenikmatan. Ketika Nabi saw hijrah ke madinah, masyarakat madinah gembira menyambut nabi saw. Mereka senandungkan :

 

Tala’albadru ‘alayna : Telah terbit Bulan purnama diatas kami
Min thaniyyati’l wada : Dari lorong/pintu thaniya
Wajaba ash shukru ‘alayna : wajib kita bersyukur….. kenapa ?
Ma da’a lillahi da : Kedatangan DAI ALLAH swt ke kampung kita
Jadi kehadiran dai ini dikampung kita merupakan suatu kenikmatan. Jika dai sudah datang maka kenikmatan-kenikmatan akan datang. Dulu di temboro inihanya kampung kecil dan sepi, tidak banyak orang yang tau. Namun asbab ada dakwah lihat bagaimana perkembangan temboro hari, dari kampung kecil sepi menjadi desa yang besar dan ramai, makmur agama dan pesantrennya. Bahkan insya allah jin jin di temboropun akan ikut kerja dakwah. Dulu kyai mahmud orang tua kita di temboro, beliau adalah pemilik dari pesantren temboro, berkata kepada kami bahwa di pakistan banyak juga jin kayak di indonesia. Hanya saja asbab dakwah jin-jin pakistan mereka tidak ganggu manusia. Bedanya di indonesia suasana dakwah belum hidup makanya jin-jin disini jadi bos, suka ganggu orang. Kata beliau di indonesia jin suka minta ayam hitam dikasih, minta sesajen dikasih, bahkan minta kopi hitam dikasih. Mendingan dikasih buat saya aja itu kopi dan ayam dari pada dikasih buat jin kata kyai mahmud. Namun jika dakwah ini jalan terus nanti jin jin itu akan terkesan dan ikut dakwah juga.

 

Beda dengan di mekkah, abu jahal ini tidak paham dia kenikmatan ada dai ditengah-tengah kampung dia. Bahkan ingin dibunuh lagi dai di kampungnya. Nabi saw mengalah pergi mau meninggalkan mekah, masih juga dikejar sama mereka mau dibunuh. Akhirnya Allah swt ceritakan Abu Jahal siapa sebenarnya dia di dalam AL Quran supaya kita tidak ikut-ikutan menjadi seperti dia.

 

Alam taro illalladi badratul nikmatul kufron

 

Apakah kalian tidak memperhatikan orang yang telah diberikan nikmat lalu dia kufur terhadap nikmat tersebut. Nikmat tersebut bukan saja tidak diyukuri tapi dinafikan, dipungkiri. Mereka tidak mensyukuri nikmat dengan kehadiran Nabi saw sebagai dai ditengah mereka. Mereka Bahkan hanya memungkiri saja :

 

Wa’halul kaumum darrul bawwal

 

Mereka bawa kaumnya tadi ke tempat kehancuran yaitu ke Badr untuk memerangi Nabi kita Muhammad saw. Bahkan mereka ajak kaumnya ke kebinasaaan lebih dari itu lagi. Mereka membawa kaumnya binasa di Badr ke Jahannam.

 

Wa’halul kaumum darrul bawwal Jahannamu fissal qorror

 

Mereka telah menggiring kaumnya binasa dunia tapi mereka juga telah menggiring kaumnya menuju neraka jahannam. Asbab apa ? asbab mengingkari dai. Maulana Ahmat Lath dalam doanya di bayan disampaikan :

 

Ya Allah tanamkanlah dalam diri kami :

 

  1. Kenikmatan meninggalkan Khamr
  2. Kenikmatan meninggalkan Judi
  3. Kenikmatan meninggalkan Zina

 

Mungkin ada sebagaian orang berpikir ngapain repot-repot bawa agama dalam kehidupan kita bikin repot aja. Bayangkan mau nikah saja, harus ke KUA dulu, harus melamar dulu, itupun belum tentu disetujui, cari saksi lagi, pakai adab taaruf lagi, repot sekali. Kenapa gak langsung saja kalau suka sama suka masuk check in ke hotel saja bereskan, lebih nikmat, lebih mudah, gak perlu repot repot.

 

Agama itu memang susah diawal, tetapi setelahnya Nikmat. Beda dengan Maksiat mungkin enak diawal setelahnya Susah.

 

Beginilah mujahaddah agama buat nikah : Pergi ke KUA susah harus jalan jauh-jauh, Melamar juga susah belum tentu diterima, menghadirkan saksi repot, taaruf ribet pakai adab, kumpulkan orang-orang lagi, motong sapai buat jamuan, semua ini bikin repot dan susah. Tapi setelah itu nikmat hadiri yang dimuliakan. Ketika sah pernikahan kita, dengar istri positif hamil, nikmatnya luar biasa. Mendengar istri hamil pertama kali langsung cerita ke orang tua kita, ke mertua, ke teman teman kita, semua orang kita kasih tahu sangking gembira kita. Semakin besar perut istri semakin gembira semakin nikmat bagi kita. Bagaimana gembiranya kita ? belum lahir sudah siapkan baju bayinya lagi, kereta dorongnya lagi, kelambunya lagi, semuanya kita persiapkan padahal belum lahir.

 

Coba na’udzubillah bagi yang tidak mau bawa agama. Ketemu pasangan langsung check in di hotel, gak mau melamar, lebih milih berzina. Kelihatannya nikmat di awal mudah, tidak memakan biaya besar, tidak merepotkan. Tapi nanti ketika denger kabar si wanitanya hamil, apakah senang denger kabar kehamilannya ? baru dia mulai gelisah, ketakutan takut ketauan. Makin besar perut si wanita hasil zina tadi, makin tambah ketakutan. Mulai muncul rencana rencana jahat mau di aborsi, mau dibunuh, mau dibuang, macam-macam.

 

Begitulah kenikmatan dunia enak diawal tapi setelah itu kesusahan. Beda dengan kenikmatan agama yang menyusahkan diawal, setelahnya kenikmatan. Jadi agama itu selain mendatangkan kenikmatan, juga mendatangkan rasa aman.

 

Walladzina amanu walam yarbusi binalmidzunu ulaika uhummul amnu wal muhtadun

 

Orang beriman yang tidak mencampurkan imannya dengan kemusyrikan maka mereka aman dan dapat hidayah.

 

Kalau iman kita bersih tidak tercampur dengan kemusyrikan, hidup hanya untuk Allah saja, maka hidup akan enak. Jalan sendiri di tengah malampun tidak ada rasa ketakutan. Seorang kecil ketemu musuhnya yang besar tiba tiba berani dia ngeledek menantang, kenapa ? karena dia tahu Ayahnya ada di belakangnya. Begitulah agama, merasa bersama Allah swt itu merupakan suatu kenikmatan. Anak kecil tidak punya duit mau belanja, tenang saja dia, karena dia merasa ada bapakanya kalau minta atau merengek pasti dikasih. Dijalan si anak liat kantongnya gak ada uang, tapi digandeng bapaknya. Bapaknya nanya mau kemana nak, tinggal pilih tempat nanti bapaknya yang beli. Kamu anak kecil boleh gak punya duit tapi ayah saya punya duit. Begitulah agama, kita boleh tidak punya uang, Tapi Allah swt Maha Kaya, duit aja mah kecil bagi Allah. Minta saja sama Allah nanti Allah swt yang kasih, tenang jadinya.

 

Agama adalah Arahan :

 

Saya ada berdebat sama seseorang dalam perjalanan. Dia bilang demokrasi itu islam, enak kita dalam demokrasi ini. Saya katakan kalau kamu dalam demokrasi justru malah bikin pusing. Allah swt berfirman :

 

Wa’in tuti’u tahtadu : Kalau kamu wahai orang banyak ikut Nabi saw maka kalian dapat hidayah.

 

Namun Nabi saw diperingatkan oleh Allah swt :

 

Wa intutiu aksara man fil ardhi yudhilluka an sabillillah : Tapi jika kamu wahai Muhammad saw ikut kepada orang banyak maka kamu akan tersesat dari jalan Allah swt.

 

Kalau kita ikut nabi saw enak, mudah tinggal ikut saja, tapi kalau Nabi saw ikut kita yang mayoritas atau orang banyak, jadi sesat. Bahkan bukan sesat saja, Allah swt katakan :

 

Wa’lamuu anna fiikum rasuulallaah : “Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah.”

 

lau yuthii’ukum fii katsiirim minal amri la’anittum

 

“Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan.”

 

Maksud ayat ini adalah Ketahuilah ditengah tengah kamu ada rasullullah saw. Kalau Nabi saw ikut kamu, maka kamu akan capek. Kalau kita ikut nabi saw enak, bisa dapat hidayah. Tapi kalo Nabi saw ikut kita ini akan capek, bikin susah, dan nabi akan tersesat. Udah capet, tersesat lagi.

 

Contoh :

 

Dalam perjalanan dari jakarta-solo, ada supir dan penumpangnya ada saya, pak jamil, dan pak syuaib. Kalau kita penumpang ikut supir saja, tidak banyak minta, maka enak tinggal ikut saja nanti sampai. Ini maksud ayat kalau kita ikut nabi saw, dan disini nabi saw ibarat supir kita penumpang.

 

Namun beda halnya kalau supir ikut penumpang. Andaikata, Saya bilang kepada supir, kamu jalan lebih cepat ini terlalu pelan. Maka supir dengar dan mempercepat bawa mobilnya. Lalu pak syuaib bilang, jangan ngebut pak supir, saya gak bisa tidur. Lalu supir memelankan kendaraannya. Lalu kemudian pak Jamil protes, jangan pelan-pelan bawa mobil saya buru buru nih. Jadi Supir malah bingung, mau ikut siapa. Satu minta dikebut, satu minta dipelanin, satu minta dikencangin lagi, capek jadinya kalo supir ikut penumpang. Belok kanan ikut perintah satu penumpang belok kiri ikut perintah penumpang yang lain. Capek. Supir kalo rute ikut kemauan penumpang yang berbeda-beda, kemauan penumpang di ikutin bisa nyasar dia.

 

Jadi kalau kita ikut Nabi saw, enak, tinggal ikut saja. Dan kalau Nabi ikut kita kayak supir tadi bisa nyasar.

 

Agama itu adalah Amanah

 

عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَنْ يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ

“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat agama kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat agama itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat agama itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh….” (QS. Al-Ahzab: 72)

Allah swt menawarkan sholat, puasa, haji kepada gunung, langit, dan bumi sebagai amanah tetapi ditolak karena takut gak ada yang berani menerima amanah ini. Bahkan ketakutan. Gunung itu ketakutan kalo gak sholat nanti masuk neraka, begitu juga langit dan bumi. Gunung, langit, dan bumi takut kalo mereka melanggar tidak sholat, tidak puasa, tidak haji, nanti Allah swt lempar kedalam neraka. Jadi mereka semua takut gagal nanti masuk ke neraka. Namun justru manusia yang menerima amanah ini, siap menerima agama.

 

Jadi Agama itu :

 

  1. Nikmat
  2. Arahan
  3. Amanah

 

Agama itu selain kita nikmati, kita ikuti, dan juga sebagai amanah. Agama itu amanah, maksudnya apa ? agama itu harus disampaikan. Misalnya saya buat baju saya kasih kepada anda tolong diberikan kepada pak salim. Maka baju ini jadi amanah untuk dikasih ke pak salim bukan untuk disimpan dikamar apalagi disembunyikan. Jadi agama itu adalah amanah, harus disampaikan.

 

Maulana Ahmad Lath sampaikan yang namanya amanah ini jangankan dipinjamkan, berubah sedikit saja tidak boleh. Misalnya saya titip duit 1 juta rupiah kepada anda pecahannya 50 ribu ada 20 lembar untuk disampaikan kepada pak salim. Lalu ada orang pingin tuker uang 1 juta tersebut dengan uang 100 ribu 10 lembar, ini tidak boleh, ini tidak amanah namanya. Amanah itu harus sempurna persis sebagaimana ketika dititipkan tidak ada perubahan sedikitpun. Namun hari ini karena sudah ada sistem transferan, yang menyebabkan agama kita mengikuti perkembangan keduniaan, maka untuk urusan dunia ini dibolehkan oleh ulama.

 

Namun Maulana Saad sampaikan untuk agama jangan dibawa seperti itu. Contoh : kita dengar bayan kyai udzairon, kesan sekali kita dengarnya, kita rekam atau catat. Lalu kita forwardkan via hp sampai ke seluruh indonesia. Jangan pernah berpikir bahwa kita telah sampaikan agama dengan cara seperti itu. Amanah ini, bayan kyai udzairon, telah disampaikan keseluruh indonesia. Kalo duit mungkin bisa disampaikan amanahnya dengan dikirim via transfer, tapi agama jangan kita sampaikan dengan cara mentransfer via hp.

 

Jadi agama itu harus disampaikan sebagaimana yang disampaikan oleh nabi saw, wajihan bi wajihin, tatap muka, face to face. Para Nabi as dan para sahabat ra, mereka menyampaikan agama sebagaimana Nabi saw menyampaikan agama. Ada seseorang minta belajar wudhu dengan sayyidina Ali ra, maka Ali ra minta diambilkan air lalu naik keatas panggung agar bisa dilihat umat langsung dipraktekkan wudhunya, dicontohkan. Inilah maksud memberi contoh wudhu dengan amalan, learning by doing, praktek langsung.

 

Hari ini orang berdalih untuk dakwah dan ilmu kirim saja iva sms saja. Menurut mereka nabikan juga mengirim surat kepada raja-raja sama aja dengan mengirim sms. Padahal Nabi saw ini tidak hanya mengirim surat tapi beliau juga mengirim orang yang membawa surat untuk menyampaikan islam dan memberi contoh ajaran islam. Jadi Nabi saw kirim :

 

  1. surat
  2. orang

 

Nabi saw selain kirim surat juga mengirim orang yang membawa surat. Sedangkan isi surat nabi saw ini pendek saja : Aslimu Taslamu, masuklah islam maka kamu akan selamat, itu saja isinya. Namun orang yang menyerahkan surat tadi kepada rajanya, maka dia tinggal 3 hari nunggu sambil berdakwah islam dan memberi contoh islam. Maka si Raja tadi akan memperhatikan si orang tadi bagaimana bermuamalah, bermuasyarah, berakhlaq islam dan sebagainya selama 3 hari dikotanya. Sedangkan surat tadi hanya sebagai alasan agar jangan dibunuh utusan tersebut. Suratnya hanya berupa undangan masuk islam, tapi Islamnya itu ada bersama utusan yang membawa surat. Jadi orang bukan terkesan suratnya saja tapi dengan utusannya yang memberi contoh bagaimana sholatnya, bagaimana puasanya, bagaimana muamalahnya, bagaimana muasyarahnya, dan lain sebagainya. Sebenarnya yang jadi maksud itu adalah yang nabi kirim itu adalah orang membawa surat, cuman biar tidak dibunuh dikirim pula surat seakan akan sebagai utusan negara.

 

Jadi hari ini kalau kita hanya mengirim sms saja atau surat saja ini belum mengikuti daripada sunnah rasullullah saw dalam menyampaikan amanah agama. Bahkan seharusnya yang sudah terlanjur ngirim ngirim sms harus pergi kesana tempat dia mengirim sms dakwah langsung face to face. Kirim sms ke irian, maka pergi juga kesana sampaikan agama, ini baru amanah.

 

Jika kita sudah bisa merasakan kenikmatan dalam beragama maka ketika kita semakin mendekatkan diri kepada Allah swt maka Allah swt akan semakin mendekati kita. Inilah kemuliaan yang kita dapat yaitu Allah swt mendekat kepada kita sejauh mana kita mendekatkan diri kepada Allah. Sedangkan kita akan mendekat kepada Allah jika kita sudah bisa merasakan kenikmatan dalam mendekatkan diri kepada Allah yaitu dalam agama. Namun hadirin yang lebih hebat lagi ini adalah jika kita bisa membawa orang mendekatkan diri kepada Allah. Mendekatkan diri kepada Allah ini hebat, tapi lebih hebat lagi kalau kita bisa mengajak orang mendekatkan diri kepada Allah.

 

Allah swt cinta dengan orang yang mendekatkan diri kepadaNya. 1 jengkal kita mendekat kepada Allah maka Allah akan mendekat 1 hasta. Jika kita mendekat 1 hasta maka Allah swt akan mendekat 1 depa. Jika kita mendekat kepada Allah swt dengan berjalan, maka Allah swt akan mendekat kepada kita dengan berlari.

 

Kisah :

 

Seorang pembunuh pingin tobat sudah membunuh 99 orang. Datang ke ahli ibadah, tapi ini ahli ibadah tidak punya ilmu. Si pembunuh datang nyari tobat malah dihina dibilang tidak ada pengampunan, tobat tidak akan diterima terlalu banyak membunuh. Maka si abid tadi disikat, dibunuh jadi yang ke 100. Kalo dulu yang namanya membunuh itu benar benar punya nyali, tapi kalo hari ini membunuh sampai 1000 orang tapi cara penakut karena pakai bom. Nah ini pembunuh betul betul pingin tobat maka dia pergi ke orang Alim. Mak si alim ini bilang sebenarnya pintu tobat ini terbuka untuk kamu, tapi syaratnya kamu ini harus hijrah dulu dari kampung kamu yang banyak maksiat itu. Berapa lama ? kalo kita bilang 40 hari dibilang bid’ah, 4 bulan dibilang bid’ah.

 

Hari ini orang sangat mudah membid’ah bid’ahkan orang lain. Dalil berdiri sesaat didepan rumah saudaranya lebih baik dari berdoa didepan hajar aswad pada malam lailatul qadr ini haditsnya maudhu. Namun Hadits nabi saw :

 

“Sepagi sepetang dijalan Allah ini lebih baik dari pada dunia dan seisinya.”

 

Apa itu isi dunia ? kalau jawabannya harta, tahta, emas, perak, istana, tanah, ini hanya sebelah sayap nyamuk. Maulana Saad sampaikan Nabi saw ini tidak mau membandingkan sesuatu yang paling mulia ini dengan sesuatu yang paling rendah atau hina. Sesuatu yang bagus jangan disamakan dengan membandingkan dengan yang jelek. Contoh : Hebat mana SBY atau Jokowi dengan tukang sapu di pinggir jalan. Kira-kira pertanyaan seperti ini memuliakan atau menghina presiden atau tidak ? Kalau ada SBY atau Jokowi didepan dia yang menyampaikan seperti itu, marah atau tidak ? pasti marah karena ini menghina namanya masa presiden disamakan dengan tukang sapu. Perbandingan yang benar itu adalah membandingkan presiden SBY dengan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak, ini baru benar sekufu atau setara. Hebat mana antara presiden indonesia dengan presiden amerika, ini baru benar cara membandingkannya. Jadi kalau kita membandingkan jangan dengan yang kacau-kacau, masalah nanti.

 

Jadi Tafsir hadits lebih baik dari dunia dan seisinya tadi menurut maulana saad adalah bukan dengan keduniaan kayak tahta, harta, emas, berlian, bukan. Melainkan membandingkannya dengan amalan seluruh orang sholih, dari dzikirnya, puasanya, tahajjudnya, yang ada di dunia ini, amalan sepagi sepatang dijalan Allah ini tetap lebih baik. Inilah maksud ketika membandingkan Sepagi sepetang dijalan Allah ini lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Ini karena Nabi saw tidak mau membandingkan keuntungan agama ini dengan sebelah sayap nyamuk kayak harta, tahta, emas, perhiasan, ini tidak sebanding. Jadi bandingan amalan agama ini adalah dengan amal agama juga baru setara. Jadi sepagi sepetang dijalan Allah ini lebih hebat dari seluruh amal yang ada didunia ini. Bukan hanya lebih baik dari berdoa didepan ka’bah pada malam lailatul qadr, tapi lebih lagi dari semua itu.

 

Balik ke kisah perampok tadi. Maka berangkat saja yang penting hijrah. Ketika hijrah dia meninggal dalam perjalanan. Maka perjalanan si pembunuh ini yang mati dijalan Allah swt ini membuat Allah swt senang. Maka riwayat mengenai ini ada 3 tafsir dalam riwayat riadhus shalihin :

 

  1. Riwayat Pertama si perampok tadi meninggal sejengkal lebih jauh dari tempat yang dituju.
  2. Riwayat Kedua si perampok tadi meninggal tepat dipertengahan jarak jalan antara tempat dia dan tempat yang dituju.
  3. Riwayat ketiga si permapok tadi meninggal jaraknya masih lebih dekat ke tempat dia tinggal.

 

Maka malaikat rahmat dan malaikat azab datang mau ngambil si perampok tadi. Mereka berdebat berebutan mau menarik si perampok tadi, satu mau bawa jadi penghuni surga, yang satu mau bawa jadi penghuni neraka. Ini masalah karena si perampok belum sampai ke tempat tujuan dia. Maka solusi apa yang Allah swt kasih asbab senangnya Allah kepada orang yang pergi dijalan Allah :

 

  1. Riwayat pertama Allah swt kirim malaikat untuk mengukur jarak ternyata lebih jauh maka tobatnya diterima.
  2. Riwayat yang kedua Allah swt kirim angin berhembus sehingga badan si perampok tadi bergeser 1 jengkal lebih jauh dari posisi awal. Jadi tetap Allah swt terima juga tobatnya.
  3. Riwayat ketiga aturan alam Allah swt rubah sehingga jarak tempat yang dituju Allah swt perintahkan untuk mendekat kepada si perampok tadi, dan tempat yang ditinggalkan Allah swt perintahkan untuk menjauh. Artinya Tobanya diterima juga.

 

Jadi bagi orang yang datang saja mendekat kepada Allah swt ini sudah membuat Allah swt gembira. Sehingga aturan alam dirubah oleh Allah swt demi hambanya yang mendekat kepadanya.

 

Bahkan lebih hebat lagi masyeikh kita memberi contoh :

 

Suatu ketika kita ribut sama orang, utang tidak dibayar, anak kita dipukulin, tanah kita direbut, misalnya. Bagaimana marahnya kita, padahal bayar utang dia mampu, anak kita dipukulin padahal tidak salah, tanah direbut padahal dia kaya tanah banyak rumah istana. Namun suatu hari dia datang kepada kita minta maaf ? mau tidak maafin ? bisa kita maafkan bisa tidak kita maafkan. Mungkin berat memaafkan bahkan mungkin tidak mau. Kenapa ? ini orang tidak mau bayar hutang, mukulin anak kita, dan merebut tanah kita, pasti kesal dan bencinya luar biasa. Tapi beda misalnya anak kita yang kecil tercebur di sungai hampir matitiba tiba si orang ini dengan pakaian dinasnya langsung nyebur menyelamatkan anak kita. Bagaimana rasanya perasaan kita ketika anak kita diselamatkan oleh dia orang yang pernah mendzolimi kita ? Sangking gembiranya melihat anak kita ini selamat, dan pengorbanan dia menyelamatkan anak kita, langsung hilang kesal kita sama dia. Kalo ketika itu habis menyelamatkan anak kita dia minta maaf maka sangking gembiranya mungkin langsung kita maafkan. Hutang yang dahulu sudah saya anggap lunas, anak saya yang kamu pukulin sudah saya maafkan, tanah saya yang kamu rebut sudah saya ikhlaskan. Bahkan lebih hebat lagi sangking gembiranya kita, bisa bisa kita kasih hadiah ke dia padahal dulu dia mendzolimin kita asbab apa ? kita gembira dia menolong anak kita. Bahkan tanpa dia minta maafpun langsung kita maafkan.

 

Begitu pula Allah bahkan lebih baik lagi dari itu. Kita sebagai hamba Allah banyak berbuat dosa, kita datang kepada Allah swt menangis nangis minta ampun, ini bisa Allah swt ampunkan bisa tidak, terserah Allah swt. Tetapi ketika kita datang kepada Allah swt membawa seorang hambanya selamat dari neraka mencari pintu tobat kita ajak ke mesjid. Belum kita mengucapkan istighfar ataupun permohonan ampun sudah Allah swt ampunkan semua dosa kita bahkan Allah swt bisa kasih lebih lagi dari itu. Sebagaimana anak kita yang diselamatkan tadi.

 

Di dalam Al Quran umat terdahulu diminta untuk memperbanyak istighfar, mohon ampun kepada Allah, baru Allah swt ampunkan, itupun hanya sebagian. Jadi rumus untuk umat terdahulu untuk mendapatkan ampunan : ibadah yang banyak dan perbanyak istighfar. Udah ibadah kuat dan Istighfar yang banyak hanya diampunkan sebagian saja oleh Allah swt. Namun beda dengan umat nabi saw :

 

Yaghfirlakum dzunubakum : Allah swt ampunkan seluruh dosa-dosanya habis sudah.

 

Caranya gimana ?

 

Ya ayyuhalladzi na amanu hal adulukum ala tijarotin tunjikum min adzabin alim. Tu’minuna billahi wa rasullih wa tujahiduna fisabillillahi bi amwalikum wa anfusikum

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan-Nya dengan harta dan jiwamu, itulah yang lebih baik bagimu jika kamu mengetahuinya. Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu seluruhnya dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar.” (QS. ash-Shaff: 10-12).

Ketika umat ini bergerak bermujahaddah di jalan Allah swt mengerakkan harta dan dirinya, mendekat orang kepada Allah swt maka belum lagi sempat ucapkan istighfar sudah Allah swt ampunkan seluruh dosa-dosanya. Bahkan lebih dari itu Allah swt kasih :

Barang siapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barang siapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An Nisa 100)

سَبِيلِ اللّهِ جِرْ فِي وَمَن يُهَا

waman yuhajjir fisabillillah : barangsiapa yang hijrah dijalan Allah

Hijrah untuk mengajak orang dijalan Allah.

كَثِيرًا وَسَعَةً يَجِدْ فِي الأَرْضِ مُرَاغَمًا

Kalo umat dahulu dapat rizki yang banyak itu dengan perbanyak ibadah dan istigfar. Beda dengan umat ini, rizki yang luas dan banyak itu didapat dengan apa ? dengan berhijrah di jalan Allah.

Muroghoman katsiron : Tempat hijrah yang luas

Maksudnya apa ? Allah swt beri tempat tinggal yang luas : temannya banyak, kampungnya banyak, saudaranya ada dimana-mana.

Wassa’atan : rizkinya luas

maka Allah swt berikan asbab hijrah ini rizki yang luas dan banyak . bahkan lebih dari itu otak dan akalnya diluaskan juga oleh Allah swt, semakin banyak dia hijrah semakin banyak pengetahuan dan ilmu yang dia dapat. Tambah lagi dadanya diluaskan oleh Allah swt.

Seorang ulama ahbab KH. Abdullah di amuntai, kalimantan, tempat kampungnya tokoh NU, KH. Idham Khalid. Dia bercerita dulu Buya Hamka pernah datang kemari ke kampung sini. Buya Hamka datang ke kampung NU tempat KH. Idham Chalid. Mereka musyawarah untuk iqrom karena kedatangan ulama muhammadiyah, Buya Hamka. Hasil musyawarah mereka sepakat subuh tidak pakai Qunut karena mau Iqrom ke beliau jadi imam subuh. Ternyata ketika jadi Imam subuh malah beliau pakai Qunut subuh sholatnya. Selesai salam jemaah subuh para ulama NU bertanya kok buya pakai Qunut bukannya termasuk yang menolak Qunut waktu subuh. Jawaban Buya Hamka :

“Dulu saya cuman baca satu buku makanya saya berpendapat demikian, sekarang saya sudah baca banyak buku, makanya saya pakai qunut waktu subuh.”

Hari ini kalau kita cuman baca satu buku suka nyalahin orang, tapi kalau sudah baca banyak buku mulai banyak pemahamannya, jadi tidak suka nyalahin orang lagi. Kalau kita belajar dari 1 guru saja maka dia akan suka nyalahin orang. Namun kalau dia belajar dari banyak guru maka akan terbuka pikirannya tidak mau nyalahin orang lagi, baru ketemu jawaban-jawabannya. Setiap hijrah kita niatkan belajar maka guru kita dimana-mana. Setiap pindah punya guru, pergi ketempat lain belajar lagi sama guru yang lain, terus begitu jadi dimana-mana punya guru. Asbab ini semakin up grade atau meningkat pemahaman kita.

 

وَرَسُولِهِ ثُمَّ يُدْرِكْهُ الْمَوْتُوَمَن يَخْرُجْ مِن بَيْتِهِ مُهَاجِرًا إِلَى اللّهِ

وَكَانَ اللّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا فَقَدْ وَقَعَ أَجْرُهُ عَلى اللّهِ

 

Jika dia mati Allah swt hapuskan semua dosa dia asbab mengajak orang mendekatkan diri kepada Allah swt. Bahkan dalam suatu hadits qudsi Allah swt firman kan :

“Barangsiapa yang bisa mengembalik hambaku yang sudah lari dariKu maka akan aku tulis dia sebagai Orang Besar”

Kalau kita bisa mengajak orang yang sudah lari dari Allah, bukan hanya lari tapi tidak mau dekat kepada Allah, maka dia ini yang mengajak akan tercatat sebagai orang besar disisi Allah swt. Jadi kalau kita mau tercatat sebagai orang besar disisi Allah jadilah seorang Dai. Kalau cuman ikut pilkada pingin jadi gubernur atau bupati, kecil itu. Makanya saya suka heran ada dai 4 bulan pakai sorban jubah putih udah seperti ulama tapi malah mencalonkan diri jadi gubernur atau bupati, ini sama saja mengecilkan diri. Jadi semua jabatan dunia ini kecil, presiden sekalipun, yang besar apa ? jabatan sebagai dai Allah. Jahbazan Azima, Dai ini orang besar.

Waman katabtu indi Jahbazan lamyua milu abada

“Barangsiapa yang sudah aku pilih sebagai orang besar tidak akan aku adzab selama-lamanya”

Jadi kalau kita ini sungguh sungguh menjadi dan dan Allah swt pilih dia menjadi dai maka tidak akan adzab selama-lamanya. Maka kita niatkan untuk mendatangi hamba-hamba Allah swt yang sudah lari itu. Bukan hanya sekali tapi kita datangi lagi dan lagi berulang ulang kita rayu mereka agar mau kembali kepada Allah swt.

Kita kembalikan orang yang sudah lari itu seperti mengembalikan Onta. Onta ini kalau sudah lari maka dia kabur tidak balik lagi. Semakin dikejar semakin lari, apalagi kalau dikejar sama orang sekampung. Andaikan kita ini bisa mengembalikan hamba Allah swt ini yang sudah lari seperti onta ini luar biasa. Kita kembalikan mereka dengan hati hati sebagaimana kita mengembalikan onta yang sudah kabur dengan hati-hati.

Nani saw katakan : “perepumaan aku dan umatku ini seperti yang punya onta lalu dia mengejar ontanya.”

Orang yang mempunyai onta biasanya punya cara untuk memanggil onta tersebut kalau lagi lepas untanya. Namun kalo dilihat orang lain gak paham, onta lepas dia ikut ngejar juga. Gara-gara yang ngejar satu kampung si onta malah semakin lari. Jadi untuk mengembalikan onta tersebut harus berhati-hati.

Kita niatkan untuk pergi dijalan Allah swt mengajak manusia kembali kepada Allah swt. Berangkat jalan kaki ini Allah swt paling suka, paling banyak fadhilahnya. Bahkan Maulana Saad sampaikan walaupun kamu di indonesia banyak ahbab-ahbab sudah punya mobil tetap bentuk jemaah jalan kaki dari mereka yang punya mobil. Bahkan di Quran itu sendiri pergi haji yang paling hebat itu adalah pergi haji yang jalan kaki.

Ketika Allah swt memerintahkan Ibrahim AS untuk memanggil manusia untuk berhaji, jawaban amr nya apa ?

Ya’tuka Rijalan : mereka akan datang dengan berjalan

Inilah haji yang utama yaitu dengan berjalan. Dalam fadhilah haji maulana zakaria sampaikan bahwa malaikat itu akan menjabat tangan orang-orang yang menaiki kendaraan pada waktu haji. Dan memeluk orang yang berjalan kaki untuk haji. Jadi lebih mulia lagi yang berhaji dengan jalan kaki, dipeluk sama malaikat, yang berkendaraan dijabat tangannya oleh malaikat. Apalagi kalau jalan kakinya untuk dakwah maka lebih lagi dipeluknya.

Jumatan pun juga lebih bagus jalan kaki. Dalam suatu hadits barangsiapa yang berjalan kaki ke mesjid untuk sholat jumat maka setiap langkahnya akan dicatat sebagai ibadah satu tahun.

“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at, berangkat lebih awal (ke masjid), berjalan kaki dan tidak berkendaraan, mendekat kepada imam dan mendengarkan khutbahnya, dan tidak berbuat lagha (sia-sia), maka dari setiap langkah yang ditempuhnya dia akan mendapatkan pahala puasa dan qiyamulail setahun.” (HR. Abu Dawud no. 1077, al-Nasai no. 1364 Ahmad no. 15585. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih al-Jami’, no. 6405)

 

Begitu juga kalau kita keluar dijalan Allah swt dengan menyeberangi lautan. Ini Nabi Allah swt lebih senang lagi dengan jemaah yang menyebrangi lautan. Misalnya kalau kita keluar jalan darat maka ini kita akan mendapatkan pahala 700.000 kali lipat. Kalau menyebrangi lautan dikalikan 10 kali lipat jadi 700.000 x 10 berapa ? 7 juta pahala.

Hadits mahfum :

“Perjuangan menyebrangi lautan lebih hebat 10 kali lipat dibanding perjuangan melewati daratan.”

Rugi kita kalau hanya pilih rute yang daratan saja, pergi sebrangi lautan.

Mahfum hadist :

Mabuknya orang yang dilaut ini karena sakit maka ini setara dengan tetesan darah syahid didaratan.

Kita niatkan pergi ke seluruh penjuru dunia keluar di jalan Allah swt.

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: