Buyaathaillah's Blog

Bayan 6 Sifat

Enam Sifat Sahabat Memudahkan Ummat mengamalkan Agama secara Sempurna :

 

Ketika seseorang pergi di jalan Allah untuk berdakwah dan pulang ke rumahnya untuk mengamalkan Amal Maqomi maka targetnya adalah dirinya sendiri. Yaitu bagaimana dalam dirinya ini dapat wujud sifat sahabat atau kualitas sahabat. Inilah target dari perbaikan diri yang harus dilakukan secara terus menerus sampai kita mampu mewujudkan agama secara sempurna sebelum kita mati. Setiap perbaikan harus ada usahanya seperti jika kita mau memperbaiki kualitas makanan maka kita harus ada usaha atas peningkatan kualitas makanan. Begitu juga dengan perbaikan atas jabatan, harta, status sosial, dan lain-lain, semuanya memerlukan usaha, tidak bisa datang sendiri. Sedangkan sebaik-baiknya usaha perbaikan adalah usaha atas perbaikan diri. Bagaimana diri kita ini mempunyai sifat sebagaimana sifat para Sahabat RA. Seperti garam ini sifatnya asin walaupun diletakkan di air, di tanah, dan dalam keadaan apa pun akan tetap asin. Walaupun ada benda lain bentuknya seperti garam tetapi tidak asin ini bukan garam namanya. Kalaupun itu garam berarti garam yang kualitasnya jelek karena tidak asin. Begitu juga dengan sifat gula, api, air, listrik, cuka, dan lain-lain, semuanya memiliki sifat. Jadi yang perlu kita usahakan adalah bagaimana sifat sahabat ini menjadi sifat kita sebagaimana sifat asin pada garam dan sifat manis pada gula. Untuk ini perlu usaha, tidak hanya dengan 3 hari, 40 hari, 4 bulan, itu hanya latihan. Tetapi dengan usaha yang terus menerus secara istiqomah sampai kita mati. Jika hanya mengandalkan Keluar di Jalan Allah atau latihan saja, maka ketika pulang kecenderungan sifat ini akan memudar atau menghilang.

 

Usaha yang paling tinggi adalah usaha untuk memperbaiki diri manusia itu sendiri. Bukan perbaikan zhairiah seperti status sosial, tingkat ekonomi, jabatan, teknologi, tetapi perbaikan hati. Dalam mahfum hadits dikatakan, “sesungguhnya Allah tidak melihat bentuk kamu tetapi yang Allah lihat adalah hati dan amal kamu.” Hati ini adalah sumber sifat-sifat mulia. Sedangkan para nabi diutus untuk memperbaiki hati-hati manusia. Asbab inilah Nabi SAW diutus, yaitu untuk memperbaiki dan menyempurnakan sifat atau akhlaq manusia. Jadi yang perlu kita perbaiki ini adalah hati manusia. Dalam mahfum hadits dikatakan, “Di dalam tubuh ini ada segumpal daging (Hati), jika baik hati ini maka akan baik seluruh tubuh dan perbuatannya. Jika buruk hati ini maka akan buruk seluruh tubuh ini dan perbuatannya.” Jadi perlu kita usahakan bagaimana hati ini menjadi hati yang baik, yaitu hati yang ada 6 sifat Sahabat RA.

 

  1. Sifat Yakin Sahabat pada Allah dan RasulNya :

 

Sahabat ini yakinnya adalah bahwa manfaat dan mudharat itu datangnya hanya dari Allah ta’ala. Makhluk tidak dapat memberikan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah Ta’ala. Seperti ketika perang, sahabat mampu membawa rasa takut kepada Allah dan bukan takut kepada musuh. Mereka yakin bahwa mati dan hidup ini adalah keputusan Allah dan bukan datang dari makhluk. Sahabat kalau melihat Bom dan Kue ini sama saja tidak ada bedanya, tidak ada rasa takut, karena manfaat dan mudharat suatu benda ini datang dari Allah. Bom bisa mematikan dan bisa tidak mematikan. Bom untuk bisa mematikan berhajat pada Allah, karena sifat mematikan yang ada pada Bom ini Allah yang beri. Allah tidak berhajat pada Bom untuk mematikan orang. Allah mampu membuat bom mematikan bagi manusia dan Allah mampu mematikan manusia tanpa bom. Bahkan tidak perlu senjata yang mematikan untuk membunuh manusia, cukup dengan benda yang lemah seperti kue, manusia bisa Allah matikan. Manusia mati karena kue bisa karena cholesterol, bisa karena kesedak, bisa karena beracun, dan lain-lain penyebabnya. Jadi antara Bom dan Kue ini bagi sahabat ini sama saja, tidak bisa mendatangkan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah. Sahabat Khalid bin Walid RA ditantang meminum racun yang ditawarkan orang yahudi karena keyakinannya terhadap takdir Allah. Jika benar bahwa manfaat dan mudharat itu di tangan Allah, maka logikanya Sahabat Khalid tidak perlu takut terhadap racun tersebut. Lalu Sahabat Khalid RA meminum racun itu seperti meminum air putih saja tidak mendatangkan mudharat apa-apa, bahkan asbab racun itu penyakitnya jadi sembuh. Inilah keyakinan para Sahabat RA. Maka kita perlu belajar melatih diri kita untuk mendapatkan keyakinan seperti mereka. Tahap awal untuk mendapat ini, maka kita perlu :

 

  1. Mengubah pembicaraan kita dari membicarakan tentang makhluk, nilai benda, dunia menjadi pembicaraan tentang kebesaran Allah, nilai amal, dan kampung Akherat.

 

  1. Lalu kita belajar menafikan yang nampak dan membenarkan yang ghaib dengan cara berkorban mendahulukan perintah Allah diatas yang lain. Ini adalah cara untuk mendzohirkan, menampakkan, Qudratullah (kekuasaan Allah) dan Nusrotullah (pertolongan Allah).

 

  1. Lalu kita banyak berdo’a agar Allah berikan kita keyakinan yang sempurna sebagaimana keyakinan Nabi SAW dan para sahabat RA.

 

Yakin sahabat kepada seluruh perbuatan Nabi SAW dapat dilihat dari persamaan kehidupan dan perbuatan Nabi SAW dengan kehidupan sahabat sehari-hari. Rasullullah SAW itu adalah Al Qur’an berjalan, begitu juga para Sahabat RA. Ini dikarenakan kehidupan mereka yang serupa. Tidak ada dari perbuatan dan kehidupan Nabi SAW yang tidak di ikuti oleh sahabat RA. Apa yang Nabi SAW cintai itu yang mereka cintai walaupun tadinya mereka membencinya. Dan apa yang dibenci oleh Nabi SAW itupun yang mereka benci walaupun awalnya mereka menyukainya. Sahabat Anas RA ketika mendengar kabar bahwa Nabi SAW telah dibunuh di perang Uhud, langsung merasa hidupnya sudah tidak ada gunanya lagi sehingga dia bertempur mati-matian sampai mendapatkan syahid. Seorang Sahabiah tidak sedih mendengar kabar bahwa suami, ayah, dan anaknya telah syahid, tetapi sahabiah ini sangat khawatir ketika mendengar keadaan yang mengancam jiwa Nabi SAW di medan Uhud. Inilah kecintaan sahabat kepada Nabi SAW yang melebihi kecintaan mereka kepada keluarga mereka sendiri bahkan melebihi diri mereka sendiri. Sahabat ketika itu fikirnya adalah bagaimana melindungi Nabi SAW dalam keadaan apapun dari musuh manapun di dalam peperangan separah apapun. Mereka semua merelakan nyawanya asal Nabi SAW selamat. Tetapi hari ini Nabi SAW sudah tidak ada lagi, lalu apa yang kita lindungi dan kita pertahankan saat ini? Dahulu yang dipertahankan mereka adalah Nabi SAW karena Nabi SAW ini adalah sumber agama dan tempat turunnya wahyu. Walaupun Nabi SAW sudah tidak ada lagi, namun Sunnah-sunnahnya masih ada sampai saat ini sebagai peninggalan dan warisan Beliau SAW. Jadi yang perlu kita lindungi dan kita pertahankan saat ini adalah sunnah Nabi SAW itu sendiri. Ini yang harus kita lindungi dan kita jaga mati-matian sebagaimana sahabat menjaga dan melindungi Nabi SAW mati-matian. Mahfum hadits dikatakan ,”Barangsiapa mengamalkan sunnahku di jaman Fahsya dan Mungkar maka Allah akan memberinya pahala 100 orang mati syahid.” Untuk dapat melakukan ini perlu kita jadikan fikir Sahabat RA menjadi fikir kita. Hanya dengan fikir dan kecintaan seperti sahabat RA kepada Nabi SAW, kita dapat menjaga dan memelihara sunnah Nabi SAW. Untuk bisa mendapatkan fikir Nabi SAW dan kecintaan kepada sunnah-sunnah Nabi maka kita perlu latihan :

 

  1. Fikir dan Risau atas Agama ketika pergi 3 hari, 40 hari, dan 4 bulan di jalan Allah
  2. Hidupkan seluruh sunnah Nabi SAW secara sempurna dalam segala keadaan
  3. Do’a kepada Allah agar diberikan kecintaan terhadap Sunnah Nabi SAW

 

 

II. Sifat Shalat Sahabat yang Khusyu dan Khudhu

 

Sahabat ini shalat mereka dapat mendatangkan pertolongan Allah saat itu juga. Bahkan jika sahabat ini sudah melaksanakan shalat, ini seperti tongkat yang tertancap ke tanah. Sangking khusyunya shalat sahabat ini mereka tidak menyadari keadaan disekitarnya bahkan sakit yang dideritanya. Ali RA pernah meminta sahabatnya untuk mencabut panah dari kakinya ketika dalam keadaan shalat, lalu setelah salam Ali RA tidak menyadari bahwa panah tersebut sudah tercabut. Ada seorang sahabat shalat namun tidak mengetahui bahwa anaknya sedang terancam oleh ular tetapi tidak membatalkan shalatnya. Sahabat ketika shalat, seakan-akan diri mereka langsung terputus dengan dunia di sekelilingnya dan hanya terhubung dengan Allah ta’ala saja. Sahabat dengan shalat dapat menyelesaikan masalah dan merubah keadaan alam seperti menurunkan hujan, membelah gunung, berjalan diatas air, menghidupkan yang mati, dan lain-lain. Seorang sahabat ketika ronda malam di panah oleh musuh sampai tiga kali hingga menembus punggungnya, namun sahabat tersebut tidak membatalkan shalatnya. Namun ketika panah yang ke-3 menembusnya, yang dilakukan sahabat ketika itu adalah mempercepat shalatnya bukan membatalkannya. Sahabat tersebut yang sudah terluka parah berkata kepada temannya, “Sebenarnya ketika aku shalat aku ingin menamatkan surat Al Kahfi, namun tiba-tiba aku teringat Nabi SAW. Sehingga aku terpaksa mempercepat shalatku hingga selesai, karena aku khawatir atas keselamatan Nabi SAW.” Inilah Kualitas Shalat Sahabat dalam keadaan dipanahpun masih bisa shalat dengan khusyu. Untuk itu penting kita perbaiki shalat kita sampai kepada kualitas para sahabat. Maka kita perlu belajar :

 

  1. Tertib / Dzohir Shalat :

 

  1. Adab dan Fiqih dari Istinja, Wudhu, dan Shalat
  2. Mengetahui tertib cara, waktu, dan tempat untuk shalat wajib dan sunnat

 

  1. Melatih Kekhusyu’an dengan menghadirkan keagungan Allah dalam shalat:

 

  1. Sebelum Shalat perbanyak dzikir, baca Qur’an, shalat sunnah, dan do’a
  2. Ketika Shalat Gerakan Mulut dan Hati sama
  3. Ketika Shalat bawa sifat Ihsan, tawajjuh, dan muroqo
  4. Jaga pandangan sebelum shalat dari hal-hal yang mempengaruhi hati
  5. Jaga hati dari kegelisahan dan prasangka agar tidak teringat-ingat
  6. Jaga diri dari makanan dan penghasilan yang diharamkan

 

  1. Melatih Shalat :

 

à Selesaikan masalah dengan Shalat sampai Shalat kita menyelesaikan masalah

 

 

III. Sifat Ilmu dan Dzikir Sahabat

 

Sahabat ini mempunyai kelebihan berupa kehausan akan ilmu dan amal. Sahabat karena hausnya akan ilmu, jika bertanya kepada Nabi SAW pasti mengenai amal apa yang paling Allah sukai atau amal mana yang paling terbaik, atau amal mana yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah. Bukan seperti kita hari ini nanya amal yang tidak merugikan keduniaan kita dan cocok dengan nafsu. Minta amal tetapi yang terendah derajatnya dan selalu mencari kemudahan dalam beramal. Akhirnya kita kini beramal yang ringan-ringan saja tidak ada keinginan untuk memberikan yang terbaik seperti sahabat RA. Sahabat selalu menanti turunnya wahyu atau ilmu untuk diamalkan, bahkan mereka merindukannya jika lama tidak turun wahyu. Ketika Nabi SAW meninggal ada seorang sahabiah yang menangisi wafatnya Nabi SAW, sementara sahabat-sahabat yang lain sudah selesai dari berduka cita. Ketika sahabiah R.ha itu ditanya kenapa dia larut dalam kesedihan yang demikian lamanya, dia menjawab, “Kalian hanya menangisi wafatnya Nabi SAW oleh karena itu kalian berhenti berduka cita, sedangkan aku menangisi wafatnya Nabi SAW dan terhentinya wahyu dari Allah untuk kita.” Sahabiah ini sangat mencintai Ilmu dan haus akan berita dari Allah. Inilah yang menyebabkan dia sedih berkepanjangan atas wafatnya Nabi SAW. Ada seorang sahabat RA pergi demi mengetahui satu hadits saja, dia harus menempuh perjalanan melewati padang pasir di luar kota berhari-hari. Sampai di sana dia menunggu orang yang meriwayatkan hadits bangun dari tidurnya, semalaman terjaga tidak mengganggu calon gurunya, demi satu hadits saja. Hari ini kita di dalam taklim saja tertidur, beda dengan sahabat yang mujahadah demi ilmu walaupun itu hanya satu hadits saja. Mengapa berbeda pengamalan antara kita dan sahabat? jawabnya dari Ketaqwaannya. Orang yang mempunyai ketaqwaan tinggi pada Allah pasti akan memberikan amal yang terbaik untuk Allah dalam keadaan apapaun. Hari ini masalahnya adalah Taqwa kita kepada Allah tidak sama dengan tingkat ketaqwaan para sahabat RA sehingga kita jauh dari kehidupan mereka yang sempurna secara Ilmu dan Amal Agama.

 

Hari ini orang banyak yang tau nilai benda-benda, tetapi mereka tidak mengetahui nilai amal. Nilai benda ini bukan ilmu tetapi pengetahuan saja, karena sifatnya berlaku ketika di dunia saja. Dan yang namanya pengetahuan ini didapatnya dari pengalaman dan dari logika. Sedangkan ilmu ini datangnya dari Allah dan manfaatnya sampai mati. Ilmu ini berupa pengertian yaitu ketika diamalkan orang akan faham dan masuk kedalam hati menjadi keyakinan. Dalam suatu riwayat ada sebuah kisah tentang seorang tua yang akan dibawa oleh para malaikat ke neraka tetapi dia tidak mau. Si orang tua ini menolak untuk disiksa karena dia mendengar ada dalam suatu hadits bahwa Allah Ta’ala malu menyiksa orang yang sudah tua. Asbab mengetahui hadits ini si orang tua tersebut tidak jadi diadzab oleh Allah ta’ala.

 

Ilmu ini dibagi 2 :

 

  1. Ilmu tentang Allah ( Makrifatullah ) à         Tauhid, Sifat, dan Nama Allah

 

  1. Ilmu tentang Perintah-perintah Allah :
    1. Ilmu Masa’il (Hukum)             à         Tertib atau Fiqih
    2. Ilmu Fadhail (Nilai) à         Janji Allah dan Derajat Amal

 

Untuk bisa mendapatkan Ilmu ini maka kita harus :

 

  1. Banyak-banyak bertemu dengan Ulama
  2. Bergaul dengan orang sholeh
  3. Mengamalkan setiap ilmu yang diketahui
  4. Membaca kitab-kitab agama
  5. Do’a kepada Allah untuk diberi kefahaman

 

Sedangkan bagaimana kemampuan sahabat ini dalam mengingat Allah setiap waktu, tempat, dan keadaan, ini yang perlu kita tiru. Seorang sahabat ketika perang berkata kepada komandannya untuk minta dikirim seorang diri menghadapi pasukan musuh. Komandannya bertanya, “Mengapa demikian ?” Sahabat itu menjawab, “Saya mendengar Rasullullah SAW bersabda bahwa barang siapa yang berdzikir dia hidup disisi Allah dan barang siapa yang tidak berdzikir dia mati di sisi Allah. Mengapa saya harus takut pada orang yang mati.” Ada seorang sahabat walaupun pedang sudah di depan mata akan menebas kepalanya tetapi tetap masih bisa memikirkan kehendak Allah atas dirinya pada saat itu. Inilah kemampuan sahabat dalam mengingat Allah. Hati ini mempunyai watak pelupa, sementara hati yang tenang adalah hati yang senantiasa berdzikir kepada Allah. Orang yang lalai dari mengingat Allah maka Allah akan membuat dia lalai dari dirinya sendiri seperti dibuat lalai memikirkan kubur dan kampung akheratnya yang abadi. Ciri-ciri orang beriman ini adalah yang ketika disebut nama Allah atau dibacakan ayat-ayat Allah maka akan bergetar hatinya. Untuk ini kita perlu buat usaha atas dzikir ibadah yaitu dengan :

 

  1. Mengamalkan Adab dan Do’a Masnun
  2. Membaca Qur’an minimal 10 ayat tiap malam dan 1 juz tiap hari
  3. Istiqomahkan Dzikir pagi-petang
  1. Shalat wajib tepat waktu berjamaah
  2. Jaga shalat-shalat sunnat pada waktu-waktunya

 

 

IV. Sifat Ikramul Muslimin Sahabat

 

Dunia ini tidak ada kemuliaannya disisi Allah, sedangkan sahabat Allah muliakan karena kesiapan mereka mengorbankan keduniaan yang mereka mililki demi perintah Allah. Jika seluruh benda mati dibanding dengan hidupnya satu binatang maka hidupnya satu binatang ini lebih bernilai disisi Allah dibanding seluruh benda mati. Jika seluruh binatang ini dibandingkan dengan satu orang kafir maka satu orang kafir ini lebih bernilai disisi Allah dibanding seluruh binatang yang ada. Sedangkan jika seluruh orang kafir dibandingkan dengan satu orang beriman maka seluruh orang kafir ini tidak ada nilainya disisi Allah jika dibandingkan dengan satu orang beriman disisi Allah. Dalam suatu riwayat Allah pernah perintahkan Jibril AS untuk menahan geraknya matahari dan rukunya Nabi SAW agar Ali RA tidak tertinggal shalat berjamaah disebabkan Ikramnya Ali RA berjalan dibelakang untuk tidak mendahului seorang nenek-nenek yahudi yang bukan Islam. Bagaimana Akhlaq sahabat ketika mereka menawan musuh mereka setelah selesai perang. Tangan yang sama membunuh mereka di pertempuran, kini tangan yang sama menyuapkan mereka makanan di tahanan. Tidak ada sejarahnya para sahabat RA diminta nabi untuk menghancurkan rumah-rumah peribadatan, merusak rumah penduduk, atau menyakiti orang tua, anak-anak dan wanita. Semua sahabat mampu menjaga akhlaq mereka walaupun dalam keadaan ketika mereka mampu membalas kepada orang-orang yang telah menzhalimi mereka. Ini baru kepada orang-orang yang tidak beriman, bagaimana akhlaq atau Ikram kita kepada orang yang beriman harus lebih tinggi lagi.

 

Suatu ketika Umar RA sedang melakukan inspeksi berkeliling kampung bersama Ibnu Masud RA. Lalu di perjalanan Umar mencium bau khamr, maka pergilah Umar RA mencari asal bau tersebut. Setelah menemukannya Umar RA langsung masuk dari pintu belakang memergoki orang tua yang punya rumah. Melihat Amirul Mukminin, Umar RA, si orang tua itu terkejut karena ternyata si orang tua ini sedang mendengarkan musik dari seorang wanita dan terdapat khamr di antaranya. Melihat hal itu Umar RA marah kepadanya dan berkata, “Kamu sudah tua seperti ini masih juga bermaksiat, apakah kamu tidak takut pada Allah ?” Lalu apa jawab orang tua itu, “Wahai Amirul Mukminin, walaupun saya melakukan kesalahan tetapi itu hanya 1 kesalahan, yaitu bermaksiat. Sedangkan anda sebagai Amirul Mukminin telah melakukan 3 kesalahan.” Lalu Umar RA bertanya dengan nada marah, “Apa itu kesalahan saya ?” Si orang tua tadi menjawab, “Kesalahan anda wahai Amirul Mukminin adalah : Anda masuk ke halaman rumah saya tanpa izin, Anda masuk tidak mengucapkan Salam, dan Anda mencari-cari aib orang lain.” Mendengar hal itu akhirnya Umar RA terkejut, karena menyadari kebenaran dari yang diucapkan oleh orang tua tersebut. Lalu Umar RA setelah mendengar teguran itu dia langsung pergi dari rumah orang tua itu. Ini adalah kerelaan Umar RA sebagai kepala negara yang siap disalahkan bila ada kebenarannya, dan tidak sungkan-sungkan untuk dimarahi. Padahal dia adalah seorang Amirul Mukminin, kalau dia mau dia bisa memerintahkan orang untuk menghukum kakek tua itu dan bisa menggunakan kekuasaannya untuk menghukum. Tetapi Umar RA lebih memilih mengakui kesalahannya dan pergi tanpa diketahui orang lain. Setelah beberapa lama berlalu si orang tua tadi menghadiri majelis Khalifah Umar RA. Setelah selesai, Khalifah memanggil orang tua tadi untuk mendatangi Khalifah Umar RA. Beliau berbisik , “Pada malam itu tidak ada seorang pun yang tahu tentang perbuatanmu, dan selama itu aku tidak pernah bercerita kepada siapa pun. Ibnu Mas’ud yang menyertaiku pun tidak aku beri tahu.” Orang tua itu berbisik kepada beliau, “Wahai Amirul Mukminin semenjak pertemuan kita pada saat itu, saya bertobat dan tidak pernah melakukannya lagi.” Kediuanya bertakbir, dan tidak seorang pun yang hadir paham apa yang terjadi di antara keduanya. Inilah akhlaq Khalifah Umar RA yang keras dengan agama tetapi tidak pernah membuka aib saudaranya kepada yang lain. Asbab Khalifah Umar RA menutupi aib saudaranya, maka orang tua tadi bertobat dan tidak pernah melakukannya lagi. Jadi penting kita ikuti jejak sahabat yaitu dengan membuat usaha atas Ikramul Muslimin. Caranya :

 

  1. Kita Tunaikan Hak saudara kita :

 

  1. Jika sakit, kita jenguk
  2. Jika meninggal, kita iringkan
  3. Jika perlu bantuan, kita tolong
  4. Jika diundang, kita datang
  5. Jika ada aib, kita sembunyikan
  6. Jika minta nasehat, kita berikan

 

  1. Kita Muliakan dengan cara :

 

  1. Menyayangi yang muda
  2. Menghargai sesama
  3. Menghormati yang tua

 

  1. Bertemu, bergaul, dan bersabar dengan orang-orang dari berbagai macam watak.

 

  1. Menyebarkan Salam kepada semua orang baik yang dikenal maupun yang tidak dikenal.

 

 

  1. Sifat Ikhlas Sahabat ( Tashihun Niat / Meluruskan Niat )

 

Sahabat dididik oleh Nabi SAW agar bisa mencapai tingkat keikhlasan yang tertinggi. Sehingga apa yang mereka lakukan semata-mata mengharapkan RidhoNya Allah Ta’ala. Tolok ukur keikhlasan ini dapat dilihat dari Kesabaran seseorang. Jika kesabaran ini masih ada batasnya berarti belum Ikhlas. Syaikh Hasan Basri Rah.A. berkata, “Tidak ada kemuliaan yang Allah berikan kepada seseorang melebihi sifat sabar”. Bagaimana para sahabat ini diminta untuk bersabar ketika :

 

  1. Ketika mereka dan keluarga mereka dibunuh dan disiksa di depan mata mereka
  2. Ketika mereka harus berhijrah meninggalkan harta dan orang-orang yang mereka cintai
  3. Ketika mereka diuji dengan kemiskinan
  4. Ketika mereka diuji dengan kekalahan di Hunain dan di Uhud
  5. Ketika mereka diuji harga dirinya waktu perjanjian Hudaibiyah
  6. Ketika mereka mampu untuk membalas seperti di Fathu Makkah
  7. Ketika masa senang yaitu saat penaklukan telah dimulai dan harta berdatangan
  8. Ketika Nabi SAW orang yang paling mereka cintai wafat

 

Saat itu para sahabat diuji keikhlasan dan kesabarannya sampai mereka berkeyakinan bahwa tidak ada lagi yang bisa diandalkan selain Allah Ta’ala. Nabi SAW mendidik sahabat agar mereka menjadi manusia yang super Ikhlas hingga hilang dari mereka sifat memiliki. Demi agama saya ikhlaskan harta, keluarga, dan diri saya. Inilah keikhlasan sahabat. Pernah suatu ketika Abu Bakar RA sudah tidak memiliki apa-apa lagi, bahkan pakaian pun terbuat dari karung dengan kancing yang terbuat dari duri. Asbab ini Malaikat Jibril datang menghadap Nabi SAW untuk menyampaikan salam Allah Ta’ala kepada Abu Bakar RA. Lalu Nabi SAW bertanya kepada Jibril mengapa Jibril AS datang dengan berpakaian dari karung seperti pakaian yang dikenakan Abu Bakar RA. Jibril AS menjawab bahwa pada saat ini Allah telah perintahkan kepada seluruh penduduk langit untuk berpakaian seperti Abu Bakar RA.

 

Sahabat sudah mampu menghilangkan rasa memiliki bahkan terhadap nyawanya sendiri sekalipun, bahwa semuanya ini milik Allah, tidak bisa dimiliki atau disimpan untuk diri mereka. Tidak pernah ingin ataupun berharap untuk dibalas bahkan ucapan terima kasih sekalipun. Sehingga mereka sahabat RA siap memberikan segalanya demi agama. Untuk bisa mendapatkan keikhlasan ini penting kita check amal kita sebelum, ketika, dan sesudah beramal. Jika ada ketidakikhlasan ketika beramal maka ucapkan “La Haula wala Quwwata Illa billah : Tidak ada kekuatan atau pertolongan (untuk beramal) selain kekuatan atau pertolongan dari Allah.” Ciri-ciri orang yang ikhlas ini adalah Istiqomah dalam beramal. Jangan sampai kita takut tidak ikhlas dalam beramal karena :

 

  1. Beramal karena makhluk                         à Syirik
  2. Tidak beeramal karena takut ingin dilihat             à Riya

 

 

  1. Sifat Pengorbanan Sahabat untuk Pergi di Jalan Allah ( Khuruj Fii Sabillillah )

 

Sudah menjadi kelebihan sahabat bahwa mereka mempunyai kekuatan untuk berkorban di luar batas kemampuan manusia biasa. Ini dikarenakan sahabat sudah menjadi manusia super dalam hal keimanan, ketawakkalan, dan pengorbanan. Bagaimana sahabat semua dididik agar bisa menghilangkan semua gantungan yang ada dan hanya bergantung pada Allah. sahabat diperintahkan untuk berhijrah agar mereka bisa merasakan keadaan dimana tidak ada tempat lagi untuk bergantung selain Allah Ta’ala saja. Yaitu dengan meninggalkan semua yang mereka cintai ketika hijrah. Allah telah buat keadaan untuk mereka agar berkorban habis-habisan sampai tidak ada lagi yang mereka bisa korbankan di jalan Allah. Sehingga pengorbanan mereka ini sampai pada level kesiapan menyerahkan segala yang mereka punya untuk membela agama Allah. Bagaimana Abu Bakar RA ketika berlomba dengan Umar RA dalam memberikan harta untuk diinfakkan di jalan Allah, Abu Bakar RA telah berikan semua hartanya sampai tidak ada lagi yang tersisa di rumahnya bahkan untuk keluarganya sekalipun. Ada seorang sahabat karena ia tidak punya uang untuk diinfakkan di jalan Allah akhirnya dia bekerja dan menerima upah dua sha’ kurma. Satu sha’ untuk keluarga, satu sha’ lagi diletakkan diatas hasil infak yang terkumpul untuk orang yang pergi di jalan Allah demi ikut serta dalam pengorbanan untuk agama. Ada seorang sahabat karena miskin tidak ada yang bisa dikorbankan di jalan Allah akhirnya dia berdo’a pada Allah dengan menyedekahkan harga dirinya untuk agama Allah. Asbab do’anya ini maka Nabi SAW memanggil sahabat ini bahwa do’anya telah diterima oleh Allah Ta’ala. Inilah semangat sahabat dalam berkorban di jalan Allah. Dari 124.000 sahabat hanya sekitar ±10.000 sahabat yang dikubur di Makkah dan Madinah, selebihnya meninggal di luar negeri di jalan Allah.

 

Abu Ayub Al Anshori adalah orang yang menerima Nabi SAW untuk tinggal di rumahnya ketika Beliau SAW hijrah ke Madinah. Suatu ketika beliau hendak memenuhi takaza fii sabilillah ke Turki, namun keadaan beliau ketika itu tidak memungkinkan. Ini dikarenakan beliau sudah berumur 92 tahun dan memiliki udzur untuk tidak pergi di jalan Allah. Anaknya ketika itu menginginkan agar ayahnya, Abu Ayub Al Anshari RA, tidak ikut dan agar istirahat di rumah. Tapi apa kata Abu Ayub Al Anshori, “Mau saya juga begitu, tetapi kemauan Allah atas diri kita lain. Allah ingin kita keluar Fii sabilillah di waktu senang dan susah, di waktu tua dan muda, kapan saja.” Lalu di tengah perjalanan ke Turki dia menderita sakit keras. Dia berwasiat kepada anaknya agar menguburkan mayatnya di ujung perjalanan rombongan. Ketika ditanya sebabnya, beliau RA menjawab, “Saya ingin berjuang di jalan Allah baik dalam keadaan hidup maupun mati. Saya ingin tempat saya dikuburkan menjadi saksi saya di hadapan Allah bahwa saya mati dalam Fii sabilillah.” Ketika beliau di kuburkan di Turki, terlihat ada selendang bercahaya keluar dari dalam kuburnya memancar hingga ke langit. Orang-orang kafir di Turki yang melihat hal itu terkesan hingga mereka masuk ke dalam Islam. Inilah sahabat, cita-citanya adalah untuk mati di jalan Allah, bagaimana dengan kita? Sehingga kematiannya pun masih bermanfaat bagi orang lain, yaitu Allah jadikan dia sebagai asbab hidayah bagi manusia. Jangan mau ikut yang lain, ikut saja Nabi dan para sahabat yang jelas-jelas jaminan kesuksesannya dari Allah. Kita niatkan dalam diri kita bahwa kita ingin di bangkitkan bersama mereka.

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: