Buyaathaillah's Blog

Mudzakarah Keutamaan Diam

*BELAJAR TENTANG ILMU DIAM*

_*Rasulullah SAW bersabda:*_
الصَّلَاةُ عِمَادُ الدِّيْنِ وَالصُّمْتُ أَفْضَلُ وَ الصَّدَقَةُ تُطْفِئُ غَضْبَ الرَّبِّ وَالصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالصَّوْمُ جُنَّةٌ مِنْ النَّارِ وَ الصَّمْتُ أَفْضَلُ وَالْجِهَادُ سَنَامُ الدِّيْنِ وَ الصَّمْتُ أَفْضَلُ
“ *Solat* adalah tiang agama, tetapi diam itu lebih utama.

*Sadaqah* dapat memadamkan murka Rabb, tetapi diam itu lebih utama.

*Puasa* adalah perisai dari siksa neraka, tetapi diam itu lebih utama.

*Jihad* itu puncaknya agama, tetapi *diam* itu lebih utama.”

_*Nabi Muhammad SAW juga pernah bersabda:*_
الصَّمْتُ أَرْفَعُ الْعِبَادَاتِ

_“Diam adalah bentuk ibadah yang paling tinggi.” (HR. Ad-Dailami)_

_*Maksud diam di sini adalah diam dari sesuatu yang tidak bermanfaat, baik dalam urusan agama maupun dunia, dan diam dari membalas bicara orang yang mencemoh kita.*_

_*Nah, diam yang seperti ini termasuk ibadah yang paling tinggi, sebab kebanyakan kesalahan itu timbul dari lisan.*_

Adapun jika seseorang diam kerana dia sendirian tanpa adanya orang lain yang memotivasinya untuk diam, maka diamnya bukan ibadah.

_*Rasulullah SAW juga bersabda :*_
الصَّمْتُ زَيْنٌ لِلْعَالِمِ وَ سِتْرٌ لِلْجَاهِلِ
_“Diam itu adalah perasaan bagi orang ‘Alim dan selimut bagi orang bodoh.”_ (HR. Abu Syaikh, dari Muharriz)
الصَّمْتُ سَيِّدُ الْأَخْلَاقِ
_“Diam itu adalah akhlak yang paling utama.”_
الصَّمْتُ حِكَمٌ وَقَلِيْلٌ فَاعِلُهُ
_“Diam itu mengandung hikmah yang banyak, tetapi sedikit orang yang melakukannya.”_ (HR. Qadha’I, dari Anas dan Dailami, dari Ibnu ‘Umar)

*Oleh kerana itu, ada syair yang mengatakan:*

_Wahai orang yang banyak bicara tanpa guna, kekanglah mulutmu._
_Sesungguhnya kamu terlalu banyak bicara ke sana dan ke mari._
_Sungguh kamu telah banyak berperanan dalam keburukan._
_Mulai sekarang diamlah jika kamu ingin menjadi baik._

_*Rasulullah SAW bersabda:*_
أَفْضَلُ الْجِهَادِ اَنْ تُجَاهِدَ نَفْسَكَ وَهَوَاكَ فِيْ ذَاتِ اللهِ
*“Jihad yang paling utama adalah memerangi hawa nafsu karena Allah.” (HR. Ad-Dailami)*

_*Dikutip dari kitab Nashaihul ‘Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani.*_

Iklan

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: