Buyaathaillah's Blog

Bayan Masturot Maulana Ihsanul Haq Raywind

BAYAN MASTURAH

 

Maulana Muhammad Ihsanul Haq

Masyeikh Madrasah Raywind

Lahore, Pakistan

 

Tuan-tuan yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, sebagaimana Allah telah menciptakan langit dan bumi, Allah Ta’ala juga menciptakan manusia berpasangan, lelaki dan wanita. Jika tiada wanita, maka tiadalah manusia di dunia ini. Dari kalangan manusia ini, sebahagiannya Allah jadikan lelaki, dan sebahagiannya Allah jadikan wanita. Nabi Muhammad SAW, penghulu dan penutup segala nabi-nabi. Apabila menyampaikan risalah Allah ta’ala kepada manusia, baginda SAW mengajarkannya kepada lelaki, dan juga baginda SAW mengajarkannya kepada wanita. Sebagaimana juga para sahabat RA, di kalangan mereka, lelaki mendakwahkan manusia kepada Allah, wanita juga mendakwahkan manusia kepada Allah.

 

Peranan Dakwah Wanita :

 

  1. Umar RA menerima Islam dengan asbab taklim yang dilakukan oleh adik perempuannya.

 

  1. Sedangkan Utsman RA asbab dakwah dari bibinya. Usman RAbercerita perihal keIslamannya, “Ketika aku datang ke rumah, bibi ku Sa’adah sedang duduk-duduk, dan Aku duduk berdekatan dengannya. Lalu dia mulai mendakwahkan aku untuk masuk Islam. Pembicaraan bibiku ini amat menyentuh perasaanku. Setelah bibiku meninggalkanku, aku pergi berjumpa dengan sahabatku, Abu Bakar RA, untuk meminta nasihat. Abu Bakar memberitahuku bahawa apa yang dikatakan oleh bibi ku itu semuanya adalah benar. Abu Bakar berkata bahwa Muhammad SAW adalah sesungguhnya pesuruh Allah, dan beliau memintaku untuk mengambil ajakan baginda SAW. Ketika itu Rasulullah SAW memasuki rumah dan aku terus memeluk Islam.”

 

  1. Ikrimah (radiyalaahu anhu), anak Abu Jahal, masuk Islam asbab dakwah dari isterinya.

 

  1. Amr ibn Al Aas RA masuk Islam asbab dakwah dari ibunya.

 

Para sahabat telah melakukan pengorbanan semuanya dari waktu, harta, perasaan, dan nyawa. Usaha agama ini telah dilaksanakan oleh para sahabat baik di kalangan lelaki atau pun di kalangan wanita.

 

Tingkat pengorbanan tertinggi di Jalan Allah Ta’ala ini adalah :

 

  1. Apabila nyawa yang ada pada mereka dipertaruhkan
  2. Seluruh harta yang ada dihabiskan di Jalan Allah Ta’ala.

 

Manakala dalam pengorbanan diri, seseorang mungkin boleh memberi masa sepagi atau sepetang di Jalan Allah. Namun tingkatan yang paling tinggi bagi sesorang adalah apabila seseorang itu memberi nyawa untuk syahid di Jalan Allah. Banyak para sahabat RA yang syahid di Jalan Allah, tetapi yang pertama-tama syahid di Jalan Allah adalah seorang wanita, Sumaiyyah R.ha. Lalu sebahagian besar para sahabat RA di kalangan lelaki, banyak yang menghabiskan harta mereka untuk agama Allah. Namun yang pertama-tama berkorban harta di Jalan Allah adalah seorang wanita, yaitu Khadijah R.ha. Pahala dari pengorbanan sahabat ini akan terus mengalir kepada mereka hingga hingga ke Hari Qiamat. Semua ganjaran-ganjaran tersebut dinikmati oleh Khadijah dan Sumaiyah R.ha.

 

Sebagaimana hijrahnya Rasulullah SAW ke Madinah, semua puteri baginda SAW turut berhijrah. Rasulullah SAW telah tunjukkan bagaimana usaha agama dibuat di kalangan lelaki, dan baginda SAW juga telah tunjukkan bagaimana usaha agama dibuat di kalangan wanita. Apabila Rasulullah SAW menderita kelaparan, semua puteri-puteri baginda SAW dan anak-anak mereka juga menderita kelaparan. Sebagaimana Rasulullah SAW keluar di Jalan Allah, puteri baginda Nabi Saw yang dikasihi, Zainab R.ha juga keluar ke Jalan Allah. Semasa di Madinah, Rasulullah SAW telah menyertai 45 ghazwah (ekspidisi dakwah), dan isteri-isteri baginda Nabi SAW juga menyertai ghazwah tersebut. Inilah usaha agama yang dibuat oleh Rasullullah Saw dengan istri-istrinya.

 

Jika kita mengharapkan seluruh dunia menerima agama Allah, maka semua lelaki dan wanita di kalangan kita juga harus mengambil bagian dalam usaha agama. Rasulullah SAW telah mengajarkan dan menunjukkan cara untuk menyampaikan agama kepada kaum lelaki dan kepada kaum wanita. Sebagaimana, kaum lelaki di kalangan umat ini diberikan kemuliaan oleh Allah Ta’ala sebagai wakil Nabi SAW, begitu pula kaum wanita. Sebagaimana kaum lelaki di kalangan umat ini diberi tanggung jawab melanjutkan usaha hidayah ke seluruh manusia, maka tanggung jawab ini juga dibebankan kepada kaum wanita.

 

Fahamilah, usaha agama yang dibuat oleh Rasulullah SAW ini adalah usaha agama terhadap kaum wanita, usaha agama oleh kaum wanita, dan usaha agama untuk kaum wanita. Usaha atas kaum wanita ini adalah sangat penting.

 

Mafhum hadits Rasulullah SAW :

 

“Seorang wanita solehah lebih baik daripada 70 orang wali (atau lelaki soleh). Seorang wanita yang jahat akhlaqnya, lebih buruk daripada 1000 orang lelaki yang jahat akhlaqnya.”

 

Oleh karena itu, usaha perbaikan atas kaum wanita sangatlah penting, karena manfaat yang diberikan oleh kaum wanita kepada umat ini cukup besar potensinya. Namun mudharat yang dapat diberikan oleh kaum wanita juga cukup besar potensinya jika tidak ada yang menggarapnya. Lihat hari ini betapa besar kerusakan umat hari ini yang disebabkan oleh kaum wanita. Sebagaiamana kaum lelaki perlu memperbanyak dakwah kebesaran Allah setiap hari untuk meningkatkan iman, maka kaum wanita juga perlu perbanyak dakwah kebesaran Allah setiap hari untuk meningkatkan iman.

 

Suasana di rumah adalah suansana yang dibentuk oleh wanita. Wanita yang senantiasa berada di rumahnya, maka anak-anak akan lebih dekat dengan ibu mereka :

 

  1. Ibu yang memakaikan mereka pakaian.
  2. Ibu yang memasakkan mereka makanan.
  3. Ibu yang memandikan mereka.
  4. Ibu yang menidurkan mereka dimalam hari.
  5. Ibu yang mengajari mereka ilmu dan adab.

 

Inilah kebiasaannya seorang ibu dalam rumahnya. Mengenai sifat, maka sifat ibu ini lebih lembut, sedangkan bapak adalah lebih tegas. Kedua-dua sifat ini perlu untuk mendidik anak-anak dengan betul. Salah seorang antara ibu atau bapak perlu bersifat lembut, dan yang lain bersifat tegas. Jika kedua-duanya, ibu dan bapak, bersikap lembut kepada anak-anaknya, maka pendidikan yang sempurna tidak akan terbentuk. Jika kedua ibu dan bapak bersikap tegas, maka anak-anak juga tidak akan mendapat pendidikan yang sempurna.

 

Dalam rumah tangga biasanya seorang bapaklah yang tegas kepada anak-anak. Soerang bapak biasanya akan bertanya, “Kenapa kamu tak lakukan itu? kenapa kamu tidak buat ini?”. Seorang bapak biasanya lebih dominan dalam hal perintah, dalam hal memberi hukuman, dan mengawal peraturan keluarga. Sedangkan Ibu lebih mencurahkan kasih sayang, dan bersikap lembut kepada anak-anak. Seorang ibu lebih seperti ahli khidmat, karena seorang ibu perhatinya adalah menyediakan mereka makan, minum, baju, dan waktu bermain. Inilah kepentingan bapak dan ibu untuk bekerja sama dalam pendidikan anak. Bagiamana anak dan istri ini dapat bersama-sama memikirkan agama dan usaha atas agama. Jika kita tidak melibatkan istri kita dalam usaha agama, maka mereka akan jadi penentang kita dalam usaha agama. Jika ini yang terjadi, istri berlawanan dengan suami, maka sebagai ibu, dia akan sentiasa memberitahu anak-anaknya:

 

“Lihat kelakuan ayah kamu itu. sebentar-bentar pergi di Jalan Allah. Dia asyik jalan-jalan saja, bukannya memikirkan rumah tangga. Suka mengabaikan anak dan isterinya. Jangan kalian mencontoh ayah kamu yang tidak benar itu. Awas kalian kalau ikut-ikut seperti ayah kalian !!!”

 

Jika anak-anak sentiasa mendengar kata-kata seperti ini dari ibu mereka, maka mereka akan tumbuh memusuhi ayah mereka sendiri, tumbuh membenci agama, dan usaha agama. Sebaliknya jika istri kita bersama kita dalam perjuangan agama, maka dia sebagai ibu akan sentiasa memberitahu anak-anaknya:

 

“Bapak kamu itu adalah seorang yang baik dan bertanggung jawab.Di tengah kesibukannya dengan kerja dan keluarga, dia selalu berusaha memberi waktu untuk agama dan keluar di Jalan Allah. Apa yang dia buat itu sangatlah bagus sekali . Dia telah berusaha sungguh-sungguh untuk memperjuangkan agama. Maka kita pun patut membuat usaha agama seperti dia. Dan kalian pun patut mengikuti jejak Bapak kalian.”

 

Jika anak-anak mendengar kata-kata seperti ini dari ibu mereka, maka mereka akan tumbuh menyayangi ayah mereka, tumbuh mencintai agama, dan usaha agama. Inilah kerja yang paling besar bagi kaum wanita, yaitu untuk mewujudkan suasana iman di dalam rumah-rumah mereka. Untuk mewujudkan suasana iman dalam rumah, tidak perlu bagi seseorang wanita ini, lulusan universitas agama atau pun dari pesantren. Setiap wanita bisa saja mewujudkan suasana iman di rumahnya. Bagaimana untuk mewujudkan suasana iman? Senantiasalah berkata-kata tentang iman setiap saat , setiap hari, kepada suaminya, anak-anaknya, maupun teman-teman wanitanya.

 

Untuk menanamkan kefahaman yang benar kepada anak-anak kita, maka ini diperlukan percakapan atau pembicaraan yang diulang-ulang dengan anaknya. Terutama mengenai 3 perkara :

 

  1. Pertama, apa saja yang dilihat dan dipandang oleh mata anak-anak kita, maka ibu harus memberitahu mereka bahwa semuayang dilihat ini diciptakan oleh Allah Ta’ala. Langit, bulan, bintang-bintang, semuanya ciptaan Allah Swt. Gunung-ganang, lautan-lautan, tanaman, segala apa yang di darat, di laut, dan di langit ini adalah ciptaan Allah Swt dan milik Allah Swt. Kapal terbang yang baru saja melintas terbang di udara itu adalah ciptaan Allah. Pilot yang memandu pesawat itu juga diciptakan oleh Allah. Allah yang Maha Pencipta juga Maha Memelihara ciptaanNya. Seorang ibu perlu mengucapkan kata-kata seperti ini kepada anak-anaknya, inilah dakwah iman yakin bagi wanita. Dakwah yang seperti ini akan menguatkan Iman si ibu dan si anak. Ajari mereka mengucapkan kata-kata seperti ini, ajari mereka dakwah, didik mereka dengan menisbatkan qudratullah.

 

  1. Kedua, sampaikan kepada anak-anak bahwa rumah kediaman dan apa saja yang ada dalam rumah ini datangnya dari Allah. Allah yang memberikan kita rumah ini, Allah yang memberi kita pakaian, Allah yang memberikan kita makanan, Allah yang berikan kita pulpen ini. Semuanya kebendaan di rumah kita, dari yang besar maupun yang kecil, dari yang remeh sampai yang penting, sampaikan kepada anak kita bahwa itu semua dari Allah.

 

Bila ayah balik ke rumah dan memakaikan peci ke atas kepala anak lelakinya yang masih kecil, lalu ibunya bertanya kepada si anak,” siapa yang memberi peci itu kapadamu, Nak?” atau, “Peci itu datangnya dari siapa, Nak?”. Maka si Anak akan menjawab, “Ayah yang berikan pada saya.” Disinilah seorang ibu perlu meluruskan jawaban si anak, “Bukan, peci ini bukan ayah yang memberikan, tetapi Allah yang memberikan.”Maka Si anak mungkin akan berkata lagi, “Tidak ibu, peci ini ayah yang memberikan”. Sebagai Ibu hendaklah mengulang-ulang perkataan ini, dan memberitahu si anak bahwa Allah yang berikan bukan yang lain walaupun nampaknya demikian. Sehingga tertanam di hati anak ini bahwa Allah yang memberikan.

 

Begitu pula ketika mengajarkan adab kepada mereka. Contoh : Doa setelah makan ini tujuannya untuk mensyukuri nikmat makanan dan minuman yang Allah berikan kepada kita. Bukan ibu atau pun ayah yang memberi makanan, tapi Allahlah yang memberi makanan. Apabila bangun tidur, kita berdoa untuk mensyukuri nikmat bangkitnya kita dari tidur. Kelihatannya seperti ibu dan ayah yang menidurkan dan membangunkan anak. Namun itu semua kita nafikan (tiadakan) di depan anak, lalu kita nisbatkan (tujukan) kepada Allah, bahwa Allah yang menidurkan dan yang membangunkan si anak. Fikiran dan hati anak-anak ini perlu dilatih bahwa Allah yang Maha Memberi dan Allahlah yang Memelihara kita sekeluarga.

 

Apa yang disampaikan oleh ibu, maka perlu juga disampaikan oleh ayahnya. Apabila anak-anak menginginkan sesuatu, biasanya mereka akan pergi meminta kepada ibunya. Bila mereka pergi kepada ibu mereka, hendaklah para ibu mengajarkan anak-anak mereka hanya meminta kepada Allah untuk segala keperluan. Contoh bila datang kepada kita, Anak laki-laki kita :

 

“Ibu saya perlu pulpen baru karena yang lama sudah tidak bisa dipakai.”

 

Maka hendaknya sang ibu memberi tahu anaknya :

 

“Wahai anakku sesungguhnya Allah lah yang memberi kamu pulpen yang lama, dan Allah pulalah yang bisa memberi kamu pulpen yang baru. Maka sayangku mintalah kepada Allah Swt. Kamu sekarang pergi ambil air wudhu, lalu sholat hajat 2 rakaat, doa minta kepada Allah supaya diberikan pulpen yang baru.”

 

Beginilah seharusnya kita mengajarkan anak kita, walaupun nantinya kita yang membelinya untuk mereka. Jika anak perempuan kita mengadu kepada ibunya :

 

“Ibu saya perlu sepatu baru, yang lama sudah rusak, tidak bisa dipakai lagi.”

 

Maka hendaknya sang ibu memberi tahu anaknya :

 

“Allah yang telah memberikan kamu sepatu yang lama, maka Allah jugalah yang akan memberikan kamu sepatu baru baru. Maka sayangku mintalah kepada Allah Swt. Kamu sekarang pergi ambil air wudhu, lalu sholat hajat 2 rakaat, doa minta kepada Allah supaya diberikan sepatu yang baru.”

 

Ibu-ibu hendaklah senantiasa menyeru anak-anaknya untuk meminta pada Allah, setiap mereka mempunyai keinginan dan kebutuhan. Sehingga dengan sendirinya, sikap hanya meminta dan berharap kepada Alla ini dapat menjadi kebiasaan anak-anak. Anak-anak akan belajar untuk meminta hanya kepada Allah untuk segala keperluan mereka. Mereka akan sentiasa meminta kepada Allah untuk segala urusan. Ibu dan bapak yang mengasuh dan mengajar anak-anak mereka untuk meminta hanya kepada Allah atas segala keperluan, maka sesungguhnya dia telah mengajarkan anak-anak mereka pengajaran sepanjang hayat.

 

Di rumah misalnya, ada anak perempuan yang berumur 7 tahun, anak lelaki berumur 5 tahun, dan anak lelaki berumur 2 tahun. Apabila ayah mereka pulang ke rumah, didapatinya anak lelaki yang berumur 2 tahun itu sedang sakit demam. Maka apa yang dia perbuat? Biasanya sang Ayah akan berkata, “Cepat ambil uang dalam dompet”. Si ayah akan membawa si anak yang demam itu masuk ke mobil dengan segera, lalu langsung pergi menjumpai dokter. Melihat keadaan seperti ini, maka Iman anak-anak yang lain akan terbentuk asbab kebiasaan ayah yang menisbatkan uang dan dokter bila ada yang sakit. Ini karena keyakinan mereka, anak-anak, masih berdasarkan penglihatan. Apa yang mereka lihat dan apa yang mereka dengar itulah yang mereka tiru. Anak-anak akan berfikir, “Bila ayah perlu pertolongan, maka pertama-tama yang dia akan cari adalah uang dulu.” Cara berpikir seperti inilah yang akan terbentuk dalam diri anak-anak, asbab apa yang mereka lihat dari kebiasaan orang tua mereka. Anak-anak akan berfikir, ibu dan bapak saya mengajar saya untuk meminta hanya kepada Allah, tapi bila mereka butuh pertolongan atau bila mereka dapat masalah, maka pertama kali yang mereka cari adalah uang dulu, bukan Allah Swt. Sehinggga keyakinan yang tertanam dalam diri mereka adalah bahwa uang dapat menyelesaikan segala masalah. Keyakinan atas “Uang” dapat menyelesaikan segala masalah ini adalah pangkal dari segala kejahatan.

 

Contoh :

 

  1. Sistem pemerintahan yang dipenuhi dengan korupsi, adalah karena kejahatan yang disebabkan oleh uang.
  2. Para pedagang menipu, melakukan kejahatan, yang disebabkan oleh uang.
  3. Perampokan dan pencurian terjadi kerana adanya keyakinan yang salah pada hari ini, yang disebabkan oleh uang.
  4. Hari ini dalam setiap rumah, anak-anak dilahirkan dari keluarga yang membawa keyakinan yang salah yaitu jika ada uang maka anak bisa lahir.

 

Jadi, seharusnya apa yang perlu kita lakukan? Anak-anak tadi patut dipanggil oleh kedua orang tua mereka, dan diberitahu :

 

“ Anakku sayang, adik kamu sedang terkena demam, dari mana datangnya demam ini? Allah yang mendatangkan demam. Maka hanya Allah yang mampu menyembuhkan demam. Sekarang, kalian berdua pergi ambil wudhu’, ibu dan bapak pun akan berwudhu’. Setelah itu kalian berdua sholat, ibu dan bapak pun akan sholat. Kalian berdua berdo’a pada Allah agar Allah Swt sembuhkan adik kamu dari demam, ibu dan ayah pun akan do’a kepada Allah Swt agar sembuhkan adik kamu dari demam. JIka kita beri sedekah, Allah akan hilangkan kesusahan kita. Ambil uang ini, pergi sedekahkan kepada ibu fulan yang miskin dan susah, yang suaminya sudah meninggal. Kemudian baru kita pergi jumpa dokter dan minta obat untuk adik, tapi bukan obat yang menyembuhkan, yang hanya bisa menyembuhkan adik adalah Allah Swt.”

 

Sudah lebih 70 tahun usaha da’wah dan tabligh berjalan, tapi dalam beberapa keadaan, kesan atas agama masih sangat lambat. Mengapa? Kerana ibu dan bapak lemah dalam menjalankan dakwah. Khususnya dakwah ibu-ibu kepada anak-anak mereka. Sehingga Islam melemah bahkan rusak secara merata di dunia. Para ibu menyibukkan diri di dalam rumah-rumah mereka, tetapi tidak memikirkan agama anak-anaknya atau pun usaha agama yang dilakukan suaminya. Ketidakpedulian orang tua atas usaha agama ini telah merusak iman anak-anak mereka sendiri. Dari segi jumlahnya, kaum wanita adalah lebih banyak dari kaum lelaki. Sedangkan kaum lelaki yang melibatkan diri dengan kerja da’wah dan tabligh lebih sedikit jumlahnya dari kaum wanita.

 

Perbandingan usaha laki-laki dan usaha wanita

 

Dari setiap usaha kaum lelaki yang terlibat dengan kerja da’wah dan tabligh, jika mereka dapat mengajak dan menyakinkan 1000 orang lelaki untuk lebih dekat kepada Allah Swt, maka dalam waktu yang sama, 100,000 orang anak-anak Islam telah dirusakkan iman mereka oleh kaum wanita yaitu ibu-ibu mereka.

 

Amat malang sekali, kita dapati hari ini, rumah-rumah orang Islam telah menjadi ladang-ladang tempat merusak iman. Oleh sebab itulah, adalah sangat penting diusahakan ke segenap penjuru dunia, di rumah-rumah orang Islam, untuk dapat menjadi tempat membina iman. Kita semua akan jadikan rumah-rumah kita tempat membina iman, insya Allah.

 

Suasana iman di rumah akan mewujudkan suasana sholat di rumah. Bila anak sudah sampai umur 7 tahun, maka sholat perlu dihidupkan oleh anak-anak. Kebiasaan kita seperti apa yang terjadi ketika ada pembiaran kepada anak :

 

“Biarkan saja dia bermain, biarkan saja dia bersenang-senang, nanti kalau sudah besar dia juga akan mengerti tentang sholat.”

 

Apabila anak itu telah mencapai umur 11 atau 12 tahun, dan kebiasaan buruk muncul, ini sudah susah mengubahnya karena sudah menjadi kebiasaan. Apa kebiasaan buruknya? meninggalkan sholat. Sehingga dapat diperkirakan ketika itu, si anak tersebut yang telah berumur 11 atau 12 tahun, dia tidak akan mampu mendirikan sholat.

 

Kasih sayang yang sebenarnya terhadap anak-anak ada pada diri Rasulullah SAW, sebagaimana yang telah ditunjukkan kepada kita. Ketika berumur 7 tahun, anak-anak perlu disuruh untuk mengerjakan sholat. Dia patut diajarkan cara sholat dengan betul. Apa manfaat dan keuntungan dalam mendirikan sholat, tata cara sholat yang betul, adab sholat perlu diajarkan kepada anak-anak kita. Apabila sholat telah mereka kerjakan oleh, maka amal-amal lain juga perlu diajarkan untuk mereka kerjakan. Anak-anak perlu dididik untuk membiasakan dzikir kepada Allah Swt. Anak-anak perlu mulai dididik untuk mengamalkan dzikir tasbihat di waktu pagi dan petang. Ajarkan kepada mereka untuk duduk di satu tempat dalam keadaan tenang tawajjuh kepada Allah dengan wirid dan dzikir. Kaum wanita di kalangan para sahabat RA biasa mengajar dan mengusahakan tasbihat pada anak-anak mereka walaupun pada usia yang masih relatif kecil.

 

Apa saja amalan yang dikerjakan oleh para sahabiyah R.ha ini di rumah-rumah mereka :

  1. Tasbihat 300 kali di waktu pagi dan di waktu petang, setiap wanita perlu mengerjakan di rumah-rumah mereka dengan duduk menghadap qiblat.
  2. Setiap wanita perlu membaca Quran satu juz setiap hari.
  3. Mengajar membaca Quran dengan tajwid kepada anak-anak adalah tanggung jawab ibu-ibu, dengan bantuan bapak-bapak.

 

Bapak-bapak yang keluar ke Jalan Allah, jika tidak belajar membetulkan tajwid mereka, bagaimana bisa membetulkan tajwid isteri-isteri di rumah? Sedangkan Anak-anak perlu digalakkan untuk senantiasa bertilawah Al-Quran. Jika mereka menjadi hafidz, alhamdulillah, ucapan Syukur kepada Allah Swt. Jika tidak keseluruhan Al-Quran, sekurang-kurangnya surah-surah yang biasa mereka bacakan di dalam sholat mereka. Tanggungjawab utama agar anak-anak belajar Al- Quran terletak pada ibu dan bapak, bukan tanggung jawab pihak sekolah dan guru-guru. Sebelum atau setelah melakukan sesuatu pekerjaan, ibu perlu mengamalkan doa-doa masnunah, ayah pun juga perlu berbuat demikian. Amalan-amalan ini perlu diajarkan kepada anak-anak juga. Sehingga suasana dalam rumah diliputi suasana pembinaan iman, sholat, zikir, dan doa-doa masnun. Ketika tangan-tangan kita sibuk bekerja, tetapi lidah tetap terbasahi dengan dzikir. Bapak-bapak pergi kerja, anak-anak pergi ke sekolah, ibu-ibu tinggal di rumah. Jika takut tinggal seorang diri di rumah, maka hidupkanlah dzikir kepada Allah. Masa-masa yang luang dan kosong perlu dipenuhi dengan berzikir kepada Allah Swt.

 

Rasulullah SAW bersabda :

 

“Jangan ada waktu yang berlalu tanpa mengingat Allah.”

 

Lidah perlu senantiasa dibasahi dengandzikrullah. Di setiap rumah perlu ada halaqah taklim setiap hari. Selagi ada pembicaraan tentang kebesaran Allah Ta’ala, di situlah Rahmat Allah akan turun bercurah-curah. Suasana tenang dan lapang akan terwujud di setiap keadaaan atau rumah yang ada dzikrullah. Allah Ta’ala akan selalu ingat kepada peserta-peseta majelis yang mengingat Allah, di dalam majelis yang lebih baik yaitu majelis para malaikat. Para malaikat Rahmat akan mengerumuni majelis dzikrullah dengan berlapis-lapis hingga ke langit. Dalam waktu yang bersamaan, para anak-anak duduk dalam majelis berserta para malaikat. Oleh kerana itu, anak-anak akan mempunyai sifat taqwa, taat dan ihsan seperti para malaikat. Sebaliknya :

 

  1. Jika anak-anak senantiasa diselubungi suasana setan di rumah
  2. Jika di sekolah juga mereka diselubungi suasana setan
  3. Jika Suasana di luar rumah, tempat mereka bermain, juga diselubungi suasana setan.

 

Jika di 3 wilayah anak ini telah dihinggapi suasana setan, maka Kita sendiri akan tahu sifat apa yang akan masuk kedalam anak-anak kita. Sifat apa yang masuk? yaitu sifat setan. Bagaimana tidak? apakah suasana dalam rumah kita seperti suasana malaikat atau suasana setan. Apakah di rumah kita hidup amalan taklim atau amalan zhulumat (kegelapan/kebathilan) seperti nonton TV, sinetron, musik, pertengkaran. Begitu juga ketika mereka di sekolah, apakah di antara teman-temannya ada yang menularkan sifat-sifat setan atau amalan setan seperti mencuri, berbohong, bermusuhan, dan lain-lain. Begitu juga ketika mereka bermain di luar rumah. Apakah anak kita bermain dengan teman-teman yang suka berkelahi, berakhlaq buruk, atau pun suka melalaikan sholat. Jika ini yang terjadi pada anak-anak kita, maka mereka akan senantiasa diselubungi dengan suasana setan. Sehingga yang wujud dalam diri mereka adalah sifat-sifat setan.

 

Oleh sebab itu, adalah sangat mustahab (dianjurkan) untuk mewujudkan halaqah taklim di rumah. Berapa lama masa taklim dibutuhkan? jika mampu sempurnakan 2 jam, jika tidak usahakan 1½ jam atau pun 1 jam. Sekurang-kurangnya 30 menit. Gunakan 15 sampai 20 menit untuk membaca kitab Fadhail Amal. Lalu 10 sampai 15 menit dari sisa waktu dapat digunakan untuk muzakarah 6 Sifat sahabat RA. Hari ini ibu yang menjelaskan tentang 6 sifat, maka lusa ayah yang akan menjelaskan tentang 6 sifat. Jika nenek ada di rumah, maka nenek pun juga perlu menjelaskan tentang 6 sifat. Kenapa? Ini supaya setiap orang di rumah dapat menjadi da’i (penyeru agama Allah). Semua ahli rumah perlu ada rasa bahwa tanggung jawab menyampaikan agama kepada seluruh manusia adalah tanggung jawab saya. Untuk anak-anak tidak cukup dengan mengajar mereka, tetapi juga harus dengan menunjukkan contoh teladan kepada mereka. Bil Lisan, apa yang diucapkan, harus sejalan dengan Bil hal, apa yang dilakukan, inilah cara mendidik yang terbaik, sehingga sejalan dengan apa yang dilihat oleh anak-anak kita.

 

Bila anak kita melihat ayahnya sedang berbaring, tidur atau sedang santai-santai, minum kopi. Apabila tiba waktu taklim di rumah, ayah terus pakai baju dan pakai peci. Kemudian ayah mengambil wudhu’ dan mendatangi majelis taklim rumah dalam keadaan mendekati Allah Swt. Maka ketika anak melihat ayahnya melakukan perkara ini beberapa hari, dia pun akan buat persiapan yang sama. Si anak itu sendiri yang akan menyiapkan diri dia untuk lebih dekat kepada Allah Swt. Dalam masa 10 hingga 15 menit, kita membicarakan tentang 6 sifat sahabat bersama anak kita. Jika ini dilakukan secara terus-menerus, maka 6 sifat ini akan tertanam dihati anak kita. Enam Sifat Sahabat ini walaupun dijelaskan hingga berjam-jam secara mendalam dengan menyebutkan ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits, maka tidak akan ada habisnya dikarenakan kedalamannya.

 

  1. Didik dan ajarkan anak-anak tentang kebesaran Allah Ta’ala.
  2. Ajarkan kepada mereka bahwa Allah Maha Pencipta, yang menciptakan segala sesuatu.
  3. Ajarkan kepada mereka bagaimana Allah Ta’ala membantu para nabi AS.
  4. Anak-anak perlu mendengar kisah-kisah para nabi dan rasul AS.
  5. Anak-anak perlu mendengar kisah-kisah para sahabat RA.

 

Sayidinna Khalid RA seperti ini kisahnya, dia telah lakukan ini dan itu. Bila terjadi sesuatu masalah, Khalid RA telah membuat amalan seperti ini dan seperti itu. Ceritakan kepada mereka bahwa Sayyidinna Bilal RA telah melakukan pengorbanan yang luar biasa. Bilal RA telah dilantik sebagai muadzin Rasulullah SAW. Buang semua cerita-cerita anak-kana yang buruk yang lazimnya diperkatakan kepada anak-anak sekarang, seperti kisah dongeng, khayalan, atau pun takhayul. Namun perbanyaklah cerita tentang kisah-kisah para sahabat RA kepada anak-anak. hendaklah kita berbicara mengenai kisah-kisah yang mulia kepada isteri kita supaya mereka bisa menyampaikan kepada anak-anak kita. Halaqah dan majelis taklim di rumah yang dibuat secara istiqomah dan berterusan, akan mewujudkan kegairahan untuk mengamalkan agama. Dalam suasana pembicaraan iman, maka iman akan menjadi lebih mantap dan kuat tertancap di dalam hati. Iman akan mendorong ibu-ibu untuk mengetahui apa perintah-perintah Allah Ta’ala dan apa sunah-sunah Rasulullah SAW. Kemudian ibu-ibu dan anak-anak akan mulai bertanya kepada suami dan ayah mereka. Lalu ayah atau suami akan meneruskan pertanyaan mereka untuk ditanyakan kepada alim ulama’ tentang berapa banyak perintah-perintah Allah Ta’ala dan sunah-sunah Rasulullah SAW yang bisa diwujudkan dalam rumah mereka.

 

Jika usaha iman wujud di dalam rumah-rumah, maka para penghuni rumah akan mewujudkan, menerima, dan melaksanakan segala perintah Allah Ta’ala. Seringkali di dalam majelis masturat, bapak-bapak memberikan anjuran dan nasihat untuk menutup aurat dan memakai hijab atau purdah bagi wanita. Namun bapak-bapak sering lalai dari mengusahakan atas iman mereka. Hanya memberikan arahan saja untuk memakai hijab atau purdah, ini tidaklah cukup. Ini bukanlah cara yang betul jika bapak tidak memberikan contoh dan membuat usaha atas iman. Pertama sekali yang harus dilakukan adalah sang suami perlu berusaha untuk mewujudkan suasana agama dalam membina iman di rumah. Kemudian berikutnya apabila iman telah mulai membaik dan mantap, mereka akan mulai sadar tentang pentingnya menjalankan segala perintah Allah Ta’ala. Mereka akan mulai menyakini bahawa kejayaan hanya dapat dicapai dengan mematuhi segala perintah Allah. Semua keingkaran terhadap perintah Allah akan menjerumuskan kita kedalam kegagalan.

 

Maka atas perkara insya Allah kita siapkan diri kita membuat usaha atas agama di rumah kita !!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: