Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro Mufti Luthfi Al Banjari : Kemuliaan Islam dan Hakikat Iman

Bayan Syuro

Mufti Luthfi Al Banjari

Mesjid Jami Kebun Jeruk

Assalamualaikum wr. Wb.

Nabi saw bersabda :

Al islam Ya’lu wala Yu’la alaih : Islam itu Tinggi (Mulia/Unggul) dan Tidak ada yang bisa melampaui tingginya (Mulianya/Unggulnya) Islam.

Begitu pula ini ummat ditinggikan oleh Allah swt :

“Wa antum a’launa inkuntum mukminin”

“kamulah orang-orang yang tinggi (derajatnya) jika kamu beriman.”

(3 : 139)

Kapan sekirnya umat islam dikatakan tinggi derajatnya ? yaitu tatkala mereka beriman.

Disalah satu Ijtima di Pakistan, orang tua kita, Maulana Umar Phalampuri Rah.A ketika menyampaikan hadits Al islam ya’lu wala yu’la alaih, beliau sampaikan bahwa Islam itu tinggi ada sebabnya. Kelihatannya hari ini umat islam dihinakan, bahkan banyak umat islam hari ini yang tidak merasa bangga dengan keislamannya. Sehingga apa yang dikatakan Nabi saw bahwa :

“nanti diakhir zaman orang beriman ini akan menyembunyikan keimanannya, sebagaimana orang yang munafik itu menyembunyikan kemunaikannya di jaman Nabi saw.”

Dulu dijaman Nabi saw orang munafik ini takut ketauan sebagai orang munafik sehingga mereka menyembunyikan kemunafikannya membaur dengan orang beriman tidak nampak perbedaannya. Orang munafik ini ketika Orang beriman sholat berjamaah maka merekapun ikut sholat berjamaah. Namun nanti di akhir zaman, zaman kita sekarang ini, akan terjadi orang beriman akan malu/takut menampakkan keimanannya. Orang beriman hari ini berusaha agar dia tidak dikenali sebagai orang beriman. Sehingga yang terjadi hari ini orang islam tidak lagi bangga dengan keislamannya.

“Jika ini terjadi maka bukan hanya sifat kemunafikan yang wujud, tetapi sifat kekufuran juga akan datang dalam kehidupan orang beriman. Kapan ? Tatkala umat islam sudah malu dengan keislamannya.”

Mereka beriman tapi dalam keseharian sifat mereka seperti sifat orang kafir. Ini terjadi bukan hanya dikalangan masyarakat awam saja tapi juga dikalangan intelektual dan ulama juga seperti itu.

Kemarin ketika kami di Nizamuddin, Maulana Saad sampaikan :

“Orang yang membanggakan ilmu keduniaan macam : kedokteran, teknologi, science, militer, dan lain-lain, diatas ilmu agama ini merupakan ciri-ciri kekufuran, sifatnya orang kafir.”

Contoh :

“Alhamdullillah ustadz anak saya sudah ada yang jadi dokter, ada yang jadi insinyur, ada yang jadi gubernur, tapi ini yang bontot cuman bisa jadi Hafidz dari pesantren. Saya tidak tau apakah dia bisa kerja atau nyari duit atau tidak.”

Orang yang mengatakan demikian ini sudah kemasukan sifatnya orang kafir.

“Membanggakan ilmu keduniaan diatas ilmu agama merupakan sifatnya orang kafir.”

Allah swt menjelaskan di dalam AL Quran sifatnya orang kafir itu apa :

“Falamma jaathum rusuluhum bil bayyinati farihoo bima Aindahum minal ilm wahaqa bihim ma kanoo bihi yastahzioona”.

Artinya :

“Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa ketarangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu.”(40:83)

Ketika para Nabi datang kepada kaumnya : Kaum Ad, Kaum Tsamud, Kaum Madyan, dll, mereka para Nabi menjelaskan Al Bayyinat, ayat2 dari langit, tentang tauhid dan hukum hukum Allah swt. Lalu apa respond kaum mereka ini yang kuat di bidang ilmu keduniaan : kedokteran, science, dan teknology ?

farihoo bima Aindahum minal ilm : mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka

Jadi ciri ciri orang kafir itu tatkala disampaikan kepada mereka Agama maka mereka mengecilkan Agama dan membanggakan ilmu dunia yang mereka miliki. Seperti :

  1. Kaum Ad merasa bangga dengan ilmu kesehatan dan kedokterannya.
  2. Kaum Tasmud merasa bangga dengan ilmu perumahannya.
  3. Kaum Saba bangga dengan ilmu pertaniannya.
  4. Kaum Madyan bangga dengan perniagaannya.
  5. Firaun bangga dengan kerjaannya dan teknology piramidnya
  6. Qorun bangga dengan kekayaannya

Jadi tatkala para nabi tersebut datang kepada mereka menjelaskan bahwa kejayaan dan kebahagiaan itu hanya terletak pada agama bukan pada kebendaan, harta, kedudukan, teknologi dan lainnya, mereka menolaknya. Kenapa ? ini karena mereka lebih bangga dengan ilmu keduniaan mereka dan capaian keduniaan yang mereka miliki. Jadi membanggakan ilmu dunia diatas ilmu agama ini merupakan sifat kekufuran. Maka apa yang akan terjadi ?

wahaqa bihim ma kanoo bihi yastahzioona : mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka perolok-olokkan itu

Allah swt akan mengadzab mereka asbab mereka :

  1. Mengejek ilmu agama yang disampaikan kepada mereka
  2. Karena mereka lebih membanggakan ilmu keduniaan mereka.

Adzab akan turun tatkala mereka membanggakan ilmu keduniaan yang mereka miliki diatas ilmu agama.

Maaf hadirin, hari ini keadaan tersebut sudah terjadi diantara ummat hari ini, bahkan sudah masuk dikalangan intelektual dan ulama sekalipun. Jika mereka sudah membanggakan ilmu dunia diatas ilmu agama nanti orang macam ini akan di adzab oleh Allah swt.

Bagaimana Adzab Allah swt itu nampak dalam kehidupan umat hari ini ? Duit banyak anaknya menjadi dokter, menjadi engineer, insinyur, ahli IT. Saya tidak mengatakan menjadi dokter itu tidak baik, menjadi gubernur itu tidak baik, menjadi insinyur itu tidak baik, tidak bukan seperti itu. Maksudnya jangan sampai kebanggaan kita kepada agama dikalahkan oleh itu semua. Jika hari ini kita bangga anak kita menjadi ahli ahli dunia seperti itu tapi kita mengecilkan anak kita yang menjadi hafidz quran, yang menjadi ulama, maka Allah swt akan cabut ketenangan jiwa dari kehidupan kita. Lalu anak-anak kita tersebut yang kita bangga-banggakan keduniannya tidak akan mampu membahagiakan kita di dunia, apalagi di akherat.

Padahal Allah swt sampaikan melalui lisan Nabi saw :

“Qul bifadhlillahi wa birohmatihi fabidzalika falyafrohuu huwa khoirum mimma yajma’un”

Artinya :

Katakanlah (Muhammad): “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”.

Kapan kita diperintahkan untuk bergembira oleh Allah swt ?

Bifadhlillahi wa birohmatihi dalam tafsir Jallalain : Bil islam wabil Qur’an maksudnya kita harus bergembira dengan Islam dan Qur’an. Tatkala anak kita telah menyelesaikan sekolahnya sebagai ulama dan sebagai hafidz dengan hafalan qurannya. Kitapun juga begitu mulai belajar menghafal quran dan syariat islam.

fabidzalika falyafrohuu : Kurnia Allah (Islam dan Quran) adalah rahmat-Nya

Maksudnya adalah hendaklah kalian berbahagia dengan nikmat tersebut yaitu Al Quran dan Islam. Kenapa harus berbahagia ?

huwa khoirum mimma yajma’un : itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan

Karena nikmat Al Quran dan Islam itu lebih hebat dari semua yang mereka kumpulkan. Jadi nikmat 1 subhanallah saja itu lebih hebat dari pada dunia dan seluruh isinya. Apalagi kalau kita atau anak kita bisa jadi hafidz Al Quran.

Nabi saw sabdakan :

“Setiap ummat itu mempunyai kebanggaan.”

Sebagaimana dikisahkan di dalam Al Quran kisah tentang Firaun :

Wanada firAAawnu fee qawmihi qala ya qawmi alaysa lee mulku misra wahathihi alanharu tajree min tahtee afala tubsiroona

Artinya :

Dan Fir’aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: “Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya) ?” (43:51)

Dia firaun bangga dengan kekuasaannya di mesir sampai seluruh afrika dibawah kendali dia. Lalu dia berbangga pula dengan sungai Nil yang di klaim oleh firaun dibawah kendalinya. Firaun merasa bahwa pemerintahan dia tidak bisa disaingi, sampai seluruh parlementnya ada dibawah kendali dia. Ada satu yang belok berkhianat langsung dibunuh oleh Firaun.

Satu orang saja membelot di abdikan dalam Al Quran, membela Musa AS, langsung dibunuh sama Firaun. Sehingga 100% parlement dan pemerintah semua loyalist dia saja, orang dia saja, ini yang Firaun banggakan. Begitu pula di kisah-kisah yang lain. Sebagaimana Qorun yang bangga dengan hartanya, Kaum Tsamud bangga dengan Teknologi Bangunannya, Kaum Saba bangga dengan pertaniannya, Kaum Ad bangga dengan fisiknya seperti negara adidaya. Kapan satu negara dikatan adidaya, ketika mereka mempunyai 3 hal ini :

  1. Atabnuuna bikulli rii’in ayatan tab’asun : “Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi / lembah2 untuk kemegahan tanpa ditempati (hanya untuk mainan saja). “ (26:128)

Maksudnya bangunan tinggi itu menjadi simbol suatu negara. Seperti Indonesia punya Monas, malaysia tidak mau kalah bikin menara kembar pencakar langit yaitu gedung petronas. Amerika juga bikin WTC salah satu gedung tertinggi di dunia. Perancis bangga dengan menara Eiffel nya. Dubai juga gak mau kalah bikin gedung tertinggi di dunia Burj Khalifah. Semua negara bangga jika mempunyai gedung-gedung yang tinggi. Tapi apa kata Allah swt : tab’asun, itu semua akan berakhir dengan kesia-siaan.

  1. watattakhidzuuna Mashooni’a la’allakum takhludun : “dan kamu membuat Benteng2 (Pabrik2) dengan maksud supaya kamu kekal (di dunia)?” (26:129)

Maksudnya mendirikan pabrik-pabrik yang bisa mengolah bahan mentah menjadi bahan jadi. Sekarang namanya teknologi yang bisa bikin terkenal sampai-sampai ada made in jepang, made in amerika, made china. Dulupun juga begitu mereka berlomba buat benteng / pabrik / teknologi agar bisa dikenal. Sekarang juga masih begitu dengan hasil hasil rekayasa teknologi atau pabrik pingin dikenal diseluruh dunia. Ini perlombaan yang masih sama dulu dan sekarang.

  1. Waa idza bathostum bathostum jabbar : “Dan apabila kamu menyerang, maka kamu menyerang dengan kekuatan yang begitu hebat.” (26:130)

Maksudnya negara akan merasa hebat kalau punya senjata dan militer yang kuat. Dulu cuman punya pisau sekarang berkembang sudah punya pistol. Peralatan perang berkembang dari AK senjata api sampai Stingger penghancur pesawat, lalu ada tank-tank baja, macam-macam kekuatan militer. Ini perlombaan yang dimiliki setiap negara yaitu memperkuat militernya gak mau kalah dari negara lain. Bangga kalau punya senjata canggih yang bisa menghancurkan musuh.

Inilah ke 3 ciri negara adidaya. Kaum Ad memiliki semua namun apa kata Nabi Hud AS yang benar itu adalah : “Takutlah kepada Allah swt dan ikuti aku.”

Jadi semua kaum mempunyai perkara yang mereka banggakan.

Nabi saw sabdakan :

“Setiap kaum mempunyai kebanggaan. Sedangkan kebanggaan Umatku ini adalah Al Quran.”

Contoh :

Jika saya mau melamarkan santri saya yang terbaik dan saya sayangi, sudah Hafidz, Alim. Dan Dai pula. Lalu ketika saya pergi melamar untuk santri saya ketemu orang tua gadis yang akan dilamar. Si orang tua gadis tersebut berkata, “Alhamdullillah ustadz saya punya mantu 4 orang : ada yang mantan presiden, ada yang jendral polisi, ada yang pengusaha sukses, ada yang dokter, tapi Kalo dengan santri saya ragu bisa gak dia menafkahi purti saya.” Kira-kira apa yang akan terjadi…… wassalamaualaikum, tidak jadi melamar. Kenapa ? karena kini kita tidak paham nilai Al Quran dan Islam.

Nabi Saw katakan bahwa kebanggan umatku ini Al Quran, tapi anehnya kita tidak bangga kepada Al Quran, tidak bangga dengan islam. Maka Maulana Umar Phalampuri Rah.A katakan ada 3 yang menjadikan islam itu, Ya’lu wala Yu’la alaih : Islam itu Tinggi (Mulia/Unggul) dan Tidak ada yang bisa melampaui tingginya (Mulianya/Unggulnya) Islam. Apa 3 hal tersebut ? yaitu apabila kita mampu mewujudkan 3 madrasah dalam kerja dakwah kita ini :

  1. Madrasah Tahfidz
  2. Madrasah Taklim / Ilmu
  3. Madrasah Khuruj Fissabillillah

3 madrasah inilah yang dihidupkan di mesjid Nabawi, sehingga umat islam ketika itu mampu menjadikan Quran dan Islam sebagai kebanggaan. Baru nanti islam akan nampak sebagai agama Ya’lu wala Yu’la alaih, Tinggi dan Tidak Tertandingi Ketinggiannya. Islam itu sudah tinggi tapi jika ini dihidupkan 3 madrasah ini, maka kita akan melihat orang-orang berjalan dengan sunnah Nabi saw tidak ada rasa malu bahkan bangga.

  1. Kita akan lebih bangga pakai siwak Rasullullah saw daripada siwak Yahudi
  2. Kita akan lebih bangga pakai pakaian sunnah nabi saw daripada pakai pakaian ala Nasoro/Nasrani.
  3. Kita akan lebih bangga pakai sorban daripada pakai kopiah koboi.

Kapan pemandangan ini bisa kita lihat ? yaitu jika kita hidupkan 3 madrasah yang ada di mesjid Nabawi.

  1. Hidupkan Madrasah Tahfidzul Quran disetiap Mesjid harus ada
  2. Hidupkan Madrasah Majelis Ilmu disetiap mesjid harus ada
  3. Hidupkan Madrasah Dakwah : Maqomi dan Intiqoli, di setiap mesjid

Kini Maulana Saad sering mentarghibkan tentang pentingnya membuat maktab-maktab tahfidz quran sebagai bagian dari mewujudkan amal maqomi. Ini diperlukan agar setiap orang ada wadah untuk mempelajari Lafadz-lafadz Al Quran. Apalagi kini anak-anak yang tidak ada pendidikan pesantren bisa belajar dari maktab-maktab tahfidz quran sehingga ketika dia membaur disekolah umum Quran masih melekat di fikiran dan hati anak kita. Selain Maktab Tahfidzul Quran maka perlu kita wujudkan Madrasah Deeneyat untuk melatih anak-anak kita. Jadi tidak hanya quran yang anak kita pelajari tapi sunnah-sunnah nabi saw sehari-hari berikut adab dan doanya. Sehingga jika ini berhasil kita wujudkan di pendidikan anak-anak kita, nanti anak anak kita tidak hanya ahli ilmu dunia tapi ahli ilmu agama juga, hafidz juga, alim juga. Ada presiden tapi hafidz quran, ada Dokter tapi hafidz quran, ada insinyur tapi hafidz quran, inilah yang mau kita bentuk dari anak-anak kita. Di india, pakistan, banglades boleh dikatakan jarang ada orang yang Alim tapi tidak hafidz quran. Bahkan bukan hanya alim, orang awamnya dan cendikiawannya kayak dari polisi, insinyur, dokter, banyak yang hafidz juga. Kalo kita disini ulama yang hafidz masih sangat jarang, apalagi orang awamnya. Justru disini orang awamnya hafidz Koran, bukan Quran. Maka melalui kerja ini, kita ingin mewujudkan madrasah-madrasah dan pondok tahfidz Quran. Ini sangat penting di wujudkan di mahalah kita, sehingga ada imam yang hafidz dan ada beberapa santri.

  1. Mewujudkan Madrasah Tahfidz Quran

Untuk apa madrasah tahfidz Quran ini ?

“Untuk menjaga lafadz-lafadz Quran”

Untuk apa madrasah tahfidz Quran ini : “Untuk menjaga lafadz-lafadz Quran daripada perubahan-perubahan”

Jaminan dari Allah swt :

innaa nahnu nazzalnaa aldzdzikra wa-innaa lahu lahaafizhuuna

Artinya :

“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya” (15 : 9)

Jadi Al Quran ini Allah swt yang menjaganya, ini sudah menjadi jaminan dari Allah swt. Namun ASBAB yang Allah swt pilih untuk menjaganya adalah didalam dada atau hati-hatinya orang beriman : Fi Shudur Rijal. Sebagaimana Rizki telah dijamin oleh Allah swt, namun asbab datangnya Rizki Allah swt telah pilih dari pertanian, perdagangan, perkebunan, dll. Sampainya rizki berupa ikan Allah swt pilih asbabnya yaitu dengan adanya nelayan-nelayan yang kerja di laut. Begitu juga Rizki berupa Nasi asbab adanya petani-petani yang bekerja di sawah. Allah swt mampu kasih turunkan rizki langsung tanpa perantara, namun untuk asbab Allah swt telah pilih perantara-perantara datangnya Rizki seperti petani, pedagang, nelayan, dan sebagainya.

Jadi yang memelihara Quran itu siapa ? Allah swt, namun Allah swt pilih asbabnya yaitu adanya Hafidz-Hafidz Quran. Allah swt telah wujudkan di setiap zaman Al Quran terpelihara asbab adanya Hafidz-hafidz Al Quran. Bahkan satu-satunya kitab yang bisa di hafal adalah Al Quran. Hari ini zabur tidak ada yang hafal, begitu juga Taurat, dan Injil tidak ada penghafalnya. Tidak ada satupun hari ini yang hafal dari kitab-kitab tersebut, Injil, Taurat, dan Zabur. Jadi satu-satunya kitab yang bisa dihafal dan terpelihara adalah apa ? Al Quran. Bahkan untuk sekelas kitab KUHP pun seorang mentri atau professor tidak akan hafal kata per kata dari kitab KUHP sekalipun.

walaqad yassarnaa alqur-aana lildzdzikri fahal min muddakirin

Artinya :

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (54:17)

Allah swt sudah buat Al Quran ini agar mudah untuk dihafal. Hari ini berapa banyak anak yang umur 10 tahun sudah hafal Quran 30 juz. Bahkan ada yang sudah umur 7 tahun sudah hafal Quran 30 juz. Imam Syafii Rah. A hafal quran 30 juz umur 7 tahun. Coba kini kita buat kitab 100 halaman, kita sendiri yang buat, bisa gak hafal ? tidak bisa kita hafal. Inilah mukjizat Al Quran yaitu mudah untuk dihafal. Sehingga kalau imam sholat salah bacaannya, hari ini banyak yang bisa mengingatkan dalam sholat. Inilah yang harus jadi target kita dalam maqomi kita yaitu mewujudkan madrasah Tahfidz Quran agar terpelihara lafadz-lafadz Al Quran.

  1. Mewujudkan Madrasah Pondok Pesantren

Untuk apa kita mewujudkan pondok pesantren ?

“Untuk menjaga daripada Makna-makna Al Quran.”

Mewujudkan Madrasah Al Ma’id Ad deeniyat yaitu pondok-pondok pesantren yang mengaji kitab kuning, Al Ma’id As salafiyah.

Untuk apa buat pondok pesantren ini : Menjaga Makna Quran dari pemikiran-pemikiran.

Dianjurkan hidup taklim disetiap musholla namun untuk pesantren kitab kuning tidak harus disetiap musolla, cukup tingkat kecamatan. Bagaimana setiap kampung ada pesantren atau cukup tiap wilayah walikota di kota-kota besar. Jadi fikir kita bagaimana disetiap kampung dan kota besar ada pesantren-pesantren yang mengaji kitab kuning. Kenapa ? ini karena keterbatasannya alim ulama. Mengkaji kitab ini dibutuhkan Alim Ulama untuk mengajarkannya. Sehingga dengan adanya pondok pesantren ini maka makna-makna Al Quran tidak bisa diselewengkan. Tanpa adanya pondok pesantren nanti makna yang ada dalam al quran ini akan diselewengkan atau dibelokkan kemana-mana. Contoh dulu di indonesia partai-partai menggunakan ayat-ayat Quran untuk mencari dukungan politik. Partai Islam pakai ayat quran dan partai non islam juga mengandalkan ayat quran. Apa yang terjadi ? politisi menyelewengkan makna-makna Al Quran untuk mencari dukungan. Ayat-ayat Quran telah dibawa kesana kemari, tidak mengikuti makna yang seharusnya, asbab adanya pemikiran-pemikiran yang punya kepentingan. Inilah pentingnya adanya pondok pesantren untuk meluruskan daripada makna-makna AL Quran tersebut.

Para Hafidz Quran membaca Lafadz-lafadz Quran, tetapi yang meluruskan maknanya adalah para Alim Ulama, atau Kyai Pondok.

Dengan adanya para kyai tersebut kita akan memahami makna Al Quran. Jika tidak ada para Kyai ini maka nanti apa yang terjadi ? setiap orang akan membelokkan makna-makna quran tersebut menurut kepentingannya. Presiden membacakan ayat quran lalu tafsirnya menurut dia saja, begitupula gubernur, bupati, dll. Sehingga Quran dimaknai menurut kemauannya sendiri dan pemikirannya saja. Mereka semua baca quran dengan lafadznya tetapi maknanya ditafsirkan menurut kemauannya sendiri. Maka untuk menjaga makna Al Quran agar tidak selewengkan perlu kita pertahankan eksistensi pondok pesantren.

  1. Mewujudkan Madrasah Khuruj Fissabillilah

Untuk apa kita mewujudkan Madrasah Khuruj Fissabillillah ?

“Agar setiap orang ini mau mengamalkan dan memahami isi daripada Al Quran”

Madrasah Khuruj Fissabillillah ini diwujudkan agar ada sarana tarbiyah bagi ummat dalam memahami agama secara bertahap-tahap. Sarana ini bukan hanya untuk hafidz atau alim saja, bahkan semua orang bisa mengikutinya. Ini perlu kita wujudkan di mahalah kita agar ummat mempunyai sarana untuk bisa memahami Agama dan beramal sesuai petunjuk Al Quran. Dengan madrasah khuruj fissabillillah ini akan terjadi peningkatan Agama secara bertahap-tahap dalam kehidupan ummat. Jadi khuruj ini juga merupakan madrasah yaitu sarana tarbiyah, pembelajaran, bagi ummat. Khuruj ini adalah madrasah namanya Madrasah Mutanakkilah, Madrasah yang berpindah-pindah atau pesantren berjalan.

Inilah ke 3 target yang harus kita usahakan agar terwujud dalam Maqomi kita. Dan ketiga-tiganya ini juga wujud di jaman Nabi saw.

Dalam Hikayatus Sahabah Tafsir Ibnu Abbas RA :

wamaa kaana almu/minuuna liyanfiruu kaaffatan falawlaa nafara min kulli firqatin minhum thaa-ifatun liyatafaqqahuu fii alddiini waliyundziruu qawmahum idzaa raja’uu ilayhim la’allahum yahtsaruuna

Artinya :

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At Taubah : 122)

Beliau Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini ada 2 sisi dan keduanya berlaku :

  1. Sahabat yang melakukan perjalanan : Ghozwah
  2. Sahabat yang tinggal tidak ikut dalam perjalanan : Sariyyah

Dulu sebelum islam masih sedikit belum tersebar, perintahnya semua orang islam harus berangkat Jihad Fissabillillah. Namun ketika islam sudah besar dan tersebar dimana-mana, maka diberikan Rukhsoh, keringanan, tidak harus semuanya berangkat perang, atau jihad. Hendaklah ada yang tidak pergi, dengan kata lain ada yang pergi dan ada yang tidak pergi. Maksudnya cukup sebagian yang pergi untuk belajar atau mempejuangkan agama.

  1. Ghozwah : Sahabat yang pergi menyebarkan agama dan belajar agama bersama Nabi SAW.

Contoh : Ayat Tayamum ini turunnya dalam perjalanan Nabi saw. Yaitu ketika Nabi saw pergi dalam suatu perjalanan, tiba-tiba kalung Aisyah jatuh hilang. Nabi Saw perintahkan untuk stop perjalanan dan mencari kalung Aisyah R.ha. Ketika itu targetnya dalam perjalanan sholat subuh di madinah air banyak disana. Namun ketika istirahat mau berangkat jalan, tiba-tiba Aisyah r.ha infokan kepada Nabi saw bahwa dia telah kehilangan kalungnya. Maka semua sahabat yang ikut Nabi saw mencari kalung tersebut, dan lama mencarinya. Sehingga asbab lama mencari para sahabat harus menetap, namun buat sholat air wudhu tidak ada. Akhirnya ketemu dibawah onta nya aisyah r.ha.

Note : Ada 2 peristiwa Aisyah R.ha kehilangan kalungnya. Kalo orang yang otaknya keblinger akan berpikir kenapa tidak di ikhlaskan saja itu kalung bikin repot jemaah saja. Bukankah Allah swt sudah menawarkan Gunung jadi emas kepada Nabi saw, masa masalah kalung saja jadi merepotkan semua orang. Mulai mengkritik Nabi saw, cari-cari kesalahan Nabi saw.

Jawabannya :

Kenapa Nabi saw suruh mencari kalung tersebut ? karena ini kalung bukan punya Aisyah R.ha tetapi punya Asma R.ha. yang dipinjam. Wanita ini fitrahnya berdandan. Mau perjalanan gak punya kalung, maka pinjam sama kakaknya. Jadi karena ini pinjaman jatuhnya AMANAH, harus dikembalikan. Itulah sebabnya Nabi saw perintahkan cari kalung tersebut sampai ketemu. Agar kalung tersebut, amanah tersebut, bisa dikembalikan kepada Asma R.ha.

Begitu pula dalam dakwah ini jangan sembarangan.

Contoh : Kita pinjam motor buat takaza agama khususi orang, mau usuli satu orang teman mau ke IPB. Dalam perjalanan motor dicuri, lalu kita sampaikan kepada yang punya motor : “Maaf yah pak motor bapak hilang, tolong di ikhlaskan, mudah-mudahan pengorbanan bapak diterima Allah swt.” lalu kita pulang begitu saja.

Jawabannya :

Tidak bisa seperti itu penyelesaiannya. Walaupun motor hilang asbab memenuhi takaza agama. Lalu kita tidak ngurusi motor dia yang hilang asbab kita pakai buat takaza agama. Motor hilang ini justru tanggung jawab anda yang meminjam motor tersebut, mencari sampai motor itu ketemu. Jika tidak ketemu, sudah usaha, ganti motor tersebut. Sampaikan, “Pak Mohon maaf saya sudah mencari kesana kemari motor bapak tidak ketemu, tapi Saya akan ganti motor bapak dengan uang setara motor tersebut.” Kalo bisa cash kepada dia atau bisa dengan izin cicil kepada dia. “Maaf pak saya sudah cari tapi tidak ketemu, saya janji akan bayar motor bapak tapi gak bisa sekaligus dengan cicilan.” Harus begini solusinya.

Ini pelajaran dari Nabi saw cara menyelesaikannya seperti itu. Pinjam kopiah lalu hilang. Minta maaf kepada yang punya kopiah tanpa mengganti kopiahnya ? tidak bisa kayak gitu, ganti kopiah yang hilang dengan kopiah yang baru. Harus begitu caranya. Inilah syariat yang diajarkan oleh Nabi kita Muhammad Saw.

Maka dicari itu kalung Aisyah R.ha sampai ketemu oleh Nabi saw dan sahabat yang dalam perjalanan ketika itu, karena milik orang lain. Kembalikan milik orang tidak bisa minta di ikhlaskan begitu saja tanpa ada kompensasi dan usaha mencari. Inilah ajaran Nabi saw, Muasyarah harus betul dan muamalahpun juga harus betul.

Begitu juga kini banyak kawan-kawan tidak ikut lagi dalam dakwah asbab dimarahi istrinya. Kenapa istrinya marah ? asbab muamalah dan musyarah kita yang tidak betul merugikan orang lain. Tadinya istrinya mendukung, tapi asbab buruknya muamalah dan muasyarah dengan ahbab / karkun jadi menentang sekarang.

Kasus : kita pinjam motor ahbab buat takaza. Musim hujan motor jadi kotor dan becek. Tapi dapat taskilan 1 jemaah IPB. Lalu kita pulangkan motor kerumah dia masuk gerasi dalam keadaan motor kotor dan becek sehingga mengotori gerasi. Kita sampaikan kepada dia, “alhamdullillah asbab pengorbanan bapak kita dapat satu jemaah cash kep IPB”. Keesokan harinya istrinya mau berangkat ke kantor, dilihat motor kotor dan gerasi jadi becek sama bekas roda motor. Maka istrinya nanya ke bapak : “Ini siapa yang pakai sepeda motor pak kok jadi kotor begini dan gerasi jadi becek begini.” Lalu bapak itu bilang, “alhamdullillah asbab motor dipakai karkun kemarin memenuhi takaza 1 jemaah bisa berangkat ke IPB, itu pahala kan ke kamu juga.” Maka si istri bilang, “Saya gak tanya pahala, yang saya tanyakan siapa yang pinjem sepeda motor ini tapi gak dibersihin motornya dan mengotori gerasi kita ! saya sudah capek-capek bersihin gerasi kemarin kok pagi-pagi udah kotor lagi gerasinya dan motor nya juga.” Kita bilang kemarin yang pakai si fulan yang pakai sorban dan rajin sholat ke mesjid. Maka si istri bilang,”Mulai hari ini bapak jangan ikut mereka lagi yang tidak berperasaan dan tidak bertanggung jawab.”

Banyak kasus asbab ketidak beresan sikap karkun dalam bermuamalah dan bermuasyarah. Pinjam sepeda motor dalam keadaan bersih dikembalikan dalam keadaan kotor, tidak amanah. Disana mungkin jadi asbab hidayah tapi disini jadi asbab hilangnya hidayah. Asbab ketidak beresan dia dalam menjaga amanah, muamalah, dan musyarah, menyebabkan terhentinya orang lain dari kerja dakwah.

Maulana Ihsan di raiwind sampaikan nanti setiap dai ini akan dihisab oleh Allah swt, jangan buru-buru masuk surga. Apa yang di hisab ? akan dihisab dari dirinya berapa taskilan dia dan berapa orang yang terpental atau terhalang hidayah asbab dia. Taskilan dia boleh sekian banyak tapi orang yang terpental atau terhalang dari hidayah asbab dia berapa ?

Berapa banyak kasus dalam dakwah ini orang terpental dari dakwah dan terhalang dari hidayah asbab :

  1. Hutang tidak dibayar
  2. Amanah tidak dijaga
  3. Ucapannya menyakiti orang lain

Banyak kasus dalam dakwah ini orang terhalang hidayah dan berhenti dari dakwah asbab muamalah dan muasyarah karkun ini tidak benar.

Setelah kalung Aisyah r.ha ketemu, tapi waktu sholat sudah mau tiba sedangkan madinah masih jauh dan air tidak ada. Maka para sahabat ra gelisah, mau sholat air wudhu tidak ada. Akhirnya pelampiasan marahnya mereka para sahabat ke Abu Bakar Ashiddiq RA. Mereka bilang, “Gara-gara anak kamu nih kita tidak bisa sholat, tidak ada air buat wudhu.” Sedangkan sahabat ra tidak berani marah ke Nabi saw. Abu bakar pun akhirnya marah juga ke aisyah r.ha. gara-gara kamu aisyah bikin susah semua orang. Aisyah r.ha pun menangis karena merasa bersalah dan bikin susah semua orang. Dia aisyah r.ha merasa berdosa asbab dia semua orang jadi tidak bisa sholat. Aisyah r.ha pun berdoa kepada Allah swt jangan sampai orang-orang tidak bisa sholat gara-gara dia kehilangan kalung. Asbab kerisauan Aisyah r.ha dan para sahabat ini tentang perkara sholat, dan asbab tangisan dalam doa aisyah r.ha yang sungguh-sungguh, akhirnya Allah swt turunkan ayat mengenai perkara Tayammum kepada Nabi kita Muhammad saw. Langsung nabi saw yang sedang berbaring langsung bangun menyampaikan perintah Tayammum yang Allah swt berikan kepada ummat ini. Mendapatkan kabar ini maka semua sahabat ra gembira betul, ada jalan keluar bahwa selain air ada tayammum sebagai pengganti jika air tidak ada. Umat terdahulu tidak ada tayammum, perintah tayammum ini hanya untuk ummat Nabi saw.

  1. Ummat terdahulu ibadah harus ditempatnya tidak bisa ditempat lain
  2. Kalau Baju kena najis digunting tidak bisa dipakai lagi, tidak dicuci.

Namun ummat ini karena di fitrahkan untuk bergerak kemana-mana sehingga jangan takut :

  1. Bumi ini bisa dijadikan tempat ibadah, tidak harus di tempat ibadah.
  2. Tidak ada air, bisa tayammum.
  3. Baju kena najis bisa dicuci tidak harus digunting.

Inilah keutamaan ummat Nabi saw asbab geraknya mereka. Sehingga para sahabat ra sangat bergembira mendapatkan perintah Tayammum ini. Lalu mereka tadinya marah, kini memuji Abu Bakar RA, “wahai Abu Bakar memang keluarga kamu ini lain daripada yang lain, Allah swt senantiasa melimpahkan rahmatNya kepada keluarga kamu ini.”

Jadi ayat Tayammum ini dipelajari ketika kapan ? saat keluar dijalan Allah swt. Sehingga ketika mereka pulang bersama Nabi saw dari fisabillillah mereka sampaikan dan ajarkan perintah baru tersebut kepada yang ada di madinah. Banyak perintah syariat yang Allah swt turunkan ketika pergi di jalan Allah swt :

  1. Turunnya perintah Sholat Khauf
  2. Turunnya perintah sholat Qashar
  3. Turunnya perintah Tayammum

Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang turun ketika sahabat ra melakukan perjalanan bersama Nabi saw.

  1. Sariyyah : Sahabat yang tidak pergi dijalan Allah swt, sedangkan Nabi saw tidak ikut bersama rombongan Fissabillillah.

Maka yang tinggal dimadinah bersama Nabi saw, mereka tetap tafakkuh fiddin, belajar agama bersama Nabi saw. Ketika sahabat pergi fissabillillah, wahyu turun dimana ? bersama Nabi saw. Dimana Nabi saw ketika itu ? di madinah. Nabi saw ketika itu tidak ikut rombongan fissabillillah maka sahabat yang belajar bersama Nabi saw di Madinah ini namanya Sariyyah. Tatkala rombongan fissabillillah kembali, yang tinggal bersama Nabi untuk belajar, mereka menyampaikan dan mengajarkan kepada mereka yang baru datang dari fissabillillah.

Jadi Tafsir dari ayat ini :

“Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At Taubah : 122)

maksud dari pada orang kenapa dia tinggal dan kenapa dia pergi, dua-duanya tepat sasaran. Ayat al Quran yang menjelaskan perkara ini dua-duanya tepat dan tidak ada khilafiyah. Ada manfaatnya buat yang pergi fissabillillah dan buat yang tinggal di Maqomi.

Inilah kepentingan daripada kita membuat madrasah yang ke tiga ini, madrasah khuruj fissabilllah. Selain dibuat dijaman Nabi saw, kitapun juga akan mendapatkan manfaat jika ikut dalam madrasah khuruj fissabillillah. Bahkan dikisahkan dalam hikayatus sahabah bahwa sahabat-sahabat yang pergi fissabillillah ini, iman mereka menjadi bertambah kuat.

Hari ini ada pertanyaan yang timbul :

“Ini kenapa kok santri dan kyainya pada disuruh keluar ? bukannya disuruh belajar di pesantren kok malah disuruh pergi-pergi khuruj ?”

Sehingga ada orang kaya asbab ikut dakwah jadi semangat pingin bangun pesantren, lalu mencari kyai-kyai yang ikut dakwah agar mau menjadi pengajar di pesantrennya yang dia buat. Tapi pas malam jumat, mau ke markaz untuk ijtimaiyat amal, malah dilarang dengan alasan kalau kyai pergi ke markaz siapa yang jaga santri, apalagi untuk keluar 3 hari, 40 hari, apalagi 4 bulan. Ini berarti orang kaya tersebut tidak memahami tujuan dibuatnya pondok pesantren tersebut.

“Tujuan Membangun Pesantren ini adalah untuk menopang Dakwah bukan untuk menghentikan Dakwah.”

Maka pesantren-pesantren yang dibuat tapi menghalangi kerja dakwah umurnya tidak akan lama. Pesantren yang dibuat tapi tidak memahami tujuan dibuatnya pesantren itu untuk apa, ini umurnya tidak akan lama, pasti bubar. Jadi 3 madrasah ini harus seirama dan berjalan bersama-sama :

  1. Madrasah Tahfidzul Quran
  2. Madrasah Pondok Pesantren
  3. Madrasah Khuruj Fissabillillah

Jangan ketiga madrasah ini saling menghalangi justru harus saling mendukung satu sama lain. Jadi jangan sampai madrasah khuruj fissabillillah ini terhenti asbab pondok pesantren ataupun maktab tahfidzul quran. Begitu pula sebaliknya, jangan sampai kyainya keluar dakwah terus, sampai-sampai santrinya tidak ada yang mengajar lagi. Asbab tidak ada kyai yang mengawasi, asbab sibuk ambil takaza, akhirnya santri bukannya mengaji kitab kuning malah bermain kartu kuning. Jadi ketiga-tiganya harus jalan bersama-sama dengan pengaturan yang baik.

Kenapa para kyai, santri, polisi, tentara, cendikiawan, orang awam harus keluar ?

Maulana Umar Phalampuri Rah.A :

“Adalah para sahabat-sahabat Nabi saw mempelajari lafadz-lafadz iman di dalam mesjid. Sedangkan mereka mempelajari Hakikat iman itu dilapangan.”

Jadi ada 2 perkara yang disampaikan Masyeikh kita Maulana Umar Phalampuri Rah.A :

  1. Belajar Lafadz iman itu di Mesjid
  2. Belajar Hakikat Iman itu di Lapangan

Apa itu Lafadz iman :

  1. La illaha ilallah ini Lafadz Iman
  2. Fayardzukhu min haisu layahtasib ini lafad iman

Belajarnya dimana lafadz iman ? di mesjid bersama Rasullullah saw. Namun ketika para sahabat ini khuruj, pergi dijalan Allah, maka mereka belajar Hakikat Iman. Dari Lafadz menjadi Hakikat dimana dipelajarinya ? ketika Khuruj Fissabillillah.

Kisah Musa AS

Bagaimana Allah swt mengajar Nabi Musa AS ? setelah diangkat menjadi Nabi, Allah swt sampaikan kepada Musa AS :

wa-anaa ikhtartuka faistami’ limaa yuuhaa

artinya :

“Dan Aku telah memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu)” (20:13)

Fastami’ lima yuha : “Dengarkan pelajaran ini”

Disini siapa yang ngajar : Allah swt

Siapa Santrinya : Nabi Musa AS

Dimana Pesantrennya : Lembah Suci Thuwa

tsumma ijtabaahu rabbuhu fataaba ‘alayhi wahadaa

Artinya :

“Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu; sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci, Thuwa.” (20:12)

Pondoknya Nabi musa ini pondok yang keramat, suci, pakai sendal aja tidak boleh. Duduk di madrasah yang suci, yang jadi Gurunya adalah Allah swt, dan santrinya adalah Nabi Musa AS. Inilah adab belajar ilmu yang diajarkan dalam al quran.

Pelajarannya Apa ?

innanii anaa allaahu laa ilaaha illaa anaa fau’budnii wa-aqimi alshshalaata lidzikrii

Artinya :

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. “(20:14)

Apa yang dipelajari Musa pertama kali ? Lafadz Iman, pelajaran Tauhid. Puncak dari semua pelajaran adalah Tauhid. Belajarnya dimana ? di pesantren. Apa yang dapat kita pelajari dari sini :

  1. Pelajaran pertama dan paling utama adalah Tauhid
  2. Belajarnya di pesantren

Pertanyaannya :

Apakah dengan belajar di pesantren tadi sudah cukup bagi Musa AS, dimana gurunya adalah Allah swt langsung ?

Gurunya adalah Allah swt, Santrinya adalah Musa AS, Pondoknya Lembah Suci, Pelajarannya adalah Tauhid. Apakah Hakikat sudah bisa didapat ? belum karena yang baru dipelajari Musa AS adalah Lafadz Iman belum Hakikat Iman. Maaf pelajaran ini bukan dimaksudkan untuk mengecilkan Nabi Musa AS, tetapi kita ingin memetik pelajaran dari kisah tersebut atas pentingnya madrasah khuruj fissabillillah. Jadi Musa AS sudah belajar Lafadz Iman tapi belum Hakikat Iman karena untuk mendapatkan Hakikat Iman ini Allah swt menceritakan perjalan Nabi Musa AS yang terjun kelapangan. Jadi kisah ini disampaikan tidak untuk mengecilkan Allah swt sebagai guru, ataupun Musa sebagai santri, atau Lembah suci thuwa sebagai pondok pesantren. Namun pelajaran apa yang bisa kita ambil dari Al Quran terhadap kepentingan dari Madrasah Khuruj Fissabillillah.

Melalui kisah ini yang Allah swt abadikan di Al Quran, Allah swt ingin mengajarkan kepada kita tentang pentingnya pergi ke lapangan untuk mendapatkan Hakikat Iman. Maka setelah belajar di pesantren tadi Nabi Musa AS sebagai santri, Allah swt uji. Ujian di pesantren kitapun juga ada untuk menilai hasil pelajaran yang didapat santri tersebut. Jadi di indonesia ini bahkan ada pesantren yang memberikan ujian setahun 2 kali. Nah dalam kisah inipun Nabi Musa AS di uji Allah swt di pondok pesantren lembah suci thuwa.

Bagaimana Ujiannya :

wamaa tilka biyamiinika yaa muusaa

Artinya :

“Apakah yang ada di tangan kananmu, wahai Musa ?” (20:17)

ini pertanyaan ujian dari Allah swt kepada Musa AS yang menjadi santri belajar Tauhid di pondok Lembah suci Thuwa. Apa jawab Musa AS :

qaala hiya ‘ashaaya atawakkau ‘alayhaa wa-ahusysyu bihaa ‘alaa ghanamii waliya fiihaa maaaribu ukhraa

Artinya :

Dia (Musa) berkata, “Ini adalah tongkatku, aku bertumpu padanya, dan aku merontokkan (daun-daun) dengannya untuk (makanan) kambingku, dan bagiku masih ada lagi manfaat yang lain.” (20:18)

Pelajaran :

Disini Nabi Musa AS yang sudah belajar Tauhid dengan Allah swt, ketika di uji masih menjawab manfaat tongkatnya :

  1. untuk bertumpu ketika berjalan
  2. merontokkan daun buat makan kambingku
  3. masih banyak manfaat yang lainnya

inilah bayan atau penjelasan Nabi Musa tentang manfaat tongkat tersebut atas pertanyaan ujian Tauhid dari Allah swt. Bahkan ada ulama mesir mengarang buku tentang tongkat Nabi Musa AS. Tongkat Nabi Musa AS ini ajib, Tongkat diadu dengan Batu, dipukulkan ke batu bukan tongkatnya yang patah tapi batunya yang pecah. Ada gak di dunia ini tongkat yang bisa memecahkan batu ? tidak ada, hanya tongkatnya Nabi Musa AS. Inilah kehebatan tongkat Nabi Musa as yang dengannya Nabi Musa AS sudah mengalami kebersamaan selama bertahun-tahun sebelum diangkat menjadi Nabi. Tapi dengan tongkat tersebut Allah swt perintahkan Nabi Musa AS untuk menghajar Batu, sehingga batu pecah dan mengeluarkan 12 mata air. Dan itu tongkat mempunyai banyak sekali kelebihan dan keutamaan. Sehingga Nabi Musa ketika diuji oleh Allah swt menjelaskan banyaknya manfaat dari tongkat tersebut.

Jadi disinilah pelajaran yang harus kita ambil bahwa tatkala kita nyantri belajar tauhid di pondok saja tidak cukup harus terjun ke lapangan juga. Alim Ulama katakan disinilah ujian Allah swt kepada Nabi Musa, setelah pelajaran yang didapat, Nabi Musa belum paham dengan pelajaran Tauhid yang diberikan. Kenapa ? karen Nabi Musa AS masih mengatakan begitu banyak manfaat yang dia dapat dari tongkat tersebut. Padahal Nabi Musa AS baru belajar Nafi Itsbat : La illaha Illallah, La Nafia Illallah, tidak ada yang bisa memberikan manfaat kecuali Allah. Tapi kenapa Musa AS masih menjawab bahwa tongkatnya tersebut banyak manfaatnya ? ini lah pelajarannya bahwa hanya dengan belajar di pesantren saja Hakikat Iman belum didapat.

Kasus :

Alhamdullillah ada santri baru lulus pondok, dikatakan imannya kuat karena sudah lulus pondok terbaik belajar Iman Yakin, Tauhid uluhiyah, Tauhid Rubbubiyah, Asma wa Sifat. Tapi pas disuruh bikin pondok bingung : siapa yang nyumbang, proposalnya dikirim kemana, nyari-nyari donatur. Padahal sudah 15 tahun di pesantren, berarti belum mendapatkan Hakikat Iman, baru Lafadznya Iman.

Jadi keberadaan seseorang didalam pesantren tersebut belum bisa menafikan adanya manfaat dari mahluk dan menisbatkan manfaat hanya dari Allah swt.

“Alhamdullillah gubernur datang ke pesantren kita, presiden datang ke pesantren kita, mudah-mudah pembangunan pesantren cepat selesai.”

Berharap manfaat dari mahluk. Ini lah yang banyak terjadi saat ini. Lalu bagaimana Allah swt mengajarkan kepada Musa AS tentang manfaat tongkatnya tersebut yang Musa AS bayankan panjang lebar :

قَالَ أَلْقِهَا يَا مُوسَى

qaala alqihaa yaa muusaa

Artinya :

Allah berfirman, “Lemparkanlah ia, wahai Musa!” (20:19)

Jadi bukan diletakkan, tapi dilemparkan jauh-jauh tongkat yang memberikan manfaat tersebut. Apa yang terjadi ?

فَأَلْقَاهَا فَإِذَا هِيَ حَيَّةٌ تَسْعَى

fa-alqaahaa fa-idzaa hiya hayyatun tas’aa

Artinya :

“Lalu (Musa) melemparkan tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap dengan cepat” (20:20)

Tongkat yang memberikan manfaat berubah menjadi Ular besar yang menakutkan adapat bergerak cepat dan lincah. Ular itu biasanya kalau besar itu tidak lincah, justru yang lincah itu yang kurus dan kecil.

Kiasan :

Di kalimantan itu ular sawah itu besar-besar seperti pohon kelapa. Kalau sudah makan kambing satu jadi tidak lincah lagi, tidak bisa gerak, ditendangpun diam saja. Kalo kita lihat kita ini bulan puasa pas adzan maghrib langsung buru-buru makan sampai kekenyangan. Dari lincah ngejar buka puasa, makan sampai kekenyangan gerak aja jadi susah. Akhirnya sholat jadi malas ke mesjid, kalaupun sholat berjamaah di mesjid pakai ngantuk-ngantuk. Jadi puasa kita kayak puasa ular sawah.

Maka tatkala tongkat musa berubah jadi ular yang bergerak cepat, Musa AS langsung lari bahkan tidak nengok kebelakang lagi. Kenapa masih lari Musa AS ? padahal sudah mendapatkan pelajaran Tauhid. Ini karena Musa AS masih santri, baru belajar lafadz iman, belum hakikat iman. Seacar Lafadz Nabi Musa AS faham bahwa yang memberikan bahaya atau mudharat hanya dari Allah swt, tetapi karena belum terjun kelapangan belum dapat hakikat iman. Ular tidak bisa memberikan bahaya, tapi karena statusnya masih sebagai murid atau santri, jadi belum dapat hakikatnya, baru lafadznya. Ketika masih di Madrasah pertama (Lafadz) dan Madrasah kedua (Makna) saja belum bisa mendapatkan Hakikat Iman. Padahal Tauhid Uluhiyah, Tauhid Rububiya, Asma wa Sifat ini hafal kalo ditanyakan kepada santri dan maknanya pun bisa dia jelaskan, Tapi hakikatnya belum bisa didapatkan. Sehingga kalau melihat senjata seorang santripun bisa takut dan lari terbirit-birit. Asbab ketakutan sama mahluk berapa banyak hari ini santri mecopot jubahnya, memotong janggutnya, meninggalkan kopiahnya. Dilepas semua itu supaya jangan ketahuan kesantriannya.

Dulu ketika kami belajar di mesir, ini ada kebiasaan aneh, setiap ada penembakan kepada menteri atau ricuh asbab pembunuhan pejabat, maka semua orang berjenggot ditangkapin semua. Maka nanti diseleksi dan di interview, kalau hafal 6 sifat berarti santri yang benar, boleh dilepaskan. Namun proses interview ini memakan waktu lama sampai 4-6 bulan tahanan. Sehingga ketika terjadi kericuhan penembakan, itu santri-santri di mesir langsung mencukur jenggot mereka semua. Kecuali kawan-kawan kita dalam dakwah tidak terkesan dengan itu semua, tetap menjaga jenggot mereka.

Maka tatkala Musa lari dari ular yang besar dan lincah tersebut, Allah swt justru memerintahkan menangkapnya :

قَالَ خُذْهَا وَلا تَخَفْ سَنُعِيدُهَا سِيرَتَهَا الأولَى

qaala khudzhaa walaa takhaf sanu’iiduhaa siiratahaa al-uulaa

Artinya :

Allah swt berfirman, “Peganglah ia dan jangan takut, Kami akan mengembalikannya kepada keadaannya semula.” (20:21)

Allah swt perintahkan kepada Nabi Musa AS untuk jangan takut, pegang saja ular itu. Secara Lafadz sudah masuk tapi secara Hakikat belum masuk. Bagaimana Allah swt mengajarkan kepada Nabi Musa AS untuk mendapatkan Hakikat Iman ? terjun ke lapangan. Allah swt perintahkan kepada Nabi Musa untuk masuk ke madrasah yang ke 3 yaitu madrasah khuruj fissabillillah.

اذْهَبْ إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى

idzhab ilaa fir’awna innahu thaghaa

Artinya :

“Pergilah kepada Fir’aun; dia benar-benar telah melampaui batas” (20:24)

Jadi bagaimana untuk mendapatkan hakikat iman ? Allah swt perintahkan Musa untuk terjun ke lapangan, untuk mendakwahkan Iman. Tidak tanggung-tanggung kepada siapa Musa AS pergi berdakwah ? kepada penguasa yang dzalim dan sadis yaitu Firaun Laknatullah Alaih.

Disini perubahan Nabi Musa AS dari seorang santri yang hanya belajar Lafadz Iman, setelah ke lapangan berubah menjadi Dai yang sudah paham Hakikat Iman. Setelah apa ? dakwah kepada Firaun, terjun kelapangan untuk mendapatkan hakikat Iman. Kapan Nabi Musa AS berubah dari seorang santri menjadi seorang dai ? yaitu ketika tejun kelapangan mendakwah kalimat La illaha illallah kepada Firaun.

Firaun ketika bertemu dengan Musa, dia minta bukti kenabian Nabi Musa AS. Maka ketika itu Nabi Musa perlihatkan Mukjizatnya :

  1. Cahaya keluar dari Tangan
  2. Tongkat berubah jadi Ular

Dasar Firaun, belagak seperti jawara. Dulu kalo jawara-jawara ditantang kelahi maka dia bilang, ”Jangan lawan saya dulu lah, lawan anak buah saya dulu aja.” Begitu kalo jawara pingin menunjukkan kegagahannya. Maka begitulah perilaku firaun, mau lawan dia, “Nih lawan anak buah saya dulu kalau mau lawan saya.” Berapa anak buah firaun yang hendak manandingi Musa AS ? 80,000 tukang sihir. Satu orang lawan 80.000 orang keroyokan. 1 tukang sihir punya tongkat yg dilempar berubah menjadi 2 ekor ular. Jadi ular yang siap menerkam nabi musa dari 80.000 tukang sihir ada 160.000 ular. Namun asbab sudah jadi Dai, terjun kelapangan, Nabi Musa melihat ular itu tidak lari lagi. Dulu ketika masih santri masih lari melihat ular, sekarang setelah terjun ke lapangan berdakwah, sudah jadi dai tidak lari lagi. Dulu lihat polisi, lihat tentara, lihat preman masih suka takut, sekarang setelah jadi dai tidak takut lagi. Walaupun masih ada rasa takut tapi Musa AS tidak lari lagi. Kini pergi khususi danrem, kapolres, preman walaupun ada rasa takut tapi tidak lari lagi. Kalau dai lari ini bagaimana nanti ummat.

Mau khususi umat tapi takut, buat apa mendingan pulang aja, dai itu harus berani baru dapet hakikat Iman. Jadi mutakallim bicara kayak orang belasungkawa, jangan begitu, semangat seperti orang yang sudah lama tidak jumpa, seperti orang yang berhari raya itu mutakallim yang bagus, semangat bukan ketakutan. Jadi dai ini ketika berjaulah harus seperti merasakan hari raya. Jaulah 1 dan jaulah 2 ini adalah hari rayanya karkun. Ketika berjaulah Dai ini, dia siap-siap dulu, mandi, pakai wangi-wangian, pakai baju bagus, seperti menghadapi hari raya. Ini jaulah, bau, kucel, dan ketemu kayak bela sungkawa, gak usah jadi mutakalim kalau begitu.

Ketika para tukang sihir firaun melempar tongkat yang berubah menjadi ular, setiap 1 tongkat menjadi 2 ular sehingga terkumpul 160.000 Ular dari 80.000 penyihir firaun. Musa AS masih takut, tapi tidak lari lagi ketika melihat Ular.

fa-awjasa fii nafsihi khiifatan muusaa

Artinya :

“(Maka timbullah perasaan) muncul perasaan (takut dalam hati Musa)” (20:67)

Apa perintah Allah swt ketika itu ?

qulnaa laa takhaf innaka anta al-a’laa

Artinya :

“Kami berkata, “Jangan takut wahai Musa! Sungguh, kamu itu lebih unggul (menang) dari mereka” (20:68)

Allah swt targhib Nabi Musa AS untuk jangan takut bahwa kamu itu lebih unggul dari seluruh penyihir firaun. Maka tatkal Musa AS melemparkan tongkatnya Allah perlihatkan 1 tongkat musa hanya menjadi 1 ular saja tapi mampu mengalahkan 160.000 ekor ular penyihir firaun. Sehingga ketika melihat peristiwa itu, naik langsung Iman Nabi Musa AS. Iman bertambah dari Lafadz menjadi Hakikat. Jadi puncaknya iman seorang Dai ini tatkala dia terjun ke lapangan, menuju madrasah yang ke 3 yaitu madrasah khuruj fissabillillah.

Tatkala Musa AS mendapatkan Firaun dengan bala tentaranya sedang mengejar dia, siap membunuh, sementara didepannya lautan tidak ada jalan untuk menghindar, ombaknya juga besar.

Bani Israil itu Muridnya Nabi Musa AS ikut suluk bersama mursyidnya yaitu Nabi Musa AS berapa lama ? 30 tahun ikut suluk bersama Nabi Musa AS. Bagaimana mereka suluk, siang bani israil ini kerja rodi, sore Nabi Musa jaulah ke rumah-rumah mereka, malam hari dikumpulkan ikut dzikir dan ibadah. Berapa lama mereka melakukan itu suluk ? 30 tahun dengan mursyidnya Nabi Musa AS. Dulu mesjid gak ada, jadi Nabi Musa AS mengajarkan kepada mereka cara dzikir dan ibadah saja. Mereka mengeluhkan kepada Musa siksaan Firaun, minta solusi kekuatan dan kekayaan, dibangunkan kerajaan untuk mereka agar bisa menghancurkan Firaun. Apa jawaban dari Allah swt ? bukan disuruh bani israil ini melatih silat, atau disuruh belajar main kareta, atau disuruh belajar bom, tidak ada perintah seperti itu untuk menghancurkan firaun. Tetapi apa perintah Allah swt :

wa-awhaynaa ilaa muusaa wa-akhiihi an tabawwaaa liqawmikumaa bimishra buyuutan waij’aluu buyuutakum qiblatan wa-aqiimuu alshshalaata wabasysyiri almu/miniina

Artinya

“Dan Kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya, “Ambillah beberapa rumah di Mesir untuk (tempat tinggal) kaummu dan jadikanlah rumah-rumah itu tempat shalat, dan laksanakanlah shalat serta gembirakanlah orang-orang mukmin” (10 : 87)

Apa perintah Allah swt untuk menghadapi Firaun ? buat amal perbaiki hubungan ke langit yaitu kepada Allah swt. Caranya : cari rumah tempat suluk untuk dzikir dan sholat. Kumpulkan Bani Israil dimalam hari di rumah-rumah tertentu buat dzikir dan ibadah, suluk. Dan jadikan rumah itu tempat suluk, tempat sholat, mesjid tidak ada Jadi ketika itu hanya ini tugas Musa yaitu jaulah cari tempat buat dzikir dan sholat, suluk, sudah itu selesai. Berapa lama mereka melakukan suluk Bani Israil ini ? 30 tahun gak main-main, mursyidnya siapa ? Nabi Musa AS. Suluk ini bagus buat tazkiyah, Bani Israil dibawa suluk malam hari dzikir dan sholat yang lama, dipimpin oleh Nabi Musa AS. Kapan dzikir kita ini menjadi bener tatkala dzikir ini mampu menguatkan dakwah. Mengapa nabi saw diperintahkan untuk mendirikan tahajjud dimalam hari untuk apa ? untuk dakwah disiang hari.

Yaa ayyuhaal muzzammil Qumillaila illaa qaliilaa : “Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, sedikit saja untuk tidur.” (73 : 1-2)

Kenapa Nabi saw diperintahkan untuk bangun malam cukup seidikit saja untuk tidur, buat tahajjud panjang-panjang ? ini karena disiang harinya apa yang akan dihadapi Nabi saw :

Inna laka fiin nahaari sabhan thawiilaa : “Sesungguhnya kamu pada siang hari seperti berenang di lautan manusia.” ( 73:7)

Jadi Allah swt perintahkan dimalam hari buat hubungan dengan Allah swt dengan ibadah, sebagai persiapan. Persiapan untuk apa ? menghadapi banyaknya urusan dakwah, seperti sedang berenang ditengah lautan, tidak boleh berhenti nanti tenggelam. Jadi dzikir itu untuk menguatkan dakwah. Jangan sampai setelah ikut dzikir, ikut suluk, justru malah melemahkan dakwah. Waktunya jaulah malah izin amir tidak ikut, alasan harus menyelesaikan dzikir yang 10.000 belum selesai, biar orang lain aja yang jadi mutakallim. Jadi dzikir dia ini malah melemahkan dakwah dia, padahal peranan dzikir itu untuk menguatkan dakwah. Padahal kalau dzikir ini dikerjakan di rumah dia hanya mendapatkan 10.000 saja, tapi kalau dibawa ke medan dakwah maka dikali 700.000 kali. Lebih hebat lagi kalo dakwahnya dibawa menyebrang lautan dikali 10 kali lagi 700.000 x 10 jadi 7.000.000 kali derajatnya dzikirnya. Setiap lautan yang dia lewati untuk medan dakwah maka dikali 10 kali lipat disampaikan Nabi saw. Nabi saw sampaikan Pusingnya orang yang melintasi laut itu setara dengan tetesan darah seorang syahid di daratan. Jadi dzikir ini untuk menguatkan dakwah

Namun tatkala dzikir ini belum dibawa kemedan dakwah, apa yang terjadi ? Tatkala Bani Israil dihadapkan kepada situasi dikejar firaun dan bala tentaranya dibelakang sementara didepan laut, ombaknya keras. Apa kata Bani Israil :

لَمُدْرَكُونَ إِنَّا

Inna Lamud rokun : Celaka kita kekejar oleh Firaun (26:61)

Asbab Dzikir, ikut suluk, tapi belum dibawa ke medan dakwah, Bani Israil masih panik, ketakutan sama Firaun dan bala tentaranya. Bani Israil bilang ke Musa, bahaya nih kita terkepung, tersudutkan dibelakang tentara Firaun didepan Lautan, nunggu mati saja kita nih dibantai firaun. Terjebak diantara 2 kematian : Mau Mati Dibantai Firaun atau Mati Ditelan Laut. Siapa yang bicara ini ? Bani Israil. Ini Bani israil yang sudah ikut suluk 30 tahun bersama Nabi Musa AS. Namun karena Dzikir dalam Suluk belum dibawa ke medan dakwah, maka lafadz belum berubah menjadi hakikat, masih takut sama mahluk. Tanpa mengecilkan orang yang ikut suluk dan Nabi Musa AS sebagai Mursyid Bani Israil, disini Allah swt ingin memberi pelajaran kepada kita bahwa kalau kamu belum terjun dalam medan dakwah belum ada jaminan mendapatkan Hakikat Iman.

Beda dengan seorang Dai yang terus berkorban lagi dan lagi yaitu Nabi Musa AS, apa kata Nabi Musa menjawab pertanyaan Bani Israil tadi :

Kalla inna Ma’iyya Robbi sayahdiin : Tidak !!! sesungguhnya Rabbku bersamaku (26:62)

Siapa yang bisa menjawab ini ? seorang Dai yang sudah terjun ke lapangan, yaitu Nabi Musa AS. Imannya seorang dai ini sudah sampai kepada Hakikat asbab dia dakwah turun ke lapangan. Sehinga Musa AS sudah tidak terkesan lagi dengan mahluk, hanya kesan kepada pertolongan Allah swt saja. Mengapa Iman Dai ini berbeda dengan yang belum jadi Dai, walaupun telah ikut suluk bertahun-tahun. Ini karena Iman dai ini mampu menafikan kekuatan mahluk, sebagaimana Musa AS tidak terkesan kepada kekuatan Firaun ataupun lautan. Bahlkan ketika itu Musa sudah tidak lagi terkesan dengan tongkat, padahal tongkat bisa dipakai untuk memukul kepala firaun, batu aja pecah apalagi kepala firaun. Musa AS tidak katakan :

“Jangan takut saya sudah punya tongkat yang di sudah isi. Gempur Firaun, jangan takut bersama saya ada tongkat sakti”

Jika ini terjadi pada kita maka anda belum menjadi seorang dai karena masih membicarakan kebesaran tongkat. Lempar itu tongkat jangan kesan, kesankan diri kita hanya kepada perintah Allah swt. Justru puncak iman ini adalah ketika kita dihadapkan pada suatu masalah bukan ingat tongkat tapi ingat siapa ? Allah swt. Inilah yang disampaikan Musa AS ketika berhadapan dengan masalah, firaun, yaitu mengajak ummat ingat pada Allah swt bukan pada tongkat. Padahal tongkat Musa AS sudah terbukti sakti mandraguna tapi tetap Nabi Musa AS hanya bersandar kepada siapa ? Allah swt.

Kapan ini bisa terjadi, menafikan manfaat tongkat, dan hanya membenarkan kekuatan Allah swt ? yaitu tatkala kita sudah terjun ke medan Dakwah seperti Nabi Musa AS. Inilah yang dimaksud oleh masyeikh kita maulana Umar Phalampuri Rah.A tentang mendapatkan Hakikat Iman melalui medan dakwah.

La illaha illallah Lafadz Iman ini semua dipelajari di mesjid Nabawi, Namun Hakekat La illaha Illalah didapat dimana ? di medan Perang Badr.

Kisah Sahabat RA belajar hakekat La ilaha illalah di Perang Badr

Ketika para sahabat ra terjun semua ke medan Badr untuk berperang, disitu mereka paham hakekat iman yang sebenarnya :

  1. Sahabat hanya 314 orang , sedangkan musuh 1000 orang
  2. Senjata kurang, sementara musuh lengkap persenjataannya
  3. Kekuatan lemah sampai yang tua ikut, menghadapi musuh yang kuat

Di pertempuran Badr terjadi ketidak seimbangan kekuatan. Sedangkan keuntungan ada di pihak lawan : jumlah sedikit vs jumlah banyak, kurang senjata vs lengkap persenjataan, fisik lemah vs fisik kuat.

Namun dalam perang Badr itulah baru para sahabat ra paham apa itu hakekat iman. Allah menangkan sahabat walaupun jumlahnya lebih sedikit, senjata kurang, fisik lemah, terhadap musuh yang jumlahnya lebih banyak 3x lipat, senjata mereka yang lengkap, fisik yang prima.

falam taqtuluuhum walaakinna allaaha qatalahum wamaa ramayta idz ramayta walaakinna allaaha ramaa waliyubliya almu/miniina minhu balaa-an hasanan inna allaaha samii’un ‘aliimun

artinya :

“Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (8:17)

“La illaha illallah” Lafadznya belajar di mesjid Nabawi, tetapi hakekatnya belajar dimana ? perang badr.

“Muhammadur Rasullullah” Lafadznya belajar di mesjid Nabawi, tetapi hakekatnya didapat dimana ? perang Uhud.

Kisah Sahabat Belajar hakekat Muhammadur Rasullullah di Perang Uhud

Sahabat baru paham jika kita meninggalkan sunnah Rasul maka apa yang terjadi ? Allah swt tidak tolong umat islam sehingga terjadi kekalahan. Padahal Allah swt mampu untuk memenangkan para sahabat dalam perang Uhud. Tetapi kenapa di perang Uhud para sahabat dibiarkan kalah oleh Allah swt dalam perang uhud ?

Ini Allah swt karena Allah swt telah janjikan :

walaqad shadaqakumu allaahu wa’dahu idz tahussuunahum bi-idznihi hattaa idzaa fasyiltum watanaaza’tum fii al-amri wa’ashaytum min ba’di maa araakum maa tuhibbuuna minkum man yuriidu alddunyaa waminkum man yuriidu al-aakhirata tsumma sharafakum ‘anhum liyabtaliyakum walaqad ‘afaa ‘ankum waallaahu dzuu fadhlin ‘alaa almuminiina

Artinya :

“Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada sa’at kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah mema’afkan kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan) atas orang orang yang beriman.” (3:152)

Di perang Uhud bersama Nabi saw 1000 orang berangkat, sedangkan musuh membawa lebih kurang 3000 orang. Ditengah jalan orang munafik belok, mundur dari pasukan lebih kurang 300 orang tinggal 700 orang bersama Nabi saw. Mendingan tidak usah ikut dari awal sehingga tidak melemahkan semangat pasukan. Sampai di uhud nabi saw mengatur posisi pasukan. Nabi saw perintahkan 50 orang naik je Jabal Uhud, apa arahan Nabi saw :

“Kalian jangan turun dari gunung walaupun kita menang sampai memasuki mekah ataupun kita kalah sampai mundur ke madinah. Kalian jangan turun dari gunung Uhud.”

Pada bagian pertama umat islam menang melawan yang mayoritas 3000 orang, padahal kekuatan umat islam ketika itu hanya 700 orang. Harta yang paling halal dalam islam adalah harta rampasan perang. Ketika yang di jabal uhud melihat kawan mereka yang dibawah berlarian mengambil harta rampasan perang yang halal tersebut, mereka yang digunung mulai goyah, tergoda ingin ikut ambil harta halal tersebut. Makmur bilang ke Amir yang jadi komandan di jabal uhud : “Mir mari kita turun kebawah mengambil harta halal tersebut.” Maka amirnya bilang jangan karena peperangan belum selesai. Namun makmur bilang itu perintah Rasul jangan turun kebawah waktu perang, sekarang perang sudah usai. Perang usai berarti perintah Rasul juga sudah berakhir. Ini ijtihad sahabat di Jabal uhud ketika itu. Jadi kesalahan yang terjadi asbab kesalahan ijtihad saja, walaupun salah dapat pahala satu. Akhirnya ada 38 orang ngotot untuk turun, sedangkan amirnya tetap bertahan bersama 12 orang sisanya. Khalid bin walid, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Amr bin Ash waktu itu masih menjadi musuh islam di perang Uhud, masih memimpin tentara berkuda menghadapi umat islam. Mereka melihat kesempatan, ketika menengok kebelakang ternyata gunung kosong. Tempat pemanah di Jabal uhud tidak banyak lagi orang tinggal sedikit saja. Maka melihat kesempatan ini mereka, Khalid bin walid, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Amr bin Ash, balik lagi ke uhud ambil jalur belakang mengelilingi uhud lalu naik keatasnya. Akhirnya yang 12 orang ini syahid dibunuh, sehingga jabal uhud dikuasai oleh pasukan musyrikin. Setelah jabal uhud dikuasai maka pasukan muslimin ketika itu dihujani panah oleh mereka sehingga kocar kacir. Sampai Nabi saw terjatuh dalam lubang dan giginya patah, dan musti dilarikan agak jauh keluar medan Uhud.

Allah swt telah ingatkan mengapa kemenangan telah berubah menjadi kekalahan ?

  1. hattaa idzaa fasyiltum : ketika iman kalian melemah melihat dunia
  2. watanaaza’tum : Kalian tengkar, berdebat, tidak satu hati

Sehingga asbab perkara tersebut :

wa’ashaytum min ba’di maa araakum maa tuhibbuuna : kalian tinggalkan perintah Rasul asbab melihat perkara yang kamu cintai.

Padahal ini asbab 50 orang saja, itupun hanya 38 orang yang turun melanggar arahan Nabi saw. Kenapa ?

minkum man yuriidu addunyaa : asbab diantara kalian ada yang lebih mencintai dunia.

Padahal yang mencintai akherat lebih banyak lagi :

waminkum man yuriidu al-aakhirata : padahal diantara kalian masih banyak yang lebih mencintai akherat lagi.

Namun karena diantara yang cinta akherat ada yang kemasukan racun cinta dunia, padahal sedikit saja jumlahnya, tapi tetap menjadi asbab kekalahan kaum muslimin ketika itu di perang Uhud. Asbab perkara inilah maka Allah swt tidak tolong umat islam di perang uhud.

tsumma sharafakum ‘anhum liyabtaliyakum : Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka.

Apa yang terjadi ? Allah swt buat umat islam lengah dan lalai, tidak sadar musuh udah balik menyerang, dibiarkan oleh Allah swt. Sehingga berubah kemenangan menjadi kekalahan.

Mengapa Allah swt berbuat demikian ?

Liyabtaliyakum : Sebagai Ujian

Maksudnya Allah swt hendak membersihkan hati umat islam ini dari kekotoran dunia dengan apa ? diberi ujian agar kembali kepada Allah dan Rasulnya, tidak ragu-ragu lagi.

Namun dalam ayat ini, disinilah keutamaan para sahabat RA disisi Allah swt. Sahabat adalah manusia juga seperti kita pernah berbuat salah. Tapi disini Allah swt berikan catatan. Setiap Allah swt menceritakan kesalahan sahabat Nabi saw, selalu diberikan komentar dibelakangnya berupa catatan khusus :

walaqad ‘afaa ‘ankum : Allah telah mema’afkan kalian (para sahabat ra)

Jadi 38 orang yang turun sehingga menyebabkan kekalahan, tetap Allah swt maafkan, mati masuk surga. Supaya agar jangan ada orang coba-coba di akhir jaman ini menyalahkan sahabat ra. Jangankan sahabat yang utama seperti Abu Bakar, Umar, dan Utsman Radhiallahu Anhuma, Sahabat yang gak dikenal di uhud yang turun dari uhud saja karena lemah iman sehingga menyebabkan umat islam kalah, mereka inipun kita tidak boleh menghina mereka. Bahkan sahabat nabi yang kencing di mesjid nabawi pun kita tidak boleh menghina mereka.

Imam Malik Rah.A dalam fatwa beliau dalam tafsir ibnu katsir juz 25 :

“Siapa saja yang membenci sahabat Nabi saw, maka mereka telah kafir.”

Khususnya Kaum Syiah Ar Rafidhah yang telah membenci para sahabat Nabi saw. Jadi semua yang membenci sahabat Nabi saw ini hukumnya kafir. Jadi jangan coba-coba anda menghinakan sahabat Nabi saw, hati-hati bisa jadi kafir. Ini karena Allah swt sendiri telah sampaikan bahwa Allah swt telah memaafkan mereka.

Analogi tuduhan Syiah

Jika hari ini ada orang yang berani menuduh orang lain berzina. Paadahal orang tersebut tidak berzina. Maka nanti akan dipanggil oleh hakim. Siapkan 4 orang saksi yang benar-benar melihat orang tersebut melakukan zina, melihat betul matanya itu kemaluan telah masuk, baru boleh jadi saksi. Ternyata tidak terbukti maka orang yang menuduh akan dicambuk 80 kali.

Orang suiah banyak yang menuduh Aisyah r.ha telah melakukan Zina, Na’udzubillah. Lihat apa yang terjadi dengan mereka. Allah swt berikan satu hari dimana mereka mencambuk diri mereka sendiri sampai berdarah-darah bersama-sama ijtimaiyat di setiap 1 muharram. Itulah hukuman yang telah Allah swt berikan kepada mereka asbab telah menuduh aisyah r.ha berzina, dengan cambukan yang melukai diri mereka sendiri.

Jadi para sahabat Nabi saw pernah berbuat salah, memang pernah, tapi Allah swt katakan telah Allah swt maafkan. Ini untuk pelajaran bagi kita agar dimasa akan datang tidak ada satupun dari sahabat ini yang boleh dihina oleh kita.

Allah swt mampu memenangkan sahabat Nabi saw dalam perang uhud. Tetapi kalo tetap dimenangkan sahabat ketika itu di uhud, konsekwensinya adalah Harga Sunnah dan Martabat Rasullullah saw akan hilang, hancur. Sehingga sunnah ini menjadi tidak ada nilainya. Orang akan berpikir tidak ikut sunnah rasul masih dikasih menang juga jadi buat apa mengamalkan sunnah rasul.

Namun asbab dikalahkannya sahabat dalam perang uhud, para sahabat langsung mengambil ittiba atau pelajaran tentang pentingnya sunnah Rasul. Dan peristiwa kekalahan uhud tersebut bahkan meningkatkan derajat Rasullullah saw di mata para sahabat ra. Baru mereka, para sahabat ra, paham dengan meninggalkan perintah rasul itulah yang menyebabkan kita kalah.

Jadi Lafadz iman ini para sahabat ra pelajari di mesjid nabawi, sedangkan hakekat iman ini para sahabat ra dapatkan di lapangan, di medan khuruj fissabillilah. Maka para ulama, santri, dan kita-kita ini orang awam sekalipun, tidak bisa dan tidak boleh meninggalkan madrasah khuruj fissabillillah kalau kita ingin mendapatkan kepahaman hakekat iman. Tidak akan berubah Lafadz iman menjadi Hakikat Iman jika tidak terjun ke lapangan untuk khuruj fissabillillah.

Menghafal Quran itu hukumnya Fardhu Kifayah. Tidak semua orang harus hafal qur’an, tetapi harus ada yang hafal qur’an. Jika satu kampung tidak ada yang hafidz qur’an maka bisa berdosa semua. Maka kita harus wujudkan dikampung kita. Usahakan ada nak kita yang menjadi hafidz, kirim ke pondok tahfidz. Jika tidak mampu maka ajarkan anak kita dengan baik, nanti cari mantu Hafidz Qur’an.

Menjadi ulama dengan masuk ke pesantren kitab kuning, ini juga fardhu kifayah, tidak semua orang harus jadi ulama, bisa ngasih fatwa. Namun kalau hanya untuk menanyakan cara atau hukum fiqh tentang wudhu, sholat, puasa, haji, silahkan semua juga bisa belajar. Namun tidak semua orang harus menjadi ulama yang bisa memberi fatwa.

Namun untuk mengamalkan Quran, maka harus masuk ke pesantren khuruj fissabillillah. Ini hukumnya apa ? Fardhu Kifayah atau Fardhu Ain.

Contoh :

  1. Ada perempuan cantik di jalan lalu kita bilang wah cantik sekali ini mojang priyangan (perempuan sunda). Lalu kita ingatkan syeh gak boleh melihat yang bukan muhrim. Terus dia bilang oh saya bukan penghafal quran jadi tidak mengapa. Boleh seperti itu ? tidak boleh.
  1. Atau seorang hafidz Quran melihat wanita lalu ditegur kamu ini kan penghafal quran jangan melihat yang bukan muhrim. Lalu dia bilang saya hanya hafal tapi tidak tahu arti quran jadi gak papa. Boleh seperti itu ? tidak boleh

Jadi baik dia seorang penghafal quran ataupun bukan penghafal quran, ketika dia melihat wanita yang bukan muhrimnya perintahnya apa ? Tundukkan pandangan.

Perintah jangan makan babi, walaupun kita tidak hafal ayat qur’annya tentang ayat babi bukannya kita berarti boleh makan babi ? tidak, tetap tidak boleh makan babi, karena itu perintah Allah swt.

Jadi untuk masuk ke pesantren 1 dan ke 2 tadi hukumnya fardhu kifayah, sedangkan masuk ke pesantren yang ke 3 itu fardhu Ain.

Allah swt berfirman :

kuntum Choiru ummatin ukhrijat lilnnaasi ta/muruuna bialma’ruufi watanhawna ‘ani almunkari watu/minuuna biallaahi walaw aamana ahlu alkitaabi lakaana khayran lahum minhumu almu/minuuna wa-aktsaruhumu alfaasiquuna (3:110)

artinya :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (3:110)

Kalian ini adalah ummat terbaik yang di utus untuk seluruh manusia, digerakkan untuk berdakwah kepada seluruh manusia. Gerak melalui pesantren khuruj fissabillillah untuk mengajak manusia berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Jika pesantren yang ke 3 ini terus dikuatkan maka pesantren ke 1 dan pesantren ke 2 akan tumbuh semakin kuat. Pesantren tahfidz dan alim bertumbuhan dimana-mana ini asbab berkat kerja dakwah, pesantren khuruj fissabillillah.

DI daerah kalimantan tengah ada tempat kristenisasi, satu keluarga di garap, hampir saja bapaknya masuk kristen, akhirnya ketaskil pergi 40 hari. Akhirnya bapaknya pulang taskil anaknya : “Nak aku sudah malu hidup sekian lama hanya mengkaji kartu kuning, sekarang saya mau tebus itu semua dengan mengirim kamu mengaji kitab kuning.” Asbab dakwah kini anak-anak mereka sudah ada yang menjadi hafidz hafidzoh. Begitu juga ada kisah seorang bandit besar dikalimantan, ketaskil dakwah, dibina berangkat 40 hari sampai 4 bulan, kini anak-anaknya sudah ada yang hafidz dan hafidzoh.

Jadi kalau islam hanya berupa hafalan saja, maka islam ini hanya akan dilihat oleh santri saja. Sehingga islam tidak bisa dilihat secara umum. Ini karena kyai bikin pesantren ngajarkan islam kepada santrinya, lalu santrinya lulus bikin pesantren juga, maka kalau begini nanti islam tidak akan nampak di muka umum, hanya di pesantren saja.

Kitabul Buyut : Kitab tentang perniagaan, Quran membahas panjang lebar. Bahkan ayat terpanjang itu adalah ayat tentang muamalah. Dalam kutubus sittah semuanya ada tentang kitabul buyut, tentang perniagaan, cara bermuamalah. Dalam kitab Fiqih ulama semua hafal perkara ini. Tetapi kalo kita tanyakan yang dagang itu siapa ? Ulama kah atau orang awam kah ? yang dagang itu kan pasti orang umum, jarang ulama dagang nongkrong di pasar. Jika fiqih muamalah ini hanya diajarkan kepada santri kapan perdagangan islam akan wujud di tn. Abang, di pasar baru, di pasar klewer, dan lain-lain. Jadi kalau islam itu hanya diajarkan dan diamalkan dipesantren saja maka islam secara umumiyat tidak akan bisa terlihat.

Namun jika para pedagang ikut pesantren yang ke 3, khuruj fisabillillah, pergi 3 hari, 40 hari, 4 bulan, baru mereka mulai bertanya-tanya mengenai perdagangan islam kepada ustadz-ustadz yang bersama mereka. Jadi pesantren khuruj fissabillillah ini menghubungkan orang awam dengan para ulama agar islam bisa wujud di luar pesantren. Setelah pulang 40 hari atau 4 bulan baru di maqominya dia wujudkan perdagangan islami. Mungkin tadinya di toko dia ada nota barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan, ini cara yahudi. Kini tida seperti itu lagi karena dia tahu hadits nabi saw :

“Barangsiapa yang menerima barang orang yang menyesal beli, tapi dia terima barang tersebut, Nanti Allah swt akan selamatkan dia tidak akan tergelincir masuk neraka.” (mahfum)

Orang miskin beli gula di kios kecil. Setelah beli pulang ke rumah ternyata istrinya sudah beli gula juga. Uang habis beras belum beli. Maka si istri minta ke suaminya untuk mengembalikan gula dan beli beras. Maka si suami kembali ke toko gula tersebut minta maaf karena sudah khilaf beli minta pengertian si penjual untuk bisa mengembalikan gulanya. SI penjual bilang bapak tidak baca di depan tulisan gula yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan. Ini sebelum ikut dakwah penjualnya. Tapi setelah keluar khuruj fissabillilah dia dengar hadits nabi tadi, maka dia mau mengamalkan hadits tersebut. Maka penjual yang mau menerima perdagangan seperti ini maka dia tidak akan tergelincir nanti ke neraka.

Jadi islam itu akan nampak di pasar kapan ? ketika pedagang ikut pesantren yang ke 3, khuruj fissabillillah. Begitu juga bila polisi ikut khuruj, tentara juga, dokter juga, bupati juga, maka nanti wujud islam akan wujud-wujud dimana-mana melalui mereka yang ikut pesantren khuruj fissabillillah ini.

Seorang polisi si fulan siap tangkap penjhat pasti remuk sama dia. Kini dia sudah keluar asbab dia sekarang banyak penajhat-penjahat berhenti jadi penjahat dan jadi dai dai pengajak kepada kebaikan. Sehingga di kantor polisi kini wujud agama dan kerja agama. Bagi yang punya jabatan teruskan jabatannya tapi gunakan untuk agama.

Nabi saw telah sabdakan :

“Allah swt itu memberikan kekuatan kepada penguasa, yang tidak Allah swt berikan kepada AL Quran.” (mahfum)

Tanpa mengecilkan Al Quran yang sudah agung dan mulia, tetapi kekuasan yang digunakan untuk agama ini lebih hebat dari Al Quran. Maksudnya apa ? al quran mengatakan wa akimush sholla, dirikanlah sholat, tapi sering kali orang yang punya kekuasaanlah yang mampu mengerakkan untuk sholat. Saya dulu pernah bayan 2 jam di polda tentang pentingnya sholat setelah selesai, kira-kira berapa orang yang mau duduk di mesjid menunggu waktu sholat. Ustadz 2 jam bayan tidak bisa membuat polisi-polisi itu untuk tetap duduk menunggu waktu sholat, tapi 1 kapolda, ajudan nya saja yang bilang nanti bapak kapolda mau sholat berjamaah disini tolong jangan pulang dulu. Kira-kira ada gak polisi yang berani pulang ? ini maksud kekuasaan digunakan untuk agama.

Jadi kekuatan dan keuasaan itu tidak salah tetapi digunakan untuk agama. Kapan polisi bisa berubah menjadi seperti itu, tatkala polisi sudah ikut pesantren yang ke 3. Teruskan jadi polisi jangan berhenti lalu masuk pondok pesantren. Terus ikut dakwah, isi kepolisian dengan amal-amal agama, nanti Allah swt pilih anak-anak kamu yang jadi hafidz dan alim. Kalau kamu berhenti jadi polisi, berhenti jadi tentara, maka nanti akan terjadi fitnah yang banyak. Belum lagi nanti dipaksakan dia tetep ikut pondok ternyata gak cocok, dan gak kuat, akhrnya berhenti jualan siwak di depan markaz, orang-orang mulai menyalahkan dakwah. Padahal kalau dia tetap terus jadi polisi maka dia bisa menjadi asbab hidayah bagi polisi yang lainnya.

Maka mari kita persiapkan diri kita untuk masuk kedalam pesantren khuruj fissabillillah. Semua niat Insya Allah !!!

Iklan

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: