Buyaathaillah's Blog

Bayan Syuro H. Cecep Firdaus : Kejahilan Manusia

Bayan Syuro Indonesia

H. Cecep Firdaus

 

 

 

Kejahilan Manusia

 

 

Hadirin yang dimuliakan Allah set, Ada kekhawatiran dari Maulana Ilyas ini, khawatir terhadap pekerja pekerja dakwah. Apa yang beliau khawatirkan ? beliau khawatir para pekerja dakwah ini merasa maju dalam dakwah, padahal mundur. Siapa mereka itu ? mereka yang terlihat maju dalam dakwah dan aktif :

 

  1. Mereka istiqomah keluar 40 hari atau 4 bulan
  2. Hadir di setiap musyawarah
  3. Aktif di setiap ijtima

 

Mereka sedemekian aktifnya dan majunya dalam dakwah tapi tidak melihat kekurangan dalam diri sendiri. Inilah kekhawatiran maulana Ilyas. Pekerja Dakwah ini merasa maju padahal mundur asbab sibuk memperbaiki orang lain tidak ingat pada diri sendiri.

 

Maksudnya apa ?

 

Dipikir maju dalam dakwah padahal mundur karena sifat sifat yang dituntut dalam dakwah ini belum masuk dalam diri kita.

 

Jadi orang macam ini sudah tertipu, dipikir sudah maju dalam dakwah ternyata mundur. Walaupun taskilan banyak, keluar 4 bulan tiap tahun, hadir disetiap ijtima, tapi tidak ada perbaikan dalam diri kita, maka dia telah tertipu. Orang macam ini telah tertipu dipikir dia telah maju dalam dakwah padahal yang ada kemerosotan dalam amal dan sifat. Jadi jangan sampai terjadi demikian pada kita.

 

Maju atau Mundurnya diri kita dalam dakwah ini dilihat dari perbaikan atau islah kita sendiri bukan orang lain. Sejauhmana sifat sifat yang dituntut dalam dakwah ini ada dalam diri kita.

 

Walaupun prakteknya kita mengajak orang lain untuk memperbaiki diri tapi tujuan utamanya adalah untuk diri kita sendiri dulu yang terperbaiki. Dengan dakwah ini dari kita keluar 4 bulan atau 40 hari atau 3 hari, tujuannya adalah untuk memperbaiki diri kita bukan orang lain. Terperbaikinya orang lain ini urusan Allah swt bukan urusan kita, kita tidak bisa, tidak punya kekuatan memberikan hidyah kepada orang lain.

 

Jadi kita senantiasa harus kontrol, muhasabbah, sejauhmana kita sudah progress atau meningkat dalam amal dan sifat-sifat yang menjadi target perbaikan diri kita dalam dakwha ini. Jangan sampai kita tertipu, betul dakwah maju, taskilan banyak, aktif di musyawarah, sudah bertahun tahun ikut dakwah tapi sifat-sifat yang dituntut dalam dakwah ini belum masuk dalam diri kita.

 

Hadratji Inamul Hasan sampaikan dalam Jord Qudama :

 

“Saya tidak khawatir dakwah ini mundur karena dakwah ini sudah pasti akan maju. Ini karena sudah ada keterangan dalam Quran dan Hadits dakwah ini pasti akan maju. Akan datang suatu masa islam ini akan bangkit kembali asbab dakwah ini. Jadi dakwah ini pasti maju. Tapi kenapa kita terus di targhib lagi dan di targhib lagi, dalam dakwah ini ? Ini untuk diri kita sendiri. Dakwah itu sudah pasti maju, tapi kita ini bisa maju bisa mundur. Amal Dakwah ini tanpa kita sudah pasti tetap maju, ini sudah menjadi ketetapan Allah swt. Namun kita di dalam dakwah ini bisa ikut maju bersama dakwah atau mundur dari dakwah.”

 

Para Ulama sudah memastikan dalam quran dan hadits ini bahwa usaha yang haq ini akan maju, dan menjelang hari kiamat perkara yang Haq ini akan muncul kembali. Kenapa kita di targhib lagi, di targhib lagi dalam dakwah ini ? ini karena yang dikhawatirkan itu adalah kita kita ini para pekerja dakwah. Kita ini bisa maju, bisa mundur dalam dakwah ini, bahkan bisa terpental dari amal dakwah. Keadaan maju dan mundurnya kita dalam dakwah ini tergantung kepada Tholabnya kita pada amal dakwah ini. Setiap Kita ini harus merasa perlu dengan amal dakwah ini bukan diperlukan. Kalau kita yang merasa diperlukan dalam amal dakwah, ini merupakan suatu kejahilan, kebodohhan. Justru kita harus merasa tholab, butuh, berhajat dengan amal dakwah ini. Amal dakwah ini tidak perlu dengan kita, tidak berhajat dengan kita. Ada atau tidaknya kita dalam dakwah ini tidak akan mempengaruhi amal dakwah ini. Kenapa ? karena sudah dipastikan walaupun kita tidak ada dalam kerja dakwah ini, kerja dakwah akan tetap maju. Jadi bukan kerja dakwah yang butuh kita, tapi kitalah yang butuh dengan kerja dakwah ini. Apapun yang terjadi kepada kita, kita harus jangan tinggalkan amalan dakwah.

 

Kyai Mukhlisun sampaikan :

 

Kerja Dakwah ini adalah kereta terakhir, LAST TRAIN. Walaupun kita berdesak desakan, disikut, diinjak, dikentuti, didorong keluar, jangan mau turun, tetap kita harus masuk dalam kereta, jangan sampai tertinggal kereta terakhir.

 

Jangan jadi cengeng dalam dakwah, tersinggung dikit kita kendor, lemes, mundur. Namanya pergaulan dai itu luas, banyak temannya. Pergaulan yang banyak dari berbagai macam orang yang cocok ataupun tidak cocok dengan diri kita, merupakan sarana islah bagi diri kita.

 

Analogi :

 

Kenapa Batu dikali itu halus halus, tidak kasar. Ini karena dalam mengikuti arus air, batu batu tersebut bergesekan terus hingga menjadi halus.

 

Begitu pula kita dalam dakwah ini seperti batu di arus sungai hanya bisa menjadi halus dengan gesekan. Kita ini akan terperbaiki, mendapatkan islah melalui gesekan gesekan dalam dakwah, sebagaimana batu sungai tadi. Bahkan kita berhajat pada gesekan gesekan itu dalam dakwah. Maksudnya untuk apa gesekan itu ? untuk menghaluskan jiwa kita. Kalau kita sibuk menyendiri saja tidak mau membaur, takut gesekan katanya, maka kalau ibarat batu koral yah begitu saja tidak ada perubahan, tetap kasar, lancip-lancip, tajam-tajam, tidak akan menjadi halus. Jadi perbaikan itu justru akan datang asbab adanya gesekan gesekan tersebut.

 

Akhlaq baik akan datang jika kita mau bergaul dengan berbagai macam orang dari berbagai macam karakter, baik yang cocok ataupun tidak. Kita harus tahan uji menghadapi perbedaan, gesekan, ketidak cocokan dalam pergaulan jika kita ingin mendapatkan akhlaq yang baik.

 

Para masyeikh memisalkan :

 

  1. Para pekerja dakwah ini harus memiliki sifat bumi : diberakin, dikencingin, digundulin, tetap sabar, tidak marah, bahkan tetap memberikan manfaat. Jadi dai harus seperti itu sabar ketika di dzolimin, bahkan membalas keburukan dengan kebaikan.

 

  1. Para pekerja dakwah ini juga harus memiliki sifat matahari. Beredar terus walaupun orang suka dan tidak suka, tetap menyinari dan menerangi bumi dan alam secara istiqomah. Pekerja dakwah itu harus seperti itu tidak kesan sama yang senang atau yang benci tetap saja dakwah istiqomah, menebar kebaikan secara istiqomah apapun keadaannya.

 

  1. Para pekerja dakwah harus seperti gunung. Gunung itu tidak beku dengan Dingin dan Tidak meleleh dengan panas, tangguh berdiri tegak. Begitu juga kita harus seperti gunung, tangguh menghadapi segala keadaan tidak kendor atau mundur.

 

  1. Para pekerja dakwah ini harus seperti langit yaitu mengayomi dan melindungi bumi. Begitu juga kita para pekerja dakwah kepada umat harus seperti langit, mengayomi dan melindungi.

 

Kita harus memiliki sifat tholab kepada amal dakwah ini, kita yang butuh bukan kerja dakwah ini butuh kita. Jangan sampai ada dalam hati kita kalau tidak ada saya dalam amal dakwah ini hancur itu kerja dakwah, na’udzubillah. Walaupun semua kita ini tidak ada dalam dakwah tetap kerja dakwah ini akan maju. Allah swt akan munculkan orang-orang lain yang bersifat tholab terhadap amal ini. Tidak ada alasan apapun yang menyebabkan dia mundur dalam kerja dakwah ini, pasti asbab kesalahan dia sendiri.

 

Dalam amal ini hendaknya kita memiliki 2 perkara ini :

 

  1. Sikap Tholab pada Kerja Dakwah bukan merasa dibutuhkan oleh kerja dakwah.
  2. Niat untuk memeperbaiki diri bukan orang lain.

 

Jika kita sudah ada dalam amal dakwah ini sudah :

 

  1. keluar 4 bulan tiap tahun
  2. Sempurna Amal Maqomi dibuat

 

Tapi jika diri kita masih belum baik juga, maka tidak akan ada cara lain yang bisa memperbaiki diri kita. Hanya dengan amal ini kita akan menjadi baik dan terperbaiki. Jangan kita nyari nyari alasan atau jalan lain, tidak akan ketemu. Perbaikan itu hanya akan terjadi dengan amal dakwah. Inilah satu-satunya amalan para Nabi untuk memperbaiki manusia yaitu dengan amal dakwah ini, tidak ada cara lain. Jadi kalau kita ingin jadi baik, maka kita harus sungguh sungguh dalam amal dakwah ini ikuti tertib dan arahan dari ulama kita.

 

Perbaikan itu akan terjadi dalam amal dakwah jika kita :

 

  1. Sungguh-sungguh dalam dakwah
  2. Berkorban dalam dakwah
  3. Ikuti Tertib dengan sempurna dalam dakwah.

 

Berkali-kali masyeikh kita sampaikan : Jangan sekali kali mengharapkan sesuatu dari segi keduniaan dalam dakwah ini.

 

Ini bukan jalannya, untuk mendapatkan keduniaan, dari jalan dakwah ini. Justru yang harus kita harapkan adalah hasil di akherat, berharap dekat dengan Allah swt. Juga jangan dalam kerja dakwah ini berharap ingin kemahsyuran.

 

Jadi jangan berharap dalam dakwah ini :

 

  1. Jangan berharap keduniaan dalam dakwah
  2. Jangan berharap kemahsyuran

 

Justru yang kita harapkan dari kerja dakwah ini :

 

  1. Hasil di akherat bukan Hasil di dunia
  2. Maqbul bukan Mahsyur

 

Didalam usaha dakwah ini ada mahsyur, ada maqbul. Justru yang kita inginkan dalam dakwah ini adalah Maqbul bukan Mahsyur, penerimaan bukan ketenaran. Kalo Allah swt beri kemaqbulan dan kita juga dimahsyurkan itu merupakan hak Allah swt, bukan pilihan kita. Namun kita tidak mengharap Mahsyur, justru kita berharap Maqbul. Jangan kita mencari kemasyuran dalam dakwah tapi yang kita inginkan adalah kemaqbulan. Jangan kita cari kemahsyuran dengan memberikan bayan, targhib hebat-hebat, ingin jadi jumidar, ingin jadi faishalat, jangan jadi seperti itu. Tidak akan datang islah dengan keinginan-keingan seperti itu. Walaupun kita bayan berkali kali, mudzakarah berkali kali, tapi tidak mau keluar secara tertib, maka tidak akan ada perbaikan dalam diri kita. Tingkatkan pengorbanan, dari 40 hari ke 4 bulan tiap tahun, ikuti arahan dan tertib yang dikasih, baru akan datang perubahan kepada kita. Ini jangankan keluar 4 bulan, nishob 40 hari saja tidak dijaga, tapi ingin kedudukan menjadi jumidar, ingin jadi faishalat, ingin dianggap awallun, ingin di iqrom, ingin ini ingin itu, ini namanya kejahilan. Tidak akan ada kemajuan dan perbaikan dengan keinginan seperti itu, justru malah menjadi rusak diri kita. Perbaikan akan datang kepada kita dengan pengorbanan. Kita harus berebut berkorban, berebut tambah pengorbanan, bukan dengan berebut ingin menjadi jumidar, berebut ingin bayan, berebut kemahsyuran, jangan. Justru kita ingin berebut pengorbanan baru islah akan datang kepada kita. Inilah cara yang benar untuk memperbaiki diri kita.

 

Perbaikan yang utama pada diri kita ini adalah memperbaiki yakin, memperbaiki iman. Inilah seharusnya yang pertama kita perbaiki. Kalau iman kita sudah benar, yakin kita sudah baik, maka kehidupan ini akan menjadi mudah. Tanamkan iman, bahwa apasaja masalah yang datang kepada kita ataupun ummat, hanya Allah swt saja yang mampu memperbaikinya. Apa saja masalah hanya Allahs wt yang bisa memperbaiki, bukan yang lain. Bukan DPR, Bukan MPR, Bukan Presiden, Bukan Partai, Bukan Polisi, Bukan Tentara, Bukan Orang Kaya, bukan, hanya Allah swt saja yang bisa memperbaiki dan menyelesaikan masalah kita. Keadaan dan Masalah apa saja hanya Allah yang bisa, selain Allah tidak bisa apa-apa. Pada hakektanya semua masalah ini datang dari Allah swt dan hanya Allah swt pula yang bisa menyelesaikannya.

 

Ada Pendapat mengatakan :

 

“Betul masalah dari Allah tapikan dunia inikan darul asbab, jadi kita juga membutuhkan asbab”

 

Jawabannya :

 

“Pendapat itu benar. Hanya saja asbab yang harus kita lakukan agar dapat pertolongan dari Allah swt ini adalah dengan amal agama yaitu menyempurnakan perintah-perintah Allah swt, bukan dengan asbab dunia. Ini adalah cara orang beriman menyelesaikan masalah yaitu dengan asbab amal bukan dengan asbab keduniaan.”

 

Asbab yang benar itu adalah :

  1. Menyelesaikan masalah dengan Yakin
  2. Menyelesaikan masalah dengan Amal Agama.

 

Ini adalah jalan keluar bagi kita keluar dari segala kesulitan. Kita harus yakin kepada Allah swt bahwa yang bisa menyelesaikan masalah kita hanya Allah swt dan selain Allah swt tidak bisa buat apa-apa. Dan cara menyelesaikan masalahnya adalah dengan amal agama / perintah Allah swt.

 

Contoh :

 

Seorang pekerja dakwah datang dengan kesulitan ekonomi. Kita harus yakin bahwa yang bisa menyelesaikan masalah ekonomi dia hanya Allah swt dan selain Allah swt tidak bisa buat apa-apa. Dan asbabnya adalah sempurnakan perintah Allah swt. Inilah Nasehat yang harus kita berikan ke dia, jangan bawa dia tawajjuh ke perkara-perkara dunia.

 

Jangan ada perkataan saya lagi kesulitan ekonomi, harus off dulu dari dakwah. Ini bukannya menyelesaikan masalah, malah tambah kacau nanti. Menyelesaikan maslaah dengan masalah namanya, yang ada tambah masalah. Justru kalau ada masalah harus tambah kuat dalam dakwah, tambah sempurnakan perintah-perintah Allah swt. Pasti Allah swt akan keluarkan kita dari masalah tersebut, inilah janji Allah swt. Kalau kita tingkatkan Iman kita dan Taqwa kita, pasti apapun yang kita minta akan Allah swt kasih.

 

Kita harus yakin bahwa Allah swt turunkan agama kepada kita ini untuk menyelesaikan segala masalah. Jika kita mendapatkan masalah yakinlah bahwa itu pasti ada kekurangan dalam pengamalan agama kita. Semua masalah yang terjadi ini hakekatnya adalah asbab dosa-dosa kita.

 

Kalau sempurna agama kita kerjakan maka janji Allah swt adalah Hayyatan Thoyiba, kehidupan yang baik.

 

 

أُنثَى أَوْ ذَكَر مِّن صَالِح ا عَمِلَ مَنْ

 

Man amilan sholiha min dzakarin au unsa fahuwa mu’min falanuhyi yannahum hayyatan thoyyiba

 

“Barang Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan sedangkan mereka beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik…..”. (16:97)

 

Jika agama sempurna kita jalankan maka Allah swt akan jauhkan kita dari segala kesulitan, dan Allah swt akan selesaikan segala masalah kita. Jadi kalau ada masalah sempurnakan perintah Allah swt, nanti Allah swt akan mudahkan urusan kita. Walaupun secara fitrah ini Allah swt uji kita dengan masalah-masalah, tapi Allah swt juga yang bantu kita keluar dari ujian tersebut. Kalau kita lihat dari perjalanan para Nabi dan Sahabat RA, namanya ujian, itu sebenarnya cuman seakan-akan saja, tidak untuk menyusahkan, pura-pura saja.

 

Analogi :

 

Perwira baru marinir sedang dilatih berenang, dilemparkan ke laut oleh pelatihnya, ditinggalkan oleh motorboat. Ini pura-pura saja sebenarnya, mana ada pelatih yang meninggalkan prajuritnya tenggelam, pasti balik lagi menolong dia.

 

Allah swt ini lebih lagi dari seorang pelatih marinir, tidak mungkin meninggalkan kita.

 

Bahkan dalam suatu riwayat dikatakan bahwa :

 

“Kasih sayang Allah swt ini kepada hambanya ini 70 kali lebih sayang dari seorang ibu kepada anaknya.”

 

Tidak mungkin Allah swt membiarkan kita dalam kesusahan. Ujian ini sebenarnya untuk kita saja, Allah swt mau lihat tekad kita ini sejauh mana.

 

Kisah :

 

Nabi Ibrahim AS ditakut-takuti mau dibakar, tapi Nabi Ibrahim AS tahu ini hanya pura-pura saja, tidak mungkin Allah swt membiarkan saya terbakar. Dia siap dibakar, tidak takut, tidak cengeng, bahkan malaikat mau nolongpun ditolak. Nabi Ibrahim AS yakin pasti Allah swt akan tolong.

 

Kuatkan hubungan kita dengan Allah swt, pasti Allah swt bantu kita selesaikan masalah kita. Lihat bagaimana pertolongan Allah swt kepada para Nabi dan Sahabat. Mereka adalah orang yang Yakin kepada Allah swt dan Sempurna Amalnya. Jika ada dalam diri kita Yakin dan Amal Agama baru pertolongan Allah swt akan datang kepada kita. Namun kebanyakan dari kita susah asbab lemah keyakinan kita pada Allah swt.

 

Allah swt berfirman dalam hadits qudsi :

 

بِي بْدِيعَ ظَنِّ عِنْدَ نَا أَ

 

Ana Inda dzonni ‘abdibi

 

“Aku, Allah swt, sebagaimana prasangka hambaKu kepadaKu…”

 

Jika kita mengecilkan kekuasaan dan kekuatan Allahs wt seperti :

 

“Ini masalah berat banget nih, Allah mungkin sudah tidak bisa tolong.”

 

jika ada prasangka macam ini pada diri kita, maka betul tidak akan Allah swt tolong. Ini karena Allah swt tergantung prasangka kita. Apalagi prasangka kita tidak yakin bahwa Allah swt mampu menolong kita, maka betul-betul tidak Allah swt tolong. Tidak ada masalah yang berat bagi Allah, semua masalah itu kecil bagi Allah swt. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt.

 

“Sesungguhnya semua masalah yang terjadi pada kita di dunia ini disebabkan lemahnya Iman kita, asbab kita tidak yakin pada Allah swt.”

 

Kalau orang yang lemah yakin ini, kesusahan belum datang udah merasa susah duluan. Padahal kesusahan itu belum datang tapi sudah merasa susah. Jadi yang ditakuti belum datang sudah mati duluan, ini lemah iman. Saya melihat sebuah pamphlet, iklan, di jalan besar di jakarta bertuliskan :

 

“Awas Ledakan Penduduk !!”

 

Di tiang iklan tersebut terpampang gambar sepeda motor dinaiki bapak, ibu, anak yang dibonceng dibelakang, cucu yang ditengah, ada yang digendong sama ibunya, dan ada anak yang berdiri didepan bapaknya, berpeluh keringat kepanasan, dengan tulisan awas ledakan penduduk. Ketakutan menghadapi masa depan. Menurut ahli logika yang imannya lemah bahwa suatu ketika penduduk dunia akan mengalami ledakan jumlah penduduk. Asbab ini nanti penduduk dunia akan kekurangan makanan karena tidak ada lahan yang cukup, tidak ada pekerjaan yang cukup, dan lain-lain. Mereka yang berfikir seperti ini tidak beriman kepada Allah swt. Bagi Allah swt mudah menyelesaikan masalah sperti ini bahkan lebih dari itu. Andaikata Allah swt ledakan jumlah penduduk menjadi 10 miliar atau 20 miliar jumlah penduduk, bagi Allah swt mudah mendatangkan makanan untuk mereka semua. Tidak ada kesulitan bagi Allah swt menyediakan kebutuhan bagi seluruh manusia walaupun jumlahnya meledak. Namun karena iman lemah, belum kejadian sudah susah duluan. Padahal penduduk surga itu kalau dihitung sama penghuninya kayak pelayan pelayannya dan bidadarinya, semuanya Allah swt kasih makan cukup untuk semuanya, bahkan tidak habis-habis makanannya. Jadi semua masalah datang akibat dari lemahnya iman. Kuatkan diri kita yakin kita kepada Allah swt.

 

Telah terjadi dimana-dimana disetiap negara ketakutan, kalau penganguran meningkat, asbab tidak ada pekerjaan maka tidak bisa makan. Allah swt kasih beneran seperti itu. Asbab prasangka yang demikian Allah biarkan keadaan seperti itu tidak kerja tidak makan. Padahal makan bukan dari kerja kita, tidak ada hubungan antar kerja kita dengan rizki, tidak ada hubungan sama sekali. Hubungan Rizki ini hanya sama Allah swt saja, bukan hubungannya dengan kerja kita. Dagang, kerja, tani, ini pura-puar saja, seakan-akan aja, bohong semua, tidak ada sama sekali hubungannya dengan rizki. Hubungan rizki ini murni hanya dengan Allah swt. Jangan kita terbawa keyakinan orang orang yang tidak beriman. Mereka bilang :

 

“Benar rizki dari Allah swt kalau tidak kerja bagaimana ?” jawabnya”Gak kerja yah gak papa, apa hubungannya kerja dengan rizki, tidak ada hubungannya sama sekali.”

 

Allah swt sanggup dan Allah swt mampu menyediakan kebutuhan kita. Namun yang penting adalah kita tunaikan semua kehendak Allah swt. Bahaya itu adalah jika kita tidak menunaikan perintah Allah swt, ini baru bahaya. Kalau tidak kerja, atau tidak dagang, tidak kantor, itu tidak bahaya. Ini yang bahaya itu adalah meninggalkan perintah Allah swt itu tidak bahaya, sedangkan meninggalkan kerja itu bahaya. Yang tidak kerja dianggap bahaya dan yang meninggalkan perintah Allah swt tidak bahaya ini kejahilan namanya. Orang yang tidak dapat hidayah itu pemikirannya jahil, bodoh. Orang Jahil ini jangan di ikuti, sebagaimana kita jangan mengikuti orang kafir, jangan kita kagum sama keduniaan mereka. Walaupun rumah mereka bagus, pakaian mereka bagus, mobil mereka bagus, jangan kita kagum, terpedaya sama keduniaan mereka. Orang kafir ini hidupnya hanya menunggu adzab datang saja. Orang kafir ini mungkin dia kaya, seorang raja, pangkat tinggi, uang banyak, tapi hidupnya hanya menunggu adzab saja. Begitu mereka mati akan terkena adzab selama-lamanya. Kita jangan benci kepada orang kafir kalau kita yakin atas perkara ini, justru kita harus kasihan sama mereka. Jangan malah di ikuti kejahilannya itu. Kita hari ini berpendapat mengikuti daripaa pendapat-pendapat orang tidak beriman. Kita hari ini terlalu mudah mengikuti pendapat orang kafir, apa yang mereka senangin kita ikutin, dan apa yang mereka takutin kita juga ikutan takut. Padahal sama sekali itu tidak ada penjelasannya dalam Al Quran dan Hadits.

 

Hari ini orang banyak nganggur dianggap bahaya, kalau tidak sholat dianggap tidak bahaya. Ini mah pendapat orang yang tidak beriman, kita jangan ikut-ikutan. Pendapat bodoh macam itu kita jangan ikut-ikutan. Makan itu tidak ada hubungannya dengan kerja dan usaha kita. Ahli surga nanti 100% pengangguran, tidak dagang dan tidak tani, tapi tiap hari makan gak ada habis-habisnya, berlimpah-limpah.

 

Surga disebutkan dalam sebuah hadits Ahli Surga itu sekali makan pelayannya 80.000 orang. Setiap pelayan membawa 2 nampan. Jadi ahli surga ini sekali makan 160.000 nampan. Andaikata kita hargai 1 nampan ini 1 dolar saja, maka sekali makan ahli surga itu menghabiskan $160.000 dollar. Orang kaya mana yang bisa begitu, dan pemerintah mana yang bisa kasih rakyatnya makan seperti itu. Ada tidak orang yang makan siangnya saja menghabiskan $160.000 dollar buat sekali makan, belum makan malamnya, belum makan paginya. Dan berapa lama, sehari kah, seminggukah, setahunkah, tidak, untuk selama-lamanya tidak habis-habis khazanah Allah swt.

 

Asbab menyelesaikan masalah adalah tunaikan perintah-perintah Allah swt. Jadi yang kita cari kalau kita orang beriman adalah perintah Allah swt. Kesuksesan itu ada dalam menjalankan perintah Allah swt. Bukan ikut-ikutan orang kafir dengan slogan : “Time is Money”, waktu adalah uang. Bagi kita adlah waktu itu adalah Amal bukan Maal. Waktu itu untuk menunaikan perintah Allah swt. Fikir setiap waktu, tempat, dan keadaan apa perintah Allah swt. Sebetulnya kalau iman kita kuat, itu perkara rizki jangankan usaha, khawatirpun jangan ada pada kita. Sebab rizki itu perkara pasti, sudah ada jaminannya dari Allah swt. Ini sudah janji Allah swt setiap sesuatu yang hidup itu sudaha da jaminan rizkinya. Tidak akan matimkita sebelum kita menghabiskan jatah rizki kita.

 

Seorang Mubayin mengatakan bahwa ada 3 sifat Nabi Ibrahim AS :

 

  1. Selalu mengutamakan dan mendahulukan perintah Allah swt diatas perintah yang lainnya. Ini sifat pertama nabi Ibrahim AS.

 

  1. Nabi Ibrahim AS tidak pernah makan sendirian, kalau makan inginnya berjamaah ada kawannya. Mau makan belum ada teman, maka dia nyari dulu. Bahkan sampai jaulan kiloan meter untuk mencari teman makan.

 

  1. Tidak pernah risau dan mikir perkara rizki. Jangankan pergi mati-matian bekerja, dipikirkanpun tidak oleh Nabi Ibrahim AS perkara rizki ini.

 

Nabi ibrahim ini yakinnya betul bahwa perkara rizki ini urusan Allah swt. Memberikan rizki kepada hambanya ini urusan Allah swt. Kewajiban hamba itu menunaikan perintah Allah swt. Tapi kita kini sudah terbalik mau menghandle, mengambil alih tugas Allah swt dalam perkara rizki. Sibuk mati-matian dalam mencari rizki, sampai perintah Allh swt ditinggalkan, ini namanya tertipu.

 

Kenapa hari ini orang silam, bahkan ahbab, sangat sulit ditaskil untuk berdakwah, karena lebih memilih sibuk mencari rizki dibanding dakwah. Lebih mengutamakan mencari rizki dibanding perintah Allah swt, padahal rizki itu perkara pasti. Menurut ulama kalau iman kita kuat, jangankan mencari rizki, andaikata kita tidak maupun pasti akan datang kepada kita. Kenapa yang sudah pasti seperti itu dikejar mati-matian. Seharusnya yang kita kerja itu adalah perintah Allah swt, bukannya yang sudah pasti datang kepada kita.

 

Jadi kita harus yakin kepada Allah swt, bahwa tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan oleh Allah swt. Asbabnya adalah sempurnakan agama Allah swt, sempurnakan perintah Allah swt, pasti Allah swt selesaikan masalah kita. Jadi kesulitan-kesuliatn yang menimpa dunia hari ini akibat tidak yakin kepada Allah swt dan tidak yakin kalau kita jalankan perintah Allah semua masalah akan diselesaikan oleh Allah swt. Asbab Iman kita lemah maunya itu yang sesuai dengan logika kita saja penyelesaiannya kayak : kalau dagang dapat duit langsung, kalau kerja tiap bulan dapat uang, kalo tani dapat panen. Ini bukan iman cara berfikir yang seperti ini.

 

Justru Iman itu Allah swt jelaskan dalam Al Quran :

 

بِالْغَيْبِ يُؤْمِنُونَ الَّذِينَ

 

“Yaitu orang yang beriman kepada yang ghaib…” (1:3)

Rizki dari Allah swt itu perkara yang ghaib, tidak kelihatan, tapi kita harus yakin bahwa semua itu dari Allah swt termasuk rizki. Kadang-kadang orang main logika :

 

“Masa sih dengan agama rizki akan datang ?”

 

Pendapat umum manusia begitu, termasuk orang islam lemah iman juga ikut-ikutan begitu pendapatnya. Apa betul dengan menyempurnakan perintah Allah swt rizki akan mudah ? begitu logika kita. Ada keraguan dalam hati kita mengenai perkara rizki ini.

 

Kisah Maulana Ilyas dan Mahasiswa :

 

Suatu ketika maulana Ilyas sedang menjelaskan tentang fadhilah sholat kepada mahasiswa. Beliau katakan kalau kita mengerjakan sholat maka rizki akan mudah datang kepada kita, akan diberkahi rizkinya. Walaupun sedikit yang kita dapat tapi mencukupi. Dikeluarkan dari segala kesulitan. Ketika maulana ilyas sedang menjelaskan sholat, tiba-tiba ada seorang mahasiswa bertanya kepada maulana Ilyas. Dia bertanya berdasarkan logika saja. Mahasiswa itu bertanya :

 

”Maulana saya tidak paham, Masa sih hanya dengan sholat saja rizki akan datang ? Hanya dengan gerakan berdiri, ruku, duduk, bagaimana caranya masa rizki bisa datang dengan mudah ? Sekarang aja orang yang kerja keras saja susah dapat rizki, mereka pergi kepasar dagang, bertani, punya toko aja masih susah. Apalagi hanya cuman dengan sholat saja ?”

 

Maulana Ilyas rah.a menjawab :

 

Kamu lihat polisi lalu lintas berdiri di perempatan jalanan, apa yang dia lakukan ? Polisi itu hanya menggerak gerakkan tangannya ke kanan, ke kiri, dan ke depan. Kalau kita tanya ngapain kamu pak polisi gerak gerakin tangan seperti itu, tidak menanam satu padipun, tidak pergi ke sawah menanam, tidak pergi ke pasar berdagang, tidak ke toko jualan, apa-apaan yang kamu lakukan ini ? bagaimana rizki mau datang ? bagaimana kamu nanti menafkahi anak istri kamu ? Mendingan kamu berdagang, bertani, atau buka toko lebih jelas usahanya.

 

Maka si polisi menjawab :

 

“Betul saya tidak mendapat langsung. Saya tidak menanam disawah, atau tidak pergi berdagang ke pasar, atau tidak ke toko untuk jualan, kerja saya hanya menggerak-gerakkan tangan saya saja. Tapi Pemerintah yang memerintahkan saya melakukan ini, menjamin memberikan gaji kepada saya tiap bulan.”

 

Maulana Ilyas sampaikan kepada mahasiswa itu :

 

“Polisi saja yakin dengan menggerak-gerakkan tangan dia saja akan mendapatkan rizkinya tiap bulan. Kalau polisi saja yakin dengan janji pemerintah, kenapa kita tidak yakin dengan janji Allah swt ? Sedangkan Allah swt perintahkan kamu untuk sholat, masa kamu tidak yakin Allah swt bisa mendatangkan rizki untuk kamu.”

 

Sholat itu perintah Allah swt, dan Allah swt pulalah yang berjanji akan mendatangkan rizki yang berkah asbab sholat. Herannya kita ini terhadap janji janji mahluk kita yakin, tapi terhadap janji janji Allah swt ini kita tidak yakin. Ini asbab lemahnya Iman. Padahal dalam perkara dunia ini tidak ada hubungannya tapi bisa dapat rizki.

 

Contoh :

 

Pemain Badminton, dia tidak menanam padi, berdagang di pasar, atau menjual barang ditoko. Pemain badminton ini kerjanya hanya latihan tepuk tepuk kock dengan raket kesana kemari. Tau tau jadi juara badminton dapat mobil, dapet rumah, dapet uang. Padahal tidak ada hubungannya antara main badminton dengan rizki kayak menanam di sawah atau berdagang dipasar, atau jualan ditoko. Darimana hubungannya hanya dengan nepuk nepuk kok bisa dapat rizki ? Kalau perkara ini tidak ada yang bantah, herannya kalau perkara sholat langsung dibantah. Padahal sama hanya menggerak gerakkan anggota badan saja, tidak menanam padi, tidak berdagang di pasar, tidak jualan ditoko, tidak memproduksi satu barangpun, tapi rizki tetap datang. Maka kuatkan iman kita hadirin, kalau ada masalah, yakinkan diri kita hanya Allah swt yang bisa menyelesaikan masalah kita. Semua permasalahan nanti akan diselesaikan oleh Allah swt, kalau kita menyempurnakan perintah Allah swt, ini jalannya.

 

Kebodohan kita hari ini, kita tidak mau menunaikan perintah perintah Allah swt, tapi mau semua masalah beres. Bahkan kita cari jalan lain tidak mau sholat, ini sama seperti menyelesaikan masalah dengan menambah masalah, tidak akan selesai masalahnya.

 

Setiap masyarakat di negara manapun menginginkan adanya pemerintahan yang baik, pemimpin yang adil, amanah, tidak korup, dan tidak dzalim. Jadi kalau ada pemerintahan yang dzalim, korup, tidak adil, tidak amanah, yang bisa menyelesaikan maslaah ini hanya Allah swt. Hanya Allah swt yang bisa menyelesaikan perkara ini, caranya sempurnakan perintah Allah swt. Kalau kita sempurnakan agama, pasti Allah akan datangkan pemerintahan yang adil, amanah, tidak dzolim, sayang sama masyarakatnya, tidak korup. Inlah jalannya yaitu dengan menyempurnakan perintah Allah swt, tidak ada jalan lain. Kini sholat tidak mau, malah bikin partai, kampanye, malah partai islam sibuk kampanye tapi sholat ditinggalkan. Ini bukannya menyelesaikan maslaah, tapi malah bikin nambah masalah, jadi acak-acakan gak karu karuan. Partai mana yang bisa menyelesaikan pemerintahan yang dzolim, tidak amanah, dan korup, tidak ada yang bisa.

 

Sempurnakan perintah Allah swt, pasti Allah swt akan bereskan masalah kita apa saja. Jangan kita berpikir seolah olah agama tidak bisa menyelsaikan maslaah dunia kita. Perdagangan, Pertanian, Pembangunan, Ekonomi, semua akan Allah swt bereskan asbab kita sempurnakan agama. Jika kita tidak selesaikan dengan agama, tanpa agama semua ini akan acak-acakan, berantakan. Ketenangan dan ketentraman hanya akan datang dengan agama. Banyak bangsa ingin memajukan negaranya dengan memajukan pertanian, perdagangan, industri, militer, ekonomi, teknologi, tapi agama tidak dikerjakan, maka tidak akan datang yang dicita-citakan. Baca Quran :

 

  1. Kaum Madyan Maju dalam perdagangan
  2. Kaum Saba Maju dalam Pertanian
  3. Kaum Ad Maju dalam Kesehatan
  4. Kaum Tsamud Maju dalam Pembangunan

 

Mereka kaum yang sibuk dalam keduniaannya masing dan maju dalam bidangnya, tapi tidak mau mengamalkan agama, di adzab semuanya oleh Allah swt. Hari ini ada istilah :

 

“Memasyarakatkan Olahraga, Mengolah ragakan masyarakat.”

 

Tapi sholat tidak diurus. Walaupun memasyarakatkan olah raga dan mengolah ragakan masyarakat, mengharapkan kesehatan, tapi malah dalam olah raga banyak yang mati. Belajar dari kaum AD yang maju dalam kesehatan, ahli dalam oleh raga dan kesehatan, tapi akhirnya malah di adzab oleh Allah swt. Asbab menolak agama, walaupun maju keduniaannya, tetap di adzab oleh Allah swt.

 

Jangan kita menganggap enteng agama, tidak dianggap penting, bahaya nanti yang datang. Yakinkan diri kita bahwa hanya dengan agama masalah akan beres. Masalah yang datang kepada kita pribadi pribadipun dari asbab lemahnya kita dalam pengamalan agama.

 

Sedangkan cara menyempurnakan agama hanya dengan Dakwah. Tempelkan diri kita pada amal dakwah ini, jangan dilepas, pasti Allah swt akan perbaiki. Walaupun kita ini seorang preman, mantan penjahat, ahli maksiat, tapi dengan kita menempel dalam amal dakwah, pasti akan ada perbaikan. Penyebab tidak ada perbaikan itu karena asbab kita tidak sungguh-sungguh dalam dakwah, jadi tidak nempel. Namun memang perbaikan itu harus melalui proses tidak instant.

 

Analogi Proses Buah :

 

Kalau Buah itu tetap nempel pada pohon maka dia akan mengalami proses perbaikan. Awalnya buah itu dari pentil, kecil saja, rasanya pahit. Kalau buah ini tetap menempel terus pada pohonnya, maka akan terjadi perbaikan menjadi buah yang muda. Namun rasanya masih asem dari pahit ketika masih pentil. Asbab menempel terus pada pohon, maka akan terus mengalami perbaikan sampai menjadi buah yang matang rasanya manis.

 

Begitu kita dalam dakwah menempel terus jangan terlepas dari amal dakwah, maka nanti Allah swt perbaiki kita sampai kita menjadi matang dan manis seperti buah.

 

Proses Perbaikan oleh Allah swt itu ketika kita sibuk menyempurnakan agama :

 

  1. Pertama tama yang diperbaiki oleh Allah swt itu adalah masa Akheratnya, yaitu surganya kita, yang Allah swt perbaiki terlebih dahulu. Kenapa ? karena masa akherat itu yang abadi, yang terpenting bagi kita, yang kita bakal hidup selama lamanya. Jadi ketika kita sibuk memperbaiki agama kita, maka di akherat malaikat sedang sibuk memperbaiki surga kita. Malaikat sibuk bikin istana buat kita, bikin taman-taman kita, mempersiapkan istri istri kita, buat kita masuk surga nanti. Ketika ini dunia belum diperbaiki masih acak-acakkan.

 

  1. Kedua yang Allah perbaiki adalah masa shiratnya setelah memperbaiki surganya. Menyeberang shirat yang seharusnya ditempuh 1500 tahun perjalanan, bagaimana bisa dilalui secepat kilat. Supaya tidak bahaya, diperbaiki dulu itu perjalanan melewati shirat. Sedangkan dunia belum diurus lagi masih acak-acakan. Terkadang ada yang punya pemikiran ini saya dakwah sudah berkali-kali, tapi kok dunia masih acak-acakan. Sabar nanti Allah swt perbaiki setelah yang terpenting diperbaiki. Kalu buah ini masih pentil, masih pahit, belum matang proses perbaikannya.

 

  1. Ketiga yang Allah swt perbaiki adalah masa mahsyarnya, karena kita akan disana selama 50.000 tahun. DI mahsyar itu matahari menyengat seperti cuman sejengkal diatas ubun-ubun kita. Kita berdiri tanpa alas kaki sekan akan diatas tembaga kepanasan. Disana tidk ada naungan selain naungan Allah swt. Kalau kita sibuk dalam dakwah, menyempurnakan agama, mahsyar kita akan diperbaiki terlebih dahulu sebelum urusan dunianya. Jadi dunianya masih belum diperbaiki oleh Allah swt.

 

  1. Keempat yang diperbaiki adalah masa alam kubur kita, supaya dijadikan menjadi taman surga. Ada seorang dai meninggal dunia, maka Allah swt perintahkan malaikat agar didalam kubur diluaskan kamarnya dai tersebut sejauh mata memandang. Harumnya surga dibukakan untuk dirinya. Tidurnya sebagaimana pengantin baru. Namun baru mau tidur datang bidadari ngintip ngintip, menggoda dai yang sedang mau tidur. Ini dai karena melihat bidadari itu begitu cantik langsung dikejar sama dia. Bidadari itu lari ketika dikejar. Maka si dai tadi mau coba untuk tidur lagi, maka datang lagi itu bidadari ngintip ngintip menggoda. Maka dikejar lagi sama si dai, lari lagi itu bidadari. Maka yang ketiga kalinya si bidadari ngintip ngintip lagi ketika si dai mau coba untuk tidur, kali ini dikejar gak berhenti sama si dai. Samapi tertangkap kalungnya bidadari tersebut, hingga copot, putus, berserakan butiran butirannya. Maka si dai ini jongkok bersama bidadari yang dikejar tadi ngumpulin butiran butiran kalung yang berserakan. Lagi ngumpulin, asik pandang pandangan, dengan bidadari. Belum selesai ngumpulin tau tau sudah kiamat.

 

  1. Baru kalau Surganya sudah beres, shiratnya sudah beres, mahsyarnya sudah beres, kuburnya sudah beres, baru yang terakhir diperbaiki keadaan dunianya. Sehingga nanti orang orang akan heran, in dai kerja tidak ada baru pulang keluar dari luar negeri udah pergi lagi, baru balik pergi lagi, darimana rizkinya. Akan datang keadaan bagi sidai ini seperti buah yang matang dan manis rasanya.

 

 

Kita akan mendapatkan ini semua, caranya jangan sampai kita lepas dari usaha dakwah ini. Jangan sampai asbab kita dapat kesulitan dikit, amal dakwah ini kita tinggalkan. Yakinkan diri kita, tetap istiqomah dalam dakwah. Walaupun kita dimarahi, diusir, disakitin, tetap nempel dengan usaha dakwah ini. Kita dakwah bukan untuk orang lain tapi untuk Allah swt. Orang suka atau tidak suka, kita tetap jalan terus walaupun orang suka atau tidak suka pada kita. Jadi dai ini kalau mau sukses harus juga punya sifat bandel yaitu bandel untuk istiqomah. Walaupun diomelin, difitnah, disakitin, tetap tidak mau tinggalkan amal dakwah.

 

Kisah Ibrahim AS :

 

Nabi Ibrahim AS ini bandel, dibilangin sama pemerintahan Namrutz untuk berhenti dakwah tetap saja dia dakwah tidak berhenti. Orang tuanya tidak menyukai dia dakwah tetap bandel, dakwah terus. Masyarakatnya tidak menyukai dakwahnya ibrahim as, tetap saja ibrahim as bandel, dakwah terus tidak berhenti. Ini bandelnya Nabi Ibrahim as perlu ditiru.

 

Andaikata semua karkun berhenti tidak dakwah, maka kita bandel terus tidak berhenti dari dakwah. Bukan karena asbab orang banyak kita ikut dakwah, orang lemah ikta ikut lemah dakwahnya. Jangan biarkan kita seperti itu.

 

Haji Abdul Wahab Daamat wabarokatuhu berkata :

 

Walaupun Maulana Ilyas bangkit dari kuburnya mengatakan kepada saya untuk berhenti dari dakwah, saya tidak mau berhenti.

 

Inilah keyakinan Haji Abdul Wahab terhadap dakwah ini, sudah yakin bahwa dakwah ini adalah perintah Allah swt. Dia bilang siapapun yang menyuruh dia berhenti dari dakwah walaupun maulana ilyas yang bilang jika bangkit dari kuburnya, tidak akan berhenti dakwah. Harus nekad seperti itu kita dalam dakwah. Jangan kita ragu-ragu dalam dakwah ini, asbab orang lain lemah, kita ikut-ikutan mundur. Apalagi orang yang tidak mengerti dakwah : mengatakan sesat, tidak ada dalilnya, kita malah terpengaruh, ini karena iman lemah. Orang yang tidak paham tidak akan mengerti tentang pentingnya kerja dakwah ini, walaupun ada dalilnya, ada hadits dan firman Allah swt nya. Kenapa ? karena ini perkara hidayah. Kalau tidak ada hidayah tidak akan ada kemampuan untuk memahami, walaupun dia Alim.

 

Maulana Yusuf Al Khandalawi berkata :

 

“Sebetulnya saya bisa menghubungkan setiap ayat quran ini dengan dakwah. Bukan satu atau dua ayat quran, tapi semua ayat quran ada hubungannya dengan perintah dakwah. Cuman asbab kita sudah lama meninggalkan dakwah, seolah-olah ayat yang kita baca itu tidak ada hubungannya.”

 

Coba kita baca ayat-ayat pendek saja seperti surat al ikhlas :

 

Qul Huwallahu Ahad : “Katakan Allah swt itu Satu”

 

Arti “Qul” disini adalah katakan, maksudnya sampaikan, dakwahkan. Tidak ada pengajian yang membuka perkara ini, padahal ini perintah dakwah. Kenapa tidak langsung menggunakan Allahus shomad, kenapa harus ada kata-kata “Qul, ini karena perintah Dakwah. Dakwahkan bahwa Allah itu Ahad, dakwah bahwa Allah itu As shomad, dan seterusnya, ini perintah dakwah. Sekarang malah tidak mengakui, mempertanyakan mana perintahnya, mana dalilnya. Ini bukti bahwa yang salah itu otak kita. Siapa yang mau membantah itu, Allah swt sendiri yang mengatakan “Qul”, sampaikan, katakan, dakwahkan, ini perintah Allah swt. Inilah dakwah kita dalam tabligh, kita dakwahkan Allah Kholiq, Allah Razik, Allah Malik. Jadi jangan heran bahwa dai itu menjalankan ayat Quran. Berulang-ulang, disampaikan lagi, sampaikan lagi. Maksudnya bukan hanya sekedar tahu tapi sampai datangnya keyakinan kepada kita.

 

Kita harus yakin bahwa agama ini tidak hanya untuk menyelesaikan masalah akherat, tapi juga menyelesaikan seluruh masalah dunia kita Bukan perkara akherat saja, perkara duniapun Allah swt selesaikan asbab dakwah. Sampaikan dalam dakwah ini, kalau agama ini disempurnakan, diamalkan, maka Allah swt akan selesaikan seluruh masalah-masalah kita. Ajak masyarakat mengamalkan agama. Kalaulah agama ini diamalkan secara sempurna, tidak akan datang yang namanya Tsunami, Gunung Meletus, Gempa Bumi, Longsor, ataupun Banjir. Sebab Janji Allah swt :

 

man ‘amila sholihan min dzakarin aw untsa wahuwa mu’minun falanuh yiyannahum hayatan thoyyibah

 

artinya :

 

Barang siapa taat kepada Allah swt mengamalkan agama, baik laki-laki maupun perempuan, dan mereka beriman, maka pasti Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik. (16:97)

 

Apa itu kehidupan yang baik yaitu kehidupan yang aman dan tentram. Sehingga Allah swt janji jika masyarakat ini taat maka Allah swt :

 

  1. Disiang hari dibersihkan udara, dan dicerahkan matahari bersinar.
  2. Dimalam hari diturnkan hujan menyuburkan tanaman

 

Kita tinggal tidur nyenyak saja, semua Allah swt atur hujan turun tidak berlebihan sampai mengakibatkan banjir, kemarau tidak berlebihan sampai tidak bisa nanam, Ombak tidak ditinggikan sampai menyebabkan tsunami, bumi ditenangkan tidak sampai gempa, semua menjadi berkah. Keberkahan Allah swt turunkan dari atas langit dan bawah bumi asbab kita sempurnakan agama. Sehingga kehidupan kita tenang dan tentram. Hari ini kenapa Hujan turun Banjir, Matahari panas jadi kebakaran hutan, musim hujan berkepanjangan, musim kemarau berkepanjangan, longsor, gempa bumi, gunung meletus, kenapa ini semua terjadi ? ini terjadi asbab dosa-dosa kita, asbab kita tinggalkan agama. Tidak bisa itu gempa diatasi dengan teknologi. Teknologi mana yang bisa mengatasi gempa, tidak ada. Yang bisa mengatasi gempa hanya pengamalan agama, cuman orang-orang hari ini tidak paham malah dikecilkan, diremehkan.

 

Bahkan orang-orang Atheis menganggap agama itu semacam candu, menghambat kemajuan dunia. Agama menyebabkan manusia tidak produktif. Padahal dibalik agama segala kebaikan akan datang kepada kita. Sebetulnya kalau kita tidak mau dakwah, dunia saat ini sedang dilanda kejahilan.

 

Maksud utama manusia ini diciptakan oleh Allah swt adalah untuk mengenal Allah swt. Jadi tugas manusia yang utama ini adalah mengenal Allah swt. Siapa itu Allah swt ? para ulama sampaikan bahwa maksud ari ayat :

 

Waman khalaqtul jinna wal-insa illa li-ya’buduni.

 

Artinya :

 

Dan tidaklah Aku (Allah (a.w) jadikan jinn dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu

 

Tafsir ulama adalah tidak aku ciptakan Jin dan manusia kecuali untuk mengenalku. Liya’budun disini sama dengan liya’lifuun, maksud dari beribadah itu adalah mengenal Allah swt. Ini yang utama kita harus mengenal siapa Allah swt. Namun yang berlaku hari ini kita merasa maju dalam ilmu pendidikan, dibangun universitas dimana mana, dengan berbagai macam fakulktas. Tapi tidak ada satu fakultaspun yang memperkenalkan Allah swt kepada manusia. Ini merupakan suatu kejahilan, tidak mengenal Allah swt. Buku kedokteran, Buku Science, Buku Teknologi, Buku Pertanian, semua tebal tebal tapi tidak ada satu kali pun yang menyebut nama Allah swt, inilah kejahilan. Bodohnya kita justru merasa maju dengan kejahilan. Kita bilang negara maju karena pendidikan science dan teknologi, tapi justru ini kejahilan karena tidak mengenal Allah swt. Sampai-sampai semua yang ahli-ahli dalam ilmu tersebut mengambil kesimpulan bahwa Allah swt itu tidak ada. Jangan kita silau kita harus bangkit dalam usaha dakwah ini. Jangan kita terpukau dengan kemajuan dunia orang tidak beriman.

 

Imam Ghazali rah.a :

 

Karena penduduk dunia ini banyak orang jahil sehingga dunia nampak menjadi cantik. Pekerjaan orang Jahil itu senangnya mempercantik dunia.

 

Namun oleh kita hari ini dianggap itu sebagai suatu kepandaian bukan kejahilan, sehingga kita menjadi jahil juga. Kalau orang berilmu itu senangnya mempercantik akherat bukan dunia. Mempercantik amalan bukan kebendaan. Hari ini kesibukan kita mempercantik bangunan, kendaraan, baju, dan kebendaan lainnya, sama seperti orang jahil. Pakain diperbaiki keliatan indah tapi akhlaq tidak diperbaiki, malah rusak. Baju bagus tapi kelakuan rusak. Kita sudah terbawa-bawa sama mereka yang Jahil. Seluruh Nabi diutus, tidak ada satupun, yang diutus untuk memperbaiki kebendaan, tidak ada satupun. Semua nabi diutus bagaimana memperbaiki hati kita, iman kita, bukan memperbaiki kebendaan, justru mereka mengorbankan kebendaan mereka. Para Nabi diutus untuk memperbaiki iman dan amal kita. Banyak hari ini orang rumah megah, mobil mewah, pakaian bagus-bagus, tapi akhlaqnya seperti binatang. Jangan kita ikuti orang macam itu. Dan jangan kita ikut-ikut yakin kalau rumah kita megah pasti bahagia, kalau mobil mewah pasti bahagia, kalau baju bagus pasti bahagia, ini ilusi saja seperti phatamorgana. Tidak ada janji Allah swt disitu. Yang ada kalau agama kita bener, pasti Allah swt datangkan kebahagiaan kepada kita, keamanan dan ketentraman.

 

Kita harus yakin pada para Nabi, mereka itu membawa ajaran yang benar, jangan justru kita mengikuti ajaran orang kafir, orang yang tidak kenal pada Allah swt. Hari ini kita sampai sampai meninggalkan pesan dan arahan Nabi saw, dan lebih mengikuti cara hidup dan ajaran orang kafir. Inilah kejahialn yang terjadi hari ini didalam kehidupan ummat. Atas perkara ini kita perlu risau dan bangkit dalam usaha dakwah ini. Sampaikan kepada semua manusia agar mereka mau memperbaiki yakin, perbaiki amal, perbaiki cara hidup mengikuti Nabi saw dan para sahabat ra, baru keadaaan akan menjadi baik. Semua keadaan dapat diperbaiki dengan memperbaiki hubungan kita dengan Allah swt.

 

Bahkan dalam rumah tangga kita terjadi katakanlah istri tidak mau menunaikan hak hak kita, anak menyusahkan kita, tetangga menyusahkan kita. Itupun cara menyelsaikannya dengan agama, Allah swt yang akan membereskannya. Bukan dengan cara kita memarahi istri dan anak kita, atau tetangga kita, itu bukan jalan keluar.

 

Hadits Nabi Saw :

 

Man aslaha bainahu wa bainallah aslahullahu bainahu wa bainannas

 

“Barang siapa yang memeprbaiki hubungan dengan Allah swt, Maka Allah swt akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.”

 

Dari kaca mata keimanan, jika istri menyusahkan kita, maka itu akibat dari pada dosa-dosa kita. Perbaiki hubungan kita dengan Allah swt, maka Allah swt akan perbaiki hubungan kita dengan keluarga kita, anak dan istri kita. Kalau anak menyusahkan kita, itupun akibat dari dosa kita. Perbaiki hubungan kita dengan Allah nanti Allah swt perbaiki hubunganb kita dengan anak kita. Kalau tetangga menyusahkan kita itupun akibat dari dosa-dosa kita. Perbaiki hubungan kita dengan Allah swt maka nanti Allah swt perbaiki hubungan kita dengan tetangga kita. Begitu juga kalau teman kita menyusahkan kita, karkun menyusahkan kita, syuro menyusahkan kita, perbaiki hubungan dengan Allah swt maka nanti Allah swt akan perbaiki hubungan kita dengan mereka. Bahkan andaikan pejabat atau pemerintah menyusahkan kita, jangan salahkan mereka. Justru perbaiki hubungan kita dengan Allah swt maka nanti Allah swt akan perbaiki keadaan kita.

 

Allah swt berfirman dalam hadits qudsi :

 

“Wahai HambaKu janganlah kalian terlalu menyalahkan penguasa-penguasa kamu, karena hati mereka ada ditanganKu. Kalau kamu taat kepadaKu, maka aku akan robah hai raja-raja / penguasa-penguasa menjadi lembut kepadamu. Tapi kalau kamu tidak taat kepadaKu maka aku akan hati-hati para raja / penguasa menjadi dzalim kepada kamu.”

 

Asbab ketidak taatan kita Allah swt kirim pemimpin yang dzolim kepada kita, tidak amanh, dan korup. Dari kaca mata Iman, yang namanya korupsi tidak bisa diberantas dengan KPK. Kalau masyarakatnya rusak akan berlaku terus itu korupsi. Bahkan bisa saja orang KPK nya malah korupsi. Tapi itu jangan kita salahkan mereka, biarkan mereka berjalan, Pemilu jalan, Pilkada jalan, Pilpres jalan, KPK, DPR, Partai Politik, semua silahkan jalan dengan perannya masing-masing. Tapi kita yang justru harus menyempurnakan agama. Pasti kebaikan akan datang, dengan sempurnanya agama. Cara memperbaiki agama yang benar adalah dengan cara dakwah.

 

Kargozari Khususi:

 

Ketika sedang khususi datang kerumah satu orang pemuda sarjana, kerja di departemen luar negeri. Dia berkata “Kemana Otak kamu ini, masa agama akan baik hanya dengan berjaulah ketempat tempat orang. Nentengin kompor minyak ke kampung-kampung.”

 

Banyak orang macam ini, karena dia tidak tahu bahwa ini amal besar. Mereka yang tidak ada dalam kerja ini tidak paham. Para Nabi juga mengusahakan dakwah ini juga tidak bisa dipahami oleh masyarakatnya ketika itu, bertentangan dengan akal sehat dan logika mereka.

 

Analogi :

 

  1. Namrutz orang kaya, pintar, dan berkuasa, juga tidak bisa memahami kerja dakwahnya Nabi Ibrahim AS. Dia pikir apa lagi ini yang mau dicari sama nabi ibrahim as. Namrutz berpikir tuhan banyak aja tidak bisa menyelesaikan maslaah, apalagi cuman satu tuhan. Inilah pemikiran Namrutz.

 

  1. Begitu juga Firaun dengan para staf-stafnya, tidak bisa memahami kerja dakwah nabi Musa AS.

 

Kargozari :

 

Ada mashasiswa IAIN berkata, “saya heran dengan dakwah orang-orang tabligh ini, yang dakwah bukan dari kalangan orang-orang berilmu. Kalau taklim baca fadhail amal saja, itu itu saja yag dibaca. Kalau baca quran cuman 10 surat terakhir saja, itu itu saja yang diulang juga. Bayan subuh hanya 6 sifat, ngantuk-ngantuk lagi yang mendengarkannya. Tapi kok kenapa bisa yah jemaah ini makin terus bertambah banyak, bertambah banyak terus. Dimana sih keistimewaannya.”

 

Jadi dia heran kenapa kerja dakwah ini bisa sedemikian rupa mendatangkan perubahan dan banyak ikut dalam amal dakwah ini. Dia tidak paham di balik dakwah ini ada kekuatan yang luar biasa bersama amalan dakwah ini. Kita tidak bisa membayangkan kekuatan yang berada dibalik amalan dakwah ini. Maka kita harus yakin atas perkara ini.

 

Lalu si mahasiswa IAIN berkata lagi : “Kalau pengajian lain ini diajar seorang ustadz, kalau ustadz tidak datang maka bubar pengajiannya. Namun di pengajian dakwah ini, aneh, walaupun yang bayan mantan preman, tapi semua duduk mendengarkan.”

 

Jadi dia bingung secara logika tidak masuk diakal, kok bisa begitu. Bagi orang-orang diluar dakwah, ini merupakan suatu keanehan amalan dakwah ini. Bayangkan kerja ini dimulai dari satu orang yaitu syekh maulana ilyas rah.a. Sekarang kerja dakwah ini sudah tersebar kemana mana di seluruh dunia hidup amal dakwah. Kalau kita pergi khuruj keluar negeri, dijemput, dilayanin, dan sayangnya mereka kepada kita serasa melebihi saudara sendiri. Iqromnya mereka kepada kita, Akhlaqnya mereka kepada kita luar biasa. Terjalin betul hubungan agama itu, sebagaimana saudara sendiri itu ada terasa.

 

Kalau dahulu saya suka bingung kalau khatib khotbah suka berkata, Alhamdullilah dengan nikmat iman dan islam yang Allah swt berikan kepada kita. Saya pikir apaan itu nikmat iman dan islam, gak paham saya. Taunya kita itu yang namanya nikmat itu kalau dapat duit banyak. Dapat keduniaan itu nikmat sebelum ikut dakwah, belum tau nikmat iman dan islam. Belum paham nikmat agama itu. Sebab kita lemah iman kita dan pemahaman kita tentang islam. Jika kita lemah dalam iman kita, tidak akan bisa merasakan kenikmatan iman dan islam. Namun kita sudah wujud iman didalam hati kita, baru akan terasa nikmat iman dan islam. Wujudkan islam baru terasa nikmatnya islam. Hari ini cuman khotib saja yang bisa berbicara nikmat iman dan islam, padahal khotib sendiri belum tentu juga merasakan nikamt iman dan islam. Cuman ngomong doang bisanya, tapi tidak pada prakteknya. Untuk wujudnya iman dan islam ini hanya dengan dakwah ini saja.

 

Sering terjadi pada kita kesulitan, tapi asbab kita tawajjuh pada Allah swt, semua di selesaikan oleh Allah swt dari arah yang tidak disangka-sangka. Seperti kepada seorang sahabiyah, dia ditawan, diikat tangannya, dibentang di tengah terik panas terik, di padang pasir, kehausan, tapi tetap tawajjuh kepada Allah swt. Sementara yang menawannya berada dikemah, teduh, ada air, ada makanan, tapi tidak diberikan kepada dia. Asbab tawajjuhnya dia kepada Allah swt, datang nusrotullah, pertolongan Allah swt. Ada ember dari langit turun, memberi minum kepada sahabiyah tadi. Sahabiyah ini meminum dari ember tersebut sampai menjadi segar bugar. Asbab air dari Allah swt ini, haus hilang, lapar hilang, letih hilang, jadi segar lebih dari sebelumnya. Waktu yang menawan lihat, heran dia melihat sahabiyah yang segar bugar. Mustinya ini sahabiyah nampak menderita, kehausan, kelaparan, dan letih. Seharusnya sahabiyah itu sudah mati minimal pingsan, bukan malah jadi fresh dan segar. Ketika didekati ternyata rambut dan pakaiannya sahabiyah ini basah ada air. Dia bingung darimana sahabiyah ini dapat air. Maka dia menuduh sahabiyah ini, pasti kamu mencuri air kami. Maka sahabiyah tadi minta agar diperiksa saja air simpenan mereka berkurang atau tidak. Ternyata setelah diperiksa air tidak berkurang sama sekali. Makin bingung mereka, darimana sahabiyah ini bisa dapat air. Sahabiyah tadi langsung bilang aku dapat dari Allah swt. Asbab keimanan sahabat ini sudah sampai pada taraf bisa mendatangkan pertolongan Allah swt secara dzohir, akhirnya para penawan ini masuk islam.

 

Masalah Allah swt datangkan kepada kita, sebetulnya untuk mendatangkan iman, kalau kita senantiasa tawajjuh kepada Allah swt. Untuk memperbaiki kehidupan ini, yang harus kita perbaiki adalah amal kita bukan kebendaan yang kita perbaiki. Orang-orang yang tidak mempunyai iman, mereka berpikir dapat memperbaiki kehidupan dengan memperbaiki kebendaan. Menurut mereka hidup akan baik kalau kebendaan meningkat. Jadi orang yang tidak beriman, yang mereka pikirkan adalah senantiasa memperbaiki kebendaan untuk mendapatkan kehidupan yang baik, padahal tidak. Padahal kalau kita mau jujur pada diri kita sendiri, tidak ada perbaikan dengan caqra seperti itu. Betul kebendaannya bertambah atau meningkat, tapi kehidupan dia tidak ada perbaikan. Masalah tetep tidak akan hilang dengan kebendaaan, dan kebahagiaan yang hakiki tidak akan datang dengan kebendaan.

 

Anehnya, di negara-negara yang maju secara kebendaan dan keduniaannya, justru disana tingkat bunuh diri paling tinggi. Di Eropa, pendapatan negara yang paling tinggi itu di swiss. Justru di swiss itu tingkat orang bunuh diri paling tinggi itu di swiss. Waktu jepang pernah menjadi negara yang pendapatannya paling tinggi asbab ekonominya yang maju, berdasarkan survey dan berita ketika itu, yang paling banyak bunuh diri itu justru dijepang. Sekarang beralih ke china, disana paling banyak orang bunuh diri, padahalekonomi cina paling maju sekarang ini. Apa ini tidak bisa dijadikan pelajaran bahwa bukan dengan cara memperbaiki kebendaan untuk bisa menyelesaikan permasalahan, mendapatkan kebahagiaan dan kehidupan yang baik. Jadi yang bisa menyelesaikan permasalahan kita ini adalah amal agama.

 

Di amerika untuk bisa menyelesaikan permasalahan kesehatan, maka mereka memperbanyak dokter dan rumah sakit, memperbaiki peralatan kesehatan, diperbanyak produksi obat-obat berkualitas, dan memajukan teknologi kesehatan. Tapi anehnya bukannya orang tambah sehat, ini rumah sakit penuh terus. Katanya maju dalam perkara kesehatan tapi orang sakit justru paling banyak. Ini bukan maju namanya, kalau maju itu tidak ada orang sakit. Ini dokter banyak, obat banyak, rumah sakit banyak, tapi yang sakit banyak juga. Lain dengan perkampungan sahabat justru mereka yang maju dalam kesehatan.

 

Kisah Sahabat :

 

Suatu ketika ada seorang dokter diutus untuk memelihara kesehatan para sahabat ra. Berbulan-bulan buka praktek tidak ada pasien yang datang. Walaupun hanya sekedar sakit kepala atau sakit perut, tidak ada yang datang ke dokter. Doketrnya juga heran kenapa bisa orang tidak ada yang sakit diperkampungan sahabat, sehat-sehat semua. Ini baru yang namanya maju dalam hal kesehatan, bukan yang rumah sakitnya penuh.

 

Kenapa bisa seperti itu kesehatan yang didapat di perkampungan sahabat ? ini karena para sahabat ra mengamalkan agama secara sempurna ketika itu. Jadi kesehatanpun akan datang dengan agama.

 

Hadits Nabi saw mahfum :

 

Al Marots minal junub : Penyakit itu daripada dosa.

 

Jadi penyakit itu tidak dapat diselesaikan dengan obat, melainkan hanya dengan agama. Andaikan kita mengamalkan secara sempurna, maka bibit bibit penyakit itu tidak akan mempan terhadap kita. Asbabamal agama, diri kita akan dijaga oleh Allah swt dari penyakit.

 

Kisah Sahabat :

 

Khalid bin walid menangkap seorang kafir. Si orang kafir ini berkeyakinan dia akan di siksa, sehingga dia ketakutan. Dia takut kalau disiksa rahasianya bocor, maka dia mau minum racun. Maka diambil itu racun dan ditanya oleh khalid. Apa ini kata khalid, si tawanan bilang itu racun. Maka kata khalid, aku tidak yakin racun ini bisa mematikan, yang mematikan dan menghidupkan itu Allah swt bukan racun. Mak diminum oleh Khalid ra racun itu. Mustinya mati khalid bin walid ra, bahkan bukannya mati malah racun tersebut menyembuhkan penyakit yang diderita khalid bin walid. Inilah keyakinan khalid bin walid bahwa racun itu mahluk, sdangkan mahluk tidak bisa mendtangkan manfaat dan mudharat tanpa seizin Allah swt. Bukannya penyakit, kononnya khalid bin walid mengidap penyakit malah sembuh dia dengan racun tersebut.

 

Kisah dalam Bayan Haji Abdul Wahab, Markaz pakistan :

 

Beliau bercerita bahwa ada pasangan suami istri kaya raya, punya anak hanya satu laki laki. Mereka begitu sayang dengan anaknya. Ketika si anak ini sudah beranjak dewasa menjadi seorang pemuda, orang tuanya mencarikan untuknya seorang wanita yang cantik dan sholihah untuk dia agar segera menikah. Maka dinikahkanlah anak tadi dengan wanita yang cantik dan sholihah pilihan orang tuanya. Ketika pernikahan sudah berumur tahunan, mereka tidak dikaruniai anak. Jadi orang tuanya gelisah, mau dikemanakan harta kekayaan mereka, kalau keturunan mereka punah, sedangkan anak cuman satu-satunya tapi bisa memberikan keturunan. Asbab ini orang tua anak tersebut risau, karena mungkin istrinya yang sekarang ini mandul. Sehingga mereka bermusyawarah, lalu memutuskan untuk mecarikan lagi istri untuk si anaknya tersebut. Hasil musyawarah ini akan disampaikan kepada anaknya tersebut. Maka si anak orang kaya tadi gelisah, karena dia merasa permasalahannya bukan di istrinya tapi dia sendiri secara fisik memang dia tidak mampu, bermasalah dengan kelaki-lakiannya alias impotent. Tapi untuk menceritakan masalah ini kepada orang tuanya, dia malu. Sehingga dia risau, satu saja tidak bisa dilayanin apalagi punya dua. Maka si pemuda ini karena frustasi, stress memikirkan masalah ini, dia minum racun. Namun anehnya bukannya mati si pemuda ini malah sembuh impotentnya, barangnya jadi hidup. Sehingga dia selamat, dan bisa punya anak.

 

Ada komentar kenapa bisa terjadi demikian ? ini adalah kisah nyata. Ulama katakan ini asbab kesabaran istrinya. Bertahun-tahun tidak mengeluh kepada siapapun, dia tidak ceritakan aib suaminya, bahwa suaminya punya maslaah atau penyakit. Tidak seperti peremuan hari ini, mengadu terus, curhat terus, mengeluh terus. Asbab kesabaran istrinya, maka diberikan jalan keluar oleh Allah swt. Racun yang seharusnya bikin mati malah bikin hidup.

 

Kita harus memiliki keyakinan bahwa hanya Allah swt yang kuasa dan selain Allah tidak bisa apa-apa. Sempurnakan agama, maka nanti Allah swt akan tolong kita keluar dari segala masalah. Jadi kita sebagai dai kalau ada masalah itu, jangan mengeluh, jangan diumbar, tapi perbaiki amalan. Maka

 

Maka pertama yang harus kita lakukan dalam memperbaiki amalan ini adalah kita perbaiki sholat kita. Sebab dalam sholat itu ada kekuatan. Kalau sholat kita benar maka amal kita yang lain akan jadi benar. Kalau sholat kita salah, maka amal kita akan jadi salah. Jika sholat baik, hasilnya amal akan jadi baik. Jika sholat buruk, maka amal akan jadi buruk. Ini tehnik untuk memperbaiki setiap amalan, perbaiki sholat. Kalau sholat baik maka amal kita akan menjadi baik.

Kisah Maulana Ilyas :

 

Suatu ketika ada orang khidmat kepada maulana Ilyas mau menuangkan teh, tapi tumpah. Apa kata maulana Ilyas ? perbaiki sholat kamu.

 

Kisah Syaidina Umar RA :

 

Suatu ketika Umar RA ditanya alasan pengangkatan si fulan menjadi pejabat di pemerintahannya. Maka umar RA menjawab bahwa Ini karena si fulan ini sholatnya baik.

 

Begitulah yakin para sahabat RA. Kalau orang sholatnya baik, pasti amalnya akan baik. Maka untuk memperbaiki kehidupan ini, perbaiki sholat kita. Dalam memperbaiki sholat ini kita harus banyak berlatih. Selain melatih mengerjakan sholat-sholat yang fardhu kita latih juga mendirikan sholat-sholat yang sunat. Masyeikh kita menganjurkan agar kita jangan sampai tertinggal sholat sunnah rawatib :

 

  1. Jaga Sholat Qobliah dan Ba’diah, disempurnakan
  2. Jaga Sholat Ishraq
  3. Jaga Sholat Dhuha
  4. Jaga Sholat Tahajjud
  5. Jaga Sholat Awwabin
  6. Jaga sholat Tasbih

 

Jika ini kita jaga, insya allah perbaikan kehidupan akan datang kepada kita. Perbaikan kehidupan ini akan datang dengan amalan amalan. Sibukkan diri kita dalam dakwah, nanti perkara-perkara rizki Allah swt akan mudahkan datangnya dengan amalan saja.

 

Nasehat H. Abdul Wahab Kalau mau masuk rumah jangan lupa :

 

  1. Mengucapkan salam
  2. Lalu baca Surat Al Ikhlas

 

Maka nanti Allah swt akan bereskan rizki kita.

 

Hadist Nabi saw mahfum :

 

Barang siapa membaca 3 surat secara berurutan sebanyak kilai yaitu : Al Ikhlas, Al Falq, dan An Nas, diwaktu pagi dan sore, maka Allah swt akan cukupi segala keperluannya.

 

Mudah saja semua urusan kita ini bagi Allah swt, semua bisa diselesaikan dengan amalan agama. Sibukkan diri kita dalam amal dakwah, maka dengan amal dakwah ini, agama kita Allah swt akan perbaiki. Dengan amal agama, maka kehidupan akan terperbaki.

Asbab perbaikan :

 

  1. Dengan Dakwah, maka Amal Agama kita akan terperbaiki
  2. Dengan Amal Agama, maka Kehidupan kita akan terperbaiki.

 

Dalam dakwah ini ada orang yang asbab dakwah, maka amalnya menjadi baik, begitu pula keduniaannya juga menjadi baik. Namun kalau ada di dalam dakwah ini, sudah buat amal, tapi kehidupannya masih kacau, maka jangan kita salahkan. Memang segala seuatu itu ada prosesnya. Sebagaimana perumpamaan buah tadi. Namun bagi yang sudah matang seperti buah, jangan mengejek kepada mereka yang belum mateng, kamu ini masih pentil, belum tau apa-apa, masih asem. Jangan kita begitu kepada mereka, karena kita pun dulu juga seperti itu. Kita harus saling memaklumi dalam dakwah ini. Kadang-kadang orang, istilahnya nge jod dalam dakwah, berkata : saya kemana-mana dakwah ambil takaza dan nishob sekarang tidak perlu asbab lagi. Padahal orang macam ini kebanyakan justru malah suka mengharap kepada bantuan orang. Ini tidak benar, kitapun tidak diperintahlan untuk seperti itu.

 

Meninggalkan Asbab itu jika diperlukan. Jadi normal-normal saja, jangan terlalu berlebihan. Kita tidak boleh meninggalkan asbab , pekerjaan, atau keduniaan kita. Namun jika asbab ini terbentur dengan takaza agama, maka kita siap meninggalkan asbab asbab kita.

 

Dalam Kitab Al Hikam :

 

Ada orang yang sudah tinggi maqomnya tingkatannya sudah tinggi tidak perlu lagi kerja dunia, tapi masih saja mengejar dunia, maka ini adalah hawa nafsu. Tapi ada orang yang maqomnya masih bersandar pada asbab, masih butuh keduniaan, tapi malah ditinggalkan tidak mau kerja, tidak mau berasbab, maka ini juga hawa nafsu.

 

Maka untuk perkara ini dalam menentukan asbab atau tinggalkan asbab, kita perlu bermusyawarah.

 

Jangan kita justru membela hawa nafsu kita dengan menggunakan dalil Al Quran dan Hadits.

 

Misalnya ada Hadits mahfum :

 

Tholabul Rizki Halal Faridhoh : Mencari Rizki Halal itu Fardhu

 

Ini hadits benar sekali, tidak ada yang salah, sudah seharusnya kita mengamalkannya seperti itu. Namun menurut para ulama, Fardhunya itu dikala perlu, kalau tidak perlu tidak fardhu. Bahkan kalau sampai meninggalkan perintah Allah swt dalam mencari rizki ini bisa menjadi dosa.

 

Kisah Syaidina Ali RA :

 

Ketika sehabis pulang di jalan Allah swt, Ali RA balik ke rumahnya ternyata tidak ada makanan. Maka dia pergi kerja mencari nafkah untuk beliau, istrinya, dan anaknya. Maka ketika ini berlaku hadits nabi saw, tholabul rizki faridhoh, mencari rizki itu fardhu. Maka Ali RA pergi kerja kepada orang yahudi menimba air, untuk menyiram tanaman. Setiap timba dapat satu korma. Setelah beberapa timba dapat beberapa genggam korma yang cukup untuk dia, istrinya, dan anaknya, maka berhenti menimba air. Kata si yahudi jangan berhenti masih belum tersiram semua tanaman. Kata Ali ra, ini sudah mencukupi apa yang saya terima untuk keluarga saya, sedangkan saya ada kerja lain. Yaitu kerja agama. Kata si yahudi ini tanggung biar saya tambah gajinya atau bayarannya, menjadi 2 kurma untuk setiap timba. Namun Ali ra menolak tidak mau, saya ada kerjaan yang lebih penting lagi. Llau si yahudi tadi menaikan lagi bayarannya menjadi 3 kurma untuk setiap timbaan. Namun tetap ditolak oleh Ali RA karena ada pekerjaan yang lebih penting lagi. Ini penghasilan yang saya dapat sudah cukup untuk makan hari ini dia dan keluarganya. Inilah sahabat yang memahami maksud dari hadits tholabul ilmi faridhoh, mencari rizki yang halal itu wajib. Namun ketika sudah mencukupi tidak wajib lagi.

 

Namun hari ini yang kita lakukan tidak seperti itu. Kita yang dipikirkan bagaimana ada simpanan untuk besok, untuk lusa, untuk seminggu, untuk sebulan, untuk setahun, tidak habis-habis dipikirkan dan diusahakan sampai-sampai meninggalkan perintah Allah swt. Demi mencari rizki kita tinggalkan perintah Allah swt. Kita tinggalkan takaza agama, tidak mau berangkat 3 hari, 40 hari, 4 bulan, asbab tidak cukup cukup mencari rizki. Kita sibuk saja dengan pekerjaan kita tidak mau pergi, bahkan sampai lemburpun diambil karena tidak ada yakin bahwa rizki itu sudah Allah swt yang jamin. Bilangnya mencari rizki itu fardhu, padahal sudah cukup.

 

Alasan saja mencari rizki fardhu, sampai-sampai perintah Allah swt ditinggalkan. Ini bukan pahala yang didapat, justru dosa. Sebab perintah-perintah agama itu ada waktunya, inilah yang harus kita pahami, jangan kita terbawa hawa nafsu.

 

Maka untuk bisa ke taraf itu kita harus latihan diri kita. Memang asbab dosa-dosa kita hari ini, kita sudah terperangkap dengan dunia ini. Dalam ijtima di malaysia, saya terkesan dengan doa seorang syuro disana. Dikatakan dalam doanya :

 

“Ya Allah, Engkau hidupkan kami, dan kirimkan kami ke dunia ini, sebagai ummat Muhammad saw adalah untuk kerja agama. Namun hari ini kami telah tinggalkan usaha agama ini, kami sibukkan diri kami dalam hal perkara dunia.. Akhirnya kami terperangkan dalam kesibukan usaha dunia. Seperti tikus masuk perangkap. Ya Allah keluarkan kami dari perangkap dunia ini.”

 

Asbab doa ini, saya menyadari bahwa betul sekali doa ini. Umat islam yang ditugasi kerja agama malah sibuk perkara dunia, sampai akhirnya terperangkap oleh usaha dunia. Sehingga mau keluar di jalan Allah swt tidak bisa, karena tidak dapat cuti, mau panen, tidak ada waktu, belum keluar gaji, dan lain-lain. Inilah yang dimaksud terpeerangkap dunia. Mak kita perlu berdoa kepada Allah swt agar kita dilepaskan dari perangkap dunia ini. Alhamdulillah hari ini sudah ada saudara kita dari kalangan pejabat, pegawai, tentara, polisi, bisa keluar 3 hari, 40 hari, dan 4 bulan. Secara logika kayaknya tidak mungkin, tapi Allah swt kuasa mampu merubah segala keadaan. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah swt. Allah swt kuasa melepaskan kita dari perangkap-perangkap dunia. Bukan berarti kita harus berhenti dari kerja kita, atau meninggalkan asbab-asbab kita, tidak demikian. Kita tetap punya asbab, punya kerja, tapi kerja agama ini lebih diutamakan. Nanti Allah swt yang akan berikan kita jalan keluar.

 

Agar Agama ini bisa mendatangkan kesan kepada umat, maka yang perlu kita lakukan pertama kali adalah usaha agama atas diri kita. Kita harus memasukkan agama ini dalam diri kita, baru nanti agama ini kan mendatangkan kesan kepada ummat. Jangan kita menjadikan diri kita menjadi asbab orang terjauh dari dakwah.

 

Kita sudah lama berada dalam dakwah, sudah jadi jumidar, sudah menjadi penanggung jawab markaz, halaqah, mahalah, tapi justru muamalah, muasyarah, akhlaq kita buruk. Hanya ngomong saja dalam bayan tentang agama, tapi prakteknya tidak begitu. Ini jika terjadi maka kita bukannya mendekatkan orang kepada dakwah, justru menjauhkan ummat dari dakwah.

 

Pertama kali yang harus kita perbaiki adalah diri kita. Belajar perbaiki yakin kita, Perbaiki amal kita. Selesaikan setiap masalah dengan menyempurnakan agama dan perintah-perintah Allah swt. Perbaiki diri kita dan amal kita dengan sungguh-sungguh, sehingga diri kita bisa menjadi asbab hidayah bagi orang lain.

 

Jangan kita menjadi asbab kedzulumatan, menjadi asbab kegelapan. Sehingga orang melihat, dia itu cuman bisa ngomong saja, padahal aslinya orangnya tidak seperti itu. Lihat dia dakwah bertahun-tahun, malah jadi biang kerok.

 

Jadikan diri kita sebagai contoh dan tauladan bagi orang lain :

 

  1. Jika jadi kepala rumah tangga, maka jadilah pemimpin yang baik
  2. Jika jadi suami, maka jadilah suami yang baik
  3. Jika jadi ayah, maka jadilah ayah yang baik.
  4. Jika jadi tetangga, jadilah tetangga yang baik.

 

Demikian arah kita seharusnya, jadikan diri kita bermanfaat bagi orang lain dan menjadi contoh tauladan.

 

Perbaiki terus diri kita, minta kepada Allah swt agar Allah swt islahkan diri kita dari segi yakin dan amal. Minta kepada Allah swt ini perkara-perkara yang mahal, yang bernilai, jangan minta perkara-perkara yang kecil, yang tidak bernilai, perkara yang remeh. Apa itu ? minta perbaikan iman, minta perbaikan amal, perbaikan dalam sholat, perbaikan dalam ibadah.

 

Agama itu terdiri dari 5 cabang :

 

  1. Imaniyat
  2. Ibadat
  3. Muamalat
  4. Muasyarat
  5. Akhlaq

 

Minta kepada Allah swt agar Allah swt perbaiki 5 perkara ini dalam kehidupan kita. Jangan kita minta kepada Allah swt perkara yang kecil kecil. Sering kita denger orang tua bilang ke anaknya agar minta panjang umur dan mudah rejekinya. Ini perkara kecil, tapi minta pada Allah swt perbaikan perkara iman dan amal. Kalau kita lihat sejarah dari kaca mata iman, yang panjang umurnya dan murah rizkinya adalah Firaun. Firaun itu umurnya panjang dan murah rejekinya, apa kita mau anak kita seperti firaun. Mintalah kepada Allah swt perkara yang mahal yaitu perkara hidayah.

 

Sering kita sering mendengar Nasehat dari orang tua :

 

“Nak kamu sungguh-sungguh dalam kerja tapi jangan lupa sholat.”

 

Ini nasehat dianggap betul, padahal ini nasehatnya salah. Nasehat yang seharusnya adalah :

 

“Nak kamu sungguh-sungguh dalam sholat tapi jangan lupa kerja.”

 

Ini yang benar, sungguh-sungguh dalam agama, tapi jangan sampai lupa untuk kerja. Namun yang terjadi sekarang orang sungguh-sungguh dalam kerja, sedangkan sholat jangan sampai lupa. Jadi menyepelekan agama yang terjadi. Agama itu harus di prioritaskan, diutamakan. Jika kita utamakan agama atau ibadah, baru nanti kehidupan kita akan beres. Sebagaimana Nabi Ibrahim as selalu mendahulukan perintah Allah swt.

 

Dai ini harus ada Ta’aluq, hubungan baik, dengan Allah swt. Dai ini harus bisa meluangkan waktu untuk dzikir yang sungguh-sungguh. Memang dzikir itu dapat dilaksanakan sambil berjalan, sambil berbaring, sambil duduk, sambil berdiri.

 

Arahan Masyeikh :

 

Namun harus ada waktu khusus, tersendiri, kita duduk bersendirian, menghadap kiblat, dzikir tawajjuh kepada Allah swt.

 

Di luar waktu yang dikhususkan, dzikir dapat kita lakukan dalam segala keadaan, tempat, dan waktu. Dekatkan diri kita kepada Allah swt, dengan menyediakan waktu bersendirian khusus untuk Allah. Hanya diri kita dengan Allah swt, semacam ingin ngobrol dengan Allah swt. Sebagaimana seorang hamba, pekerja, yang bekerja kepada majikannya, lalu menyediakan waktu khusus tiap hari untuk menceritakan pekerjaanya. Maka kitapun juga seperti itu dengan Allah swt. Ada perkara apapaun kita sampaikan kepada Allah swt. Kita harus merasa Allah swt itu mengetahui dan dekat dengan kita, sehingga kita ingin sampaikan segala urusan kita. Kita harus yakin bahwa Allah swt itu mendengar dan mengetahui semua gerak gerik kita dan masalah-masalah kita. Allah swt paling tahu keadaan kita. Allah swt paham dan paling mengetahui apa yang terbaik untuk kita dan cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah kita. Maka sampaikan kepada Allah swt. Jika ada masalah datang kepada kita jangan di ekspresikan atau diceritakan atau dikeluhkan kepada orang lain. Cukup Allah swt saja yang tahu, sampaikan kepada Allah swt.

 

Hadits Nabi saw mahfum :

 

“Barangsiapa menderita lapar selama 3 hari, lalu dia diam tidak mengeluh kepada siapapun, tidak menceritakannnya kepada yang lain. Dia hanya mengadu kepada Allah swt. Maka Allah swt akan beri dia rizki yang halal selama 1 tahun.”

 

Pertolongan Allah swt akan datang kepada kita jika kita mampu tidak menyampaikan kesusahan kita kepada mahluk. Sebab pada hakekatnya semua masalah dan beban hidup yang datang kepada kita ini, hakekatnya dari Allah swt. Allah swt ini menguji kita kepada siapa kita bergantung atau mencari pertolongan. Kesalahan kita hari ini hakekatnya Allah swt yang memberikan masalah kepada kita, tapi kita mencari pertolongan kepada mahluk, bukan kepada Allah swt.

 

Allah swt benci jika kita melakukan ini, jika ada masalah lari kepada selain Allah swt. Ini bikin Allah swt murka jika kita mengadu dan minta tolong kepada Ghoirullah, selain Allah. Selain Allah swt ini mahluk, sedangkan mahluk tidak bisa berbuat-apa-apa, kenapa malah kita cari dan mintakan pertolongan. Hanya Allah swt yang bisa, selain Allah swt tidak bisa apa-apa.

 

Kita mohon ampun kepada Allah swt atas dosa-dosa kita ini. Kita harus kembali kepada Allah swt pemilik segala keadaan, perbaiki amal-amal kita. Allah swt itu Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha penyayang, Allah swt akan selesaikan masalah-masalah kita jika kita mau bertobat dan dan memperbaiki amal kita. Jangan kita ikut-ikutan dengan orang-orang yang tidak paham perkara ini, tidak kenal siapa itu Allah swt. Semua kejar-kejaran ingin mendapatkan kebendaan, ingin mendapatkan selain Allah swt.

Kita dai ini hanya ingin mendapatkan Allah swt. Usaha dakwah ini adalah jalan pintas dan jalan yang paling cepat untuk dekat kepada Allah swt. Kalau kita sungguh-sungguh tertib dan korban dalam dakwah, Allah swt akan cepatkan diri kita mendekat kepadaNya.

 

Hadits Qudsi mahfum :

 

Idza wajad tani wajadta kulli syai

 

“barangsiapa yang mendapatkan Aku, maka dia telah mendapatkan segala-galanya.”

 

Wa in faqad tani faqadta kulli syai

 

“Barangsiapa yang kehilangan Aku, berarti dia telah kehilangan segala-galanya.”

 

Walaupun ada pada kita kekayaan dan kebendaan, tapi kita kehilangan Allah swt, berarti kita telah kehilangan segala-galanya. Namun walaupun kita dalam keadaan miskin tidak memiliki kekayaan dan jabatan apapun, tapi dia memiliki Allah swt, berarti dia memiliki segala-galanya. Usaha yang benar adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah swt. Inilah cara yang benar kalau mau mendekatkan diri kepada Allah swt yaitu dengan amal dakwah. Kadang-kadang ada orang ingin mendekatkan diri kepada Allah swt dengan caranya sendiri.

 

Dalam Ilmu Tariqat, Ahli Dzikir telah membedakan tingkatan dalam pendekatan kepada Allah swt :

 

  1. Syariat
  2. Tariqat
  3. Hakikat
  4. Makrifat

 

Disini oleh mereka makrifat itu diletakkan terakhir. Padahal dalam usaha para Nabi AS yang namanya makrifat ini justru didahulukan. Makrifat itu iman, mengenal Allah swt. Usaha para nabi itu pertama kali adalah mengenalkan Allah swt kepada ummat. Setelah makrifat, mengenal Allah swt, baru turun perintah Syariat : perintah, sholat, perintah puasa, perintah zakat, dan perintah lainnya. Para nabi mengajak umat untuk kenal kepada Allah swt, kalau sudah kenal baru beres. Jadi cara yang benar dalam dakwah ini adalah makrifat terlebih dahulu.

 

Diri Kita Harus Mengenal Allah swt terlebih dahulu, setelah itu baru mudah kita untuk taat kepada Allah swt.

 

Kenalkan diri kita kepada Allah swt, jika kita sudah kenal kepada Allah swt, baru akan mudah kita untuk taat kepada Allah swt. Jika kita sudah kenal Allah swt maka mudah bagi kita untuk mengamalkan agama. Inilah cara yang benar, tertib dari quran, dan cara para Nabi AS yaitu mengajak manusia mengenal Allah swt pertama kali. Makrifatullah diletakkan di awal. Begitulah tertib yang diberikan kepada para Nabi yaitu mengenalkan Allah swt dulu, bermakrifat dulu, baru ketaatan akan datang.

 

Syaidina Umar RA berkata :

 

Nahnu awallan nata’lamu iman tsumma na’talamu quran

 

Kami dulu di awal belajar iman yaitu makrifat, baru belajar al quran yaitu syariat.

 

Inilah cara yang benar untuk mendatangkan agama dalam kehidupan kita dan ummat yaitu dengan amal dakwah. Logikanya perkara iman ini adalah perkara ghaib, maka harus dengan dakwah cara mendatangkannya. Perkara kehidupan di akherat dari alam kubur, mahsyar, mizan, shirath, surga dan neraka, ini semua ghaib. Perkara ghaib ini tidak bisa diyakinkan dengan logika, teknologi, video, tidak akan bisa. Perkara Ghaib ini hanya bisa diyakinkan dengan dakwah dan pengorbanan. Jika perkara ghaib ini tidak di dakwahkan maka dia akan tetap ghaib.

 

Hari ini orang berpikir kenapa hari ini umat islam tidak seperti para sahabat ra. Para sahabat ra, mereka hidup mulia, maju, dan memiliki kekuasaan. Sedangkan umat islam sekarang terbelakang, hina, ditindas, dikuasai. Mengapa ini terjadi ? ini asbab umat ini sudah meninggalkan amal dakwah. Ada sebagian umat islam yang berpikir untuk mengembalikan kejayaan umat islam ini harus dengan kekayaan, dengan politik, dengan kekuasaan, dengan kekuatan, dengan science dan teknologi. Ini tidak ada bedanya dengan pemikiran orang-orang diluar islam, ini pemikiran yang salah. Ajak orang-orang kepada islam, nanti Allah swt yang akan rubah keadaan umat islam menjadi baik. Politik Islam yaitu mengajak manusia kepada Allah swt, agar Allah swt tolong umat ini kembali jaya, kembali berkuasa, kembali mulia. Bereskan hubungan kita dengan Allah swt, nanti Allahs wt yang akan bereskan semuanya. Jangan kita sibukan diri kita dalam politik orang-orang yang tidak kenal Allah, sampai-sampai perintah Allah swt ditinggalkan. Itulah sebabnya keadaan umat islam hari ini berantakan karena kita sudah meninggalkan perintah Allah swt demi keduniaan.

 

Maka pertama yang harus kita lakukan pertama kali adalah kita perlu islahkan diri kita. Kita mulai dari rumah tangga kita sendiri. Mulai dari kita lalu kita ajak istri kita dan anak kita untuk islah diri. Berikutnya kita fikir bagaimana kita bisa merubah ahli kampung kita. Kadang-kadang orang tidak paham berkata :

 

“Buat kamu dakwah jauh-jauh, anak sendiri saja belum bener, kenapa sibuk ngajak orang lain. Kamu pikirkan aja keluarga kamu sendiri dulu sebelum mengajak orang lain.”

 

Maksud kita pergi keluar fisabillillah jauh-jauh 4 bulan, agar nanti waktu pulang kita bisa memperbaiki rumah tangga. Alhamdullilah, hari ini asbab kawan-kawan kita yang sudah pergi 4 bulan, hari sudah dapat menghidupkan taklim di rumahnya. Sehingga perbaikan ada terjadi dalam kehidupan rumah tangganya. Asbab menghidupkan taklim, istri ikutan dan anakpun juga ikutan, Allah swt rubah keadaan rumah menjadi baik. Istri menjadi sholehah, anak-anak menjadi taat kepada Allah swt, ada yang jadi alim, ada yang jadi hafidz. Mungkin hari ini kita lihat orang-orang yang mengkritik seperti itu belum tentu keluarganya dapat seperti itu, sampai matipun tidak ada perubahan kepada keluarganya. Kenapa ? karena tidak buat usaha agama atas keluarga mereka.

 

Allah swt berfirman :

 

Ku anfusakum wa ahlikum naaro

 

Jagalah dirimu dan keluargamu dari adzab api neraka (At Tahrim : 6)

 

Aplikasi dan praktek dari ayat ini adalah dengan menghidupkan taklim dirumah. Hidupkan taklim agar keluarga kita faham, mengenal nilai-nilai amal, sehingga mau menghidupkan agama. Ini aplikasi dari ayat tersebut, cara menyelamatkan keluarga kita dari adzab api neraka. Banyak hari ini diluar jago bayan, jago ngasih nasehat, sampai dirumah mingkem, tidak bisa bicara, tidak bisa ngasih nasehat. Maka hidupkan taklim, nanti keluarga Allah swt yang kasih kepahaman. Cara memperbaiki amal di rumah tangga ini adalah dengan taklim.

 

Taklim ini adalah pintu agama untuk masuk ke rumah kita.

 

Perbaikan akan datang dengan :

 

  1. Taklim : Perbaikan amal dalam rumah tangga kita
  2. Jaulah : Perbaikan amal tetangga-tetangga kita
  3. Khuruj : perbaikan amal ahli kampung kita

 

Dalam dakwah ini semua ada solusinya. Ternyata asbab kita amalkan program dakwah ini, perubahan-perubahan yang baik datang kepada keluarga kita, tetangga kita, ahli kampung kita, dan umat. Jika kita dakwah dengan tertib, ikuti arahan maka perubahan akan terjadi.

 

Hari ini banyak orang yang suka mebanding-bandingkan :

 

“Mana yang lebih penting Intiqoli atau Maqomi ?” :

 

  1. Tanda orang diterima pengorbanannya ketika keluar dijalan Allah swt adalah Hidupnya amal Maqomi

 

  1. Tanda orang diterima Amal Maqominya adalah dia bisa Intiqoli, keluar di jalan Allah swt 4 bulan, minimal 40 hari.

 

Jangan kita mengejek kamu maunya pergi intiqoli saja tapi tidak buat maqomi. Ada yang bilang kamu maqomi saja tapi tidak pergi intiqoli, tidak keluar di jalan Allah swt. Ada yang bilang Maqomi lebih penting dibanding intiqoli. Ada yang bilang intiqoli lebih penting dari maqomi. Ini dua-duanya pendapat seperti ini tidak benar. Jawaban yang benar itu adalah :

 

  1. Orang yang amal maqomi diterima Allah swt, dia bisa pergi intiqoli.
  2. Orang yang Intiqolinya diterima Allah swt, dia bisa hidupkan maqomi.

 

Jangan kita lihat kekurangan orang lain, tapi justru yang harus kita lihat kekurangan diri kita. Sempurnakan amal agama dalam diri kita dan kerja dakwah ini, baik maqominya dan intiqolinya. Lalu kita doa kepada Allah swt agar Allah swt juga sempurnakan agama pada diri orang lain dari keluarga kita, ahli kampung kita, dan ummat. Kelemahan kita dalam kerja ini kita perbaiki, kita tingkatkan pengorbanan kita.

 

Lalu kita jaga diri kita jangan :

 

  1. Merasa lebih baik dari orang lain
  2. Melihat kekurangan orang lain
  3. Putus Asa dari Rahmat Allah swt
  4. Bangga pada amal kita

 

Kita juga jangan merasa lebih baik dari orang lain, karena kita tidak tahu amal kita apakah diterima atau tidak oleh Allah swt. Kemampuan kita dalam beramal ini juga bukan karena kita mampu, tapi semata mata karena taufiq dan hidayah dari Allah swt. Jika kita tidak dikasih taufiq dan hidayah oleh Allah swt kita tidak akan bisa buat amal apapun. Hidayah ini mutlak ditangan Allah swt, bukan karena kemampuan kita tapi karena Taufiq dari Allah swt. Jadi jangan kita putus asa dari Rahmat Allah swt dan jangan kita merasa aman atau tenang terhadap amal-amal kita, apalagi bangga. Terkadang kita temukan, kita dakwah sudah habis-habisan tapi orang kita dakwahkan tidak terkesan sama sekali. Kita harus terima karena perkara hidyah ini ada ditangan Allah swt, terserah Allah swt mau kasih kepada siapa. Hidayah ini perkara mahal. Walaupun orang kafir ini sudah melihat akherat minta dikembalikan lagi kedunia, tapi kalau tidak ada hidayah dari Allah swt maka tetap dia akan kafir lagi. Jadi jangankan dengan mendengar bayan kita atau para ahli bayan, dia lihat neraka atau surga secara langsungpun tetap tidak akan berubah kekafirannya tanpa hidayah. Jadi hidayah ini mutlak ditangan Allah swt. Maka kita disamping usaha dalam buat dakwah ini, kita juga harus doa sungguh-sungguh kepada Allah swt agar diturunkan hidayah. Maka disiang hari kita sibuk buat dakwah, dimalam hari kita sibuk buat doa, agar diturunkan hidayah.

 

Ini adalah kerja dari para Nabi :

 

  1. Siang hari sibuk dakwah : Mengenalkan Allah swt kepada manusia
  2. Malam hari sibuk Doa : Mengenalkan Manusia kepada Allah demi Hidayah

 

Sekarang dianjurkan kepada para dai ini dari masyeikh agar :

 

  1. Siang harinya sebagaimana Rasullullah saw
  2. Malam harinya sebagaimana Rasullullah saw.

 

Jangan kita merasa cukup, merasa tenang dengan amal amal kita, sudah merasa keluar 40 hari atau 4 bulan. Usaha terus sampai masuk iman kedalam hati kita. Walaupun kita sudah sering mudzakarohkan perkara ini, tapi pertanyaannya adalah masuk tidak yang dimudzakarohkan kedalam hati kita ini.

 

Misalnya :

 

Jika orang kafir ini mati tidak membawa iman, maka dia akan dimasukkan kedalam neraka selama-lamanya. Kalau fikir ini sudah masuk kedalam hati kita maka kita tidak akan bisa tidur tenang. Kita harus kasihan kepada mereka, harus ada rasa sayang kepada mereka sebagai umat nabi saw.

 

Kisah Maulana Ilyas rah.a :

 

Maulana Ilyas suatu ketika gelisah mondar mandir tidak bisa tidur. Mak istrinya bertanya, “Ya Maulana kenapa engkau tidak bisa tidur ?” maka maulana Ilyas berkata, “Jika fikir ini yang ada didalam diri aku, ada didalam diri engkau, maka engkaupun tidak akan bisa tidur.”

 

Jadi kita jangan sampai hanya sekedar tahu saja, tapi kita harus masukkan fikir ini, kepentingan Iman dan Hidayah, masuk kedalam diri kita. Kita hari ini belum masuk firik macam ini kedalm diri kita. Maka kita harus ulang-ulang, bicarakan lagi dan lagi, sampai masuk kedalam diri kita. Hidayah ini macam benda, kita terus usaha sampai Allah swt lemparkan hidayah itu kepada kita. Hanya dengan cara inilah perbaikan akan datang. Jangan kita tertipu dan merasa sudah tahu. Walaupun bayannya itu lagi berulang-ulang, tapi apakah sudah masuk yang dibayankan itu kedalam hati kita. Tidak ada orang yang lebih beruntung selain orang yang mendapatkan hidayah daripada Allah swt. Tidak ada yang lebih beruntung selain orang yang dipilih oleh Allah swt untuk korban, terjun dalam amal dakwah ini. Mereka inilah orang-orang pilihan, orang-orang yang beruntung, yaitu mereka yang ikut daripada amalnya Rasulullah saw.

 

Hadirin, hidup ini hanya 1 kali saja, tidak bisa 2 kali kita kembali ke dunia ini. Maka manfaatkanlah setiap waktu yang kita lewati ini dengan baik. Ini adalah amal yang paling besar dan amal yang paling tinggi yaitu amalnya para Nabi, amal dakwah.

 

Atas perkara ini kita semua niatkan diri kita, terjun dalam kerja yang mulia ini !!!

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: